Bagaimana Aku Dapat Datang kepada Allah?
.jpg)
Pendahuluan
Di antara semua pertanyaan yang pernah diajukan manusia, mungkin tidak ada yang lebih penting daripada pertanyaan ini: “Bagaimana aku dapat datang kepada Allah?” Pertanyaan ini menyentuh inti keberadaan manusia. Sejak kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam dosa, hubungan antara manusia dan Allah telah rusak. Manusia tetap memiliki kerinduan akan Penciptanya, tetapi pada saat yang sama ia terpisah dari-Nya oleh dosa.
Sepanjang sejarah, berbagai agama, filsafat, dan sistem moral telah menawarkan jawaban. Ada yang mengajarkan bahwa manusia dapat mencapai Allah melalui perbuatan baik, disiplin rohani, ritual keagamaan, meditasi, atau usaha moral yang terus-menerus. Namun Alkitab memberikan jawaban yang sangat berbeda. Menurut Kitab Suci, masalah utama manusia bukanlah kurangnya pengetahuan atau kurangnya usaha, melainkan dosa yang memisahkannya dari Allah yang kudus.
Teologi Reformed menempatkan pertanyaan ini di pusat pemberitaan Injil. Yohanes Calvin, Herman Bavinck, Louis Berkhof, John Owen, J. I. Packer, R. C. Sproul, Sinclair Ferguson, dan banyak teolog Reformed lainnya menegaskan bahwa manusia tidak dapat datang kepada Allah dengan kekuatannya sendiri. Jika manusia dapat diselamatkan oleh usaha pribadinya, maka salib Kristus menjadi tidak perlu. Namun karena manusia telah jatuh dalam dosa, Allah sendiri menyediakan jalan keselamatan melalui Yesus Kristus.
Artikel ini akan membahas pertanyaan “Bagaimana Aku Dapat Datang kepada Allah?” berdasarkan ajaran Alkitab dan pemikiran para pakar Teologi Reformed. Kita akan melihat mengapa manusia tidak dapat datang kepada Allah dengan kekuatannya sendiri, bagaimana Allah membuka jalan melalui Kristus, dan apa arti datang kepada Allah dalam kehidupan sehari-hari orang percaya.
Bab 1
Masalah Utama Manusia: Keterpisahan dari Allah
Sebelum memahami bagaimana datang kepada Allah, kita harus memahami mengapa manusia perlu datang kepada-Nya.
Alkitab mengajarkan bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah dan untuk hidup dalam persekutuan dengan-Nya. Namun ketika Adam jatuh ke dalam dosa, hubungan tersebut rusak.
Dalam Kejadian 3, setelah manusia berdosa, hal pertama yang terjadi adalah mereka bersembunyi dari hadapan Allah.
Peristiwa ini menggambarkan kondisi seluruh umat manusia. Dosa tidak hanya membuat manusia bersalah di hadapan Allah, tetapi juga membuat manusia menjauh dari-Nya.
Yohanes Calvin menjelaskan bahwa hati manusia yang berdosa secara alami tidak mencari Allah dengan benar. Manusia mungkin mencari agama, pengalaman spiritual, atau ketenangan batin, tetapi tanpa anugerah Allah ia tidak sungguh-sungguh mencari Allah sebagaimana adanya.
Rasul Paulus menulis:
“Tidak ada seorang pun yang mencari Allah.”
(Roma 3:11)
Menurut Calvin, ayat ini menunjukkan kedalaman kerusakan manusia akibat dosa. Masalah utama manusia bukanlah bahwa ia tidak mengetahui jalan menuju Allah, tetapi bahwa ia tidak memiliki kemampuan moral dan rohani untuk datang kepada-Nya.
Bab 2
Kekudusan Allah dan Dosa Manusia
Pertanyaan “Bagaimana aku dapat datang kepada Allah?” menjadi penting ketika seseorang memahami siapa Allah sebenarnya.
R. C. Sproul dalam bukunya The Holiness of God menegaskan bahwa banyak orang menganggap Allah terlalu ringan. Mereka membayangkan Allah sebagai Pribadi yang dapat didekati tanpa persoalan apa pun.
Namun Alkitab menggambarkan Allah sebagai Allah yang kudus.
Nabi Yesaya melihat penglihatan tentang Allah dan berseru:
“Celakalah aku! Aku binasa!”
(Yesaya 6:5)
Mengapa Yesaya bereaksi demikian?
Karena ketika manusia melihat kekudusan Allah, ia menyadari dosanya sendiri.
Sproul menjelaskan bahwa masalah terbesar manusia bukanlah rendahnya harga diri, melainkan dosa di hadapan Allah yang kudus.
Kekudusan Allah berarti bahwa dosa tidak dapat diabaikan begitu saja. Allah adalah Hakim yang adil. Ia tidak dapat menyebut dosa sebagai sesuatu yang tidak penting.
Karena itu, pertanyaan “Bagaimana aku dapat datang kepada Allah?” juga berarti: “Bagaimana orang berdosa dapat berdiri di hadapan Allah yang kudus?”
Bab 3
Jalan Manusia Selalu Gagal
Sejak awal sejarah, manusia berusaha menciptakan jalannya sendiri menuju Allah.
Menara Babel adalah salah satu contohnya. Manusia berusaha mencapai surga melalui kekuatan dan kemampuannya sendiri.
Dalam setiap zaman, pola yang sama terus muncul:
- Keselamatan melalui moralitas.
- Keselamatan melalui ritual.
- Keselamatan melalui filsafat.
- Keselamatan melalui amal.
- Keselamatan melalui pencapaian rohani.
Herman Bavinck menjelaskan bahwa semua agama pada dasarnya berusaha menjawab kebutuhan manusia akan pendamaian dengan Allah. Namun agama-agama yang berpusat pada usaha manusia selalu gagal karena tidak menyelesaikan akar masalah, yaitu dosa.
Menurut Bavinck, manusia yang berdosa tidak dapat memperbaiki dirinya sendiri hingga layak datang kepada Allah.
Ibarat seorang yang tenggelam, manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya dengan menarik rambutnya sendiri keluar dari air.
Ia membutuhkan pertolongan dari luar dirinya.
Bab 4
Allah yang Mengambil Inisiatif
Salah satu keindahan Injil adalah bahwa keselamatan dimulai dari Allah, bukan dari manusia.
Setelah Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, Allah yang pertama kali mencari mereka.
Allah bertanya:
“Di manakah engkau?”
(Kejadian 3:9)
Pertanyaan itu bukan karena Allah tidak mengetahui lokasi mereka, melainkan karena Allah sedang memanggil manusia yang telah menjauh.
Louis Berkhof menjelaskan bahwa seluruh sejarah penebusan adalah kisah Allah yang mencari manusia.
Dari panggilan Abraham, pembebasan Israel dari Mesir, pelayanan para nabi, hingga kedatangan Kristus, semuanya menunjukkan inisiatif Allah.
Ini merupakan salah satu ciri khas Teologi Reformed.
Keselamatan bukanlah perjalanan manusia menuju Allah.
Keselamatan adalah Allah yang datang kepada manusia.
Jika Allah tidak mengambil langkah pertama, tidak seorang pun akan datang kepada-Nya.
Bab 5
Yesus Kristus: Jalan Satu-Satunya kepada Allah
Pusat jawaban atas pertanyaan ini ditemukan dalam perkataan Yesus sendiri:
“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.”
(Yohanes 14:6)
Ayat ini merupakan salah satu pernyataan paling eksklusif dalam Alkitab.
John Owen menjelaskan bahwa Kristus bukan sekadar menunjukkan jalan kepada Allah. Kristus sendiri adalah jalan itu.
Mengapa hanya Kristus?
Karena hanya Kristus yang memenuhi syarat sebagai Pengantara antara Allah dan manusia.
Ia adalah Allah sejati.
Ia adalah manusia sejati.
Ia hidup tanpa dosa.
Ia mati sebagai korban penebusan.
Ia bangkit dari kematian.
Tidak ada tokoh agama lain yang dapat melakukan semua itu.
Menurut Calvin, semua usaha manusia untuk datang kepada Allah tanpa Kristus pada akhirnya akan gagal karena mengabaikan satu-satunya dasar pendamaian yang telah Allah tetapkan.
Bab 6
Salib sebagai Jalan Pendamaian
Jika Allah kudus dan manusia berdosa, bagaimana keduanya dapat diperdamaikan?
Jawabannya adalah salib Kristus.
J. I. Packer menjelaskan bahwa di salib terjadi sesuatu yang sangat penting: Kristus menanggung hukuman yang seharusnya ditanggung oleh orang berdosa.
Allah tidak mengabaikan dosa.
Sebaliknya, Allah menghukum dosa dalam diri Kristus.
Di salib:
- Keadilan Allah dipuaskan.
- Murka Allah terhadap dosa dinyatakan.
- Kasih Allah dinyatakan.
- Pengampunan disediakan.
Packer menyebut salib sebagai pusat Injil karena di situlah jalan menuju Allah dibuka.
Tanpa salib, manusia tetap berada di bawah penghukuman.
Dengan salib, orang berdosa dapat diterima oleh Allah.
Bab 7
Datang kepada Allah Melalui Iman
Jika Kristus telah membuka jalan, bagaimana seseorang masuk ke dalam keselamatan itu?
Jawabannya adalah melalui iman.
Martin Luther dan para Reformator menekankan doktrin sola fide — keselamatan oleh iman saja.
Teologi Reformed mengajarkan bahwa iman bukanlah jasa manusia yang membuat Allah berutang keselamatan.
Iman adalah tangan yang menerima anugerah Allah.
Menurut Louis Berkhof, iman memiliki tiga unsur:
Pengetahuan
Seseorang harus mengetahui siapa Kristus dan apa yang telah dilakukan-Nya.
Persetujuan
Ia harus menerima bahwa Injil itu benar.
Kepercayaan
Ia harus menyerahkan dirinya kepada Kristus.
Datang kepada Allah berarti berhenti bergantung pada diri sendiri dan sepenuhnya percaya kepada Kristus.
Bab 8
Pertobatan: Berbalik kepada Allah
Iman sejati tidak dapat dipisahkan dari pertobatan.
Calvin menyebut pertobatan sebagai “berpaling kepada Allah dari hati yang sungguh-sungguh.”
Pertobatan bukan sekadar rasa bersalah.
Banyak orang menyesali akibat dosa tanpa membenci dosa itu sendiri.
Pertobatan sejati melibatkan:
- Pengakuan dosa.
- Penyesalan yang tulus.
- Keinginan meninggalkan dosa.
- Berbalik kepada Allah.
Sinclair Ferguson menjelaskan bahwa pertobatan dan iman adalah dua sisi dari satu mata uang.
Ketika seseorang datang kepada Kristus, ia sekaligus meninggalkan jalan hidup lamanya.
Bab 9
Keyakinan bahwa Allah Menerima Orang Berdosa
Salah satu ketakutan terbesar manusia adalah pertanyaan:
“Apakah Allah mau menerima saya?”
Banyak orang merasa terlalu berdosa untuk datang kepada Allah.
John Bunyan, seorang tokoh Puritan yang sangat dihargai dalam tradisi Reformed, pernah bergumul dengan pertanyaan ini.
Namun Alkitab memberikan penghiburan yang besar.
Yesus berkata:
“Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.”
(Yohanes 6:37)
R. C. Sproul menjelaskan bahwa dasar penerimaan Allah bukan kualitas orang yang datang, melainkan kualitas Juruselamat yang menerima mereka.
Kristus tidak menunggu orang berdosa menjadi sempurna sebelum datang kepada-Nya.
Ia mengundang mereka untuk datang sebagaimana adanya dan mengalami pembaruan oleh anugerah-Nya.
Bab 10
Hidup Dekat dengan Allah Setelah Diselamatkan
Datang kepada Allah bukan hanya pengalaman sekali seumur hidup.
Kehidupan Kristen adalah perjalanan yang terus-menerus hidup di hadapan Allah.
Herman Bavinck menjelaskan bahwa tujuan keselamatan bukan sekadar menghindari hukuman, melainkan menikmati persekutuan dengan Allah.
Karena itu, orang percaya dipanggil untuk:
Berdoa
Doa adalah komunikasi dengan Allah yang telah menerima kita dalam Kristus.
Membaca Firman
Melalui Firman, Allah berbicara kepada umat-Nya.
Beribadah
Ibadah adalah respons syukur terhadap karya keselamatan Allah.
Hidup dalam Kekudusan
Orang yang telah diperdamaikan dengan Allah dipanggil untuk hidup sesuai kehendak-Nya.
Bersekutu dengan Gereja
Allah menempatkan orang percaya dalam tubuh Kristus untuk saling membangun.
Pandangan Beberapa Pakar Teologi Reformed
Yohanes Calvin
Calvin menegaskan bahwa manusia tidak dapat datang kepada Allah tanpa Kristus karena dosa telah merusak seluruh natur manusia.
Herman Bavinck
Bavinck menekankan bahwa keselamatan dimulai dari inisiatif Allah yang penuh kasih karunia.
Louis Berkhof
Berkhof mengajarkan bahwa iman adalah sarana yang ditetapkan Allah untuk menerima keselamatan dalam Kristus.
John Owen
Owen melihat Kristus sebagai satu-satunya Pengantara yang mampu membawa manusia kepada Allah.
J. I. Packer
Packer menempatkan salib Kristus sebagai pusat pendamaian antara Allah dan manusia.
R. C. Sproul
Sproul menegaskan bahwa pemahaman tentang kekudusan Allah sangat penting untuk memahami kebutuhan akan keselamatan.
Sinclair Ferguson
Ferguson mengingatkan bahwa datang kepada Allah berarti masuk ke dalam hubungan yang hidup dan terus bertumbuh bersama-Nya.
Kesimpulan
Pertanyaan “Bagaimana Aku Dapat Datang kepada Allah?” adalah pertanyaan yang paling mendasar dan paling penting dalam kehidupan manusia. Alkitab dan Teologi Reformed memberikan jawaban yang jelas: manusia tidak dapat datang kepada Allah melalui usaha, moralitas, ritual, atau pencapaiannya sendiri. Dosa telah menciptakan jurang yang tidak dapat diseberangi oleh kekuatan manusia.
Namun kabar baik Injil adalah bahwa Allah sendiri telah menyediakan jalan. Dalam kasih karunia-Nya, Ia mengutus Yesus Kristus untuk menjadi Pengantara antara Allah dan manusia. Melalui kehidupan-Nya yang sempurna, kematian-Nya yang menebus dosa, dan kebangkitan-Nya yang mulia, Kristus membuka jalan menuju hadirat Allah.
Calvin mengingatkan bahwa manusia tidak memiliki dasar untuk membanggakan dirinya. Bavinck menunjukkan bahwa keselamatan adalah karya Allah dari awal hingga akhir. Berkhof menegaskan bahwa iman adalah sarana menerima anugerah tersebut. Owen mengajarkan bahwa Kristus adalah satu-satunya Pengantara. Packer menempatkan salib sebagai pusat pendamaian. Sproul menyoroti kekudusan Allah yang membuat keselamatan menjadi kebutuhan mutlak. Ferguson mengingatkan bahwa keselamatan membawa kita ke dalam persekutuan yang hidup dengan Allah.
Karena itu, jawaban akhir atas pertanyaan “Bagaimana aku dapat datang kepada Allah?” bukanlah sebuah metode, ritual, atau usaha manusia. Jawabannya adalah Yesus Kristus.
Melalui iman kepada-Nya, orang berdosa diterima oleh Allah, diampuni, dibenarkan, diangkat menjadi anak-anak-Nya, dan diberi hak untuk menghampiri takhta kasih karunia dengan penuh keberanian.
“Sebab oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa.” (Efesus 2:18)
Di dalam Kristus, jalan kepada Allah telah terbuka. Undangan Injil tetap berlaku bagi setiap orang: datanglah kepada-Nya dengan iman, dan engkau akan menemukan kasih karunia, pengampunan, dan hidup yang kekal.