Keluaran 16:9–10: Datanglah Mendekat kepada TUHAN

Keluaran 16:9–10: Datanglah Mendekat kepada TUHAN

Pendahuluan

Keluaran 16 merupakan salah satu pasal yang paling penting dalam perjalanan Israel menuju Tanah Perjanjian. Setelah dibebaskan dari Mesir dengan tangan yang kuat dan mukjizat yang luar biasa, bangsa Israel justru memperlihatkan kelemahan rohani yang mendalam. Mereka mulai bersungut-sungut karena kekurangan makanan. Mereka mempertanyakan pemeliharaan Allah dan bahkan merindukan kehidupan lama mereka di Mesir.

Namun di tengah ketidakpercayaan umat, Allah menunjukkan karakter-Nya yang luar biasa. Ia tidak hanya mendengar keluhan mereka, tetapi juga menyatakan kemuliaan-Nya dan menyediakan kebutuhan mereka. Keluaran 16:9–10 menjadi titik penting dalam narasi ini karena untuk pertama kalinya dalam pasal tersebut bangsa Israel dipanggil untuk datang mendekat kepada Allah dan menyaksikan kemuliaan-Nya.

Dalam dua ayat yang singkat ini, kita menemukan beberapa tema besar Alkitab:

  • Kekudusan Allah.
  • Kesabaran Allah terhadap umat yang berdosa.
  • Kemuliaan Allah yang dinyatakan kepada manusia.
  • Pemeliharaan ilahi.
  • Pentingnya mendekat kepada Allah.
  • Hubungan antara dosa manusia dan anugerah Allah.

Teologi Reformed melihat bagian ini sebagai salah satu gambaran yang sangat jelas tentang ketegangan antara keberdosaan manusia dan kesetiaan Allah. Manusia bersungut-sungut, tetapi Allah tetap menyatakan kemuliaan-Nya. Manusia tidak layak menerima berkat, tetapi Allah tetap menunjukkan kemurahan-Nya.

Melalui eksposisi ini, kita akan melihat bagaimana Keluaran 16:9–10 berbicara bukan hanya kepada Israel di padang gurun, tetapi juga kepada gereja masa kini yang sering kali menghadapi pergumulan serupa.

Latar Belakang Keluaran 16

Untuk memahami Keluaran 16:9–10, kita harus melihat konteks yang lebih luas.

Bangsa Israel baru sekitar satu bulan keluar dari Mesir.

Mereka telah menyaksikan:

  • Sepuluh tulah atas Mesir.
  • Pembebasan melalui Paskah.
  • Laut Teberau yang terbelah.
  • Kemenangan atas tentara Firaun.
  • Penyediaan air di Mara.

Namun meskipun telah mengalami berbagai karya Allah yang luar biasa, mereka segera melupakan semua itu ketika menghadapi kesulitan baru.

Keluaran 16:2–3 mencatat bahwa seluruh umat Israel bersungut-sungut terhadap Musa dan Harun.

Mereka berkata bahwa lebih baik mati di Mesir daripada mati kelaparan di padang gurun.

Keluhan ini sebenarnya bukan sekadar keluhan terhadap pemimpin manusia.

Seperti yang dijelaskan Musa sebelumnya, sungut-sungut mereka pada hakikatnya ditujukan kepada Allah.

Di tengah situasi ini, Allah memutuskan untuk menyatakan diri-Nya dengan cara yang baru.

Eksposisi Keluaran 16:9

“Datanglah Mendekat di Hadapan TUHAN”

“Kemudian, Musa berkata kepada Harun, ‘Katakanlah kepada seluruh jemaat keturunan Israel, Datanglah mendekat di hadapan TUHAN sebab Dia telah mendengar sungut-sungutmu.’”

Ayat ini dimulai dengan sebuah panggilan.

Bangsa Israel diperintahkan untuk datang mendekat kepada Allah.

Ini adalah sesuatu yang sangat menarik.

Secara logika manusia, umat yang baru saja memberontak seharusnya menjauh dari Allah karena takut akan hukuman.

Namun Allah justru memanggil mereka untuk datang mendekat.

Arti Mendekat kepada Allah

Dalam Alkitab, mendekat kepada Allah bukan sekadar tindakan fisik.

Mendekat kepada Allah berarti:

  • Datang ke hadirat-Nya.
  • Mengakui otoritas-Nya.
  • Menempatkan diri di bawah pemerintahan-Nya.
  • Menghadapkan diri kepada kebenaran-Nya.

Panggilan ini memiliki makna rohani yang sangat dalam.

Allah tidak membiarkan umat-Nya tetap hidup dalam pemberontakan dan ketidakpercayaan.

Ia memanggil mereka untuk kembali mengarahkan pandangan kepada-Nya.

Pandangan John Calvin

Dalam komentarnya mengenai Keluaran, John Calvin menjelaskan bahwa panggilan untuk mendekat kepada Allah menunjukkan kasih karunia yang luar biasa.

Menurut Calvin, umat Israel layak menerima penghukuman.

Namun Allah tidak segera membinasakan mereka.

Sebaliknya, Ia memanggil mereka ke hadapan-Nya.

Calvin melihat tindakan ini sebagai gambaran karakter Allah yang penuh belas kasihan.

Allah tidak menikmati kebinasaan orang berdosa.

Ia memanggil mereka untuk datang dan melihat pekerjaan-Nya.

Allah Mendengar Sungut-Sungut Mereka

Bagian berikutnya berkata:

“Sebab Dia telah mendengar sungut-sungutmu.”

Kalimat ini mengandung unsur penghiburan sekaligus teguran.

Allah mendengar.

Tidak ada satu keluhan pun yang luput dari perhatian-Nya.

Tidak ada satu kata pun yang tersembunyi dari hadapan-Nya.

Allah yang Mahatahu

Salah satu atribut Allah yang sangat ditekankan dalam Teologi Reformed adalah kemahatahuan-Nya (omniscience).

Allah mengetahui:

  • Pikiran manusia.
  • Motivasi hati.
  • Perkataan yang diucapkan.
  • Bahkan perkataan yang belum diucapkan.

Mazmur 139:4 berkata:

“Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN.”

Karena itu sungut-sungut Israel tidak pernah tersembunyi.

Sungut-Sungut sebagai Dosa Hati

Sering kali manusia menganggap sungut-sungut sebagai dosa kecil.

Namun Alkitab menunjukkan bahwa sungut-sungut mencerminkan sesuatu yang lebih dalam.

Di balik keluhan Israel terdapat tuduhan terhadap Allah:

  • Allah tidak cukup baik.
  • Allah tidak cukup setia.
  • Allah tidak cukup peduli.
  • Allah tidak cukup mampu memelihara.

Karena itu sungut-sungut merupakan bentuk ketidakpercayaan.

Pandangan R.C. Sproul

R.C. Sproul menjelaskan bahwa dosa pada dasarnya adalah penolakan terhadap otoritas Allah.

Menurut Sproul, ketika manusia bersungut-sungut terhadap providensia Allah, mereka sebenarnya sedang mempertanyakan hikmat Allah.

Israel tidak sekadar mengeluh tentang makanan.

Mereka sedang meragukan karakter Allah.

Namun justru di sinilah kasih karunia Allah terlihat dengan sangat jelas.

Mengapa Allah Memanggil Mereka Mendekat?

Pertanyaan penting muncul:

Mengapa Allah tidak langsung menghukum mereka?

Mengapa Ia memanggil mereka mendekat?

Jawabannya terletak pada kasih perjanjian Allah.

Israel adalah umat perjanjian.

Allah telah mengikat diri-Nya kepada mereka melalui janji-Nya kepada Abraham, Ishak, dan Yakub.

Kesetiaan Allah lebih besar daripada ketidaksetiaan umat-Nya.

Ini tidak berarti Allah mengabaikan dosa.

Tetapi Allah menangani dosa dalam kerangka kasih karunia-Nya.

Eksposisi Keluaran 16:10

Menengok ke Padang Belantara

“Harun segera berbicara kepada seluruh jemaat keturunan Israel agar mereka menengok ke padang belantara...”

Instruksi ini tampaknya sederhana.

Namun ada makna simbolis yang penting.

Padang belantara adalah tempat kesulitan mereka.

Padang belantara adalah tempat ketakutan mereka.

Padang belantara adalah tempat mereka merasa tidak aman.

Namun justru ke arah itulah mereka diminta memandang.

Allah Hadir di Tempat Kesulitan

Sering kali manusia berpikir bahwa Allah hanya hadir di tempat yang nyaman.

Namun Alkitab menunjukkan bahwa Allah justru sering menyatakan diri-Nya di tempat yang sulit.

  • Musa bertemu Allah di padang gurun.
  • Elia mendengar suara Allah di padang gurun.
  • Yohanes Pembaptis melayani di padang gurun.
  • Yesus dicobai di padang gurun.

Padang gurun menjadi tempat pembentukan iman.

Pandangan Sinclair Ferguson

Sinclair Ferguson menjelaskan bahwa Allah sering membawa umat-Nya ke padang gurun agar mereka belajar bergantung kepada-Nya.

Menurut Ferguson, masalah terbesar manusia bukan kurangnya sumber daya, melainkan kecenderungan untuk bergantung pada diri sendiri.

Padang gurun menghancurkan ilusi tersebut.

Di sana manusia belajar bahwa hanya Allah yang cukup.

“Kemuliaan TUHAN Tampak dalam Awan”

Inilah puncak dari ayat 10.

“Kemuliaan TUHAN tampak dalam awan.”

Kemuliaan Allah merupakan salah satu tema terbesar dalam seluruh Kitab Suci.

Di sini bangsa Israel tidak hanya mendengar tentang Allah.

Mereka melihat manifestasi kemuliaan-Nya.

Apa Itu Kemuliaan Allah?

Dalam bahasa Ibrani, kemuliaan (kabod) mengandung makna berat, keagungan, kehormatan, dan kehadiran ilahi.

Kemuliaan Allah adalah penyataan nyata dari siapa Allah itu.

Ketika kemuliaan Allah dinyatakan, manusia melihat sesuatu tentang karakter-Nya:

  • Kekudusan-Nya.
  • Kuasa-Nya.
  • Kebesaran-Nya.
  • Kemurahan-Nya.

Awan sebagai Simbol Kehadiran Allah

Sepanjang kitab Keluaran, awan menjadi simbol kehadiran Allah.

Kita melihatnya:

  • Dalam tiang awan.
  • Di Gunung Sinai.
  • Di Kemah Pertemuan.
  • Dalam perjalanan Israel.

Awan menunjukkan dua hal sekaligus:

Allah Hadir

Allah tidak meninggalkan umat-Nya.

Allah Tetap Transenden

Allah dekat, tetapi tetap kudus dan tak terselami.

Pandangan Herman Bavinck

Herman Bavinck menjelaskan bahwa kemuliaan Allah adalah manifestasi dari seluruh kesempurnaan-Nya.

Menurut Bavinck, tujuan utama seluruh karya Allah adalah penyataan kemuliaan-Nya.

Penciptaan, penebusan, dan pemeliharaan semuanya diarahkan kepada tujuan tersebut.

Keluaran 16 memperlihatkan bahwa bahkan penyediaan makanan bagi Israel pada akhirnya bertujuan untuk menyatakan kemuliaan Allah.

Kemuliaan di Tengah Ketidaklayakan

Yang luar biasa adalah waktu kemuliaan itu dinyatakan.

Allah menyatakan kemuliaan-Nya bukan ketika Israel sedang menyembah dengan sempurna.

Bukan ketika mereka sedang menaati Allah dengan setia.

Melainkan ketika mereka sedang bersungut-sungut.

Kasih Karunia yang Tidak Layak Diterima

Inilah inti Injil.

Allah menunjukkan kasih kepada orang yang tidak layak menerimanya.

Israel layak menerima hukuman.

Namun mereka justru melihat kemuliaan Allah.

Hal yang sama terjadi dalam keselamatan.

Manusia berdosa layak menerima murka Allah.

Namun melalui Kristus, mereka menerima kasih karunia.

Pandangan J.I. Packer

J.I. Packer menjelaskan bahwa kasih karunia berarti Allah memberikan kebaikan kepada mereka yang tidak layak menerimanya.

Menurut Packer, seluruh sejarah Israel merupakan kisah kasih karunia yang berulang.

Allah terus menunjukkan kesetiaan meskipun umat-Nya sering gagal.

Keluaran 16:9–10 menjadi salah satu contoh yang paling jelas.

Hubungan antara Kemuliaan dan Pemeliharaan Allah

Setelah ayat ini, Allah akan memberikan manna dan burung puyuh.

Ini menunjukkan bahwa kemuliaan Allah tidak terpisah dari pemeliharaan-Nya.

Kadang-kadang manusia mencari kemuliaan Allah dalam pengalaman spektakuler.

Namun sering kali kemuliaan Allah terlihat melalui pemeliharaan sehari-hari.

  • Makanan.
  • Air.
  • Nafas.
  • Kesehatan.
  • Kehidupan.

Semua itu adalah ekspresi dari kebaikan Allah.

Pandangan Geerhardus Vos

Geerhardus Vos melihat manna sebagai bagian dari pola penebusan yang menunjuk kepada Kristus.

Menurutnya, kemuliaan Allah yang tampak dalam awan dan penyediaan manna merupakan bayangan dari Kristus sebagai Roti Hidup yang turun dari surga.

Dengan demikian, kemuliaan Allah dalam Keluaran pada akhirnya mengarah kepada kemuliaan Allah yang dinyatakan dalam Injil.

Kristus sebagai Kemuliaan Allah yang Sempurna

Perjanjian Baru memberikan pemahaman yang lebih dalam mengenai kemuliaan Allah.

Yohanes 1:14 berkata:

“Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya.”

Di padang gurun Israel melihat kemuliaan Allah dalam awan.

Di dalam Injil, manusia melihat kemuliaan Allah dalam pribadi Kristus.

Kristus adalah penyataan Allah yang paling sempurna.

Pandangan John Owen

John Owen mengajarkan bahwa kemuliaan Allah bersinar paling terang dalam pribadi dan karya Kristus.

Menurut Owen, semua manifestasi kemuliaan Allah dalam Perjanjian Lama hanyalah bayangan dari kemuliaan yang akan dinyatakan dalam Yesus.

Karena itu Keluaran 16 tidak hanya berbicara tentang Israel.

Bagian ini juga mengarahkan kita kepada Kristus.

Aplikasi bagi Gereja Masa Kini

1. Allah Mendengar Segala Sesuatu

Tidak ada perkataan yang tersembunyi dari Allah.

Karena itu orang percaya harus menjaga hati dan perkataannya.

2. Sungut-Sungut Mengungkapkan Kondisi Hati

Keluhan yang terus-menerus menunjukkan kurangnya kepercayaan kepada Allah.

Orang percaya dipanggil untuk belajar bersyukur.

3. Allah Mengundang Orang Berdosa Mendekat

Panggilan untuk mendekat kepada Allah tetap berlaku hari ini.

Melalui Kristus, jalan kepada Allah telah dibuka.

4. Allah Menyatakan Kemuliaan-Nya di Tengah Kesulitan

Sering kali kita melihat kemuliaan Allah justru ketika berada di padang gurun kehidupan.

5. Kristus adalah Penyataan Kemuliaan Allah yang Sempurna

Semua manifestasi kemuliaan Allah dalam Perjanjian Lama menemukan penggenapannya dalam Kristus.

Kesimpulan

Keluaran 16:9–10 memperlihatkan sebuah kontras yang luar biasa antara keberdosaan manusia dan kemuliaan Allah. Bangsa Israel bersungut-sungut dan meragukan pemeliharaan Tuhan. Namun Allah tidak langsung menghancurkan mereka. Sebaliknya, Ia memanggil mereka untuk datang mendekat dan menyaksikan kemuliaan-Nya.

Panggilan untuk mendekat menunjukkan kasih karunia Allah yang besar. Kemuliaan yang tampak dalam awan menunjukkan bahwa Allah tetap hadir di tengah umat-Nya. Penyataan kemuliaan tersebut menjadi bukti bahwa Allah tidak meninggalkan umat perjanjian-Nya meskipun mereka sering gagal.

John Calvin melihat bagian ini sebagai ekspresi belas kasihan Allah. R.C. Sproul menekankan bahwa sungut-sungut adalah bentuk ketidakpercayaan terhadap providensia Allah. Herman Bavinck menunjukkan bahwa tujuan seluruh karya Allah adalah penyataan kemuliaan-Nya. Geerhardus Vos dan John Owen menghubungkan kemuliaan tersebut dengan Kristus sebagai penggenapan sempurna dari seluruh wahyu Allah.

Pada akhirnya, Keluaran 16:9–10 mengajarkan bahwa Allah yang memanggil Israel untuk mendekat adalah Allah yang sama yang memanggil orang berdosa hari ini melalui Yesus Kristus. Di tengah kelemahan, kegagalan, dan pergumulan hidup, umat Tuhan dapat datang kepada-Nya dan memandang kemuliaan-Nya. Sebab di dalam Kristus, kemuliaan Allah tidak lagi tersembunyi dalam awan, tetapi telah dinyatakan secara sempurna bagi keselamatan umat-Nya.

Next Post Previous Post