Perkataan-Perkataan Menjelang Wafat John Bunyan
.jpg)
Pendahuluan
Di sepanjang sejarah gereja, terdapat beberapa tokoh yang meninggalkan jejak rohani yang begitu dalam sehingga pengaruhnya terus dirasakan berabad-abad setelah kematian mereka. Salah satu di antaranya adalah John Bunyan (1628–1688), pengkhotbah Puritan Inggris yang dikenal luas sebagai penulis The Pilgrim’s Progress (Perjalanan Sang Musafir), salah satu karya Kristen paling berpengaruh sepanjang masa setelah Alkitab.
Bunyan bukan seorang teolog akademis seperti John Owen atau Francis Turretin. Ia tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi yang luas. Namun melalui pengalaman pertobatan yang mendalam, penderitaan karena penganiayaan, dan perenungan yang tekun atas Kitab Suci, Bunyan menjadi salah satu penulis rohani terbesar dalam tradisi Protestan.
Menjelang akhir hidupnya, Bunyan meninggalkan sejumlah perkataan yang mencerminkan keyakinan iman yang telah ia pegang sepanjang hidupnya. Perkataan-perkataan tersebut bukan sekadar kata-kata terakhir seorang manusia yang sedang menghadapi kematian, tetapi merupakan ringkasan dari teologi, pengharapan, dan pengalaman rohani yang telah dibentuk oleh Injil Kristus.
Dalam artikel ini kita akan menelaah makna perkataan-perkataan menjelang wafat John Bunyan melalui perspektif Alkitab dan refleksi para teolog Reformed seperti John Calvin, John Owen, Herman Bavinck, J.I. Packer, Joel Beeke, Sinclair Ferguson, Michael Horton, R.C. Sproul, dan Stephen Nichols.
Siapakah John Bunyan?
John Bunyan lahir pada tahun 1628 di Elstow, Bedfordshire, Inggris.
Ia berasal dari keluarga sederhana. Pada masa mudanya, ia hidup tanpa arah rohani yang jelas dan mengaku bergumul dengan berbagai dosa serta ketakutan mengenai keselamatan.
Setelah mengalami pertobatan yang panjang dan penuh pergumulan, Bunyan menjadi seorang pengkhotbah Injil yang berani.
Karena menolak larangan pemerintah terhadap khotbah-khotbah non-Anglikan, ia dipenjarakan selama sekitar dua belas tahun.
Justru selama masa penjara itulah banyak karya rohaninya lahir.
Karyanya yang paling terkenal, The Pilgrim’s Progress, menggambarkan kehidupan Kristen sebagai perjalanan seorang peziarah menuju Kota Surgawi.
Buku tersebut mencerminkan tema yang terus muncul dalam hidup Bunyan:
- Keselamatan oleh anugerah.
- Ketekunan iman.
- Pergumulan melawan dosa.
- Pengharapan akan surga.
- Kesetiaan Kristus kepada umat-Nya.
Tema-tema inilah yang juga muncul dalam perkataan-perkataannya menjelang kematian.
Hari-Hari Terakhir John Bunyan
Pada tahun 1688, Bunyan melakukan perjalanan untuk mendamaikan perselisihan antara seorang ayah dan anak yang sedang mengalami konflik.
Perjalanan tersebut dilakukan dalam cuaca buruk.
Ia kehujanan dan kemudian jatuh sakit.
Penyakitnya berkembang menjadi demam yang serius.
Beberapa hari kemudian, pada usia enam puluh tahun, Bunyan meninggal dunia di London.
Menurut berbagai catatan sejarah, menjelang kematiannya ia mengucapkan sejumlah perkataan yang memperlihatkan kedamaian luar biasa dalam menghadapi ajal.
Salah satu pernyataan yang paling terkenal adalah:
“Kita akan segera bertemu dengan Dia yang telah kita kasihi; kita akan menikmati Dia untuk selama-lamanya.”
Perkataan ini menunjukkan bahwa bagi Bunyan, kematian bukanlah akhir perjalanan.
Kematian adalah pintu masuk menuju hadirat Kristus.
“Kita Akan Segera Bertemu dengan Dia yang Telah Kita Kasihi”
Perkataan ini mungkin merupakan ringkasan terbaik dari seluruh kehidupan rohani Bunyan.
Selama hidupnya, pusat imannya adalah Kristus.
Ia tidak memandang Kekristenan terutama sebagai sistem doktrin, meskipun ia sangat menghargai doktrin yang benar.
Ia melihat Kekristenan sebagai hubungan dengan Pribadi Yesus Kristus.
Sinclair Ferguson menjelaskan bahwa salah satu ciri khas kaum Puritan adalah sifat Kristosentris mereka.
Mereka tidak berhenti pada pengetahuan tentang Kristus.
Mereka rindu mengenal Kristus sendiri.
Dalam Filipi 1:23 Paulus berkata:
“Aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus.”
Perkataan Bunyan menjelang kematian memiliki nada yang serupa.
Ia tidak terutama berbicara tentang surga sebagai tempat yang indah.
Ia berbicara tentang Kristus.
Karena bagi orang percaya, kemuliaan terbesar surga adalah kehadiran Sang Juruselamat.
John Calvin dan Kerinduan akan Kehadiran Kristus
John Calvin sering menulis bahwa tujuan akhir keselamatan adalah persekutuan dengan Allah.
Menurut Calvin, manusia tidak akan menemukan kebahagiaan sejati sampai mereka menikmati hadirat Allah sepenuhnya.
Dalam hidup sekarang, orang percaya menikmati persekutuan dengan Kristus melalui iman.
Namun pada saat kematian, iman berubah menjadi penglihatan.
Apa yang selama ini dipercayai akan dilihat secara langsung.
Perkataan Bunyan mencerminkan kebenaran ini.
Ia memandang kematian bukan sebagai kehilangan, tetapi sebagai perolehan.
“Hari Ini Aku Akan Beristirahat dari Dosa dan Pencobaan”
Salah satu tema yang sering dikaitkan dengan hari-hari terakhir Bunyan adalah keyakinannya bahwa kematian membebaskan orang percaya dari pergumulan melawan dosa.
Sepanjang hidupnya, Bunyan sangat sadar akan realitas dosa.
Banyak karya tulisnya menggambarkan pergumulan batin yang mendalam.
Namun menjelang kematian, ia berbicara tentang istirahat.
John Owen menjelaskan bahwa selama hidup di dunia, orang percaya terus berperang melawan dosa yang masih tinggal dalam diri mereka.
Proses pengudusan tidak pernah sempurna sebelum kematian.
Namun ketika orang percaya meninggal dalam Kristus, mereka dibebaskan sepenuhnya dari kuasa dosa.
Bunyan menantikan hari itu dengan sukacita.
Bukan karena ia mencintai kematian.
Tetapi karena ia mencintai kekudusan.
Pandangan Puritan tentang Kematian
Kaum Puritan memiliki pandangan yang unik mengenai kematian.
Mereka tidak mengabaikan kesedihan kematian.
Mereka juga tidak memandang kematian secara romantis.
Namun mereka melihat kematian melalui terang Injil.
Joel Beeke menjelaskan bahwa kaum Puritan sering berbicara tentang “mati dengan baik” (dying well).
Bagi mereka, kehidupan yang baik harus diakhiri dengan kematian yang baik.
Kematian yang baik bukan berarti bebas dari rasa sakit.
Kematian yang baik berarti menghadapi kematian dengan iman kepada Kristus.
John Bunyan menjadi salah satu contoh terbaik dari prinsip ini.
Herman Bavinck: Kematian sebagai Musuh yang Telah Dikalahkan
Herman Bavinck menegaskan bahwa Alkitab tidak pernah menggambarkan kematian sebagai sesuatu yang netral.
Kematian adalah musuh.
Kematian masuk ke dunia melalui dosa.
Namun melalui kebangkitan Kristus, musuh tersebut telah dikalahkan.
Karena itu orang percaya dapat menghadapi kematian dengan pengharapan.
Bunyan memahami kebenaran ini dengan sangat baik.
Ia tidak menyangkal kenyataan kematian.
Namun ia melihat kematian dalam terang kemenangan Kristus.
“Aku Pergi kepada Bapa melalui Kristus”
Tema lain yang muncul dalam warisan rohani Bunyan adalah keyakinannya bahwa keselamatan hanya melalui Kristus.
Sepanjang hidupnya ia menolak gagasan bahwa manusia dapat memperoleh keselamatan melalui usaha sendiri.
Karyanya Grace Abounding to the Chief of Sinners menekankan anugerah Allah yang menyelamatkan orang berdosa.
Menjelang kematian, keyakinan itu tidak berubah.
Ia tetap bersandar sepenuhnya pada Kristus.
R.C. Sproul sering menegaskan bahwa pada akhirnya semua orang akan berdiri di hadapan Allah.
Pertanyaan yang paling penting bukanlah:
“Apa yang telah saya lakukan?”
Melainkan:
“Siapa yang saya percayai?”
Bunyan percaya kepada Kristus.
Karena itu ia menghadapi kematian dengan damai.
Pengaruh Teologi Perjanjian dalam Pemikiran Bunyan
Walaupun Bunyan tidak menulis sistem teologi yang formal, banyak pemikirannya dipengaruhi oleh konsep perjanjian dalam Alkitab.
Menurut Geerhardus Vos, seluruh sejarah penebusan bergerak menuju penggenapan janji Allah dalam Kristus.
Bunyan memahami dirinya sebagai bagian dari umat perjanjian Allah.
Karena itu kematian bukanlah kegagalan.
Kematian adalah langkah terakhir dalam perjalanan menuju penggenapan janji Allah.
Tema ini terlihat jelas dalam The Pilgrim’s Progress ketika tokoh Christian akhirnya menyeberangi Sungai Kematian dan memasuki Kota Surgawi.
Banyak penafsir melihat adegan tersebut sebagai refleksi harapan pribadi Bunyan sendiri.
“Kita Akan Menikmati Dia untuk Selama-Lamanya”
Kalimat ini memiliki makna teologis yang sangat dalam.
Bunyan tidak hanya berbicara tentang bertemu Kristus.
Ia berbicara tentang menikmati Kristus.
Pernyataan ini mengingatkan pada Pengakuan Iman Westminster:
“Tujuan utama manusia adalah memuliakan Allah dan menikmati Dia untuk selama-lamanya.”
J.I. Packer menjelaskan bahwa tujuan keselamatan bukan hanya pengampunan dosa.
Tujuan akhirnya adalah persekutuan penuh dengan Allah.
Keselamatan membawa manusia masuk ke dalam sukacita kekal bersama Kristus.
Perkataan Bunyan mencerminkan pemahaman tersebut.
Michael Horton dan Pengharapan Eskatologis
Michael Horton menekankan bahwa kehidupan Kristen harus selalu berorientasi kepada masa depan.
Orang percaya hidup di dunia sekarang, tetapi kewargaan mereka ada di surga.
Harapan eskatologis ini memberi kekuatan untuk menghadapi penderitaan.
Bunyan mengalami:
- Penjara.
- Penolakan.
- Kesulitan ekonomi.
- Penyakit.
Namun ia tidak kehilangan pengharapan.
Ia melihat hidup sebagai perjalanan menuju rumah yang kekal.
Bunyan dan Doktrin Ketekunan Orang Kudus
Salah satu tema penting dalam tulisan Bunyan adalah ketekunan iman.
Dalam Teologi Reformed, doktrin ini dikenal sebagai Perseverance of the Saints.
Menurut doktrin ini, mereka yang sungguh-sungguh diselamatkan akan dipelihara Allah sampai akhir.
Louis Berkhof menjelaskan bahwa ketekunan orang kudus tidak bergantung pada kekuatan manusia.
Ketekunan bergantung pada kesetiaan Allah.
Menjelang kematiannya, Bunyan menunjukkan keyakinan penuh bahwa Allah yang telah memulai pekerjaan keselamatan akan menyelesaikannya.
Pelajaran dari Perkataan Menjelang Wafat Bunyan
1. Kristus Adalah Harta Terbesar Orang Percaya
Bunyan tidak berbicara tentang pencapaiannya.
Ia berbicara tentang Kristus.
Ini menunjukkan pusat hidupnya.
2. Kematian Bukan Akhir
Bagi orang percaya, kematian adalah transisi menuju kemuliaan.
3. Pengharapan Kristen Bersifat Pribadi
Keselamatan bukan sekadar masuk surga.
Keselamatan adalah bersama Kristus.
4. Anugerah Allah Cukup Sampai Akhir
Allah yang menyelamatkan juga memelihara.
5. Hidup yang Setia Menghasilkan Kematian yang Penuh Damai
Kedamaian Bunyan menjelang kematian merupakan buah dari kehidupan yang berakar pada Injil.
Relevansi bagi Gereja Masa Kini
Dunia modern sering berusaha menghindari pembicaraan tentang kematian.
Kematian dianggap topik yang menakutkan.
Namun Alkitab mengajarkan bahwa memahami kematian dengan benar justru membantu kita memahami kehidupan dengan benar.
Stephen Nichols mencatat bahwa tokoh-tokoh Reformasi dan Puritan hidup dengan kesadaran akan kekekalan.
Kesadaran itu membuat mereka:
- Menghargai waktu.
- Mengutamakan Kristus.
- Menolak hidup yang dangkal.
- Berfokus pada kemuliaan Allah.
John Bunyan menjadi teladan dalam hal ini.
Ia hidup sebagai seorang peziarah yang tidak pernah melupakan tujuan akhirnya.
Kesimpulan
“Mr. John Bunyan’s Dying Sayings” atau “Perkataan-Perkataan Menjelang Wafat John Bunyan” bukan sekadar catatan sejarah tentang kata-kata terakhir seorang tokoh Kristen. Perkataan-perkataan tersebut merupakan kesaksian hidup yang mencerminkan inti iman Reformasi dan spiritualitas Puritan.
Bunyan menghadapi kematian dengan damai karena ia mengenal Kristus. Ia menantikan perjumpaan dengan Juruselamat yang telah mengasihinya dan menebusnya. Ia melihat kematian sebagai akhir dari pergumulan melawan dosa dan awal dari sukacita yang kekal. Ia bersandar sepenuhnya pada anugerah Allah, bukan pada jasa dirinya sendiri.
John Calvin mengajarkan bahwa tujuan hidup adalah menikmati Allah. John Owen menekankan kemenangan atas dosa. Herman Bavinck mengingatkan bahwa kematian adalah musuh yang telah dikalahkan Kristus. J.I. Packer, Joel Beeke, Sinclair Ferguson, Michael Horton, Louis Berkhof, dan R.C. Sproul menunjukkan bahwa pengharapan Kristen berakar pada karya Kristus yang sempurna dan janji kehidupan kekal.
Warisan terbesar Bunyan bukanlah buku-bukunya, meskipun buku-buku itu sangat berharga. Warisan terbesarnya adalah kesaksian bahwa Kristus cukup—cukup untuk hidup, cukup untuk menderita, dan cukup untuk menghadapi kematian.
Sebagaimana yang tercermin dalam semangat perkataan terakhirnya:
“Kita akan segera bertemu dengan Dia yang telah kita kasihi; kita akan menikmati Dia untuk selama-lamanya.”
Itulah pengharapan yang menopang gereja sepanjang zaman dan yang terus menguatkan setiap orang percaya yang berjalan menuju Kota Surgawi.
Soli Deo Gloria.