Kematian bagi Pengharapan Legalistik
.jpg)
Pendahuluan
Salah satu pergumulan terbesar dalam sejarah umat manusia adalah keinginan untuk membenarkan diri di hadapan Allah melalui usaha sendiri. Sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa, manusia cenderung percaya bahwa ia dapat memperoleh penerimaan Allah melalui perbuatan baik, kesalehan, ritual keagamaan, atau ketaatan moral. Kecenderungan inilah yang dalam teologi sering disebut sebagai legalisme, yaitu keyakinan bahwa manusia dapat memperoleh atau mempertahankan keselamatan melalui perbuatannya sendiri.
Judul “Death to Our Legal Hope” dapat diterjemahkan sebagai “Kematian bagi Pengharapan Legalistik” atau “Berakhirnya Harapan pada Perbuatan Hukum”. Ungkapan ini menegaskan bahwa setiap harapan untuk memperoleh keselamatan melalui ketaatan manusia harus mati agar seseorang dapat sepenuhnya bersandar pada anugerah Allah di dalam Yesus Kristus.
Dalam perspektif Teologi Reformed, inti Injil adalah bahwa keselamatan berasal dari Allah, dikerjakan oleh Kristus, diterapkan oleh Roh Kudus, dan diterima melalui iman. Keselamatan bukan hasil usaha manusia, melainkan anugerah yang diberikan kepada orang berdosa yang tidak layak menerimanya.
John Calvin, Martin Luther, Herman Bavinck, Louis Berkhof, John Owen, Jonathan Edwards, J. Gresham Machen, R. C. Sproul, Sinclair Ferguson, Michael Horton, dan banyak teolog Reformed lainnya menegaskan bahwa legalisme merupakan salah satu ancaman terbesar bagi kemurnian Injil. Ketika manusia mulai mengandalkan dirinya sendiri, ia sesungguhnya sedang mengalihkan pandangannya dari Kristus.
Artikel ini akan membahas akar legalisme, kesaksian Alkitab mengenai ketidakmampuan manusia, karya Kristus sebagai satu-satunya dasar keselamatan, serta implikasi praktis dari kematian pengharapan legalistik bagi kehidupan orang percaya.
Memahami Harapan Legalistik
Legalisme tidak selalu muncul dalam bentuk yang kasar dan terang-terangan.
Sering kali legalisme tampak sangat religius.
Seseorang mungkin rajin beribadah, tekun berdoa, aktif melayani, dan berusaha hidup bermoral. Semua itu pada dasarnya baik. Namun legalisme muncul ketika seseorang mulai berpikir bahwa tindakan-tindakan tersebut membuatnya layak diterima oleh Allah.
Dalam legalisme, fokus perlahan bergeser:
- dari anugerah kepada usaha manusia,
- dari Kristus kepada diri sendiri,
- dari iman kepada prestasi rohani.
Michael Horton menjelaskan bahwa legalisme pada dasarnya adalah upaya manusia untuk membangun tangga menuju surga melalui perbuatannya sendiri.
Masalahnya, Alkitab mengajarkan bahwa tangga itu tidak pernah cukup tinggi.
Asal Mula Legalisme dalam Hati Manusia
Kecenderungan legalistik sudah terlihat sejak kejatuhan manusia.
Setelah Adam dan Hawa berdosa, respons pertama mereka adalah menutupi diri dengan daun ara.
Tindakan ini memiliki makna yang dalam.
Mereka mencoba menutupi rasa bersalah mereka dengan usaha sendiri.
Namun penutup buatan manusia tidak cukup.
Allah sendiri yang menyediakan pakaian bagi mereka.
John Calvin melihat peristiwa ini sebagai gambaran bahwa manusia selalu berusaha membenarkan dirinya sendiri, sementara Allah menunjukkan bahwa hanya Dia yang dapat menyediakan penutup bagi dosa.
Sejak saat itu, sejarah manusia dipenuhi berbagai bentuk usaha untuk memperoleh penerimaan Allah melalui prestasi religius.
Hukum Taurat dan Ketidakmampuan Manusia
Salah satu kesalahpahaman terbesar mengenai Alkitab adalah anggapan bahwa hukum Taurat diberikan sebagai jalan keselamatan.
Padahal Teologi Reformed mengajarkan bahwa hukum memiliki fungsi yang berbeda.
Menurut John Calvin, hukum Taurat berfungsi sebagai:
- Cermin yang menunjukkan dosa manusia.
- Pengekang kejahatan dalam masyarakat.
- Pedoman hidup bagi orang percaya.
Namun hukum tidak pernah diberikan sebagai sarana pembenaran.
Paulus menulis:
“Sebab tidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat.”
— Roma 3:20
Hukum menunjukkan standar Allah yang sempurna.
Masalahnya bukan pada hukum.
Masalahnya ada pada manusia yang berdosa.
R. C. Sproul menjelaskan bahwa hukum Allah seperti cermin yang memperlihatkan noda pada wajah seseorang. Cermin dapat menunjukkan masalah, tetapi tidak dapat membersihkannya.
Kesalahan Orang Farisi
Dalam pelayanan-Nya, Yesus berulang kali berhadapan dengan kaum Farisi.
Mereka adalah orang-orang yang sangat religius.
Mereka berpuasa, berdoa, memberi persepuluhan, dan menaati berbagai aturan keagamaan.
Namun Yesus menegur mereka dengan keras.
Mengapa?
Karena mereka mengandalkan kebenaran diri sendiri.
Dalam Lukas 18:9–14, Yesus menceritakan perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai.
Orang Farisi membanggakan perbuatannya.
Pemungut cukai hanya memohon belas kasihan Allah.
Yesus menyatakan bahwa pemungut cukailah yang pulang sebagai orang yang dibenarkan.
Menurut Sinclair Ferguson, perumpamaan ini merupakan salah satu serangan paling kuat terhadap legalisme dalam seluruh Alkitab.
Martin Luther dan Keruntuhan Harapan Legalistik
Tidak ada tokoh Reformasi yang lebih memahami bahaya legalisme daripada Martin Luther.
Sebelum memahami Injil, Luther berusaha memperoleh damai sejahtera melalui berbagai praktik keagamaan.
Ia berpuasa.
Ia berdoa.
Ia mengaku dosa berulang kali.
Ia melakukan segala sesuatu yang diperintahkan gereja.
Namun ia tetap merasa bersalah di hadapan Allah.
Semakin keras ia berusaha, semakin ia menyadari ketidakmampuannya.
Akhirnya ketika mempelajari Roma 1:17, Luther memahami bahwa kebenaran Allah diberikan melalui iman.
Di sinilah harapan legalistiknya mati.
Ia menyadari bahwa keselamatan bukan diperoleh melalui usaha manusia, melainkan melalui Kristus.
Penemuan ini menjadi salah satu pemicu utama Reformasi Protestan.
Pembenaran oleh Iman Saja
Doktrin pembenaran oleh iman saja (sola fide) merupakan jantung Teologi Reformed.
Paulus menulis:
“Manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.”
— Roma 3:28
Pembenaran berarti Allah menyatakan orang berdosa sebagai benar.
Dasar pembenaran bukanlah kebenaran manusia.
Dasarnya adalah kebenaran Kristus.
Louis Berkhof menjelaskan bahwa dalam pembenaran, kebenaran Kristus diperhitungkan kepada orang percaya.
Dengan kata lain, orang percaya diterima bukan karena apa yang telah ia lakukan, tetapi karena apa yang telah Kristus lakukan.
Inilah kabar baik Injil.
Ketaatan Kristus yang Sempurna
Mengapa keselamatan tidak bergantung pada ketaatan manusia?
Karena Kristus telah memberikan ketaatan yang sempurna.
Teologi Reformed berbicara tentang dua aspek karya Kristus:
Ketaatan Aktif
Kristus menaati seluruh hukum Allah dengan sempurna.
Ketaatan Pasif
Kristus menanggung hukuman dosa melalui kematian-Nya di kayu salib.
John Owen menjelaskan bahwa keselamatan orang percaya bergantung sepenuhnya pada kedua aspek ini.
Kristus bukan hanya mati untuk dosa kita.
Ia juga hidup dengan sempurna menggantikan kita.
Karena itu, tidak ada ruang bagi kesombongan manusia.
Bahaya Legalisme dalam Gereja Modern
Banyak orang menganggap legalisme hanya masalah masa lalu.
Namun sebenarnya legalisme masih sangat hidup.
Ia muncul ketika seseorang berpikir:
- Allah lebih mengasihi saya karena saya lebih disiplin.
- Saya lebih rohani daripada orang lain.
- Keselamatan saya bergantung pada prestasi saya.
- Allah menerima saya karena pelayanan saya.
J. Gresham Machen memperingatkan bahwa legalisme dapat menyusup ke dalam gereja bahkan ketika bahasa yang digunakan terdengar sangat Kristen.
Di balik semua itu terdapat kecenderungan untuk memusatkan perhatian pada manusia daripada Kristus.
Anugerah yang Membebaskan
Jika legalisme menghasilkan ketakutan, anugerah menghasilkan kebebasan.
Ini bukan kebebasan untuk berbuat dosa.
Sebaliknya, ini adalah kebebasan untuk mengasihi dan melayani Allah tanpa rasa takut akan penolakan.
Herman Bavinck menjelaskan bahwa orang percaya tidak menaati Allah untuk memperoleh keselamatan.
Mereka menaati Allah karena telah diselamatkan.
Perbedaan ini sangat penting.
Legalisme berkata:
“Aku harus taat agar diterima.”
Injil berkata:
“Aku diterima dalam Kristus, karena itu aku taat.”
Apakah Anugerah Mendorong Kemalasan?
Salah satu keberatan terhadap doktrin anugerah adalah anggapan bahwa jika keselamatan tidak bergantung pada perbuatan, orang akan hidup sembarangan.
Paulus sudah menjawab keberatan ini dalam Roma 6.
“Bolehkah kita bertekun dalam dosa supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak!”
Teologi Reformed menegaskan bahwa iman yang sejati selalu menghasilkan buah.
John Calvin menyatakan:
“Kita diselamatkan oleh iman saja, tetapi iman yang menyelamatkan tidak pernah sendirian.”
Artinya, perbuatan baik bukan dasar keselamatan.
Perbuatan baik adalah hasil keselamatan.
Kematian Diri dan Kehidupan Baru
Kematian pengharapan legalistik sebenarnya merupakan bagian dari kematian manusia lama.
Yesus berkata:
“Setiap orang yang mau mengikut Aku harus menyangkal dirinya.”
Legalisme berakar pada kepercayaan diri manusia.
Karena itu, legalisme harus mati agar Kristus menjadi pusat kehidupan.
Jonathan Edwards menjelaskan bahwa pertobatan sejati melibatkan perubahan fokus dari diri sendiri kepada kemuliaan Allah.
Orang percaya tidak lagi membangun identitasnya berdasarkan pencapaian pribadi.
Ia menemukan identitasnya di dalam Kristus.
Kepastian Keselamatan
Salah satu berkat terbesar dari kematian pengharapan legalistik adalah kepastian keselamatan.
Jika keselamatan bergantung pada manusia, tidak seorang pun dapat memiliki kepastian.
Kita semua gagal.
Kita semua berdosa.
Namun jika keselamatan bergantung pada Kristus, maka dasar keselamatan itu kokoh.
J. I. Packer menulis bahwa orang percaya dapat memiliki damai sejahtera karena keselamatan mereka berakar pada karya Kristus yang sempurna, bukan pada performa rohani mereka yang berubah-ubah.
Hidup dalam Syukur
Ketika seseorang memahami anugerah, motivasinya berubah.
Ia tidak lagi melayani Allah karena takut.
Ia melayani karena bersyukur.
R. C. Sproul sering menekankan bahwa respons yang benar terhadap Injil adalah ucapan syukur yang diwujudkan dalam kehidupan yang taat.
Ketaatan Kristen bukan usaha memperoleh kasih Allah.
Ketaatan adalah respons terhadap kasih Allah yang telah diterima.
Pandangan Para Teolog Reformed
Martin Luther
Keselamatan hanya melalui iman kepada Kristus, bukan melalui jasa manusia.
John Calvin
Kebenaran Kristus diperhitungkan kepada orang percaya sebagai dasar pembenaran.
John Owen
Seluruh harapan keselamatan bergantung pada karya Kristus, bukan pada usaha manusia.
Herman Bavinck
Anugerah Allah menghancurkan kesombongan manusia dan meninggikan Kristus.
J. Gresham Machen
Legalisme adalah ancaman serius terhadap kemurnian Injil.
R. C. Sproul
Tidak seorang pun dapat memenuhi standar hukum Allah selain Kristus.
Sinclair Ferguson
Legalisme dan antinomianisme sama-sama menjauhkan orang dari Injil yang sejati.
Michael Horton
Injil mengumumkan apa yang telah Kristus lakukan, bukan apa yang harus manusia lakukan untuk menyelamatkan dirinya.
Penutup
Kematian bagi Pengharapan Legalistik merupakan inti pengalaman setiap orang yang sungguh-sungguh memahami Injil. Selama seseorang masih berharap pada dirinya sendiri, ia belum sepenuhnya bersandar pada Kristus. Namun ketika harapan pada usaha manusia mati, anugerah Allah bersinar dengan lebih terang.
Martin Luther menemukan damai sejahtera ketika ia berhenti mengandalkan dirinya sendiri. John Calvin mengajarkan bahwa pembenaran didasarkan pada kebenaran Kristus yang diperhitungkan kepada orang percaya. Herman Bavinck menegaskan bahwa keselamatan adalah karya Allah dari awal hingga akhir. R. C. Sproul mengingatkan bahwa tidak ada manusia yang mampu memenuhi tuntutan hukum Allah selain Kristus.
Karena itu, orang percaya dipanggil untuk meninggalkan segala bentuk kepercayaan pada diri sendiri dan memandang kepada Juruselamat yang sempurna.
“Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.”
— Galatia 2:20
Di dalam Kristus, segala harapan legalistik berakhir. Di dalam Kristus pula ditemukan pengampunan, pembenaran, damai sejahtera, dan kehidupan kekal.