Satu Iman: Menjaga Kemurnian Injil dan Kesatuan Doktrin

Satu Iman: Menjaga Kemurnian Injil dan Kesatuan Doktrin

Pendahuluan

Di tengah dunia yang semakin pluralistik dan relatif, konsep tentang kebenaran sering dianggap sebagai sesuatu yang subjektif. Banyak orang beranggapan bahwa semua keyakinan pada dasarnya sama, selama menghasilkan kehidupan yang baik dan damai. Bahkan di dalam gereja, muncul kecenderungan untuk mengurangi pentingnya doktrin demi menjaga persatuan yang bersifat eksternal.

Namun Perjanjian Baru berbicara mengenai sesuatu yang sangat berbeda. Rasul Paulus menulis:

“Satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan.”
— Efesus 4:4–5

Ungkapan “satu iman” bukan sekadar menunjuk kepada tindakan percaya secara pribadi, melainkan kepada keseluruhan isi iman Kristen yang telah diwahyukan Allah kepada gereja-Nya. Iman yang satu itu berpusat pada Kristus, bersumber dari Kitab Suci, dan diwariskan kepada umat Tuhan melalui pemberitaan Injil.

Dalam tradisi Teologi Reformed, konsep “satu iman” memiliki makna yang sangat penting. Gereja dipanggil untuk hidup dalam kesatuan, tetapi kesatuan tersebut harus dibangun di atas kebenaran. Kesatuan tanpa kebenaran akan menghasilkan kompromi. Sebaliknya, kebenaran tanpa kasih akan menghasilkan kekerasan rohani. Karena itu, Alkitab memanggil gereja untuk memelihara kesatuan iman di dalam Kristus.

John Calvin, Herman Bavinck, Abraham Kuyper, Louis Berkhof, B. B. Warfield, J. Gresham Machen, Martyn Lloyd-Jones, J. I. Packer, R. C. Sproul, Sinclair Ferguson, Michael Horton, dan Joel Beeke memberikan kontribusi penting dalam menjelaskan bagaimana gereja dapat mempertahankan “satu iman” di tengah berbagai tantangan zaman.

Artikel ini akan membahas makna “satu iman,” dasar Alkitabiahnya, ancaman terhadapnya, serta pentingnya mempertahankan kemurnian Injil dalam kehidupan gereja masa kini.

Makna “Satu Iman”

Ketika Paulus berbicara tentang “satu iman,” ia tidak sedang membicarakan berbagai jenis iman yang berbeda-beda.

Alkitab tidak mengenal konsep bahwa setiap orang memiliki versinya sendiri mengenai kebenaran rohani.

Sebaliknya, Allah telah menyatakan satu Injil yang sejati.

Yudas menulis:

“Berjuanglah untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus.”
— Yudas 3

Perhatikan bahwa Yudas berbicara tentang iman yang telah disampaikan satu kali untuk selamanya.

Ini menunjukkan bahwa isi iman Kristen memiliki karakter yang tetap dan objektif.

Menurut Louis Berkhof, iman Kristen tidak diciptakan oleh gereja. Gereja menerima dan memelihara iman yang telah diwahyukan Allah melalui Kitab Suci.

Dasar Kesatuan Iman Adalah Kristus

Pusat dari “satu iman” adalah Yesus Kristus.

Kekristenan bukan pertama-tama sebuah sistem etika atau filsafat hidup.

Kekristenan adalah berita tentang pribadi dan karya Kristus.

Paulus berkata:

“Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.”
— 1 Korintus 2:2

John Calvin menegaskan bahwa seluruh Alkitab menunjuk kepada Kristus.

Karena itu, kesatuan gereja tidak dibangun di atas budaya, tradisi, atau preferensi manusia.

Kesatuan sejati hanya mungkin terjadi ketika gereja berpusat pada Kristus.

Di mana Kristus diberitakan dengan setia, di sana gereja menemukan dasar persatuannya.

Satu Iman dan Otoritas Kitab Suci

Teologi Reformed selalu menghubungkan “satu iman” dengan prinsip Sola Scriptura.

Mengapa?

Karena jika gereja tidak memiliki otoritas tertinggi yang sama, maka kesatuan iman tidak mungkin dipertahankan.

Herman Bavinck menjelaskan bahwa Alkitab adalah sumber dan norma bagi seluruh doktrin Kristen.

Gereja dapat berbeda dalam hal-hal sekunder, tetapi semua ajaran harus diuji oleh firman Tuhan.

Ketika gereja meninggalkan Kitab Suci sebagai standar utama, maka berbagai pandangan manusia akan menggantikannya.

Akibatnya, kesatuan iman perlahan-lahan runtuh.

Iman yang Satu di Tengah Keragaman Gereja

Keberadaan banyak denominasi sering menimbulkan pertanyaan:

Jika hanya ada satu iman, mengapa ada begitu banyak gereja?

Teologi Reformed membedakan antara:

  • kesatuan esensial,
  • dan perbedaan non-esensial.

Abraham Kuyper menjelaskan bahwa orang percaya dapat berbeda dalam berbagai aspek organisasi gereja, bentuk ibadah, atau isu-isu sekunder.

Namun mereka tetap bersatu jika memegang inti Injil yang sama.

Kesatuan Kristen sejati tidak berarti keseragaman mutlak.

Kesatuan berarti bersama-sama tunduk kepada Kristus dan firman-Nya.

Bahaya Relativisme Teologis

Salah satu ancaman terbesar terhadap “satu iman” pada zaman modern adalah relativisme.

Relativisme mengajarkan bahwa kebenaran bersifat subjektif.

Apa yang benar bagi seseorang belum tentu benar bagi orang lain.

Pandangan ini sangat bertentangan dengan Kekristenan.

B. B. Warfield menegaskan bahwa Allah telah menyatakan kebenaran-Nya secara objektif dalam Kitab Suci.

Jika Injil benar, maka Injil benar bagi semua orang.

Jika Kristus adalah satu-satunya Juruselamat, maka tidak ada jalan keselamatan lain.

Karena itu, gereja tidak boleh menyerahkan kebenaran demi penerimaan budaya.

J. Gresham Machen dan Perjuangan bagi Satu Iman

Pada awal abad ke-20, J. Gresham Machen menghadapi munculnya teologi liberal di banyak gereja Protestan.

Teologi liberal masih menggunakan istilah-istilah Kristen, tetapi mengubah maknanya.

Misalnya:

  • dosa dianggap sekadar kelemahan manusia,
  • mukjizat dipandang sebagai mitos,
  • kebangkitan Kristus dipahami secara simbolis.

Machen menolak pendekatan ini.

Dalam bukunya Christianity and Liberalism, ia menyatakan bahwa liberalisme bukan bentuk lain dari Kekristenan, melainkan agama yang berbeda.

Menurut Machen, gereja harus mempertahankan “satu iman” yang telah diberikan dalam Kitab Suci.

Kompromi terhadap Injil bukanlah kasih.

Kompromi adalah pengkhianatan terhadap kebenaran.

Pembenaran oleh Iman Sebagai Inti Injil

Salah satu unsur terpenting dari “satu iman” adalah doktrin pembenaran oleh iman.

Martin Luther menyebut doktrin ini sebagai artikel yang menentukan apakah gereja berdiri atau jatuh.

Paulus menulis:

“Sebab kami yakin bahwa manusia dibenarkan karena iman.”
— Roma 3:28

Menurut R. C. Sproul, pembenaran oleh iman merupakan jantung Injil.

Jika manusia diselamatkan oleh anugerah melalui iman kepada Kristus, maka semua kemuliaan diberikan kepada Allah.

Namun jika keselamatan bergantung pada usaha manusia, maka Injil kehilangan maknanya.

Karena itu, gereja harus menjaga doktrin ini dengan sungguh-sungguh.

Satu Iman dan Doktrin Tritunggal

Teologi Reformed memandang doktrin Tritunggal sebagai bagian penting dari iman Kristen.

Allah yang disembah gereja adalah:

  • Bapa,
  • Anak,
  • dan Roh Kudus.

Bukan tiga Allah.

Bukan satu Pribadi dengan tiga peran.

Melainkan satu Allah dalam tiga Pribadi.

Herman Bavinck menegaskan bahwa seluruh karya keselamatan bersifat Trinitarian.

Bapa merencanakan keselamatan.

Anak menggenapkannya.

Roh Kudus menerapkannya.

Karena itu, menjaga “satu iman” berarti mempertahankan pengakuan yang benar tentang Allah.

Satu Iman dan Kehidupan Kudus

“satu iman” bukan hanya kumpulan doktrin.

Iman yang sejati menghasilkan kehidupan yang berubah.

Yakobus menulis:

“Iman tanpa perbuatan adalah mati.”

John Owen menjelaskan bahwa doktrin dan kehidupan tidak boleh dipisahkan.

Orang yang memahami Injil akan terdorong untuk hidup dalam kekudusan.

Bukan karena ingin memperoleh keselamatan.

Melainkan karena ia telah menerima keselamatan.

Dengan demikian, “satu iman” selalu menghasilkan buah dalam kehidupan sehari-hari.

Kesatuan dan Kebenaran

Salah satu tantangan gereja modern adalah godaan untuk memilih antara kesatuan dan kebenaran.

Sebagian menekankan kesatuan sampai mengorbankan doktrin.

Sebagian lain menekankan doktrin sampai kehilangan kasih.

Martyn Lloyd-Jones mengingatkan bahwa kesatuan sejati hanya dapat dibangun di atas kebenaran.

Kesatuan tanpa Injil hanyalah persatuan organisasi.

Sebaliknya, kebenaran yang sejati akan menghasilkan kasih yang sejati.

Karena itu, gereja dipanggil untuk mempertahankan keduanya.

Peran Pengakuan Iman

Dalam sejarah gereja, berbagai pengakuan iman dibuat untuk menjaga “satu iman”.

Contohnya:

  • Pengakuan Iman Rasuli,
  • Pengakuan Iman Nicea,
  • Pengakuan Iman Belgia,
  • Katekismus Heidelberg,
  • Pengakuan Iman Westminster.

Menurut J. I. Packer, pengakuan iman bukan pengganti Alkitab.

Namun pengakuan iman membantu gereja merumuskan apa yang diajarkan Alkitab mengenai isu-isu penting.

Karena itu, tradisi Reformed menghargai pengakuan iman sebagai alat untuk menjaga kemurnian doktrin.

Satu Iman dalam Dunia Pascakristendom

Saat ini banyak negara memasuki era pascakristendom.

Kekristenan tidak lagi menjadi pandangan dunia dominan.

Di tengah kondisi ini, gereja menghadapi tekanan untuk menyesuaikan diri dengan budaya.

Michael Horton mengingatkan bahwa relevansi gereja tidak ditemukan dengan mengubah Injil.

Sebaliknya, gereja menjadi relevan ketika tetap setia kepada Injil yang tidak berubah.

Dunia membutuhkan lebih dari sekadar opini manusia.

Dunia membutuhkan kabar baik tentang Kristus.

Karena itu, menjaga “satu iman” menjadi semakin penting.

Peran Roh Kudus dalam Memelihara Iman

Kesetiaan kepada iman Kristen bukan hanya hasil usaha manusia.

Roh Kudus bekerja memelihara gereja.

Yesus berjanji:

“Roh Kebenaran akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran.”
— Yohanes 16:13

Sinclair Ferguson menjelaskan bahwa Roh Kudus tidak menciptakan Injil baru.

Ia menolong gereja memahami dan menerapkan Injil yang telah diberikan.

Karena itu, pemeliharaan “satu iman” merupakan karya Allah sendiri.

Warisan bagi Generasi Berikutnya

Paulus menulis kepada Timotius:

“Peliharalah apa yang telah dipercayakan kepadamu.”

Setiap generasi menerima tanggung jawab untuk mewariskan iman kepada generasi berikutnya.

Joel Beeke menekankan bahwa keluarga, gereja, dan sekolah Kristen memiliki peranan penting dalam tugas ini.

Jika gereja gagal mengajarkan doktrin yang sehat, generasi berikutnya akan kehilangan pemahaman tentang Injil.

Karena itu, pengajaran Alkitab yang setia harus tetap menjadi prioritas utama.

Pandangan Para Teolog Reformed

John Calvin

Kesatuan gereja harus dibangun di atas firman Tuhan dan Injil Kristus.

Herman Bavinck

Iman Kristen adalah satu kesatuan kebenaran yang berpusat pada Allah Tritunggal.

Abraham Kuyper

Kesatuan sejati memungkinkan keragaman yang tetap tunduk kepada Kristus.

B. B. Warfield

Kebenaran Alkitab bersifat objektif dan harus dipertahankan.

J. Gresham Machen

Kompromi terhadap Injil berarti kehilangan Kekristenan itu sendiri.

Martyn Lloyd-Jones

Kesatuan tanpa kebenaran bukanlah kesatuan Kristen.

J. I. Packer

Pengakuan iman membantu gereja menjaga kemurnian doktrin.

Sinclair Ferguson

Roh Kudus memimpin gereja untuk tetap setia kepada Injil.

Penutup

Satu Iman adalah pengakuan bahwa Allah telah memberikan satu Injil, satu Juruselamat, dan satu jalan keselamatan bagi umat manusia. Di tengah dunia yang dipenuhi relativisme, pluralisme, dan berbagai ajaran yang saling bersaing, gereja dipanggil untuk tetap berpegang pada iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus.

John Calvin mengingatkan bahwa kesatuan gereja harus berpusat pada Kristus. Herman Bavinck menegaskan bahwa seluruh doktrin Kristen membentuk satu kesatuan yang utuh. J. Gresham Machen memperingatkan bahaya kompromi terhadap Injil. R. C. Sproul menunjukkan bahwa pembenaran oleh iman merupakan inti dari kabar baik. Sinclair Ferguson menekankan bahwa Roh Kudus memelihara gereja dalam kebenaran.

Pada akhirnya, “satu iman” bukanlah hasil karya manusia. Ia adalah anugerah Allah yang diberikan kepada gereja melalui firman dan Roh-Nya. Tugas gereja adalah menerima, memelihara, menghidupi, dan mewariskan iman tersebut kepada generasi berikutnya.

“Satu Tuhan, satu iman, satu baptisan.”
— Efesus 4:5

Previous Post