Melihat Yesus Sama dengan Melihat Bapa
.jpg)
Pendahuluan
Salah satu pernyataan Yesus yang paling mendalam sekaligus paling kontroversial terdapat dalam Yohanes 14:9:
“Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.”
Pernyataan ini disampaikan Yesus kepada Filipus pada malam sebelum penyaliban-Nya. Filipus meminta agar Yesus menunjukkan Bapa kepada para murid. Permintaan itu tampaknya sederhana, tetapi jawaban Yesus mengungkapkan salah satu kebenaran paling agung dalam iman Kristen: Allah Bapa telah menyatakan diri-Nya secara sempurna dalam diri Yesus Kristus.
Dalam sejarah gereja, ayat ini menjadi dasar penting bagi doktrin Kristologi dan Tritunggal. Teologi Reformed memahami bahwa Yesus bukan sekadar nabi yang menunjukkan jalan kepada Allah, melainkan Allah Anak yang datang ke dunia untuk menyatakan Bapa secara sempurna. Oleh karena itu, mengenal Kristus berarti mengenal Allah. Melihat kemuliaan Kristus berarti melihat kemuliaan Bapa. Mendengar perkataan Kristus berarti mendengar firman Allah sendiri.
Yohanes Calvin, Herman Bavinck, Louis Berkhof, Geerhardus Vos, John Owen, J. I. Packer, R. C. Sproul, Sinclair Ferguson, dan banyak teolog Reformed lainnya menegaskan bahwa seluruh pengetahuan sejati tentang Allah berpusat pada Kristus. Tanpa Kristus, manusia hanya memiliki pengertian yang terbatas dan telah tercemar oleh dosa. Namun melalui Kristus, Allah memperkenalkan diri-Nya secara penuh kepada umat manusia.
Artikel ini akan membahas secara mendalam makna pernyataan “Melihat Yesus Sama dengan Melihat Bapa” berdasarkan Alkitab dan pandangan para pakar Teologi Reformed.
Bab 1
Kerinduan Manusia untuk Melihat Allah
Sejak awal sejarah, manusia memiliki kerinduan untuk mengenal dan melihat Allah.
Dalam Perjanjian Lama, Musa pernah berdoa:
“Perlihatkanlah kiranya kemuliaan-Mu kepadaku.”
(Keluaran 33:18)
Namun Allah menjawab bahwa tidak seorang pun dapat melihat wajah-Nya dan tetap hidup.
Kekudusan Allah begitu besar sehingga manusia yang berdosa tidak dapat memandang-Nya secara langsung.
Yohanes Calvin menjelaskan bahwa dosa telah membuat manusia kehilangan kemampuan untuk mengenal Allah dengan benar. Walaupun manusia masih memiliki kesadaran tentang keberadaan Allah melalui ciptaan, pengenalannya telah menjadi kabur karena dosa.
Calvin menyebut dunia sebagai “teater kemuliaan Allah.” Namun karena manusia telah jatuh, ia membutuhkan penyataan yang lebih jelas agar dapat mengenal Allah secara benar.
Kebutuhan inilah yang akhirnya dipenuhi dalam pribadi Yesus Kristus.
Bab 2
Kristus sebagai Penyataan Allah yang Sempurna
Rasul Yohanes menulis:
“Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.”
(Yohanes 1:18)
Ayat ini sangat penting dalam Teologi Reformed.
Herman Bavinck menjelaskan bahwa Kristus bukan hanya membawa pesan dari Allah. Kristus adalah penyataan Allah itu sendiri.
Dalam seluruh sejarah Alkitab, Allah berbicara melalui nabi-nabi, mimpi, penglihatan, dan berbagai tanda. Namun semua penyataan itu bersifat parsial dan sementara.
Kristus berbeda.
Ia adalah Firman yang menjadi manusia.
Ia bukan hanya berbicara tentang Allah.
Ia memperlihatkan Allah.
Bavinck menegaskan bahwa dalam Kristus, Allah menjadi dapat dikenal tanpa kehilangan kemuliaan dan kekudusan-Nya.
Karena itu, setiap usaha mengenal Allah yang mengabaikan Kristus akan berakhir pada pengertian yang tidak lengkap.
Bab 3
Makna Yohanes 14:9
Ketika Filipus berkata:
“Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami,”
ia sebenarnya mengungkapkan kerinduan yang dimiliki banyak orang sepanjang sejarah.
Namun jawaban Yesus sangat mengejutkan:
“Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.”
R. C. Sproul menjelaskan bahwa Yesus tidak berkata bahwa Ia adalah Bapa. Pernyataan itu akan bertentangan dengan doktrin Tritunggal.
Sebaliknya, Yesus menyatakan bahwa Ia adalah penyataan sempurna dari Bapa.
Bapa dan Anak adalah dua Pribadi yang berbeda, tetapi memiliki satu hakikat ilahi yang sama.
Karena itu, segala sesuatu yang dinyatakan Yesus tentang diri-Nya menunjukkan siapa Allah sebenarnya.
Ketika kita melihat kasih Kristus, kita melihat kasih Bapa.
Ketika kita melihat kekudusan Kristus, kita melihat kekudusan Bapa.
Ketika kita melihat belas kasihan Kristus, kita melihat belas kasihan Bapa.
Bab 4
Kristus adalah Gambar Allah yang Tidak Kelihatan
Paulus menulis:
“Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan.”
(Kolose 1:15)
Dalam pemikiran Reformed, ayat ini memiliki arti yang sangat penting.
Louis Berkhof menjelaskan bahwa Kristus adalah representasi sempurna dari Allah yang tidak terlihat.
Tidak ada kekurangan dalam penyataan-Nya.
Tidak ada distorsi.
Tidak ada kesalahan.
Sebagaimana cap meterai menghasilkan gambar yang identik dengan meterainya, demikian pula Kristus menyatakan Allah secara sempurna.
Ini berbeda dengan manusia.
Manusia memang diciptakan menurut gambar Allah, tetapi gambar itu telah dirusak oleh dosa.
Kristus adalah gambar Allah yang sempurna tanpa cacat.
Karena itu, siapa pun yang ingin mengenal Allah harus memandang kepada Kristus.
Bab 5
Melihat Bapa dalam Perkataan Yesus
Salah satu cara utama Yesus menyatakan Bapa adalah melalui perkataan-Nya.
Yesus berkata:
“Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri.”
(Yohanes 14:10)
John Owen menjelaskan bahwa seluruh pengajaran Kristus merupakan penyataan langsung dari kehendak Allah.
Ketika Kristus berbicara tentang:
- Kerajaan Allah,
- Pertobatan,
- Keselamatan,
- Kasih,
- Kekudusan,
Ia sedang memperkenalkan karakter Allah kepada manusia.
Karena itu, mempelajari perkataan Yesus bukan sekadar mempelajari ajaran seorang guru besar.
Kita sedang mendengar suara Allah yang menyatakan diri-Nya kepada dunia.
Bab 6
Melihat Bapa dalam Perbuatan Yesus
Yesus tidak hanya menyatakan Allah melalui perkataan-Nya, tetapi juga melalui tindakan-Nya.
Ketika Yesus menyembuhkan orang sakit, kita melihat belas kasihan Allah.
Ketika Yesus mengampuni orang berdosa, kita melihat kasih karunia Allah.
Ketika Yesus menangis di kubur Lazarus, kita melihat hati Allah yang penuh belas kasihan.
Ketika Yesus mengusir para pedagang dari Bait Allah, kita melihat kekudusan dan keadilan Allah.
Sinclair Ferguson menjelaskan bahwa kehidupan Kristus adalah jendela yang memungkinkan manusia melihat karakter Allah.
Setiap tindakan Yesus mengungkapkan sesuatu tentang siapa Allah sebenarnya.
Karena itu, Injil bukan hanya catatan sejarah tentang kehidupan seorang tokoh agama. Injil adalah penyataan Allah yang hidup.
Bab 7
Salib: Penyataan Tertinggi tentang Bapa
Jika seseorang bertanya, “Di mana saya dapat melihat Allah dengan paling jelas?” Teologi Reformed menjawab: di salib Kristus.
J. I. Packer menegaskan bahwa salib adalah titik pertemuan antara kasih Allah dan keadilan Allah.
Di salib kita melihat:
Kasih Allah
Allah memberikan Anak-Nya bagi orang berdosa.
Kekudusan Allah
Dosa tidak diabaikan.
Keadilan Allah
Hukuman dijatuhkan sesuai tuntutan hukum-Nya.
Anugerah Allah
Pengampunan diberikan kepada mereka yang percaya.
Packer menulis bahwa tidak ada tempat lain di mana karakter Allah dinyatakan dengan lebih lengkap daripada di Golgota.
Karena itu, melihat Kristus yang tersalib berarti melihat hati Bapa bagi dunia yang berdosa.
Bab 8
Kebangkitan dan Kemuliaan Bapa
Penyataan Allah tidak berhenti di salib.
Kebangkitan Kristus menunjukkan kuasa dan kemuliaan Allah.
Geerhardus Vos menjelaskan bahwa kebangkitan merupakan deklarasi ilahi bahwa karya Kristus diterima oleh Bapa.
Melalui kebangkitan:
- Kematian dikalahkan.
- Dosa ditaklukkan.
- Keselamatan dipastikan.
Ketika murid-murid melihat Kristus yang bangkit, mereka melihat kemuliaan Allah yang bekerja secara nyata dalam sejarah.
Kebangkitan menjadi bukti bahwa Bapa dan Anak bekerja dalam kesatuan yang sempurna.
Bab 9
Bahaya Mengenal Allah Tanpa Kristus
Salah satu penekanan penting dalam Teologi Reformed adalah bahwa tidak ada pengetahuan yang benar tentang Allah tanpa Kristus.
Calvin menegaskan bahwa manusia cenderung menciptakan allah menurut imajinasinya sendiri.
Akibat dosa, manusia membentuk konsep Allah yang sesuai dengan keinginannya.
Sebagian orang membayangkan Allah hanya penuh kasih tanpa keadilan.
Sebagian lainnya membayangkan Allah hanya sebagai hakim tanpa belas kasihan.
Namun Kristus memperlihatkan Allah sebagaimana adanya.
R. C. Sproul mengatakan bahwa setiap gambaran tentang Allah yang bertentangan dengan Kristus pasti salah.
Karena itu, Kristus menjadi standar bagi seluruh pemahaman teologi Kristen.
Bab 10
Implikasi Praktis bagi Kehidupan Orang Percaya
Doktrin ini bukan sekadar konsep teologis yang abstrak.
Ia memiliki dampak besar bagi kehidupan sehari-hari.
1. Kita Dapat Mengenal Allah dengan Pasti
Kita tidak perlu menebak-nebak siapa Allah.
Kristus telah menyatakan-Nya.
2. Kita Tidak Perlu Takut Datang kepada Allah
Banyak orang melihat Allah sebagai Pribadi yang jauh dan menakutkan.
Namun ketika melihat Kristus menerima orang berdosa, kita memahami hati Bapa.
3. Kita Dipanggil Meneladani Kristus
Karena Kristus menyatakan Bapa, kehidupan orang percaya juga harus mencerminkan Kristus.
4. Penginjilan Menjadi Kristosentris
Kita tidak memperkenalkan konsep abstrak tentang Allah.
Kita memperkenalkan Yesus Kristus.
5. Penyembahan Kita Menjadi Lebih Dalam
Semakin kita mengenal Kristus, semakin kita mengenal Allah yang kita sembah.
Pandangan Beberapa Pakar Teologi Reformed
Yohanes Calvin
Calvin mengajarkan bahwa Kristus adalah “cermin” tempat manusia melihat Allah dengan jelas. Tanpa Kristus, pengenalan manusia tentang Allah akan tetap kabur.
Herman Bavinck
Bavinck menekankan bahwa Kristus adalah puncak seluruh penyataan Allah. Semua penyataan sebelumnya menemukan penggenapannya dalam diri-Nya.
Louis Berkhof
Berkhof menjelaskan bahwa Kristus adalah gambar sempurna Allah yang tidak kelihatan dan penyataan penuh dari hakikat ilahi.
John Owen
Owen mengajarkan bahwa seluruh kemuliaan Allah dapat dilihat dalam pribadi dan karya Kristus.
J. I. Packer
Packer menegaskan bahwa salib adalah tempat paling jelas untuk melihat karakter Allah.
R. C. Sproul
Sproul menekankan bahwa Kristus menunjukkan kekudusan Allah sekaligus kasih-Nya secara sempurna.
Sinclair Ferguson
Ferguson melihat kehidupan Yesus sebagai penyataan hidup tentang hati dan karakter Bapa.
Kesimpulan
Pernyataan Yesus dalam Yohanes 14:9, “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa,” merupakan salah satu kebenaran paling agung dalam seluruh Alkitab. Pernyataan ini mengungkapkan bahwa Yesus Kristus bukan sekadar nabi, guru moral, atau pembawa pesan dari Allah. Ia adalah Allah Anak yang datang untuk menyatakan Bapa secara sempurna kepada dunia.
Teologi Reformed menegaskan bahwa seluruh pengenalan sejati tentang Allah berpusat pada Kristus. Calvin mengajarkan bahwa Kristus adalah cermin kemuliaan Allah. Bavinck melihat-Nya sebagai puncak penyataan ilahi. Berkhof menyebut-Nya gambar Allah yang sempurna. Owen menyoroti kemuliaan Allah yang terpancar dalam diri-Nya. Packer menunjukkan bahwa salib merupakan penyataan tertinggi kasih dan keadilan Allah. Sproul mengingatkan bahwa kekudusan Allah terlihat jelas dalam Kristus. Ferguson menekankan bahwa kehidupan Yesus memperlihatkan hati Bapa kepada umat manusia.
Melalui perkataan, perbuatan, kematian, dan kebangkitan-Nya, Yesus memperkenalkan Allah kepada dunia. Ketika kita memandang Kristus dalam Injil, kita tidak sedang melihat sekadar tokoh sejarah. Kita sedang melihat penyataan Allah yang sempurna.
Karena itu, siapa pun yang ingin mengenal Allah harus datang kepada Kristus. Tidak ada jalan lain untuk memahami siapa Allah sebenarnya. Dalam Kristus kita melihat kasih Bapa, kekudusan Bapa, keadilan Bapa, belas kasihan Bapa, dan kemuliaan Bapa.
Dengan demikian, kalimat “Melihat Yesus Sama dengan Melihat Bapa” bukan sekadar ungkapan puitis. Itu adalah inti dari iman Kristen: Allah yang tidak kelihatan telah membuat diri-Nya dikenal melalui Yesus Kristus, sehingga manusia dapat mengenal, mengasihi, dan menyembah-Nya dengan benar.
“Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah.” (Ibrani 1:3)