Big Faith for a Big God: Iman Besar kepada Allah yang Besar

Pendahuluan: Apa Arti “Big Faith for a Big God”?
Ungkapan “Big Faith for a Big God” terdengar sederhana, tetapi menyimpan pertanyaan teologis yang sangat penting: seberapa besar iman yang seharusnya dimiliki orang percaya ketika berhadapan dengan Allah yang Mahabesar?
Sering kali pembicaraan mengenai iman berpusat pada manusia: seberapa kuat kita percaya, seberapa positif kita berpikir, seberapa yakin kita berdoa, atau seberapa besar kita membayangkan jawaban doa.
Namun Alkitab membawa kita kepada pusat yang berbeda.
Iman bukan terutama tentang seberapa besar keyakinan kita. Iman terutama tentang kepada siapa kita percaya.
Iman yang kecil kepada Allah yang besar tetap memiliki objek yang besar. Sebaliknya, iman yang tampaknya sangat kuat tetapi diarahkan kepada sesuatu yang salah tidak memiliki dasar yang kokoh.
Karena itu, istilah “Big Faith for a Big God” seharusnya tidak dipahami sebagai ajakan untuk membesarkan kemampuan psikologis kita agar dapat memaksa Allah melakukan apa yang kita inginkan.
Sebaliknya, iman yang besar berarti semakin mengenal kebesaran Allah sehingga semakin mampu mempercayakan hidup kepada-Nya.
Untuk memahami hal ini, kita akan melihat beberapa teks penting, terutama Ibrani 11:1, Roma 4:20-21, Markus 11:22, dan Efesus 3:20, serta membandingkannya dengan pemikiran beberapa teolog Reformed.
1. Ibrani 11:1: “Iman adalah Dasar dari Segala Sesuatu yang Kita Harapkan”
Salah satu definisi iman yang paling terkenal terdapat dalam Ibrani 11:1:
“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”
Ayat ini tidak mengatakan bahwa iman berarti percaya bahwa sesuatu yang kita inginkan pasti terjadi.
Iman berhubungan dengan realitas yang tidak terlihat.
Allah tidak selalu terlihat oleh mata manusia.
Janji-Nya tidak selalu langsung digenapi.
Masa depan belum kita lihat.
Namun orang percaya hidup berdasarkan karakter dan janji Allah.
Inilah iman.
Iman berkata:
“Saya belum melihat semuanya, tetapi saya percaya kepada Allah yang memegang semuanya.”
2. Iman Besar Dimulai dari Allah yang Besar
Kita perlu membalik cara berpikir yang sering muncul dalam budaya Kristen populer.
Bukan:
“Saya harus mempunyai iman yang sangat besar agar Allah melakukan sesuatu yang besar.”
Melainkan:
“Saya mengenal Allah yang besar, karena itu saya dapat mempercayai-Nya bahkan ketika keadaan saya besar dan sulit.”
Perbedaan ini sangat penting.
Jika iman bergantung pada kekuatan iman kita sendiri, maka kita akan terus memeriksa diri:
“Apakah iman saya cukup?”
“Apakah saya cukup yakin?”
“Apakah saya terlalu ragu?”
Tetapi jika iman berpusat pada Allah, pertanyaan utama berubah:
“Siapakah Allah yang saya percayai?”
Semakin besar pengenalan kita akan Allah, semakin kuat dasar iman kita.
3. Roma 4:20-21: Abraham Percaya kepada Allah
Kehidupan Abraham merupakan salah satu contoh terbesar iman dalam Alkitab.
Roma 4:20-21 berkata:
“Namun, terhadap janji Allah, Abraham tidak bimbang dalam ketidakpercayaan, tetapi semakin dikuatkan dalam imannya dan memuliakan Allah, dan dia benar-benar diyakinkan bahwa Allah berkuasa untuk melakukan apa yang telah Dia janjikan.”
Perhatikan pusat iman Abraham.
Bukan Abraham.
Bukan kekuatan mental Abraham.
Bukan kondisi tubuh Abraham.
Bukan kemungkinan biologis.
Pusatnya adalah:
“Allah berkuasa.”
Abraham percaya karena Allah sanggup melakukan apa yang telah dijanjikan-Nya.
Inilah iman yang besar.
4. Abraham dan Kemustahilan
Situasi Abraham secara manusiawi tidak mendukung janji tersebut.
Tubuhnya sudah tua.
Sara juga sudah lanjut usia.
Namun janji Allah tidak bergantung pada kemampuan manusia untuk mewujudkannya.
Justru kemustahilan manusia memperlihatkan kebesaran Allah.
Ini merupakan prinsip penting:
Iman tidak mengabaikan kenyataan; iman melihat kenyataan dalam terang karakter Allah.
Iman tidak berkata:
“Masalah saya tidak ada.”
Iman berkata:
“Masalah saya nyata, tetapi Allah lebih besar daripada masalah saya.”
Penyakit itu nyata.
Krisis keuangan itu nyata.
Kehilangan itu nyata.
Ketidakpastian masa depan itu nyata.
Tetapi tidak satu pun realitas tersebut lebih besar daripada Allah.
5. John Calvin: Iman Berakar pada Janji Allah
John Calvin menekankan bahwa iman Kristen tidak boleh dipisahkan dari firman dan janji Allah.
Dalam Institutes of the Christian Religion, Calvin melihat iman sebagai keyakinan yang teguh terhadap kebenaran Allah sebagaimana Ia menyatakan diri-Nya dalam firman.
Ini sangat penting.
Iman bukan optimisme.
Optimisme berkata:
“Saya berharap semuanya akan baik.”
Iman berkata:
“Saya percaya Allah itu benar, bahkan ketika saya belum tahu bagaimana keadaan akhirnya.”
Dengan demikian, iman memiliki objek yang objektif: Allah dan janji-Nya.
6. Iman Bukan Kekuatan untuk Mengontrol Allah
Di sinilah kita perlu membedakan iman alkitabiah dari konsep iman yang kadang muncul dalam pengajaran populer.
Ada pemikiran bahwa jika seseorang memiliki iman yang cukup besar, ia dapat memastikan hasil tertentu:
“Pasti sembuh.”
“Pasti kaya.”
“Pasti berhasil.”
“Pasti mendapatkan apa yang saya doakan.”
Masalahnya, model ini berisiko menjadikan iman sebagai alat untuk mengontrol hasil, bahkan secara tidak sadar menjadikan Allah seperti pemberi layanan yang harus mengikuti permintaan manusia.
Alkitab justru mengajarkan sebaliknya.
Allah adalah Tuhan. Kita adalah umat-Nya.
Iman tunduk kepada kehendak Allah.
7. R.C. Sproul: Allah yang Berdaulat
Teologi Reformed sangat menekankan kedaulatan Allah.
R.C. Sproul berulang kali menjelaskan bahwa tidak ada satu pun bagian realitas yang berada di luar pemerintahan Allah.
Ini memberikan dasar yang kokoh bagi iman.
Mengapa kita dapat percaya?
Karena Allah tidak sedang mencoba mengendalikan sejarah.
Allah berdaulat atas sejarah.
Tidak ada kejadian yang membuat Allah berkata:
“Saya tidak menyangka ini terjadi.”
Tidak ada penyakit yang mengejutkan-Nya.
Tidak ada krisis yang berada di luar pengetahuan-Nya.
Tidak ada masa depan yang tidak diketahui-Nya.
Karena itu, iman Kristen bukan lompatan ke dalam kegelapan.
Iman adalah mempercayakan diri kepada Allah yang mengetahui dan memegang masa depan.
8. Herman Bavinck: Iman dan Pengetahuan akan Allah
Herman Bavinck menghubungkan iman dengan pengenalan akan Allah.
Ini sangat penting untuk konsep Big Faith for a Big God.
Iman tidak tumbuh dalam kekosongan.
Iman bertumbuh ketika kita mengenal Allah melalui wahyu-Nya.
Semakin kita memahami kekudusan-Nya, kita belajar menghormati-Nya.
Semakin kita memahami kasih-Nya, kita belajar mempercayai-Nya.
Semakin kita memahami kedaulatan-Nya, kita belajar berserah.
Semakin kita memahami kesetiaan-Nya, kita belajar berharap.
Dengan kata lain:
Pengenalan akan Allah memperbesar kapasitas iman kita untuk bersandar kepada-Nya.
9. A.W. Pink: Kedaulatan Allah dan Ketergantungan Manusia
Dalam karya-karyanya tentang atribut Allah, A.W. Pink menekankan kebesaran dan kedaulatan Allah.
Jika Allah benar-benar berdaulat, maka manusia tidak perlu hidup dalam ketakutan bahwa segala sesuatu bergantung pada kekuatannya sendiri.
Kita bekerja.
Kita berdoa.
Kita merencanakan.
Kita mengambil keputusan.
Tetapi pada akhirnya, kehidupan berada dalam tangan Allah.
Hal ini tidak menghasilkan kemalasan.
Justru menghasilkan ketenangan yang aktif.
Kita melakukan bagian kita dengan setia karena kita tahu bahwa hasil akhir berada di bawah providensia Allah.
10. Markus 11:22: “Percayalah kepada Allah!”
Dalam Markus 11:22, Yesus berkata:
“Percayalah kepada Allah!”
Ini sangat menarik.
Yesus tidak mengatakan:
“Percayalah kepada imanmu.”
Ia berkata:
“Percayalah kepada Allah.”
Inilah pusat seluruh pembahasan.
Objek iman adalah Allah.
Bukan kemampuan kita untuk percaya.
Bukan kekuatan pikiran.
Bukan pengalaman spiritual.
Bukan perasaan.
Allah.
Karena itu, ketika iman kita terasa lemah, kita tidak perlu putus asa.
Kita dapat datang kepada Allah bahkan dengan iman yang masih bergumul.
Kita dapat berkata seperti seseorang dalam Injil:
“Aku percaya. Tolonglah aku dalam ketidakpercayaanku!”
Iman yang lemah dapat memegang Kristus yang kuat.
11. Iman Besar Tidak Selalu Terlihat Dramatis
Kita sering menganggap iman besar harus menghasilkan sesuatu yang spektakuler.
Padahal iman dapat terlihat sangat sederhana.
Seorang ibu yang tetap berdoa untuk anaknya.
Seorang pasien yang tetap percaya kepada Allah dalam ruang rumah sakit.
Seorang pekerja yang tetap jujur meskipun kejujuran membuatnya kehilangan keuntungan.
Seorang Kristen yang tetap mengampuni meskipun disakiti.
Seorang percaya yang tetap datang kepada Tuhan ketika doanya belum dijawab.
Semua itu dapat menjadi ekspresi iman yang besar.
Iman besar tidak selalu menghasilkan panggung besar.
Kadang-kadang iman besar terlihat dalam kesetiaan yang sunyi.
12. Iman dan Penderitaan
Teologi Reformed memberikan kontribusi penting dalam memahami iman di tengah penderitaan.
Iman bukan jaminan bahwa orang percaya tidak akan mengalami penderitaan.
Justru Alkitab penuh dengan orang beriman yang menderita:
Ayub.
Yusuf.
Daud.
Yeremia.
Paulus.
Dan tentu saja para murid Kristus.
Ibrani 11 sendiri berbicara tentang orang-orang yang oleh iman mengalami kemenangan, tetapi juga tentang orang-orang yang menderita, dipenjara, disiksa, bahkan mati.
Jadi iman tidak selalu berarti:
“Allah akan mengeluarkan saya dari masalah.”
Kadang iman berarti:
“Saya percaya Allah tetap bersama saya di dalam masalah.”
13. Iman Besar Ketika Doa Belum Dijawab
Ini salah satu ujian iman yang paling berat.
Kita dapat percaya ketika doa langsung dijawab.
Tetapi bagaimana ketika Allah tampaknya diam?
Bagaimana ketika kesembuhan tidak datang?
Bagaimana ketika pekerjaan yang kita doakan tidak kita dapatkan?
Bagaimana ketika keluarga tidak berubah?
Bagaimana ketika pintu yang kita harapkan terus tertutup?
Di sinilah iman yang berakar pada Allah menjadi sangat penting.
Kita dapat berkata:
“Saya tidak memahami apa yang sedang Allah lakukan, tetapi saya percaya kepada siapa Allah itu.”
Ini jauh lebih kuat daripada sekadar optimisme.
14. Iman Besar dan Kedaulatan Allah
Dalam teologi Reformed, iman dan kedaulatan Allah tidak bertentangan.
Justru kedaulatan Allah menjadi alasan mengapa kita dapat beriman.
Jika segala sesuatu bergantung sepenuhnya pada manusia, maka tidak ada dasar kokoh untuk berharap.
Tetapi jika Allah memegang sejarah, maka kita dapat menyerahkan masa depan kepada-Nya.
Kedaulatan Allah tidak berarti doa menjadi tidak berguna.
Allah justru menetapkan doa sebagai salah satu sarana melalui mana Ia menjalankan kehendak-Nya.
Karena itu kita berdoa dengan sungguh-sungguh sambil tetap berkata:
“Jadilah kehendak-Mu.”
15. John Owen: Iman Memandang Kristus
John Owen, salah satu teolog Puritan yang sangat berpengaruh dalam tradisi Reformed, banyak menekankan bahwa iman harus diarahkan kepada Kristus.
Ini merupakan koreksi yang sangat penting.
Iman Kristen bukan iman kepada “hal-hal baik.”
Iman Kristen adalah iman kepada Kristus.
Kita tidak hanya percaya bahwa masa depan akan baik.
Kita percaya kepada Kristus yang memegang masa depan.
Kita tidak hanya percaya bahwa dosa dapat diampuni.
Kita percaya kepada Kristus yang telah mati untuk dosa dan bangkit.
Kita tidak hanya percaya bahwa Allah menolong.
Kita percaya kepada Allah yang menyatakan kasih-Nya melalui Anak-Nya.
16. Efesus 3:20: Allah Mampu Melakukan Jauh Lebih
Efesus 3:20 memberikan gambaran yang indah tentang kebesaran Allah:
“Sekarang, bagi Dia, yang sanggup melakukan jauh lebih banyak daripada semua yang kita minta atau pikirkan, sesuai dengan kuasa yang bekerja dalam kita.”
Perhatikan subjeknya.
Allah yang sanggup.
Bukan iman kita yang menjadi pusat.
Allah sanggup melakukan jauh lebih.
Ayat ini seharusnya tidak digunakan sebagai janji bahwa Allah akan memberikan semua keinginan kita.
Sebaliknya, ayat ini memperbesar pandangan kita tentang kapasitas Allah.
Kita sering berpikir terlalu kecil tentang apa yang Allah dapat lakukan.
Namun kita juga perlu mengingat:
Allah yang besar tidak harus melakukan apa yang kita bayangkan.
Ia bebas melakukan apa yang sesuai dengan hikmat dan kehendak-Nya.
17. Big Faith Bukan Big Ego Rohani
Ada bahaya ketika konsep “iman besar” berubah menjadi kebanggaan rohani.
Seseorang mungkin berkata:
“Saya memiliki iman lebih besar daripada orang lain.”
Tetapi iman sejati justru menghasilkan kerendahan hati.
Mengapa?
Karena semakin kita melihat kebesaran Allah, semakin kita sadar betapa kecilnya diri kita.
Abraham tidak bermegah dalam dirinya.
Ia memuliakan Allah.
Roma 4:20 mengatakan bahwa Abraham “semakin dikuatkan dalam imannya dan memuliakan Allah.”
Itulah ciri iman sejati:
iman memperbesar kemuliaan Allah, bukan ego manusia.
18. Big Faith Menghasilkan Big Obedience
Iman tidak berhenti pada keyakinan mental.
Ibrani 11 penuh dengan tindakan:
Nuh membangun bahtera.
Abraham pergi.
Musa meninggalkan Mesir.
Orang-orang percaya mengambil keputusan berdasarkan firman Allah.
Iman yang sejati menghasilkan ketaatan.
Yakobus bahkan menekankan bahwa iman yang tidak menghasilkan perbuatan adalah mati.
Karena itu, pertanyaan penting bukan hanya:
“Apakah saya percaya kepada Allah?”
Tetapi:
“Apa yang sedang saya lakukan karena saya percaya kepada Allah?”
19. Apa Arti Big Faith dalam Kehidupan Sehari-hari?
Iman besar mungkin berarti memilih integritas ketika berbohong lebih menguntungkan.
Iman besar berarti tetap berdoa ketika jawaban belum datang.
Iman besar berarti memberikan ketika kita takut kekurangan.
Iman besar berarti mengampuni ketika kita merasa berhak membalas.
Iman besar berarti mengambil langkah ketaatan meskipun kita belum melihat seluruh jalan.
Iman besar berarti menyerahkan masa depan kepada Allah ketika kita tidak dapat mengendalikannya.
Iman besar bukan selalu melakukan sesuatu yang luar biasa.
Kadang-kadang iman besar hanya berkata:
“Tuhan, saya tidak tahu apa yang akan terjadi besok, tetapi saya tahu Engkau ada di sana.”
20. Big God: Allah yang Tidak Terbatas
Mengapa kita dapat memiliki iman yang kokoh?
Karena Allah kita besar.
Ia Mahakuasa.
Ia Mahatahu.
Ia Mahahadir.
Ia kudus.
Ia adil.
Ia penuh kasih.
Ia setia.
Ia tidak berubah.
Ia tidak pernah gagal.
Ia tidak pernah kehilangan kendali.
Ia tidak pernah meninggalkan umat-Nya.
Ketika kita melihat semua atribut ini secara bersama-sama, kita menemukan dasar iman yang kokoh.
Iman tidak memperbesar Allah.
Sebaliknya, iman yang benar membantu kita melihat kebesaran Allah sebagaimana Ia telah menyatakan diri-Nya.
21. Big Faith Dimulai dari Big View of God
Mungkin masalah kita bukan selalu karena iman terlalu kecil.
Mungkin pandangan kita tentang Allah terlalu kecil.
Jika kita melihat Allah hanya sebagai pemberi berkat, iman kita akan bergantung pada berkat.
Jika kita melihat Allah hanya sebagai penyelesai masalah, iman kita akan runtuh ketika masalah tetap ada.
Tetapi jika kita mengenal Allah sebagai Tuhan yang berdaulat, kudus, setia, penuh kasih, dan tidak berubah, maka kita dapat mempercayai-Nya bahkan ketika hidup tidak berjalan sesuai rencana.
Inilah iman yang matang.
Kesimpulan: Iman Besar kepada Allah yang Besar
Big Faith for a Big God bukan terutama tentang mencoba membuat iman kita semakin besar.
Ini tentang memperbesar pandangan kita terhadap Allah melalui firman-Nya.
Abraham percaya karena ia yakin bahwa Allah berkuasa.
Calvin mengingatkan bahwa iman berakar pada janji Allah.
Bavinck menolong kita memahami bahwa iman tidak dapat dipisahkan dari pengenalan akan Allah.
Sproul mengarahkan kita kepada kedaulatan Allah.
Owen mengingatkan bahwa iman harus memandang Kristus.
Semua ini membawa kita kepada satu pusat:
Allah.
Maka ketika hidup terasa terlalu besar, ingatlah bahwa Allah lebih besar.
Ketika masalah terasa tidak mungkin, ingatlah bahwa Allah berkuasa.
Ketika masa depan tidak terlihat, ingatlah bahwa Allah melihatnya dengan sempurna.
Ketika doa belum dijawab, ingatlah bahwa Allah tetap baik.
Ketika iman terasa lemah, jangan hanya melihat imanmu.
Lihatlah Kristus.
Iman Kristen bukan berkata:
“Saya cukup kuat untuk menghadapi semuanya.”
Iman berkata:
“Allah saya cukup besar, dan karena itu saya dapat mempercayakan semuanya kepada-Nya.”
Itulah Big Faith for a Big God.
Bukan iman yang membanggakan kemampuan manusia, melainkan iman yang membuat manusia semakin kecil dan Allah semakin besar dalam pandangannya.
Dan pada akhirnya, tujuan iman bukanlah membuat hidup kita terlihat hebat.
Tujuan iman adalah supaya Allah dimuliakan.
Soli Deo Gloria — hanya bagi Allah kemuliaan.