Give It All to God: Serahkan Semuanya Kepada Tuhan
Pendahuluan
“Give It All to God” — serahkan semuanya kepada Tuhan.
Kalimat ini sederhana, tetapi mengandung panggilan iman yang sangat dalam. Menyerahkan semuanya kepada Allah berarti mengakui bahwa hidup kita tidak pernah benar-benar berada dalam kendali kita. Kita boleh merencanakan, bekerja, berdoa, dan berusaha, tetapi pada akhirnya hidup berada di bawah pemerintahan Allah yang berdaulat.
Salah satu teks yang paling kuat untuk memahami prinsip ini adalah Amsal 3:5-6.
Dalam AYT tertulis:
“Percayalah kepada TUHAN dengan sepenuh hatimu, dan jangan bersandar pada pengertianmu sendiri. Dalam segala jalanmu, akuilah Dia, dan Dia akan meluruskan jalanmu.”
Dua ayat ini tidak mengajarkan manusia untuk berhenti berpikir atau berhenti bertanggung jawab. Sebaliknya, ayat ini mengajarkan bahwa akal manusia harus ditempatkan di bawah kepercayaan kepada Allah.
Kita tidak dipanggil untuk memahami segala sesuatu sebelum mempercayai Tuhan.
Kita dipanggil untuk mempercayai Tuhan bahkan ketika kita belum memahami segala sesuatu.
Inilah inti dari Give It All to God: menyerahkan seluruh kehidupan kepada Allah yang lebih bijaksana daripada kita, lebih berkuasa daripada kita, dan lebih setia daripada kita.
Konteks Amsal 3:5-6
Kitab Amsal merupakan bagian dari sastra hikmat Perjanjian Lama. Tujuannya bukan hanya memberikan informasi mengenai kehidupan, tetapi membentuk manusia agar hidup dalam takut akan Tuhan.
Amsal 1:7 memberikan fondasi kitab ini: takut akan Tuhan merupakan permulaan pengetahuan.
Dengan demikian, Amsal 3:5-6 tidak boleh dibaca sebagai sekadar nasihat motivasi.
Ini adalah panggilan teologis.
Manusia harus belajar hidup berdasarkan karakter Allah, bukan berdasarkan kepercayaan diri yang berlebihan terhadap dirinya sendiri.
Konteks Amsal 3 juga memperlihatkan hubungan antara hikmat, disiplin, kasih Tuhan, dan kehidupan yang benar. Anak didorong untuk mempercayai ajaran orang tua yang berakar pada hikmat Allah.
Karena itu, ketika penulis berkata, “Percayalah kepada TUHAN,” ia sedang berbicara tentang pola hidup.
Kepercayaan kepada Allah bukan keputusan satu kali.
Ini adalah cara hidup.
Eksposisi Amsal 3:5 — “Percayalah kepada TUHAN”
Ayat ini dimulai dengan perintah:
“Percayalah kepada TUHAN...”
Kata “percayalah” menunjukkan tindakan menyerahkan kepercayaan kepada seseorang yang dianggap dapat diandalkan.
Dalam konteks iman, objek kepercayaan tersebut adalah TUHAN.
Ini sangat penting.
Alkitab tidak berkata:
“Percayalah kepada dirimu sendiri.”
Alkitab tidak berkata:
“Percayalah kepada kemampuanmu.”
Alkitab berkata:
“Percayalah kepada TUHAN.”
Budaya modern sering mengajarkan bahwa jawaban terbesar bagi kehidupan ada di dalam diri kita.
Amsal memberikan arah berbeda.
Masalah terbesar manusia bukan hanya kurang percaya diri.
Terkadang justru manusia memiliki terlalu banyak kepercayaan kepada dirinya sendiri.
Kita menganggap kita mengetahui apa yang terbaik.
Kita menganggap kita dapat mengendalikan masa depan.
Kita menganggap rencana kita pasti lebih baik.
Amsal memanggil kita keluar dari ilusi tersebut.
“Dengan Sepenuh Hatimu”
Perhatikan bahwa kepercayaan kepada Tuhan harus dilakukan:
“dengan sepenuh hatimu.”
Dalam Alkitab, “hati” bukan sekadar pusat emosi. Hati mencakup pusat kehidupan seseorang: pikiran, kehendak, keinginan, dan orientasi batin.
Jadi mempercayai Tuhan dengan sepenuh hati berarti tidak memberikan sebagian hidup kepada Allah sementara bagian lainnya tetap dikendalikan oleh diri sendiri.
Inilah makna mendalam dari Give It All to God.
Berikan kepada Tuhan:
masa depan,
keluarga,
pekerjaan,
kesehatan,
keuangan,
pelayanan,
rencana,
ketakutan,
kegagalan,
bahkan hal-hal yang belum kita mengerti.
Menyerahkan semuanya kepada Tuhan tidak berarti kita tidak peduli.
Justru karena kita peduli, kita menyerahkannya kepada Dia yang jauh lebih mampu memeliharanya.
“Jangan Bersandar pada Pengertianmu Sendiri”
Bagian kedua ayat 5 memberikan keseimbangan:
“dan jangan bersandar pada pengertianmu sendiri.”
Amsal tidak mengatakan bahwa pengertian manusia tidak berguna.
Alkitab justru menghargai hikmat.
Yang ditolak adalah bersandar pada pengertian sendiri.
Ada perbedaan antara menggunakan akal dan menjadikan akal sebagai fondasi terakhir.
Kita boleh berpikir.
Kita harus belajar.
Kita perlu membuat pertimbangan.
Kita harus mengambil keputusan dengan bijaksana.
Tetapi kita tidak boleh menjadikan pemahaman pribadi sebagai otoritas tertinggi.
Mengapa?
Karena pengetahuan manusia terbatas.
Kita hanya melihat sebagian kecil dari keseluruhan realitas.
Allah melihat semuanya.
Kita melihat hari ini.
Allah melihat awal dan akhir.
Kita melihat satu peristiwa.
Allah melihat seluruh sejarah.
Kita melihat masalah.
Allah melihat tujuan-Nya.
Karena itu, iman berarti mengakui keterbatasan perspektif kita.
John Calvin: Keterbatasan Manusia dan Ketergantungan kepada Allah
John Calvin sangat menekankan bahwa manusia harus mengenal keterbatasannya sendiri ketika mengenal Allah.
Dalam Institutes of the Christian Religion, Calvin menunjukkan bahwa pengenalan akan Allah dan pengenalan akan diri manusia saling berkaitan.
Ketika manusia melihat kebesaran Allah, ia menyadari bahwa dirinya bukan pusat alam semesta.
Ini sangat sesuai dengan Amsal 3:5.
Manusia tidak boleh menjadikan pengertiannya sebagai ukuran terakhir.
Dalam perspektif Calvin, iman bukanlah tindakan irasional. Iman justru merupakan respons yang masuk akal terhadap Allah yang dapat dipercaya.
Allah mengetahui lebih banyak daripada manusia.
Allah lebih bijaksana daripada manusia.
Allah berdaulat atas sejarah.
Maka mempercayai Allah bukan tindakan bodoh.
Justru menolak Allah dan menganggap diri sendiri sebagai otoritas tertinggi adalah bentuk kesombongan.
Eksposisi Amsal 3:6 — “Dalam Segala Jalanmu”
Ayat 6 berkata:
“Dalam segala jalanmu, akuilah Dia...”
Kata “segala” sangat penting.
Allah tidak hanya ingin menjadi bagian kecil dalam hidup kita.
Dia bukan Tuhan hanya untuk kehidupan gereja.
Bukan hanya Tuhan pada hari Minggu.
Bukan hanya Tuhan ketika kita sedang menghadapi masalah.
Dia adalah Tuhan atas segala jalan.
Ini mencakup pekerjaan.
Keluarga.
Pendidikan.
Keuangan.
Relasi.
Karier.
Kesehatan.
Pelayanan.
Rencana masa depan.
Keputusan sehari-hari.
Dengan kata lain:
Tidak ada wilayah netral dalam kehidupan orang percaya.
Setiap aspek kehidupan harus dibawa ke bawah pemerintahan Allah.
Apa Arti “Mengakui Dia”?
“Mengakui Dia” bukan hanya berarti menyebut nama Tuhan.
Maknanya jauh lebih dalam.
Ini berarti mengakui Allah sebagai Tuhan dalam setiap keputusan.
Sebelum memilih pekerjaan, kita bertanya:
“Apakah pilihan ini sesuai dengan prinsip firman Tuhan?”
Sebelum mengambil keputusan keuangan:
“Bagaimana saya dapat menggunakan uang ini untuk memuliakan Allah?”
Dalam hubungan:
“Apakah saya memperlakukan orang lain sesuai dengan kehendak Kristus?”
Dalam pelayanan:
“Apakah saya sedang mencari kemuliaan Allah atau kemuliaan diri?”
Inilah spiritualitas yang menyeluruh.
Allah tidak hanya menjadi bagian dari hidup.
Allah menjadi pusat hidup.
R.C. Sproul: Hidup di Hadapan Allah
Pemikiran R.C. Sproul mengenai kehidupan coram Deo sangat membantu memahami prinsip ini.
Coram Deo berarti hidup di hadapan wajah Allah.
Artinya, kehidupan orang percaya dijalani dengan kesadaran bahwa seluruh hidup berlangsung di hadapan Allah.
Tidak ada ruang yang benar-benar tersembunyi dari-Nya.
Tidak ada pekerjaan yang terlalu biasa bagi-Nya.
Tidak ada keputusan yang terlalu kecil untuk dibawa kepada-Nya.
Konsep ini mengubah cara kita menjalani kehidupan.
Jika kita hidup coram Deo, maka pekerjaan sehari-hari bukan sekadar pekerjaan.
Pekerjaan menjadi bagian dari panggilan untuk memuliakan Allah.
Keluarga bukan sekadar tanggung jawab sosial.
Keluarga menjadi tempat kita menjalankan kasih dan kesetiaan.
Keuangan bukan sekadar angka.
Keuangan menjadi sarana pengelolaan yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah.
“Dia Akan Meluruskan Jalanmu”
Akhir ayat 6 memberikan janji:
“dan Dia akan meluruskan jalanmu.”
Janji ini tidak boleh ditafsirkan sebagai jaminan bahwa hidup akan selalu mudah.
Amsal tidak mengatakan bahwa setiap orang yang percaya kepada Tuhan akan mendapatkan kehidupan tanpa penderitaan.
Sebaliknya, “meluruskan jalan” harus dipahami dalam konteks hikmat Allah yang mengarahkan kehidupan umat-Nya.
Allah akan menuntun jalan orang yang mempercayakan dirinya kepada-Nya.
Kadang-kadang jalan itu terasa berliku.
Kadang-kadang jalan itu melewati lembah.
Kadang-kadang Tuhan membawa kita ke arah yang tidak kita pilih.
Namun jalan yang berada di bawah pemerintahan Allah tetap merupakan jalan yang aman secara rohani.
J.I. Packer: Mempercayai Allah yang Kita Kenal
J.I. Packer dalam Knowing God menekankan bahwa iman Kristen bukan sekadar percaya kepada sebuah konsep abstrak.
Kita mempercayai Allah yang telah menyatakan diri-Nya.
Ini penting ketika kita berbicara tentang penyerahan.
Kita tidak menyerahkan semuanya kepada kekuatan yang tidak dikenal.
Kita menyerahkan semuanya kepada Allah yang menyatakan karakter-Nya dalam Kitab Suci dan secara penuh dalam Yesus Kristus.
Allah telah menunjukkan bahwa Dia setia.
Allah telah menunjukkan bahwa Dia kudus.
Allah telah menunjukkan bahwa Dia penuh kasih.
Allah telah menunjukkan bahwa Dia berdaulat.
Karena itu, kita memiliki dasar untuk berkata:
“Saya tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi saya tahu kepada siapa saya menyerahkan hidup saya.”
Give It All to God dalam Penderitaan
Salah satu saat paling sulit untuk menyerahkan semuanya kepada Tuhan adalah ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan.
Saat kehilangan pekerjaan.
Saat dokter memberikan diagnosis yang menakutkan.
Saat hubungan hancur.
Saat doa belum dijawab.
Saat masa depan tidak jelas.
Pada saat-saat tersebut, Amsal 3:5-6 menjadi sangat praktis.
“Jangan bersandar pada pengertianmu sendiri.”
Mengapa?
Karena dalam penderitaan, kita cenderung menyimpulkan sesuatu berdasarkan informasi yang terbatas.
Kita berkata:
“Allah tidak peduli.”
“Allah meninggalkan saya.”
“Tidak ada jalan keluar.”
Tetapi iman berkata:
“Saya belum melihat seluruh gambaran.”
Allah tidak meminta kita mengetahui seluruh rencana-Nya sebelum percaya.
Ia meminta kita percaya kepada-Nya.
Perspektif Teologi Reformed: Kedaulatan Allah
Tema Give It All to God sangat dekat dengan doktrin kedaulatan Allah.
Jika Allah sungguh berdaulat, maka tidak ada satu pun aspek hidup kita yang berada di luar pemerintahan-Nya.
Namun kedaulatan Allah bukan alasan untuk pasif.
Tradisi Reformed tidak mengajarkan fatalisme.
Kita tetap bekerja.
Kita tetap berdoa.
Kita tetap membuat keputusan.
Kita tetap menggunakan hikmat.
Tetapi semua itu dilakukan dengan kesadaran bahwa Allah memegang hasil akhirnya.
Ini merupakan keseimbangan penting:
kita bertanggung jawab, tetapi Allah berdaulat.
Kita bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak menyembah pekerjaan.
Kita membuat rencana, tetapi tidak menyembah rencana.
Kita menggunakan uang, tetapi tidak mempercayakan hidup kepada uang.
Kita merencanakan masa depan, tetapi tidak menganggap masa depan sebagai milik kita.
Augustine dan Prinsip Menyerahkan Kehidupan kepada Allah
Pemikiran Augustine juga membantu dalam memahami penyerahan diri.
Dalam refleksi teologinya, Augustine menunjukkan bahwa hati manusia tidak akan menemukan ketenangan sejati sampai beristirahat di dalam Allah.
Manusia sering mencoba mencari kepuasan melalui kekayaan, keberhasilan, relasi, dan pencapaian.
Namun semua itu tidak dapat menjadi fondasi terakhir.
Mengapa?
Karena hati manusia diciptakan untuk Allah.
Maka Give It All to God bukan terutama kehilangan kendali.
Ini adalah menempatkan hati kembali pada tempat yang benar.
Ketika Allah menjadi pusat, hal-hal lain dapat ditempatkan pada posisi yang tepat.
Kristus adalah Dasar Penyerahan Diri
Amsal 3:5-6 mendapatkan makna yang lebih penuh ketika dibaca dalam terang Injil.
Yesus sendiri adalah teladan penyerahan sempurna kepada kehendak Bapa.
Di taman Getsemani, Kristus menghadapi penderitaan salib. Ia berdoa agar kehendak Bapa yang terjadi.
Ini bukan berarti Kristus tidak mengetahui apa yang akan terjadi.
Sebaliknya, Ia dengan sempurna menyerahkan diri kepada kehendak Bapa.
Di sinilah kita melihat teladan tertinggi dari Give It All to God.
Kristus menyerahkan diri-Nya bagi umat-Nya.
Karena itu, orang percaya sekarang tidak menyerahkan hidupnya untuk mendapatkan kasih Allah.
Kita menyerahkan hidup karena terlebih dahulu telah menerima kasih Allah dalam Kristus.
Ini adalah perbedaan antara legalisme dan Injil.
Legalisme berkata:
“Serahkan semuanya agar Allah menerima kamu.”
Injil berkata:
“Karena Allah telah menerima kamu di dalam Kristus, serahkanlah hidupmu kepada-Nya.”
Give It All to God dan Kekhawatiran
Penyerahan diri juga berhubungan dengan kekhawatiran.
Kekhawatiran sering muncul ketika kita mencoba mengendalikan sesuatu yang sebenarnya berada di luar kendali kita.
Kita memikirkan masa depan terus-menerus.
Kita mencoba memprediksi semua kemungkinan.
Kita ingin memastikan tidak ada sesuatu yang buruk terjadi.
Namun manusia tidak memiliki kemampuan tersebut.
Allah tidak memanggil kita untuk mengendalikan masa depan.
Ia memanggil kita untuk mempercayai Dia.
Penyerahan bukan berarti kita berhenti peduli.
Penyerahan berarti kita berhenti berpura-pura bahwa kita adalah Allah.
Bagaimana Praktiknya?
Memberikan semuanya kepada Tuhan bukan sekadar kalimat rohani.
Ini perlu diwujudkan dalam kehidupan.
Serahkan masa depan.
Anda boleh membuat rencana, tetapi jangan menjadikan rencana sebagai tuhan.
Serahkan keuangan.
Gunakan uang dengan bijaksana, tetapi jangan menjadikan kekayaan sebagai sumber keamanan terakhir.
Serahkan keluarga.
Kasihi dan rawat mereka, tetapi ingat bahwa mereka pada akhirnya adalah milik Tuhan.
Serahkan pelayanan.
Bekerjalah dengan setia, tetapi jangan ukur nilai diri berdasarkan respons manusia.
Serahkan kegagalan.
Kegagalan tidak mengubah identitas Anda di dalam Kristus.
Serahkan keberhasilan.
Keberhasilan bukan alasan untuk menyombongkan diri.
Serahkan penderitaan.
Anda tidak harus memahami semuanya untuk mempercayai Allah.
Bahaya Menyerahkan Hanya Sebagian
Sering kali kita berkata:
“Tuhan, saya menyerahkan hidup saya kepada-Mu.”
Tetapi secara praktis kita masih mempertahankan beberapa wilayah.
“Keluarga ini milikku.”
“Karier ini milikku.”
“Uang ini milikku.”
“Masa depan ini milikku.”
“Rencana ini harus terjadi.”
Amsal 3:6 menggunakan kata “segala”.
Allah tidak meminta sebagian.
Ia adalah Tuhan atas seluruh hidup.
Namun penyerahan total bukan berarti kehilangan identitas.
Sebaliknya, kita menemukan identitas yang benar di dalam Dia.
Kesimpulan
Give It All to God adalah panggilan untuk hidup dalam kepercayaan penuh kepada Allah.
Amsal 3:5-6 mengajarkan tiga prinsip utama:
Percayalah kepada Tuhan dengan sepenuh hati.
Jangan menjadikan pengertian sendiri sebagai fondasi terakhir.
Akuilah Allah dalam segala jalan hidup.
Janji yang diberikan adalah bahwa Allah akan meluruskan jalan kita.
Ini bukan janji kehidupan tanpa masalah. Ini adalah janji bahwa kehidupan orang yang mempercayakan dirinya kepada Allah berada di bawah hikmat dan pemerintahan-Nya.
John Calvin mengingatkan kita akan keterbatasan manusia di hadapan Allah. R.C. Sproul mengingatkan kita untuk hidup coram Deo. J.I. Packer menolong kita memahami bahwa kepercayaan lahir dari pengenalan akan Allah. Semua ini membawa kita kepada satu kesimpulan: penyerahan yang sejati hanya mungkin ketika kita mengenal karakter Allah yang kita percayai.
Kita menyerahkan semuanya bukan karena kita tahu masa depan.
Kita menyerahkan semuanya karena Allah memegang masa depan.
Kita tidak menyerahkan hidup karena Allah membutuhkan kita.
Kita menyerahkan hidup karena kita membutuhkan Dia.
Dan kita tidak berjalan sendirian.
Kristus adalah Pengantara kita, Roh Kudus menyertai kita, dan Bapa memelihara kita.
Maka ketika kita menghadapi hari yang tidak pasti, kita dapat mengingat Amsal 3:5-6.
Tidak semua pertanyaan akan langsung mendapatkan jawaban.
Tidak semua jalan akan segera menjadi jelas.
Tidak semua doa akan dijawab sesuai keinginan kita.
Tetapi kita dapat tetap percaya.
Berikan semuanya kepada Tuhan. Percayalah kepada-Nya dengan segenap hati. Akuilah Dia dalam setiap jalan. Dan ketika kita tidak mampu melihat jalan di depan, percayalah kepada Dia yang sudah melihat seluruh jalan itu dari awal sampai akhir.
