Hosea 11:1–7: Kasih Allah yang Ditolak

Pendahuluan
Hosea 11:1–7 merupakan salah satu bagian paling menyentuh dalam kitab nabi Hosea. Setelah berulang kali menggambarkan Israel sebagai istri yang tidak setia, Hosea menggunakan gambaran yang berbeda: Allah sebagai Bapa yang mengasihi anak-Nya.
Gambaran ini sangat kuat. Allah mengingat ketika Israel masih muda. Dia memanggil Israel keluar dari Mesir, mengajar mereka berjalan, memegang tangan mereka, menyembuhkan mereka, memimpin mereka dengan ikatan kasih, dan memberi mereka makan.
Namun respons Israel sangat menyakitkan:
"Semakin mereka Kupanggil, semakin mereka pergi menjauh."
Inilah tragedi dosa: manusia dapat menerima kebaikan Allah tetapi tetap berpaling dari Sang Pemberi.
Hosea 11:1–7 memperlihatkan ketegangan yang mendalam antara kasih Allah dan pemberontakan manusia, belas kasihan dan penghakiman, kesetiaan Allah dan ketidaksetiaan umat-Nya.
Dalam perspektif teologi Reformed, bagian ini juga memperlihatkan beberapa kebenaran penting mengenai kasih perjanjian Allah, kerusakan manusia akibat dosa, kedaulatan Allah, disiplin ilahi, dan pengharapan keselamatan yang akhirnya digenapi dalam Kristus.
Latar Belakang Hosea 11
Hosea melayani Kerajaan Israel Utara pada abad kedelapan SM. Israel mengalami kemakmuran tertentu, tetapi kondisi rohaninya sangat buruk.
Bangsa itu:
- menyembah Baal;
- mengandalkan kekuatan politik;
- mengejar keamanan melalui bangsa asing;
- meninggalkan hukum Tuhan;
- melakukan ketidakadilan;
- mencampurkan penyembahan kepada Yahweh dengan berhala.
Karena itu, Hosea menggunakan bahasa perjanjian untuk menggambarkan hubungan Allah dengan Israel.
Dalam pasal 11, gambaran perkawinan yang dominan sebelumnya digantikan dengan gambaran ayah dan anak.
Israel bukan sekadar bangsa yang Allah ciptakan.
Israel adalah anak yang telah dikasihi, dipanggil, dipelihara, dan dibentuk oleh Allah.
Hosea 11:1 — "Ketika Israel Masih Muda, Aku Mengasihinya"
Teks AYT berkata:
"Ketika Israel masih muda, Aku mengasihinya. Dan dari Mesir, Aku memanggil anak-Ku."
Ayat ini membawa kita kembali kepada Keluaran.
Israel digambarkan seperti seorang anak yang masih kecil.
Allah melihat Israel dalam kelemahannya.
Bukan Israel yang menemukan Allah.
Allah yang memanggil Israel.
"Aku Mengasihinya"
Ini adalah fondasi seluruh bagian.
Sebelum berbicara mengenai dosa Israel, Allah mengingatkan kasih-Nya.
Israel tidak dapat mengatakan:
"Kami tidak pernah dikasihi."
Sebaliknya, seluruh sejarah mereka membuktikan kasih Allah.
Allah:
- membebaskan mereka dari Mesir;
- membelah Laut Merah;
- menyediakan makanan;
- memberikan air;
- melindungi mereka;
- memberikan hukum;
- membawa mereka masuk ke Tanah Perjanjian.
Namun kasih itu dibalas dengan pemberontakan.
Pemilihan dan Kasih Karunia
Dari perspektif teologi Reformed, Hosea 11:1 mempunyai hubungan erat dengan konsep pemilihan.
Israel tidak dipilih karena mereka lebih besar atau lebih baik daripada bangsa lain.
Ulangan 7:7–8 menyatakan bahwa Tuhan mengasihi Israel bukan karena mereka lebih banyak, melainkan karena kasih-Nya sendiri dan kesetiaan-Nya terhadap sumpah kepada nenek moyang mereka.
Dengan kata lain, sumber keselamatan Israel adalah kasih karunia Allah.
John Calvin
Calvin menekankan bahwa kasih Allah kepada Israel tidak berakar pada kelayakan Israel. Allah mengasihi mereka berdasarkan kehendak dan anugerah-Nya sendiri.
Hal ini menjadi dasar penting bagi pemahaman Reformed mengenai kasih karunia: Allah tidak memilih umat-Nya karena mereka layak; kasih Allah membuat mereka menjadi umat-Nya.
"Dari Mesir, Aku Memanggil Anak-Ku"
Frasa ini memiliki sejarah penafsiran yang sangat penting karena kemudian dikutip oleh Matius 2:15 dalam kaitannya dengan Yesus.
Matius melihat kehidupan Yesus sebagai penggenapan pola sejarah Israel.
Israel keluar dari Mesir.
Yesus juga keluar dari Mesir.
Israel disebut anak Allah.
Yesus adalah Anak Allah yang sejati.
Namun terdapat perbedaan besar.
Israel gagal dalam ketaatan.
Yesus taat dengan sempurna.
Hosea 11:2 — Semakin Dipanggil, Semakin Menjauh
"Semakin mereka Kupanggil, semakin mereka pergi menjauh. Mereka terus-menerus memberi persembahan kepada para Baal, dan membakar ukupan bagi patung-patung berhala."
Ini adalah salah satu gambaran paling tragis dalam kitab Hosea.
Allah memanggil.
Israel menjauh.
Allah menunjukkan kasih.
Israel memilih berhala.
Allah memberi kehidupan.
Israel memberikan persembahan kepada Baal.
Dosa sebagai Pemberontakan terhadap Kasih
Dosa Israel bukan hanya pelanggaran aturan.
Dosa merupakan penolakan terhadap Pribadi yang telah mengasihi mereka.
Inilah yang membuat dosa begitu serius.
Bayangkan seorang anak yang menerima kasih, perlindungan, makanan, dan pendidikan dari ayahnya, tetapi kemudian meninggalkan ayahnya untuk mengikuti orang lain.
Demikianlah Hosea menggambarkan hubungan Israel dengan Tuhan.
Kerusakan Total Manusia
Di sinilah doktrin total depravity menjadi relevan.
Total depravity tidak berarti manusia selalu melakukan kejahatan maksimal.
Artinya, dosa telah memengaruhi seluruh keberadaan manusia:
- pikiran;
- kehendak;
- perasaan;
- keinginan;
- hubungan;
- penyembahan.
Israel mengetahui kebaikan Allah, tetapi hati mereka tetap tertarik kepada Baal.
Herman Bavinck
Bavinck menjelaskan bahwa manusia berdosa cenderung menggantikan Allah dengan ciptaan. Manusia tidak berhenti menjadi makhluk religius; ia justru mengarahkan religiositasnya kepada sesuatu selain Allah.
Itulah yang terjadi di Israel.
Mereka tetap menyembah.
Tetapi mereka menyembah yang salah.
Hosea 11:3 — Allah Mengajar Efraim Berjalan
"Padahal Akulah yang mengajar Efraim berjalan, dan Aku memegang tangan mereka. Akan tetapi, mereka tidak tahu, bahwa Akulah yang menyembuhkan mereka."
Gambaran ini sangat lembut.
Bayangkan seorang ayah mengajar anak kecil berjalan.
Anak itu belum kuat.
Ia mudah jatuh.
Ayah memegang tangannya.
Ayah menopang tubuhnya.
Ayah mengarahkan langkahnya.
Demikian Allah menggambarkan hubungan-Nya dengan Israel.
"Aku Memegang Tangan Mereka"
Allah bukan hanya memberikan perintah.
Dia juga memberikan pemeliharaan.
Israel hidup karena Allah menopang mereka.
Manna adalah pemeliharaan Allah.
Air dari batu adalah pemeliharaan Allah.
Tanah Kanaan adalah pemberian Allah.
Kemenangan atas musuh adalah pemeliharaan Allah.
Namun Israel tidak menyadari sumber berkat tersebut.
Bahaya Tidak Mengenal Sumber Berkat
Kalimat:
"Mereka tidak tahu, bahwa Akulah yang menyembuhkan mereka."
sangat penting.
Manusia dapat menikmati pemberian Allah tanpa mengenal Allah.
Kita dapat menikmati:
- kesehatan;
- pekerjaan;
- keluarga;
- makanan;
- pendidikan;
- pelayanan;
- kesempatan;
tetapi lupa kepada Pemberi semuanya.
Inilah bentuk ketidakbersyukuran yang mendalam.
Hosea 11:4 — Tali Kebaikan dan Ikatan Kasih
"Aku memimpin mereka dengan tali kebaikan, dengan ikatan kasih. Bagi mereka, Akulah yang mengangkat kuk dari tengkuk mereka, Aku membungkuk untuk memberi mereka makan."
Bahasa yang digunakan Hosea semakin intim.
Allah bukan seorang penguasa yang jauh.
Dia digambarkan sebagai Bapa yang membungkuk untuk memberi makan anak-Nya.
"Tali Kebaikan"
Tali biasanya mengikat.
Tetapi Allah berkata bahwa Dia menarik Israel dengan kebaikan.
Ini menggambarkan kelembutan Allah dalam memimpin umat-Nya.
Allah telah menunjukkan:
- kesabaran;
- belas kasihan;
- pemeliharaan;
- kelembutan;
- kasih perjanjian.
Namun Israel tetap pergi.
Anugerah yang Sering Diabaikan
Manusia sering berpikir bahwa Allah hanya hadir ketika memberikan mukjizat besar.
Padahal banyak karya Allah hadir melalui kebaikan sehari-hari.
Napas yang kita hirup.
Makanan yang kita makan.
Orang-orang yang mengasihi kita.
Kesempatan untuk bertobat.
Firman Tuhan yang masih dapat dibaca.
Semuanya merupakan tanda kemurahan Allah.
Louis Berkhof dan Providensia
Louis Berkhof menjelaskan providensia Allah sebagai tindakan Allah yang terus-menerus memelihara dan mengarahkan ciptaan.
Hosea 11:3–4 merupakan gambaran yang sangat indah mengenai providensia tersebut.
Allah tidak meninggalkan Israel.
Dia terus memelihara.
Masalahnya bukan karena Allah berhenti mengasihi.
Masalahnya adalah Israel berhenti mendengarkan.
Hosea 11:5 — Asyur Akan Menjadi Raja
"Mereka takkan kembali ke tanah Mesir, tetapi Asyur akan menjadi raja mereka, sebab mereka menolak untuk kembali kepada-Ku."
Nada bagian ini berubah.
Kasih yang lembut sekarang diikuti oleh penghakiman.
Israel terus menolak kembali.
Karena itu Asyur akan datang.
Penghukuman Bukan Berarti Allah Tidak Mengasihi
Ini merupakan prinsip penting.
Dalam pemikiran Alkitab, kasih dan disiplin tidak bertentangan.
Allah menghukum dosa justru karena Dia adalah Allah yang kudus.
Penghukuman Israel merupakan bagian dari keadilan Allah.
Asyur tidak muncul secara kebetulan.
Allah memakai bangsa itu sebagai alat penghukuman atas Israel.
Kedaulatan Allah atas Sejarah
Di sinilah teologi Reformed mengenai providensia kembali terlihat.
Bangsa Asyur memiliki agenda politiknya sendiri.
Namun Allah tetap berdaulat atas sejarah.
John Calvin
Calvin menekankan bahwa Allah dapat menggunakan bangsa-bangsa sebagai instrumen dalam melaksanakan penghakiman-Nya, tanpa berarti Allah menjadi pelaku dosa mereka.
Manusia bertanggung jawab atas motivasinya.
Allah tetap berdaulat atas hasil sejarah.
Hosea 11:6 — Pedang di Kota-Kota
"Pedang akan berkilauan di kota-kota mereka, menghabisi palang-palang pintu mereka, dan akan melahap mereka karena nasihat mereka sendiri."
Penghukuman akan menjadi nyata.
Kota-kota yang selama ini mereka anggap aman tidak akan mampu menyelamatkan mereka.
Palang pintu yang biasanya melindungi rumah akan dihancurkan.
Ini merupakan gambaran kehancuran yang menyeluruh.
"Karena Nasihat Mereka Sendiri"
Frasa ini sangat penting.
Israel memilih jalannya sendiri.
Mereka percaya pada strategi sendiri.
Mereka mengandalkan berhala.
Mereka mencari perlindungan politik.
Sekarang mereka akan mengalami konsekuensi dari pilihan tersebut.
Dosa memiliki akibat.
Hosea 11:7 — Umat yang Terus Berpaling
"Umat-Ku bersikeras berpaling dari-Ku, meskipun mereka berseru kepada Yang Mahatinggi, Dia tidak akan meninggikan mereka."
Inilah puncak tragis perikop.
Allah menyebut mereka:
"Umat-Ku."
Bahkan ketika menegur mereka, bahasa perjanjian masih digunakan.
Namun mereka tetap berpaling.
"Bersikeras Berpaling"
Ini menunjukkan ketegaran hati.
Pertobatan tidak terjadi hanya karena seseorang mengalami masalah.
Israel dapat berseru kepada Allah ketika mengalami kesulitan, tetapi seruan tersebut tidak otomatis berarti pertobatan sejati.
Ada perbedaan antara:
meminta pertolongan Allah
dan
kembali kepada Allah.
Pertobatan Sejati
Pertobatan bukan sekadar:
"Tuhan, keluarkan saya dari masalah."
Pertobatan berkata:
"Tuhan, ubahlah hati saya dan kembalikan saya kepada-Mu."
Israel ingin pertolongan tanpa perubahan hati.
Inilah salah satu masalah terbesar manusia.
Kita sering menginginkan tangan Allah tanpa menginginkan pemerintahan Allah.
O. Palmer Robertson dan Teologi Perjanjian
Dalam pembahasannya mengenai nabi-nabi Perjanjian Lama, O. Palmer Robertson menekankan pentingnya memahami hubungan Allah dengan Israel sebagai hubungan perjanjian.
Israel menikmati berkat karena Allah setia kepada perjanjian-Nya.
Namun mereka juga bertanggung jawab atas ketidaktaatan mereka.
Dengan demikian, Hosea 11 tidak boleh dibaca hanya sebagai kisah emosi Allah.
Ini adalah kisah kasih perjanjian yang menghadapi ketidaksetiaan umat perjanjian.
Kristus dan Hosea 11:1
Hosea 11:1 mempunyai hubungan khusus dengan Injil Matius.
Matius 2:15 mengutip:
"Dari Mesir, Aku memanggil Anak-Ku."
Matius menerapkan teks tersebut kepada Yesus.
Bagaimana mungkin?
Karena Yesus menggenapi pola Israel.
Israel adalah anak Allah secara korporat.
Yesus adalah Anak yang sempurna.
Israel keluar dari Mesir tetapi kemudian memberontak.
Yesus keluar dari Mesir dan hidup dalam ketaatan sempurna kepada Bapa.
Yesus sebagai Israel yang Sejati
Ini merupakan konsep penting dalam teologi Alkitab.
Yesus menggenapi sejarah Israel.
Di padang gurun, Israel dicobai dan gagal.
Yesus masuk ke padang gurun dan menang atas pencobaan.
Israel gagal menaati Allah.
Yesus berkata:
"Aku selalu melakukan hal-hal yang berkenan kepada-Nya." (Yoh. 8:29)
Dengan demikian, Kristus menjadi Anak yang taat yang gagal diberikan oleh Israel.
Geerhardus Vos dan Kristologi
Geerhardus Vos melihat sejarah Perjanjian Lama sebagai perkembangan menuju penggenapan dalam Kristus.
Hosea 11:1 merupakan contoh penting.
Kisah Israel bukan sekadar sejarah masa lalu.
Ia menjadi bagian dari pola yang digenapi dalam Yesus.
Kristus datang sebagai Anak yang sempurna, Israel yang sejati, dan Mesias yang membawa keselamatan.
R.C. Sproul: Kekudusan dan Kasih Allah
R.C. Sproul sering menekankan bahwa kasih Allah tidak boleh dipisahkan dari kekudusan-Nya.
Allah mengasihi Israel.
Tetapi kasih itu tidak membuat Allah mengabaikan dosa.
Hosea menunjukkan kedua aspek tersebut sekaligus:
Allah mengasihi.
Allah mendisiplin.
Keduanya benar.
Jika kita hanya melihat kasih tanpa kekudusan, kita menciptakan gambaran Allah yang tidak sesuai dengan Alkitab.
Jika kita hanya melihat kekudusan tanpa kasih, kita juga kehilangan gambaran Alkitab mengenai Allah.
D.A. Carson: Kasih yang Menuntut Kesetiaan
D.A. Carson dalam berbagai pembahasannya mengenai kasih Allah mengingatkan bahwa kasih Alkitab bukan sekadar perasaan sentimental.
Kasih Allah adalah kasih yang berkomitmen terhadap kebaikan umat-Nya.
Karena itu, kasih Allah dapat mencakup teguran dan disiplin.
Hosea 11 memperlihatkan kasih yang tidak menyerah begitu saja kepada pemberontakan.
Pelajaran Teologis dari Hosea 11:1–7
1. Allah Mengasihi Sebelum Kita Layak
Israel tidak dipilih karena kesempurnaannya.
Kasih Allah mendahului kelayakan mereka.
Ini merupakan inti anugerah.
2. Manusia Sering Melupakan Kebaikan Allah
Israel lupa bahwa Allah yang menyembuhkan dan memelihara mereka.
Kita juga mudah lupa.
Karena itu, kehidupan Kristen membutuhkan pengingatan terus-menerus terhadap karya Allah.
3. Dosa Merupakan Penolakan terhadap Kasih
Dosa bukan hanya pelanggaran hukum.
Dosa merupakan penolakan terhadap Allah yang telah mengasihi kita.
4. Allah Dapat Menggunakan Disiplin
Ketika Allah menghukum, itu bukan berarti Dia kehilangan kendali.
Penghakiman merupakan bagian dari kekudusan dan keadilan-Nya.
5. Pertobatan Harus Lebih dari Sekadar Seruan Darurat
Israel berseru kepada Allah, tetapi tetap keras hati.
Pertobatan sejati berarti berbalik kepada Allah.
Relevansi Hosea 11 bagi Kehidupan Orang Percaya
Hosea 11 mengajak kita bertanya:
Apakah saya masih menyadari kebaikan Allah?
Kita mungkin tidak menyembah Baal secara harfiah, tetapi kita dapat menggantikan Allah dengan:
- uang;
- pekerjaan;
- hubungan;
- popularitas;
- kenyamanan;
- kekuasaan;
- prestasi;
- keamanan finansial.
Berhala modern sering tidak terlihat seperti berhala.
Ia bisa terlihat seperti sesuatu yang baik.
Namun sesuatu yang baik dapat menjadi berhala ketika mengambil posisi yang hanya layak diberikan kepada Allah.
Jangan Hanya Mencari Tangan Allah
Salah satu pelajaran terpenting Hosea 11 adalah membedakan antara menginginkan berkat Allah dan menginginkan Allah sendiri.
Kita dapat berdoa:
"Tuhan, sembuhkan saya."
"Tuhan, berikan pekerjaan."
"Tuhan, selamatkan keluarga saya."
Semua itu sah.
Namun pertanyaan yang lebih dalam adalah:
"Jika Tuhan tidak memberikan apa yang saya minta, apakah saya masih menginginkan Tuhan?"
Inilah ujian iman.
Allah Memimpin dengan Kasih
Hosea 11:4 memberikan gambaran luar biasa:
"Aku memimpin mereka dengan tali kebaikan, dengan ikatan kasih."
Allah bukan hanya Allah yang memberi perintah.
Dia adalah Bapa yang memimpin.
Bagi orang percaya dalam Kristus, pimpinan tersebut mencapai kepenuhannya dalam hubungan dengan Bapa melalui Anak dan oleh Roh Kudus.
Karena itu, kehidupan Kristen bukan sekadar mengikuti seperangkat aturan.
Ini adalah hidup dalam relasi dengan Allah.
Kasih Allah dan Salib Kristus
Hosea 11 memperlihatkan betapa seriusnya ketidaksetiaan manusia.
Tetapi Perjanjian Baru menunjukkan bagaimana Allah menangani masalah dosa tersebut secara definitif.
Di salib, Yesus Kristus menanggung hukuman dosa.
Dia mengambil tempat orang berdosa.
Dia menjadi korban pendamaian.
Dengan demikian, kasih Allah bukan sekadar perkataan.
Kasih Allah terlihat dalam tindakan penebusan.
Roma 5:8 menyatakan bahwa Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita ketika Kristus mati bagi kita saat kita masih berdosa.
Kesimpulan
Hosea 11:1–7 merupakan salah satu bagian paling indah sekaligus menyakitkan dalam kitab nabi Hosea. Allah menggambarkan diri-Nya sebagai Bapa yang mengasihi Israel sejak masa mudanya. Dia memanggil Israel keluar dari Mesir, mengajar mereka berjalan, memegang tangan mereka, menyembuhkan mereka, memimpin mereka dengan tali kebaikan, dan memberi mereka makan.
Namun Israel membalas kasih tersebut dengan pemberontakan. Semakin Allah memanggil, semakin mereka menjauh. Mereka berpaling kepada Baal, mengandalkan kekuatan sendiri, dan menolak kembali kepada Tuhan. Akibatnya, Asyur akan menjadi alat penghukuman atas ketidaksetiaan mereka.
Para teolog Reformed seperti John Calvin, Herman Bavinck, Louis Berkhof, Geerhardus Vos, R.C. Sproul, serta para ahli seperti O. Palmer Robertson dan D.A. Carson membantu kita memahami kedalaman teologis perikop ini: kasih Allah berakar pada anugerah, manusia sungguh-sungguh bertanggung jawab atas pemberontakannya, Allah tetap berdaulat atas sejarah, dan disiplin ilahi tidak bertentangan dengan kasih-Nya.
Namun Hosea 11:1 juga mengarahkan perhatian kita kepada Yesus Kristus. Israel disebut anak yang dipanggil keluar dari Mesir, tetapi gagal dalam kesetiaan. Yesus, Anak Allah yang sejati, dipanggil keluar dari Mesir dan kemudian menjalani kehidupan ketaatan sempurna. Dalam Kristus, sejarah Israel menemukan penggenapannya.
Karena itu, pesan Hosea 11 bagi kita bukan sekadar, "Jangan seperti Israel." Pesannya jauh lebih dalam:
Kenalilah kasih Allah, bertobatlah dari segala berhala, dan datanglah kepada Kristus.
Jangan hanya mencari tangan Allah ketika membutuhkan pertolongan. Carilah Allah sendiri.
Jangan hanya berseru ketika berada dalam kesulitan. Belajarlah berjalan bersama-Nya ketika keadaan baik maupun buruk.
Dan jangan pernah melupakan bahwa di balik setiap kebaikan yang kita terima terdapat Bapa yang memelihara, memimpin, dan memanggil umat-Nya untuk kembali kepada-Nya.