Keluaran 19:7–8: Kami Akan Melakukan

Keluaran 19:7–8: Kami Akan Melakukan

Pendahuluan

Keluaran 19:7–8 merupakan bagian penting dalam perjalanan Israel dari Mesir menuju Gunung Sinai. Setelah Allah membebaskan Israel dari perbudakan Mesir, Tuhan membawa mereka ke Sinai untuk membentuk mereka sebagai umat perjanjian.

Teks AYT berbunyi:

"Kemudian, Musa datang dan memanggil para tua-tua bangsa itu untuk menyampaikan semua firman yang telah TUHAN perintahkan kepadanya di hadapan mereka."
Keluaran 19:7

Kemudian bangsa itu menjawab:

"Semua yang telah Allah firmankan itu akan kami lakukan." Musa pun menyampaikan perkataan bangsa itu kepada TUHAN.
Keluaran 19:8

Sekilas, ayat ini tampak sederhana. Musa menyampaikan firman Allah, kemudian bangsa Israel menyatakan kesediaan untuk menaati-Nya.

Namun di balik dua ayat tersebut terdapat tema teologis yang sangat besar: firman Allah, perjanjian, ketaatan, identitas umat Allah, anugerah, dan tanggung jawab manusia.

Keluaran 19:7–8 juga perlu dibaca dalam konteks yang lebih luas. Israel tidak sedang berusaha menaati Allah supaya terlebih dahulu dibebaskan dari Mesir. Mereka sudah dibebaskan.

Ini sangat penting.

Anugerah Allah mendahului ketaatan Israel.

Allah terlebih dahulu menyelamatkan, kemudian memanggil umat-Nya untuk hidup dalam ketaatan.

Prinsip ini menjadi salah satu dasar penting bagi pemahaman teologi Reformed mengenai hubungan antara anugerah dan ketaatan.


Konteks Keluaran 19

Keluaran 19 terjadi setelah Israel keluar dari Mesir.

Dalam Keluaran 1–18, kita melihat karya penyelamatan Allah yang luar biasa.

Israel berada dalam perbudakan.

Mereka tidak memiliki kekuatan untuk membebaskan diri.

Mereka berseru kepada Allah.

Allah mendengar.

Allah mengutus Musa.

Allah menghakimi Mesir melalui tulah.

Allah membelah Laut Teberau.

Allah membawa Israel keluar dari rumah perbudakan.

Kemudian mereka berjalan menuju Sinai.

Dengan demikian, Keluaran 19 bukan awal hubungan Allah dengan Israel.

Hubungan itu sudah dimulai melalui tindakan penyelamatan Allah.


Keluaran 19:4–6 sebagai Latar Belakang

Sebelum Keluaran 19:7–8, Allah menyampaikan pesan kepada Musa:

"Kamu sendiri telah melihat apa yang Aku lakukan terhadap orang Mesir, dan bagaimana Aku mengangkat kamu di atas sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Ku."

Allah mengingatkan Israel tentang apa yang telah dilakukan-Nya.

Kemudian Allah memberikan panggilan:

"Sekarang, jika kamu sungguh-sungguh menaati suara-Ku dan memegang perjanjian-Ku, kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku..."

Allah juga mengatakan bahwa Israel akan menjadi:

  • harta kesayangan;
  • kerajaan imam;
  • bangsa yang kudus.

Dengan demikian, Keluaran 19:7–8 harus dibaca sebagai respons Israel terhadap anugerah dan panggilan perjanjian tersebut.


Eksposisi Keluaran 19:7

Musa Memanggil Para Tua-Tua

Teks mengatakan:

"Kemudian, Musa datang dan memanggil para tua-tua bangsa itu..."

Musa bertindak sebagai mediator antara Allah dan Israel.

Ini merupakan pola penting dalam kitab Keluaran.

Allah berbicara kepada Musa.

Musa menyampaikan firman kepada umat.

Umat memberikan respons.

Musa membawa respons tersebut kembali kepada Tuhan.

Dalam ayat 8, pola ini terlihat dengan jelas.


Musa sebagai Mediator Perjanjian

Musa bukan sekadar pemimpin politik.

Dia berfungsi sebagai perantara dalam hubungan perjanjian Sinai.

Allah menyampaikan firman-Nya melalui Musa.

Hal ini menunjukkan pentingnya firman Allah sebagai dasar kehidupan umat perjanjian.

Israel tidak menentukan sendiri bagaimana mereka akan menyembah Allah.

Mereka tidak menciptakan standar moral berdasarkan budaya.

Allah yang menentukan.

Mereka dipanggil untuk mendengar.


"Semua Firman yang Telah TUHAN Perintahkan"

Perhatikan bahwa Musa menyampaikan:

semua firman.

Bukan hanya bagian yang menyenangkan.

Bukan hanya janji.

Bukan hanya berkat.

Firman Allah secara keseluruhan harus didengar.

Ini merupakan prinsip penting bagi gereja masa kini.

Kita tidak boleh memilih ayat berdasarkan apa yang ingin kita dengar dan mengabaikan bagian yang menegur dosa.

Firman Allah memiliki otoritas atas umat Allah.


Otoritas Firman Allah

Dalam perspektif Reformed, sola Scriptura menegaskan otoritas tertinggi Kitab Suci dalam kehidupan iman dan gereja.

Keluaran 19 memperlihatkan prinsip tersebut secara jelas.

Israel harus hidup berdasarkan apa yang Tuhan firmankan.

Bukan berdasarkan preferensi mereka.

Bukan berdasarkan suara mayoritas.

Bukan berdasarkan kenyamanan.

Bukan berdasarkan kebijaksanaan politik.

Allah berbicara.

Umat mendengar.


John Calvin dan Ketaatan kepada Firman

John Calvin sangat menekankan bahwa iman sejati tidak dapat dipisahkan dari ketaatan.

Dalam Institutes of the Christian Religion, Calvin menjelaskan bahwa manusia yang mengenal Allah secara benar akan diarahkan untuk hidup dalam hormat dan ketaatan kepada-Nya.

Iman bukan sekadar mengetahui doktrin.

Iman menghasilkan kehidupan yang tunduk kepada Allah.

Keluaran 19:7–8 menunjukkan pola tersebut:

Allah berbicara → umat mendengar → umat merespons.


Keluaran 19:8 — Respons Israel

Teks mengatakan:

"Seluruh bangsa itu serentak menjawab dan berkata, 'Semua yang telah Allah firmankan itu akan kami lakukan.'"

Respons ini sangat penting.

Mereka tidak berkata:

"Kami akan mempertimbangkannya."

Mereka berkata:

"Kami akan melakukan."

Ada komitmen.

Ada kesediaan untuk taat.

Ada respons terhadap firman Allah.


"Seluruh Bangsa Itu"

Respons tersebut bukan hanya dari beberapa pemimpin.

Teks menyatakan:

seluruh bangsa.

Ini menunjukkan sifat komunal dari perjanjian Sinai.

Israel tidak hanya dipanggil sebagai individu.

Mereka dipanggil sebagai umat.

Identitas mereka dibentuk bersama sebagai bangsa yang menjadi milik Allah.


Iman dan Ketaatan

Keluaran 19:8 menolong kita melihat bahwa iman Alkitabiah tidak pernah hanya berupa persetujuan mental.

Ketika Allah berbicara, manusia dipanggil untuk merespons.

Namun kita perlu berhati-hati.

Apakah ayat ini mengajarkan bahwa Israel memperoleh keselamatan dengan melakukan hukum?

Tidak.

Urutan narasinya sangat penting.

Keluaran dari Mesir terjadi terlebih dahulu.

Perjanjian Sinai datang kemudian.

Israel menaati Allah sebagai umat yang telah ditebus.

Bukan menaati Allah supaya memperoleh pembebasan dari Mesir.


Anugerah Mendahului Ketaatan

Ini merupakan salah satu prinsip teologis paling penting dari Keluaran 19.

Allah berkata dalam ayat 4:

"Kamu sendiri telah melihat apa yang Aku lakukan terhadap orang Mesir..."

Allah mengingatkan tindakan-Nya sebelum memberikan tuntutan perjanjian.

Dengan kata lain:

Aku telah menyelamatkan kamu. Sekarang hiduplah sebagai umat-Ku.

Ini memiliki pola yang sangat mirip dengan struktur Injil.

Allah menyelamatkan terlebih dahulu.

Kemudian umat hidup dalam ketaatan.


Herman Bavinck: Anugerah dan Kewajiban

Herman Bavinck dalam Reformed Dogmatics menekankan bahwa anugerah Allah tidak menghancurkan tanggung jawab manusia.

Anugerah justru menghasilkan kehidupan baru yang diarahkan kepada Allah.

Keselamatan bukan hasil ketaatan manusia.

Namun keselamatan menghasilkan ketaatan.

Ini membantu kita memahami Keluaran 19:7–8.

Israel tidak memperoleh pembebasan karena mereka telah menaati hukum Sinai.

Mereka dipanggil menaati karena Allah telah terlebih dahulu membebaskan mereka.


Perjanjian Sinai dan Perjanjian Anugerah

Teologi Reformed memiliki pembahasan penting mengenai perjanjian anugerah.

Para teolog Reformed berbeda dalam beberapa rincian mengenai cara memahami hubungan antara perjanjian Abraham, Sinai, dan perjanjian baru.

Namun terdapat satu prinsip yang sangat penting:

Allah adalah Allah yang menyelamatkan umat-Nya berdasarkan anugerah-Nya.

Hukum tidak diberikan sebagai jalan keselamatan melalui usaha manusia.

Hukum menunjukkan kehendak Allah bagi umat yang telah dipanggil menjadi milik-Nya.


O. Palmer Robertson dan Teologi Perjanjian

O. Palmer Robertson dalam The Christ of the Covenants menekankan bahwa konsep perjanjian merupakan salah satu struktur utama yang menyatukan kisah penebusan Alkitab.

Keluaran 19 adalah bagian penting dalam perkembangan sejarah perjanjian tersebut.

Israel bukan sekadar kumpulan individu yang percaya kepada Yahweh.

Mereka dibentuk menjadi umat perjanjian.

Hubungan mereka dengan Allah mempunyai konsekuensi moral, sosial, dan rohani.


"Semua yang Allah Firmankan"

Respons Israel menunjukkan pentingnya totalitas ketaatan.

Mereka tidak mengatakan:

"Kami akan melakukan sebagian."

Mereka berkata:

"Semua."

Dalam kehidupan Kristen, ini merupakan tantangan yang besar.

Kita sering ingin menaati firman Allah dalam hal-hal yang sesuai dengan keinginan kita.

Namun kita enggan ketika firman menyentuh:

  • uang;
  • seksualitas;
  • kesombongan;
  • pengampunan;
  • kasih kepada musuh;
  • kejujuran;
  • penggunaan waktu;
  • ambisi;
  • kekuasaan.

Keluaran 19 mengingatkan bahwa Allah memiliki otoritas atas seluruh kehidupan.


Ketaatan yang Komprehensif

Ketaatan kepada Allah bukan hanya aktivitas hari Minggu.

Ketaatan mencakup:

pikiran.

perkataan.

pekerjaan.

keluarga.

keuangan.

pelayanan.

hubungan.

penggunaan tubuh.

keputusan sehari-hari.

Karena Allah adalah Tuhan atas seluruh kehidupan.


Namun Apakah Israel Berhasil?

Di sinilah pembacaan seluruh kitab Keluaran menjadi penting.

Israel berkata:

"Semua yang telah Allah firmankan itu akan kami lakukan."

Tetapi perjalanan berikutnya memperlihatkan kegagalan mereka.

Dalam Keluaran 32, Israel membuat anak lembu emas.

Mereka yang baru saja menyatakan kesetiaan kepada Allah segera jatuh ke dalam penyembahan berhala.

Kontras ini sangat kuat.

Komitmen verbal tidak selalu sama dengan ketaatan hati.


Bahaya Mengandalkan Kekuatan Sendiri

Israel mungkin sungguh-sungguh ketika mengatakan akan menaati Allah.

Namun mereka tidak memahami betapa seriusnya dosa dan betapa lemahnya manusia.

Di sinilah sejarah Israel menjadi pelajaran bagi kita.

Kita tidak boleh berkata:

"Saya cukup kuat untuk menaati Allah."

Kita membutuhkan anugerah.

Kita membutuhkan Roh Kudus.

Kita membutuhkan Kristus.


John Murray: Ketaatan sebagai Buah Keselamatan

John Murray dalam Redemption Accomplished and Applied menekankan bahwa keselamatan yang diterapkan kepada orang percaya menghasilkan transformasi hidup.

Anugerah tidak berhenti pada pembenaran.

Orang yang dibenarkan juga dikuduskan.

Dengan demikian, Keluaran 19:8 tidak boleh dibaca sebagai legalisme.

Ketaatan merupakan respons umat yang telah mengalami karya keselamatan Allah.


Keluaran 19 dan Kekudusan

Dalam Keluaran 19:6, Allah menyebut Israel:

bangsa yang kudus.

Kekudusan merupakan konsekuensi dari menjadi milik Allah.

Israel harus berbeda dari bangsa-bangsa lain.

Mereka dipanggil untuk mencerminkan karakter Allah.

Prinsip ini terus berlanjut dalam Perjanjian Baru.

Petrus menulis:

"Jadilah kudus dalam seluruh perilakumu."

Mengapa?

Karena umat Allah telah dipanggil oleh Allah yang kudus.


"Kerajaan Imam"

Keluaran 19:6 menyebut Israel sebagai kerajaan imam.

Ini berarti mereka memiliki fungsi representatif.

Mereka dipanggil untuk menjadi umat yang melalui kehidupan dan kesaksian mereka menunjukkan siapa Allah kepada bangsa-bangsa.

Dalam terang Perjanjian Baru, bahasa ini kemudian diterapkan kepada gereja.

1 Petrus 2:9 menyebut orang percaya sebagai:

"bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus..."

Dengan demikian, identitas Israel di Sinai menjadi bagian penting dalam memahami identitas umat Allah dalam Kristus.


Kristus sebagai Penggenapan Keluaran 19

Keluaran 19 tidak boleh berhenti pada Musa dan Israel.

Seluruh sejarah penebusan bergerak menuju Kristus.

Yesus adalah Mediator Perjanjian yang lebih besar daripada Musa.

Musa membawa firman Allah ke Sinai.

Kristus adalah Firman yang menjadi manusia.

Musa menjadi mediator perjanjian Sinai.

Kristus menjadi Mediator Perjanjian Baru.

Musa memimpin Israel keluar dari Mesir.

Kristus membebaskan umat-Nya dari perbudakan dosa.


Geerhardus Vos dan Sejarah Penebusan

Geerhardus Vos menekankan pentingnya memahami Alkitab melalui kerangka sejarah penebusan.

Peristiwa-peristiwa Perjanjian Lama bukan kejadian yang berdiri sendiri.

Keluaran, Sinai, tabernakel, imamat, korban, dan kerajaan semuanya bergerak menuju penggenapan dalam Kristus.

Keluaran 19 memperlihatkan Allah membentuk umat-Nya.

Dalam Kristus, Allah membentuk umat perjanjian yang baru yang berasal dari segala bangsa.


Keluaran 19:7–8 dan Injil

Ada hubungan penting antara Sinai dan Injil.

Di Sinai:

Allah berbicara.

Umat mendengar.

Umat berjanji menaati.

Dalam Injil:

Allah menyelamatkan melalui Kristus.

Roh Kudus memberikan hati yang baru.

Umat dipanggil hidup dalam ketaatan.

Perbedaannya adalah Perjanjian Baru memberikan penekanan yang lebih jelas pada karya Roh Kudus dalam mengubah hati manusia.


Dari Loh Batu kepada Hati

Yeremia 31 berbicara mengenai perjanjian baru di mana Allah akan menaruh hukum-Nya dalam hati umat-Nya.

Yehezkiel 36 berbicara mengenai hati yang baru dan Roh yang baru.

Ini menjawab persoalan yang terlihat dalam sejarah Israel.

Masalahnya bukan kurangnya hukum.

Masalahnya adalah hati manusia.

Perjanjian Baru menggenapi pengharapan tersebut dalam karya Kristus dan Roh Kudus.


R.C. Sproul: Kekudusan Allah Menuntut Respons

R.C. Sproul sering menekankan bahwa ketika manusia berhadapan dengan kekudusan Allah, respons yang tepat adalah kerendahan hati dan ketaatan.

Keluaran 19 merupakan persiapan bagi Israel untuk berhadapan dengan Allah yang kudus di Sinai.

Gunung Sinai menjadi tempat pertemuan antara Allah yang kudus dan umat berdosa.

Kekudusan Allah bukan sesuatu yang dapat diperlakukan sembarangan.


Mengapa Ketaatan Penting bagi Orang Kristen?

Kita tidak menaati Allah untuk membeli keselamatan.

Kita menaati karena telah menerima keselamatan.

Ini perbedaan antara legalisme dan ketaatan Injili.

Legalisme berkata:

"Jika saya taat, Allah akan menerima saya."

Injil berkata:

"Karena Allah telah menerima saya di dalam Kristus, saya ingin menaati-Nya."

Motivasi sangat penting.


Keluaran 19:7–8 dan Kehidupan Doa

Doa Kristen seharusnya juga mencerminkan respons terhadap firman.

Kita tidak hanya berkata:

"Tuhan, berikan apa yang saya inginkan."

Kita belajar berdoa:

"Tuhan, ajarlah saya melakukan kehendak-Mu."

Doa Tuhan memberikan pola:

"Jadilah kehendak-Mu..."

Kehidupan Kristen bukan usaha memaksa Allah mengikuti rencana kita.

Kehidupan Kristen adalah belajar tunduk kepada kehendak Allah.


Ketaatan Ketika Firman Tidak Nyaman

Ketaatan paling jelas terlihat bukan ketika firman sesuai dengan keinginan kita.

Ketaatan diuji ketika Allah berkata sesuatu yang tidak ingin kita dengar.

Misalnya:

Allah memerintahkan pengampunan ketika kita ingin membalas.

Allah memerintahkan kejujuran ketika kebohongan menguntungkan.

Allah memerintahkan kekudusan ketika dosa terasa menyenangkan.

Allah memerintahkan memberi ketika kita ingin menimbun.

Allah memerintahkan kerendahan hati ketika kita ingin dipuji.

Di sinilah "kami akan melakukan" menjadi nyata.


Mengapa Ketaatan Kita Sering Lemah?

Karena kita masih bergumul dengan dosa.

Paulus menggambarkan pergumulan tersebut dalam Roma 7.

Tetapi kehidupan Kristen tidak berakhir pada Roma 7.

Roma 8 berbicara tentang kehidupan oleh Roh.

Artinya, ketaatan Kristen bukan hasil kekuatan manusia semata.

Roh Kudus bekerja di dalam orang percaya.


Ketaatan dan Roh Kudus

Allah tidak hanya memberi perintah.

Dia juga memberikan Roh Kudus.

Ini adalah perbedaan besar antara sekadar moralitas dan kehidupan Kristen.

Moralitas berkata:

"Lakukan yang benar."

Injil berkata:

"Di dalam Kristus kamu telah menerima kehidupan baru; sekarang berjalanlah oleh Roh."

Kita tetap bertanggung jawab.

Tetapi kita tidak berjalan sendirian.


"Kami Akan Melakukan" dan Kegagalan Israel

Ada ironi teologis dalam respons Israel.

Mereka mengatakan akan melakukan semua yang Allah firmankan.

Namun tidak lama kemudian mereka menyembah anak lembu emas.

Ini memperlihatkan bahwa manusia membutuhkan lebih dari sekadar tekad.

Tekad penting.

Disiplin penting.

Tetapi hati yang telah diperbarui oleh Allah sangat penting.


Janji Perjanjian Baru

Dalam Yeremia 31, Allah menjanjikan:

"Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya pada hati mereka."

Ini adalah jawaban Allah terhadap kegagalan umat-Nya.

Allah tidak hanya memberikan hukum dari luar.

Dia bekerja dari dalam.

Roh Kudus mengubah hati.

Karena itu, orang percaya dapat menaati Allah bukan sekadar karena takut hukuman, tetapi karena kasih kepada Allah.


Keluaran 19:7–8 dalam Perspektif Kristus

Jika Israel berkata:

"Semua yang telah Allah firmankan itu akan kami lakukan,"

kita melihat bahwa manusia tidak mampu memenuhi komitmen tersebut secara sempurna.

Tetapi Kristus datang sebagai Anak yang taat.

Dia melakukan kehendak Bapa dengan sempurna.

Yesus berkata:

"Aku telah turun dari surga bukan untuk melakukan kehendak-Ku sendiri, tetapi kehendak Dia yang mengutus Aku." (Yohanes 6:38)

Di mana Israel gagal, Kristus berhasil.


Ketaatan Kristus bagi Kita

Ini merupakan inti Injil.

Kristus bukan hanya mati menggantikan kita.

Dia juga hidup dalam ketaatan sempurna.

Teologi Reformed berbicara mengenai ketaatan aktif dan pasif Kristus.

Ketaatan Kristus sepanjang hidup-Nya memenuhi tuntutan kebenaran.

Kematian-Nya menanggung hukuman dosa.

Karena itu, orang percaya memiliki dasar keselamatan yang sempurna di dalam Kristus.


Apa Arti Keluaran 19:7–8 bagi Kita?

Pertama, dengarkan firman Allah.

Sebelum melakukan, kita harus mendengar.

Kedua, terima otoritas firman.

Jangan menjadikan diri sendiri sebagai hakim terakhir atas Alkitab.

Ketiga, taati firman.

Pengetahuan tanpa ketaatan tidak menghasilkan kedewasaan rohani.

Keempat, ingat anugerah.

Ketaatan bukan cara membeli keselamatan.

Kelima, bergantung kepada Roh Kudus.

Kita tidak dapat menjalani kehidupan kudus dengan kekuatan sendiri.


Kesimpulan

Keluaran 19:7–8 memperlihatkan sebuah momen penting dalam sejarah Israel. Musa menyampaikan firman Tuhan kepada para tua-tua, dan seluruh bangsa menjawab bahwa mereka akan melakukan semua yang telah Allah firmankan.

Namun ayat ini tidak boleh dipahami sebagai ajaran bahwa Israel memperoleh keselamatan melalui ketaatan kepada hukum.

Justru urutannya sangat penting:

Allah menyelamatkan Israel dari Mesir.

Allah membawa mereka kepada diri-Nya.

Allah menjadikan mereka umat perjanjian.

Kemudian Allah memanggil mereka untuk hidup dalam ketaatan.

Anugerah mendahului ketaatan.

Inilah prinsip yang juga sangat penting dalam Injil.

Kita tidak menaati Allah agar mendapatkan keselamatan.

Kita menaati Allah karena telah menerima keselamatan di dalam Kristus.

John Calvin menolong kita melihat hubungan erat antara iman dan ketaatan. Herman Bavinck menunjukkan bahwa anugerah tidak meniadakan tanggung jawab, tetapi menghasilkan kehidupan baru. O. Palmer Robertson menempatkan Sinai dalam kerangka teologi perjanjian. John Murray menunjukkan bahwa ketaatan merupakan buah keselamatan. Geerhardus Vos mengarahkan kita melihat Sinai dalam perkembangan sejarah penebusan yang menuju Kristus. R.C. Sproul mengingatkan kita akan kekudusan Allah yang menuntut respons umat-Nya.

Namun Keluaran 19 juga memperlihatkan keterbatasan manusia.

Israel berkata, "Kami akan melakukan."

Tetapi sejarah segera memperlihatkan bahwa tekad manusia tidak cukup.

Kita membutuhkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar hukum tertulis.

Kita membutuhkan hati yang baru.

Kita membutuhkan Roh Kudus.

Kita membutuhkan Kristus.

Yesus adalah Mediator yang lebih besar daripada Musa. Dia adalah Anak yang taat sempurna kepada Bapa. Dia melakukan apa yang Israel gagal lakukan. Dia menanggung hukuman dosa dan bangkit untuk memberikan kehidupan baru kepada umat-Nya.

Karena itu, respons orang percaya hari ini bukan sekadar:

"Saya akan berusaha lebih keras."

Tetapi:

"Tuhan, berikanlah saya hati yang taat dan mampukan saya melalui Roh Kudus."

Firman Allah tetap menjadi otoritas.

Ketaatan tetap menjadi panggilan.

Tetapi dasar keselamatan kita bukan keberhasilan ketaatan kita.

Dasar keselamatan kita adalah Kristus yang telah taat sempurna bagi kita.

Maka ketika membaca Keluaran 19:7–8, marilah kita mendengar panggilan Allah dengan hati yang rendah:

Dengarkan firman-Nya. Percayalah kepada-Nya. Taatilah Dia. Dan lakukan semuanya bukan untuk mendapatkan kasih Allah, tetapi karena di dalam Kristus kita telah terlebih dahulu menerima kasih karunia-Nya.

Next Post Previous Post