Jesus Loves You: Yesus Mengasihimu

Pendahuluan
Jesus Loves You adalah salah satu kalimat Kristen yang paling sederhana sekaligus paling dalam. Kita sering melihatnya pada kaus, poster, media sosial, kartu ucapan, atau mendengarnya dalam khotbah. Namun karena begitu sering digunakan, ada bahaya bahwa kalimat tersebut menjadi slogan yang kehilangan kedalaman Injil.
Apa sebenarnya arti "Yesus mengasihimu"?
Apakah kasih Yesus berarti Dia selalu memberikan apa yang kita inginkan?
Apakah kasih Kristus berarti hidup akan selalu mudah?
Apakah kasih Yesus hanya merupakan perasaan hangat yang membuat kita merasa diterima?
Yohanes 15:9 memberikan jawaban yang jauh lebih dalam:
"Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah Aku telah mengasihimu. Tetaplah tinggal dalam kasih-Ku."
— Yohanes 15:9, AYT
Ayat ini memperlihatkan bahwa kasih Kristus memiliki sumber yang sangat dalam: kasih antara Bapa dan Anak.
Yesus tidak berkata bahwa kasih-Nya kepada murid-murid hanyalah kasih manusia biasa. Dia membawa mereka masuk ke dalam lingkup kasih ilahi.
Karena itu, ketika kita mengatakan Jesus Loves You, kita sedang berbicara mengenai realitas yang berhubungan dengan karakter Allah, karya Kristus, salib, persatuan dengan Kristus, pengudusan, dan kehidupan kekal.
Konteks Yohanes 15:9
Yohanes 15 merupakan bagian dari percakapan Yesus dengan murid-murid-Nya menjelang penderitaan dan penyaliban.
Yesus menggunakan gambaran pokok anggur dan ranting.
Dia berkata bahwa diri-Nya adalah pokok anggur yang benar dan murid-murid adalah ranting-ranting.
Gambaran ini berbicara mengenai persatuan dan ketergantungan.
Ranting tidak dapat menghasilkan buah jika terpisah dari pokok anggur.
Demikian pula orang percaya tidak dapat menghasilkan buah rohani tanpa tinggal di dalam Kristus.
Kemudian Yesus berbicara mengenai kasih:
"Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah Aku telah mengasihimu."
Jadi kasih bukan tema yang berdiri sendiri.
Kasih berada dalam konteks persatuan dengan Kristus dan kehidupan sebagai murid.
"Seperti Bapa Telah Mengasihi Aku"
Ini merupakan bagian pertama yang harus diperhatikan.
Yesus menghubungkan kasih-Nya kepada murid dengan kasih Bapa kepada Anak.
Perhatikan urutannya:
Bapa mengasihi Anak.
Anak mengasihi umat-Nya.
Kasih orang percaya kepada Kristus kemudian menjadi respons terhadap kasih tersebut.
Dengan demikian, sumber terakhir kasih Kristen bukan manusia.
Sumbernya adalah Allah sendiri.
Kasih dalam Tritunggal
Ayat ini membawa kita kepada realitas kehidupan Tritunggal.
Bapa mengasihi Anak.
Anak menerima dan menyatakan kasih tersebut.
Roh Kudus hadir dalam kehidupan umat Allah dan menerapkan karya keselamatan Kristus.
Kasih Allah bukan sesuatu yang baru muncul ketika manusia diciptakan.
Allah tidak menjadi kasih karena ada manusia yang dapat dikasihi.
Kasih sudah ada dalam kehidupan Allah Tritunggal sejak kekekalan.
Herman Bavinck dan Kehidupan Allah Tritunggal
Herman Bavinck dalam Reformed Dogmatics menjelaskan pentingnya memahami Allah sebagai Allah Tritunggal. Allah bukan pribadi yang sendirian, yang baru kemudian menjadi relasional ketika menciptakan manusia.
Dalam kehidupan Allah sendiri terdapat relasi antara Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
Karena itu, ketika Yesus berkata:
"Seperti Bapa telah mengasihi Aku..."
kita sedang melihat sesuatu yang jauh lebih dalam daripada kasih emosional.
Kita sedang melihat kasih yang berakar pada kehidupan Allah sendiri.
Kasih Kristus Bukan Kasih Murahan
Kalimat "Jesus Loves You" sering digunakan untuk memberikan kenyamanan.
Itu benar.
Kasih Kristus memang memberikan penghiburan.
Namun kasih Kristus bukan kasih murahan yang berkata:
"Apa pun yang kamu lakukan tidak masalah."
Kasih Yesus justru membawa manusia keluar dari dosa.
Kasih-Nya tidak membiarkan kita tetap seperti semula.
Dia mengasihi kita terlalu dalam untuk membiarkan kita terus hidup di bawah kuasa dosa.
Kasih yang Menguduskan
Dalam Yohanes 15, kasih langsung dihubungkan dengan ketaatan.
Yesus melanjutkan:
"Jika kamu menaati perintah-perintah-Ku, kamu akan tinggal dalam kasih-Ku..."
Dengan demikian, kasih Kristus tidak bertentangan dengan kekudusan.
Kasih menghasilkan ketaatan.
Orang yang sungguh memahami kasih Kristus tidak berkata:
"Karena Yesus mengasihi saya, saya bebas hidup sesuka hati."
Sebaliknya:
"Karena Yesus mengasihi saya, saya ingin hidup menyenangkan Dia."
John Calvin tentang Kasih dan Persatuan dengan Kristus
John Calvin sangat menekankan union with Christ, atau persatuan dengan Kristus.
Menurut Calvin, manfaat keselamatan tidak dapat dipisahkan dari persatuan dengan Kristus melalui Roh Kudus.
Kita menerima pembenaran, pengudusan, dan berbagai berkat keselamatan karena kita dipersatukan dengan Kristus.
Hal ini sangat relevan dengan Yohanes 15.
Yesus tidak berkata:
"Pelajari Aku dari kejauhan."
Dia berkata:
"Tinggallah di dalam Aku."
Kasih Kristus dinikmati dalam relasi yang hidup dengan Kristus.
"Demikianlah Aku Telah Mengasihimu"
Ini adalah pusat ayat.
Yesus berbicara kepada murid-murid-Nya dan mengatakan bahwa Dia mengasihi mereka.
Perhatikan bentuk waktunya.
Yesus menunjuk kepada kasih yang sudah dinyatakan dan terus berlangsung.
Kasih Kristus bukan sesuatu yang sementara.
Dia mengasihi murid-murid-Nya dalam perjalanan mereka.
Dia mengasihi mereka ketika mereka memahami.
Dia mengasihi mereka ketika mereka gagal.
Dia mengasihi mereka bahkan ketika mereka akan meninggalkan-Nya.
Petrus sebagai Contoh
Petrus berjanji tidak akan meninggalkan Yesus.
Namun kemudian dia menyangkal Yesus tiga kali.
Apakah kasih Kristus langsung berakhir?
Tidak.
Setelah kebangkitan, Yesus menemui Petrus.
Dia memulihkan Petrus.
Ini menunjukkan perbedaan antara kasih manusia dan kasih Kristus.
Kasih manusia sering bergantung pada performa.
Kasih Kristus bekerja berdasarkan anugerah.
Apakah Kasih Kristus Berarti Tidak Ada Disiplin?
Tidak.
Justru Yohanes 15 menunjukkan bahwa kasih Kristus berkaitan dengan pemangkasan.
Pokok anggur dipangkas supaya menghasilkan lebih banyak buah.
Dalam kehidupan orang percaya, Allah terkadang menggunakan penderitaan, teguran, kegagalan, dan keadaan sulit untuk membentuk karakter kita.
Kasih tidak selalu terasa nyaman.
Kasih terkadang menyakitkan karena kasih bertujuan menghasilkan kekudusan.
John Owen tentang Pengudusan
John Owen, dalam karya-karyanya mengenai dosa dan pengudusan, menekankan bahwa orang percaya dipanggil untuk terus mematikan dosa.
Dosa tidak boleh dipelihara.
Kehidupan Kristen adalah peperangan melawan dosa.
Namun peperangan tersebut dilakukan bukan untuk memperoleh kasih Kristus.
Kita berperang karena kita telah menerima kasih dan anugerah-Nya.
Inilah perbedaan penting antara pengudusan Injili dan legalisme.
Kasih Kristus dan Salib
Jika kita ingin mengetahui seberapa besar Yesus mengasihi kita, jangan pertama-tama melihat keadaan hidup.
Lihatlah salib.
Roma 5:8 menunjukkan bahwa Allah menyatakan kasih-Nya kepada kita ketika Kristus mati bagi kita saat kita masih berdosa.
Salib adalah bukti terbesar kasih Kristus.
Bukan kesehatan.
Bukan kekayaan.
Bukan keberhasilan.
Bukan kehidupan tanpa masalah.
Salib.
Mengapa Salib Begitu Penting?
Karena di salib kita melihat dua hal sekaligus:
betapa seriusnya dosa
dan
betapa besarnya kasih Allah.
Jika dosa tidak serius, Kristus tidak perlu mati.
Jika kasih Allah tidak besar, Kristus tidak akan menyerahkan diri-Nya.
Salib mempertemukan keadilan dan kasih.
John Murray dan Karya Penebusan
John Murray dalam Redemption Accomplished and Applied menjelaskan bahwa penebusan Kristus bukan sekadar contoh moral.
Kristus benar-benar menyelesaikan masalah dosa melalui karya-Nya.
Karena itu, ketika kita berkata Jesus Loves You, kita harus menjelaskan bahwa kasih tersebut memiliki bentuk historis dan objektif.
Yesus mengasihi dengan memberikan diri-Nya.
Kasih-Nya memiliki harga.
Kasih-Nya memiliki tujuan.
Kasih-Nya menyelamatkan.
R.C. Sproul: Kasih dan Kekudusan Tidak Bertentangan
R.C. Sproul berkali-kali menekankan bahwa kasih Allah tidak boleh dipisahkan dari kekudusan Allah.
Budaya modern sering mendefinisikan kasih sebagai penerimaan tanpa batas.
Tetapi kasih Allah berbeda.
Allah mengasihi manusia, tetapi Dia juga kudus.
Karena itu, kasih Allah terhadap orang berdosa tidak berarti Allah mengabaikan dosa.
Di salib, Allah menangani dosa dengan serius.
Jesus Loves You: Bukan Berarti "Yesus Menyetujui Semuanya"
Ini perlu ditegaskan.
Ketika kita berkata:
"Jesus Loves You,"
kita tidak sedang berkata:
"Yesus menyetujui semua pilihanmu."
Yesus mengasihi orang berdosa dan memanggilnya bertobat.
Yesus mengasihi Zakheus dan mengubah hidupnya.
Yesus mengasihi perempuan Samaria dan menyingkapkan dosanya.
Yesus mengasihi Petrus dan memulihkannya.
Kasih Kristus menerima orang berdosa untuk mengubahnya.
Kasih dan Pertobatan
Pertobatan bukan lawan kasih.
Pertobatan merupakan salah satu buah kasih karunia.
Ketika kita melihat kasih Kristus di salib, hati kita seharusnya tidak berkata:
"Kalau begitu saya dapat terus berdosa."
Sebaliknya:
"Tuhan, bagaimana mungkin saya terus mencintai dosa yang menyebabkan Engkau menderita bagi saya?"
Kasih Kristus menghasilkan kebencian terhadap dosa.
"Tetaplah Tinggal dalam Kasih-Ku"
Ini merupakan perintah Yesus.
Kasih Kristus bukan hanya sesuatu yang harus diketahui.
Kasih tersebut harus menjadi tempat kita tinggal.
Apa artinya?
Berarti:
- terus percaya kepada Kristus;
- terus menaati firman-Nya;
- terus bergantung kepada-Nya;
- terus menikmati persekutuan dengan-Nya;
- terus bertobat;
- terus hidup dalam iman.
Tinggal dalam Kristus Bukan Mendapatkan Keselamatan dengan Usaha
Ini perlu diperjelas.
Yesus tidak berkata bahwa kita harus mempertahankan kasih-Nya melalui performa sempurna.
Kalau demikian, tidak ada seorang pun yang dapat bertahan.
Tinggal dalam Kristus berarti terus hidup dalam iman dan ketergantungan kepada-Nya.
Ranting tidak menghasilkan kehidupan dari dirinya sendiri.
Ranting menerima kehidupan dari pokok anggur.
Louis Berkhof dan Persatuan dengan Kristus
Louis Berkhof menjelaskan bahwa persatuan dengan Kristus memiliki aspek yang sangat penting dalam keselamatan.
Orang percaya secara rohani dipersatukan dengan Kristus.
Dari persatuan itu mengalir berbagai manfaat keselamatan.
Ini membantu kita memahami mengapa Yohanes 15 menggunakan gambaran pokok anggur dan ranting.
Kehidupan rohani bukan sesuatu yang kita produksi sendiri.
Kehidupan itu mengalir dari Kristus.
Kasih Kristus Ketika Kita Gagal
Ada masa ketika orang Kristen merasa tidak layak dikasihi.
Kita gagal.
Kita jatuh dalam dosa.
Kita berkata kasar.
Kita menyimpan kepahitan.
Kita menyerah terhadap pencobaan.
Kita kemudian berpikir:
"Yesus pasti sudah tidak mau menerima saya."
Tetapi Injil mengarahkan kita kembali kepada Kristus.
Pertobatan bukan perjalanan menjauh dari kasih Kristus.
Pertobatan adalah kembali kepada kasih Kristus.
Kasih Kristus Tidak Berarti Kita Tidak Pernah Menderita
Ada kesalahan lain dalam memahami:
Jesus Loves You.
Sebagian orang menganggap jika Yesus mengasihi mereka, kehidupan seharusnya selalu lancar.
Namun Yesus sendiri mengalami:
- penolakan;
- penderitaan;
- pengkhianatan;
- penghinaan;
- penderitaan fisik;
- salib.
Murid-murid-Nya juga mengalami penderitaan.
Jadi kasih Kristus bukan jaminan kehidupan bebas masalah.
Kasih Kristus adalah jaminan bahwa kita tidak pernah sendirian dalam penderitaan dan bahwa penderitaan tidak akan memiliki kata terakhir.
Kasih dalam Penderitaan
Ketika kita menderita, pertanyaan yang sering muncul adalah:
"Apakah Tuhan masih mengasihi saya?"
Yohanes 15:9 mengingatkan kita:
Kasih Kristus tidak ditentukan oleh keadaan hari ini.
Salib telah menjadi bukti objektif kasih-Nya.
Karena itu, ketika perasaan berkata:
"Tuhan tidak mengasihi saya,"
kita menjawab:
"Perasaanku dapat berubah, tetapi salib Kristus tidak berubah."
Timothy Keller dan Identitas dalam Injil
Timothy Keller banyak membahas bagaimana manusia mencari identitas melalui keberhasilan, penerimaan sosial, pekerjaan, hubungan, atau pencapaian.
Jika identitas kita dibangun atas hal-hal tersebut, kita akan terus merasa tidak aman.
Namun Injil memberikan identitas yang berbeda.
Orang percaya menemukan identitasnya di dalam Kristus.
Kita tidak perlu membuktikan bahwa kita layak dikasihi.
Di dalam Kristus, kita menerima kasih karunia.
Jesus Loves You dan Identitas Anak Allah
Kasih Kristus memberikan identitas baru.
Kita bukan hanya:
"orang yang gagal."
Bukan hanya:
"orang yang pernah berdosa."
Bukan hanya:
"orang yang ditolak."
Di dalam Kristus, kita menjadi anak-anak Allah.
Ini tidak berarti dosa kita diabaikan.
Ini berarti identitas kita tidak lagi ditentukan oleh dosa.
Kristus menentukan siapa kita.
Kasih Kristus Menghasilkan Kasih kepada Sesama
Yohanes 15 tidak berhenti pada hubungan vertikal.
Yesus melanjutkan dengan perintah:
"Inilah perintah-Ku: Kasihilah satu sama lain seperti Aku telah mengasihi kamu."
Kasih yang kita terima dari Kristus harus mengalir kepada orang lain.
Kita tidak dapat berkata:
"Jesus loves me"
sementara kita terus-menerus menolak mengasihi sesama.
Kasih Kristus membentuk cara kita memperlakukan:
- pasangan;
- anak;
- orang tua;
- teman;
- rekan kerja;
- bahkan musuh.
"Seperti Aku Telah Mengasihi Kamu"
Standarnya sangat tinggi.
Yesus tidak berkata:
"Kasihilah orang lain seperti mereka memperlakukanmu."
Dia berkata:
"Seperti Aku telah mengasihi kamu."
Kasih Kristen bukan sekadar pertukaran.
Kita mengasihi bahkan ketika tidak mendapatkan balasan.
Kita mengampuni karena telah diampuni.
Kita melayani karena Kristus telah melayani.
Kita memberi karena Kristus telah memberikan diri-Nya.
Kasih yang Berkorban
Kasih Kristus mencapai puncaknya dalam pengorbanan.
Dia berkata bahwa tidak ada kasih yang lebih besar daripada memberikan nyawa bagi sahabat-sahabatnya.
Kemudian Dia melakukan tepat hal itu.
Karena itu, Jesus Loves You bukan kalimat sentimental.
Itu adalah berita salib.
Yesus mengasihi dengan darah.
Yesus mengasihi dengan pengorbanan.
Yesus mengasihi dengan memberikan hidup-Nya.
Teologi Reformed dan Kasih yang Efektif
Teologi Reformed tidak melihat kasih Allah sebagai kasih yang hanya berupa keinginan atau harapan.
Dalam keselamatan, kasih Allah bekerja secara efektif.
Allah memanggil.
Kristus menebus.
Roh Kudus menerapkan keselamatan.
Orang berdosa yang mati secara rohani menerima kehidupan baru.
Kasih karunia tidak hanya menawarkan keselamatan.
Kasih karunia benar-benar menyelamatkan umat Allah.
Kasih Umum dan Kasih Penebusan
Teologi Reformed juga membedakan berbagai aspek kasih dan kemurahan Allah.
Allah menunjukkan kebaikan-Nya kepada seluruh ciptaan.
Matahari terbit bagi orang benar maupun orang jahat.
Namun kasih penebusan Allah dinyatakan secara khusus dalam karya keselamatan.
Ketika Yohanes 15 berbicara mengenai kasih Kristus kepada murid-murid-Nya, konteksnya adalah hubungan perjanjian dan persatuan dengan Kristus.
Jesus Loves You: Apa Respons Kita?
Jika Kristus mengasihi kita, apa yang harus kita lakukan?
Pertama:
Percaya kepada-Nya.
Jangan hanya mengagumi Yesus.
Percayalah kepada-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat.
Kedua:
Bertobat.
Tinggalkan dosa dan kembali kepada-Nya.
Ketiga:
Tinggallah dalam Kristus.
Jadikan firman dan doa sebagai bagian dari kehidupan.
Keempat:
Kasihilah sesama.
Biarkan kasih yang kita terima mengalir kepada orang lain.
Kelima:
Hidup dalam pengharapan.
Kasih Kristus tidak berakhir pada kehidupan sekarang.
Dia membawa umat-Nya menuju kemuliaan.
Ketika Merasa Tidak Dikasihi
Ada orang yang membaca artikel ini dan mungkin sedang merasa sangat sendirian.
Mungkin keluarga menolak.
Mungkin pernikahan sedang rusak.
Mungkin teman-teman meninggalkan.
Mungkin doa terasa tidak dijawab.
Mungkin Anda merasa terlalu berdosa untuk datang kepada Tuhan.
Ingatlah:
Kasih Kristus tidak bergantung pada perasaanmu hari ini.
Pandanglah Kristus.
Pandanglah salib.
Pandanglah Injil.
Di sana kita melihat bukti kasih yang tidak dapat dibatalkan oleh keadaan.
Kasih yang Tidak Membenarkan Dosa
Namun penghiburan Injil tidak boleh digunakan untuk membenarkan dosa.
Jika kita berkata:
"Yesus mengasihi saya, jadi saya boleh terus hidup dalam dosa,"
kita belum memahami kasih Kristus.
Kasih yang sejati mengubah.
Kasih Kristus membuat kita ingin semakin menyerupai Dia.
Dia menerima kita sebagaimana adanya, tetapi kasih-Nya tidak membiarkan kita tetap sebagaimana adanya.
Kesimpulan
Jesus Loves You: Yesus mengasihimu adalah kalimat sederhana dengan kedalaman teologis yang luar biasa.
Yohanes 15:9 menunjukkan bahwa kasih Yesus kepada umat-Nya berakar pada kasih Bapa kepada Anak:
"Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah Aku telah mengasihimu. Tetaplah tinggal dalam kasih-Ku."
Kasih Kristus bukan sekadar emosi sentimental. Kasih tersebut berakar dalam kehidupan Allah Tritunggal, dinyatakan secara historis dalam inkarnasi dan salib, diterapkan oleh Roh Kudus, dan menghasilkan kehidupan yang semakin kudus.
John Calvin menolong kita memahami bahwa kasih Kristus dinikmati melalui persatuan dengan-Nya. Herman Bavinck menunjukkan bahwa kasih memiliki dasar dalam kehidupan Allah Tritunggal. John Owen mengingatkan bahwa kasih dan pengudusan tidak dapat dipisahkan. John Murray menjelaskan bahwa kasih Kristus diwujudkan secara objektif melalui karya penebusan. Louis Berkhof menolong kita memahami persatuan orang percaya dengan Kristus. R.C. Sproul mengingatkan bahwa kasih Allah tidak boleh dipisahkan dari kekudusan-Nya. Timothy Keller menunjukkan bahwa Injil memberikan identitas yang tidak bergantung pada pencapaian manusia.
Karena itu, ketika kita berkata:
Jesus Loves You,
jangan berhenti pada kalimat yang indah.
Lihatlah salib.
Di salib kita melihat kasih yang membayar harga.
Lihatlah kebangkitan.
Di sana kita melihat kasih yang mengalahkan maut.
Lihatlah Roh Kudus.
Di sana kita melihat kasih Allah yang bekerja di dalam umat-Nya.
Dan lihatlah kehidupan kita.
Kasih yang benar-benar kita terima dari Kristus seharusnya menghasilkan kasih, ketaatan, pertobatan, kekudusan, dan pengharapan.
Jika hari ini Anda merasa tidak layak dikasihi, datanglah kepada Kristus.
Jika Anda telah jatuh, bertobatlah dan datang kembali.
Jika Anda sedang menderita, tetaplah tinggal dalam kasih-Nya.
Jika Anda sedang menikmati berkat, jangan lupakan Sang Pemberi.
Jika Anda merasa sendirian, ingatlah bahwa Kristus tidak meninggalkan umat-Nya.
Jesus Loves You.
Bukan karena Anda telah berhasil menjadi sempurna.
Bukan karena Anda telah mengumpulkan cukup banyak kebaikan.
Bukan karena Anda layak membelinya.
Tetapi karena kasih karunia-Nya.
Dan kasih itu telah dinyatakan dengan sangat jelas di salib:
Kristus memberikan diri-Nya bagi orang berdosa.
Maka, tinggallah dalam kasih-Nya.
Percayalah kepada-Nya.
Kasihilah Dia.
Kasihilah sesama.
Dan jalani kehidupan dengan keyakinan bahwa kasih Kristus jauh lebih kuat daripada dosa, kegagalan, penderitaan, dan bahkan kematian.