Mazmur 44:23–25: Ketika Tuhan Terasa Diam

Mazmur 44:23–25: Ketika Tuhan Terasa Diam

Pendahuluan

Ada masa ketika orang percaya berdoa tetapi seolah-olah tidak mendapat jawaban. Kita membaca Alkitab, tetapi hati tetap terasa gelap. Kita memohon pertolongan, tetapi keadaan justru semakin berat. Dalam situasi seperti itu, pertanyaan yang muncul sering kali sangat jujur:

"Tuhan, mengapa Engkau diam?"

Pertanyaan semacam itu bukan sesuatu yang asing dalam Alkitab. Mazmur 44 memberikan ruang bagi umat Allah untuk menyampaikan pergumulan tersebut secara terbuka.

Mazmur 44:23–25 berbunyi:

"Bangun! Mengapa Engkau tidur, ya Tuhan? Bangkitkan diri-Mu! Jangan menolak kami selama-lamanya!"
"Mengapa Engkau menyembunyikan wajah-Mu, melupakan penderitaan dan ketertindasan kami?"
"Sebab, jiwa kami tertunduk sampai ke debu, dan perut kami melekat di tanah."
— Mazmur 44:23–25, AYT

Bahasa pemazmur sangat emosional.

Ia berbicara kepada Allah seolah-olah Allah sedang tidur.

Ia bertanya mengapa Tuhan menyembunyikan wajah-Nya.

Ia merasa dilupakan.

Ia menggambarkan penderitaan dengan tubuh yang tertunduk sampai ke debu.

Namun justru di sinilah keindahan Mazmur 44.

Mazmur ini menunjukkan bahwa iman yang sejati tidak selalu berarti kita memahami keadaan. Iman juga berarti tetap berseru kepada Allah ketika kita tidak memahami apa yang sedang Dia kerjakan.


Konteks Mazmur 44

Mazmur 44 adalah mazmur ratapan komunitas.

Pemazmur tidak hanya berbicara mengenai penderitaan pribadi. Ia berbicara atas nama umat.

Pada bagian awal mazmur, umat mengingat karya Allah pada masa lalu.

Allah telah mengusir bangsa-bangsa dan memberikan tanah kepada umat-Nya.

Mereka mengakui bahwa kemenangan mereka bukan karena kekuatan sendiri.

Allah yang menjadi sumber pertolongan mereka.

Namun kemudian keadaan berubah.

Umat mengalami kekalahan, penghinaan, dan penderitaan.

Yang membuat penderitaan itu semakin berat adalah keyakinan bahwa mereka tidak sedang meninggalkan Allah.

Mazmur 44:18 mengatakan bahwa mereka tidak melupakan Allah.

Karena itu, muncul pertanyaan yang sangat sulit:

Jika kami tetap mengingat-Mu, mengapa Engkau membiarkan semua ini terjadi?


Struktur Teologis Mazmur 44

Mazmur ini dapat dilihat melalui tiga gerakan besar.

Pertama:

Mengingat karya Allah di masa lalu.

Kedua:

Menghadapi penderitaan di masa kini.

Ketiga:

Berseru agar Allah bertindak.

Mazmur 44:23–25 berada di puncak ratapan tersebut.

Pemazmur tidak menyangkal masa lalu.

Dia tahu Allah pernah menolong.

Justru karena dia mengenal Allah sebagai Penolong, dia tidak mengerti mengapa pertolongan itu sekarang seolah-olah tidak datang.


Mazmur 44:23 — "Bangun!"

Ayat ini dimulai dengan seruan:

"Bangun!"

Dalam bahasa manusia, seseorang biasanya mengatakan "bangun" kepada orang yang sedang tidur.

Tentu pemazmur tidak benar-benar percaya bahwa Allah sedang tidur secara harfiah.

Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa Allah tidak pernah tertidur.

Mazmur 121:4 berkata bahwa Penjaga Israel tidak terlelap dan tidak tertidur.

Jadi bahasa "tidur" di sini merupakan bahasa puitis yang menggambarkan ketidakaktifan Allah yang dirasakan oleh umat.

Dari sudut pandang mereka, Allah tampak tidak bertindak.


Apakah Allah Benar-Benar Diam?

Ini merupakan pertanyaan penting.

Apakah Allah benar-benar berhenti bekerja?

Tidak.

Namun ada perbedaan antara:

Allah tidak bekerja

dan

kita tidak melihat pekerjaan Allah.

Mazmur 44 menggambarkan yang kedua.

Pemazmur tidak mempunyai akses kepada seluruh rencana Allah.

Dia hanya melihat penderitaan.

Karena itu, dari perspektif pengalaman manusia, Allah tampak diam.


John Calvin dan Providensia Allah

John Calvin sangat menekankan doktrin providensia, yaitu pemerintahan Allah yang berdaulat atas seluruh ciptaan dan sejarah.

Tidak ada sesuatu yang berada di luar pengetahuan atau pemerintahan Allah.

Namun providensia tidak berarti manusia selalu memahami apa yang Allah lakukan.

Justru iman sering kali diuji ketika providensia Allah tampak berlawanan dengan janji-Nya.

Mazmur 44 merupakan contoh yang sangat kuat.

Pemazmur melihat kekalahan.

Tetapi dia tetap berbicara kepada Allah.

Artinya, dia tidak menyimpulkan bahwa Allah telah berhenti menjadi Allah.


"Mengapa Engkau Tidur?"

Pertanyaan ini bukan pernyataan teologi sistematika.

Ini adalah jeritan hati.

Pemazmur sedang mengatakan:

"Tuhan, kami membutuhkan Engkau sekarang!"

"Di mana pertolongan-Mu?"

"Mengapa Engkau tidak bertindak?"

Ada saat ketika doa tidak berbentuk kalimat yang tenang dan sistematis.

Doa menjadi tangisan.

Doa menjadi pertanyaan.

Doa menjadi jeritan.

Dan Mazmur memberikan tempat bagi semua itu.


Kejujuran di Hadapan Allah

Mazmur 44 mengajarkan bahwa kita tidak perlu berpura-pura di hadapan Allah.

Kita dapat mengatakan:

"Tuhan, saya bingung."

"Tuhan, saya takut."

"Tuhan, saya tidak mengerti."

"Tuhan, mengapa Engkau terasa jauh?"

Allah tidak membutuhkan kita untuk menyembunyikan keadaan hati.

Dia mengetahui semuanya.

Doa bukan cara memberikan informasi kepada Allah.

Doa adalah cara membawa seluruh keberadaan kita kepada-Nya.


"Jangan Menolak Kami Selama-lamanya!"

Pemazmur takut bahwa penderitaan ini akan berlangsung tanpa akhir.

Kata-kata tersebut menunjukkan kedalaman keputusasaan.

Ketika penderitaan berlangsung lama, manusia mulai berpikir:

"Apakah ini akan berakhir?"

Penyakit yang tidak sembuh.

Masalah keluarga yang tidak selesai.

Pekerjaan yang terus bermasalah.

Doa yang tampaknya tidak dijawab.

Penderitaan yang berlangsung bertahun-tahun.

Mazmur 44 memberi bahasa kepada orang yang sedang berada dalam keadaan seperti itu.


Mazmur 44:24 — "Mengapa Engkau Menyembunyikan Wajah-Mu?"

Ini merupakan gambaran yang sangat penting dalam Perjanjian Lama.

Wajah Allah melambangkan kehadiran dan perkenanan-Nya.

Ketika Allah "menyembunyikan wajah," umat merasakan seolah-olah mereka ditinggalkan.

Pemazmur bertanya:

"Mengapa Engkau menyembunyikan wajah-Mu..."

Dia tidak sekadar mengalami masalah eksternal.

Dia mengalami krisis relasional.

Masalah terbesarnya bukan hanya musuh.

Masalah terbesar adalah perasaan bahwa Allah tidak hadir.


Ketika Allah Terasa Jauh

Ada perbedaan antara:

Allah jauh

dan

Allah terasa jauh.

Perasaan kita tidak selalu menjadi ukuran realitas rohani.

Kita dapat merasa ditinggalkan sementara Allah tetap memegang kita.

Kita dapat merasa tidak dikasihi sementara kasih Allah tidak berubah.

Kita dapat merasa doa kita tidak didengar sementara Allah tetap bekerja.

Iman tidak berarti menyangkal perasaan.

Iman berarti tidak membiarkan perasaan menjadi hakim terakhir atas karakter Allah.


Herman Bavinck dan Ketidakberubahan Allah

Herman Bavinck menekankan bahwa Allah tidak berubah dalam karakter dan kesetiaan-Nya.

Manusia berubah.

Situasi berubah.

Perasaan berubah.

Tetapi Allah tidak berubah.

Karena itu, ketika keadaan kita berubah secara drastis, karakter Allah tetap menjadi fondasi.

Mazmur 44 tidak berakhir dengan kesimpulan bahwa Allah telah berubah menjadi tidak setia.

Sebaliknya, pemazmur terus berseru kepada Allah yang sama.


"Melupakan Penderitaan dan Ketertindasan Kami"

Kata "melupakan" juga merupakan bahasa pengalaman manusia.

Allah tidak pernah benar-benar lupa.

Jika Allah dapat lupa, Dia bukan Allah yang Mahatahu.

Jadi pemazmur sedang menggambarkan bagaimana penderitaan itu terasa.

Ketika pertolongan tidak kunjung datang, seseorang dapat merasa:

"Tuhan sudah melupakan saya."

Perasaan ini sangat manusiawi.

Tetapi Alkitab mengajar kita untuk membawa perasaan tersebut kembali kepada kebenaran tentang Allah.


Allah Tidak Melupakan Umat-Nya

Yesaya 49 memberikan gambaran yang indah tentang kesetiaan Allah.

Allah bahkan membandingkan kasih-Nya dengan seorang ibu yang tidak mungkin melupakan anak yang dikandungnya.

Kasih Allah lebih kuat daripada ingatan manusia.

Jika kita berada dalam Kristus, penderitaan tidak berarti Allah membuang kita.


John Murray dan Kesatuan dengan Kristus

John Murray menekankan pentingnya persatuan orang percaya dengan Kristus.

Jika kita bersatu dengan Kristus, maka penderitaan tidak boleh langsung ditafsirkan sebagai tanda bahwa Allah telah meninggalkan kita.

Kristus sendiri mengalami penderitaan.

Dia ditolak.

Dia dihina.

Dia disalibkan.

Bahkan Dia mengalami kegelapan yang luar biasa ketika menanggung hukuman dosa.

Karena itu, orang Kristen yang menderita mengikuti jalan yang pernah dilalui Juruselamatnya.


Mazmur 44:25 — "Jiwa Kami Tertunduk Sampai ke Debu"

Bahasa ayat ini sangat kuat:

"Sebab, jiwa kami tertunduk sampai ke debu..."

Ini menggambarkan kehancuran total.

Mereka tidak sekadar mengalami ketidaknyamanan.

Mereka berada dalam kondisi sangat tertekan.

"Debu" dalam Alkitab sering berkaitan dengan kelemahan, kehinaan, dan kematian.

Pemazmur menggambarkan dirinya hampir seperti orang yang telah jatuh ke tanah dan tidak memiliki kekuatan untuk bangkit.


"Perut Kami Melekat di Tanah"

Gambaran ini menunjukkan kondisi fisik dan emosional yang sangat berat.

Penderitaan jiwa memengaruhi tubuh.

Ini sesuai dengan pengalaman manusia.

Tekanan berat dapat membuat seseorang kehilangan:

  • nafsu makan;
  • tidur;
  • energi;
  • konsentrasi;
  • motivasi.

Alkitab tidak memisahkan manusia menjadi roh tanpa tubuh.

Manusia adalah makhluk yang utuh.

Penderitaan rohani dapat terasa secara fisik.


Mazmur dan Kesehatan Mental

Mazmur seperti ini juga sangat relevan untuk memahami kesehatan mental secara pastoral.

Alkitab tidak menyederhanakan semua penderitaan dengan mengatakan:

"Kurang iman."

Pemazmur justru sedang berbicara kepada Allah dalam kondisi sangat tertekan.

Karena itu, gereja perlu memberikan ruang bagi orang yang sedang berduka, depresi, cemas, atau mengalami tekanan berat untuk berbicara secara jujur.

Tidak semua pergumulan dapat diselesaikan dengan satu kalimat.

Pendampingan, doa, komunitas, dan bila diperlukan bantuan profesional dapat menjadi bagian dari pemeliharaan Allah.


Derek Kidner dan Mazmur Ratapan

Derek Kidner, dalam komentarnya mengenai kitab Mazmur, menunjukkan bahwa mazmur ratapan memberikan ruang bagi pergumulan iman yang nyata.

Ratapan bukan lawan iman.

Ratapan justru dapat menjadi bentuk iman karena orang yang meratap masih berbicara kepada Allah.

Ini sangat penting.

Orang yang tidak peduli kepada Allah tidak akan berseru kepada-Nya.

Pemazmur berseru karena dia masih mengharapkan Allah bertindak.


Ratapan Berbeda dari Keputusasaan

Ratapan berkata:

"Tuhan, saya tidak mengerti, tetapi saya masih datang kepada-Mu."

Keputusasaan berkata:

"Tidak ada gunanya lagi datang kepada Tuhan."

Mazmur 44 masih merupakan doa.

Itulah perbedaannya.

Pemazmur masih percaya bahwa Allah dapat bertindak.

Karena itu, seruannya:

"Bangun!"


Walter Brueggemann dan Bahasa Ratapan

Walter Brueggemann dalam kajiannya tentang Mazmur menekankan pentingnya bahasa ratapan sebagai bentuk iman yang berani menghadapkan realitas penderitaan kepada Allah.

Ratapan menolak spiritualitas palsu yang hanya mau berbicara mengenai kemenangan.

Alkitab memiliki ruang untuk:

  • sukacita;
  • pujian;
  • kebingungan;
  • kemarahan;
  • ketakutan;
  • kesedihan;
  • harapan.

Iman Alkitabiah mencakup seluruh kehidupan.


Perspektif Teologi Reformed: Allah Berdaulat dalam Penderitaan

Teologi Reformed menekankan kedaulatan Allah.

Tetapi doktrin ini tidak dimaksudkan untuk membuat penderitaan terasa tidak penting.

Sebaliknya, kedaulatan Allah memberikan dasar pengharapan.

Jika Allah tidak berdaulat, penderitaan mungkin berada di luar kendali-Nya.

Namun jika Allah berdaulat, kita dapat percaya bahwa tidak ada penderitaan yang berada di luar pengetahuan-Nya.

Kita mungkin tidak tahu mengapa.

Tetapi kita tahu siapa yang memegang kita.


R.C. Sproul tentang Kedaulatan Allah

R.C. Sproul sering mengingatkan bahwa Allah bukan penonton pasif terhadap sejarah.

Dia memerintah.

Namun kedaulatan Allah tidak berarti kita selalu memahami alasan di balik setiap kejadian.

Dalam kehidupan Ayub, misalnya, Ayub tidak pernah menerima penjelasan lengkap mengenai semua alasan penderitaannya.

Yang dia terima adalah perjumpaan yang lebih dalam dengan Allah.

Hal yang sama dapat kita lihat dalam Mazmur 44.

Jawaban terbesar bukan selalu penjelasan.

Terkadang jawaban terbesar adalah Allah sendiri.


Mengapa Tuhan Tidak Segera Menolong?

Mazmur 44 tidak memberikan jawaban sederhana.

Dan itu justru penting.

Alkitab tidak mengajarkan bahwa setiap penderitaan dapat dijelaskan dengan satu formula.

Kadang penderitaan merupakan konsekuensi dosa.

Kadang merupakan akibat kejatuhan dunia.

Kadang merupakan sarana disiplin.

Kadang merupakan kesempatan untuk menunjukkan karya Allah.

Kadang kita tidak mengetahui alasannya.

Kitab Ayub mengajarkan bahwa manusia tidak memiliki seluruh perspektif Allah.


Iman Ketika Tidak Memahami

Iman bukan berarti:

"Saya mengerti semuanya."

Iman berarti:

"Saya tetap mempercayai Allah meskipun saya tidak mengerti semuanya."

Ini merupakan salah satu pelajaran terbesar Mazmur 44.

Pemazmur memiliki pertanyaan yang belum terjawab.

Namun dia tetap membawa pertanyaan tersebut kepada Tuhan.


Mazmur 44 dan Kristus

Sebagai orang Kristen, kita membaca Mazmur 44 dalam terang Kristus.

Ayat 23 memiliki gema yang sangat kuat dalam Perjanjian Baru:

"Oleh karena Engkau kami dibunuh sepanjang hari; kami dianggap sebagai domba-domba sembelihan."

Roma 8:36 mengutip bagian ini ketika Paulus berbicara tentang penderitaan orang percaya.

Namun Roma 8 tidak berhenti pada penderitaan.

Paulus berkata bahwa dalam semua penderitaan itu kita lebih dari pemenang melalui Dia yang mengasihi kita.

Ini sangat penting.

Penderitaan bukan bukti bahwa kasih Kristus telah hilang.

Justru di tengah penderitaan, kasih Kristus tetap menjadi dasar pengharapan.


Roma 8 dan Mazmur 44

Mazmur 44 bertanya:

"Mengapa Engkau menyembunyikan wajah-Mu?"

Roma 8 menjawab dengan pengharapan:

Tidak ada sesuatu pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah dalam Kristus.

Ini bukan berarti orang percaya tidak akan menderita.

Paulus justru mengatakan bahwa kita menghadapi:

  • kesengsaraan;
  • tekanan;
  • penganiayaan;
  • kelaparan;
  • ketelanjangan;
  • bahaya;
  • pedang.

Namun tidak satu pun dari semua itu dapat memisahkan kita dari kasih Kristus.


Salib: Ketika Allah Tampak Diam

Ada satu hal yang sangat dalam mengenai salib.

Ketika Yesus disalibkan, para murid mungkin merasa bahwa rencana Allah telah gagal.

Juruselamat mereka mati.

Harapan mereka seolah berakhir.

Namun justru pada saat itu Allah sedang mengerjakan keselamatan terbesar.

Ini memberikan prinsip penting:

Diamnya Allah tidak selalu berarti tidak adanya pekerjaan Allah.

Jumat Agung terlihat seperti kekalahan.

Tetapi Minggu Paskah menyatakan kemenangan.


Allah Bekerja di Balik Keheningan

Kita tidak selalu mendapatkan "Minggu Paskah" dalam waktu yang kita inginkan.

Kadang kita masih berada di "Jumat."

Kita masih menunggu.

Kita masih menangis.

Kita masih berdoa.

Tetapi kebangkitan Kristus memberikan dasar bahwa keheningan Allah bukan akhir cerita.

Allah dapat bekerja melalui sesuatu yang tampaknya seperti kekalahan.


Mazmur 44 Mengajarkan Kita Berdoa

Apa yang harus dilakukan ketika Tuhan terasa diam?

Tetap berdoa.

Pemazmur tidak berhenti.

Dia bertanya.

Dia memohon.

Dia menyerukan pertolongan.

Doa yang jujur tetap merupakan doa.

Kita tidak perlu menyusun kata-kata yang sempurna.

Kita dapat datang kepada Allah dengan hati yang hancur.


Jangan Menafsirkan Kasih Allah Berdasarkan Keadaan

Ini adalah pelajaran penting.

Jika kita mendasarkan kasih Allah pada keadaan, kita akan mengalami naik turun yang terus-menerus.

Ketika keadaan baik:

"Tuhan mengasihi saya."

Ketika keadaan buruk:

"Tuhan tidak mengasihi saya."

Injil memberikan fondasi yang lebih kuat.

Kasih Allah dinyatakan secara objektif dalam Kristus.

Salib menjadi bukti.


Ketika Doa Belum Dijawab

Jika doa belum dijawab, kita dapat melakukan beberapa hal.

Teruslah berdoa.

Tetaplah membaca firman.

Tetaplah bersekutu dengan umat Tuhan.

Jangan mengisolasi diri.

Jangan mengambil keputusan besar hanya berdasarkan emosi sesaat.

Dan ingat bahwa keterlambatan bukan berarti penolakan.

Allah memiliki waktu dan hikmat yang jauh melampaui pemahaman kita.


Allah yang Tampaknya Tidur Tidak Pernah Benar-Benar Tidur

Ini merupakan inti penghiburan dari Mazmur 44.

Pemazmur merasa Allah tidur.

Tetapi kita tahu dari keseluruhan Kitab Suci bahwa Allah tidak pernah tertidur.

Ketika kita merasa Allah diam, karakter-Nya tetap:

Allah tetap setia.

Allah tetap kudus.

Allah tetap berdaulat.

Allah tetap mengasihi umat-Nya.

Allah tetap bekerja.


Penerapan bagi Kehidupan Kristen

Mazmur 44:23–25 dapat diterapkan dalam beberapa situasi kehidupan.

Jika Anda sedang mengalami penderitaan, jangan merasa bersalah hanya karena Anda bertanya kepada Tuhan.

Jika Anda merasa doa tidak dijawab, teruslah berdoa.

Jika Anda merasa Allah jauh, jangan menjauh dari firman.

Jika tubuh dan jiwa Anda sangat lelah, carilah pertolongan dan dukungan.

Jika Anda tidak memahami rencana Allah, pegang karakter Allah.

Dan jika semuanya terasa gelap, pandanglah Kristus.


Penghiburan bagi Orang yang Sedang Menderita

Mungkin saat ini Anda sedang berada dalam kondisi seperti pemazmur.

Jiwa Anda tertunduk sampai ke debu.

Anda merasa tidak memiliki kekuatan.

Anda bertanya:

"Tuhan, mengapa?"

Mazmur 44 tidak mengejek pertanyaan itu.

Alkitab memberikan ruang untuk tangisan Anda.

Tetapi Alkitab juga mengarahkan Anda untuk tetap berbicara kepada Allah.

Jangan berhenti datang kepada-Nya.


Kesimpulan

Mazmur 44:23–25 adalah salah satu gambaran paling jujur mengenai pengalaman umat Allah ketika Tuhan terasa diam.

Pemazmur berseru:

"Bangun! Mengapa Engkau tidur, ya Tuhan?"

Dia merasa Allah menyembunyikan wajah-Nya.

Dia merasa penderitaannya dilupakan.

Jiwanya tertunduk sampai ke debu.

Namun justru dalam kondisi tersebut dia masih berdoa.

Inilah iman yang sedang bergumul.

Mazmur ini mengajarkan bahwa ratapan bukan tanda bahwa iman telah mati. Sering kali ratapan merupakan bukti bahwa kita masih datang kepada Allah dan masih berharap bahwa Dia mendengar.

John Calvin menolong kita melihat penderitaan dalam kerangka providensia Allah. Herman Bavinck mengingatkan bahwa Allah tidak berubah dalam karakter dan kesetiaan-Nya. John Murray menolong kita melihat penderitaan dalam terang persatuan dengan Kristus. Derek Kidner menunjukkan bahwa ratapan merupakan bagian penting dari kehidupan iman. R.C. Sproul mengingatkan bahwa kedaulatan Allah tidak pernah berhenti, bahkan ketika kita tidak memahami pekerjaan-Nya.

Dan akhirnya, kita melihat Mazmur 44 melalui salib dan kebangkitan Kristus.

Di salib, Allah tampak seolah-olah diam.

Namun justru di sanalah keselamatan sedang dikerjakan.

Di kubur, seolah-olah semuanya berakhir.

Namun pada hari ketiga, Kristus bangkit.

Karena itu, ketika Tuhan terasa diam dalam kehidupan kita, kita tidak perlu menyimpulkan bahwa Dia telah meninggalkan kita.

Keheningan Allah bukan bukti ketidakhadiran Allah.

Kita mungkin tidak mengetahui apa yang sedang Dia kerjakan.

Kita mungkin belum melihat jawabannya.

Kita mungkin masih berada dalam masa penderitaan.

Namun kita memiliki dasar yang lebih kuat daripada keadaan kita:

Kristus telah mati dan bangkit.

Dan bagi mereka yang berada di dalam Kristus, tidak ada penderitaan yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah.

Jadi, ketika jiwa kita tertunduk sampai ke debu, marilah kita tetap berdoa:

"Tuhan, saya tidak mengerti. Saya tidak tahu mengapa Engkau terasa diam. Tetapi saya tetap datang kepada-Mu. Bangkitlah menolong umat-Mu. Peganglah saya ketika saya tidak memiliki kekuatan untuk berdiri."

Terkadang iman terbesar bukanlah berkata, "Saya mengerti mengapa ini terjadi."

Iman terbesar adalah berkata:

"Saya tidak mengerti, tetapi saya tetap percaya kepada Tuhan."

Next Post Previous Post