Kisah Para Rasul 20:1–5: Tetap Melayani

Kisah Para Rasul 20:1–5: Tetap Melayani

Pendahuluan

Kisah Para Rasul 20:1–5 mungkin terlihat seperti bagian Alkitab yang hanya berisi catatan perjalanan. Nama-nama tempat dan rekan pelayanan Paulus muncul secara berurutan: Makedonia, Yunani, Siria, Berea, Tesalonika, Derbe, Asia, dan Troas.

Namun bagi pembaca yang memperhatikan alur kitab Kisah Para Rasul, bagian ini memiliki makna yang jauh lebih dalam.

Lukas sedang memperlihatkan bagaimana Injil terus bergerak melalui pelayanan Paulus meskipun terdapat tekanan, kerusuhan, ancaman, dan berbagai bahaya.

Teks AYT berbunyi:

"Setelah kerusuhan itu berakhir, Paulus mengundang para murid, dan setelah menguatkan hati mereka, ia berpamitan dengan mereka dan pergi menuju ke Makedonia."
— Kisah Para Rasul 20:1

Kemudian:

"Setelah ia menelusuri wilayah-wilayah di sana dan memberikan kepada mereka banyak nasihat, ia sampai di Yunani."
— Kisah Para Rasul 20:2

Paulus kemudian tinggal selama tiga bulan di Yunani. Karena adanya persekongkolan terhadap dirinya, ia mengubah rencana perjalanan dan kembali melalui Makedonia.

Yang menarik, Paulus tidak berjalan sendirian. Ayat 4 mencatat sejumlah nama rekan pelayanan yang menyertainya.

Dengan demikian, Kisah Para Rasul 20:1–5 berbicara mengenai ketekunan pelayanan, penggembalaan, hikmat dalam menghadapi bahaya, providensia Allah, dan pelayanan bersama.


Konteks Kisah Para Rasul 20

Kisah Para Rasul 20 terjadi setelah pelayanan Paulus yang panjang di Efesus.

Dalam Kisah Para Rasul 19, pemberitaan Injil di Efesus menghasilkan perubahan besar.

Banyak orang meninggalkan praktik okultisme.

Nama Tuhan Yesus semakin dimuliakan.

Namun pertumbuhan Injil juga menimbulkan perlawanan.

Demetrius, seorang pengrajin perak, merasa kepentingan ekonominya terancam karena semakin banyak orang meninggalkan penyembahan berhala.

Terjadi kerusuhan besar di kota.

Setelah kerusuhan tersebut berakhir, Paulus mengambil keputusan untuk melanjutkan perjalanan.

Kisah Para Rasul 20:1 dimulai dengan kata:

"Setelah kerusuhan itu berakhir..."

Ini menghubungkan pasal 20 secara langsung dengan peristiwa di Efesus.


Kisah Para Rasul 20:1 — Paulus Menguatkan Murid-Murid

Lukas menulis bahwa Paulus:

"...mengundang para murid, dan setelah menguatkan hati mereka..."

Ini merupakan detail yang sangat penting.

Paulus tidak langsung pergi setelah keadaan menjadi aman.

Dia terlebih dahulu memperhatikan jemaat.

Tujuan pelayanan Paulus bukan sekadar mengabarkan Injil kepada sebanyak mungkin orang.

Dia juga membangun dan menguatkan mereka yang telah percaya.

Pelayanan rasuli memiliki dimensi penginjilan dan penggembalaan.


Menguatkan Hati Jemaat

Kata "menguatkan" menunjukkan pelayanan pastoral.

Orang percaya membutuhkan penguatan.

Mereka menghadapi tekanan dari dunia.

Mereka dapat mengalami ketakutan.

Mereka dapat mengalami kebingungan.

Mereka dapat menjadi lemah.

Karena itu, pelayanan Kristen tidak berhenti setelah seseorang menjadi percaya.

Orang yang telah percaya perlu dibangun supaya tetap teguh.

Prinsip ini terlihat berulang kali dalam pelayanan Paulus.


Paulus Bukan Hanya Penginjil

Ada kecenderungan untuk menggambarkan Paulus hanya sebagai penginjil keliling yang berpindah dari satu kota ke kota lain.

Namun Kisah Para Rasul memperlihatkan sesuatu yang lebih kaya.

Paulus:

  • memberitakan Injil;
  • mengajar;
  • membangun jemaat;
  • menasihati;
  • menguatkan;
  • memilih dan melatih pemimpin;
  • membangun relasi dengan rekan pelayanan;
  • memperhatikan kebutuhan jemaat.

Pelayanan Paulus bersifat menyeluruh.


John Calvin dan Penggembalaan

John Calvin sangat menekankan pentingnya pelayanan firman bagi pertumbuhan gereja.

Dalam tradisi Reformed, gereja tidak dibangun terutama melalui strategi manusia, tetapi melalui pemberitaan firman, sakramen, dan disiplin gereja.

Kisah Para Rasul 20:1 menunjukkan bahwa penguatan jemaat merupakan bagian penting dari pelayanan rasuli.

Paulus memahami bahwa orang percaya membutuhkan pengajaran dan penguatan terus-menerus.


"Berpamitan dengan Mereka"

Setelah menguatkan mereka, Paulus berpamitan.

Ini merupakan gambaran sederhana namun menyentuh.

Pelayanan juga memiliki musim perpisahan.

Seorang pelayan mungkin harus meninggalkan suatu tempat.

Seorang gembala mungkin dipanggil ke tempat lain.

Seorang misionaris mungkin harus pergi.

Seorang teman seiman mungkin pindah.

Perpisahan tidak selalu berarti kegagalan.

Kadang perpisahan merupakan bagian dari providensia Allah.


Allah Tetap Bekerja Setelah Seorang Pelayan Pergi

Ini merupakan prinsip penting dalam pelayanan.

Paulus pergi.

Namun Injil tidak pergi.

Gereja tetap milik Kristus.

Paulus bukan pemilik jemaat.

Kristus adalah Kepala gereja.

Dalam Efesus 4, Kristus memberikan para pelayan untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan.

Artinya, pelayanan yang sehat harus menghasilkan jemaat yang mampu berdiri dalam iman, bukan jemaat yang bergantung secara mutlak pada satu tokoh.


Paulus Pergi ke Makedonia

Setelah berpamitan, Paulus:

"...pergi menuju ke Makedonia."

Makedonia berada di bagian utara Yunani dan memiliki sejarah pelayanan Paulus yang penting.

Di wilayah tersebut terdapat jemaat-jemaat seperti Filipi, Tesalonika, dan Berea.

Paulus kembali mengunjungi wilayah-wilayah yang sebelumnya telah menerima Injil.

Ini memperlihatkan pola pelayanan yang penting:

memberitakan Injil → membentuk jemaat → kembali menguatkan jemaat.


Kisah Para Rasul 20:2 — Banyak Nasihat

Ayat 2 mengatakan:

"Setelah ia menelusuri wilayah-wilayah di sana dan memberikan kepada mereka banyak nasihat, ia sampai di Yunani."

Perhatikan frasa:

"banyak nasihat."

Ini menunjukkan bahwa pelayanan Paulus bukan pelayanan yang dangkal.

Dia memberikan pengajaran dan dorongan yang berkelanjutan.

Jemaat membutuhkan firman yang kaya.

Mereka membutuhkan doktrin.

Mereka membutuhkan koreksi.

Mereka membutuhkan penghiburan.

Mereka membutuhkan dorongan untuk bertahan.


Pentingnya Pengajaran Doktrin

Dalam tradisi Reformed, doktrin dan kehidupan Kristen tidak boleh dipisahkan.

Doktrin yang benar menghasilkan kehidupan yang benar.

Paulus tidak hanya mengatakan:

"Percayalah kepada Yesus dan semuanya akan baik-baik saja."

Dia mengajarkan seluruh kehendak Allah.

Dalam Kisah Para Rasul 20:27, ketika berbicara kepada para penatua Efesus, Paulus mengatakan bahwa dia tidak lalai memberitakan seluruh maksud Allah.

Ini menunjukkan betapa seriusnya pengajaran dalam pelayanan Paulus.


J.I. Packer dan Pentingnya Kebenaran Teologis

J.I. Packer dalam Knowing God menekankan bahwa mengenal Allah bukan sekadar memiliki informasi mengenai Allah.

Pengetahuan teologis seharusnya menghasilkan penyembahan, ketaatan, dan kehidupan yang berubah.

Prinsip tersebut terlihat dalam pelayanan Paulus.

Dia memberikan "banyak nasihat" bukan untuk memenuhi kepala jemaat dengan informasi, tetapi supaya mereka hidup sebagai umat Allah.


Kisah Para Rasul 20:3 — Tiga Bulan di Yunani

Paulus tinggal selama tiga bulan di Yunani.

Ini menunjukkan bahwa pelayanan rasuli tidak selalu berarti berpindah tempat setiap beberapa hari.

Ada waktu untuk tinggal.

Ada waktu untuk mengajar.

Ada waktu untuk membangun relasi.

Ada waktu untuk mempersiapkan pelayanan berikutnya.

Pelayanan yang efektif membutuhkan kesabaran.

Tidak semua pekerjaan rohani menghasilkan buah secara instan.


Ancaman dari Orang Yahudi

Lukas kemudian berkata bahwa ketika Paulus hendak berlayar ke Siria:

"...orang-orang Yahudi membuat persekongkolan untuk melawannya..."

Ini bukan pertama kalinya Paulus menghadapi perlawanan.

Sepanjang Kisah Para Rasul, kita melihat pola:

Injil diberitakan → orang percaya bertumbuh → perlawanan muncul.

Perlawanan tidak otomatis berarti pelayanan gagal.

Bahkan sering kali perlawanan muncul justru ketika Injil memberikan dampak.


Hikmat dalam Menghadapi Ancaman

Paulus kemudian:

"...memutuskan untuk kembali lewat Makedonia."

Ini memperlihatkan bahwa iman tidak sama dengan tindakan ceroboh.

Paulus percaya kepada Allah, tetapi dia juga menggunakan hikmat.

Dia tidak berkata:

"Karena Allah berdaulat, saya boleh mengabaikan bahaya."

Sebaliknya, dia mengubah rute perjalanan.

Kedaulatan Allah tidak meniadakan penggunaan sarana dan kebijaksanaan.


Providensia Allah dan Keputusan Manusia

Teologi Reformed sangat menekankan providensia Allah.

Allah berdaulat atas sejarah.

Namun manusia tetap membuat keputusan nyata.

Paulus membuat keputusan untuk kembali melalui Makedonia.

Keputusan tersebut tidak berada di luar pemerintahan Allah.

Allah bekerja melalui keputusan, pertimbangan, dan tindakan manusia.


John Calvin tentang Providensia

Dalam Institutes of the Christian Religion, Calvin menjelaskan bahwa providensia Allah mencakup pemeliharaan dan pemerintahan-Nya atas segala sesuatu.

Namun keyakinan terhadap providensia tidak membuat manusia pasif.

Orang percaya tetap menggunakan hikmat.

Kita tetap bekerja.

Kita tetap merencanakan.

Kita tetap mengambil tindakan pencegahan.

Kita tetap menghindari bahaya yang tidak perlu.

Semua itu dapat menjadi bagian dari providensia Allah.


Kisah Para Rasul 20:4 — Paulus Tidak Sendirian

Ayat 4 mencatat:

"Paulus ditemani oleh Sopater dari Berea, anak Pirus, oleh Aristarkhus dan Sekundus, dari Tesalonika, dan Gayus dari Derbe, dan Timotius, serta Tikhikus dan Trofimus dari Asia."

Daftar nama ini mungkin tampak seperti detail kecil.

Tetapi Lukas sengaja mencatatnya.

Mengapa?

Karena pelayanan Injil bukan pelayanan satu orang.

Paulus memiliki tim.

Dia bekerja bersama orang lain.


Sopater dari Berea

Sopater berasal dari Berea.

Berea sebelumnya dikenal sebagai kota di mana orang-orang menerima firman dengan penuh perhatian dan memeriksa Kitab Suci.

Kehadiran Sopater menunjukkan bahwa buah pelayanan di berbagai kota terus berlanjut.

Orang yang telah menerima Injil kemudian dapat terlibat dalam pelayanan.


Aristarkhus dan Sekundus

Keduanya berasal dari Tesalonika.

Aristarkhus juga disebut dalam bagian lain dari Kisah Para Rasul.

Dia menemani Paulus dalam perjalanan dan bahkan mengalami bahaya bersama Paulus.

Ini menunjukkan bahwa pelayanan Injil membutuhkan orang-orang yang bersedia berkorban.

Tidak semua orang harus menjadi pengkhotbah utama.

Namun setiap orang dapat menjadi rekan pelayanan yang setia.


Gayus dari Derbe

Gayus berasal dari Derbe.

Derbe merupakan salah satu kota yang dikunjungi Paulus dalam perjalanan misionernya.

Sekali lagi, Lukas memperlihatkan bahwa jaringan pelayanan Paulus bersifat luas.

Jemaat-jemaat dari berbagai wilayah terhubung dalam misi yang sama.


Timotius

Nama Timotius tentu sangat penting.

Timotius merupakan salah satu rekan pelayanan Paulus yang paling dekat.

Dia berasal dari Listra dan kemudian menjadi pemimpin gereja yang dipercayakan tugas besar.

Paulus tidak hanya memberitakan Injil kepada orang banyak.

Dia juga memuridkan generasi berikutnya.

Inilah salah satu prinsip terpenting dari pelayanan Kristen.


Pemuridan sebagai Investasi Jangka Panjang

Paulus tidak berpikir hanya mengenai pelayanan hari ini.

Dia memikirkan masa depan gereja.

Timotius kemudian menerima tanggung jawab untuk mengajar orang lain.

2 Timotius 2:2 menggambarkan prinsip multiplikasi:

Paulus → Timotius → orang-orang yang dapat dipercaya → orang lain.

Pelayanan yang sehat menghasilkan pelayan baru.


Tikhikus dan Trofimus

Tikhikus kemudian dikenal sebagai rekan pelayanan Paulus yang dapat dipercaya.

Trofimus juga muncul dalam bagian lain Perjanjian Baru.

Daftar ini menunjukkan keberagaman orang yang terlibat dalam pelayanan Paulus.

Mereka berasal dari wilayah berbeda.

Namun mereka dipersatukan oleh Injil.


Gereja yang Melampaui Batas Etnis

Daftar nama ini memiliki makna yang lebih luas.

Orang-orang dari:

  • Berea;
  • Tesalonika;
  • Derbe;
  • Asia;

berjalan bersama dalam pelayanan.

Injil menciptakan komunitas baru yang melampaui batas geografis dan etnis.

Inilah salah satu tema besar Kisah Para Rasul.

Injil bergerak dari Yerusalem menuju Yudea, Samaria, dan sampai ke ujung bumi.


Kisah Para Rasul 20:5 — "Menunggu Kami"

Ayat 5 berkata:

"Mereka berangkat lebih dahulu dan sedang menunggu kami di Troas."

Di sini Lukas menggunakan kata "kami".

Ini penting.

Lukas kembali memasukkan dirinya ke dalam narasi.

Ini dikenal sebagai bagian-bagian "kami" dalam Kisah Para Rasul.

Hal tersebut menunjukkan bahwa Lukas merupakan bagian dari perjalanan pelayanan tersebut.


Lukas dan Kesaksian Mata

Penggunaan kata "kami" menunjukkan bahwa Lukas tidak hanya menulis berdasarkan rumor atau cerita yang jauh.

Dia hadir dalam sebagian perjalanan Paulus.

Hal ini memberikan dimensi historis yang penting terhadap kitab Kisah Para Rasul.

Lukas mencatat perjalanan, nama orang, tempat, dan peristiwa secara konkret.

Kekristenan bukan sekadar kumpulan gagasan spiritual.

Injil masuk ke dalam sejarah.


F.F. Bruce dan Keandalan Kisah Para Rasul

F.F. Bruce dalam karya-karyanya mengenai Kisah Para Rasul menekankan kekayaan detail historis dalam tulisan Lukas.

Nama-nama, tempat, perjalanan, dan konteks geografis menjadi bagian penting dari narasi.

Kisah Para Rasul 20:1–5 memperlihatkan ciri tersebut.

Lukas tidak hanya berkata:

"Paulus melakukan perjalanan ke beberapa tempat."

Dia mencatat orang-orang yang berjalan bersamanya.


Pelayanan Bersama dan Teologi Tubuh Kristus

Teologi Reformed menolak gambaran pelayanan yang terlalu individualistis.

Kristus membangun gereja sebagai tubuh.

Setiap anggota memiliki fungsi.

Tidak semua dipanggil menjadi rasul.

Tidak semua menjadi pendeta.

Tidak semua menjadi misionaris.

Tetapi setiap orang percaya memiliki tempat dalam tubuh Kristus.

Paulus sendiri, seorang rasul besar, tetap membutuhkan rekan pelayanan.


Pelayanan Bukan Panggung Pribadi

Kisah Para Rasul 20:4 merupakan koreksi terhadap budaya pelayanan yang terlalu berpusat pada tokoh.

Nama Paulus memang paling menonjol.

Namun Lukas mencatat banyak nama lain.

Ini menunjukkan bahwa kerajaan Allah tidak dibangun oleh satu bintang.

Pelayanan adalah pekerjaan bersama.

Ada orang yang berkhotbah.

Ada yang mengajar.

Ada yang mendukung.

Ada yang bepergian.

Ada yang mendoakan.

Ada yang memberi.

Ada yang membuka rumah.

Semua dipakai Allah.


Sinclair Ferguson dan Kehidupan dalam Gereja

Sinclair Ferguson dalam pembahasan mengenai kehidupan Kristen dan karya Roh Kudus menekankan bahwa orang percaya tidak dirancang untuk menjalani kehidupan Kristen secara terisolasi.

Roh Kudus membentuk umat menjadi tubuh Kristus.

Kisah Para Rasul 20:1–5 memperlihatkan kehidupan gereja yang saling terhubung.

Mereka berjalan bersama.

Mereka melayani bersama.

Mereka menanggung risiko bersama.


Penderitaan Tidak Menghentikan Misi

Paulus baru saja melewati kerusuhan besar.

Kemudian dia menghadapi persekongkolan.

Namun pelayanan terus berlangsung.

Ini merupakan pola penting dalam Kisah Para Rasul.

Perlawanan tidak menghentikan Injil.

Justru Injil terus bergerak.

Hal ini sesuai dengan perkataan Yesus bahwa gereja akan menjadi saksi sampai ke ujung bumi.


Mengapa Paulus Terus Berjalan?

Karena misi Paulus bukan berdasarkan kenyamanan.

Dia memiliki panggilan.

Dalam Kisah Para Rasul 20:24, Paulus kemudian berkata bahwa hidupnya tidak berharga baginya dibandingkan menyelesaikan tugas yang diterimanya dari Tuhan Yesus.

Itulah semangat pelayanan Paulus.

Dia tidak mengukur keberhasilan berdasarkan kenyamanan.

Dia mengukurnya berdasarkan kesetiaan kepada panggilan Allah.


Teologi Reformed tentang Panggilan

Dalam tradisi Reformed, konsep vocation atau panggilan sangat penting.

Allah memanggil manusia untuk melayani Dia dalam berbagai bidang.

Pelayanan bukan hanya pekerjaan di mimbar.

Orang Kristen dapat melayani Allah melalui:

  • pekerjaan;
  • keluarga;
  • pendidikan;
  • bisnis;
  • pelayanan gereja;
  • misi;
  • kepemimpinan;
  • tindakan kasih kepada sesama.

Yang penting bukan seberapa terkenal pelayanan itu.

Yang penting adalah kesetiaan.


Ketekunan Orang Kudus dan Ketekunan dalam Pelayanan

Doktrin ketekunan orang-orang kudus berbicara tentang kesetiaan Allah memelihara umat-Nya sampai akhir.

Namun doktrin tersebut tidak membuat orang percaya pasif.

Allah memelihara kita melalui sarana.

Salah satunya adalah komunitas orang percaya.

Paulus dikelilingi rekan pelayanan.

Gereja menjadi sarana penguatan.

Firman menjadi sarana pengudusan.

Doa menjadi sarana ketergantungan.


Ketika Pelayanan Terasa Berat

Kisah Para Rasul 20:1–5 dapat memberikan penghiburan bagi pelayan Tuhan yang sedang lelah.

Pelayanan Paulus tidak selalu mudah.

Ada kerusuhan.

Ada ancaman.

Ada perubahan rencana.

Ada perjalanan panjang.

Namun dia terus berjalan.

Bukan karena dia tidak pernah takut.

Tetapi karena dia percaya bahwa Injil lebih besar daripada hambatan yang dihadapinya.


Jangan Takut Mengubah Rencana

Ayat 3 juga memberikan pelajaran praktis.

Paulus mengubah rute ketika mengetahui adanya persekongkolan.

Ini bukan kurang iman.

Ini adalah hikmat.

Kadang kita terlalu spiritual dalam membuat keputusan:

"Kalau Tuhan menghendaki, saya harus terus melakukan ini apa pun risikonya."

Namun Alkitab menunjukkan bahwa menggunakan pertimbangan bijaksana juga merupakan bagian dari kehidupan beriman.

Kita dapat mengubah strategi tanpa mengubah panggilan.


Tujuan Tetap, Rute Bisa Berubah

Ini merupakan prinsip yang sangat berguna.

Paulus tetap melayani.

Tetapi rutenya berubah.

Dengan demikian:

Tujuan tidak harus berubah hanya karena strategi berubah.

Dalam kehidupan kita, mungkin rencana karier berubah.

Mungkin pelayanan berubah.

Mungkin lokasi berubah.

Mungkin metode berubah.

Namun kesetiaan kepada Kristus tetap menjadi tujuan.


Allah Menggunakan Perubahan yang Tidak Direncanakan

Sering kali kita menganggap perubahan rencana sebagai kegagalan.

Namun dalam providensia Allah, perubahan dapat menjadi bagian dari rencana-Nya.

Paulus mungkin merencanakan perjalanan melalui Siria.

Tetapi ancaman membuatnya kembali melalui Makedonia.

Allah tetap memimpin.

Kita tidak selalu mengetahui mengapa sebuah pintu tertutup.

Tetapi kita dapat mempercayai bahwa Allah tidak kehilangan kendali.


Penerapan Kisah Para Rasul 20:1–5

Ada beberapa pelajaran penting dari bagian ini.

1. Kuatkan orang percaya

Jangan hanya mencari orang baru.

Bangunlah mereka yang sudah percaya.

2. Ajarkan firman dengan serius

Jemaat membutuhkan "banyak nasihat", bukan sekadar hiburan.

3. Tetap setia ketika menghadapi perlawanan

Hambatan tidak otomatis berarti Allah tidak menyertai.

4. Gunakan hikmat

Iman tidak berarti mengabaikan bahaya.

5. Bangun tim pelayanan

Jangan menjalankan pelayanan sendirian.

6. Investasikan generasi berikutnya

Seperti Paulus membina Timotius, gereja harus memuridkan generasi baru.

7. Percayalah pada providensia Allah

Ketika rencana berubah, Allah tetap berdaulat.


Kristus sebagai Pusat Pelayanan

Semua pelayanan Paulus pada akhirnya berpusat pada Kristus.

Dia bukan sekadar pemimpin organisasi.

Dia adalah pelayan Injil.

Kristuslah yang menjadi pusat pemberitaan.

Kristuslah yang menyelamatkan.

Kristuslah yang membangun gereja.

Kristuslah yang memelihara umat-Nya.

Karena itu, pelayanan Kristen tidak boleh menjadi sarana membangun nama pribadi.

Tujuannya adalah supaya nama Kristus semakin dikenal.


Kesimpulan

Kisah Para Rasul 20:1–5 mungkin tampak seperti catatan perjalanan biasa, tetapi di dalamnya terdapat pelajaran besar mengenai pelayanan Kristen.

Setelah kerusuhan di Efesus, Paulus tidak berhenti.

Dia menguatkan para murid dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Makedonia. Di sana dia menelusuri berbagai wilayah dan memberikan banyak nasihat sebelum tiba di Yunani.

Ketika muncul persekongkolan terhadap dirinya, Paulus mengubah rute perjalanan.

Kemudian Lukas mencatat sejumlah rekan pelayanan yang berjalan bersama Paulus.

Bagian ini memperlihatkan bahwa pelayanan Injil membutuhkan ketekunan, pengajaran, hikmat, kerja sama, dan ketergantungan pada providensia Allah.

John Calvin menolong kita memahami bahwa kedaulatan Allah tidak menghilangkan tanggung jawab manusia untuk bertindak dengan bijaksana. J.I. Packer mengingatkan bahwa pengetahuan tentang Allah harus menghasilkan kehidupan yang berubah. F.F. Bruce memperlihatkan kekayaan historis dalam narasi Lukas. Sinclair Ferguson menolong kita melihat pentingnya kehidupan bersama sebagai tubuh Kristus.

Kisah Para Rasul 20:1–5 juga mengoreksi pandangan bahwa pelayanan adalah pekerjaan seorang tokoh besar.

Paulus memiliki Sopater.

Aristarkhus.

Sekundus.

Gayus.

Timotius.

Tikhikus.

Trofimus.

Dan Lukas.

Nama-nama ini mengingatkan kita bahwa pekerjaan Injil adalah pekerjaan bersama.

Ada orang yang berada di depan.

Ada yang mendukung dari belakang.

Ada yang mengajar.

Ada yang bepergian.

Ada yang menolong.

Ada yang memuridkan.

Tetapi semuanya berada di bawah satu Tuhan: Yesus Kristus.

Mungkin hari ini pelayanan kita terasa kecil.

Mungkin tidak banyak orang melihatnya.

Mungkin kita tidak terkenal.

Mungkin kita hanya mengajar beberapa orang.

Mungkin kita hanya mendampingi satu anak muda.

Mungkin kita hanya mendoakan beberapa keluarga.

Jangan meremehkannya.

Dalam kerajaan Allah, kesetiaan lebih penting daripada popularitas.

Paulus terus berjalan bukan karena jalannya mudah.

Dia terus berjalan karena Kristus telah memanggilnya.

Demikian juga kita.

Ketika ada hambatan, tetaplah setia.

Ketika rencana berubah, tetaplah percaya.

Ketika pelayanan terasa berat, carilah kekuatan dari Kristus dan komunitas umat-Nya.

Ketika kita tidak dapat berjalan sendirian, jangan takut meminta bantuan.

Dan ketika kesempatan datang untuk membina generasi berikutnya, investasikan hidup kita kepada mereka.

Sebab pelayanan bukan tentang seberapa besar nama kita dikenal.

Pelayanan adalah tentang seberapa setia kita membawa nama Kristus kepada dunia.

Kiranya Kisah Para Rasul 20:1–5 mengingatkan kita untuk terus berjalan, terus menguatkan, terus mengajar, terus memuridkan, dan terus melayani sampai Tuhan memanggil kita menyelesaikan perjalanan kita.

Next Post Previous Post