Hosea 11:8-11: Kasih yang Tidak Menyerah

Pendahuluan
Ada bagian-bagian Alkitab yang membuat kita gemetar ketika membacanya. Hosea adalah salah satunya. Kitab ini memperlihatkan Israel sebagai umat yang telah menerima kasih Allah tetapi terus-menerus berpaling kepada berhala.
Namun di tengah gambaran penghakiman yang begitu serius, Hosea 11:8–11 memperlihatkan sesuatu yang sangat menggetarkan: hati Allah yang berbelas kasih kepada umat-Nya.
Allah bertanya:
“Bagaimana Aku akan menyerah terhadap kamu, hai Efraim, Bagaimana aku akan membuang kamu, hai Israel?”
— Hosea 11:8, AYT
Pertanyaan ini muncul setelah pasal-pasal sebelumnya berulang kali menggambarkan dosa Israel.
Efraim telah memberontak.
Israel mengejar berhala.
Mereka menolak Allah yang telah menyelamatkan mereka.
Namun Allah berkata bahwa hati-Nya bergolak dan belas kasih-Nya menjadi hangat dan lembut.
Inilah salah satu gambaran paling kuat mengenai belas kasih Allah dalam Perjanjian Lama.
Hosea 11:8–11 tidak mengajarkan bahwa Allah mengabaikan dosa. Sebaliknya, bagian ini memperlihatkan ketegangan yang sangat dalam antara kekudusan Allah, penghakiman Allah, kasih perjanjian Allah, dan pemulihan umat-Nya.
Konteks Hosea 11
Untuk memahami Hosea 11:8–11, kita perlu melihat bagian sebelumnya.
Pasal 11 dimulai dengan gambaran Allah sebagai Bapa yang mengasihi anak-Nya:
“Ketika Israel masih kanak-kanak, Aku mengasihi dia, dan dari Mesir Aku memanggil anak-Ku.”
Israel digambarkan sebagai seorang anak.
Allah telah memanggil Israel keluar dari Mesir.
Dia membebaskan mereka dari perbudakan.
Dia memelihara mereka.
Dia mengajar mereka berjalan.
Namun Israel membalas kasih itu dengan berpaling kepada Baal.
Hosea 11:1–7 menggambarkan tragedi hubungan tersebut.
Semakin Allah memanggil, semakin Israel menjauh.
Karena itu, penghakiman menjadi konsekuensi yang layak atas pemberontakan mereka.
Namun kemudian datanglah ayat 8.
Ada perubahan emosional yang luar biasa.
Allah berkata:
“Bagaimana Aku akan menyerah terhadap kamu, hai Efraim...?”
Hosea 11:8 — Hati Allah yang Bergolak
Ayat 8 merupakan salah satu ayat paling indah sekaligus paling misterius dalam kitab Hosea.
Allah menyebut:
- Efraim;
- Israel;
- Adma;
- Zeboim.
Adma dan Zeboim merupakan kota-kota yang mengalami kehancuran bersama Sodom dan Gomora.
Ulangan 29:23 menghubungkan Adma dan Zeboim dengan penghakiman yang dahsyat.
Dengan menyebut kedua kota ini, Hosea sedang menunjukkan betapa seriusnya hukuman yang sebenarnya layak diterima Israel.
Seolah-olah Allah berkata:
“Apakah Aku akan memperlakukan Israel seperti Adma dan Zeboim?”
Jawabannya adalah tidak.
“Bagaimana Aku Akan Menyerah?”
Empat pertanyaan muncul dalam ayat ini.
“Bagaimana Aku akan menyerah terhadap kamu?”
“Bagaimana aku akan membuang kamu?”
“Bagaimana mungkin Aku membuatmu seperti Adma?”
“Bagaimana Aku akan memperlakukanmu seperti Zeboim?”
Pengulangan ini memperlihatkan pergumulan yang sangat intens dalam gambaran antropomorfis tentang hati Allah.
Allah bukan manusia yang kehilangan kendali.
Namun melalui bahasa manusia, Hosea menyampaikan betapa dalam belas kasih Allah terhadap umat perjanjian-Nya.
“Hati-Ku Bergolak”
AYT menerjemahkan:
“Hati-Ku bergolak dalam diri-Ku...”
Bahasa ini menggambarkan gerakan batin yang sangat kuat.
Hati Allah digambarkan tergerak oleh belas kasih.
Ini bukan kelemahan Allah.
Ini bukan berarti Allah berubah-ubah seperti manusia.
Ini adalah cara bahasa Alkitab menyatakan bahwa Allah yang kudus benar-benar memiliki belas kasih terhadap umat-Nya.
Kita harus memegang dua kebenaran sekaligus:
Allah sungguh membenci dosa.
Dan:
Allah sungguh mengasihi umat-Nya.
Keduanya tidak bertentangan.
“Belas Kasihan-Ku Tumbuh Menjadi Hangat dan Lembut”
Frasa ini sangat indah.
Allah tidak sekadar berkata bahwa Dia “tidak jadi menghukum”.
Belas kasih-Nya digambarkan sebagai sesuatu yang menjadi hangat dan lembut.
Dengan demikian, kasih Allah bukan sekadar keputusan administratif.
Ada gambaran relasional.
Allah memperlakukan Israel sebagai umat yang dikasihi-Nya.
Mereka tidak layak mendapatkan kasih itu.
Namun Allah tetap menunjukkan kasih perjanjian-Nya.
Kasih Perjanjian Allah
Di sinilah konsep hesed sangat penting dalam teologi Perjanjian Lama.
Hesed sering diterjemahkan sebagai kasih setia, kasih perjanjian, atau kasih yang penuh loyalitas.
Israel berulang kali tidak setia.
Namun Allah tetap setia terhadap janji-Nya.
Ini bukan berarti Allah mengabaikan dosa.
Justru kesetiaan Allah berarti Dia bertindak konsisten dengan karakter-Nya dan janji perjanjian-Nya.
John Calvin tentang Kesetiaan Allah
John Calvin menekankan bahwa Allah tidak berubah seperti manusia.
Ketika Alkitab menggambarkan Allah dengan bahasa seperti “menyesal”, “murka”, atau “hati yang bergolak”, kita tidak boleh membayangkan Allah mengalami perubahan emosional yang tidak terkendali seperti manusia.
Bahasa tersebut merupakan akomodasi ilahi: Allah berbicara kepada manusia dengan cara yang dapat kita pahami.
Dalam Hosea 11, gambaran hati Allah yang berbelas kasih menyatakan kepastian bahwa kasih dan belas kasih Allah benar-benar bekerja sesuai dengan tujuan-Nya.
Hosea 11:9 — Allah yang Kudus
Ayat 9 memberikan dasar penting:
“Sebab, Aku adalah Allah, dan bukan manusia, Yang Mahakudus di tengah-tengahmu.”
Ini sangat penting.
Allah tidak berkata:
“Aku tidak menghukum karena dosa tidak penting.”
Sebaliknya:
“Aku adalah Allah.”
Keputusan Allah tidak didasarkan pada kelemahan manusia.
Dia adalah Yang Mahakudus.
Kekudusan dan Belas Kasih Tidak Bertentangan
Kita sering berpikir bahwa kekudusan dan kasih berada di dua sisi yang berlawanan.
Namun dalam Alkitab, keduanya berasal dari karakter Allah yang sama.
Allah kudus.
Karena itu Dia membenci dosa.
Allah juga penuh kasih.
Karena itu Dia berbelas kasih kepada orang berdosa.
Salib Kristus kemudian menjadi tempat kedua realitas tersebut bertemu secara paling sempurna.
Di salib, dosa tidak dianggap sepele.
Dosa dihakimi.
Namun orang berdosa yang percaya menerima pengampunan.
“Aku Takkan Melaksanakan Murka-Ku”
Ayat 9 melanjutkan:
“Aku takkan melaksanakan murka-Ku yang menyala-nyala.”
Ini tidak boleh ditafsirkan sebagai pembatalan seluruh penghakiman Israel.
Konteks kitab Hosea jelas menunjukkan bahwa Israel tetap akan mengalami konsekuensi dosa dan pembuangan.
Yang ditekankan di sini adalah bahwa Allah tidak akan memusnahkan Efraim secara total seperti Adma dan Zeboim.
Ada penghakiman.
Namun juga ada pemeliharaan.
Ada disiplin.
Namun juga ada pemulihan.
Penghakiman Bukan Berarti Allah Berhenti Mengasihi
Ini merupakan pelajaran penting.
Kadang kita mengira bahwa jika Allah mendisiplin kita, berarti Dia tidak mengasihi kita.
Padahal Alkitab mengajarkan sebaliknya.
Ibrani 12 menyatakan bahwa Tuhan mendisiplin orang yang dikasihi-Nya.
Disiplin Allah bukan tanda kebencian terhadap umat-Nya.
Disiplin merupakan bagian dari pekerjaan-Nya untuk membawa umat kembali kepada-Nya.
R.C. Sproul tentang Kekudusan Allah
R.C. Sproul dalam The Holiness of God menekankan bahwa kekudusan merupakan inti karakter Allah.
Kita tidak dapat memahami kasih Allah secara benar jika kita memisahkannya dari kekudusan.
Kasih Allah bukan sentimentalitas.
Allah tidak mengasihi dengan cara mengabaikan kejahatan.
Justru karena Dia kudus, kasih-Nya memiliki kedalaman moral yang sempurna.
Hosea 11 menunjukkan bahwa Allah tetap kudus ketika Dia menunjukkan belas kasih.
“Yang Mahakudus di Tengah-Tengahmu”
Ini merupakan ungkapan yang luar biasa.
Allah bukan hanya kudus di surga.
Dia adalah:
“Yang Mahakudus di tengah-tengahmu.”
Allah hadir di tengah umat-Nya.
Ini mengingatkan kita pada tema besar Perjanjian Lama: Allah ingin tinggal di tengah umat-Nya.
Tabernakel.
Bait Allah.
Kehadiran Allah.
Semuanya mengarah kepada kenyataan bahwa umat Allah dipanggil hidup di hadapan-Nya.
Allah Tidak Menjadi Manusia
Allah berkata:
“Aku adalah Allah, dan bukan manusia.”
Apa maksudnya?
Allah tidak bertindak berdasarkan ketidakstabilan manusia.
Manusia dapat membalas kejahatan dengan kejahatan.
Manusia dapat berkata:
“Kalau kamu menyakiti saya, saya akan menghancurkanmu.”
Tetapi Allah memiliki kebijaksanaan dan belas kasih yang sempurna.
Dia tidak dikendalikan oleh impuls dosa.
Arthur Pink dan Atribut Allah
A.W. Pink, dalam pembahasannya mengenai atribut-atribut Allah, menekankan bahwa karakter Allah tidak terpecah-pecah.
Allah bukan sebagian kasih dan sebagian kudus.
Dia sepenuhnya kudus dan sepenuhnya kasih.
Ini membantu kita memahami Hosea 11.
Belas kasih Allah bukan pengurangan terhadap kekudusan-Nya.
Belas kasih itu merupakan ekspresi dari karakter Allah sendiri.
Hosea 11:10 — Allah Mengaum seperti Singa
Ayat 10 membawa gambaran yang berbeda:
“Mereka akan pergi mencari TUHAN; Dia akan mengaum seperti singa.”
Singa adalah simbol kekuatan dan otoritas.
Dalam kitab Hosea, gambaran singa sebelumnya juga digunakan dalam konteks penghakiman.
Namun di sini suara singa memanggil umat.
Ada paradoks.
Suara yang menakutkan justru menjadi suara yang membawa umat kembali.
“Mereka Akan Pergi Mencari TUHAN”
Ini adalah perubahan besar.
Sebelumnya Israel terus menjauh.
Sekarang mereka mencari Tuhan.
Ini adalah gambaran pertobatan.
Perhatikan bahwa gerakan kembali kepada Allah terjadi setelah Allah menyatakan belas kasih dan tindakan-Nya.
Dalam teologi Reformed, pertobatan manusia tidak menjadi dasar bagi anugerah Allah.
Anugerah Allah mendahului dan menghasilkan respons manusia.
Anugerah yang Efektif
Tradisi Reformed berbicara mengenai anugerah yang efektif atau panggilan efektif.
Ketika Allah memanggil umat-Nya kepada keselamatan, panggilan itu menghasilkan respons yang nyata.
Hosea 11:10 menggambarkan umat yang akhirnya kembali mencari Tuhan.
Allah memanggil.
Umat merespons.
Pemulihan dimulai.
John Murray tentang Panggilan Efektif
John Murray menjelaskan bahwa panggilan efektif merupakan karya Allah melalui Roh Kudus yang membawa orang berdosa kepada iman dan pertobatan.
Ini bukan sekadar undangan eksternal.
Allah bekerja di dalam hati.
Hosea 11:10–11 dapat dibaca dalam kerangka yang memperlihatkan bahwa Allah sendiri menggerakkan umat yang sebelumnya memberontak untuk kembali.
Hosea 11:11 — Pulang ke Rumah
Ayat 11 berkata:
“Aku akan mengembalikan mereka ke rumah-rumah mereka.”
Ini adalah gambaran pemulihan.
Israel akan pulang.
Pembuangan bukan kata terakhir.
Penghakiman bukan bab terakhir.
Allah masih memiliki tujuan pemulihan.
Di sinilah tema besar kitab Hosea menjadi sangat kuat:
Allah mendisiplin umat-Nya, tetapi Dia tidak meninggalkan umat-Nya.
Burung-Burung dari Mesir dan Asyur
Allah berkata bahwa mereka akan datang:
“seperti burung-burung dari Mesir dan seperti burung merpati dari tanah Asyur.”
Gambaran burung menekankan gerakan kembali dengan cepat dan terarah.
Mesir dan Asyur mewakili wilayah tempat Israel pernah mengalami ancaman, ketergantungan, dan pembuangan.
Namun Allah akan memanggil mereka pulang.
Pemulihan Israel
Pemulihan yang dijanjikan dalam Hosea tidak boleh dipisahkan dari tema perjanjian.
Allah tidak melupakan janji-Nya.
Israel telah gagal.
Tetapi Allah tetap bekerja sesuai dengan tujuan-Nya.
Ini tidak berarti semua orang Israel secara otomatis diselamatkan.
Alkitab kemudian memperjelas bahwa keselamatan umat Allah mencapai kepenuhannya di dalam karya Mesias.
Hosea dan Kristus
Perjanjian Baru menunjukkan bahwa kisah Hosea memiliki hubungan penting dengan Kristus.
Matius 2:15 mengutip Hosea 11:1:
“Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku.”
Dalam konteks awal, ayat itu berbicara tentang Israel.
Namun Matius melihat penggenapan yang lebih dalam dalam kehidupan Yesus.
Yesus adalah Anak yang sejati.
Israel gagal dalam kesetiaan.
Kristus taat dengan sempurna.
Karena itu, pengharapan Hosea menemukan puncaknya dalam karya Kristus.
Kasih Allah Mencapai Puncaknya di Salib
Hosea 11:8 memperlihatkan hati Allah yang penuh belas kasih.
Perjanjian Baru kemudian memperlihatkan kedalaman kasih itu melalui Kristus.
Di salib, Allah tidak sekadar berkata:
“Aku mengampuni.”
Dia memberikan Anak-Nya.
Kristus menanggung hukuman dosa.
Keadilan Allah ditegakkan.
Kasih Allah dinyatakan.
Inilah pusat Injil.
Herman Bavinck dan Kesatuan Karya Penebusan
Herman Bavinck menekankan kesatuan karya Allah dalam sejarah penebusan.
Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru bukan dua kisah keselamatan yang berbeda.
Ada satu rencana penebusan yang mencapai kepenuhannya dalam Kristus.
Karena itu, belas kasih Allah dalam Hosea harus dilihat dalam terang seluruh sejarah penebusan.
Allah sedang mengerjakan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar menyelamatkan Israel dari satu krisis politik.
Dia sedang mengarahkan sejarah menuju kedatangan Penebus.
Kasih Allah Bukan Kasih yang Lemah
Hosea 11 sering disalahgunakan untuk menggambarkan Allah sebagai Pribadi yang “terlalu baik untuk menghukum”.
Itu bukan gambaran Alkitab.
Allah benar-benar menghukum dosa.
Asyur benar-benar menjadi alat penghakiman.
Israel benar-benar mengalami konsekuensi pemberontakannya.
Namun hukuman bukan kata terakhir.
Kasih Allah bukan kelemahan.
Kasih Allah justru kuat karena mampu menghadapi dosa tanpa kehilangan tujuan penebusan.
Allah yang Tidak Menyerah
Inilah pesan utama Hosea 11:8–11.
Allah tidak menyerah terhadap umat-Nya.
Bukan karena Israel layak.
Bukan karena Israel telah memperbaiki diri.
Bukan karena mereka telah terlebih dahulu bertobat.
Tetapi karena Allah adalah Allah yang setia.
Ini merupakan dasar pengharapan orang percaya.
Jika keselamatan bergantung sepenuhnya pada kesetiaan kita, tidak ada seorang pun yang memiliki pengharapan.
Namun keselamatan bergantung pada kesetiaan Allah.
Teologi Reformed dan Perseverance
Doktrin ketekunan orang-orang kudus mengajarkan bahwa Allah akan memelihara mereka yang telah ditebus-Nya.
Bukan karena orang percaya tidak pernah gagal.
Justru karena mereka gagal dan tetap membutuhkan anugerah.
Allah memelihara melalui:
- firman;
- Roh Kudus;
- doa;
- gereja;
- disiplin;
- penderitaan;
- penghiburan;
- pertobatan.
Semua itu merupakan sarana yang digunakan Allah untuk menyelesaikan pekerjaan-Nya.
Ketika Kita Merasa Allah Jauh
Hosea berbicara kepada orang yang mungkin merasa telah terlalu jauh.
Mungkin Anda telah berulang kali jatuh dalam dosa.
Mungkin Anda malu datang kepada Allah.
Mungkin Anda berpikir:
“Allah pasti sudah menyerah terhadap saya.”
Hosea 11:8 memberikan gambaran yang berbeda.
Allah memanggil umat-Nya kembali.
Jika dosa membuat Anda lari dari Allah, jangan biarkan rasa malu menjadi alasan untuk terus menjauh.
Datanglah dalam pertobatan.
Datanglah kepada Kristus.
Kasih Tidak Menghapus Pertobatan
Namun kita juga tidak boleh menggunakan kasih Allah sebagai alasan untuk tidak bertobat.
Kasih Allah justru memanggil kita pulang.
Jika seorang anak yang tersesat mendengar suara ayahnya memanggil, respons yang benar adalah kembali.
Demikian juga anugerah.
Anugerah tidak berkata:
“Tidak masalah apa pun yang kamu lakukan.”
Anugerah berkata:
“Pulanglah.”
Penerapan Hosea 11:8–11
1. Percayalah pada karakter Allah
Ketika perasaan berubah, karakter Allah tidak berubah.
2. Jangan menganggap disiplin sebagai penolakan
Allah dapat menggunakan disiplin untuk membawa umat-Nya kembali.
3. Bertobatlah ketika Allah memanggil
Jangan mengeraskan hati.
4. Ingat bahwa Allah kudus
Kasih Allah tidak berarti dosa boleh dipelihara.
5. Pandanglah kepada Kristus
Pengharapan pemulihan mencapai kepenuhannya di dalam Kristus.
6. Jangan menyerah terhadap pekerjaan anugerah
Allah sanggup membawa umat-Nya sampai akhir.
Untuk Orang yang Sedang Jatuh
Jika Anda sedang jatuh, jangan berhenti pada rasa bersalah.
Rasa bersalah dapat menjadi pintu menuju pertobatan.
Akui dosa.
Datang kepada Kristus.
Terima pengampunan-Nya.
Bangkit.
Berjalan kembali.
Pekerjaan pengudusan mungkin panjang.
Tetapi panjangnya proses tidak berarti Allah meninggalkan Anda.
Untuk Orang yang Sedang Menunggu Pemulihan
Mungkin Anda sedang menunggu pemulihan keluarga.
Mungkin menunggu seseorang kembali kepada Tuhan.
Mungkin menunggu perubahan dalam gereja.
Mungkin menunggu jawaban doa.
Hosea mengingatkan bahwa Allah bekerja bahkan ketika umat-Nya belum melihat keseluruhan rencana.
Namun kita harus tetap berhati-hati: ayat ini bukan jaminan bahwa Allah akan memenuhi setiap keinginan kita dengan cara yang kita bayangkan.
Pengharapan kita bukan pada hasil yang kita tentukan.
Pengharapan kita pada Allah sendiri.
Untuk Gereja
Gereja dipanggil untuk mencerminkan karakter Allah.
Jika Allah menunjukkan belas kasih kepada umat yang berdosa, gereja tidak boleh menjadi komunitas yang cepat membuang orang yang bertobat.
Namun belas kasih harus berjalan bersama kebenaran.
Gereja harus mampu berkata:
“Dosamu serius.”
Dan sekaligus:
“Kristus cukup untuk mengampunimu.”
Itulah keseimbangan Injil.
Kesimpulan
Hosea 11:8–11 membawa kita masuk ke dalam salah satu gambaran paling mengharukan mengenai belas kasih Allah.
Israel telah memberontak.
Mereka telah meninggalkan Allah.
Mereka layak menerima penghakiman.
Namun Allah berkata:
“Bagaimana Aku akan menyerah terhadap kamu, hai Efraim?”
Hati-Nya bergolak.
Belas kasih-Nya menjadi hangat dan lembut.
Tetapi belas kasih itu tidak menghapus kekudusan-Nya.
Allah tetap berkata:
“Aku adalah Allah, dan bukan manusia, Yang Mahakudus di tengah-tengahmu.”
Di sinilah kita melihat keindahan karakter Allah.
Dia kudus.
Dia adil.
Dia berdaulat.
Dia penuh belas kasih.
Dan Dia setia kepada umat-Nya.
John Calvin menolong kita memahami bahwa bahasa emosional Hosea tidak berarti Allah berubah seperti manusia. R.C. Sproul mengingatkan bahwa kasih Allah harus dipahami dalam terang kekudusan-Nya. A.W. Pink menekankan kesatuan atribut Allah. John Murray membantu kita melihat bahwa Allah sendiri bekerja memanggil dan memulihkan umat-Nya. Herman Bavinck menunjukkan bahwa semuanya bergerak dalam satu rencana penebusan yang akhirnya menemukan kepenuhannya dalam Kristus.
Karena itu, Hosea 11:8–11 bukan sekadar berita bahwa Israel akan dipulihkan.
Ini adalah berita tentang Allah yang tidak meninggalkan pekerjaan penebusan-Nya.
Dan bagi orang percaya, ada pengharapan yang sangat besar.
Ketika kita gagal, Allah tidak kehilangan kendali.
Ketika kita jatuh, pertobatan masih terbuka.
Ketika kita didisiplin, itu bukan berarti Allah membenci kita.
Ketika kita tidak memahami jalan-Nya, Dia tetap setia.
Ketika kita merasa terlalu jauh, suara-Nya masih memanggil:
“Pulanglah.”
Pada akhirnya, seluruh pengharapan ini menunjuk kepada Kristus.
Di dalam Kristus kita melihat kasih Allah yang bukan sekadar kata-kata, tetapi kasih yang memberikan diri-Nya sendiri.
Salib memperlihatkan bahwa Allah tidak menganggap dosa sepele.
Kebangkitan memperlihatkan bahwa anugerah menang.
Dan kedatangan Kristus yang kedua akan menyatakan bahwa pekerjaan penebusan Allah mencapai kesempurnaannya.
Karena itu, jika hari ini Anda sedang bergumul, jangan jadikan kegagalan sebagai kesimpulan terakhir.
Jika Allah telah memulai pekerjaan-Nya, Dia sanggup menyelesaikannya.
Jika Allah memanggil umat-Nya pulang, jangan keraskan hati.
Jika Anda telah tersesat, datanglah kembali.
Jika Anda telah jatuh, bertobatlah.
Jika Anda sedang menderita, berpeganglah kepada Kristus.
Sebab Allah kita bukan Allah yang mudah meninggalkan umat-Nya.
Dia adalah Yang Mahakudus.
Dia juga Allah yang penuh belas kasih.
Dan kasih-Nya tidak pernah bertentangan dengan kekudusan-Nya.
Hosea 11:8–11 mengajarkan kepada kita satu kebenaran yang sangat indah: ketika manusia tidak setia, Allah tetap menjadi Allah yang setia.
Kasih-Nya tidak lemah.
Kekudusan-Nya tidak dingin.
Penghakiman-Nya tidak tanpa tujuan.
Dan belas kasih-Nya tidak pernah kehilangan kekudusan.
Pada akhirnya, Dia memanggil umat-Nya untuk pulang.
Allah belum selesai. Dia masih bekerja. Dan tujuan akhirnya adalah membawa umat-Nya kepada-Nya.