Khotbah Kaum Ibu: Menjadi Penolong yang Seimbang dengan Kehendak Allah (Kejadian 2:18)

Khotbah Kaum Ibu: Menjadi Penolong yang Seimbang dengan Kehendak Allah (Kejadian 2:18)

“Kemudian, TUHAN Allah berfirman, ‘Tidak baik kalau manusia itu sendiri saja. Aku akan membuat baginya, penolong yang sepadan dengannya.’” — Kejadian 2:18 (AYT)

Shalom, ibu-ibu yang dikasihi Tuhan.

Hari ini kita merenungkan satu panggilan yang sangat indah sekaligus penting bagi seorang perempuan, khususnya seorang ibu dan istri: menjadi penolong yang sepadan dengan kehendak Allah.

Ketika mendengar kata “penolong”, kita mungkin langsung berpikir tentang seseorang yang membantu pekerjaan orang lain. Akibatnya, perempuan kadang merasa bahwa menjadi “penolong” berarti berada di posisi kedua, kurang penting, atau hanya bertugas mengikuti orang lain.

Tetapi Kejadian 2:18 memberikan pengertian yang jauh lebih dalam. Allah sendiri yang berinisiatif menciptakan perempuan. Dan ketika Allah berkata, “Aku akan membuat baginya, penolong yang sepadan dengannya,” itu bukanlah perkataan yang merendahkan perempuan. Justru perempuan ditempatkan dalam rancangan Allah yang sempurna untuk menjadi pasangan yang sesuai bagi laki-laki dalam menjalankan mandat Allah.

Karena itu, menjadi penolong bukan berarti menjadi manusia kelas dua. Menjadi penolong adalah panggilan yang diberikan oleh Allah sendiri.

1. Menjadi penolong dimulai dari memahami bahwa Allah adalah Pencipta

Kita perlu kembali kepada konteks Kejadian 1 dan 2.

Sebelum berbicara mengenai peran suami, istri, atau ibu, Alkitab terlebih dahulu memperlihatkan siapa yang berkuasa atas kehidupan manusia: Allah.

Allah menciptakan laki-laki dan perempuan menurut gambar-Nya. Jadi, nilai seorang perempuan tidak ditentukan oleh apakah ia bekerja di kantor atau di rumah, apakah ia memiliki anak atau belum, apakah ia seorang ibu rumah tangga atau seorang profesional.

Nilai seorang perempuan pertama-tama berasal dari fakta bahwa ia adalah ciptaan Allah dan gambar Allah.

Ini sangat penting bagi kaum ibu.

Dunia sering mengukur keberhasilan seorang perempuan berdasarkan penampilan, karier, penghasilan, popularitas, atau pencapaian anak-anaknya. Bahkan di dalam kehidupan gereja pun kita bisa tergoda mengukur diri dengan membandingkan keluarga kita dengan keluarga orang lain.

Tetapi firman Tuhan mengingatkan kita: identitas kita tidak berasal dari pencapaian kita, melainkan dari Allah.

Dalam perspektif Reformed, kita percaya bahwa Allah berdaulat atas seluruh kehidupan. Tidak ada satu bagian pun dari kehidupan kita yang berada di luar pemerintahan-Nya.

Rumah tangga kita berada di bawah kedaulatan Allah. Anak-anak kita berada di bawah kedaulatan Allah. Pernikahan kita berada di bawah kedaulatan Allah. Pekerjaan kita, pelayanan kita, bahkan pergumulan kita juga berada di bawah tangan-Nya.

Maka pertanyaan seorang ibu Kristen bukan pertama-tama, “Bagaimana saya bisa menjadi ibu yang hebat?”

Melainkan:

“Tuhan, bagaimana saya dapat hidup setia kepada kehendak-Mu?”

2. Menjadi penolong berarti menjadi pasangan yang sepadan

Allah berkata, “Aku akan membuat baginya, penolong yang sepadan dengannya.”

Kata “sepadan” menunjukkan bahwa perempuan bukan sekadar pelengkap atau pembantu laki-laki. Ia adalah pasangan yang sesuai, yang memiliki martabat sebagai gambar Allah dan dipanggil untuk bersama-sama menjalankan mandat Allah.

Adam tidak diberikan seorang perempuan supaya Adam dapat hidup sesuka hatinya. Hawa diberikan supaya mereka bersama-sama hidup dalam rancangan Allah.

Ini berarti panggilan seorang istri dan ibu tidak dapat dipisahkan dari kehendak Allah.

Menjadi penolong bukan berarti selalu berkata “iya” kepada suami dalam segala sesuatu tanpa mempertimbangkan firman Tuhan.

Sebaliknya, menjadi penolong yang sepadan berarti membantu suami dan keluarga berjalan semakin dekat kepada Allah.

Kadang seorang ibu harus memberikan dorongan.

Kadang harus memberikan nasihat.

Kadang harus mengingatkan.

Kadang harus menegur dengan kasih.

Kadang harus berkata, “Mari kita pikirkan lagi apakah keputusan ini sesuai dengan firman Tuhan.”

Jadi, keseimbangan bukan berarti pasif. Keseimbangan berarti kita menggunakan hikmat yang Allah berikan untuk mendukung apa yang benar dan menolak apa yang bertentangan dengan kehendak-Nya.

Seorang ibu yang takut akan Tuhan tidak hanya bertanya, “Apa yang membuat keluargaku nyaman?”

Ia juga bertanya:

“Apa yang membuat keluargaku semakin mengenal dan menaati Tuhan?”

3. Menjadi penolong berarti melayani, bukan mengendalikan

Ini merupakan pergumulan yang sangat nyata.

Ada kalanya seorang ibu ingin keluarganya berjalan sesuai dengan apa yang ia pikirkan. Ia ingin suami mengambil keputusan seperti yang ia inginkan. Ia ingin anak-anak mengikuti semua rencananya.

Tanpa disadari, “menolong” dapat berubah menjadi “mengendalikan”.

Padahal panggilan Kristen bukanlah mengendalikan orang lain, tetapi melayani Allah melalui kehidupan kita.

Dalam teologi Reformed, kita memahami bahwa manusia telah jatuh ke dalam dosa. Dosa merusak setiap relasi, termasuk relasi suami dan istri.

Karena itu, kita tidak boleh membaca Kejadian 2:18 seolah-olah kehidupan keluarga otomatis menjadi harmonis setelah perempuan diciptakan.

Kita hidup setelah kejatuhan.

Ada egoisme dalam diri suami. Ada egoisme dalam diri istri. Ada kemarahan, kepahitan, kesombongan, keinginan untuk menang sendiri, dan keinginan untuk mengontrol.

Karena itu kita membutuhkan anugerah Kristus.

Seorang ibu tidak akan mampu menjadi penolong yang benar hanya dengan berusaha lebih keras.

Kita membutuhkan hati yang diperbarui oleh Roh Kudus.

Kita perlu datang kepada Tuhan dan berkata:

“Ya Tuhan, ubahlah hatiku. Ketika aku ingin mengendalikan, ajarlah aku mempercayai-Mu. Ketika aku egois, ajarlah aku melayani. Ketika aku kecewa, berikan aku kasih karunia untuk mengampuni.”

Menjadi penolong yang seimbang bukan terutama persoalan teknik menjadi istri atau ibu yang baik. Ini adalah persoalan hati yang tunduk kepada Kristus.

4. Menjadi penolong berarti membangun keluarga di dalam Tuhan

Ibu-ibu yang dikasihi Tuhan, salah satu pelayanan terbesar seorang ibu sering kali terjadi di tempat yang tidak dilihat banyak orang.

Di dapur.

Di kamar.

Di meja makan.

Ketika menemani anak belajar.

Ketika mengajarkan anak berdoa.

Ketika mengingatkan anak membaca firman Tuhan.

Ketika merawat suami yang sedang sakit.

Ketika menahan emosi dan memilih berbicara dengan lembut.

Dunia mungkin tidak memberikan penghargaan untuk semua itu.

Tetapi Allah melihat.

Jangan pernah menganggap pelayanan kecil sebagai pelayanan yang tidak berarti.

Seorang ibu dapat menjadi alat Tuhan untuk membentuk generasi.

Bukan karena ibu sempurna, tetapi karena Allah bekerja melalui kesetiaan umat-Nya.

Karena itu, jangan hanya berusaha memberikan anak-anak kehidupan yang nyaman. Berusahalah memberikan kepada mereka teladan iman.

Anak-anak mungkin tidak selalu mengingat semua nasihat kita. Tetapi mereka akan melihat bagaimana ibu menghadapi penderitaan. Mereka akan melihat bagaimana ibu meminta maaf. Mereka akan melihat apakah ibu sungguh berdoa ketika menghadapi masalah. Mereka akan melihat apakah firman Tuhan benar-benar menjadi dasar kehidupan keluarga.

Anak-anak perlu melihat bahwa Kristus bukan hanya dibicarakan pada hari Minggu, tetapi dikasihi dan ditaati setiap hari.

5. Menjadi penolong yang seimbang berarti mengenal batas diri

Ada ibu yang merasa harus melakukan semuanya.

Harus menjadi istri yang sempurna.

Harus menjadi ibu yang sempurna.

Harus melayani gereja.

Harus bekerja.

Harus mengurus rumah.

Harus selalu kuat.

Akhirnya ia kelelahan dan kecewa.

Ibu-ibu, kita perlu mengingat bahwa kita adalah makhluk ciptaan, bukan Allah.

Kita memiliki keterbatasan.

Kita tidak mahatahu. Kita tidak mahakuasa. Kita tidak dapat mengontrol masa depan anak-anak kita. Kita tidak dapat memperbaiki semua masalah keluarga kita.

Dan itu bukan kegagalan.

Itu adalah kesempatan untuk belajar bergantung kepada Allah.

Menjadi penolong yang seimbang berarti mengetahui kapan harus bekerja dan kapan harus beristirahat; kapan berbicara dan kapan diam; kapan menolong dan kapan memberikan ruang; kapan menasihati dan kapan menyerahkan persoalan kepada Tuhan.

Keseimbangan bukan berarti semua hal mendapatkan porsi yang sama.

Keseimbangan berarti setiap hal ditempatkan sesuai dengan kehendak Allah.

6. Kristus adalah teladan pelayanan kita

Pada akhirnya, kita tidak dapat berbicara tentang panggilan untuk melayani tanpa melihat kepada Kristus.

Kristus datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan hidup-Nya.

Di dalam Kristus kita melihat bahwa pelayanan bukan tanda kelemahan. Pelayanan adalah ungkapan kasih.

Tetapi ada perbedaan yang sangat besar: kita tidak melayani supaya Allah mengasihi kita.

Kita melayani karena di dalam Kristus kita sudah menerima kasih karunia Allah.

Ini inti Injil.

Seorang ibu tidak perlu membuktikan nilainya melalui keberhasilan keluarganya.

Ia tidak perlu membuktikan dirinya layak dikasihi dengan menjadi sempurna.

Di dalam Kristus, kita menerima pengampunan bagi kegagalan kita, kekuatan bagi kelemahan kita, dan pengharapan bagi hari esok.

Mungkin ada ibu yang hari ini berkata dalam hati:

“Jangan-jangan saya sudah gagal menjadi istri.”

“Jangan-jangan saya terlalu keras kepada anak-anak.”

“Saya sudah terlalu banyak melakukan kesalahan.”

Datanglah kepada Kristus.

Akui dosa kita. Terimalah pengampunan-Nya. Dan dengan pertolongan Roh Kudus, mari kita mulai kembali.

Anugerah Allah tidak membuat kita berhenti bertumbuh. Anugerah Allah justru memampukan kita untuk berubah.

PENUTUP

Ibu-ibu yang dikasihi Tuhan,

Kejadian 2:18 mengingatkan kita bahwa menjadi perempuan, menjadi istri, dan menjadi ibu bukanlah kecelakaan dalam hidup. Ada rancangan Allah di dalamnya.

Allah berkata, “Aku akan membuat baginya, penolong yang sepadan dengannya.”

Maka marilah kita melihat panggilan ini bukan sebagai beban, tetapi sebagai kehormatan.

Jadilah penolong yang membawa suami semakin dekat kepada Tuhan.

Jadilah ibu yang menolong anak-anak mengenal Kristus.

Jadilah perempuan yang menggunakan hikmatnya untuk membangun, bukan menghancurkan.

Jadilah penolong yang berani mengatakan kebenaran dengan kasih.

Jadilah penolong yang melayani tanpa kehilangan identitas di dalam Kristus.

Dan yang paling penting, jangan mencoba menjalankan panggilan ini dengan kekuatan sendiri.

Pandanglah kepada Kristus.

Sebab hanya ketika hati kita terlebih dahulu ditolong dan diubahkan oleh kasih karunia Allah, kita dapat menjadi penolong yang dipakai Allah bagi keluarga dan sesama.

Kiranya setiap ibu di tempat ini dapat berkata:

“Tuhan, pakailah hidupku. Ajarlah aku menjadi penolong yang sepadan, bukan menurut keinginanku sendiri, tetapi menurut kehendak-Mu.”

Amin.

Doa:

Tuhan Allah yang berdaulat, kami bersyukur karena Engkau menciptakan kami dan memberikan setiap kami panggilan dalam kehidupan. Ampunilah kami ketika kami menjalankan peran sebagai istri dan ibu dengan kekuatan dan kehendak kami sendiri. Ajarlah kami untuk hidup menurut firman-Mu. Berikan kami hikmat untuk menjadi penolong yang sepadan, kasih untuk melayani keluarga, kerendahan hati untuk mengakui kesalahan, dan kekuatan untuk menghadapi setiap tanggung jawab. Biarlah rumah tangga kami menjadi tempat di mana Kristus dihormati, firman-Mu ditaati, dan kasih karunia-Mu nyata. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin.

Next Post Previous Post