Kisah Para Rasul 20:6: Setia dalam Perjalanan

Kisah Para Rasul 20:6: Setia dalam Perjalanan

Pendahuluan

Tidak semua ayat Alkitab berisi mukjizat besar, khotbah panjang, atau peristiwa dramatis. Ada ayat-ayat yang tampaknya hanya mencatat perjalanan, tempat, waktu, dan lamanya seseorang tinggal di suatu kota. Namun, justru melalui ayat-ayat seperti Kisah Para Rasul 20:6, kita dapat melihat bagaimana Allah bekerja melalui perjalanan biasa, keputusan pelayanan, kebersamaan umat percaya, dan kesetiaan dalam menjalani panggilan.

Kisah Para Rasul 20:6 berbunyi:

“tetapi kami berlayar dari Filipi sesudah Hari Raya Roti Tidak Beragi, dan datang kepada mereka di Troas dalam 5 hari, di sana kami tinggal selama 7 hari.”

Sekilas, ayat ini tampak sederhana.

Paulus dan rekan-rekannya berangkat dari Filipi. Mereka tiba di Troas setelah lima hari perjalanan laut. Kemudian mereka tinggal di sana selama tujuh hari.

Namun apabila ayat ini dibaca dalam konteks yang lebih luas, kita menemukan sejumlah kebenaran penting mengenai pemeliharaan Allah, perjalanan pelayanan, persekutuan gereja, kesabaran, dan kedaulatan Tuhan atas waktu.

Ayat ini juga menjadi pengantar bagi peristiwa penting dalam Kisah Para Rasul 20, yaitu pertemuan jemaat Troas dan kebangkitan Eutikhus.


Konteks Kisah Para Rasul 20

Kisah Para Rasul 20 mencatat bagian penting dari perjalanan pelayanan Paulus.

Setelah terjadi kerusuhan di Efesus, Paulus melanjutkan perjalanan menuju wilayah Makedonia dan Yunani.

Dalam ayat-ayat sebelumnya, kita melihat Paulus memberikan dorongan kepada murid-murid dan melakukan perjalanan ke berbagai tempat.

Lukas kemudian menyebut beberapa rekan seperjalanan Paulus.

Pada ayat 5, mereka yang mendahului Paulus menunggu di Troas.

Kemudian ayat 6 berkata bahwa Paulus dan rombongannya berlayar dari Filipi.

Ada jeda waktu.

Mereka membutuhkan lima hari untuk mencapai Troas.

Setelah tiba, mereka tinggal selama tujuh hari.

Detail tersebut bukan sekadar catatan perjalanan yang tidak memiliki nilai teologis.

Lukas sedang menunjukkan perkembangan perjalanan misi Paulus menuju tahap berikutnya.


Mengapa Lukas Menyebut “Kami”?

Salah satu detail penting dalam Kisah Para Rasul adalah penggunaan kata “kami”.

Kata ini menunjukkan bahwa Lukas termasuk dalam rombongan perjalanan tersebut.

Dalam bagian-bagian tertentu Kisah Para Rasul, narasi berubah dari “mereka” menjadi “kami”.

Ini sering disebut sebagai we passages, yaitu bagian-bagian yang menggunakan sudut pandang orang pertama jamak.

Kisah Para Rasul 20:6 termasuk salah satunya.

Lukas bukan hanya mendengar laporan tentang perjalanan Paulus.

Ia hadir sebagai bagian dari rombongan.

Hal ini memberikan kesan kuat bahwa narasi tersebut merupakan kesaksian seorang rekan perjalanan.


“Berlayar dari Filipi”

Ayat ini dimulai dengan:

“tetapi kami berlayar dari Filipi...”

Filipi memiliki tempat penting dalam pelayanan Paulus.

Kota ini merupakan salah satu tempat pertama di wilayah Makedonia tempat Injil diberitakan secara intensif.

Dalam Kisah Para Rasul 16, kita menemukan kisah Lidia, pembebasan seorang hamba perempuan dari roh tenung, pemenjaraan Paulus dan Silas, gempa bumi, dan pertobatan kepala penjara.

Gereja Filipi kemudian menjadi salah satu gereja yang sangat dekat dengan Paulus.

Paulus tidak sekadar mengunjungi kota-kota.

Ia membangun hubungan dengan jemaat.

Ia mengajar.

Ia menguatkan.

Ia mendoakan.

Ia melayani.

Dan dalam Kisah Para Rasul 20, kita melihat bahwa hubungan pelayanan tersebut tetap memiliki arti dalam perjalanan Paulus.


“Sesudah Hari Raya Roti Tidak Beragi”

Lukas juga menyebut waktu:

“sesudah Hari Raya Roti Tidak Beragi...”

Hari Raya Roti Tidak Beragi berkaitan dengan perayaan Paskah Yahudi.

Penyebutan ini membantu pembaca memahami kronologi perjalanan Paulus.

Alkitab bukan hanya menyampaikan gagasan rohani secara abstrak.

Kisah Para Rasul terjadi dalam sejarah nyata.

Ada kota yang benar-benar dikunjungi.

Ada perjalanan laut yang benar-benar dilakukan.

Ada waktu tertentu.

Ada orang-orang tertentu.

Ada gereja-gereja nyata.

Ini penting karena iman Kristen berdiri di atas tindakan Allah dalam sejarah.


Iman Kristen Berakar dalam Sejarah

Kekristenan bukan sekadar sistem moral atau kumpulan nasihat spiritual.

Dasarnya adalah tindakan Allah dalam sejarah.

Kristus sungguh datang.

Kristus sungguh mati.

Kristus sungguh bangkit.

Para rasul sungguh memberitakan Injil.

Gereja sungguh bertumbuh.

Paulus sungguh melakukan perjalanan.

Kisah Para Rasul 20:6 menjadi salah satu contoh kecil bahwa karya Allah berlangsung melalui sejarah nyata.


Perjalanan Lima Hari

Lukas mengatakan mereka tiba di Troas:

“dalam 5 hari.”

Perjalanan lima hari mungkin tampak seperti informasi kecil.

Namun ada sesuatu yang dapat kita pelajari.

Perjalanan pelayanan tidak selalu berlangsung cepat.

Mereka membutuhkan waktu.

Ada jarak.

Ada laut.

Ada kondisi perjalanan.

Ada faktor-faktor yang tidak dapat mereka kendalikan.

Paulus memiliki panggilan yang besar, tetapi ia tetap harus melakukan perjalanan langkah demi langkah.


Allah Bekerja Melalui Proses

Kita sering ingin melihat pekerjaan Allah secara instan.

Kita berdoa:

“Tuhan, bukakan jalan sekarang.”

Namun Allah sering bekerja melalui proses.

Satu hari.

Dua hari.

Lima hari.

Bahkan bertahun-tahun.

Kisah Para Rasul 20:6 mengingatkan kita bahwa perjalanan menuju tujuan Allah memiliki proses.

Lima hari perjalanan tidak berarti Allah terlambat.

Mereka sedang berada dalam perjalanan yang telah dipakai Allah untuk membawa Injil ke tempat berikutnya.


Teologi Reformed dan Pemeliharaan Allah

Dalam teologi Reformed, salah satu doktrin penting adalah providensia atau pemeliharaan Allah.

Allah bukan hanya menciptakan dunia lalu meninggalkannya.

Dia menopang dan mengatur segala sesuatu menurut kehendak-Nya yang bijaksana.

Perjalanan Paulus dari Filipi ke Troas berada di bawah pemeliharaan Allah.

Allah bekerja bukan hanya melalui mukjizat yang spektakuler.

Dia juga bekerja melalui:

  • perjalanan;
  • kapal;
  • waktu;
  • pertemuan;
  • keputusan manusia;
  • keadaan geografis;
  • dan proses pelayanan.

Ini merupakan perspektif penting untuk membaca Kisah Para Rasul.


John Calvin dan Pemeliharaan Allah

John Calvin sangat menekankan doktrin pemeliharaan Allah.

Menurut Calvin, Allah bukan penonton pasif terhadap dunia yang Dia ciptakan. Dia terus menopang dan mengarahkan ciptaan-Nya.

Perspektif tersebut menolong kita memahami ayat seperti Kisah Para Rasul 20:6.

Lima hari perjalanan bukan waktu yang terlepas dari Allah.

Hari-hari itu berada di bawah providensia-Nya.

Demikian juga tujuh hari yang mereka habiskan di Troas.

Tidak ada satu hari pun yang berada di luar perhatian Allah.


“Kami Datang kepada Mereka di Troas”

Troas memiliki tempat penting dalam pelayanan Paulus.

Kota ini sebelumnya telah muncul dalam Kisah Para Rasul.

Dalam Kisah Para Rasul 16, Paulus memperoleh penglihatan tentang seorang Makedonia yang berkata:

“Menyeberanglah ke Makedonia dan tolonglah kami.”

Troas menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan Injil dari Asia menuju Eropa.

Sekarang, dalam Kisah Para Rasul 20, Paulus kembali ke Troas.

Ada kontinuitas dalam pelayanan Allah.

Tempat yang pernah menjadi titik keberangkatan misi kini menjadi tempat persekutuan dan pengajaran.


Allah Mengingat Tempat-Tempat Pelayanan

Dalam Alkitab, tempat sering menjadi bagian dari kisah penebusan.

Yerusalem.

Betlehem.

Nazaret.

Kapernaum.

Efesus.

Filipi.

Troas.

Tempat-tempat tersebut menjadi saksi karya Allah.

Namun yang paling penting bukan tempatnya.

Yang penting adalah apa yang Allah kerjakan di sana.

Troas bukan sekadar kota.

Troas menjadi tempat di mana jemaat berkumpul, firman diberitakan, dan sebuah mukjizat terjadi.


“Di Sana Kami Tinggal Selama 7 Hari”

Bagian ini sangat penting.

Mereka tiba di Troas dan:

“di sana kami tinggal selama 7 hari.”

Mengapa tujuh hari?

Kemungkinan besar waktu tersebut berkaitan dengan kesempatan untuk bertemu dengan jemaat pada hari pertama minggu itu.

Kisah Para Rasul 20:7 kemudian mengatakan bahwa pada hari pertama minggu itu, murid-murid berkumpul untuk memecahkan roti.

Dengan demikian, tujuh hari tinggal di Troas memungkinkan Paulus bertemu dengan jemaat.


Pelayanan Membutuhkan Kehadiran

Paulus tidak selalu terburu-buru.

Ia tinggal.

Ia hadir.

Ia bersama jemaat.

Ini memberikan prinsip penting bagi gereja masa kini.

Pelayanan bukan hanya tentang menyampaikan informasi.

Pelayanan juga membutuhkan kehadiran.

Orang membutuhkan seseorang yang mau mendengar.

Orang membutuhkan persekutuan.

Orang membutuhkan penguatan.

Orang membutuhkan teladan.

Paulus tidak hanya datang untuk berkhotbah lalu pergi.

Ia tinggal selama tujuh hari.


Gereja sebagai Komunitas

Kisah Para Rasul menunjukkan bahwa kekristenan tidak pernah dimaksudkan menjadi perjalanan individual semata.

Orang percaya hidup dalam komunitas.

Mereka berkumpul.

Mereka berdoa.

Mereka belajar firman.

Mereka memecahkan roti.

Mereka saling menguatkan.

Mereka melayani.

Troas menunjukkan gambaran gereja sebagai komunitas yang berkumpul di sekitar Kristus dan firman-Nya.


D.A. Carson dan Pentingnya Gereja yang Berpusat pada Firman

Dalam berbagai karya teologisnya, D.A. Carson menekankan pentingnya gereja yang berakar pada firman Allah dan Injil.

Prinsip ini sesuai dengan pola Kisah Para Rasul.

Pertumbuhan gereja bukan terutama dibangun melalui strategi manusia.

Gereja dibangun melalui pemberitaan firman, karya Roh Kudus, doa, dan kehidupan bersama umat Allah.

Paulus datang ke Troas bukan sekadar untuk membangun reputasi pribadi.

Ia datang untuk melayani tubuh Kristus.


John Stott dan Misi Gereja

John Stott dalam berbagai tulisannya mengenai Kisah Para Rasul menekankan bahwa misi gereja berpusat pada kesaksian tentang Kristus dalam kuasa Roh Kudus.

Kisah Para Rasul 20:6 memperlihatkan sisi lain dari misi tersebut.

Misi memang membutuhkan perjalanan.

Tetapi misi juga membutuhkan komunitas.

Paulus pergi dari satu tempat ke tempat lain, tetapi ia tidak bekerja sendirian.

Ada rekan pelayanan.

Ada jemaat.

Ada orang-orang yang mendukung pelayanan.


Paulus Tidak Sendirian

Perhatikan konteks ayat 4–6.

Lukas menyebut sejumlah rekan Paulus:

Sopater.

Aristarkhus.

Sekundus.

Gayus.

Timotius.

Tikhikus.

Trofimus.

Kemudian Lukas sendiri menggunakan “kami”.

Ini menunjukkan bahwa pelayanan Paulus merupakan pelayanan bersama.

Memang Paulus memiliki panggilan khusus sebagai rasul.

Namun ia tidak menjalankan pelayanan seorang diri.

Ini merupakan pelajaran penting bagi gereja.

Pelayanan yang sehat membutuhkan kerja sama.


Perspektif Teologi Reformed tentang Pelayanan Bersama

Teologi Reformed sangat menekankan gereja sebagai tubuh Kristus.

Kristus adalah Kepala.

Setiap orang percaya memiliki tempat dan fungsi.

Tidak ada seorang pelayan pun yang menjadi pusat gereja.

Kristuslah pusatnya.

Paulus dapat menjadi tokoh besar dalam sejarah gereja, tetapi dia tetap bekerja bersama orang lain.

Ini menolong kita menghindari kultus individu dalam pelayanan.


Sinclair Ferguson dan Kehidupan dalam Tubuh Kristus

Sinclair Ferguson sering menekankan bahwa kehidupan Kristen tidak dapat dipisahkan dari kehidupan dalam tubuh Kristus.

Kita dipersatukan dengan Kristus dan karena itu dipersatukan dengan umat-Nya.

Kisah Para Rasul 20:6 menunjukkan realitas tersebut secara praktis.

Paulus bepergian bersama orang lain.

Ia bertemu jemaat.

Ia tinggal bersama mereka.

Pelayanan bukan pertunjukan satu orang.

Pelayanan adalah kehidupan tubuh Kristus.


Lima Hari dan Tujuh Hari

Ada kontras menarik dalam ayat ini.

Mereka menempuh perjalanan selama lima hari.

Kemudian tinggal di Troas selama tujuh hari.

Ini menunjukkan dua jenis aktivitas:

bergerak dan berhenti.

Keduanya penting.

Ada waktu untuk pergi.

Ada waktu untuk tinggal.

Ada waktu untuk bergerak menuju tujuan.

Ada waktu untuk berhenti dan melayani orang-orang di sekitar kita.


Tidak Semua Penundaan adalah Hambatan

Banyak orang menganggap penundaan sebagai masalah.

Namun dari perspektif providensia Allah, penundaan dapat menjadi kesempatan.

Mungkin Paulus ingin melanjutkan perjalanan secepat mungkin.

Namun tujuh hari di Troas memberi kesempatan bagi persekutuan jemaat.

Kemudian peristiwa Eutikhus terjadi.

Apa yang tampak sebagai “berhenti” ternyata menjadi bagian dari karya Allah.

Karena itu, ketika hidup kita mengalami penundaan, kita tidak selalu harus menganggapnya sebagai kegagalan.

Mungkin Allah sedang mengerjakan sesuatu yang belum kita lihat.


Tuhan Berdaulat atas Waktu

Kita sering menginginkan jadwal kita sendiri.

Kita berkata:

“Seharusnya ini sudah terjadi.”

“Seharusnya saya sudah sampai.”

“Seharusnya masalah ini sudah selesai.”

Namun Tuhan tidak tunduk kepada jadwal kita.

Dia memiliki waktu-Nya sendiri.

Lima hari perjalanan.

Tujuh hari di Troas.

Semua berada dalam providensia Allah.


Kisah Para Rasul 20:6 dan Kesabaran

Kesabaran merupakan salah satu buah Roh.

Namun kesabaran sering dibentuk melalui situasi yang memerlukan kita menunggu.

Jika semua berjalan cepat, kita mungkin tidak belajar menunggu.

Perjalanan Paulus mengingatkan kita bahwa panggilan Allah tidak selalu berarti jalan yang cepat.

Kadang-kadang kita harus menempuh perjalanan yang panjang.

Kadang-kadang kita harus menunggu.

Kadang-kadang kita harus tinggal di suatu tempat lebih lama daripada yang kita inginkan.

Tetapi Tuhan tetap bekerja.


Kisah Para Rasul 20:6 dan Kesetiaan

Paulus menunjukkan kesetiaan bukan hanya dalam peristiwa besar.

Kesetiaan juga terlihat dalam perjalanan sehari-hari.

Berlayar.

Berjalan.

Bertemu jemaat.

Mengajar.

Menunggu.

Berdoa.

Melanjutkan perjalanan.

Sebagian besar pelayanan terdiri dari hal-hal yang tampaknya biasa.

Namun kesetiaan dalam hal biasa sangat berharga di hadapan Allah.


Charles Spurgeon tentang Kesetiaan dalam Perkara Kecil

Spurgeon berkali-kali menekankan pentingnya kesetiaan dalam kehidupan Kristen.

Tidak semua orang dipanggil untuk melakukan sesuatu yang terkenal.

Tidak semua orang akan dikenal.

Tetapi setiap orang percaya dipanggil untuk setia.

Kisah Para Rasul 20:6 memberi gambaran bahwa pekerjaan besar Injil terdiri dari banyak langkah kecil.

Perjalanan lima hari adalah bagian dari misi.

Tinggal tujuh hari adalah bagian dari misi.

Tidak ada langkah yang terlalu kecil jika dilakukan dalam ketaatan kepada Allah.


Kristus sebagai Pusat Perjalanan

Kisah Para Rasul bukan terutama kitab tentang Paulus.

Ini adalah kitab tentang karya Kristus melalui Roh Kudus.

Kristus telah bangkit.

Kristus mengutus para rasul.

Roh Kudus memberikan kuasa.

Gereja bertumbuh.

Injil bergerak.

Paulus menjadi alat.

Karena itu, kita harus berhati-hati agar tidak membaca Kisah Para Rasul sekadar sebagai kisah kepahlawanan manusia.

Paulus bukan pahlawan utama.

Kristus adalah pusatnya.


Dari Filipi ke Troas: Injil Terus Bergerak

Ada pola besar dalam Kisah Para Rasul:

Injil bergerak.

Dari Yerusalem.

Ke Yudea.

Ke Samaria.

Sampai ke ujung bumi.

Perjalanan Paulus merupakan bagian dari gerakan tersebut.

Filipi bukan tujuan akhir.

Troas bukan tujuan akhir.

Perjalanan terus berlangsung.

Ini menggambarkan sifat misioner Injil.

Injil tidak dimaksudkan untuk berhenti di satu tempat.


Gereja Dipanggil untuk Bergerak

Gereja harus memiliki keseimbangan.

Ada waktu untuk berkumpul.

Ada waktu untuk pergi.

Ada waktu untuk belajar.

Ada waktu untuk memberitakan.

Ada waktu untuk menerima pengajaran.

Ada waktu untuk mengutus.

Kisah Para Rasul 20:6 menunjukkan gereja yang bergerak dalam misi Allah.


Penerapan bagi Orang Percaya

1. Percayalah pada pemeliharaan Allah

Perjalanan hidup Anda tidak berada di luar kendali Tuhan.

2. Bersabarlah terhadap proses

Lima hari perjalanan mengingatkan bahwa tujuan Allah tidak selalu dicapai secara instan.

3. Jangan meremehkan waktu menunggu

Tujuh hari di Troas menjadi bagian penting dari pelayanan.

4. Hargai persekutuan gereja

Paulus tidak hidup dan melayani sendirian.

5. Gunakan waktu untuk melayani

Jika Tuhan menempatkan kita di suatu tempat, tanyakan apa yang dapat dilakukan bagi kemuliaan-Nya.

6. Jangan membangun pelayanan di sekitar diri sendiri

Kristus adalah Kepala gereja.

7. Tetap setia dalam perjalanan

Tidak semua bagian panggilan terasa spektakuler.

Tetaplah setia.


Ketika Jalan Terasa Lambat

Mungkin Anda sedang berada dalam fase hidup yang terasa lambat.

Doa belum terjawab.

Pekerjaan belum berubah.

Pelayanan belum berkembang.

Rencana belum terwujud.

Kisah Para Rasul 20:6 memberikan pengingat sederhana:

perjalanan yang lambat tidak berarti Tuhan tidak bekerja.

Paulus membutuhkan lima hari untuk sampai ke Troas.

Tidak ada indikasi bahwa lima hari tersebut adalah kegagalan.

Mereka sedang bergerak.

Kadang-kadang itulah yang perlu kita lakukan.

Terus bergerak dalam ketaatan.


Ketika Tuhan Meminta Kita Tinggal

Ada juga masa ketika Tuhan meminta kita berhenti.

Mungkin kita ingin pindah.

Mungkin kita ingin segera mendapatkan kesempatan baru.

Mungkin kita ingin mengakhiri sebuah musim.

Tetapi Tuhan menempatkan kita untuk tinggal.

Jangan buru-buru menganggapnya sia-sia.

Paulus tinggal tujuh hari di Troas.

Dan dari tinggal tersebut lahirlah kesempatan pelayanan yang sangat berarti.

Mungkin tempat yang ingin kita tinggalkan justru tempat di mana Tuhan sedang mengajar kita sesuatu.


Kesimpulan

Kisah Para Rasul 20:6 mungkin tampak seperti ayat sederhana tentang perjalanan:

Paulus dan rekan-rekannya berlayar dari Filipi setelah Hari Raya Roti Tidak Beragi, menempuh perjalanan lima hari menuju Troas, lalu tinggal di sana selama tujuh hari.

Namun di balik catatan sederhana ini terdapat kebenaran teologis yang dalam.

Allah bekerja melalui perjalanan biasa.

Allah berdaulat atas waktu.

Allah menggunakan proses.

Allah memakai komunitas.

Allah mengatur pertemuan.

Allah memakai penundaan.

Dan Allah terus menggerakkan Injil menuju tujuan-Nya.

Perspektif teologi Reformed mengenai providensia sangat menolong kita memahami hal tersebut. Allah tidak kehilangan kendali ketika perjalanan menjadi lambat. Dia tidak berhenti bekerja ketika kita harus menunggu. Dia tidak meninggalkan kita ketika kita berada dalam fase yang tampaknya biasa.

Lima hari perjalanan Paulus tetap berada dalam tangan Tuhan.

Tujuh hari di Troas juga berada dalam tangan Tuhan.

Demikian pula hidup kita.

Kita mungkin tidak mengetahui apa yang Tuhan kerjakan di balik setiap perjalanan, penundaan, pertemuan, atau perubahan rencana.

Namun kita dapat mempercayai Pribadi yang memegang semuanya.

Paulus tidak mengetahui seluruh detail masa depan.

Ia hanya setia melangkah.

Begitu juga kita.

Jangan takut terhadap perjalanan yang panjang. Jangan meremehkan masa menunggu. Jangan menganggap musim biasa sebagai musim yang sia-sia.

Jika kita berada di dalam kehendak Allah, setiap langkah dapat menjadi bagian dari karya-Nya.

Dan yang terutama, Kisah Para Rasul 20:6 mengingatkan bahwa perjalanan umat Allah tidak pernah berdiri sendiri.

Di balik perjalanan Paulus ada Kristus yang telah bangkit.

Di balik pelayanan para rasul ada Roh Kudus.

Di balik pertumbuhan gereja ada tangan Allah.

Maka ketika perjalanan hidup kita terasa tidak jelas, kita dapat berkata:

“Tuhan, aku mungkin tidak mengetahui seluruh jalannya, tetapi aku percaya kepada-Mu yang memegang jalan itu.”

Kesetiaan bukan berarti kita selalu mengetahui tujuan berikutnya.

Kesetiaan berarti kita terus berjalan ketika Tuhan memanggil kita berjalan, terus tinggal ketika Tuhan meminta kita tinggal, dan terus percaya ketika kita belum memahami seluruh rencana-Nya.

Lima hari menuju Troas dan tujuh hari di Troas bukan sekadar catatan perjalanan. Itu adalah pengingat bahwa Allah bekerja melalui setiap langkah.

Kiranya kita memiliki iman untuk mempercayai-Nya dalam perjalanan kita sendiri.

Next Post Previous Post