The Divine Origin of the Bible
Pendahuluan
Mengapa orang Kristen percaya bahwa Alkitab adalah firman Allah?
Pertanyaan ini sangat mendasar. Sebab, jika Alkitab hanya merupakan kumpulan tulisan manusia, maka otoritasnya pada akhirnya bergantung pada penilaian manusia. Namun jika Alkitab benar-benar berasal dari Allah, maka sikap kita terhadap Alkitab tidak dapat disamakan dengan sikap kita terhadap buku biasa.
Alkitab bukan sekadar literatur keagamaan. Alkitab adalah firman Allah yang diberikan melalui manusia yang dipakai-Nya.
Salah satu teks terpenting mengenai asal ilahi Kitab Suci adalah 2 Timotius 3:16:
“Semua Kitab Suci dinapasi oleh Allah dan bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan, dan untuk mendidik dalam kebenaran.”
— 2 Timotius 3:16, AYT
Ayat ini menjadi salah satu fondasi utama doktrin inspirasi Kitab Suci.
Paulus tidak hanya mengatakan bahwa Alkitab mengandung perkataan yang baik. Dia mengatakan bahwa Kitab Suci memiliki asal yang berkaitan langsung dengan Allah.
Karena itu, ketika kita berbicara mengenai The Divine Origin of the Bible, kita sedang membahas pertanyaan yang sangat penting:
Dari mana sebenarnya Alkitab berasal?
Jawaban Alkitab adalah: Allah adalah sumber ilahi Kitab Suci.
Konteks 2 Timotius 3:16
Surat 2 Timotius merupakan surat Paulus kepada Timotius pada masa pelayanan Paulus yang penuh tekanan.
Paulus mengetahui bahwa pelayanan Timotius akan menghadapi tantangan besar.
Akan muncul manusia yang jahat.
Akan muncul penyesat.
Akan ada orang yang menolak kebenaran.
Karena itu, Timotius membutuhkan fondasi yang kokoh.
Paulus tidak mengarahkan Timotius untuk membangun pelayanan berdasarkan popularitas, filsafat, atau kecerdikan manusia.
Dia mengarahkan Timotius kepada Kitab Suci.
Ayat 14 berkata agar Timotius tetap berpegang pada apa yang telah dipelajarinya.
Kemudian ayat 15 menyebut Kitab Suci yang dapat memberikan hikmat kepada seseorang menuju keselamatan melalui iman dalam Kristus Yesus.
Barulah ayat 16 memberikan dasar:
Kitab Suci berasal dari Allah dan berguna untuk membentuk umat Allah.
“Semua Kitab Suci”
Paulus memulai dengan:
“Semua Kitab Suci...”
Ini menunjukkan cakupan yang luas.
Paulus tidak sedang berbicara hanya mengenai beberapa ayat tertentu yang dianggap “diilhami”.
Kitab Suci sebagai keseluruhan memiliki karakter ilahi.
Dalam konteks langsungnya, Paulus terutama merujuk kepada Kitab Suci yang telah dikenal Timotius sejak masa kecilnya, terutama tulisan-tulisan Perjanjian Lama.
Namun prinsip yang sama kemudian diterapkan oleh gereja kepada tulisan-tulisan apostolik Perjanjian Baru.
Perjanjian Baru sendiri menunjukkan bahwa tulisan para rasul diperlakukan sebagai otoritatif.
“Dinapasi oleh Allah”
Inilah inti ayat.
AYT menerjemahkan:
“dinapasi oleh Allah.”
Dalam bahasa Yunani terdapat kata theopneustos.
Kata ini secara harfiah berkaitan dengan sesuatu yang “dinafaskan Allah”.
Istilah ini sangat penting dalam doktrin inspirasi.
Paulus tidak mengatakan bahwa para penulis Alkitab mengalami inspirasi seperti seorang penyair yang tiba-tiba memperoleh ide.
Dia sedang berbicara mengenai asal ilahi Kitab Suci.
Alkitab berasal dari Allah.
Inspirasi Bukan Sekadar Inspirasi Artistik
Ketika kita mengatakan seseorang “terinspirasi”, biasanya kita maksudkan bahwa seseorang mendapatkan motivasi atau gagasan kreatif.
Seorang musisi terinspirasi.
Seorang penulis terinspirasi.
Seorang seniman terinspirasi.
Namun inspirasi Alkitab jauh lebih dalam.
Dalam doktrin Kristen, inspirasi berarti bahwa Allah bekerja sedemikian rupa sehingga Kitab Suci yang ditulis melalui manusia memiliki otoritas sebagai firman-Nya.
Karena itu, Alkitab memiliki dua dimensi:
asal ilahi dan sarana manusiawi.
Allah adalah sumbernya.
Manusia adalah penulis yang dipakai-Nya.
Allah Menggunakan Penulis Manusia
Penting untuk tidak membayangkan inspirasi sebagai Allah mendikte setiap kata kepada para penulis seperti seorang atasan mendikte surat kepada sekretaris.
Kitab Suci memperlihatkan kepribadian para penulis.
Paulus memiliki gaya tertentu.
Yohanes memiliki gaya tertentu.
Lukas memiliki gaya tertentu.
Mazmur memiliki karakter sastra yang berbeda.
Kitab Amsal berbeda dari Injil.
Kitab Wahyu berbeda dari Roma.
Namun keragaman tersebut tidak menghancurkan inspirasi ilahi.
Sebaliknya, Allah bekerja melalui pribadi, bahasa, latar belakang, dan kemampuan penulis manusia.
John Calvin dan Inspirasi Kitab Suci
John Calvin memberikan tempat yang sangat tinggi kepada Kitab Suci.
Dalam Institutes of the Christian Religion, Calvin menjelaskan bahwa Kitab Suci memiliki otoritas karena Allah sendiri adalah sumbernya.
Bagi Calvin, gereja tidak membuat Alkitab menjadi firman Allah.
Gereja menerima dan mengakui Kitab Suci karena Kitab Suci memang memiliki otoritas ilahi.
Ini merupakan prinsip penting dalam teologi Reformed:
Alkitab tidak menjadi firman Allah karena gereja mengesahkannya.
Sebaliknya, gereja tunduk kepada firman Allah.
Kesaksian Roh Kudus
Calvin juga sangat menekankan kesaksian internal Roh Kudus.
Mengapa seseorang dapat yakin bahwa Alkitab adalah firman Allah?
Bukan semata-mata karena bukti eksternal, walaupun bukti tersebut memiliki nilai.
Keyakinan terdalam berasal dari pekerjaan Roh Kudus yang menerangi hati orang percaya sehingga ia mengenali suara Allah dalam Kitab Suci.
Ini tidak berarti iman Kristen anti-rasional.
Justru akal manusia memiliki tempat.
Namun dosa telah memengaruhi kemampuan manusia untuk mengenali kebenaran rohani secara benar.
Karena itu, kita membutuhkan karya Roh Kudus.
B.B. Warfield dan Inspirasi Verbal Plenary
B.B. Warfield merupakan salah satu teolog Reformed yang sangat penting dalam pembahasan inspirasi Alkitab.
Warfield menekankan konsep verbal plenary inspiration.
“Verbal” berarti inspirasi berkaitan dengan kata-kata Kitab Suci.
“Plenary” berarti inspirasi berlaku secara penuh terhadap seluruh Kitab Suci.
Dengan demikian, inspirasi bukan hanya berlaku terhadap gagasan umum Alkitab.
Allah tidak hanya memberikan “ide” kepada penulis.
Kitab Suci yang tertulis memiliki otoritas sampai pada perkataannya.
Namun ini tidak berarti bahwa penulis manusia kehilangan kepribadian atau gaya mereka.
Allah bekerja melalui mereka.
Herman Bavinck dan Asal Ilahi serta Manusiawi
Herman Bavinck dalam Reformed Dogmatics memberikan perhatian besar terhadap hubungan antara aspek ilahi dan manusiawi dalam wahyu.
Bavinck menolak pemahaman yang memisahkan kedua unsur tersebut secara ekstrem.
Kitab Suci sungguh merupakan firman Allah.
Namun Kitab Suci juga sungguh ditulis melalui manusia dalam sejarah.
Musa menulis sebagai Musa.
Daud menulis sebagai Daud.
Yesaya menulis sebagai Yesaya.
Paulus menulis sebagai Paulus.
Allah tidak perlu menghapus kepribadian manusia untuk menyampaikan firman-Nya.
Justru kedaulatan Allah mencakup penggunaan manusia sebagai alat-Nya.
Louis Berkhof: Inspirasi Organik
Dalam Systematic Theology, Louis Berkhof membahas inspirasi dengan menekankan bahwa proses tersebut tidak boleh dipahami sebagai penghilangan aktivitas penulis manusia.
Konsep yang sering digunakan dalam teologi Reformed adalah inspirasi organik.
Allah bekerja melalui kemampuan, karakter, pendidikan, lingkungan, dan pengalaman para penulis.
Namun Roh Kudus menjaga proses tersebut sehingga hasil akhirnya adalah Kitab Suci yang memiliki otoritas ilahi.
Ini sangat penting.
Jika inspirasi dipahami secara mekanis, kita mungkin membayangkan para penulis hanya sebagai alat pasif.
Tetapi jika inspirasi dipahami secara organik, kita melihat bahwa Allah bekerja melalui pribadi manusia tanpa kehilangan tujuan-Nya.
R.C. Sproul dan Otoritas Alkitab
R.C. Sproul sangat menekankan hubungan antara inspirasi dan otoritas.
Jika Alkitab berasal dari Allah, maka Alkitab memiliki otoritas Allah.
Ini berarti orang Kristen tidak datang kepada Alkitab sebagai hakim.
Kita datang sebagai orang yang sedang dihakimi oleh firman.
Kita tidak memiliki hak untuk menerima hanya bagian yang kita sukai.
Kita tidak dapat berkata:
“Saya setuju dengan ayat ini, tetapi tidak dengan ayat itu.”
Jika Allah berbicara, respons yang tepat adalah tunduk.
Mengapa Asal Ilahi Menentukan Otoritas?
Bayangkan seorang manusia menulis:
“Lakukan ini.”
Pernyataan tersebut hanya memiliki otoritas tertentu.
Tetapi jika Allah berkata:
“Lakukan ini,”
maka persoalannya berubah.
Otoritas berasal dari siapa yang berbicara.
Karena itu, pertanyaan mengenai inspirasi tidak hanya akademis.
Jika Allah adalah sumber Kitab Suci, maka Alkitab memiliki otoritas atas gereja dan kehidupan manusia.
2 Timotius 3:16 dan Kecukupan Alkitab
Paulus kemudian mengatakan bahwa Kitab Suci:
“bermanfaat untuk mengajar...”
Ini menunjukkan kecukupan Kitab Suci untuk fungsi yang Allah tetapkan.
Alkitab memberikan dasar bagi pengajaran yang benar.
Alkitab menyatakan kesalahan.
Alkitab memperbaiki kehidupan.
Alkitab mendidik dalam kebenaran.
Dengan demikian, Kitab Suci bukan hanya buku untuk dibaca pada hari Minggu.
Kitab Suci membentuk seluruh kehidupan umat Allah.
“Untuk Mengajar”
Pertama, Kitab Suci berguna untuk mengajar.
Ini berkaitan dengan doktrin.
Gereja membutuhkan pengajaran yang benar mengenai:
Allah.
Manusia.
Dosa.
Keselamatan.
Kristus.
Roh Kudus.
Gereja.
Akhir zaman.
Tanpa Kitab Suci, gereja mudah membangun doktrin berdasarkan spekulasi manusia.
Tetapi Kitab Suci menjadi standar kebenaran.
“Untuk Menyatakan Kesalahan”
Firman Allah juga memiliki fungsi korektif.
Alkitab tidak selalu mengatakan apa yang ingin kita dengar.
Kadang-kadang firman Allah menyingkapkan dosa kita.
Ini adalah salah satu alasan manusia berdosa tidak selalu menyukai Alkitab.
Firman Allah seperti cermin.
Ia memperlihatkan kondisi hati kita.
Ketika Kitab Suci menyatakan kita salah, tujuan Allah bukan menghancurkan kita.
Tujuannya adalah membawa kita kepada pertobatan dan kebenaran.
“Untuk Memperbaiki Kelakuan”
Firman Allah bukan hanya menunjukkan kesalahan.
Ia juga memperbaiki.
Ini penting.
Kekristenan bukan hanya mengetahui apa yang salah.
Kita dipanggil untuk berubah.
Firman Allah memberikan arah bagi perubahan tersebut.
Jika seseorang mengetahui doktrin yang benar tetapi hidup dalam dosa tanpa pertobatan, ada sesuatu yang salah.
Kebenaran harus membentuk kehidupan.
“Untuk Mendidik dalam Kebenaran”
Kata “mendidik” menggambarkan proses pembentukan.
Pertumbuhan rohani tidak terjadi dalam satu malam.
Orang percaya perlu terus-menerus dibentuk oleh firman.
Hari demi hari.
Tahun demi tahun.
Firman membentuk cara berpikir.
Kemudian cara berpikir membentuk cara hidup.
Karena itu, gereja yang sehat adalah gereja yang terus berada di bawah otoritas Kitab Suci.
Kitab Suci dan Keselamatan
Ayat 15 mengatakan bahwa Kitab Suci dapat memberikan hikmat yang membawa kepada keselamatan melalui iman dalam Kristus Yesus.
Ini sangat penting.
Tujuan utama Alkitab bukan sekadar memberi informasi.
Alkitab mengarahkan kita kepada Kristus.
Perjanjian Lama menantikan Dia.
Injil menyatakan Dia.
Surat-surat menjelaskan karya-Nya.
Wahyu menunjukkan kemenangan-Nya.
Seluruh Kitab Suci memiliki kesatuan dalam rencana penebusan Allah.
Kristus adalah Pusat Kitab Suci
Teologi Reformed menolak membaca Alkitab hanya sebagai kumpulan prinsip moral.
Alkitab bukan sekadar:
“Jadilah seperti Daud.”
“Jadilah seperti Daniel.”
“Jadilah seperti Yusuf.”
Pada tingkat yang lebih dalam, Kitab Suci menunjukkan kebutuhan manusia akan Penebus.
Daud tidak sempurna.
Musa tidak sempurna.
Petrus tidak sempurna.
Paulus pun tidak sempurna.
Tetapi Kristus sempurna.
Karena itu, membaca Alkitab harus membawa kita kepada Injil.
Inspirasi dan Ketidakbersalahan
Jika Allah adalah sumber Kitab Suci, maka muncul pertanyaan mengenai kesalahan.
Apakah firman Allah dapat salah?
Teologi Reformed secara historis menjawab bahwa Kitab Suci dalam naskah aslinya adalah benar dan dapat dipercaya dalam segala sesuatu yang diajarkannya.
Ini dikenal dengan doktrin inerransi.
Bukan berarti setiap salinan manuskrip modern bebas dari variasi tekstual.
Ada perbedaan penyalinan dalam tradisi manuskrip.
Namun variasi tersebut tidak membatalkan doktrin inspirasi.
Kita membedakan antara naskah asli yang diilhami dan sejarah transmisi manuskrip.
Mengapa Ini Penting?
Jika Alkitab dapat salah dalam hal yang diajarkannya, maka fondasi iman menjadi tidak stabil.
Kita akan terus bertanya:
Bagian mana yang benar?
Bagian mana yang salah?
Siapa yang menentukan?
Akhirnya manusia menjadi hakim atas Kitab Suci.
Tetapi doktrin inspirasi mengembalikan posisi yang benar.
Allah berbicara, dan gereja mendengar.
Otoritas Alkitab di Atas Gereja
Dalam tradisi Reformed dikenal prinsip:
Sola Scriptura.
Ini bukan berarti “Alkitab satu-satunya sumber pengetahuan yang mungkin”.
Sola Scriptura berarti Kitab Suci memiliki otoritas tertinggi dan menjadi norma final bagi iman dan kehidupan gereja.
Tradisi gereja memiliki nilai.
Pengakuan iman memiliki nilai.
Konsili gereja memiliki nilai.
Teologi memiliki nilai.
Namun semuanya harus tunduk kepada Kitab Suci.
Bahaya Menempatkan Manusia di Atas Firman
Ketika budaya menjadi standar tertinggi, gereja akan menyesuaikan Alkitab dengan budaya.
Ketika pengalaman menjadi standar tertinggi, gereja akan menyesuaikan doktrin dengan pengalaman.
Ketika filsafat menjadi standar tertinggi, gereja akan menyesuaikan iman dengan filsafat.
Tetapi prinsip Reformed mengatakan:
Firman Allah menjadi standar yang mengoreksi semuanya.
Bukan Alkitab yang harus disesuaikan dengan manusia.
Manusialah yang harus dibentuk oleh Alkitab.
The Divine Origin of the Bible
Apa yang sebenarnya dimaksud dengan “The Divine Origin of the Bible”?
Artinya bahwa asal fundamental Kitab Suci bukanlah sekadar kreativitas manusia.
Manusia menulis.
Tetapi Allah bekerja melalui manusia.
Manusia menggunakan bahasa.
Tetapi Allah menyatakan kebenaran-Nya.
Manusia hidup dalam sejarah.
Tetapi Allah mengarahkan sejarah penebusan.
Manusia memiliki gaya sastra yang berbeda.
Tetapi Roh Kudus memastikan bahwa wahyu yang diberikan mencapai tujuan Allah.
Dengan demikian, Alkitab sekaligus merupakan kitab yang sangat manusiawi dalam bentuknya dan benar-benar ilahi dalam asal serta otoritasnya.
Bagaimana Seharusnya Kita Membaca Alkitab?
Jika Alkitab berasal dari Allah, cara kita membacanya harus berubah.
Kita tidak datang hanya untuk mencari motivasi.
Kita tidak datang hanya untuk menemukan ayat yang cocok dengan masalah kita.
Kita datang untuk mendengar Allah berbicara melalui firman-Nya.
Kita bertanya:
Apa yang teks ini katakan?
Apa maksud penulis?
Bagaimana konteksnya?
Apa yang teks ini nyatakan mengenai Allah?
Bagaimana teks ini berhubungan dengan Kristus?
Apa yang harus saya percayai?
Apa yang harus saya ubah?
Apa yang harus saya lakukan?
Aplikasi Praktis
1. Bacalah Alkitab dengan hormat
Anda sedang membaca firman Allah.
2. Bacalah secara teratur
Pertumbuhan membutuhkan makanan rohani yang terus-menerus.
3. Jangan hanya mencari ayat favorit
Biarkan seluruh Kitab Suci membentuk pikiran Anda.
4. Izinkan firman mengoreksi Anda
Jangan hanya mencari konfirmasi.
5. Pelajari konteks
Jangan mengambil ayat keluar dari maksudnya.
6. Baca dengan Kristus sebagai pusat
Kitab Suci membawa kita kepada karya penebusan Allah dalam Kristus.
7. Berdoa memohon penerangan Roh Kudus
Kita membutuhkan pertolongan Allah untuk memahami dan menerapkan firman-Nya.
Kesimpulan
The Divine Origin of the Bible bukan sekadar topik tentang bagaimana Alkitab ditulis.
Ini adalah pertanyaan tentang siapa yang berbicara melalui Alkitab.
2 Timotius 3:16 memberikan jawaban yang sangat jelas:
“Semua Kitab Suci dinapasi oleh Allah...”
Alkitab memiliki asal ilahi.
Allah adalah sumbernya.
Namun Dia menyatakan firman-Nya melalui penulis manusia yang nyata, dalam bahasa manusia, dalam sejarah manusia, melalui berbagai bentuk sastra.
Inilah keajaiban inspirasi.
John Calvin menekankan otoritas ilahi Kitab Suci dan kesaksian Roh Kudus.
B.B. Warfield menolong gereja memahami inspirasi verbal dan penuh.
Herman Bavinck menunjukkan bagaimana unsur ilahi dan manusiawi tidak perlu dipertentangkan.
Louis Berkhof menjelaskan inspirasi secara organik, sehingga kepribadian penulis manusia tetap digunakan Allah.
R.C. Sproul mengingatkan bahwa jika Allah berbicara, manusia harus tunduk.
Semua ini membawa kita kepada satu kesimpulan penting:
Alkitab bukan buku yang harus kita kuasai sebelum kita menaati-Nya. Alkitab adalah firman Allah yang memiliki otoritas atas kita.
Karena itu, doktrin inspirasi seharusnya menghasilkan bukan hanya perdebatan akademis, tetapi penyembahan dan ketaatan.
Jika Allah benar-benar berbicara melalui Kitab Suci, kita harus mendengarkan.
Jika Alkitab benar-benar berasal dari Allah, kita harus mempercayainya.
Jika Alkitab benar-benar berotoritas, kita harus tunduk kepadanya.
Jika Alkitab benar-benar membawa kita kepada Kristus, kita harus datang kepada Kristus.
Dan jika firman Allah diberikan untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik dalam kebenaran, maka kita tidak boleh hanya membaca Alkitab untuk memperoleh informasi.
Kita harus membiarkan Alkitab membentuk hidup kita.
Pada akhirnya, keyakinan bahwa Alkitab berasal dari Allah membawa kita kepada sebuah sikap sederhana:
“Tuhan, berbicaralah melalui firman-Mu. Ajarlah aku, tegurlah aku, ubahlah aku, dan tuntunlah aku hidup dalam kebenaran-Mu.”
Sebab firman yang berasal dari Allah tidak diberikan kepada kita hanya untuk dikagumi.
Firman itu diberikan untuk dipercayai, diberitakan, ditaati, dan dihidupi.
