Kisah Para Rasul 20:32: Firman yang Membangun dan Menjaga Gereja
.jpg)
Pendahuluan
Kisah Para Rasul 20:32 merupakan salah satu ayat yang sangat kuat mengenai kecukupan firman Allah dalam kehidupan gereja. Paulus sedang menyampaikan pesan perpisahan kepada para penatua jemaat Efesus. Ia tahu bahwa setelah kepergiannya, berbagai tantangan akan muncul. Namun, Paulus tidak menyerahkan gereja kepada strategi manusia, popularitas seorang pemimpin, atau kekuatan organisasi. Ia menyerahkan mereka kepada Allah dan firman kasih karunia-Nya.
Ayat ini berkata:
“Dan sekarang aku menyerahkan kamu kepada Tuhan dan kepada firman kasih karunia-Nya, yang berkuasa membangun kamu dan menganugerahkan kepada kamu bagian yang ditentukan bagi semua orang yang telah dikuduskan-Nya.”
Pernyataan tersebut memiliki kedalaman teologis yang luar biasa. Gereja dapat kehilangan seorang pelayan, tetapi gereja tidak pernah kehilangan Gembala Agungnya. Seorang rasul dapat pergi, seorang pendeta dapat meninggal, seorang pemimpin dapat digantikan, tetapi Allah tetap memelihara umat-Nya melalui firman-Nya.
Dalam perspektif Reformed, Kisah Para Rasul 20:32 berbicara tentang setidaknya tiga kebenaran besar: kedaulatan Allah, kecukupan firman kasih karunia, dan pemeliharaan Allah terhadap umat pilihan-Nya.
Konteks Kisah Para Rasul 20:32
Kisah Para Rasul 20 mencatat perjalanan Paulus menuju Yerusalem. Dalam perjalanan tersebut Paulus memanggil para penatua jemaat Efesus untuk bertemu dengannya di Miletus.
Paulus tidak datang untuk memberikan program gereja yang baru. Ia justru memberikan semacam pidato perpisahan. Ia mengingatkan bagaimana ia telah melayani Tuhan dengan kerendahan hati, air mata, penderitaan, pemberitaan Injil, dan pengajaran yang tidak ditahannya dari mereka.
Pada ayat 28 Paulus memberikan tanggung jawab serius kepada para penatua:
“Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan...”
Kemudian ayat 29–30 memperingatkan bahwa setelah Paulus pergi akan muncul serigala-serigala ganas dan bahkan dari antara para penatua sendiri akan muncul orang-orang yang mengajarkan ajaran sesat.
Dalam konteks seperti inilah ayat 32 menjadi sangat penting.
Paulus tidak berkata, “Saya telah mengajar kalian, maka kalian akan baik-baik saja.”
Ia berkata:
“Aku menyerahkan kamu kepada Tuhan dan kepada firman kasih karunia-Nya.”
Dengan demikian, masa depan gereja tidak bergantung pada keberadaan Paulus. Masa depan gereja berada di dalam tangan Allah.
1. “Aku Menyerahkan Kamu kepada Tuhan”
Kata “menyerahkan” berasal dari kata Yunani παρατίθημι (paratithēmi), yang memiliki pengertian menyerahkan, mempercayakan, atau menempatkan seseorang dalam penjagaan pihak lain.
Ini merupakan bahasa kepercayaan.
Paulus sadar bahwa dirinya tidak mampu terus-menerus mengawasi gereja Efesus. Ia akan pergi. Bahkan ia tidak mengetahui secara pasti apa yang akan terjadi terhadap dirinya.
Namun ada sesuatu yang ia ketahui dengan pasti:
Allah sanggup menjaga gereja-Nya.
Ini merupakan prinsip penting dalam teologi Reformed. Gereja bukan milik pendeta. Gereja bukan milik majelis. Gereja bukan milik denominasi. Gereja adalah milik Kristus.
Paulus sebelumnya berkata dalam Kisah Para Rasul 20:28 bahwa gereja telah diperoleh Allah dengan darah-Nya sendiri. Karena itu, seorang pelayan Tuhan harus memiliki kerendahan hati untuk menyadari bahwa ia hanyalah hamba.
John Calvin melihat pemeliharaan Allah sebagai karya aktif Allah dalam mempertahankan ciptaan dan mengarahkan segala sesuatu menuju tujuan-Nya. Dalam kerangka tersebut, gereja tidak berjalan secara kebetulan. Allah sendiri bekerja memelihara umat-Nya.
Ini memberikan penghiburan yang sangat besar.
Ketika seorang pemimpin pergi, pelayanan tetap berjalan.
Ketika seorang pendeta pensiun, Kristus tetap memerintah.
Ketika seorang teolog meninggal, kebenaran Allah tidak ikut mati.
Ketika sebuah generasi berlalu, firman Tuhan tetap tinggal.
Gereja tidak bergantung kepada umur seorang manusia. Gereja bergantung kepada Allah yang hidup.
2. “Dan kepada Firman Kasih Karunia-Nya”
Bagian kedua ayat ini sangat penting:
“kepada firman kasih karunia-Nya.”
Paulus bukan hanya menyerahkan jemaat kepada Tuhan secara abstrak. Ia juga menunjuk kepada sarana konkret yang digunakan Tuhan untuk membangun gereja, yaitu firman-Nya.
Istilah “firman” di sini berasal dari λόγος (logos).
Sedangkan “kasih karunia” adalah χάρις (charis).
Dengan demikian, firman yang dimaksud bukan sekadar kumpulan informasi religius. Firman tersebut adalah berita tentang kasih karunia Allah yang dinyatakan dalam Injil.
Paulus telah memberitakan kasih karunia itu kepada jemaat Efesus.
Ia tidak mengarahkan mereka kepada kemampuan moral manusia. Ia tidak mengatakan bahwa keselamatan dapat dicapai melalui usaha manusia. Ia memberitakan kasih karunia Allah.
Di sinilah prinsip sola gratia menjadi sangat jelas.
Manusia diselamatkan bukan karena prestasi rohaninya, tetapi karena kasih karunia Allah.
3. Firman Bukan Sekadar Informasi
Dalam banyak konteks modern, Alkitab dapat diperlakukan seperti buku referensi.
Orang membaca Alkitab untuk memperoleh informasi tentang sejarah Israel, doktrin, etika, atau budaya kuno.
Tetapi Kisah Para Rasul 20:32 memperlihatkan bahwa firman Allah melakukan sesuatu.
Firman itu:
“berkuasa membangun kamu.”
Dengan kata lain, firman memiliki fungsi transformatif.
Firman tidak hanya memberitahu manusia mengenai Allah.
Firman membawa manusia semakin mengenal Allah, semakin percaya kepada-Nya, semakin kudus, dan semakin kuat dalam iman.
John Stott, dalam pembahasannya mengenai Kisah Para Rasul, menekankan bahwa Paulus mempercayakan para penatua kepada Allah dan kepada firman kasih karunia karena firman itulah instrumen Allah untuk menjaga dan membangun umat-Nya.
Ini sejalan dengan prinsip Reformasi:
Sola Scriptura.
Alkitab bukan berarti satu-satunya sumber segala informasi tentang kehidupan, tetapi Alkitab adalah otoritas tertinggi dan final dalam perkara iman dan kehidupan Kristen.
Gereja tidak dibangun terutama oleh kreativitas manusia.
Gereja dibangun oleh Allah melalui firman-Nya.
4. “Yang Berkuasa Membangun Kamu”
Kata “membangun” berasal dari οἰκοδομέω (oikodomeō).
Secara harfiah kata ini berhubungan dengan pembangunan sebuah rumah.
Paulus menggunakan gambaran konstruksi untuk menggambarkan kehidupan rohani.
Gereja adalah bangunan rohani yang sedang dibangun.
Pertanyaannya:
Siapa yang membangun gereja?
Dalam perspektif Reformed, jawabannya adalah Allah.
Pelayan memberitakan.
Guru mengajar.
Gembala menggembalakan.
Jemaat mendengarkan.
Tetapi Allah yang memberikan pertumbuhan.
Prinsip ini telah muncul sebelumnya dalam tulisan Paulus:
“Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.”
Karena itu, seorang pelayan Tuhan tidak boleh menganggap dirinya sebagai fondasi gereja.
Kristus adalah fondasi.
Firman adalah instrumen.
Allah adalah pembangun.
5. Gereja Dibangun oleh Firman, Bukan Sekadar Program
Kebenaran ini sangat relevan bagi gereja masa kini.
Program dapat berguna.
Teknologi dapat berguna.
Media sosial dapat berguna.
Strategi komunikasi dapat berguna.
Manajemen organisasi dapat berguna.
Namun semuanya tidak dapat menggantikan firman Allah.
Sebuah gereja mungkin memiliki musik yang luar biasa tetapi miskin firman.
Sebuah gereja mungkin memiliki gedung yang megah tetapi tidak memiliki pengajaran yang sehat.
Sebuah gereja mungkin mempunyai banyak kegiatan tetapi tidak menghasilkan kedewasaan rohani.
Kisah Para Rasul 20:32 mengarahkan gereja kembali kepada fondasi yang benar:
firman kasih karunia Allah.
R.C. Sproul berkali-kali menekankan pentingnya otoritas dan kekudusan firman Allah bagi kehidupan gereja. Jika otoritas Alkitab dilemahkan, gereja akhirnya akan membangun kehidupan berdasarkan penilaian manusia.
Teologi Reformed menolak gagasan bahwa gereja dapat menjadi sehat tanpa tunduk kepada firman.
6. Firman Menghasilkan Kedewasaan Rohani
“Berkuasa membangun kamu” bukan hanya berarti membuat jemaat menjadi lebih besar secara jumlah.
Pertumbuhan gereja dalam perspektif Alkitab jauh lebih dalam daripada statistik.
Gereja yang dibangun firman akan bertumbuh dalam:
- pengenalan akan Allah;
- iman;
- kekudusan;
- kasih;
- ketekunan;
- ketaatan;
- pengharapan;
- kemampuan membedakan ajaran benar dan sesat.
Efesus adalah konteks yang menarik karena Paulus justru memperingatkan tentang guru-guru palsu.
Karena itu, firman tidak hanya menghibur.
Firman juga melindungi.
Firman memberikan kemampuan kepada jemaat untuk membedakan kebenaran dan kesalahan.
John Owen, salah satu teolog Puritan yang sangat berpengaruh dalam tradisi Reformed, menekankan karya Roh Kudus dalam menerangi pikiran orang percaya melalui firman. Roh Kudus tidak membawa manusia menjauh dari firman, tetapi membawa manusia semakin memahami dan menaati firman.
7. “Dan Menganugerahkan Kepada Kamu Bagian”
Ayat ini kemudian mengatakan bahwa firman Allah:
“menganugerahkan kepada kamu bagian yang ditentukan bagi semua orang yang telah dikuduskan-Nya.”
Di sini terdapat dimensi eskatologis.
Allah bukan hanya membangun orang percaya untuk kehidupan sekarang.
Allah sedang mempersiapkan mereka menuju warisan kekal.
Istilah “bagian” atau warisan mengingatkan kita pada konsep κληρονομία (klēronomia), yaitu inheritance atau warisan.
Warisan ini bukan sesuatu yang diperoleh karena manusia layak.
Warisan adalah pemberian.
Kembali terlihat prinsip kasih karunia.
Orang percaya menerima bagian karena Allah memberikan bagian tersebut.
8. “Semua Orang yang Telah Dikuduskan-Nya”
Bagian terakhir ayat ini sangat kaya secara soteriologis:
“semua orang yang telah dikuduskan-Nya.”
Kata “dikuduskan” berasal dari ἁγιάζω (hagiazō).
Dalam pengertian dasar, kata tersebut berarti menjadikan kudus, mengkhususkan, atau memisahkan bagi Allah.
Perhatikan bahwa Paulus tidak berbicara mengenai sekelompok elite rohani.
Ia mengatakan:
“semua orang.”
Ini penting.
Keselamatan dan warisan Allah bukan hanya untuk rasul, pendeta, teolog, atau pemimpin gereja.
Semua umat Allah yang telah dikuduskan-Nya menerima bagian tersebut.
9. Kedaulatan Allah dalam Keselamatan
Perspektif Reformed sangat menekankan bahwa keselamatan pada akhirnya berasal dari inisiatif Allah.
Manusia tidak menyelamatkan dirinya sendiri.
Allah memanggil.
Allah membenarkan.
Allah menguduskan.
Allah memelihara.
Allah menyempurnakan.
Kisah Para Rasul 20:32 menggunakan bahasa yang sangat sesuai dengan kerangka tersebut:
Allah menguduskan umat-Nya dan memberikan warisan kepada mereka.
John Calvin dalam Institutes of the Christian Religion menjelaskan bahwa keselamatan manusia sepenuhnya berakar pada karya anugerah Allah. Bahkan ketika manusia memberikan respons iman, iman itu sendiri tidak boleh dipandang sebagai prestasi manusia yang menjadi dasar keselamatan.
Dengan demikian, keselamatan tidak berdiri di atas kemampuan manusia mempertahankan dirinya.
Keselamatan berdiri di atas kesetiaan Allah.
10. Allah Memelihara Gereja Setelah Paulus Pergi
Ini mungkin merupakan salah satu pesan terpenting ayat ini.
Paulus pergi.
Tetapi gereja tetap ada.
Mengapa?
Karena Allah tetap ada.
Konteks Kisah Para Rasul 20 membuat hal tersebut sangat jelas. Paulus memperingatkan tentang bahaya yang akan datang. Ia mengetahui bahwa gereja akan menghadapi ancaman.
Tetapi ia tidak menyerah kepada ketakutan.
Ia mempercayakan gereja kepada Allah.
Inilah doktrin providensia atau pemeliharaan Allah.
Allah bukan hanya menciptakan gereja.
Allah juga memeliharanya.
Bavinck, dalam Reformed Dogmatics, menjelaskan providensia Allah sebagai karya Allah yang terus-menerus mempertahankan dan mengarahkan ciptaan-Nya. Tidak ada bagian kehidupan gereja yang berada di luar pemerintahan Allah.
11. Firman Kasih Karunia Melawan Ajaran Sesat
Jangan abaikan hubungan antara ayat 32 dengan ayat 29–30.
Paulus mengatakan bahwa serigala-serigala ganas akan masuk ke tengah-tengah jemaat.
Bahkan akan muncul orang-orang yang berbicara tentang hal-hal yang menyimpang untuk menarik murid-murid mengikutinya.
Perhatikan kata:
“menarik murid-murid mengikutinya.”
Ajaran palsu sering kali tidak berhenti pada kesalahan doktrinal.
Tujuannya adalah memindahkan kesetiaan umat dari Kristus kepada manusia.
Karena itu, solusi Paulus bukanlah kultus pribadi kepada dirinya.
Ia justru berkata:
“Aku menyerahkan kamu kepada Tuhan dan kepada firman kasih karunia-Nya.”
Seorang pelayan yang sehat tidak membuat jemaat bergantung kepadanya.
Ia membuat jemaat semakin bergantung kepada Kristus.
12. Calvin dan Prinsip Kecukupan Firman
Dalam teologi Calvin, firman Allah memiliki posisi sentral dalam kehidupan gereja.
Allah menyatakan diri-Nya melalui firman dan Roh Kudus bekerja melalui firman tersebut.
Ini penting karena kita dapat jatuh ke dalam dua ekstrem.
Pertama, kita dapat mengandalkan manusia terlalu besar.
Kedua, kita dapat berbicara mengenai Roh Kudus seolah-olah Ia bekerja tanpa firman.
Kisah Para Rasul 20:32 menyatukan keduanya:
Tuhan dan firman kasih karunia-Nya.
Roh Kudus tidak bertentangan dengan firman.
Roh Kudus bekerja melalui firman untuk membangun umat Allah.
13. Matthew Henry: Firman sebagai Sarana Pertumbuhan
Matthew Henry melihat ayat ini sebagai tindakan Paulus mempercayakan jemaat kepada Allah dan sarana kasih karunia yang telah Allah tetapkan.
Ini menunjukkan bahwa umat Tuhan membutuhkan pemeliharaan terus-menerus.
Seseorang tidak cukup hanya mengalami pertobatan.
Ia harus terus dibangun.
Iman harus terus dipelihara.
Karakter harus terus dikuduskan.
Karena itu, gereja membutuhkan pemberitaan firman bukan hanya pada saat evangelisasi, tetapi sepanjang kehidupannya.
14. J.I. Packer dan Kecukupan Firman
Dalam semangat teologi Reformed yang sangat kuat, J.I. Packer menempatkan pengenalan akan Allah sebagai pusat kehidupan Kristen.
Pengenalan tersebut bukan hasil spekulasi manusia.
Allah menyatakan diri-Nya.
Karena itu, firman menjadi sarana utama manusia mengenal siapa Allah, siapa manusia, apa dosa, apa keselamatan, dan bagaimana hidup dalam kekudusan.
Kisah Para Rasul 20:32 mengingatkan bahwa gereja yang sehat harus menjadi gereja yang terus-menerus berada di bawah firman.
15. Aplikasi bagi Gereja Masa Kini
Kisah Para Rasul 20:32 memberikan sejumlah aplikasi praktis.
Pertama, jangan membangun gereja di atas seorang tokoh.
Pelayan Tuhan dapat berubah.
Kristus tidak berubah.
Kedua, jangan takut menghadapi pergantian kepemimpinan.
Allah tetap memegang gereja-Nya.
Ketiga, pusatkan pelayanan pada firman.
Program harus melayani firman, bukan menggantikannya.
Keempat, hargai pengajaran doktrinal.
Jemaat yang tidak mengenal firman mudah diseret oleh ajaran yang salah.
Kelima, jangan memisahkan kasih karunia dari kebenaran.
Firman yang benar membawa manusia kepada kasih karunia Allah.
Keenam, teruslah bertumbuh.
Orang percaya tidak pernah selesai dibangun selama masih hidup di dunia.
16. Ketika Pemimpin Pergi, Kristus Tetap Memimpin
Ada sesuatu yang sangat indah dalam teks ini.
Paulus pergi.
Tetapi Paulus tidak berkata:
“Jangan khawatir, saya akan tetap mengontrol semuanya dari jauh.”
Ia justru melepaskan mereka.
Ini adalah gambaran kepemimpinan Kristen yang sehat.
Pemimpin tidak menciptakan ketergantungan.
Pemimpin membawa umat kepada Kristus.
Pada akhirnya, seorang pendeta harus dapat berkata:
“Saya mungkin tidak selalu bersama kalian, tetapi Tuhan akan tetap bersama kalian.”
Itulah keyakinan iman.
Gereja tidak hidup karena seorang manusia.
Gereja hidup karena Kristus.
17. Firman yang Membangun Adalah Firman Kasih Karunia
Kita perlu memperhatikan bahwa Paulus tidak hanya berkata “firman.”
Ia berkata:
“firman kasih karunia-Nya.”
Ini berarti pusat pemberitaan gereja harus selalu kembali kepada Injil.
Firman harus memperlihatkan:
- kekudusan Allah;
- keberdosaan manusia;
- ketidakmampuan manusia menyelamatkan dirinya;
- karya penebusan Kristus;
- pembenaran oleh iman;
- pengudusan oleh Roh Kudus;
- pengharapan akan kemuliaan.
Dengan demikian, firman membangun bukan dengan membuat manusia semakin membanggakan diri, tetapi dengan membuat manusia semakin bergantung kepada kasih karunia.
Semakin kita memahami kasih karunia, semakin kita menyadari bahwa seluruh kehidupan Kristen adalah anugerah.
Kesimpulan: Serahkan Gereja kepada Tuhan
Kisah Para Rasul 20:32 adalah ayat tentang kepercayaan kepada Allah dan kecukupan firman-Nya.
Paulus pergi.
Tetapi firman tetap tinggal.
Paulus tidak lagi hadir secara fisik.
Tetapi Tuhan tetap hadir.
Para penatua akan menghadapi serigala-serigala ganas.
Tetapi mereka memiliki firman kasih karunia.
Gereja akan menghadapi perubahan zaman.
Tetapi Kristus tetap menjadi Kepala Gereja.
Karena itu, pesan Kisah Para Rasul 20:32 bagi gereja masa kini sangat sederhana tetapi mendalam:
Jangan terlalu percaya kepada manusia. Percayalah kepada Tuhan. Jangan meninggalkan firman. Berdirilah di atas kasih karunia.
Firman Allah bukan hanya memberikan informasi mengenai keselamatan. Firman itu adalah alat yang dipakai Allah untuk membangun, menguduskan, menjaga, menguatkan, dan membawa umat-Nya menuju warisan kekal.
Inilah penghiburan besar bagi setiap gereja dan setiap pelayan Tuhan.
Kita dapat pergi.
Generasi dapat berganti.
Gedung dapat berubah.
Strategi dapat berubah.
Teknologi dapat berubah.
Tetapi Allah tidak berubah dan firman-Nya tetap untuk selama-lamanya.
Maka gereja yang sehat bukanlah gereja yang paling bergantung kepada pemimpinnya, melainkan gereja yang semakin bergantung kepada Tuhan dan firman kasih karunia-Nya.
Dan di situlah letak pengharapan gereja sepanjang zaman: Kristus sendiri memelihara umat-Nya melalui firman-Nya sampai mereka menerima bagian yang telah disediakan bagi semua orang yang telah dikuduskan-Nya.