Yesus , Allah yang Perkasa

Kristus, Allah yang Perkasa

Pendahuluan

Ada sebuah pertanyaan yang tidak dapat dihindari ketika kita berbicara tentang Yesus Kristus: Siapakah Dia sebenarnya? Apakah Ia hanya seorang guru moral yang agung? Seorang nabi? Seorang manusia yang memiliki hubungan khusus dengan Allah? Ataukah Ia sungguh-sungguh Allah yang datang ke dalam dunia?

Iman Kristen historis memberikan jawaban yang tegas: Yesus Kristus adalah Allah yang sejati dan manusia yang sejati. Ia bukan sekadar manusia yang dipakai Allah. Ia adalah Sang Anak yang kekal, satu hakikat dengan Bapa, yang mengambil natur manusia untuk menyelamatkan umat-Nya.

Dalam perspektif teologi Reformed, pengakuan ini bukan sekadar doktrin yang berada di ruang kelas teologi. Keilahian Kristus merupakan fondasi Injil. Jika Yesus bukan Allah yang sejati, maka pengharapan keselamatan orang percaya kehilangan dasar yang kokoh. Tetapi karena Kristus adalah Allah yang perkasa, karya keselamatan-Nya memiliki kuasa dan kepastian yang sempurna.

“Allah yang Perkasa”: Sebuah Gelar bagi Mesias

Salah satu teks Perjanjian Lama yang sangat penting adalah Yesaya 9:6. Berbicara mengenai Anak yang akan diberikan kepada umat Allah, nabi Yesaya menyatakan bahwa nama-Nya disebut “Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.”

Gelar “Allah yang Perkasa” bukan sekadar bahasa puitis untuk mengatakan bahwa Mesias memiliki kuasa yang besar. Gelar tersebut menunjuk kepada identitas ilahi Sang Anak yang akan datang.

Di sinilah kita melihat keindahan wahyu Alkitab: Anak yang lahir bagi umat manusia bukan sekadar seorang pemimpin politik atau pahlawan rohani. Ia adalah Allah yang Perkasa.

Perjanjian Baru kemudian memperlihatkan penggenapan pengharapan ini dalam pribadi Yesus Kristus. Yohanes membuka Injilnya bukan dengan kisah kelahiran Yesus, melainkan dengan kekekalan-Nya: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” (Yohanes 1:1).

Firman itu kemudian menjadi manusia.

Dengan demikian, Natal bukan sekadar kisah tentang seorang bayi yang lahir di Betlehem. Natal adalah berita tentang Allah yang datang menjadi manusia.

Kristus Tidak Mulai Ada di Betlehem

Salah satu kesalahan besar dalam memahami Yesus adalah menganggap keberadaan-Nya dimulai ketika Maria mengandung Dia.

Dalam iman Reformed, kita mengakui keberadaan kekal Sang Anak. Yesus tidak menjadi Anak Allah ketika Ia lahir dari Maria. Ia adalah Anak Allah sejak kekekalan. Inkarnasi bukan awal keberadaan-Nya, melainkan tindakan Sang Anak yang kekal mengambil natur manusia.

Karena itu, ketika Yohanes mengatakan bahwa Firman adalah Allah dan kemudian Firman menjadi manusia (Yohanes 1:1, 14), kita berhadapan dengan sebuah misteri besar: Allah Anak mengambil natur manusia tanpa berhenti menjadi Allah.

Kristus tetap Allah sepenuhnya dan menjadi manusia sepenuhnya.

Inilah yang kemudian dirumuskan gereja dalam pengakuan Kristologi ortodoks: Kristus memiliki dua natur, ilahi dan manusia, dalam satu pribadi. Ia bukan setengah Allah dan setengah manusia. Ia sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia.

Mengapa hal ini penting?

Karena keselamatan membutuhkan seorang Juruselamat yang benar-benar Allah dan benar-benar manusia.

Sebagai manusia, Kristus dapat berdiri di tempat manusia dan menanggung hukuman dosa. Sebagai Allah, nilai dan kuasa karya-Nya tidak terbatas. Salib bukan pengorbanan seorang martir biasa. Salib adalah karya Sang Anak Allah yang menyerahkan diri-Nya bagi umat-Nya.

Allah yang Perkasa Datang untuk Menyelamatkan

Teologi Reformed sangat menekankan bahwa keselamatan adalah karya Allah dari awal sampai akhir.

Manusia berdosa bukan hanya membutuhkan sedikit perbaikan moral. Masalah manusia jauh lebih dalam: dosa telah merusak relasi manusia dengan Allah dan membuat manusia membutuhkan anugerah yang menyelamatkan.

Karena itu, keselamatan tidak mungkin bergantung pada kemampuan manusia untuk memperbaiki dirinya sendiri.

Di sinilah Kristus menjadi pusat Injil.

Kristus datang bukan sekadar untuk memberikan contoh kehidupan yang baik. Ia datang untuk melakukan apa yang tidak mampu dilakukan manusia berdosa. Ia menjalani kehidupan yang sempurna, menaati kehendak Allah, menderita, mati di kayu salib, dan bangkit dari antara orang mati.

Dalam bahasa Reformed, karya Kristus sering dijelaskan melalui konsep ketaatan aktif dan ketaatan pasif-Nya. Sepanjang hidup-Nya, Kristus menaati hukum Allah secara sempurna. Dalam penderitaan dan kematian-Nya, Ia menanggung hukuman yang seharusnya diterima oleh umat-Nya.

Karena itu, keselamatan orang percaya bukan dibangun di atas prestasinya sendiri.

Dasarnya adalah Kristus.

Bukan “seberapa baik saya telah hidup,” melainkan “seberapa sempurna Kristus telah menyelesaikan karya-Nya.”

Kristus Berdaulat atas Seluruh Ciptaan

Keilahian Kristus juga terlihat dari hubungan-Nya dengan ciptaan.

Kolose 1:15-20 memberikan gambaran yang sangat tinggi mengenai Kristus. Paulus menyatakan bahwa segala sesuatu diciptakan di dalam Dia, melalui Dia, dan untuk Dia. Kristus ada terlebih dahulu dari segala sesuatu, dan segala sesuatu ada di dalam Dia.

Ini berarti Yesus bukan bagian dari ciptaan.

Ia adalah Pencipta.

Perbedaan ini sangat penting. Jika segala sesuatu diciptakan oleh Kristus, maka Kristus tidak termasuk dalam kategori makhluk yang diciptakan. Ia berada di sisi Sang Pencipta.

Paulus bahkan mengatakan bahwa seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia (Kolose 1:19).

Dengan demikian, ketika kita menyembah Yesus, kita tidak sedang memberikan penghormatan berlebihan kepada seorang manusia. Kita sedang menyembah Tuhan.

Kristus bukan hanya Raja atas sebagian kehidupan kita. Ia adalah Tuhan atas seluruh ciptaan.

Pekerjaan kita, keluarga kita, tubuh kita, pikiran kita, gereja kita, masa depan kita, bahkan sejarah dunia berada di bawah pemerintahan-Nya.

“Mighty God” dan Kedaulatan Kristus

Di sinilah teologi Reformed membawa pengakuan “Jesus is a Mighty God” kepada implikasi yang lebih luas.

Jika Kristus adalah Allah yang perkasa, maka tidak ada wilayah kehidupan yang berada di luar pemerintahan-Nya.

Kedaulatan Kristus bukan teori abstrak. Ia adalah penghiburan bagi orang percaya.

Kita hidup dalam dunia yang sering terlihat kacau. Ada penderitaan, kehilangan, ketidakadilan, penyakit, kegagalan, dan masa depan yang tidak dapat kita kendalikan.

Namun iman Kristen tidak berkata bahwa semua keadaan akan selalu mudah. Iman Kristen berkata bahwa Kristus tetap Tuhan ketika keadaan menjadi sulit.

Salib sendiri menjadi bukti terbesar. Dari sudut pandang manusia, salib tampak seperti kekalahan. Sang Mesias dihina, ditolak, dan dibunuh. Tetapi justru melalui salib, Allah menggenapi rencana penebusan-Nya.

Karena itu, kedaulatan Kristus memberikan pengharapan: apa yang tampak seperti kekacauan bagi manusia tidak pernah berada di luar tangan Allah.

Allah yang Perkasa Sekaligus Gembala yang Dekat

Namun ada sesuatu yang sangat indah dalam Injil.

Yesus bukan hanya Allah yang perkasa dan jauh dari manusia. Ia adalah Allah yang datang mendekat.

Ia menangis bersama orang yang berduka. Ia menyentuh orang yang dikucilkan. Ia menerima orang berdosa yang datang kepada-Nya. Ia memberitakan Kerajaan Allah. Ia menyerahkan hidup-Nya bagi domba-domba-Nya.

Keperkasaan Kristus tidak bertentangan dengan kelembutan-Nya.

Justru karena Ia adalah Allah yang perkasa, kita dapat mempercayakan kelemahan kita kepada-Nya.

Seorang manusia mungkin memiliki hati yang penuh kasih tetapi tidak mempunyai kuasa untuk menolong. Sebaliknya, seseorang mungkin memiliki kuasa tetapi tidak memiliki kasih. Di dalam Kristus, keduanya bertemu secara sempurna.

Ia berkuasa untuk menyelamatkan dan Ia rela menyelamatkan.

Ia berkuasa untuk menghakimi dan Ia juga memberikan pengampunan kepada mereka yang percaya.

Ia adalah Raja yang berdaulat sekaligus Juruselamat yang menyerahkan diri.

Kristus dan Keselamatan oleh Anugerah

Teologi Reformed mengajarkan bahwa keselamatan adalah sola gratia - hanya oleh anugerah.

Namun anugerah bukan berarti Allah mengabaikan keadilan. Di salib, keadilan dan kasih Allah bertemu.

Dosa tidak dianggap sepele. Hukuman atas dosa sungguh-sungguh ditanggung. Tetapi hukuman itu ditanggung oleh Kristus bagi umat-Nya.

Karena itu, pembenaran orang berdosa terjadi bukan karena manusia mengumpulkan jasa di hadapan Allah. Orang berdosa dibenarkan melalui iman kepada Kristus, berdasarkan kebenaran Kristus yang diperhitungkan kepadanya.

Di sini kemahakuasaan Kristus menjadi sumber pengharapan.

Kristus tidak sekadar membuat keselamatan mungkin. Ia adalah Juruselamat yang benar-benar menyelamatkan umat-Nya.

Anugerah Allah tidak bergantung pada kekuatan manusia.

Keselamatan bukan mahkota bagi orang yang berhasil menyelamatkan dirinya sendiri. Keselamatan adalah pemberian Allah kepada orang berdosa yang tidak memiliki dasar untuk bermegah selain Kristus.

Maka, Apa Artinya “Jesus Is a Mighty God” bagi Kita?

Pengakuan bahwa Yesus adalah Allah yang Perkasa menuntut respons.

Pertama, kita harus menyembah Kristus. Jika Ia sungguh Allah, maka Ia layak menerima penyembahan, kehormatan, dan ketaatan kita.

Kedua, kita harus percaya kepada Kristus. Iman Kristen bukan sekadar mempercayai prinsip-prinsip moral Yesus. Iman berarti bersandar kepada pribadi dan karya Kristus sebagai satu-satunya dasar keselamatan.

Ketiga, kita harus tunduk kepada Kristus. Ia bukan hanya Juruselamat yang kita panggil ketika membutuhkan pertolongan. Ia adalah Tuhan yang berhak memerintah seluruh kehidupan kita.

Keempat, kita dapat memiliki pengharapan di tengah penderitaan. Tuhan yang kita percaya bukan Tuhan yang lemah. Ia adalah Allah yang Perkasa. Kebangkitan-Nya menyatakan bahwa maut bukan kata terakhir.

Dan kelima, gereja harus menjadikan Kristus sebagai pusat segala sesuatu. Pelayanan Kristen tidak boleh pada akhirnya berpusat pada manusia, popularitas, program, atau keberhasilan organisasi. Gereja ada untuk memberitakan Kristus.

Penutup: Hanya Kristus

“Jesus is a Mighty God” / Yesus , Allah yang Perkasa bukan sekadar sebuah slogan yang indah. Ini adalah pengakuan iman.

Yesus adalah Anak yang kekal.

Yesus adalah Firman yang menjadi manusia.

Yesus adalah Pencipta dan Penopang segala sesuatu.

Yesus adalah Juruselamat yang mati bagi umat-Nya.

Yesus adalah Tuhan yang bangkit.

Yesus adalah Raja yang berdaulat.

Dan Yesus adalah Allah yang Perkasa.

Karena itu, pusat iman Kristen bukan kemampuan manusia untuk mencapai Allah, melainkan Allah yang datang mencari dan menyelamatkan manusia.

Dalam semangat teologi Reformed, semua kemuliaan akhirnya kembali kepada Allah: soli Deo gloria.

Bukan manusia yang menjadi pusat.

Bukan jasa manusia yang menjadi dasar.

Bukan kekuatan manusia yang menjadi pengharapan.

Kristuslah pusatnya. Kristuslah dasarnya. Kristuslah Juruselamatnya. Kristuslah Rajanya.

Dan karena Kristus adalah Allah yang Perkasa, orang percaya dapat berkata dengan penuh keyakinan: di tengah dosa, ada Juruselamat; di tengah penderitaan, ada Tuhan; di tengah ketidakpastian, ada Raja; dan di tengah kematian, ada Kristus yang telah bangkit.

Jesus is a Mighty God - Yesus adalah Allah yang Perkasa.

Next Post Previous Post