Khotbah Kaum Bapak: Bapak Yang Setia Dalam Segala Perkara (Lukas 16:10)

Khotbah Kaum Bapak: Bapak Yang Setia Dalam Segala Perkara (Lukas 16:10)

Pendahuluan

Bapak-bapak yang dikasihi Tuhan,

Kita hidup dalam dunia yang sering mengukur keberhasilan berdasarkan hal-hal besar. Seorang laki-laki dianggap berhasil ketika memiliki pekerjaan yang baik, penghasilan yang besar, rumah yang bagus, anak-anak yang berhasil, atau kedudukan yang terhormat.

Tetapi Tuhan Yesus memberikan ukuran yang berbeda. Dalam Lukas 16:10 dikatakan:

“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.”

Perhatikan: Yesus tidak pertama-tama berbicara tentang seberapa besar yang kita miliki, melainkan seberapa setia kita menjalankan apa yang dipercayakan kepada kita.

Ini sangat penting bagi kaum bapak. Sebab menjadi seorang bapak bukan terutama soal menjadi orang yang paling kuat, paling pintar, atau paling sukses dalam keluarga. Menjadi bapak adalah tentang menjadi penatalayan yang setia atas segala sesuatu yang Tuhan percayakan.

Dalam perspektif Reformed, kita percaya bahwa hidup manusia tidak berdiri sendiri. Allah adalah Pemilik segala sesuatu. Hidup, keluarga, pekerjaan, kesehatan, waktu, uang, kemampuan, bahkan kesempatan melayani—semuanya berasal dari Allah dan berada di bawah kedaulatan-Nya.

Karena itu pertanyaannya bukan, “Apa yang sudah saya capai?” tetapi:

“Apakah saya setia dengan apa yang Tuhan percayakan kepada saya?”

1. Kesetiaan dimulai dari kesetiaan kepada Allah

Bapak-bapak, sebelum berbicara tentang menjadi suami atau ayah yang setia, kita harus berbicara tentang hubungan kita dengan Allah.

Teologi Reformed mengingatkan kita bahwa manusia berdosa tidak secara alami hidup untuk kemuliaan Allah. Hati manusia cenderung menjadikan dirinya sendiri sebagai pusat. Bahkan seorang bapak dapat bekerja keras bagi keluarga, tetapi diam-diam menjadikan pekerjaan, uang, prestasi, atau penghargaan sebagai “tuhan” dalam hidupnya.

Karena itu masalah terbesar seorang bapak bukan sekadar kurang disiplin, kurang waktu bersama keluarga, atau kurang komunikasi. Masalah terdalam manusia adalah dosa dan hati yang telah menyimpang dari Allah.

Kita membutuhkan anugerah.

Kesetiaan Kristen bukan usaha manusia untuk mendapatkan penerimaan Allah. Kita tidak menjadi benar di hadapan Allah karena berhasil menjadi suami yang sempurna atau ayah yang sempurna. Kita dibenarkan hanya karena kasih karunia Allah, melalui iman kepada Kristus.

Dari anugerah itulah kesetiaan kita mengalir.

Kita setia bukan supaya Allah menerima kita.

Kita setia karena di dalam Kristus kita telah terlebih dahulu menerima kasih karunia Allah.

Maka bapak yang setia adalah bapak yang setiap hari kembali kepada Kristus. Ia mengakui dosanya, membutuhkan pengampunan, belajar dari Firman, dan menyerahkan keluarganya kepada Tuhan.

2. Kesetiaan terlihat dalam perkara kecil

Yesus berkata, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil...”

Sering kali kita membayangkan bahwa perkara besar adalah sesuatu yang spektakuler. Padahal kehidupan keluarga justru dibangun oleh ribuan perkara kecil.

Misalnya, apakah seorang bapak menepati perkataannya?

Apakah ia mau meminta maaf ketika salah?

Apakah ia menyediakan waktu untuk mendengarkan istrinya?

Apakah ia berdoa bersama anak-anaknya?

Apakah ia mengajar anaknya mengenal Firman Tuhan?

Apakah ia jujur dalam pekerjaannya?

Apakah ia menggunakan uang keluarga dengan bertanggung jawab?

Apakah ia tetap mengasihi istrinya ketika sedang lelah?

Apakah ia tetap menjadi teladan ketika tidak ada orang lain yang melihat?

Inilah perkara-perkara kecil.

Tetapi jangan meremehkannya.

Seorang anak mungkin tidak mengingat semua nasihat yang pernah diberikan ayahnya. Namun ia akan mengingat bagaimana ayahnya menjalani kehidupan.

Anak melihat bagaimana ayah menghadapi tekanan.

Anak melihat bagaimana ayah memperlakukan ibunya.

Anak melihat apakah ayah sungguh-sungguh berdoa atau hanya menyuruh anak berdoa.

Anak melihat apakah iman hanya menjadi perkataan pada hari Minggu, atau sungguh menjadi dasar kehidupan sehari-hari.

Kesetiaan dibangun dalam kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus.

3. Bapak adalah penatalayan, bukan pemilik

Lukas 16 berbicara dalam konteks penatalayanan. Prinsipnya sangat penting: apa yang kita miliki sesungguhnya dipercayakan kepada kita.

Rumah kita bukan milik kita secara mutlak.

Anak-anak bukan milik kita secara mutlak.

Uang bukan milik kita secara mutlak.

Pekerjaan bukan milik kita secara mutlak.

Bahkan hidup kita sendiri bukan milik kita.

Semuanya adalah milik Tuhan.

Ini mengubah cara seorang bapak memandang keluarganya.

Anak bukan proyek untuk memenuhi ambisi orang tua.

Anak adalah pribadi yang Tuhan percayakan untuk kita didik dan arahkan kepada Tuhan.

Karena itu tujuan utama seorang bapak Kristen bukan sekadar membuat anaknya sukses secara akademis, mendapatkan pekerjaan yang baik, atau memiliki kehidupan yang nyaman.

Tujuan yang lebih dalam adalah supaya anak mengenal Allah, memahami Injil, melihat keindahan Kristus, dan belajar hidup di bawah Firman Tuhan.

Demikian juga dengan pekerjaan.

Kita bekerja bukan hanya untuk mendapatkan gaji. Pekerjaan adalah salah satu tempat di mana kita menjalankan panggilan Allah.

Maka integritas di tempat kerja adalah bagian dari ibadah.

Kejujuran dalam bisnis adalah bagian dari kesetiaan.

Menolak korupsi adalah bagian dari kesetiaan.

Tidak memanipulasi bawahan adalah bagian dari kesetiaan.

Bekerja dengan sungguh-sungguh ketika tidak diawasi adalah bagian dari kesetiaan.

Kesetiaan kepada Tuhan tidak hanya terlihat di gereja. Kesetiaan terlihat ketika tidak ada seorang pun yang melihat kita.

4. Kesetiaan membutuhkan integritas

Lukas 16:10 juga memberikan peringatan yang serius: orang yang tidak benar dalam perkara kecil juga tidak benar dalam perkara besar.

Kita sering berpikir bahwa dosa kecil tidak terlalu berbahaya.

“Cuma sedikit.”

“Tidak ada yang tahu.”

“Semua orang juga melakukannya.”

Tetapi Tuhan melihat hati.

Seorang bapak mungkin ingin dipercaya dalam perkara besar, tetapi Tuhan sedang menguji dia melalui perkara kecil.

Bagaimana dengan uang yang dipercayakan Tuhan?

Bagaimana dengan perkataan yang keluar dari mulut?

Bagaimana dengan penggunaan internet dan media sosial?

Bagaimana dengan relasi dengan lawan jenis?

Bagaimana dengan kejujuran dalam pekerjaan?

Bagaimana dengan kebiasaan yang disembunyikan dari keluarga?

Kesetiaan tidak dapat dibangun dengan kehidupan ganda.

Kita tidak bisa menjadi teladan di depan anak tetapi hidup sembarangan ketika sendirian.

Bapak yang setia bukan bapak yang tidak pernah jatuh.

Bapak yang setia adalah bapak yang ketika jatuh, datang kepada Kristus, mengakui dosanya, bertobat, dan kembali berjalan dalam kebenaran.

Itulah perbedaan antara kesempurnaan manusia dan kesetiaan Kristen.

5. Kesetiaan seorang bapak meninggalkan warisan rohani

Bapak-bapak yang dikasihi Tuhan,

Kita mungkin tidak dapat meninggalkan warisan materi yang besar kepada anak-anak kita. Tetapi kita dapat meninggalkan sesuatu yang jauh lebih berharga: teladan iman.

Suatu hari anak-anak kita akan bertumbuh dan mengambil jalan hidup mereka sendiri.

Kita tidak dapat mengontrol seluruh kehidupan mereka.

Kita tidak dapat selalu berada di samping mereka.

Kita tidak dapat menjamin bahwa mereka tidak akan mengalami kegagalan.

Tetapi kita dapat menunjukkan kepada mereka ke mana mereka harus kembali: kepada Kristus.

Ajarkan kepada anak bahwa ketika gagal, ada kasih karunia.

Ketika takut, ada Tuhan yang berdaulat.

Ketika berdosa, ada pertobatan dan pengampunan.

Ketika berhasil, ada alasan untuk bersyukur.

Ketika hidup tidak sesuai harapan, Allah tetap setia.

Itulah warisan yang jauh lebih besar daripada harta.

Penutup: Setia karena Kristus telah setia

Bapak-bapak,

Lukas 16:10 bukan sekadar panggilan untuk bekerja lebih keras. Ini adalah panggilan untuk hidup sebagai penatalayan yang setia.

Namun kita harus mengingat satu hal: Kristus sendiri adalah teladan kesetiaan yang sempurna.

Kita sering gagal menjadi bapak yang setia.

Kita pernah terlalu keras kepada anak.

Kita pernah mengabaikan istri.

Kita pernah mengejar pekerjaan dan melupakan keluarga.

Kita pernah tidak jujur.

Kita pernah lebih mencintai kenyamanan daripada kehendak Tuhan.

Kita tidak dapat menghapus kegagalan itu dengan berusaha menjadi lebih baik.

Kita membutuhkan Kristus.

Di dalam Kristus ada pengampunan bagi dosa kita. Di dalam Kristus ada pembaruan. Di dalam Kristus Roh Kudus bekerja membentuk kita semakin serupa dengan-Nya.

Maka hari ini jangan hanya bertanya:

“Apakah saya sudah menjadi bapak yang sukses?”

Tetapi tanyakan:

“Apakah saya sedang menjadi bapak yang setia?”

Setia kepada Tuhan.

Setia kepada istri.

Setia kepada anak-anak.

Setia dalam pekerjaan.

Setia dalam menggunakan uang.

Setia dalam perkataan.

Setia dalam perkara-perkara kecil.

Sebab pada akhirnya, ukuran hidup kita bukanlah seberapa besar nama kita dikenal manusia.

Yang terutama adalah apakah kita hidup di hadapan Allah sebagai penatalayan yang setia.

Kiranya ketika kita menoleh kembali pada kehidupan kita, kita tidak terutama melihat berapa banyak yang telah kita kumpulkan, tetapi berapa banyak kesempatan yang telah kita gunakan untuk memuliakan Tuhan.

Dan kiranya melalui kehidupan seorang bapak, sebuah keluarga belajar melihat bahwa Allah itu setia, Kristus itu cukup, Firman Tuhan itu benar, dan hidup ini adalah milik Tuhan.

Bapak-bapak, mari kita menjadi setia.

Bukan karena kita kuat.

Bukan karena kita sempurna.

Tetapi karena Kristus telah terlebih dahulu setia kepada kita.

Amin.

Next Post Previous Post