Allah Tritunggal Pusat Dari Sejarah

Allah Tritunggal Pusat Dari Sejarah
Allah Tritunggal Pusat Dari Sejarah. Orang Kristen adalah orang-orang yang beriman kepada Allah Tritunggal, Pencipta seluruh alam semesta. Implikasi dari pernyataan ini adalah kita harus mengerti segala sesuatu dengan tepat sebagaimana yang dikehendaki oleh Sang Pencipta segala sesuatu itu sendiri, yaitu Allah Tritunggal. Termasuk di dalamnya adalah bagaimana kita mengerti sejarah.

Banyak pertanyaan yang diajukan oleh manusia seputar sejarah. Apakah sejarah adalah sesuatu yang dibentuk semata-mata oleh kekuatan manusia, sesuatu yang tidak memiliki tujuan dan makna? Ataukah sejarah adalah sesuatu yang telah direncanakan dan memiliki makna?

Kemudian secara khusus, sebagai orang Kristen, juga timbul berbagai pertanyaan: Bagaimanakah relasi antara Allah Tritunggal dengan sejarah? Apakah signifikansi dari iman Kristen di dalam sejarah dan penilaiannya terhadap sejarah? Bagaimanakah seorang Kristen dapat mengaplikasikan apa yang diimaninya di dalam sejarah dengan melihat akan seluruh konteks sejarah?

Sejarah, mau tidak mau, akan menemani perjalanan manusia dalam lingkup waktu dan tempat. Saat saudara membaca artikel ini pun, terukir sebuah kejadian yang spesifik dalam lempeng waktu. Namun, sejarah dapat dinilai berbeda oleh setiap orang dan menghasilkan interpretasi yang berbeda pula. Maka pertanyaan pertama adalah “What is history?”, bagaimana kita dapat mengenali sejarah dari kacamata Tritunggal yang adalah Otoritas tertinggi di dalam semesta ini?

Unity and Diversity dalam Sejarah

Dalam bukunya ‘God Centered Biblical Interpretation’, Vern Sheridan Poythress menjelaskan bahwa di dalam sejarah terdapat sifat ‘unity in diversity’. Unity mengacu pada satu sistem yang panjang di dalam dimensi waktu dan tempat. Satu sistem yang panjang ini dibentuk oleh unit-unit kejadian kecil yang setiap unitnya dapat diklasifikasikan ke dalam kelas-kelas tertentu. Pengklasifikasian ini merupakan satu implikasi dari sifat unity dalam sejarah, sedangkan unit-unit kecil ini mengacu pada sifat diversity dari sejarah. 

Selain itu, diversity juga mengacu pada particularity, yang berarti setiap kejadian ini pun juga merupakan sejarah dalam batasan tertentu. Kemerdekaan Indonesia, contohnya, merupakan satu hal yang ada di dalam dan sekaligus merupakan sejarah. Dan karena tiap kejadian ini adalah unik pada esensinya; dalam artian ketidakmungkinan untuk terulang kembali dengan sama, sejarah memiliki sifat keunikan dan mengandung unsur kesatuan dan keberagaman di dalamnya.

Dan karakter terakhir adalah unity in diversity in history adalah bahwa setiap sejarah ada keterkaitannya, dan setiap sejarah menjadi tonggak untuk sejarah-sejarah yang akan terjadi di waktu berikutnya. Ketiga hal ini tidak dapat dipisahkan dalam menginterpretasikan sejarah. Setiap aspek ini memberikan perspektif kepada aspek yang lain, tidak ada satu aspek pun yang dapat dimengerti kecuali kita memegang kerangka pikir Tritunggal yang utuh dan koinheren. 

Karena bagaimanapun ketiga aspek ini berbeda tetapi tetap terkait dan bersifat satu. Kesatuan yang menghilangkan keberagaman akan menjadi suatu kesatuan yang absurd dan mati. Hal demikian tidak mungkin terjadi karena sejarah yang merupakan turunan dari waktu, yang terus mengalir, sehingga harus bersifat dinamis. Saat waktu bergerak, kesatuan itu sendiri juga harus mempunyai sifat keberagaman. 

Di lain pihak, keberagaman tidak dapat dipisahkan dari atau berdiri sendiri di luar kesatuan. Karena hal demikian akan mengakibatkan manusia tidak mempunyai pengharapan untuk hidup dan belajar; kita membutuhkan adanya memori yang bergantung pada satu titik awal dari mana kita bisa melihat sejarah sebagai suatu hal yang berurutan.

Sebagaimana Allah Tritunggal yang memiliki tiga pribadi yang berbeda, yang bisa dibedakan, tetapi merupakan Allah yang Esa yang tidak bisa dipisahkan. Ketiga aspek sejarah ini merupakan analogi dari Allah Tritunggal, yang berbeda namun tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya.

Once and for All, Transmission, dan Present

Menurut Poythress, kita dapat memandang sejarah dengan tiga perspektif lainnya, sesuai dengan keberadaan Allah Tritunggal yang berfirman kepada manusia, yaitu Once and for All, Transmission, dan Present.

Once and for all artinya bahwa saat Allah berbicara, Allah berbicara langsung dan hanya sekali kepada orang-orang di zaman tertentu di dalam sejarah. Dan setiap kejadian tersebut berada pada satu momen tertentu untuk memberikan perkembangan dan signifikansi bagi seluruh zaman di depannya. Zaman tersebut menjadi semacam ‘audience’ bagi satu momen tertentu. Momen tertentu ini ‘berbicara kepada’ dan mempengaruhi seluruh zaman di depannya. 

Tetapi dalam hal ini, setiap perkataan Allah memiliki satu signifikansi penting yang tidak dapat dipisahkan dari konteks pada zaman itu. Sebagai contoh, ketika Allah melalui Paulus menyatakan bahwa siapa yang mengaku Kristus dengan mulutnya akan diselamatkan, tidak bisa dipisahkan dari keadaan di mana umat Kristen adalah kelompok yang paling dicari dan dibenci oleh penguasa zaman itu. Yang artinya siapa yang mengaku Kristus adalah Allah harus bersiap untuk mati mempertahankan imannya.

Untuk bagian Alkitab yang sama, aspek yang kedua, Transmission dapat diterapkan. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana Allah terus memelihara esensi dari pernyataan Paulus lewat hal-hal yang dilalui umat Tuhan. Dalam runtutan sejarah, Allah mengizinkan terjadinya penganiayaan akan kebenaran bahkan dari dalam suatu lembaga yang mengaku sebagai umat Allah sekalipun. Sebagai contoh spesifik, Martin Luther dipimpin untuk menyatakan suara peringatan kepada gereja di abad ke-16. 

Gereja, yang berlabelkan umat Allah, telah sangat menyeleweng pada zaman itu dan ketika Luther dipakai untuk menyatakan kebenaran, banyak orang dari dalam gereja sendiri yang melawan kebenaran tersebut. Martin Luther kemudian harus diekskomunikasikan, namun ia terus dipeliharakan imannya sehingga ia boleh terus berjuang untuk menyatakan apa yang Allah ingin nyatakan. Di saat yang sama, Allah dalam pemeliharaan-Nya juga membendung ujian yang diberikan sehingga ujian pada tiap zaman tidaklah melebihi kemampuan iman daripada zaman tersebut.

Dalam aspek Present, bagian ini dapat dimengerti sebagaimana kita sebagai umat Kristen boleh berespons dengan benar akan panggilan untuk menjadi pengikut Kristus melalui apa yang diteladankan oleh Paulus dan jemaat mula-mula, serta setiap perjuangan anak Tuhan sepanjang sejarah sampai hari ini. Tuhan secara khusus berbicara pada umatnya di zaman ini melalui Firman-Nya dan teladan sepanjang sejarah untuk boleh lebih tegar dan tegas dalam berjuang untuk mengikut Kristus, memikul salib, dan menyangkal diri.

Ketiga aspek ini tidak boleh dipisahkan satu sama lain karena di dalam kemajemukan makna dari tiga aspek ini, terkandung satu makna yang utuh, yang menjadi sumber dan pemberi makna dari setiap pola interpretasi secara spesifik. Keterikatan ini tergambarkan dalam “ketergantungan” tiap pola interpretasi terhadap pola yang lainnya. Sebagai contohnya, tanpa mengetahui makna awal dari sebuah bagian Kitab Suci, tidak mungkin kita dapat melihat pemeliharaan Tuhan sepanjang sejarah akan janji-Nya, maupun penyataan Tuhan pada zaman ini secara utuh. Sebaliknya, tanpa mau mengerti akan apa yang Tuhan kehendaki dalam zaman ini, seluruh pola interpretasi tersebut hanyalah menjadi kekayaan intelektual yang sia-sia.

Kesatuan, Hierarki, dan Konteks

Selain aspek-aspek di atas, sejarah harus dimengerti melalui triad perspektif yang terdiri dari prinsip kesatuan, hierarki, dan konteks.

Pertama, prinsip kesatuan menjelaskan masing-masing peristiwa sejarah yang disatukan dapat diidentifikasi dalam satu kelompok tertentu. Pengkhotbah mengatakan bahwa di dalam dunia ini tidak ada satu pun hal yang baru. Setiap kejadian di dalam sejarah adalah kejadian yang secara umum sudah pernah terjadi. Tuhan yang adalah sumber dari segala sesuatunya telah menyatakan seluruh hal yang terjadi dan akan terjadi di dalam wahyu-Nya, baik secara umum maupun secara khusus, yaitu melalui Kristus dan Alkitab. Perspektif yang demikian mengarah pada Pribadi Pertama Tritunggal sebagai sumber (origin) dari segala sesuatu yang diciptakan.

Kedua, prinsip hierarki menjelaskan bagaimana masing-masing peristiwa sejarah digabungkan dengan konteks yang lebih besar ataupun lebih kecil sehingga disatukan menjadi satu jaring-jaring sejarah yang tidak terputus. Misalnya peristiwa kebangkitan adalah sebagian dari kisah kehidupan Kristus, dan kejadian ini dikelompokkan menjadi peristiwa yang lebih besar maupun menjadi lebih kecil. 

Peristiwa kebangkitan menjadi bagian dari suatu rangkaian yang lebih besar tentang peristiwa dari penguburan dan penampakan diri Kristus setelah kebangkitan. Rangkaian ini menggambarkan kemenangan Kristus dari dosa dan kejahatan secara spesifik. Pola interpretasi yang demikian mengarah pada sifat Pribadi Kedua Tritunggal yang merupakan manifestasi dari seluruh rencana utuh Allah Tritunggal.

Ketiga, prinsip kontekstual memberikan gambaran akan korelasi antara satu kejadian dengan kejadian yang lainnya, yang dipisahkan oleh limitasi konteks pada masing-masing kejadian. Misalnya, karya keselamatan Kristus dan pengorbanan domba sebagai pengganti Ishak yang akan dikorbankan bagi Tuhan, merupakan dua kejadian yang secara kontekstual berbeda namun memiliki esensi yang sama, yaitu penggenapan tuntutan Allah melalui substitusi. Perspektif ini mengarah pada pribadi Allah Roh Kudus yang menyertai umat-Nya dalam segala zaman dalam melihat akan bergulirnya waktu di samping berjalannya umat Allah menuju hari di mana Allah menyatakan kemuliaan-Nya secara penuh.

Kristus Sebagai Pusat dari Sejarah

Kristus baik secara eksplisit maupun implisit adalah sumber dari segala makna dalam seluruh sejarah manusia. Oleh karena itu, tidak akan ada satu pun fenomena di dalam dunia ini yang dapat terjadi di luar kedaulatan Kristus. Jadi, dapatlah dikatakan bahwa setiap kejadian tidak akan memiliki makna yang benar di luar Kristus; dan tidak akan pernah ada kejadian yang bersifat demikian (red. kejadian bermakna benar tetapi terjadi di luar Kristus). 

Bahkan di dalam kejadian yang sangat kecil pun, seperti membeli koran, memiliki signifikansi dalam penyataan akan siapakah Kristus dan peran-Nya di dalam dunia ini. Akan tetapi, relasi yang terdapat dalam konteks ini tidak bisa dihubungkan secara paralel sempurna melainkan lebih ke arah hubungan analogical, di mana proses jual beli koran adalah analogi dari bagaimana manusia dicipta berdasarkan gambar dan rupa Allah, yang berinteraksi dalam tiga pribadi Allah Tritunggal.

Lebih dalam lagi, makna yang diberikan oleh Kristus tidaklah semata-mata berhenti pada makna itu sendiri, namun setiap makna itu membawa dampak bagi kemuliaan Allah dan keselamatan manusia di dalam Gereja-Nya yang kudus. Sebagai contohnya adalah upacara persembahan korban di dalam Kitab Imamat. Upacara persembahan ini melingkupi umat Israel pada zaman itu serta menunjuk pada satu karya keselamatan yang sejati, pengorbanan Kristus di atas kayu salib. Melalui upacara ini, umat Israel yang dipilih oleh Tuhan menikmati karunia dari karya Allah yang masih akan terjadi pada masa yang akan datang dalam konteks kronologis ciptaan. 

Hal yang sama juga dapat dilihat dalam setiap ibadah dari Gereja-Gereja Tuhan. Dalam tiap ibadah ini, umat pilihan Allah menikmati sebuah karya penggenapan Kristus yang masih akan datang pada saat Kristus datang untuk kedua kalinya dan menjadi penggenapan dari seluruh iman umat pilihan. Di lain pihak, kegiatan ibadah tersebut juga merepresentasikan akan Kristus yang sudah mati untuk umat-Nya segala zaman. Dengan demikian, sejarah ketika dilihat dari suatu aspek tidak boleh dilepaskan dari suatu kesatuan yang lebih luas.

Makna yang diberikan oleh Anak Allah dalam lingkup yang lebih dalam berpusat pada karya keselamatan yang dikerjakan oleh-Nya secara penuh dan tuntas bagi umat-Nya. Melalui karya keselamatan-Nya, seluruh sejarah manusia ditarik dari yang paling kecil ke yang paling besar, kembali kepada poros sejarah manusia; yaitu kematian Kristus di atas kayu salib dan kebangkitan-Nya. 

Sebagai contoh, adalah kisah peperangan di dalam Kitab Raja-Raja, di mana konsep peperangan menjadi salah satu hal yang diketengahkan di dalam pembahasan. Peperangan yang direfleksikan di dalam kitab tersebut mengandung makna dan esensi dari Peperangan Suci antara Allah yang benar dan adil melawan Iblis, yang pada akhirnya dikalahkan melalui kematian dan kebangkitan Kristus dan pada waktu Yesus datang untuk kedua kalinya.

Dalam refleksi ini, terdapat tiga poin penting yang dinyatakan secara implisit:

(1) kejatuhan manusia, yang menyebabkan manusia rusak total dan tidak bisa memuaskan standar Allah;

(2) pengorbanan Kristus di atas kayu salib, sebagai satu-satunya solusi keberdosaan manusia; serta

(3) kedatangan Kristus untuk kedua kalinya untuk menggenapi seluruh janji Allah. Misalnya dalam perayaan Natal, kita tidak boleh mengkotak-kotakkan hal itu terlepas dari keberdosaan manusia yang memerlukan karya keselamatan Kristus dan pelayanan-Nya di dalam dunia ini. Serta Ia yang nanti akan datang untuk menghakimi manusia pada akhir zaman. Kelahiran Kristus tidak boleh dilepaskan dari seluruh karya keselamatan-Nya.

Melalui karya keselamatan Kristus, Allah memberikan satu anugerah pada umat manusia untuk boleh diperdamaikan dengan Allah yang secara total menuntut pertanggungan jawab total bagi seluruh dosa umat manusia. Hal ini tidak berarti bahwa umat pilihan tidak akan dihakimi. Umat pilihan akan tetap menjalani penghakiman Allah tapi dosa-dosa mereka telah ditanggungkan kepada Kristus di dalam kematian-Nya di atas kayu salib.

Perdamaian yang diberikan Allah melalui kematian Putra-Nya yang tunggal menggantikan kita umat-Nya yang berdosa, membawa dampak pula di dalam relasi manusia di dunia. Manusia dalam konteks ini adalah mereka yang hidupnya dipulihkan kembali untuk boleh mengasihi dengan benar sesuai dengan kehendak Allah, yang juga merupakan standar di dalam hidup ini. 

Kasih yang dimaksudkan di sini bukanlah kasih yang berdasarkan pada semangat humanisme yang populer pada zaman ini, melainkan kasih Allah akan dunia ini yang menuntut manusia untuk boleh berespons dengan benar sesuai dengan kehendak-Nya yang benar dan adil adanya, karena di luar diri-Nya tidak ada satu pun form yang bisa dibenarkan. Oleh karena itu, relasi antar pribadi Allah, Allah dengan manusia, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam ciptaan yang lain, yang keseluruhannya terangkum dalam Kristus dan Gereja-Nya, merupakan relasi yang menggerakkan seluruh jalannya sejarah.


Apakah relasi ini pasti merupakan suatu hal yang nyata? Mungkinkah relasi ini hanyalah sebuah hal yang diimpi-impikan manusia dalam keberdosaan pikirannya? Karena mungkinkah manusia yang berdosa dalam relasinya dengan pribadi yang lain adalah merupakan suatu esensi dalam sejarah yang tidak mungkin ditarik kembali ke dalam Kristus? Pertanyaan-pertanyaan ini sangat mungkin muncul di dalam benak dari tiap-tiap orang yang sadar akan keberdosaan dirinya dan kesucian Allah yang mutlak. 

Namun dalam kesadaran akan diri yang berdosa dan kesucian Allah yang mutlak, seseorang dapat dengan yakin menyatakan bahwa setiap kejadian di dalam sejarah umat manusia merupakan rentetan kejadian yang dapat ditarik menuju porosnya yang sejati, yaitu Kristus, Allah dari segala yang ada.

Keyakinan akan adanya satu kesatuan dalam seluruh rangkaian sejarah bukanlah suatu keyakinan yang tidak memiliki dasar. Sedikitnya ada tiga hal yang melandasi keyakinan tersebut.

Poin pertama adalah karakter Allah yang utuh sebagai originator, manifestator, dan accomplisher dari seluruh yang pernah ada, yang ada, dan yang akan ada dalam jenjang kronologis sejarah manusia. Allah yang satu menyatakan karakter-Nya, salah satunya melalui ciptaan-Nya (Roma 1:20). Oleh karena itu, ciptaan yang merefleksikan karakter dari Allah yang satu, tidak mungkin tidak menunjukkan satu pola yang merujuk pada pribadi sang Pencipta. 

Sama seperti seorang seniman yang membuat sebuah karya seni. Karya tersebut pasti merefleksikan karakternya, sehingga seseorang dapat mengetahui pribadi di balik sebuah karya hanya dari mengamati karya seniman tersebut.

Poin kedua adalah natur dasar dari manusia sebagai makhluk ciptaan yang telah jatuh ke dalam dosa dan kehilangan kemuliaan Tuhan yang asli. Dalam kondisi yang terpuruk seperti ini tidak mungkin ada satu hal pun di dalam manusia yang dapat memuaskan tuntutan Allah. Oleh karena itu Allah sendiri yang harus turun menyelamatkan manusia. 

Tenggelam dalam satu kondisi bersalah yang sama dan membutuhkan pembenaran dari Allah yang hanya berdasarkan anugerah semata, adalah hal yang menyatukan seluruh umat manusia dalam seluruh rangkaian sejarah. Selain itu kondisi keterpurukan manusia ini hanya memiliki satu jawaban yang pasti, yaitu Kristus, yang juga merupakan pusat dari seluruh yang ada.

Poin yang ketiga adalah kepribadian dari tiap manusia. Manusia diciptakan sebagai suatu makhluk berpribadi yang mencerminkan satu pribadi yang mutlak, yaitu Allah, dan secara spesifik Kristus sebagai pribadi utama dan yang awal yang menjadi model dalam penciptaan manusia. Oleh karena itu, manusia yang dicipta berdasar pada satu model yang sama tidak mungkin tidak memiliki satu koneksi yang erat antara dirinya, sesamanya, dan Tuhan yang berdaulat atas hidupnya.

Dari ketiga poin yang telah dipaparkan, sangat jelas bahwa seluruh pola hidup yang ada di dunia ini tidak bisa tidak berpusat pada Kristus. Lalu, apakah pola yang tersusun ini, di dalam kekayaan dan kekompleksannya adalah suatu pola yang tidak beraturan? Jelas tidak! Dalam rangkaian sejarah, ada relasi yang memang ditetapkan untuk menjadi penting, atau berhubungan erat dan dekat dengan Kristus sebagai inti dari sejarah, ada pula yang ditetapkan untuk menjadi tidak penting. 

Akan tetapi, tidak setiap kejadian yang dekat dengan sumber tersebut yang adalah penting. Ada kalanya kejadian yang terdapat jauh dari sumber secara spasial (ruang) dan kronologikal (waktu) lebih penting dari pada yang dekat. 

Sebagai contohnya adalah perjalanan para gembala yang pertama kali melihat Kristus dalam palungan dari padang tempat mereka memelihara domba-domba mereka sampai pada tempat kelahiran Kristus, tidaklah lebih penting dibandingkan dengan kisah pertobatan Paulus dalam perjalanannya ke Damsyik. Sama halnya dengan seluruh aspek kehidupan seorang Kristen, apa yang terletak dekat dengannya, seperti keluarga, pacar, dan teman, bukanlah hal yang patut mendapat prioritas utama dalam hidupnya. Apa yang menjadi panggilan Tuhan dalam hidupnya, tidak peduli sejauh apapun, adalah hal yang harus menjadi prioritas utama dalam hidup ini.

Sebagai dampaknya, Allah, yang menjadi sumber sejarah adalah Allah yang akan menuntut pertanggungjawaban untuk setiap detik yang telah diberikan-Nya dalam hidup setiap manusia. Hal ini diperkuat dengan adanya fakta bahwa setiap saat manusia harus dan sedang memberikan kesaksian mengenai Allah: baik yang menjalankan kehendak Allah, yang akan menyatakan kemahakuasaan Allah lewat pemeliharaan-Nya; maupun yang melawan kehendak Allah, yang menyatakan kemahakuasaan Tuhan lewat peringatan dan penghukuman dari-Nya. 

Kiranya pengertian akan sejarah yang benar membuat kita menjadi orang yang bijaksana, yang selalu available dipakai Tuhan sebagai alat kemuliaan di tangan-Nya untuk menyatakan Allah Tritunggal. Soli Deo Gloria.

Artikel ini disadur dari buku GOD Centered Biblical Interpretation karya Vern Sheridan Poythress. Allah Tritunggal Pusat Dari Sejarah.
Next Post Previous Post