KESEMBUHAN DALAM PERSPEKTIF KHARISMATIK

Pdt.Samuel T Gunawan, M.Th.
KESEMBUHAN DALAM PERSPEKTIF KHARISMATIKKESEMBUHAN DALAM PERSPEKTIF KHARISMATIK . Anthony A. Hoekema, seorang profesor teologi Calvinis-Reformed dengan sangat hati-hati membuat suatu pengakuan yang menyatakan bahwa, “Karunia-karunia Roh yang bersifat mujizat, termasuk karunia menyembuhkan, tidak perlu lagi dicari-cari di dalam gereja saat ini. 

Namun harus kita akui bahwa argumentasi seperti ini bukannya tidak dapat dibantah. Kesimpulan di atas tidak secara khusus dinyatakan oleh para Penulis Perjanjian Baru, tetapi merupakan hasil kesimpulan yang dibuat berdasarkan data dalam Perjanjian Baru”.[1] 

Berdasarkan pernyataan Anthony A. Hoekema tersebut, maka merupakan sikap yang keliru jika melarang orang untuk mengharapkan mujizat dan penyembuhan saat ini, karena pernyataan “karunia-karunia Roh yang bersifat mujizat, termasuk karunia menyembuhkan, tidak perlu lagi dicari-cari di di dalam gereja saat ini” merupakan hasil kesimpulan yang menurut Anthony A. Hoekema, “bukannya tidak dapat dibantah”. 

Penganut Kharismatik juga telah meneliti data Alkitab dan menyimpulkan bahwa karunia-karunia mujizat, penyembuhan, dan karunia-karunia lainnya masih eksis dan tetap berlangsung hingga kini. Ini juga merupakan kesimpulan logis berdasarkan eksegesis dan analisis teologis terhadap data-data Perjanjian Baru.

Anthony A. Hoekema mengakui juga bahwa, “Para misionaris telah memberitahu kepada saya bahwa ketika gereja-gereja sedang ditanamkan di negara-negera seperti Nigeria, Sri Lanka, dan Cina, penyembuhan yang dramatis terjadi sebagai jawaban doa: orang sakit telah disembuhkan, mata yang berpenyakit telah dipulihkan, orang yang tergigit ular menjadi sehat kembali, dan berbagai kejadian lainnya yang serupa”.[2] 

Masih berdasarkan pengakuan Anthony A. Hoekema, “Dalam dua dekade terakhir ini telah terjadi kebangkitan kembali dalam pelayanan penyembuhan di Amerika Serikat dan di Eropa. Tidak hanya di gereja-gereja Pentakosta dan kelompok-kelompok Kharismatik, tetapi gereja-gereja Anglikan, Episkopal, Lutheran, Presbyterian, dan reformed juga telah mulai melakukan pelayanan penyembuhan diakhir kebaktian umum”.[3] Perhatikanlah bahwa pengakuan tentang fakta dari kebangkitan kembali pelayanan penyembuhan dan mujizat yang telah melanda berbagai denominasi gereja saat ini justru datang dari seorang Calvinis Reformed.

Tetapi sungguh memprihatinkan bahwa para openan Kharismatik telah menuduh kegiatan Kharismatik sesat yang dihubungkan dengan keyakinannya terhadap mujizat dan penyembuhan. Bahkan ada yang mengontraskan mujizat dan penyembuhan dengan profesi kedokteran dan menuduhnya sebagai anti terhadap hal-hal yang berhubungan dengan medikal, kedokteran, farmasi dan ilmu kesehatan. Ada juga yang menganggap bahwa kesembuhan tidak termasuk dalam karya pendamaian Kristus, sementara itu dipihak lainnya Pentakostalisme bersikeras menyatakan bahwa penyembuhan termasuk dalam pendamaian, yakni bagian dari ketentuan Kalvari.[4] Lalu, bagaimana perspektif Kharismatik normatif mengenai hal ini?

Harus diakui memang ada ajaran dan praktek yang seringkali menyimpang dan tidak sehat oleh beberapa orang atau kelompok tertentu atau yang mirip dengan aktivitas Kharismatik saat ini. Tetapi ini tidak dapat dijadikan bukti bahwa seluruh Kharismatik itu sesat. Kenyataan adanya mujizat dan penyembuhan palsu bukan berarti kita harus menolak semua mujizat dari penyembuhan yang terjadi saat ini, atau menganggap semua mujizat dan penyembuhan itu palsu.[5] 

Karena itu dalam pasal ini saya akan menyajikan kesembuhan dalam perspektif Kharismatik normatif dan di pasal 10 saya akan membahas tentang mujizat. Secara khusus saya akan menjelaskan arti dan kesembuhan, serta menjawab pertanyaan: “apakah kesembuhan (dan mujizat) masih terjadi saat ini?” Karena pasal ini diberi label dalam “perspektif Kharismatik”, bukan berarti penjelasannya tidak berdasarkan data-data Alkitab, justru yang dibicarakan disini berdasarkan pada data-data Alkitab. 

ARTI KESEMBUHAN 

Para teolog dan pakar Alkitab pada dasarnya mengakui bahwa kematian Kristus di kayu salib menyebabkan terjadinya peristiwa-peristiwa seperti: pendamaian, penebusan, penggantian, pengampunan, pembenaran, dan pengudusan. Dampak lainnya, kita mengenal apa yang disebut dengan penyediaan, anugerah, pemilihan, panggilan, pembaharuan, perpalingan (pertobatan dan iman), persatuan dengan Kristus, pengangkatan anak, jaminan kekal dan pemuliaan. Daftar istilah biblikal ini disebut keselamatan, yang bernilai abadi dari kekekalan masa lampau (posesif), masa kini (progresif), dan kekekalan masa mendatang (prospektif).

Manfaat lainnya dari kematian Kristus sebagaimana diakui oleh Pentakostalisme maupun Kharismatisme pada umumnya adalah kesembuhan dari sakit penyakit bagi tubuh orang percaya selama hidup di dunia ini. Allah tidak hanya memperhatikan keselamatan dari dosa-dosa tetapi juga kesehatan bagi tubuh. Jadi, perspektif bagian ini jelas bahwa kesembuhan mengalir dari kalvari dan termasuk dalam pendamaian. Karena Kristus masih menyelamatkan manusia hingga kini maka Ia juga masih menyembuhkan, karena Ia tidak berubah (Ibrani 13:8). 

J. Wesley Brill mengatakan, “segala berkat Tuhan sampai kepada kita berdasarkan korban pendamaian (tebusan) Yesus Kristus, dan penyebuhan tubuh termasuk di dalam tebusan itu”.[6] Tetapi, sejauh mana hubungan kesembuhan dan pendamaian tersebut merupakan hal yang perlu ditegaskan lagi.

1. Definisi Kesembuhan

Kata Ibrani “arakah” berarti kesehatan, kesembuhan, luka yang dipulihkan dan perbaikan (Yesaya 33:6; 8:22; 30:17). Kata “raphah” diterjemahkan sebagai menjadi sehat, menyehatkan, menyembuhkan, menjadi sembuh, sembuh dan mengobati (Keluaran 15:25). Kata Yunani “hugiaino”dan “hugiees” diterjemahkan dengan sehat, menjadi sehat, sehat kembali (Lukas 5:31; 7:10; Yohanes 5:11,15; Kisah Para Rasul 4:10). 

Kata “sozo” dan “diasozo” diterjemahkan sebagai sembuh, menyembuhkan dan menjadi sembuh (Matius 14: Lukas 7:3; 8:47; Ibrani 12:13).[7] Jadi, kesembuhan berarti pemulihan dari sakit penyakit yang dialami oleh seseorang karena kuasa Allah yang bekerja dan menjadikannya sehat; atau Allah menyembuhkan dari sakit penyakit dengan kuasaNya setiap orang yang percaya kepada pengorbanan Kristus di kayu salib.

2. Dasar Alkitabiah Pengajaran Tentang Kesembuhan

Kesembuhan bukan merupakan hal yang baru, berita ini telah ada dalam Perjanjian Lama. Lebih dari tiga ribu tahun yang lalu untuk pertama kalinya kepada Israel Allah menyatakan diri sebagai, “Aku TUHANlah yang menyembuhkan engkau” (Keluaran 15:26). 

Kata Ibrani “Ani YAHWEH roph’eka” dapat juga diterjemahkan “Akulah TUHAN tabibmu”, karena kata “roph’e” dalam ayat-ayat lain diterjemahkan dengan kata “tabib” (Bandingkan Yeremia 8:22).[8] Secara khusus dalam Perjanjian Baru kesembuhan merupakan bagian dari anugerah penebusan di dalam Kristus (Yesaya 53:4-5; Matius 8:17; 1 Petrus 2:24). 

Beberapa pernyataan penting Perjanjian Baru perlu diperhatikan: 

(1) Selama pelayananNya di dunia Yesus Kristus melakukan pelayanan kesembuhan (Matius 14:36); Kristus mati di kayu salib menggenapi nubuat nabi Yesaya, termasuk kesembuhan tubuh (Matius 8:16,17; Yes 53:4-5; Bandingkan 1 Petrus 2:24); 

(2) Perintah Yesus kepada para murid untuk menyembuhkan yang sakit masih berlaku hingga kini (Markus 16:17-18; Ibrani 13:8); 

(3) Salah satu dari sembilan karunia Roh Kudus yang masih berlaku dalam Gereja adalah karunia kesembuhan (1 Korintus 12:6:8).

PENYEBAB SAKIT PENYAKIT DAN SARANA PENYEMBUHAN ILAHI YANG TERSEDIA 

1. Faktor Penyebab Sakit Penyakit [9] 

Ada berbagai faktor penyebab dari sakit penyakit yang dapat dialami oleh manusia. Faktor penyebab tersebut secara umum dibagi dalam delapan kategori berikut: 

(1) Faktor hamartologis, yaitu berupa dosa, kejahatan, pelanggaran, dan kesalahan yang diperbuat manusia (Kejadian 3:1-6;Mazmur 103:2,3; 1 Korintus 11:26-30); 

(2) Faktor demonologis, yaitu karena pekerjaan atau perbuatan dari Iblis dan roh-roh jahat (Matius 9:32,33; 15:22; Lukas 13:11; Kisah Para Rasul 10:38); 

(3) Faktor biologis, seperti gejala degenerasi (penuaan) dan atau kelemahan tubuh (Kejadian 48:1; 1 Raja-raja 1:1; Daniel 8:27; 2 Korintus 4:16). 

(4) Faktor psikologis, seperti cinta yang tak tersalurkan, kepahitan, kekecewaan, dan lainnya (2 Samuel 13:1-2), kerusakan atau ketidakseimbangan dalam jiwa (1 Samuel 18:6-11), kutuk (Ulangan 28), dan stres karena berita buruk (1 Samuel 4:17-18); 

(5) Faktor epidemiologi, yaitu penyakit yang disebabkan oleh penularan atau wabah. Penyakit-penyakit ini bisa berupa infeksi maupun non infeksi, berupa virus, bakteri, dan lain sebagainya. Alkitab mencatat mengenai wabah yang pernah menimpa Mesir (Ulangan 7:15; 28:60); 

(6) Faktor non-higeionologis, yaitu penyakit yang disebabkan oleh pola hidup dan pola makan yang tidak sehat, termasuk lingkungan yang tidak bersih, dan konsumsi makanan yang tidak sehat (Bandingkan 2 Raja-raja 2:19; 4:38-40); 

(7) Faktor geneatologis, yaitu penyakit yang didapat karena faktor turunan (genetika). Penyakit atau potensi penyakit ini dibawa sejak lahir. Bisa juga karena keterlibatan dalam okultisme turun-temurun (1 Petrus 1:18-19); 

(8) Faktor-faktor lainnya, seperti akibat dari perang, kekerasan, bencana alam, dan lain-lain. Selain hal-hal yang disebutkan di atas, ada juga kasus sakit yang disebabkan khusus seperti atas izin Tuhan (Yesaya 53:10; Ayub 2:1-8; 2 Korintus 12:7) dan juga karena suatu pengalaman rohani yang dasyat (Daniel 8:1-27).

2. Sarana-Sarana Penyembuhan

Orang yang percaya kepada Kristus dapat disembuhkan dari sakit penyakit di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Menyembuhkan adalah hak mutlak / kedaulatan Allah dan meminta kesembuhan adalah anugerah Allah yang tersedia bagi orang percaya. Sarana-sarana kesembuhan itu antara lain: (1) Kuasa Roh Kudus yang mengurapi (Kisah Para Rasul 10:38); (2) Firman Allah (Mazmur 107:17,20; 1 Petrus 2:23,24); (3) Iman (Matius 8:11-13; Markus 2:5; 5:34; Yakobus 5:15); (4) Doa pribadi atau doa bersama (Yakabus 5:13-15); (5) Penumpangan tangan dan pengolesan minyak (Markus 16:17,18; Yakobus 5:14).[10]

3. Pemeliharaan Diri Setelah Disembuhkan 

Setelah sakit penyakit disembuhkan maka merupakan kewajiban bagi orang percaya untuk memelihara diri/tubuh mereka karena tubuh orang percaya adalah bait Roh Kudus. Pemeliharaan itu dapat dilakukan dengan cara : (1) Taat dan senantiasa memperhatikan firman Tuhan secara konsisten (Keluaran 15:26; 7:12-15); (2) Tidak berbuat dosa lagi (Yohanes 5:14); (3) Beribadah kepada Yesus Kristus (Keluaran 23:25; 1 Timotius 4:8; Ibr 10:25); (4) Memelihara hati (Amsal 17:22); (5) Hidup teratur, disiplin, melaksanakan pola hidup sehat (Ulangan 23:9-14); (6) Mengasihi Tuhan (Markus 12:29,30).

TUJUAN DARI PENYEMBUHAN

Sebenarnya, ada dua tujuan utama untuk penyembuhan ilahi yang dilaksanakan di dalam Gereja dewasa ini, sebagaimana yang terjadi dalam Gereja mula-mula.[11]

1. Penyembuhan Ilahi Membuktikan Kuasa Allah

Mujizat, penyembuhan dan kuasa Tuhan yang tak terbatas bersumber dari pribadi Tuhan yang Mahakuasa dan tak terbatas. Mahakuasa berarti bahwa Allah kuat dalam segala-galanya dan sanggup melakukan apa saja yang sesuai dengan sifatNya sendiri. 

Di dalam Alkitab, kata Yunani “Shaddai” berarti ”Mahakuasa” yang hanya dipakai untuk Allah yaitu “El Shaddai” tercatat 56 kali (Kejadian 17:1). 

Dan kata “Shaddai” ini merupakan dasar bagi konsep kemahakuasan Tuhan. Tuhan tidak dibatasi oleh apapun. Tuhan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, Ia tidak dibatasi oleh keadaan, ia tidak dibatasi oleh ciptaaNya. Karena Dia yang menciptakan ruang dan waktu dan seluruh ciptaan yang ada. Dia sanggup melakukan apa saja yang Dia kehendaki yang sesuai dengan sifat atau atributNya yang sempurna. Jadi kita dapat mempercayai bahwa Ia dapat memberikan sebuah mujizat bagi kita yang akan membaikan kehidupan kita dan memuliakan namaNya.

Yesus menyembuhkan pada berbagai kesempatan untuk menarik perhatian dan untuk meneguhkan pesanNya. Sebenarnya, pada masa itu diharapkan bahwa penyembuhan ilahi akan menjadi surat mandat Sang Mesias (Lukas 5:23-24). Gereja rasuli juga menetapkan surat mandatnya dengan cara menyatakan kuasa Allah (berulang-ulang), yang seringkali diperlihatkan melalui pelepasan fisik (1 Korintus 2:4). Berbagai tanda dan keajaiban (termasuk penyembuhan) adalah tanda yang menyertai yang dengannya Allah memberkati pemberitaan Injil pada abad pertama, serta meneguhkan Firman itu (Ibrani 2:3-4).

2. Penyembuhan Ilahi Membuktikan Kasih Allah 

Memang benar Kristus menyembuhkan untuk mengesahkan pesanNya, tetapi Ia juga menyembuhkan karena rasa belas kasihanNya yang besar terhadap umat manusia yang menderita (Matius 9:36; Markus 1:41). Sifat dasar Allah adalah mengasihi (1 Yohanes 4:8). Penyembuhan adalah penerobosan kasih itu dalam dunia yang terbelenggu oleh dosa. Di satu pihak, Yesus memperoleh kemenangan atas kematian oleh kebangkitanNya. 

Di lain pihak, efeknya tidak akan mengakhiri kematian bagi orang-orang percaya hingga saat kebangkitan kita atau (jika kita masih hidup pada saat itu) kita terangkat untuk bertemu dengan Tuhan di udara. Dengan cara ini kemenangan atas kematian telah dijamin dan rantai-rantai penyakit dipatahkan sekarang. Kasih Allah dinyatakan dalam persediaanNya di dalam gereja untuk kelepasan ilahi dari penderitaan fisik.

HUBUNGAN KESEMBUHAN DAN KARYA PENDAMAIAN KRISTUS

Kesembuhan penyakit dimungkinkan oleh karya pendamaian Kristus di kayu salib (Yesaya 53:3-4; Matius 8:16-17), sebab pengampunan dosa memungkinkan terjadinya kesembuhan (Matius 103:3; Yakobus 5:15-16). Kesembuhan penyakit (holayenû) yang disebutkan dalam Yesaya 53:4, hanya merupakan kesembuhan sebagian. 

Dalam 1 Korintus 13, rasul Paulus mengatakan bahwa dalam zaman ini gereja hanya mengalami karunia-karunia rohani, termasuk kesembuhan “ek meuros” atau “yang tidak sempurna” hingga kedatangan Kristus yang kedua kali (1 Korintus 13:10). Itu sebabnya kita mendapati pernyataan Alkitab bahwa Efafroditus tidak segera mengalami kesembuhan dari penyakitnya dan bahkan hampir mati (Filipi 2:27), Timotius menderita penyakit pencernaan yang tidak disembuhkan secara sempurna (1 Timotius 5:23), dan Trofimus terpaksa ditinggalkan oleh Paulus di Miletus karena sakit (2 Timotius 4:20).

Rasul Petrus menerapkan Yesaya 53:5 pada pengampunan dosa. Rasul Petrus berkata mengenai Kristus, “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh” (1 Petrus 2:24). 

Seperti Yesaya melukiskan dosa sebagai penyakit (Yesaya 53:4-6), demikianlah rasul Petrus menggunakan perkataan Yesaya untuk menyampaikan kepada kita bahwa kesembuhan yang disebutkan dalam Yesaya 53:5 adalah terutama kesembuhan dari dosa. Itulah kesembuhan yang kita peroleh di dalam pendamaian. Dalam nada yang sama, Petrus mengutip Yesaya 53:6 saat ia berkata “Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu” (1 Petrus 2:25). 

Jadi karya pendamaian adalah untuk menyembuhkan kita dari dosa dan untuk mengembalikan kita (domba) yang tersesat kepada Allah, sebagaimana yang dijelaskan Petrus ketika menerapkan Yesaya 53:5-6. Jadi memang pendamaian berhubungan dengan penyembuhan tetapi tidak berhubungan secara langsung. 

Pendamaian berhubungan secara langsung dengan masalah dosa, dan pendamaian tersebut memungkinkan terjadinya kesembuhan fisik (Yesaya 53:4; Matius 8:16-17), karena pendamaian dilakukan untuk pengampunan dosa. Tetapi, karena pendamaian itu tidak secara langsung berhubungan dengan penyembuhan fisik, maka belum tentu penyembuhan fisik tersebut terjamin bagi umat Allah zaman ini.

Sekali lagi ini tidak berarti bahwa kesembuhan fisik dan pendamaian tidak berhubungan sama sekali. Karena pendamaian yang dikerjakan oleh Kristus, maka Allah telah memberikan karunia penyembuhan dan karunia-karunia lainnya dari Roh Kudus kepada gerejaNya. 

Hubungan tersebut dinyatakan dengan baik oleh Gordon Fee sebagai berikut, “Kesembuhan disediakan (dalam pendamaian) karena pendamaian membawa pembebasan dari ... akibat-akaibat dosa; meskipun demikian, karena kita belum menerima penebusan tubuh kita sepenuhnya, maka penderitaan dan kematian masih kita alami hingga kebangkitan kita dari kematian kelak”.[12] 

Gery S. Greig dan Kevin N. Spinger menyatakan, “Kuasa Allah melalui salib Kristus memungkinkan Mujizat penyembuhan terjadi sama seperti Ia memungkinkan pengudusan, ketahanan, dan ‘menderita bagi InjilNya oleh kekuatan Allah’ (2 Timotius 1:8)”.[13]

KARUNIA KESEMBUHAN

Dick Iverson mendefinisikan karunia kesembuhan sebagai “kemampuan yang Allah berikan untuk memberikan kesembuhan kepada tubuh jasmani pada waktu yang spesifik.[14] Selanjutnya Iverson menyatakan bahwa karunia kesembuhan ini seringkali disertai dengan suatu ukuran karunia iman dan karunia kata-kata pengetahuan. Karunia ini melibatkan pemberian iman kepada orang yang membutuhkan kesembuhan, mengangkat dia keluar dari alam keraguan dan ketidakpercayaan, mengambil langkah yang tepat menuju kesembuhan.[15] 

C. Peter Wagner mendefinisikan karunia kesembuhan sebagai, “kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota tubuh Kristus untuk bertindak sebagai perantara manusiawi. Melalui mereka Allah berkenan menyembuhkan penyakit dan memulihkan kesehatan terlepas dari cara-cara pengguna alami”.[16] 

Menurut Wagner, dalam satu arti, karunia kesembuhan dapat dipahami sebagai penyataan yang khusus dari karunia mujizat, tetapi kedua karunia itu tersebut disebutkan secara terpisah di Alkitab.[17] Masih menurut Wagner, bahwa kesembuhan menyangkut penyakit manusia secara khusus, dan meliputi bermacam-macam penyakit manusia.[18]

Rujukan Alkitabiah kepada karunia ini dalam 1 Korintus 12:9, 28, 30 secara harafiah adalah karunia-karunia kesembuhan karena ditulis dalam bentuk jamak. Rupanya hal ini secara tidak langsung menyatakan bahwa ada banyak atau lebih dari satu jenis karunia kesembuhan untuk jenis penyakit yang berbeda-beda. Kesimpulan ini didasarkan dari penelitian baik Dick Iverson maupun C. Peter Wagner.[19]

Perlu ditegaskan bahwa karunia kesembuhan tidak memberikan kuasa supranatural atas penyakit kepada seseorang, seperti yang terjadi pada seorang dukun atau paranormal. Orang yang menerima karunia kesembuhan hanya merupakan suatu alat yang dipakai oleh Allah sebagai saluran bagi Tuhan menyatakan kuasaNya. 

Orang dengan karunia kesembuhan tidak mempunyai hak dan kuasa untuk mengosongkan rumah sakit dan menyembuhkan semua orang, kecuali Tuhan yang memutuskan untuk melakukan hal itu menurut kedaulatan kehendakNya.[20] Ada hal-hal yang tidak dapat kita pahami mengenai kesembuhan dan kebaikan Allah, karena Alkitab juga mengajarkan bahwa tidak semua orang disembuhkan, dan adakalanya penyakit merupakan bagian dari rencana Allah yang mendatangkan kebaikan bagi orang itu (Bandingkan Ayub 2:5-10; 2 Korintus 12:7-9).[21]

Karunia kesembuhan juga tidak menjadikan para dokter tidak terpakai lagi. Dalam banyak hal Tuhan berkenan memakai cara-cara pengobatan medis yang tradisional maupun yang tercanggih untuk menyembuhkan orang yang sakit. Tetapi hal itu tidak boleh disamakan dengan karunia kesembuhan dalam pengertian “charismata”. Mengapa? Karena para dokter pada umumnya menggunakan bakat-bakat alami dan pengetahuan profesi atau keahlian khusus bukan dengan suatu karunia dalam pengertian charismata.[22]

KESEHATAN, RASIO DAN IMAN

Rasul Paulus adalah seorang pemimpin yang sangat diurapi Roh Kudus. Pelayanannya juga disertai mujizat-mujizat kesembuhan. Ketika memberitakan Injil di Listra, Paulus menyembuhkan orang yang lumpuh sejak lahirnya (Kisah Para Rasul 14:8-10). Mukjizat itu begitu ajaib sehingga ketika orang banyak melihat apa yang telah diperbuat Paulus, mereka itu berseru dalam bahasa Likaonia: "Dewa-dewa telah turun ke tengah-tengah kita dalam rupa manusia.” (Kisah Para Rasul 14:11).

Paulus tidak kalah menonjol dibandingkan Petrus. Jika bayangan Petrus menyembuhkan banyak orang (Kisah Para Rasul 5:15-16), saputangan atau kain yang dipakai Paulus mengandung urapan bila diletakkan ke atas tubuh orang sakit akan melenyapkan penyakit dan mengusir keluar roh-roh jahat (Kisah Para Rasul 19:12). Namun, ketika membimbing Timotius dan mengetahui bahwa anak rohaninya itu mempunyai kelemahan fisik, Paulus juga tidak langsung mendoakannya. Paulus tidak memberinya “saputangan ajaib” yang menyembuhkan. 

Namun, Paulus justru memberikannya sebuah resep. Paulus menyuruh Timotius untuk mengkonsumsi sedikit anggur sebagai food suplement(makanan penunjang) dan tonik bagi kesehatannya, khususnya bagi pencernaannya yang sering lemah. Paulus manasehati Timotius, “Janganlah lagi minum air saja, melainkan tambahkanlah anggur sedikit, berhubung pencernaanmu terganggu dan tubuhmu sering lemah” (1 Timotius 5:23).

Paulus percaya sepenuhnya terhadap kuasa kesembuhan ilahi. Imannya tentang kuasa Roh Kudus tak pernah diragukan. Namun, Paulus juga seorang yang sangat rasional. Ia tidak memisahkan antara iman dan rasio. Paulus adalah seorang yang terpelajar, baik dalam hal teologi maupun ilmu pengetahuan. Sebagai seorang ilmuwan dan pembelajar terkemuka, tentu sedikit banyak, walaupun bukan bidang keahliannya, Paulus memahami masalah-masalah medis. Bisa saja Paulus mendoakan perut Timotius serta memohonkan mukjizat kesembuhan dan kesehatan. Namun, Paulus juga mendidik Timotius agar hidup dengan bijak. Paulus ingin agar Timotius berhikmat dalam hal mengkonsumsi makanan dan minuman demi menjaga kesehatannya.[23]

Ada orang Kristen menekankan iman secara tidak proporsional. Iman memang adalah dasar dari segala sesuatu. Namun, bukan berarti kita menjadi bodoh dan konyol. Ada waktunya kita harus mengedepankan iman, tetapi ada pula masanya harus memakai akal budi. Demikian juga dengan sakit penyakit. Adakalanya kita cukup beriman saja, tetapi ada saatnya kita harus menjadi rasional dan realistis. 

Ada sakit penyakit terjadi karena kebodohan kita sendiri. Meskipun seseorang adalah hamba Tuhan yang diurapi, bahkan berkarunia kesembuhan, tetapi jika ia mengkonsumsi gula diluar batas maka ia pun dapat terkena penyakit diabetes. Jangan heran jika ada hamba Tuhan yang mati muda karena kelebihan kolesterol. Ia mungkin tekun berdoa, tetapi tidak pernah berolah raga, terlalu banyak makan daging, dan tidak merawat tubuh. Ada pendeta yang sakit jantung karena kebiasaan minum kopi yang berlebihan, alasannya, supaya kuat berdoa semalam suntuk. Ini tragis sekali.

Jika kita mengalami sakit pada saat ini, Tuhan ingin agar kita mengevaluasi diri dalam dua bidang iman dan rasio ini. Mungkin saja kita kurang beriman, kurang berdoa, dan kurang membaca firman Tuhan pada hari-hari ini. Namun, mungkin juga kita kurang menjaga kesehatan, kurang konsumsi vitamin, tidak pernah berolah raga, makan berlebihan, atau kurang tidur (istirahat). Karena itu, jadilah bijak, gunakanlah iman dan rasio untuk mendapatkan tubuh yang sehat. Karena iman seharusnya tidaklah bertentangan dengan rasio, maka orang-orang yang mengajarkan bahwa iman kontras dengan rasionalitas kemungkinan kurang memahami Alkitab dengan benar.

Jadi, kita perlu memperhatikan kesembuhan dengan cara apapun, yang tidak bertentangan dengan ajaran Alkitab dan iman Kristen. Yang dimaksud dengan cara apapun disini tidak termasuk penyembuhan melalui kuasa perdukunan, tempat keramat, arwah, okultisme, dan kuasa Iblis, karena hal-hal itu bertentangan dengan ajaran Alkitab dan iman Kristen. 

Tetapi kita bisa menggunakan penyembuhan dengan cara-cara medikal, pengetahuan kedokteran, pengobatan tradisional dan herbal. Tidak ada larangan untuk penyembuhan dengan cara-cara tersebut.[24] Tetapi perlu diingat, sekalipun pengobatan medis sudah semakin canggih masih ada penyakit yang tidak dapat diatasi oleh kedokteran, atau dengan kata lain belum ada obatnya. Karena itu, dalam semuanya itu kita harus percaya dan bergantung pada Tuhan untuk kesembuhan, betapapun canggihnya bidang kedokteran dan farmasi saat ini.

PERAN PROFESI KEDOKTERAN[25] 

Beberapa orang telah mengontraskan penyembuhan ilahi dengan profesi kedokteran. Ini merupakan sebuah kekeliruan yang tidak seharusnya terjadi! Para dokter telah menolong banyak orang karena keahlian mereka. Perhatikan penjelasan berikut ini. Para tabib mempunyai tempat yang terhormat di Israel (Yeremia 8:22). Yesus juga mengemukakan penggunaan minyak dan anggur sebagai obat oleh orang Samaria yang baik hati sebagai alat yang baik (Lukas 10:34). 

Lukas seorang dokter, adalah sahabat dekat Rasul Paulus (Kolose 4:14). Ketika perempuan yang mengalami pendarahan itu disembuhkan, dikatakan bahwa ia “telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya, malah sebaliknya keadaannya makin memburuk” (Markus 5:26). 

Jika tindakan untuk pergi kepada para tabib itu salah, maka ini merupakan kesempatan yang baik bagi Yesus untuk mengatakannya. Tetapi Yesus tidak melakukan hal itu, Ia menerima iman yang dinyatakan perempuan itu dan memujinya. Bahkan, dewasa ini Allah telah mengadakan banyak mukjizat bagi orang-orang yang tidak dapat ditolong oleh dokter.

Lalu bagaimana dengan catatan Alkitab mengenai raja Asa yang disalahkan karena “dalam kesakitannya itu ia tidak mencari pertolongan Tuhan, tetapi pertolongan tabib-tabib” (2 Tawarikh 16:12). Sebenarnya, penekanan ayat ini bukanlah larangan raja Asa untuk berkonsultasi dengan para tabib, tetapi bahwa ia menolak untuk meminta pertolongan dari Tuhan. Tampaknya, raja Asa telah mencari pertolongan dari Aram (Siria) dalam suatu tindakan ketidakpercayaan dan ketidaktaatan pada Tuhan, serta menolak untuk bersandar kepada Tuhan (ayat 7). 

Ayat ini tidak dapat dijadikan alasan bahwa orang Kristen harus anti dokter atau anti medis. Bukankah orang Kristen seharusnya tidak anti dokter justru tersirat dalam ucapan Yesus ini, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabit, tetapi orang sakit” (Lukas 5:31).

Yesus juga menyuruh kembali sepuluh orang kusta untuk memperlihatkan diri mereka kepada imam-imam (Lukas 17:14). Menurut hukum Taurat, imam-imam bertanggung jawab atas diagnosa, karantina, dan kesehatan umat Allah pada masa itu (Imamat 14:2, dst; Matius 8:4). 

Sebenarnya, Yesus mengakui bahwa para ahli diagnosa mempunyai tempatnya juga. Akan tetapi, imam-imam adalah perantara Tuhan, dan dalam hal ini mungkin untuk menganggap semua penyembuhan sebagai penyembuhan ilahi, entah terjadi dalam seketika atau berangsur-angsur (Lukas 5:14; 17:14). Sebaliknya, orang-orang yang disembuhkan dalam Alkitab tidak memberikan kesaksian tentang kesembuhannya sampai kesembuhan itu benar-benar dikerjakan oleh kuasa ilahi.

Kita menyadari bahwa dewasa ini telah terjadi penyalahgunaan atau penyimpangan doktrin dan praktik penyembuhan ilahi.[26] Namun, hal itu tidak menjadikan kita mundur dari mendeklarasikan secara positif kebenaran Alkitab, khususnya pemberitaan Injil yang disertai dengan kuasa, mujizat dan penyembuhan. Para Rasul sanggup mengatakan kepada orang lumpuh, “Apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu” (Kisah Para Rasul 3:6). 

Sungguh informatif bagi kita untuk memperhatikan bahwa sebagai bagian dari persediaan Allah untuk Gereja adalah pelayanan “kesembuhan”, yang tercatat sebagai salah satu manifestasi Roh Kudus (1 Korintus 12:28). Setiap gereja lokal diharapkan mempunyai manifestasi kuasa Roh Kudus karena hal itu merupakan karunia Allah kepada Gereja.

BAGAIMANA ALLAH MENYATAKAN KUASANYA UNTUK MENYEMBUHKAN ?

Saya percaya bahwa pelayanan kesembuhan masih tetap terjadi hingga saat ini. Kesembuhan ilahi tidak hanya terjadi pada masa lalu, tetapi juga masa sekarang. Jika kita percaya kepada Kristus, maka kepercayaan kita akan kuasaNya tidak perlu berhenti hanya pada masa para rasul. 

Sampai hari ini kita seharusnya percaya bahwa Kristus yang penuh kuasa tetap sama (Ibrani 13:8). Bukankah Allah mengaruniakan RohNya dengan tidak terbatas? (Lihat, Yohanes 3:34). Paulus berkata, “betapa hebat kekuatan (dynamis) Nya (Allah) bagi kita yang percaya, sesuai dengan tenaga (energeia) dari kekuatan (kratos) kuasa (ischys) Allah yang dikerjakanNya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari Antara orang mati” (Efesus 1:19-20).

Gery S. Greig dan Kevin N. Spinger menyatakan, “Surat-surat Kiriman (Perjanjian Baru) berisi lebih dari 40 rujukan mengenai kuasa Allah (dunamis). Nas Seperti Efesus 6:10 memerintahkan kita untuk mencari kuasa Allah agar dapat melayani Dia dan hidup bagi Dia, ‘Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya’.”[27] Banyak nas yang lain seperti berikut ini memperlihatkan bahwa kuasa Allah merupakan bagian utama dalam pemberitaan Injil, dalam pelayanan firman Tuhan, dan pertumbuhan secara rohani: Roma 15:18-19; 1 Korintus 1:17-18; 2:4-5; 4:20; Efesus 1:18-20; 3:16-17; 6:10-11; 1 Tesalonika 1:5.

Lalu, bagaimana cara Allah menyatakan kuasaNya, yang menghasilkan mujizat maupun penyembuhan, berikut ini beberapa hal penting yang perlu ditegaskan, yaitu:

1. Kuasa Allah Dinyatakan Menurut Cara Kedaulatannya

Misalnya, dalam Keluaran 15:22-27, mengisahkan tentang mujizat kedua yang Allah nyatakan kepada umatNya Israel setelah mereka meninggalkan Mesir, yaitu mujizat air pahit di Mara menjadi manis ketika Musa atas petunjuk Tuhan melemparkan sepotong kayu ke air itu. Bandingkan juga dengan mujizat dan penyembuhan yang terjadi melalui pelayanan nabi Elisa dalam 2 Raja-raja 2:19-25 tentang air di Yerikho yang disehatkan dengan garam yang ditaruh dalam sebuah pinggan baru; 2 Raja 4:38-41 tentang makanan beracun yang ditawarkan racunnya dengan tepung; dan 2 Raja-raja 6:1-7 tentang mata kapak yang mengapung. 

Semua mujizat itu dilakukan menurut cara dan kehendak Tuhan dengan metode dan sarana yang berbeda-beda. Kuasa Allah dinyatakan karena adanya kebutuhan-kebutuhan yang tidak bisa dipenuhi oleh manusia dalam keadaan tertentu, menurut kedaulatan (kehendak) Tuhan (Bandingkan Yohanes 5:1-9).

2. Kuasa Allah Dinyatakan Melalui Ketaatan Kepada Allah dan Firman Allah 

Firman Allah adalah Allah sendiri. PikiranNya, perasaanNya, isi hatiNya, rencana dan kehendakNya ada pada FirmanNya. Allah dapat tinggal di dalam kita melalui Roh dan FirmanNya, dan melalui firmanNya Allah menyatakan kuasaNya bagi kita. Kuasa Firman itu nyata pada saat kita taat melaksanakannya (Mazmur 107:17-20).

3. Kuasa Allah Dinyatakan dengan Percaya Pada Nama Yesus Yang Berkuasa 

Nama Yesus adalah nama yang berkuasa. Nama Yesus adalah nama yang diberikan oleh Allah sendiri. Nabi Yesaya mengungkapkan kehebatan, keajaiban dan kuasa yang ada dalam diri Yesus dengan ungkapan, ” ... dan namaNya disebut orang Penasihat ajaib, Allah yang perkasa, Bapa yang kekal, Raja damai” (Yesaya 9:6b). Selanjutnya tentang kehebatan, kuasa, keajaiban, dan keutamaan nama Yesus bacalah ayat-ayat berikut ini : Kisah Para Rasul 4:12; 10:43; Roma 9:17; Efesus 1:21; Filipi 2:10; Ibrani 1:4; Wahyu 22:4).

4. Kuasa Allah Dinyatakan dengan Percaya Pada Darah Yesus Kristus Yang Berkuasa 

Darah Yesus adalah darah yang berkuasa, karena darahNya tidak bercacat cela (1 Petrus 1:18-20). Oleh darah Yesus kita ditebus dan diperdamaikan dengan Allah (Efesus 1:7; Kolose 1:20), oleh darah Yesus kita memiliki keberanian menghampiri Allah (Ibrani 10:19), oleh darah Yesus kita dikuduskan (Ibrani 13:12), dan oleh darah Yesus kita mengalahkan Iblis dan kuasanya (Wahyu 12:11).

5. Kuasa Allah Dinyatakan dengan Kuasa Roh Kudus Yang Bekerja 

Roh kudus adalah Pribadi yang memberi kuasa kepada kita (Kisah Para Rasul 1:8). Alkitab menegaskan bahwa tanpa Roh Kudus kita tidak dapat berbuat apa-apa Alkitab mengatakan : ”bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan rohKu, Firman Tuhan semesta alam” (Zakharia 4:6).

6. Kuasa Allah Dinyatakan Ketika Kita Berdoa dengan Sungguh-Sungguh 

Allah mendengar doa, melalui doa Ia menyatakan kuasaNya. Tidak dapat disangkal lagi bahwa Allah mendengarkan doa hamba-hambaNya dan orang-orang percaya. Ini banyak tercatat dalam Alkitab. Kita ingat bahwa ketika Yabes berdoa dengan sungguh-sungguh, tidak setengah-setengah kuasa Allah dinyatakan. 

Kesungguhan Yabes diungkapkan dengan kalimat “Yabes berseru kepada Allah”. Ingatkah kita akan Elia? Elia juga pernah sungguh-sungguh berdoa dan Allah menjawab doanya. Alkitab mengatakan “Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujanpun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan” Yakobus 5:17) Siapakah Elia ? siapakah Yabes? Sehingga doa mereka di dengar oleh Allah! Mereka adalah manusia biasa sama seperti kita, bedanya adalah bahwa mereka telah sungguh-sungguh berdoa kepada Allah. 

Dalam kasus di Keluaran 16:22-27, Musa berdoa kepada Allah dan Allah menujukkan sepotong kayu sebagai jawaban doa Musa. Perlu bagi saya untuk menegaskan ini, bahwa jawaban dari doa yang kita naikkan kepada Allah tidak harus selalu seperti yang kita pikirkan atau inginkan, tetapi pasti bahwa Allah memberi yang terbaik bagi kita (Bandingkan dengan Elia dalam Yakobus 5:17-18; 1 Raja-raja 17). 

7. Kuasa Allah Dinyatakan Melalui Iman 

Allah begitu menghargai iman kita sehingga walaupun iman itu hanya sebesar biji sesawi iman itu dapat memindahkan gunung (Matius 17:20). Iman sejati menarik kuasa Allah yang menghasilkan mujizat. Yesus berkata kepada wanita yang telah dua belas tahun menderita pendarahan, “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Dan sejak saat itu sembuhlah perempuan itu (Matius 9:22). Kepada dua orang buta yang minta pertolonganNya, Yesus berkata, “Jadilah kepadamu menurut imanmu” (Matius 9:29).

8. Kuasa Allah Dinyatakan Ketika Kita Bertekun dan dengan Sabar Mencari Dan Menantikan Allah 

Banyak orang percaya yang tidak memahami bahwa ketekunan dan kesabaran adalah salah satu kunci dimana Allah menyatakan kuasaNya. Mengapa? Karena kesabaran adalah sifat Allah sendiri. Alkitab mengatakan bahwa Tuhan itu panjang sabar (Bilangan 14:18). Kita perlu dengan tekun dan sabar menantikan Tuhan sehingga kuasaNya dinyatakan (Yesaya 40:27-29). Ketekunan merupakan salah satu bukti iman. Bukti iman bukan dari cepatnya jawaban doa, melainkan ketekunan dalam doa untuk menanti jawaban Tuhan (Roma 12:12; Filipi 4:6; 1 Tesalonika 5:17).

METODE DAN SARANA PENYALURAN KUASA ALLAH 

Berikut berbagai metode dan sarana yang pakai di dalam Alkitab sebagai cara Allah menyatakan kuasaNya.

1. Pujian dan Ucapan Syukur[28]

Pada saat nama Tuhan dipuji, ditinggikan dan dimuliakan dengan pujian, nyanyian, dan ucapan syukur disitulah kuasaNya dinyatakan. Kita perlu memuji Allah atas kebaikan dan anugerahNya; memuji Allah tentang kebesaran, kehebatan, keadilan, kekudusan, dan kemurahanNya. (Mazmur 22:12-14; 1 Tesalonika 5:10). Ketika Paulus dan Silas berada di penjara Filipi mereka memuji Tuhan dan kuasa Allah dinyatakan (Kisah Para Rasul 16:23-40). Ketika Yosua dan tentara Israel bersorak-sorak memuji Tuhan kuasa Allah juga dinyatakan (Yosua 1:1-27). Itulah sebabnya di dalam ibadah Kharismatik, puji-pujian dan penyembahan yang selebratif dan ekspresif sangat ditekankan.

2. Sakramen-Sakramen Gereja

Kita mengakui dua macam sakramen yaitu Baptisan Air dan Perjamuan Kudus.[29] Keduanya ditetapkan oleh Kristus sendiri untuk dilaksanakan oleh gereja (Matius 28:19; Markus 16:16; 1 Korintus 11:17-34). Agustinus menyebutnya sebagai “bentuk yang kelihatan dari anugerah yang tidak kelihatan”.[30] Sakramen kemudian dijelaskan sebagai “tanda di luar dan yang kelihatan dari suatu anugerah yang di dalam dan tidak kelihatan”.[31] 

Karena alasan inilah yang membuat banyak Protestan lebih memilih istilah “ordinansi”, yang tidak memiliki konotasi yang mengandung anugerah. Suatu ordinansi secara sederhana berarti, “suatu ritus luar yang diperintahkan oleh Kristus untuk dilakaukan oleh gereja”.[32] Kharismatik mengakui bahwa kedua sakramen ini bila dilakukan dengan sungguh-sungguh dibawah pimpinan Roh Kudus maka melaluinya kuasa Allah bekerja.

3. Kuasa Allah Dinyatakan melalui Pengurapan Minyak oleh Penatua

Memanggil para Penatua dan mengurapi dengan minyak adalah ajaran Alkitabiah (Yakobus 5:14-15; Markus 6:13). Kita tahu, bahwa di zaman kuno orang menggunakan minyak zaitun untuk mengoles minyak atau memijit tubuh dengan minyak merupakan praktik medis yang lazim. Misalnya dalam perumpamaan orang Samaria yang baik, orang Samaria itu dikatakan mengoleskan minyak dan anggur pada luka orang Yahudi yang dirampok itu (Lukas 10:33-34).[33] 

Tema utama dari ayat Yakobus di atas bukanlah kuasa pengolesan minyak melainkan kuasa doa. Jadi bukan minyak yang menyembuhkan melalui unsur obat-obatan, tetapi “doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang yang sakit itu”. Dalam ayat ini, minyak adalah lambang dari Roh Kudus.

4. Kuasa Allah Dinyatakan melalui Penumpangan Tangan

Penumpangan tangan dan doa oleh orang percaya secara umum merupakan hal yang Alkitabiah (Markus 16:16-18; Matius 19:19). Allah tidak membatasi penyediaanNya kepada satu alat saja atau hanya melalui orang tertentu saja. Dia akan memakai siapa saja yang bersedia dan percaya kepadaNya. Semua orang percaya mempunyai hak istimewa untuk percaya kepada firman Allah dan berdoa untuk yang sakit.

5. Kuasa Allah Dinyatakan Melalui Berbagai Medium 

Medium yang disebut dalam Alkitab yang pernah dipakai sebagai perantara penyaluran kuasa Allah, antara lain: 

(1) Jubah Yesus, “Dan semua orang yang menjamahNya menjadi sembuh” (Markus 6:56); 

(2) banyangan Petrus (Kisah Para Rasul 5:15-16). Berusaha menjamah Yesus dan para rasul mengindikasikan iman pada pihak yang sakit. Ini atas dasar iman bahwa semua disembuhkan. Iman mendasari semua kebenaran kesembuhan. Iman dituntut dari orang yang dalam kebutuhan dan orang yang sedang berdoa dan bahkan orang membawa orang sakit. (“Melihat iman mereka”, Matius 9:2); 

(3) Sapu tangan dan pakaian dari Paulus. “Oleh Paulus Allah mengadakan mujizat-mujizat yang luar biasa, bahkan orang membawa saputangan atau kain yang pernah dipakai oleh Paulus dan meletakkannya atas orang-orang sakit, maka lenyaplah penyakit mereka dan keluarlah roh-roh jahat”(Kisah Para Rasul 19:11-12).

Peringatan: Perlu untuk mewaspadai keterikatan penggunaan alat perantara dalam pelayanan kesembuhan seperti penggunaan minyak, saputangan, kain, jubah, dan lainnya. Beranggapan bahwa semua penyakit dapat disembuhkan dengan pengolesan minyak adalah sebuah kekeliruan. Disini ada kemungkinan untuk munculnya anggapan seolah-olah minyak itu sama dengan “minyak” yang berkasiat dan mengandung mistik. 

Juga perlu berhati-hati terhadap penggunaan sakramen Perjamuan Kudus dan atau sakramen Baptisan Air yang dijadikan sebagai perantara khusus untuk memperoleh kesembuhan. Memang Allah tidak dibatasi oleh media apapun, tetapi tidak ada jaminan Perjamuan Kudus dan Baptisan Air adalah alat yang khusus untuk kesembuhan dalam Alkitab. 

Justru sebaliknya, kecerobohan dan kesalahan dalam Perjamuan Kudus dapat mengakibatkan hukuman. Paulus menasehati demikian, “Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu. Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya. Sebab itu banyak di antara kamu yang lemah dan sakit, dan tidak sedikit yang meninggal. Kalau kita menguji diri kita sendiri, hukuman tidak menimpa kita” (1 Korintus 11:27-31).

Memang kita tidak boleh membatasi pemakaian media untuk penyembuhan, tetapi menjadikannya sebagai satu-satunya metode baku untuk penyembuhan adalah penyimpangan dari kebenaran. Penggunaan metode tertentu secara baku dapat menyebabkan ketergantungan pada metode atau media tersebut, dan bukan kepada Tuhan.

KESAKSIAN: MENGALAMI KUASA TUHAN

Beberapa tahun yang lalu saya diminta untuk mendoakan seseorang di rumah sakit. Selesai ibadah raya minggu siang saya beserta istri dan tim kami mengunjungi dan mendoakan orang tersebut. Setelah selesai kami segera akan pulang, tetapi di pintu depan ruangan itu ada seorang pria setengah baya yang menghampiri saya, dan memperkenalkan diri pada saya. 

Pria ini mengatakan bahwa ia mengenal saya di desa Tumbang Empas (sekarang desa ini masuk di Kabupaten Gunung Mas, Provinsi Kalimantan Tengah) ketika saya dalam pelayanan penginjilan ke sana. Ia kemudian menceritakan masalahnya, dan mengapa ia berada di rumah sakit itu. Ia meminta saya mendoakan putranya yang besok pagi akan dioperasi karena menderita penyakit ”kencing batu” atau prostat. Saya setuju dan kemudian kami bersatu hati untuk berdoa. Setelah selesai kami pergi dan tidak mengetahui apa yang terjadi kemudian.

Sekitar empat tahun berlalu setelah kejadian itu, tanpa sengaja saya bertemu lagi dengan bapak ini. Dia menceritakan kepada saya bahwa anaknya yang kami doakan minggu siang itu, esok paginya sebelum operasi, buang air kecil dengan bantuan selang kecil dan ketika buang air kecil ini sangat sakit karena ternyata ada ”kotoran” berupa pecahan-pecahan daging yang keluar. 

Dokter memeriksa dan mengatakan bahwa anak tersebut tidak jadi dioperasi karena ”batu daging” yang akan dioperasi pagi itu telah bersih keluar ketika anak ini buang air kecil. Puji Tuhan! itulah mujizat Tuhan kita. Dia ajaib, Dia besar, Dia mahakuasa, KuasaNya tak terbatas bagi kita yang percaya. Paulus berkata, “betapa hebat kekuatan (dynamis) Nya (Allah) bagi kita yang percaya, sesuai dengan tenaga (energeia) dari kekuatan (kratos) kuasa (ischys) Allah yang dikerjakanNya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari Antara orang mati” (Efesus 1:19-20).


Ringkasnya, para penganut Kharismatik menyakini bahwa penyembuhan penyakit dimungkinkan oleh karya pendamaian Kristus di kayu salib (Yesaya 53:3-4; Matius 8:16-17). Pendamaian berhubungan secara langsung dengan masalah dosa, dan pendamaian tersebut memungkinkan terjadinya kesembuhan fisik (Yesaya 53:4; Matius 8:16-17), karena pendamaian dilakukan untuk pengampunan dosa. Karena pendamaian yang dikerjakan oleh Kristus, maka Allah telah memberikan karunia kesembuhan dan karunia-karunia lainnya dari Roh Kudus kepada gerejaNya. 

Karena pendamaian itu tidak secara langsung berhubungan dengan penyembuhan fisik, maka belum tentu penyembuhan fisik tersebut terjamin bagi umat Allah zaman ini. Ada hal-hal yang tidak dapat kita pahami mengenai kesembuhan dan kebaikan Allah, karena Alkitab juga mengajarkan bahwa tidak semua orang disembuhkan, dan adakalanya penyakit merupakan bagian dari rencana Allah yang mendatangkan kebaikan bagi orang itu (Bandingkan Ayub 2:5-10; 2 Korintus 12:7-9).[34]

Karunia kesembuhan tidak memberikan kuasa supranatural atas penyakit kepada seseorang, seperti yang terjadi pada seorang dukun atau paranormal. Orang yang menerima karunia kesembuhan hanya merupakan suatu alat yang dipakai oleh Allah sebagai saluran bagi Tuhan menyatakan kuasaNya. Karunia kesembuhan juga tidak menjadikan para dokter tidak terpakai lagi. 

Dalam banyak hal Tuhan berkenan memakai cara-cara pengobatan medis yang tradisional maupun yang tercanggih untuk menyembuhkan orang yang sakit. Tetapi hal itu tidak boleh disamakan dengan karunia kesembuhan dalam pengertian “charismata”. Mengapa? Karena para dokter pada umumnya menggunakan bakat-bakat alami dan pengetahuan profesi atau keahlian khusus bukan dengan suatu karunia dalam pengertian charismata.

DAFTAR PUSTAKA: KESEMBUHAN DALAM PERSPEKTIF KHARISMATIK 

Arrington, French L., 2004. Christian Doctrine A Pentacostal Perspective, 3 Jilid. Terjemahan, Penerbit Departemen Media BPS GBI : Jakarta.

Baskoro, Haryadi., 2006. All About Healing. Penerbit ANDI Offset: Yogyakarta.

Bennet, Dennis., 2010. How to Pray for The Release of the Holy Spirit. Terjemahan, Penerbit Andi : Yogyakarta

Brill, J. Wesley., 1993. Dasar Yang Teguh. Yayasan Kalam Hidup: Bandung.

Chang, Jimmy., 2012. Hidup Dalam Kesehatan Ilahi. Penerbit ANDI Offset: Yogyakarta

Conner, Kevin J., 2004. A Practical Guide To Christian Belief, terjemahan, Penerbit Gandum Mas: Malang.

________________., 2004. Jemaat dalam Perjanjian Baru. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas: Malang.

Douglas, J.D., ed, 1996. Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, Jilid I dan II. Terj, Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF : Jakarta.

Eleeas, Indrawan., 2013. Mujizat Kesembuhan Untuk Anda. Penerbit ANDI Offset : Yogyakarta.

Erickson J. Millard., 2003. Teologi Kristen. Jilid 3. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas : Malang.

Greig, Gary. S & Kevin N. Spinger, ed., 2001. Kebutuhan Gereja Saat Ini. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas : Malang.

Grudem, Wayne., 1994. Systematic Theology: A Introduction to a Biblical Doctrine. Zodervan Publising House : Grand Rapids, Michigan.

Hoekema, Anthony A., 2010. Diselamatkan Oleh Anugerah, Penerbit Momentum : Jakarta.

Iverson, Dick., 1994. Roh Kudus Masa Kini, Diktat. Terjemahan, Harvest International Teological Seminary, Harvest Publication House: Jakarta.

____________., 1994. Kebenaran Masa Kini. Terjemahan, Inonesia Harvest Outreaach: Jakarta.

Lim, David., 2005. Spiritual Gifts: A Fressh Lock. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas : Malang.

Litzmen, Waren L., 1990. Pentecostal Truths. Penerbit Gandum Mas : Malang.

Manohey, Ralph., 2009. Tongkat Gembala. Lembaga Pusat Hidup Baru: Jakarta.

Menzies, William W & Robert P., 2005. Roh Kudus dan Kuasa. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas : Malang.

Menzies, William W & Stanley M. Horton., 2003. Doktrin Alkitab. Terjemahan, Penerbit, Gospel Press: Batam.

Munroe, Myles., 2012. The Purpose And Power of Praise and Worship. Penerbit Immanuel : Jakarta.

Notoatmodjo, Soekidjo., 2007. Kesehatan Masyarakat: Ilmu dan Seni. Penerbit PT. Rineka Cipta : Jakarta.

Piper, John., 2010. Penderitaan Yesus Kristus: Lima Puluh Alasan Mengapa Dia Datang Untuk Mati.Penerbit Momentum: Jakarta

Prince, Derek., 2004. The Holy Spirit in You. Terjemahan, Penerbit Derek Prince Ministries Indonesia : Jakarta.

____________, 2005. Fondations Rightouness Living. Terj, Penerbit Derek Prince Ministries Indonesia : Jakarta.

Prince, Joseph., 2010. Destined To Reign: Rahasia Keberhasilan, Keutuhan, dan Kehidupan Berkemenangan. Terjemahan, Penerbit Immanuel : Jakarta.

Prince, Joseph., 2012. Destined To Reign: Renungan Harian. Terjemahan, Penerbit Immanuel : Jakarta.

Rubyono, Homan., 2002. Ketika Allah Menjamah Manusia. Penerbit Kalam Hidup : Bandung.

Ryrie, Charles C., 1991. Teologi Dasar. Jilid 1 & 2, Terjemahan, Penerbit ANDI Offset: Yogyakarta.

Samuel, Wilfred J., 2007. Kristen Kharismatik. Terjemahan. Penerbit BPK : Jakarta.

Silalahi, Djaka Christianto., 2001. Karismatik Bercampur dengan Perdukunan? Penerbit ANDI Offset: Yogyakarta.

SJ, L. Sugiri, dkk, 1995., Gerakan Kharismatik: Apakah itu? Penerbit BPK : Jakarta.

Sobur, Alex., 2003. Psikologi Umum dalam Lintasan Sejarah. Penerbit Pustaka Setia: Bandung.

Stamps, Donald. C, ed., 1994. Full Life Bible Studi. Penerbit Gandum Mas : Malang.

Sumrall, Lester., 1995. Pioneers Of Faith. Terjemahan, Penerbit Immanuel : Jakarta.

Susanto, Hasan., 2003. Perjanjian Baru Interlinier Yunani-Indonesia dan Konkordansi Perjanjian Baru, jilid I & II. Penerbit Literatur SAAT : Malang.

Takaliuang, Pondsius., 1987. Cara Menghidupkan Mayat Di dalam Terang Frman Tuhan. Penerbit Gandum Mas: Malang.

Tan, Peter., 1993. Tiga Baptisan. Terj, Penerbit Yayasan Eternal Glory : Jakarta.

_________., 1993. Hukum-Hukum Kesembuhan. Terj, Penerbit Yayasan Eternal Glory: Jakarta.

Tanusaputra, Abraham Alex., 2005. Batu Penjuru. Diterbitkan oleh House of Blessing : Surabaya.

Thiessen, Henry C., 1992. Teologi Sistematikagy, direvisi Vernon D. Doerksen. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas : Malang.

Vincent, Alan, Charles C., 2011. Heaven On Earth. Terjemahan, Penerbit ANDI Offset: Yogyakarta.

Wagner, C. Peter., 1998. Berdoa dengan Penuh Kuasa. Terjemahan, Penerbit Nafiri Gabriel : Jakarta.

__________________, 1988. Manfaat Karunia-Karunia Rohani Untuk Pertumbuhan Gereja. Terjemahan, penerbit Gandum Mas : Malang.

__________________., 1999. Gereja-Gereja Rasuli Yang Baru. Terjemahan, Penerbit Immanuel : Jakarta.

[1] Hoekema, Anthony A., 2010. Diselamatkan Oleh Anugerah, Penerbit Momentum : Jakarta, hal.45. (Anthony A. Hoekema menerima gelar B.A. dari Calvin College, gelar M.A. bidang psikologis dari University of Michigan, gelar Th.M dari Calvin Theological Seminary, dan gelar Th.D dari Princenton Seminary. Ia pernah mengajar di Calvin College dan profesor teologi sistematis di Calvin Theological Seminary, Grand Rapids, Michigan).

[2] Ibit, hal 46.

[3] Ibit.

[4] Lim, David., 2005. Spiritual Gifts: A Fressh Lock. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas : Malang, hal. 321; Menzies, William W & Stanley M. Horton., 2003. Doktrin Alkitab. Terjemahan, Penerbit, Gospel Press: Batam, hal. 197-201; Menzies, William W & Robert P., 2005. Roh Kudus dan Kuasa. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas : Malang, hal. 237-255.

[5] Tentang mujizat dapat dilihat dalam penjelasan saya di pasal 10.

[6] Brill, J. Wesley., 1993. Dasar Yang Teguh. Yayasan Kalam Hidup: Bandung.

[7] Douglas, J.D., ed, 1996. Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, Jilid I dan II. Terj, Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF : Jakarta, hal. 367; Takaliuang, Pondsius., 1987. Cara Menghidupkan Mayat Di dalam Terang Frman Tuhan. Penerbit Gandum Mas: Malang, hal. 238-242.

[8] William W & Stanley M. Horton., Doktrin Alkitab. hal. 195.

[9] Lihat juga Penjelasan: Eleeas, Indrawan., 2013. Mujizat Kesembuhan Untuk Anda. Penerbit ANDI Offset : Yogyakarta, hal. 7-21; Iverson, Dick., 1994. Roh Kudus Masa Kini, Diktat. Terjemahan, Harvest International Teological Seminary, Harvest Publication House: Jakarta, hal. 104-105. Takaliuang, Pondsius., Cara Menghidupkan Mayat Di dalam Terang Frman Tuhan, hal. 244-246.

[10] Lihat penjelasan selanjutnya pada bagian akhir bab ini.

[11] William W & Stanley M. Horton, Doktrin Alkitab, hal. 207-208; Iverson, Dick, Roh Kudus Masa Kini, hal. 104

[12] Jeffrey Niehaus, Tanda-tanda dan Mukjizat-mujizat dalam Pelayanan Para Nabi dan Penebusan yang Bersifat Penggantian dari Yesaya 53, dalam Greig, Gary. S & Kevin N. Spinger, ed., 2001. Kebutuhan Gereja Saat Ini. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas : Malang.

[13] Greig, Gary. S & Kevin N. Spinger, ed., 2001. Kebutuhan Gereja Saat Ini, hal. 40.

[14] Iverson, Dick, Roh Kudus Masa Kini, hal. 99.

[15] Ibit.

[16] Wagner, C. Peter, 1988. Manfaat Karunia-Karunia Rohani Untuk Pertumbuhan Gereja. Terjemahan, penerbit Gandum Mas : Malang, hal. 241.

[17] Ibit

[18] Ibit

[19] Iverson, Dick, Roh Kudus Masa Kini, hal. 99-100; Wagner, C. Peter, Manfaat Karunia-Karunia Rohani Untuk Pertumbuhan Gereja. hal. 241.

[20] Klausa “kecuali” menunjukkan bahwa disini saya tidak berani membatasi kuasa Tuhan, karena jika Ia yang menginginkannya maka Ia akan melakukannya.

[21] Wagner, C. Peter, Manfaat Karunia-Karunia Rohani Untuk Pertumbuhan Gereja. hal. 242.

[22] Sama.

[23] Baskoro, Haryadi., 2006. All About Healing. Penerbit Andi: Yokyakarta, hal. 157.

[24] Untuk kesehatan herbal dan cara alami, saya menganjurkan untuk membaca buku Jimmy Chang yang berjudul Hidup Dalam Kesehatan Ilahi, Penerbit ANDI Offset: Yogyakarta.

[25] Penjelasan bagian ini diadopsi dari William W & Stanley M. Horton, Doktrin Alkitab, hal. 206-207; Bandingkan dengan Eleeas, Indrawan., 2013. Mujizat Kesembuhan Untuk Anda. Penerbit ANDI Offset : Yogyakarta, hal. 39-40.

[26] Indrawan Eleeas menyebutkan tujuh daftar penyimpangan yang mungkin terjadi berhubungan dengan penyembuhan ilahi, yaitu: (1) pengkultusan individu atau pelayan yang dipakai dalam pelayanan penyembuhan; (2) Pelayanan penyembuhan yang dipakai untuk memperoleh uang; (3) Menitik beratkan penggunaan alat perantara (media) tertentu; (4) Tuntutan atau penekanan terhadap ayat-ayat tertentu; (5) sikap anti obat atau anti dokter; (6) Tempat-tempat yang disakralkan; dan (7) Kesombongan rohani. (Lihat. leeas, Indrawan., 2013. Mujizat Kesembuhan Untuk Anda. Penerbit ANDI Offset : Yogyakarta, hal. 123-132).

[27] Greig, Gary. S & Kevin N. Spinger, ed., Kebutuhan Gereja Saat Ini. Hal. 39.

[28] Tentang pujian dan penyembahan ini akan dibahas lebih lanjut pada pasal 13.

[29] Mengenai arti Perjamuan Kudus, ada empat pandangan dalam Kekristenan, yaitu: (1) Katolisisme (Transubstansiasi), menurut pandangan ini roti dan anggur secara harafiah berubah menjadi tubuh dan darah Kristus. Signifikansinya ialah penerima berbagian dalam Kristus yang sedang dikorbankan dalam Misa untuk menebus dosa-dosa; (2) Lutheranisme (Konsubstansiasi), menurut pandangan ini roti dan anggur berisi tubuh dan darah Kristus, namun tidak berubah secara harafiah. Kristus secara aktual hadir “dalam, dengan, dan dibawah” unsur-unsur itu. Signifikansinya ialah penerima menerima pengampunan dari dosa dan konfirmasi atas imannya melalui berbagian dalam unsur-unsur itu, tetapi mereka harus menerimanya dengan iman; (3) Calvinisme (Prebysterian dan Reformed), menurut pandangan ini Kristus tidak secara harafiah hadir dalam unsur-unsur itu, tetapi ada kehadiran Kristus secara spiritual. Signifikansinya ialah penerima menerima anugerah melalu berbagian dalam unsur-unsur itu; (4) Memorial (Baptis, Mennonite), menurut pandangan ini Kristus tidak hadir secara fisik atau spiritual. Signifikansinya ialah penerima hanya memperingati kematian Kristus. (Penjelasan lebih lanjut lihat: Enns, Paul., 2004. The Moody Handbook of Theology, jilid 3. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT: Malang, hal 447-454).

[30] Enns, Paul., 2004.The Moody Handbook of Theology, jilid 3. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT: Malang, hal 447.KESEMBUHAN DALAM PERSPEKTIF KHARISMATIK .

[31] Ibit.

[32] Ibit

[33] Hoekema, Anthony A., 2010. Diselamatkan Oleh Anugerah, hal.48.

[34] Wagner, C. Peter, Manfaat Karunia-Karunia Rohani Untuk Pertumbuhan Gereja. hal. 242.KESEMBUHAN DALAM PERSPEKTIF KHARISMATIK.https://teologiareformed.blogspot.com/
Next Post Previous Post