TIGA PRINSIP PERSEMBAHAN KRISTEN

TIGA PRINSIP PERSEMBAHAN KRISTEN
TIGA Prinsip persembahan Kristen – Alkitab mengajarkan kepada kita tentang sikap hati yang tepat dan benar ketika akan memberi persembahan. Ini sangat penting karena ada korelasinya dengan kasih dan ketaatan kita kepada Allah dan perintah-Nya di dalam Alkitab baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. 

Umat Allah Perjanjian Baru harus tahu tiga prinsip persembahan Kristen yang olehnya Allah berkenan akan korban syukur dan persembahan yang kita bawa ke altar-Nya yang kudus. Artinya bahwa kita tidak boleh membawa dan memberi persembahan kita itu dengan seadanya karena menganggap bahwa itu hanya sebuah rutinitas. 

Kita harus membangun secara benar tiga prinsip persembahan Kristen di dalam hidup kita. Artinya bahwa seluruh totalitas hidup kita terlibat secara langsung terhadap penyembahan kepada Allah. Keterlibatan secara langsung terhadap penyembahan kepada Allah ada korelasinya dengan mengasihi Allah sepenuhnya. Hal ini sesuai dengan apa yang ditulis oleh penulis Injil Matius demikian: “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” – Matius 22:36-37. 

Pertanyaan penting yang harus diajukan ialah: “Bagaimana tiga prinsip persembahan Kristen yang patut kita ketahui dan aplikasikan dalam ibadah dan penyembahan kita kepada Tuhan?” Berikut 3 (tiga) prinsip yang harus kita ketahui dan terapkan dalam ibadah dan penyembahan kepada Tuhan, yaitu: 

1. Yesus sangat peduli dengan persembahan yang kita bawa kepada-Nya. 

Prinsip persembahan Kristen yang pertama ialah bahwa kita harus tahu Yesus sangat peduli dengan persembahan yang kita bawa kepada-Nya. Yesus selama pelayanan-Nya di dunia ini, salah satu hal yang dilakukan-Nya ialah memperhatikan setiap orang yang membawa korban persembahan mereka ke altar Tuhan. 

Tentang hal itu, dokter Lukas mengabadikan dalam Injil yang ditulisnya berdasarkan pimpinan dan ilham Roh Kudus menulis demikian: “Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu. Lalu Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya” Lukas 21:1-4. 

Berdasarkan bagian firman Tuhan di atas, kita menemukan bahwa sesungguhnya Yesus menaruh perhatian dan kepedulian pernuh terhadap setiap kita pada saat membawa persembahan ke mesbah Tuhan. Yesus mengamati orang-orang yang memberi uang ke dalam perbendaharaan di Bait Suci. Yesus mengawasi semua umat yang membawa persembahan dan memberi ke dalam perbendaharaan di bait Allah. Baik dari kalangan atas, kalangan menengah sampai ke kalangan bawah semua diawasi dan diperhatikan oleh Yesus Kristus tanpa satu pun yang terluput. 

Yesus yang sama yang menaruh perhatian, kepedulian dan yang mengawasi orang-orang yang membawa persembahan ke rumah Tuhan pada waktu yang lampau, Yesus itu jugalah yang sedang mengawasi, memperhatikan dan menaruh kepedulian sepenuhnya terhadap persembahan kita. Oleh karena itu, marilah kita pada saat memberi persembahan ingatlah bahwa ada Yesus yang melihat, memperhatikan, mengawasi dan peduli kepada setiap kita yang membawa persembahan ke mesbah Tuhan. Dalam konteks inilah Yesus akan memberi penilaian terhadap setiap kita bagaimana sikap hati dan motif kita pada saat memberi persembahan. 

2. Allah Bapa menantang kita untuk memberi. 

Prinsip persembahan Kristen yang kedua ialah bahwa kita harus menyadari Allah Bapa menantang kita untuk memberi kepada-Nya. Alkitab memberi tahukan kepada kita bahwa Allah menghendaki dan menginginkan supaya setiap kita secara aktif terlibat dalam memberi persembahan, khususnya persembahan persepuluhan kepada-Nya. Tentang hal itu, penulis kitab Maleakhi dalam tuntunan kuasa Roh Kudus menulis demikian: “Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan” – Maleakhi 3:10. 

Berdasarkan firman Tuhan di atas, kita menemukan bahwa Allah Bapa kita sendiri menantang kita untuk memberi persembahan persepuluhan. Tegas dikatakan bahwa: “...dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam”. Ini menandakan komitmen dan tanggung jawab pemeliharaan (providensia) Allah yang sempurna kepada setiap kita dari aspek financial terhadap kita yang taat melakukan perintah-Nya. 

Memang patut diakui bahwa ada alasan tertentu dari umat Tuhan sehingga mereka tidak memberikan persembahan persepuluhan. Alasan pertama, belum diajari untuk memberi persepuluhan, sehingga mereka tidak tahu tentang persepuluhan, hamba Tuhan mendiamkan tema tentang persepuluhan dan ada juga yang menganggap bahwa persepuluhan itu tidak berlaku dalam kehidupan orang percaya. Alasan kedua, ada yang salah paham tentang persembahan persepuluhan, sehingga menganggap bahwa persepuluhan itu bukan untuk dilakukan pada hari ini. 

Hal itu disebabkan kurangnya pemahaman tentang apa persembahan persepuluhan itu dan dari mana konsep itu berasal. Alasan ketiga, banyak yang sadar, tetapi menahan diri untuk tidak melakukan perintah Tuhan. 

3. Kita memberi secara proporsional dan teratur. 

Prinsip persembahan Kristen yang ketiga ialah bahwa kita harus memberi secara proporsional dan teratur. Ketika janda itu hanya memberikan dua peser, jumlah itu sangat kecil jika dibandingkan persembahan kalangan atas dan kalangan menengah. Namun, Tuhan Yesus mengatakan bahwa janda itu memberikan semuanya. Bahkan janda itu menjadi contoh untuk semua yang hadir pada hari itu di bait suci. Jadi, bagaimanakah seharusnya kita memberi kepada Tuhan? Ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh setiap orang percaya berkaitan dengan persembahan kepada Tuhan, yaitu: 

Pertama, kita harus memberi secara proporsional. Artinya, setiap orang diharapkan untuk memberikan jumlah yang sama. bukan angka rupiahnya yang sama, melainkan persentasenya yang sama. Ingat juga bahwa, jumlah 10% itu adalah milik Tuhan – Maleakhi 3:10. Persembahan persepuluhan bukan berasal dari hukum Taurat karena 430 tahun sebelum hukum Taurat ada, Abraham sudah mempersembahkan sepersepuluh dari segala penghasilannya – Kejadian 14:20. Bahkan sebelum Abraham, Habel membawa “buah sulung” dari ternaknya kepada Tuhan – Kejadian 4:4. 

Kedua, kita harus memastikan bahwa persembahan persepuluhan itu diberikan ke tempat yang tepat. Ada tempat yang tepat yang telah ditunjuk oleh Tuhan bagi kita untuk membawa dan memberikan persembahan persepuluhan kita, yaitu ke rumah Tuhan supaya ada persediaan makanan di rumah Tuhan. Dalam bahasa Inggris Maleakhi 3:10 dikatakan begini: “Bring the whole tithe into the storehouse”. Ada dua pengertian tentang “storehouse” ini, yaitu: satu, tempat beroleh makanan hal ini bisa menunjuk kepada zaman Yusuf memerintah di Mesir; dua, tempat beroleh benih untuk ditanam menunjuk kepada petani. 


Ketiga, kita harus memberi dengan teratur. Menurut catatan rasul Paulus dalam ilham Roh Kudus dalam suratnya kepada jemaat di kota Korintus, menulis demikian: “Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu masing-masing--sesuai dengan apa yang kamu peroleh--menyisihkan sesuatu dan menyimpannya di rumah, supaya jangan pengumpulan itu baru diadakan, kalau aku datang” – 1 Korintus 16:2. 

Kita memberikan persembahan itu sebagai bagian yang rutin, tetap dan teratur dari apa yang ada setiap minggu dalam ibadah kita kepada Tuhan. Persembahan yang kita bawa dan berikan ke altar Tuhan harus sesuai dengan yang kita dapatkan dari Tuhan. Hal ini berkaitan dengan kasih, ketaatan dan pertanggung jawaban iman kita kepada Tuhan atas segala berkat yang Dia berikan kepada kita. TIGA PRINSP PERSEMBAHAN KRISTEN.
Next Post Previous Post