PELAYANAN KRISTEN (MAKNA, KONSEP DAN PRINSIP)

Pardomuan Marbun.
Dalam Perjanjian Lama pelayanan diartikan sebagai “pelayan atau pembantu/asisten,” “melayani atau membantu manusia yang lain (Kejadian 39:4; 40:4),” “melayani berhubungan dengan penyembahan kepada Allah (1 Raja-raja 8:11). Dengan demikian melayani berarti melakukan segala sesuatu yang berguna bagi orang lain yang berhubungan dengan Allah dan mendatang kemulian bagi nama Tuhan.

Pada Perjanjian Baru arti “pelayanan,” (doulos), yang diterjemahkan sebagai “budak,” “hamba,” “pegawai raja,” “orang yang bergantung pada.” Seorang budak biasanya bekerja untuk keperluan demi melaksanakan kehendak orang lain. Setiap budak laki-laki atau perempuan tidak berhak untuk menolak apa yang ingin dilakukan oleh kemauan tuannya.

Hal ini sama dengan yang diungkapkan oleh Paulus dalam Roma 6:19-23, konteks dari ayat ini adalah memperlihatkan suatu perilaku kehidupan seseorang dari masa sebelum dan sesudah dibaptis. “Orang yang belum dibaptis diperbudak oleh dosa yaitu perbuatan dari kecemaran dan kedurhakaan,” “namun, setelah dibaptis telah mengenal Kristus dan menjadi taat kepada kebenaran-Nya.” 

Rasul Paulus menegaskan kembali dari ayat 19, seperti manusia yang menghambakan diri pada dua tuan, menjelaskan perilaku kehidupan manusia yang menghambakan diri pada dosa, maka ia tidak mempunyai pilihan dan kebebasan/hak, serta hidup di dalam perbudakan dosa. Dalam ayat 22 artinya, apabila menganggap Allah selaku tuannya, maka ia akan melakukan kehendak Allah dengan sukarela atau taat kepada kebenaran-Nya. Dalam hal ini Paulus menjelaskan bahwa pelayanan adalah pekerjaan yang dilakukan bukan atas dasar kemauan, pilihan dan kebebasan diri sendiri tetapi oleh kehendak siapa yang sedang dilayani.

Konsep-konsep Pelayanan Kristen

1.Panggilan Allah

Pelayanan adalah misi Allah, pelayanan adalah pelayanan Allah. Oleh karena itu pelayanan adalah sebuah panggilan. Setiap orang percaya dipanggil Allah untuk melayani. Ketika Allah menciptakan Adam dan Hawa, Allah memanggil mereka untuk bekerja dan mengusahakan taman itu. Allah memanggil manusia itu untuk menjadi representatif kasih Allah di bumi. Oleh karena itulah, Allah menciptakan manusia itu segambar dan serupa denganNya (Kejadian 1:27-28). 

Dalam setiap tokoh di Alkitab, kita melihat Allah memanggil mereka untuk pelayanan. Allah memanggil Adam dan Hawa, Nuh, Abraham, Yusuf, Musa, Yosua, Hakim-hakim, Nabi-nabi, dan pengajar-pengajar dan penginjil-penginjil. Hal ini juga yang dilakukan oleh Yesus ketika berada di dunia, Ia memanggil murid-muridNya, dan memanggil semua yang mendengar kepadaNya untuk ambil bagian dalam pelayanan. Hal ini juga yang menjadi perintahNya, untuk menjadikan semua orang menjadi murid Kristus (Matius 28:19-20).

2.Melakukan Kehendak Bapa

Dalam perjanjian baru Yesus kembali menegaskan bahwa pelayanan adalah kasih karunia allah dan melakukan kehendak Bapa. Yesus mengatakan bahwa “Aku diutus oleh Bapa, dan yang kulakukan adalah kehendak Bapa-Ku.” Hal ini juga terlihat ketika Yesus memberikan perumpamaan tentang Anak bungsu dan anak sulung yang terhilang. Yesus sedang menyinggung orang-orang farisi dan ahli taurat yang melayani hanya melakukan perintah tetapi tidak memiliki hubungan dengan Bapa/Allah.

Di dalam pelayanan yang dilakukan oleh Yesus, kita melihat bahwa Yesus yang menjadi manusia dipenuhi oleh Roh Allah, dimana Ia mengatakan“”Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” (Lukas 4:18-19).

Hal yang sama juga kita lihat ketika Yesus dibaptis oleh Yohanes, ketika Yesus hendak dicobai oleh iblis di padang gurun dan ketika Yesus berpuasa. Kita melihat bahwa di dalam tulisan Lukas, (secara khusus kitab Lukas) menggambar Yesus yang dipenuhi oleh Roh dalam melakukan pelayanan. Dengan Kuasa Roh Yesus melakukan pelayanan dan mengusir setan-setan, dan melakukan mujizat-mujizat. 

Hal ini juga berlanjut ketika Yesus naik ke surga, ia berpesan kepada murid-muridNya untuk menantikan janji Bapa, “Jawab-Nya: “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya.Tetapi kamu aka n menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”( Kisah Para Rasul 1:7-8).

Kemudian kita melihat bahwa di dalam Kisah Para Rasul tulisan Lukas, para Rasul dipenuhi Roh Kudus untuk melakukan kehendak Allah, memberitakan kabar keselamatan seperti yang telah Yesus lakukan. Para Rasul dan jemaat mula-mula maupun para diaken-diaken semuanya terlibat melayani setiap hari dan mereka membagi bagikan apa yang mereka miliki. 

Dalam masa ini juga terjadi mujizat-mujizat dan yang dilakukan oleh para Rasul dan jemaat yang dipenuhi Roh Kudus. Kita melihat bahwa pelayanan begitu berkembang dan pesat ketika yang melayani dipenuhi oleh Roh Kudus. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa gereja yang dipenuhi Roh Kudus akan berkembang dalam pelayanan dan melibatkan seluruh pribadi orang-orang untuk melayani (melakukan kehendak Allah) di dalam seluruh aspek kehidupan.

3.Kasih Karunia

Pelayanan adalah kasih Karunia. Allah bisa saja melakukan semuanya dengan berfirman. Allah maha kuasa, Ia dapat melakukan apa saja, tetapi Ia memilih untuk memberikan tanggung jawab ke pada kita. Kita tahu bahwa Nuh hidup di dalam zaman yang begitu sangat rusak benar, hingga Allah “menyesal” menjadikan manusia itu. Kemudian Nuh menjadi orang yang disebutkan hidup benar, tidak bercela, dan bergaul intim dengan allah (Kejadian 6:9). 

Kemudian Allah memberikan perintah kepada Nuh untuk membuat sebuah BAHTERA, yang akan memuat seluruh keluarganya dan seluruh binatang yang ada didarat dan dari segala yang hidup dibawa setiap pasang, karena Allah hendak mendatangkan air bah untuk membinasakan segala yang bernyawa di dalam bumi. Nuh melakukan tepat seperti apa yang Allah perintahkan kepadanya (Kejadian 6:22, “Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya.”)

Dalam hal ini kita kembali melihat bahwa unsur-unsur pelayanan yang di munculkan oleh Nuh yaitu: Iman, Ketaatan (melakukan tepat seperti yang diperintahkan Allah, Ketekunan (membangun Bahtera dalam waktu 100 tahun), Kekudusan (Kej. 6:9, Hubungan dengan Tuhan (Kejadian 6:9), Bersaksi kepada sekelilingnya sekalipun tidak ada yang mau mendengarkannya. Nuh mampu melakukan semuanya, namun dibalik semua itu satu hal yang paling penting sehingga Nuh mampu melakukannya adalah kasih karunia, “Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN.” (Kejadian 6:8). 

Dalam hal ini jelas bahwa pelayanan dan kehidupan Nuh, didasarkan atas kasih karunia Allah. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa kasih karunia lah yang memampukan Nuh untuk hidup bergaul dengan Allah,dan melakukan segala perintah Allah. Jadi bagi kita saat ini, pelayanan adalah kasih karunia dari Allah. Oleh karena itu, jika kita dipakai oleh Tuhan dalam pelayanan dengan luar biasa, maka hal ini mengingatkan kita untuk tetap rendah hati dan tetap memberikan kemuliaan hanya kepada Tuhan.

Prinsip-prinsip Pelayanan

1.Kemurnian Hati

Dalam pelayanan kita melihat perkembangan pelayanan dalam kisah Kain dan Habel. Kain yang memberikan persembahan dan kemudian tidak berkenan kepada Tuhan, sementara korban persembahan dari Habel diterima oleh Tuhan. Hal ini mengakibatkan hati kain sangat marah dan mukanya muram (Kejadian 4:5). Kemudian Allah menegur Kain, Firman TUHAN kepada Kain: "Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya."(Kejadian 4:6-7). 
PELAYANAN KRISTEN (MAKNA, KONSEP DAN PRINSIP)

 Namun, meskipun Allah telah menegur Kain, tetapi hatinya tetap panas dan akhirnya membunuh Habel, adiknya sendiri. Kita melihat dalam hal ini, sebenarnya sedang memberikan pemahaman bahwa menjaga hati yang tetap murni dalam memberikan korban persembahan adalah hal yang utama dari pada korban itu sendiri. Ketika kita melayani, hendaklah kita tetap memiliki hati yang murni dan Tulus. Jauh setelah kisah ini, Amsal mengatakan untuk kita menjaga hati;” Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”(Amsal 4:23).


Kemurnian hati juga akan bersangkut paut dengan motivasi yang tulus untuk kemulian Tuhan, bukan untuk kemulian diri kita sendiri. Hal ini menjadi awasan bagi setiap orang yang ambil bagian dalam pelayanan untuk tetap menjaga motivasi yang murni, sehingga kita dalam pelayan tidak untuk mencari kepentingan sendiri atau golongan tertentu. Kisah Ananias menjadi awasan bagi kita di masa kini, di mana Allah menghukum mereka karena motivasi yang tidak murni (Kis. 5).

2.Ketaatan

Allah memanggil Abraham dari negerinya (Ur-Kasdim) ke tanah yang belum pasti. Belum pasti karena Abraham tidak tahu persis dan Allah masih akan menunjukkan negeri itu kepada Abraham. Tetapi Abraham menerima perintah Allah tersebut dan mengikutinya. Dalam hal ini kita melihat komponen iman dalam kehidupan dan pelayanan Abraham kepada Allah. Selain itu kita juga melihat komponen ketaatan dalam pelayanan dan ketaatannya akan perintah Allah. Hal lain yang terlihat jelas dalam kehidupan Abraham adalah kerinduannya setiap perjalanannnya mendirikan mezbah-mezbah, sebagai tempat untuk berkomunikasi dengan Tuhan. 

Melalui hal ini kita melihat bahwa pelayanan berbicara mengenai hubungan pribadi dengan allah. Hal lainnya juga yang dapat kita lihat adalah bahwa Abraham dalam mengikuti perintah Tuhan harus berpisah dengan sanak-saudaranya, kemudian orangtuanya di Haran, dan keponakannya Lot yang selama ini menemani dia. Kita melihat ada pengorbanan yang dilakukan Abraham dalam mengikuti panggilan Tuhan. Hal ini jugalah yang kita lihat di dalam kehidupan keturunan Abraham, Ishak, Yakub dan Yusuf (sering kita sebut para Patriak). Oleh karena it pelayanan harus dilakukan dengan unsur iman, ketaatan, ketekunan, kerja keras, menjadi saksi dan pengorbanan

3.Kehambaan

Melayani berarti menjadi hamba bagi semua orang untuk kemulian nama Tuhan. Pelayanan harus menjangkau orang-orang yang ada diluar gedung gereja, dengan arti menjangkau orang-orang yang belum percaya. Dengan demikian kita harus menjadi hamba bagi semua orang, untuk dapat memenangkan sebanyak mungkin orang. Kita menjadi hamba bagi orang-orang yang ada di dalam gedung gereja maupun bagi orang orang yang belum percaya. Hal inilah yang dikatakan oleh Paulus ketika memberikan nasehat kepada jemaat di Korintus untuk menjadi hamba agar dapat memenangkan sebanyak mungkin orang kepada Kristus (1 Korintus 9:19).

Prinsip kehambaan ini juga yang diajarkan oleh Yesus kepada ke dua belas muridNya.

Yesus berkata kepada murid-muridNya “sama seperti Anak Manusia yang datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang" (Matius 20:28). Hal ini diungkapkan oleh Yesus ketika murid-murid bertanya siapakah yang lebih besar diantara mereka. 

 Yesus menjawab mereka bahwa yang terbesar adalah siapa yang menjadi hamba bagi semua, siapa yang mau melayani bukan yang dilayani. Hal ini juga yang diingatkan oleh Paulus kepada jemaat di Filipi agar mengikuti teladan Yesus yang walaupun Ia adalah Allah, tetapi telah menjadikan diriNya hamba untuk dapat memenangkan semua orang (Filipi 2:5-11). 


Prinsip ini sering terlupakan oleh para pelayan masa kini sehingga menganggap diri “besar” dan ternama berdasarkan jumlah jemaat dan berapa banyak orang yang bisa diaturnya. Pemahaman seperti ini akan membawa kita kepada prinsip “bos” bukan lagi prinsip kehambaan. Oleh karena itu, mari kita kembali dalam pelayanan dengan terus teguh dalam prinsip kehambaan ini.

4.Kesetiaan

Pada masa kini banyak orang menilai segala sesuatu berdasarkan hasil. Hal ini juga tidak terlepas dari dunia pelayanan dalam gereja. Keberhasilan seseorang dalam pelayanan diukur berdasarkan banyaknya jumlah jemaat, besarnya gedung gereja dan keuangan yang dimiliki oleh gereja. Hal ini bukanlah salah, tetapi jika kita hanya berdasarkan hal ini dalam menilai keberhasilan pelayanan, maka itu menjadi salah. Nuh menerima panggilan Tuhan dan ia taat dan setia melakukan perintah Tuhan. Nuh setia membangun bahtera dan juga setia memberitakan kabar yang dia terima dari Tuhan. Namun, ratusan tahun Nuh berkhotbah dan bersaksi tidak ada satu orangpun yang bertobat, tetapi ia tetap setia.

Kesetian berbicara mengenai hubungan. Seorang yang setia adalah orang yang tetap terhubung dengan tuannya. Tuhan memang memberikan kita tugas dan perintah. Namun, Tuhan juga mau kita menikmati Dia di dalam hidup kita. Kesetian akan teruji ketika kita berhasil dalam pelayanan ataupun ketika kita “tidak berkembang” dalam pelayanan. Keberhasilan secara materi, jumlah jemaat, dan kehormatan akan menunjukkan apa kita akan tetap setiap kepada Tuhan. 

Demikian juga sebaliknya, kekurangan, keterbatasan dalam pelayanan juga akan menunjukkan apakah kita orang yang setia atau justru meninggalkan pelayanan. Oleh karena itu, kesetian sangat diperlukan dalam pelayanan. Kita harus senantiasa terhubung dengan Tuhan sekalipun pelayanan kita “berhasil” ataupun kita sedang “menderita.”

Kesimpulan

Melalui beberapa pembahasan di atas, kita melihat bahwa pelayanan adalah memenuhi kehendak allah (God’s will). Hal selanjutnya adalah bahwa di dalam pelayanan ada yang terpenting yaitu hubungan dengan Tuhan setiap hari. Pelayanan itu adalah seluruh aspek kehidupan sehari-hari yang dilakukan melalui setiap pekerjaan. Jadi pelayanan adalah apa yang kita kerjakan setiap harinya. Pelayanan adalah totalitas kehidupan kita. Totalitas kehidupan kita yang senantiasa terhubung dengan Tuhan dan hanya melakukan apa saja yang menyenangkan hati Tuhan.PELAYANAN KRISTEN (MAKNA, KONSEP DAN PRINSIP)https://teologiareformed.blogspot.com/
Next Post Previous Post