Permintaan Murid: Ajarilah Kami Berdoa - Lukas 11:1
Pendahuluan:
Lukas 11:1 mencatat sebuah permintaan yang sederhana tetapi sangat penting dari para murid kepada Yesus: "Tuhan, ajarilah kami berdoa". Permintaan ini menunjukkan kerinduan para murid untuk belajar tentang doa dari Yesus sendiri, yang sering mereka lihat sedang bersekutu dengan Bapa dalam doa.
Dari perspektif teologi Reformed, ayat ini menegaskan beberapa prinsip utama:
- Doa adalah bagian esensial dari kehidupan orang percaya
- Yesus adalah teladan tertinggi dalam kehidupan doa
- Doa tidak hanya tentang kata-kata, tetapi tentang hubungan dengan Allah
Artikel ini akan membahas Lukas 11:1 berdasarkan pendapat beberapa pakar teologi Reformed, menggali konteks historis, makna teologis, serta aplikasinya bagi kehidupan Kristen.
Berikut adalah teks Lukas 11:1 dalam Alkitab Yang Terbuka (AYT):"Suatu kali Yesus sedang berdoa di suatu tempat. Ketika Ia selesai, seorang dari murid-murid-Nya berkata kepada-Nya, 'Tuhan, ajarilah kami berdoa, seperti yang juga diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya.'”
Konteks Lukas 11:1
1. Kehidupan Doa Yesus
Lukas sering menyoroti kehidupan doa Yesus dalam Injilnya. Beberapa contoh termasuk:
- Lukas 3:21 – Yesus berdoa saat dibaptis.
- Lukas 5:16 – Yesus sering menarik diri untuk berdoa.
- Lukas 6:12 – Yesus berdoa semalaman sebelum memilih dua belas murid.
- Lukas 9:28 – Yesus berdoa di atas gunung sebelum transfigurasi.
John Calvin mencatat bahwa Yesus berdoa bukan karena Ia membutuhkan doa, tetapi untuk memberikan teladan bagi umat-Nya. Calvin menulis:"Kristus, dalam kemanusiaan-Nya, sering kali mencari persekutuan dengan Bapa, bukan karena Ia kurang dalam kesempurnaan, tetapi agar kita belajar pentingnya doa dalam hidup kita."
2. Murid-Murid Ingin Belajar dari Yesus
Permintaan murid untuk diajari berdoa menunjukkan bahwa mereka menyadari bahwa doa bukan sekadar formalitas, tetapi bagian dari kehidupan rohani yang sejati.
R.C. Sproul menekankan bahwa murid-murid ingin memahami bagaimana doa yang benar harus dilakukan, bukan hanya sekadar mengulang kata-kata tanpa makna:"Doa bukanlah mantra atau ritual kosong, tetapi hubungan yang intim dengan Allah. Murid-murid ingin mengetahui bagaimana berdoa seperti Yesus, bukan seperti orang Farisi."
Analisis Lukas 11:1
1. “Suatu Kali Yesus Sedang Berdoa di Suatu Tempat” (Ayat 1a)
Yesus adalah pribadi yang penuh dengan kehidupan doa.
- Doa adalah kebiasaan dalam kehidupan Yesus. Ia sering mencari waktu khusus untuk bersekutu dengan Bapa-Nya.
- Kata "suatu tempat" menunjukkan bahwa Yesus tidak terikat pada satu lokasi tertentu untuk berdoa, tetapi memiliki kebiasaan mencari tempat yang tenang.
John MacArthur menekankan bahwa Yesus tidak hanya mengajar tentang doa, tetapi Ia sendiri hidup dalam doa:"Yesus tidak pernah mengajarkan sesuatu yang tidak Ia praktikkan. Kehidupan doa-Nya adalah contoh sempurna bagi kita semua."
2. “Ketika Ia Selesai” (Ayat 1b)
Murid-murid Yesus tidak ingin mengganggu-Nya saat berdoa, yang menunjukkan bahwa mereka menghormati momen tersebut.
- Ini juga menunjukkan bahwa mereka mengamati bagaimana Yesus berdoa, yang membangkitkan keinginan mereka untuk belajar dari-Nya.
- Yesus tidak terburu-buru dalam doa-Nya; Ia berdoa dengan kesungguhan hati.
Leon Morris mencatat bahwa murid-murid memahami bahwa doa adalah sesuatu yang mendalam, bukan sekadar rutinitas agamawi:"Doa Yesus berbeda dari doa-doa orang Farisi yang penuh dengan pengulangan kosong. Ada kekuatan dan keintiman dalam doa-Nya yang ingin mereka pelajari."
3. “Tuhan, Ajarilah Kami Berdoa” (Ayat 1c)
Permintaan ini menunjukkan kerendahan hati murid-murid.
- Mereka tidak berpura-pura sudah tahu segalanya, tetapi mengakui bahwa mereka perlu belajar tentang doa.
- Mereka tidak hanya ingin tahu bagaimana berdoa, tetapi ingin belajar dari Yesus sendiri.
R.C. Sproul menegaskan bahwa doa adalah sesuatu yang harus dipelajari dan dipraktikkan:"Doa yang sejati bukan hanya tentang berbicara kepada Allah, tetapi juga memahami siapa Allah dan bagaimana kita harus datang kepada-Nya."
4. “Seperti yang Juga Diajarkan Yohanes kepada Murid-Muridnya” (Ayat 1d)
Murid-murid menyadari bahwa Yohanes Pembaptis telah mengajarkan murid-muridnya untuk berdoa, dan mereka ingin Yesus melakukan hal yang sama untuk mereka.
- Ini menunjukkan bahwa doa adalah bagian penting dari kehidupan rohani dan para pemimpin rohani memiliki tanggung jawab untuk mengajarkannya.
- Mereka tidak ingin sekadar meniru doa Yohanes, tetapi mereka ingin belajar doa yang diajarkan oleh Yesus sendiri.
John MacArthur menjelaskan bahwa murid-murid ingin belajar doa yang sesuai dengan ajaran Yesus, bukan sekadar mengikuti tradisi agama Yahudi:"Murid-murid menyadari bahwa doa yang diajarkan oleh Yesus bukan sekadar kata-kata, tetapi adalah hubungan yang mendalam dengan Bapa."
Makna Teologis Lukas 11:1
1. Doa adalah Bagian Esensial dari Kehidupan Kristen
Yesus menunjukkan bahwa doa adalah hubungan langsung dengan Allah, bukan sekadar ritual agama.
John Calvin menekankan bahwa doa adalah sarana utama di mana kita menyatakan ketergantungan kita kepada Allah:"Doa adalah nafas kehidupan rohani. Tanpanya, kita tidak bisa bertumbuh dalam iman."
2. Yesus Adalah Teladan Utama dalam Berdoa
Murid-murid tidak meminta panduan dari orang lain, tetapi langsung kepada Yesus, karena mereka melihat kehidupan doa-Nya yang luar biasa.
R.C. Sproul menegaskan bahwa kehidupan doa Yesus adalah sesuatu yang unik dan menjadi model bagi semua orang percaya:"Jika Yesus, Anak Allah sendiri, merasa perlu untuk berdoa secara rutin, betapa lebih lagi kita sebagai orang berdosa harus hidup dalam doa."
3. Doa Harus Dipelajari dan Dipraktikkan
Doa bukan hanya aktivitas spontan, tetapi sesuatu yang harus dipelajari dan dikembangkan dalam kehidupan iman kita.
Leon Morris mencatat bahwa doa yang sejati bukan sekadar kata-kata, tetapi sikap hati yang benar di hadapan Allah.
Aplikasi Lukas 11:1 bagi Kehidupan Kristen
1. Meneladani Kehidupan Doa Yesus
Sebagai orang percaya, kita harus memprioritaskan doa dalam hidup kita, bukan hanya sebagai kewajiban, tetapi sebagai bagian dari hubungan kita dengan Allah.
2. Belajar dan Mengajarkan Doa kepada Generasi Berikutnya
Seperti Yesus yang mengajarkan murid-murid-Nya, kita juga dipanggil untuk mengajarkan doa kepada generasi berikutnya, baik dalam keluarga maupun dalam gereja.
3. Meminta Tuhan untuk Mengajarkan Kita Berdoa
Seperti murid-murid, kita harus datang kepada Tuhan dengan kerendahan hati, meminta-Nya untuk mengajarkan kita bagaimana berdoa dengan benar.
Kesimpulan
Lukas 11:1 menunjukkan kerinduan murid-murid untuk belajar berdoa dari Yesus, yang adalah teladan utama dalam kehidupan doa.
Dari perspektif teologi Reformed, ayat ini mengajarkan bahwa:
- Doa adalah sarana utama hubungan dengan Allah
- Yesus adalah model tertinggi dalam doa
- Doa harus dipelajari dan diajarkan
Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk hidup dalam doa, meminta Tuhan untuk mengajarkan kita berdoa, dan mengajarkan doa kepada orang lain, agar kita semakin bertumbuh dalam kasih karunia-Nya.
