Calvinism: Mixed and Pure – Pembelaan atas Westminster Standards

Calvinism: Mixed and Pure – Pembelaan atas Westminster Standards

Pendahuluan

Calvinism: Mixed and Pure adalah pembelaan sistematik terhadap Westminster Standards—terutama Westminster Confession of Faith—dalam menghadapi kritik bahwa teologi ini hanyalah penyalinan mekanis dari Calvin, atau sebaliknya terlalu ekstrem (“hyper‑Calvinism”). Artikel ini mengulas argumen-argumen mendalam dari sudut pandang Reformed, menggabungkan eksposisi Alkitab, sejarah, serta pendapat teolog seperti John Calvin, B.B. Warfield, John V. Fesko, dan kalangan Reformed modern lainnya.

1. Sejarah dan Konteks Pembentukan Westminster Standards

a. Latar Sejarah

Westminster Standards disusun antara 1643–1653 oleh Westminster Assembly atas undangan Parlemen Inggris, sebagai respons terhadap kritik gereja dan kebutuhan reformasi (tetapi bukan revolusi) teologis dan praktik dalam Gereja Inggris. IRSstandards ini dikenal karena struktur sistematik dan ketelitian teologisnya, hasil dari diskusi panjang dan penuh kontroversi politik serta rohani 

b. Hubungan dengan Calvin dan Reformasi

Meski terinspirasi oleh warisan Calvin, Westminster tidak sekadar menyalin Institutes Calvin. Seperti ditegaskan Fesko, Standards ini adalah hasil reformasi lanjutan—“reform the Reformation”—yang mencakup warisan Calvin, Scots Confession, dan doktrin kontinental lainnya 

2. "Mixed" vs "Pure" Calvinism: Salah Kaprah dan Klarifikasi

Istilah “mixed Calvinism” sering digunakan untuk menandakan syntesis unsur arminianisme atau liberalisme dalam tradisi Westminster. Sebaliknya, “pure Calvinism” dianggap lebih konsisten dengan hyper‑Calvinism ekstrem atau supralapsarianisme radikal.

Klarifikasi Reformed:

  • Westminster tidak mendukung hyper-Calvinism, karena masih menekankan panggilan Injil kepada semua orang dan kemungkinan respon manusia dalam secondary causes yang bebas 

  • Tidak semua anggota Westminster Assembly menyetujui supralapsarianisme mutlak—standards sama tidak menetapkan posisi jadwal kausal decrees tersebut 

Dengan demikian, doktrin Westminster lebih seimbang: Calvinistic tapi tidak fatalistik. Justru, menyertakan pengakuan tentang tanggung jawab manusia sebagai secondary cause.

3. Pembelaan Westminster: Keandalan Teologis & Biblis

a. Keandalan Teologi

Menurut B. B. Warfield, Westminster Standards tidak sekadar deklarasi formal, tetapi kristalisasi teologi Reformed dalam konteks debat hidup. Warfield menegaskan bahwa doktrin-doktrin ini bukan sekadar teori, tetapi buah dari diskursus keras dan perlindungan iman yang kritis di tengah tekanan sosial-politik 

b. Landasan Alkitabiah

Standards membangun doktrin utama berdasarkan Alkitab: doktrin Allah, Decree, Covenant theology, sakramen, gereja, dsb. Mereka menjadikan Alkitab sebagai otoritas tertinggi dan final—refleksi prinsip sola scriptura—seperti tertulis dalam pasal 1 WCF yang mendefinisikan Firman sebagai infalibilitas dan cukup untuk keselamatan 

4. Doktrin Kunci: Predestinasi, Perseverance, dan Providensia

a. Predestinasi dan Double Predestination

Westminster mengajarkan predestinasi tanpa syarat: Allah memilih untuk keselamatan dan juga melewati yang lain untuk menampakkan keadilan-Nya (§3.3–7 WCF). Ini bukan fatalisme, melainkan pengakuan akan kedaulatan Allah.

b. Perseverance of the Saints

Teologi Westminster menegaskan bahwa mereka yang benar-benar dipanggil akan bertahan sampai akhir (doktrin ketekunan orang kudus). Ini adalah konsekuensi dari providensia dan anugerah Allah yang tidak berubah 

c. Providensia Allah dan Secondary Causes

Westminster memegang bahwa Allah mengatur segala sesuatu sesuai kehendak-Nya tanpa menghilangkan kebebasan manusia sebagai secondary cause. Ini membedakan mereka dari hyper‑Calvinism yang mereduksi semua tindakan manusia menjadi deterministik murni 

5. Pandangan Teolog Reformed Terhadap Westminster

a. John Calvin ke Westminster

Meskipun dokument ini dibentuk generasi setelahnya, para divines Westminster secara sadar mengaitkan refleksi mereka dengan warisan Calvin, sambil menyempurnakan berbagai formulasi yang berkembang setelahnya 

b. B. B. Warfield

Warfield memandang Westminster sebagai finalisasi teologi Reformed—yakni hasil dari pergumulan dan penyaringan komunitas teologis Reformed yang matang. Ia berkali-kali menentang revivalisme subjektif yang dianggapnya tidak konsisten dengan norma confessional 

c. John V. Fesko

Fesko dalam bukunya The Theology of the Westminster Standards menjelaskan nilai historis dan teologis standards sebagai hasil matang konflik dan dialog teologis abad ke-17, yang sekaligus menjadi ringkasan teologis bagi gereja-gereja Reformed modern 

6. Eksposisi Alkitabiah: Apa yang Dibela Westminster?

Setiap bagian dari Westminster didasarkan pada ayat-ayat Alkitab:

  • Ketetapan Allah: Mazmur 115:3; Efesus 1:11 cocok dengan konsep ordo salutis di WCF §3.1.

  • Kedaulatan Allah dan kebebasan manusia: Roma 9, 11; WCF §3.1–2.

  • Ketekunan orang kudus: Filipi 1:6 dan Yohanes 10:28‑29 dilihat sebagai peneguhan ketekunan iman.

Optional: Eksposisi ayat Alkitab bisa diperluas sesuai kebutuhan.

7. Relevansi Praktis: Mengapa Gereja Masih Butuh Westminster?

a. Stabilitas Iman di Tengah Modernitas

Dalam dunia yang berubah cepat, doktrin-doktrin yang stabil seperti yang tertulis dalam Westminster memberikan pondasi iman yang kokoh dan tahan perubahan budaya.

b. Pengajaran dan Ketaatan dalam Gereja

Standards memberikan referensi teologis dan pastoral untuk pelatihan pemimpin gereja, pengajaran anak-anak, dan arah ibadah berdasarkan prinsip regulative worship.

c. Persatuan dalam Kesetiaan

Dengan gereja yang disatukan oleh confession, perselisihan doktrinal bisa lebih terarah dan tidak pecah karena interpretasi bebas. Standards memberikan kerangka kesetiaan doktrinal yang riil.

8. Menjawab Kritik Terhadap Westminster

a. “Terlalu Calvinis, Fatalistik”

Westminster menekankan evangelisasi, panggilan universal Injil, dan tanggung jawab manusia. Ini membedakannya dari hyper‑Calvinism yang menghindari panggilan seduniawi 

b. “Tidak Sejalan dengan Calvin Asli”

Beberapa titik kecil memang berbeda gaya penyusunan bahasa, tetapi doktrinnya tetap sejajar dengan Institutes Calvin; bahkan mempertegas aspek yang kurang jelas di karya Calvin awal, seperti covenant theology dan pengaturan ibadah.

c. Dicurigai Sebagai Legalistik

Standards ditegaskan sebagai subordinate standard di bawah Alkitab, bukan konstitusi agama. Ia melengkapi bukan menggantikan Alkitab. Warfield menyebut bahwa innovations subjekfik tidak mengakui standar ini berarti mengkhianati kesetiaan kepada tradisi Reformed yang sehat 

Kesimpulan

Defence of the Westminster Standards bukanlah nostalgia doktrinal, melainkan kebutuhan teologis dunia modern. Calvinism: Mixed and Pure menunjukkan bahwa Westminster menempati posisi yang moderat dalam budaya teologi Reformed:

  • Calvinistic: menegaskan kedaulatan Allah, predestinasi, dan pemeliharaan iman.

  • Tidak Ekstrem: tetap menghormati secondary causes, panggilan universal Injil, dan tanggung jawab manusia.

Westminster Standards tetap relevan karena fundamentalisme teologis dan keteguhan rohani. Bagi gereja yang menghargai kebenaran Alkitab dan kesetiaan sejarah, standards ini adalah pedoman yang terlindung oleh Fatwa Ilahi dan pewarisan iman dari zaman Puritan hingga kini.

Next Post Previous Post