Khotbah-Khotbah, Terutama tentang Pokok-Pokok Doktrinal

Khotbah-Khotbah, Terutama tentang Pokok-Pokok Doktrinal

Pendahuluan: Mengapa Doktrin Harus Dikhotbahkan?

Di banyak gereja modern, kata “doktrin” sering dianggap kering, abstrak, atau bahkan memecah-belah. Sebaliknya, banyak orang lebih menyukai khotbah yang bersifat motivasional, praktis, atau emosional. Namun sepanjang sejarah gereja—terutama dalam tradisi Reformed—khotbah doktrinal justru menjadi tulang punggung pembaruan rohani.

Mengapa? Karena doktrin bukan sekadar teori; doktrin adalah kebenaran tentang Allah, manusia, dosa, keselamatan, dan tujuan akhir segala sesuatu. Tanpa doktrin yang benar, kehidupan Kristen kehilangan fondasinya.

Rasul Paulus menutup bagian agung tentang kedaulatan Allah dalam keselamatan dengan sebuah doxologi yang kaya secara doktrinal:

“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!”
(Roma 11:36, TB)

Ayat ini bukan hanya pujian, tetapi kesimpulan teologis yang mendalam. Dari Roma 1 hingga 11, Paulus membangun argumen doktrinal tentang dosa, pembenaran, pemilihan, dan anugerah. Lalu ia menyimpulkan: semuanya berasal dari Allah, berlangsung oleh Allah, dan menuju kepada Allah.

Inilah jantung khotbah doktrinal. Artikel ini akan mengeksposisi Roma 11:36 dan menunjukkan pentingnya khotbah yang berfokus pada doktrin, dengan merujuk pada pemikiran para teolog Reformed seperti Yohanes Calvin, Herman Bavinck, John Owen, Jonathan Edwards, Charles Hodge, R.C. Sproul, dan John Piper.

I. “Segala Sesuatu adalah dari Dia”: Doktrin tentang Sumber Segala Hal

1. Allah sebagai Asal Segala Sesuatu

Paulus menyatakan bahwa segala sesuatu berasal dari Allah (ex autou). Pernyataan ini mencakup penciptaan, pemeliharaan, dan keselamatan. Tidak ada satu pun aspek realitas yang berdiri independen dari Allah.

Yohanes Calvin menegaskan bahwa pengenalan akan Allah sebagai Pencipta adalah dasar dari seluruh teologi. Jika Allah adalah sumber segala sesuatu, maka manusia adalah makhluk yang sepenuhnya bergantung.

Dalam khotbah-khotbah doktrinal, kaum Reformator dan Puritan selalu memulai dengan doktrin Allah—theologia prima. John Owen menulis bahwa kesalahan terbesar gereja adalah meremehkan kemuliaan dan kedaulatan Allah.

2. Doktrin Penciptaan dan Providensi

Herman Bavinck menekankan bahwa doktrin penciptaan bukan sekadar pengakuan awal, tetapi fondasi bagi seluruh pandangan dunia Kristen. Jika segala sesuatu berasal dari Allah, maka hidup memiliki tujuan ilahi.

Abraham Kuyper mengembangkan gagasan ini dengan mengatakan bahwa tidak ada satu inci pun dari seluruh ciptaan yang tidak diklaim oleh Kristus sebagai milik-Nya. Khotbah doktrinal harus menegaskan kedaulatan Allah atas seluruh kehidupan.

Tanpa doktrin ini, gereja mudah terombang-ambing oleh relativisme dan humanisme.

II. “Dan oleh Dia”: Doktrin tentang Pemeliharaan dan Anugerah

1. Allah Memelihara dan Menopang

Bagian kedua Roma 11:36 menyatakan bahwa segala sesuatu berlangsung “oleh Dia.” Ini menunjuk pada pemeliharaan Allah. Dunia tidak berjalan secara otomatis; ia dipelihara oleh kuasa Allah.

R.C. Sproul sering menekankan bahwa tidak ada molekul yang bergerak tanpa izin Allah. Doktrin providensi memberi penghiburan yang besar bagi orang percaya.

Khotbah doktrinal tentang providensi mengajarkan bahwa penderitaan, kesulitan, dan bahkan kejahatan tidak berada di luar kendali Allah.

2. Anugerah dalam Keselamatan

Dalam konteks Roma 9–11, Paulus berbicara tentang pemilihan dan anugerah. Keselamatan bukan hasil usaha manusia, tetapi karya Allah yang berdaulat.

Calvin menegaskan bahwa keselamatan adalah karya Allah dari awal sampai akhir. Jika manusia dapat berkontribusi pada keselamatan, maka kemuliaan Allah berkurang.

Charles Hodge menulis bahwa doktrin anugerah yang berdaulat adalah inti Injil. Tanpa doktrin ini, khotbah berubah menjadi moralitas belaka.

John Piper menyatakan bahwa anugerah bukan hanya pengampunan, tetapi kuasa yang mengubahkan hati sehingga orang percaya menikmati Allah sebagai harta tertinggi.

III. “Dan kepada Dia”: Doktrin tentang Tujuan Akhir

1. Kemuliaan Allah sebagai Tujuan Segala Sesuatu

Roma 11:36 berakhir dengan doxologi: “Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Ini menunjukkan bahwa tujuan akhir segala sesuatu adalah kemuliaan Allah.

Jonathan Edwards menulis bahwa tujuan utama Allah dalam segala karya-Nya adalah menyatakan kemuliaan-Nya. Dalam karya terkenalnya The End for Which God Created the World, ia menunjukkan bahwa Allah menciptakan dan menebus untuk menyatakan keindahan-Nya.

Khotbah doktrinal harus mengarahkan jemaat kepada tujuan ini. Jika pusat khotbah adalah manusia, maka gereja kehilangan orientasinya.

2. Eskatologi dan Pengharapan

Bavinck menekankan bahwa sejarah bergerak menuju pemuliaan Allah yang sempurna. Eskatologi bukan spekulasi, tetapi pengharapan yang berakar pada janji Allah.

Khotbah doktrinal tentang akhir zaman memberi perspektif kekal dalam menghadapi dunia yang sementara.

IV. Mengapa Khotbah Doktrinal Penting?

1. Menjaga Kemurnian Injil

Sejarah gereja menunjukkan bahwa ketika doktrin diabaikan, kesesatan mudah masuk. Reformasi abad ke-16 dipicu oleh kembalinya gereja kepada doktrin pembenaran oleh iman saja.

Sproul memperingatkan bahwa gereja modern sering mengorbankan doktrin demi relevansi. Namun tanpa doktrin, gereja kehilangan identitasnya.

2. Membentuk Karakter dan Kehidupan

Doktrin yang benar menghasilkan kehidupan yang benar. Calvin menolak pemisahan antara teologi dan kesalehan.

John Owen menekankan bahwa pengenalan akan Allah membawa kepada kasih dan ketaatan. Doktrin bukan sekadar informasi, tetapi transformasi.

V. Ciri-Ciri Khotbah yang Berfokus pada Doktrin

  1. Berakar pada Kitab Suci – Setiap doktrin harus lahir dari eksposisi teks Alkitab.

  2. Kristosentris – Semua doktrin menunjuk kepada Kristus.

  3. Menyentuh Hati dan Pikiran – Seperti Puritan, khotbah harus menggerakkan afeksi rohani.

  4. Mengarah pada Doxologi – Tujuan akhirnya adalah penyembahan.

John Piper menyebut khotbah sebagai “expository exultation”—eksposisi yang meluap dalam sukacita akan kemuliaan Allah.

VI. Bahaya Mengabaikan Doktrin

Ketika doktrin diabaikan:

  • Gereja menjadi dangkal.

  • Iman menjadi subjektif.

  • Moralitas terlepas dari Injil.

  • Allah digantikan oleh manusia sebagai pusat.

Bavinck memperingatkan bahwa iman tanpa doktrin akan menjadi mistisisme kosong.

VII. Keseimbangan antara Doktrin dan Aplikasi

Khotbah doktrinal bukan berarti tanpa aplikasi. Paulus sendiri, setelah menjelaskan doktrin dalam Roma 1–11, beralih kepada nasihat praktis dalam Roma 12–16.

Calvin menunjukkan bahwa teologi sejati selalu berujung pada hidup yang diubahkan.

VIII. Kristus sebagai Inti Semua Doktrin

Semua doktrin Kristen berpuncak pada pribadi dan karya Kristus. Ia adalah pusat sejarah, pusat keselamatan, dan pusat penyembahan.

Edwards melihat Kristus sebagai perwujudan kemuliaan Allah. Piper menyatakan bahwa Allah paling dimuliakan ketika kita paling dipuaskan di dalam Kristus.

Khotbah doktrinal sejati akan selalu membawa jemaat kepada kekaguman akan Kristus.

IX. Doxologi sebagai Akhir dari Doktrin

Roma 11:36 mengingatkan bahwa doktrin sejati berakhir dalam pujian. Jika teologi tidak menghasilkan penyembahan, maka ada yang salah.

Sproul pernah berkata bahwa tujuan teologi adalah doxologi. Kita belajar tentang Allah agar kita memuliakan Dia.

Kesimpulan: Kembali kepada Kedalaman

“Sermons, Chiefly on Doctrinal Subjects” bukan sekadar gaya khotbah masa lalu, tetapi kebutuhan mendesak gereja masa kini.

Roma 11:36 merangkum seluruh teologi dalam satu kalimat:
Segala sesuatu dari Allah.
Segala sesuatu oleh Allah.
Segala sesuatu kepada Allah.

Ketika gereja kembali kepada khotbah doktrinal yang setia pada Kitab Suci dan berpusat pada Kristus, ia akan menemukan kembali kekuatan rohaninya.

Kiranya para pengkhotbah masa kini tidak takut mengajarkan doktrin yang mendalam, karena di sanalah gereja menemukan fondasi, penghiburan, dan tujuan hidupnya.

Next Post Previous Post