Keluaran 9:1–4: Allah Perjanjian yang Membebaskan dan Menghakimi

Keluaran 9:1–4: Allah Perjanjian yang Membebaskan dan Menghakimi

Pendahuluan: Allah yang Menyatakan Diri dalam Penghakiman

Keluaran 9:1–4 berada dalam rangkaian tulah atas Mesir. Tulah kelima—penyakit sampar atas ternak—bukan sekadar bencana ekologis, tetapi tindakan teologis yang sarat makna. Di sini Allah menyatakan diri-Nya sebagai TUHAN (YHWH), Allah perjanjian, yang berdaulat atas bangsa-bangsa, ekonomi, dan kehidupan.

Dalam perspektif teologi Reformed, perikop ini menyingkapkan beberapa doktrin sentral: kedaulatan Allah, tujuan ibadah dalam pembebasan, keadilan dan pembedaan ilahi, serta dinamika anugerah dan penghakiman. Dengan merujuk pada pemikiran Yohanes Calvin, Herman Bavinck, Geerhardus Vos, Meredith G. Kline, John Murray, dan R.C. Sproul, kita akan menelusuri kedalaman eksposisi ayat-ayat ini.

I. “Beginilah Firman TUHAN, Allah Orang Ibrani” (Keluaran 9:1a)

Pernyataan ini bukan sekadar formula kenabian; ini adalah deklarasi identitas ilahi.

1. Nama Perjanjian: YHWH

Calvin menegaskan bahwa penggunaan nama YHWH menekankan kesetiaan Allah pada janji-Nya kepada Abraham, Ishak, dan Yakub. Ia bukan dewa lokal yang lemah, melainkan Tuhan sejarah.

Bavinck melihat nama ini sebagai wahyu diri Allah yang personal dan relasional—Allah yang mengikat diri-Nya dalam perjanjian.

2. Allah atas Bangsa-Bangsa

Walaupun disebut “Allah orang Ibrani,” tindakan-Nya meliputi Mesir. Ini menunjukkan universalitas kedaulatan-Nya. Sproul menekankan bahwa tidak ada wilayah netral dalam ciptaan; seluruh bumi berada di bawah otoritas-Nya.

II. “Biarkanlah Umat-Ku Pergi, Supaya Mereka Beribadah kepada-Ku” (Keluaran 9:1b)

Tujuan pembebasan bukan sekadar kebebasan politik, tetapi ibadah.

1. Redemptio untuk Cultus

Geerhardus Vos menyatakan bahwa eksodus adalah pola dasar keselamatan dalam Alkitab. Namun tujuan akhirnya adalah persekutuan dan penyembahan.

Kebebasan tanpa ibadah bukan kebebasan sejati.

2. Teologi Ibadah dalam Reformed Tradition

Dalam teologi Reformed, manusia diciptakan untuk memuliakan Allah (soli Deo gloria). Pembebasan Israel menunjuk kepada pembebasan rohani dalam Kristus, yang membawa kita kembali kepada tujuan penciptaan.

Bavinck menekankan bahwa keselamatan selalu bersifat teosentris.

III. Penolakan Firaun dan Kekerasan Hati (Keluaran 9:2)

“Jika engkau menolak…”

Di sini terlihat tanggung jawab manusia dalam ketegangan dengan kedaulatan Allah.

1. Kekerasan Hati sebagai Penghakiman

Calvin menjelaskan bahwa pengerasan hati Firaun adalah tindakan Allah yang adil, namun Firaun tetap bertanggung jawab atas dosanya.

Ini mencerminkan misteri kompatibilisme Reformed: kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia berjalan bersama.

2. Dosa sebagai Perbudakan

Firaun menahan Israel dalam perbudakan. Secara tipologis, ini melambangkan kuasa dosa yang menahan manusia dari menyembah Allah.

John Murray melihat eksodus sebagai gambaran pembebasan dari kuasa dosa melalui karya penebusan.

IV. Tulah atas Ternak: Penghakiman atas Sistem Ekonomi dan Ilah Palsu (Keluaran 9:3)

Ternak adalah aset ekonomi utama Mesir.

1. Serangan terhadap Dewa Mesir

Beberapa dewa Mesir diasosiasikan dengan hewan (misalnya Hathor). Meredith Kline menafsirkan tulah sebagai penghakiman polemis terhadap ilah-ilah palsu.

Allah menunjukkan bahwa tidak ada kuasa lain yang setara dengan-Nya.

2. Kedaulatan atas Alam

Bavinck menekankan bahwa Allah tidak hanya berdaulat atas jiwa manusia, tetapi juga atas ciptaan material.

Sampar ini menunjukkan bahwa ekonomi dan kekayaan tunduk pada kehendak Allah.

V. “TUHAN Akan Membuat Perbedaan” (Keluaran 9:4)

Ini adalah klimaks teologis perikop.

1. Doktrin Pembedaan Ilahi

Allah membedakan antara Israel dan Mesir.

Dalam teologi Reformed, ini berkaitan dengan doktrin pemilihan. Pemilihan bukan berdasarkan jasa manusia, tetapi anugerah kedaulatan Allah.

Calvin menekankan bahwa pembedaan ini adalah tindakan belas kasihan, bukan ketidakadilan.

2. Anugerah yang Protektif

Tidak satu pun ternak Israel mati. Ini menunjukkan pemeliharaan khusus Allah atas umat perjanjian.

Sproul menyebut ini sebagai particular providence—pemeliharaan khusus atas umat pilihan.

VI. Tipologi Kristologis

Eksodus adalah bayangan karya Kristus.

  • Firaun melambangkan kuasa dosa.

  • Tulah melambangkan penghakiman ilahi.

  • Pembedaan melambangkan pemilihan anugerah.

Dalam Kristus, Allah membuat pembedaan final antara mereka yang berada di dalam Dia dan yang tidak.

VII. Eskatologi dan Hari Penghakiman

Hoekema melihat tulah sebagai pratinjau penghakiman akhir.

Seperti dalam Mesir:

  • Ada penghakiman

  • Ada perlindungan

Demikian pula pada akhir zaman, akan ada pemisahan antara umat Allah dan dunia.

VIII. Dimensi Perjanjian

Perikop ini memperlihatkan struktur perjanjian:

  • Perintah

  • Ancaman

  • Pembedaan

Meredith Kline menunjukkan bahwa pola ini serupa dengan perjanjian kuno Timur Dekat, di mana raja besar menetapkan tuntutan dan konsekuensi.

Allah bertindak sebagai Raja Perjanjian.

IX. Aplikasi Teologis dan Pastoral

  1. Kebebasan sejati adalah kebebasan untuk menyembah.

  2. Kekerasan hati membawa penghakiman.

  3. Kekayaan dan sistem dunia tidak kebal terhadap Allah.

  4. Anugerah Allah membedakan umat-Nya.

  5. Penderitaan dunia berada dalam kontrol providensi.

X. Refleksi Mendalam dalam Perspektif Reformed

Keluaran 9:1–4 mengajarkan bahwa:

  • Allah berdaulat atas sejarah dan alam.

  • Tujuan keselamatan adalah ibadah.

  • Penghakiman adalah nyata dan adil.

  • Pembedaan ilahi mencerminkan anugerah pilihan.

  • Allah memelihara umat-Nya secara khusus.

Dalam kerangka Reformed, teks ini bukan sekadar narasi sejarah, tetapi wahyu teologis tentang karakter Allah.

XI. Kristus sebagai Penggenapan Eksodus

Yesus adalah Musa yang lebih besar.

Melalui salib:

  • Ia menanggung tulah penghakiman.

  • Ia membebaskan umat-Nya dari perbudakan dosa.

  • Ia membawa mereka kepada ibadah sejati.

Seperti Israel dilindungi dari sampar, orang percaya dilindungi dari murka akhir karena darah Kristus.

Kesimpulan: Allah yang Membebaskan untuk Kemuliaan-Nya

Keluaran 9:1–4 menyatakan Allah yang:

  • Berfirman dengan otoritas.

  • Menuntut ibadah eksklusif.

  • Menghakimi ketidaktaatan.

  • Membuat pembedaan berdasarkan anugerah.

  • Memelihara umat perjanjian-Nya.

Dalam terang teologi Reformed, kita melihat bahwa sejarah Mesir bukan sekadar kisah kuno, melainkan drama penebusan yang menunjuk kepada Kristus.

Allah yang sama masih berdaulat hari ini.
Ia masih membebaskan untuk ibadah.
Ia masih membuat pembedaan menurut anugerah-Nya.

Dan pada akhirnya, seperti di Mesir, seluruh dunia akan mengetahui bahwa TUHAN adalah Allah.

Soli Deo Gloria.

Next Post Previous Post