Markus 13:21–23: Waspada terhadap Mesias Palsu

Markus 13:21–23: Waspada terhadap Mesias Palsu

Pendahuluan: Eskatologi dan Bahaya Penyesatan

Markus 13 adalah bagian dari Khotbah Eskatologis Yesus, di mana Ia berbicara tentang penderitaan, penganiayaan, dan peristiwa-peristiwa menjelang kehancuran Yerusalem serta penggenapan akhir zaman. Dalam Markus 13:21–23, fokus bergeser pada ancaman internal: munculnya mesias palsu dan nabi palsu.

Dalam tradisi teologi Reformed, bagian ini dipahami sebagai peringatan serius tentang penyesatan rohani yang akan semakin intens dalam sejarah gereja. Namun sekaligus, teks ini memuat penghiburan besar: orang-orang pilihan Allah tidak akan akhirnya disesatkan.

Dengan merujuk pada pemikiran Yohanes Calvin, Herman Bavinck, Geerhardus Vos, Anthony Hoekema, R.C. Sproul, dan John Murray, kita akan menelusuri kedalaman doktrinal dan pastoral dari perikop ini.

I. Klaim Mesianik yang Menyesatkan (Markus 13:21)

“Jika orang berkata kepada kamu: Lihat, Mesias ada di sini… jangan kamu percaya.”

1. Konteks Historis

Pada abad pertama, banyak figur yang mengklaim diri sebagai pembebas Israel. Setelah kehancuran Yerusalem tahun 70 M, harapan mesianik sering disalahgunakan.

Calvin menafsirkan bahwa Yesus memperingatkan murid-murid-Nya agar tidak mudah terombang-ambing oleh klaim sensasional.

2. Prinsip Teologis: Wahyu Final dalam Kristus

Teologi Reformed menegaskan bahwa Kristus adalah wahyu final dan sempurna dari Allah (finalitas Kristus).

Bavinck menyatakan bahwa dalam inkarnasi, Allah telah berbicara secara definitif. Maka setiap klaim mesianik baru adalah penolakan terhadap kecukupan Kristus.

II. Mesias Palsu dan Nabi Palsu (Markus 13:22a)

“Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul…”

1. Pola Penyesatan dalam Sejarah Penebusan

Geerhardus Vos melihat kemunculan nabi palsu sebagai bagian dari konflik eskatologis antara kebenaran dan kepalsuan.

Sejak Perjanjian Lama, Israel telah diperingatkan terhadap nabi palsu (Ul. 13).

Dalam Perjanjian Baru, ancaman ini meningkat menjelang akhir zaman.

2. Teologi Antitesis

Dalam tradisi Reformed, terdapat konsep antitesis: garis pemisah tajam antara kerajaan Allah dan kerajaan Iblis.

Mesias palsu adalah representasi dari upaya Iblis meniru dan memutarbalikkan karya Kristus.

III. Tanda dan Mujizat sebagai Sarana Penyesatan (Markus 13:22b)

“Mereka akan mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat…”

Ini adalah bagian yang paling mengejutkan: mujizat bukan jaminan kebenaran.

1. Mujizat Tidak Selalu Membuktikan Otoritas Ilahi

Sproul menekankan bahwa mujizat harus diuji berdasarkan kesetiaan pada wahyu Allah.

Setan dapat meniru tanda-tanda eksternal (bdk. 2 Tesalonika2:9).

2. Bahaya Sensasionalisme Rohani

Calvin memperingatkan bahwa manusia cenderung terpesona oleh fenomena luar biasa, tetapi lalai menguji ajaran.

Reformed theology menekankan supremasi Firman tertulis di atas pengalaman spektakuler.

IV. “Sekiranya Mungkin, Menyesatkan Orang-Orang Pilihan”

Ini adalah inti penghiburan dalam ayat ini.

1. Doktrin Pemilihan

Teologi Reformed mengajarkan bahwa pemilihan adalah tindakan kekal Allah yang tidak dapat digagalkan.

John Murray menegaskan bahwa keselamatan orang pilihan tidak bergantung pada kekuatan mereka, tetapi pada kesetiaan Allah.

Frasa “sekiranya mungkin” menyiratkan bahwa pada akhirnya, penyesatan total orang pilihan tidak mungkin terjadi.

2. Ketekunan Orang Kudus

Doktrin perseverance of the saints mengajarkan bahwa Allah memelihara umat-Nya sampai akhir.

Bavinck menyatakan bahwa Roh Kudus menjaga iman orang percaya di tengah godaan.

V. Perintah untuk Waspada (Markus 13:23)

“Hati-hatilah kamu!”

Yesus tidak hanya memberi informasi, tetapi perintah.

1. Tanggung Jawab Manusia dalam Kerangka Kedaulatan

Reformed theology memegang keseimbangan:

  • Allah berdaulat menjaga umat pilihan.

  • Manusia tetap bertanggung jawab untuk berjaga-jaga.

Calvin menekankan bahwa peringatan adalah sarana yang dipakai Allah untuk memelihara umat-Nya.

2. Wahyu yang Mempersiapkan

“Aku sudah terlebih dahulu mengatakan semuanya ini…”

Yesus mempersenjatai murid-murid-Nya dengan pengetahuan sebelumnya.

Vos menyebut ini sebagai “pewahyuan preventif”—Allah memperingatkan sebelum bahaya datang.

VI. Dimensi Eskatologis yang Lebih Luas

Markus 13 tidak hanya berbicara tentang abad pertama, tetapi tentang seluruh zaman gereja.

Hoekema melihat bahwa gereja hidup dalam periode “akhir zaman” sejak kedatangan pertama Kristus.

Penyesatan akan terus muncul sampai kedatangan-Nya yang kedua.

VII. Kristologi dan Kepastian Kemenangan

Mesias palsu muncul karena ada Mesias sejati.

Yesus tidak khawatir kehilangan takhta-Nya.

Sproul menegaskan bahwa Kristus adalah Raja yang memerintah sekarang, dan semua kepalsuan pada akhirnya akan dihancurkan.

VIII. Aplikasi Pastoral bagi Gereja Masa Kini

  1. Uji setiap ajaran dengan Firman Allah.

  2. Jangan terpesona oleh tanda-tanda spektakuler.

  3. Pegang teguh kecukupan Kristus.

  4. Hiduplah dalam kewaspadaan rohani.

IX. Refleksi Teologis Mendalam

Markus 13:21–23 mengajarkan bahwa:

  • Penyesatan adalah realitas dalam sejarah gereja.

  • Mujizat bukan ukuran kebenaran.

  • Pemilihan menjamin ketekunan akhir umat Allah.

  • Peringatan adalah sarana anugerah.

  • Kristus tetap berdaulat di tengah kekacauan rohani.

Dalam perspektif Reformed, bagian ini adalah peringatan sekaligus penghiburan.

X. Gereja dan Tantangan Modern

Dalam dunia modern:

  • Banyak klaim spiritual baru muncul.

  • Karisma dan pengalaman sering diutamakan di atas doktrin.

  • Relativisme mengaburkan kebenaran.

Namun pesan Yesus tetap relevan: “Jangan kamu percaya.”

Kesimpulan: Waspada dalam Kepastian Anugerah

Markus 13:21–23 memperlihatkan ketegangan antara ancaman penyesatan dan kepastian pemeliharaan ilahi.

  • Mesias palsu akan muncul.

  • Mujizat dapat menipu.

  • Orang pilihan mungkin digoda.

  • Tetapi Allah menjaga umat-Nya.

Dalam terang teologi Reformed, kita melihat bahwa keselamatan tidak rapuh karena ia berakar pada pemilihan kekal Allah.

Waspada bukan berarti panik.
Berjaga-jaga bukan berarti ragu.
Justru karena Allah berdaulat, kita dapat berjaga dengan tenang.

Dan pada akhirnya, bukan suara mesias palsu yang akan menang—
melainkan suara Gembala sejati yang dikenal oleh domba-domba-Nya.

Soli Deo Gloria.

Previous Post