Permata-Permata Puritan
.jpg)
Pendahuluan: Menggali Harta dari Masa Lalu
Di tengah arus modernitas yang cepat dan dangkal, banyak orang Kristen mulai kembali melirik warisan rohani masa lampau. Di antara kekayaan tersebut, tulisan dan khotbah kaum Puritan sering disebut sebagai “permata.” Mereka bukan tanpa cela, tetapi kedalaman teologi, keseriusan hidup kudus, dan fokus mereka pada kemuliaan Allah menjadikan warisan mereka seperti tambang emas rohani.
Mengapa ajaran Puritan tetap relevan? Karena mereka berakar kuat pada Kitab Suci. Salah satu ayat yang mencerminkan fondasi pelayanan mereka adalah:
“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.”
(2 Timotius 3:16, TB)
Ayat ini bukan hanya doktrin tentang inspirasi Alkitab, tetapi juga menjelaskan tujuan firman Tuhan dalam membentuk kehidupan umat Allah. Kaum Puritan memahami dan menerapkan prinsip ini secara menyeluruh. Artikel ini akan mengeksplorasi “permata-permata” utama dari warisan Puritan melalui eksposisi 2 Timotius 3:16 dan refleksi teologi Reformed, dengan merujuk pada pemikiran tokoh-tokoh seperti Yohanes Calvin (yang menjadi fondasi teologis Puritan), John Owen, Richard Sibbes, Thomas Watson, Jonathan Edwards, serta refleksi modern dari Herman Bavinck, R.C. Sproul, dan John Piper.
I. Fondasi Permata: Otoritas dan Inspirasi Kitab Suci
1. “Segala Tulisan yang Diilhamkan Allah”
Paulus menegaskan bahwa Kitab Suci adalah theopneustos—dihembuskan oleh Allah. Kaum Puritan memegang doktrin ini dengan kesungguhan yang luar biasa. Bagi mereka, Alkitab bukan sekadar sumber inspirasi rohani, tetapi otoritas tertinggi dalam iman dan praktik.
Yohanes Calvin, yang teologinya sangat memengaruhi Puritan, menekankan bahwa otoritas Alkitab berasal dari Allah sendiri, bukan dari pengakuan gereja. Roh Kudus memberi kesaksian dalam hati orang percaya bahwa Kitab Suci adalah firman Allah.
John Owen, seorang teolog Puritan besar, menulis bahwa seluruh kehidupan gereja harus dibangun di atas firman yang diilhamkan. Tanpa keyakinan ini, tidak mungkin ada pembaruan rohani sejati.
Herman Bavinck kemudian menegaskan bahwa inspirasi Kitab Suci menjamin kesatuan dan konsistensi wahyu Allah. Karena itu, pengajaran Puritan memiliki kedalaman teologis yang kokoh.
II. Permata Pengajaran: Doktrin yang Mendalam dan Praktis
1. “Bermanfaat untuk Mengajar”
Puritan terkenal karena khotbah mereka yang panjang dan sistematis. Namun tujuan mereka bukanlah pamer intelektual, melainkan pembentukan jiwa.
Richard Baxter menyatakan bahwa doktrin harus selalu diterapkan pada hati. Mereka tidak memisahkan teologi dan praktik. Thomas Watson, misalnya, menulis bahwa doktrin tanpa aplikasi adalah seperti pedang tanpa ujung.
R.C. Sproul sering memuji kaum Puritan karena kesetiaan mereka pada kebenaran objektif. Di zaman relativisme, doktrin yang kokoh adalah permata yang langka.
John Piper menyebut Puritan sebagai “teolog hati.” Mereka mengajar dengan tujuan membangkitkan kasih kepada Allah, bukan sekadar menambah pengetahuan.
III. Permata Teguran: Menyatakan Kesalahan dengan Kasih
1. “Untuk Menyatakan Kesalahan”
Puritan tidak ragu berbicara tentang dosa. Mereka memahami bahwa tanpa kesadaran akan dosa, tidak ada penghiburan Injil.
John Owen menulis secara mendalam tentang mematikan dosa (mortification of sin). Ia menegaskan bahwa orang percaya harus terus memerangi dosa dengan kuasa Roh Kudus.
Jonathan Edwards, dalam khotbahnya yang terkenal, menunjukkan betapa seriusnya murka Allah terhadap dosa. Namun ia juga menekankan keindahan kasih karunia.
Sproul menyatakan bahwa gereja modern sering kehilangan rasa gentar akan kekudusan Allah. Dalam hal ini, Puritan menjadi cermin yang menegur generasi sekarang.
IV. Permata Pembaruan: Memperbaiki Kelakuan
1. “Untuk Memperbaiki Kelakuan”
Firman Tuhan bukan hanya menegur, tetapi juga memulihkan. Kaum Puritan percaya bahwa anugerah Allah mengubah kehidupan.
Bagi mereka, pertobatan bukan peristiwa sesaat, melainkan gaya hidup. Richard Sibbes dikenal sebagai “dokter jiwa” karena tulisannya yang lembut tentang penghiburan bagi hati yang terluka.
Calvin menekankan bahwa iman sejati selalu menghasilkan pertobatan dan pembaruan hidup. Puritan menghidupi prinsip ini dalam disiplin pribadi dan kehidupan keluarga.
Abraham Kuyper kemudian mengembangkan gagasan bahwa seluruh aspek kehidupan—politik, pendidikan, seni—harus berada di bawah kedaulatan Kristus. Semangat ini sejalan dengan visi Puritan tentang reformasi total kehidupan.
V. Permata Pendidikan: Mendidik dalam Kebenaran
1. Pembentukan Karakter Kristen
Puritan sangat menekankan pendidikan rohani, baik di gereja maupun dalam keluarga. Katekismus dan pembacaan Alkitab keluarga menjadi praktik umum.
Mereka memahami bahwa iman harus ditanamkan sejak dini. Bavinck menegaskan pentingnya pendidikan Kristen sebagai sarana anugerah.
John Piper melihat dalam warisan Puritan contoh bagaimana doktrin besar dapat membentuk kehidupan sehari-hari. Pendidikan bukan hanya transfer informasi, tetapi pembentukan hati.
VI. Permata Pengalaman Rohani: Kesalehan yang Mendalam
Salah satu ciri khas Puritan adalah perhatian mereka pada kehidupan batin. Mereka menulis tentang pergumulan iman, keraguan, sukacita, dan penghiburan.
Edwards berbicara tentang “afeksi religius”—bahwa iman sejati melibatkan hati. Namun afeksi ini harus berakar pada kebenaran Alkitab, bukan emosi semata.
Owen menekankan persekutuan dengan Allah Tritunggal sebagai inti kehidupan Kristen. Ini bukan mistisisme tanpa dasar, tetapi relasi yang berakar pada firman.
VII. Permata Penderitaan dan Pengharapan
Puritan hidup dalam masa penganiayaan dan kesulitan politik. Namun mereka melihat penderitaan sebagai alat Allah untuk memurnikan iman.
Sproul sering mengutip warisan ini untuk menunjukkan bahwa teologi yang kuat menghasilkan ketekunan dalam pencobaan.
Bagi Puritan, pengharapan akan kemuliaan kekal memberi kekuatan menghadapi dunia yang tidak bersahabat.
VIII. Relevansi Permata Puritan bagi Gereja Masa Kini
Di zaman yang cenderung dangkal dan pragmatis, warisan Puritan menawarkan kedalaman dan keseriusan rohani.
-
Mereka mengajarkan supremasi Kitab Suci.
-
Mereka menyeimbangkan doktrin dan praktik.
-
Mereka memadukan kekudusan dan penghiburan.
-
Mereka berfokus pada kemuliaan Allah dalam segala hal.
Piper menyebut mereka sebagai “dokter jiwa yang alkitabiah.” Warisan mereka membantu gereja kembali pada Injil yang murni.
IX. Kristus sebagai Permata Terbesar
Semua permata Puritan pada akhirnya menunjuk pada satu permata utama: Kristus sendiri. Mereka tidak memuliakan sistem teologi, melainkan Juruselamat.
Calvin menulis bahwa seluruh harta hikmat dan pengetahuan tersembunyi dalam Kristus. Puritan mewarisi dan menghidupi kebenaran ini.
Kristus adalah pusat khotbah mereka, penghiburan mereka dalam penderitaan, dan pengharapan mereka dalam kematian.
Kesimpulan: Menghargai dan Menghidupi Warisan
“Puritan Gems” bukan sekadar nostalgia sejarah. Ia adalah undangan untuk kembali kepada kedalaman firman Tuhan yang diilhamkan dan kuasa Roh Kudus yang mengubahkan.
2 Timotius 3:16 mengingatkan kita bahwa firman Allah cukup untuk mengajar, menegur, memperbaiki, dan mendidik. Kaum Puritan menunjukkan bagaimana ayat ini dapat dihidupi secara konsisten.
Kiranya kita tidak hanya mengagumi permata-permata ini, tetapi menggenggamnya—dan melalui mereka, semakin menghargai Kristus sebagai harta terbesar gereja sepanjang zaman.