Ke-Allahan Allah

Pendahuluan
Frasa “The Godhood of God” atau dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan sebagai “Ke-Allahan Allah”, adalah ungkapan teologis yang menekankan hakikat Allah sebagai Allah yang sejati—yang berdaulat, mutlak, tidak bergantung, dan sepenuhnya berbeda dari ciptaan-Nya. Istilah ini dipopulerkan oleh teolog Reformed seperti Arthur W. Pink, dan menjadi salah satu tema sentral dalam pemikiran teologi Reformed: bahwa Allah adalah Allah—dan segala sesuatu harus dipahami dari kenyataan itu.
Di tengah budaya modern yang cenderung memanusiakan Allah (anthropocentric theology), mengurangi kekudusan-Nya, atau menempatkan manusia sebagai pusat, doktrin tentang The Godhood of God menjadi sangat penting. Ini bukan sekadar konsep abstrak, tetapi fondasi bagi seluruh kehidupan iman, ibadah, dan pemahaman akan keselamatan.
Artikel ini akan mengupas secara mendalam konsep ini melalui lensa Teologi Reformed dengan mengacu pada pemikiran tokoh-tokoh seperti John Calvin, Arthur Pink, Herman Bavinck, R.C. Sproul, J.I. Packer, dan John Piper, serta menelusuri implikasinya bagi gereja dan kehidupan orang percaya masa kini.
1. Apa yang Dimaksud dengan “Ke-Allahan Allah”?
Secara sederhana, The Godhood of God berarti:
Allah adalah Allah—dan tidak ada yang lain seperti Dia.
Ini mencakup beberapa aspek utama:
- Kedaulatan mutlak
- Kekudusan sempurna
- Kemahatahuan dan kemahakuasaan
- Ketidakbergantungan (aseity)
- Kemuliaan yang tak terbatas
Arthur Pink menulis:
“To say that God is God is to affirm that He is the supreme, sovereign, and absolute ruler over all.”
Dengan kata lain, Allah tidak hanya lebih besar dari ciptaan—Ia berbeda secara esensial.
2. John Calvin: Allah sebagai Pusat Segala Sesuatu
John Calvin membuka Institutes of the Christian Religion dengan pernyataan bahwa:
“Hampir seluruh hikmat kita terdiri dari dua hal: pengetahuan tentang Allah dan pengetahuan tentang diri kita.”
Namun urutannya penting:
kita tidak dapat memahami diri kita tanpa terlebih dahulu memahami Allah.
Dalam kerangka The Godhood of God:
- Allah adalah pusat realitas
- Manusia adalah ciptaan yang bergantung
Calvin menolak segala bentuk teologi yang:
- Menjadikan manusia sebagai pusat
- Mengurangi kemuliaan Allah
3. Arthur W. Pink: Seruan untuk Kembali kepada Allah yang Sejati
Arthur Pink secara khusus menulis tentang The Godhood of God sebagai kritik terhadap kekristenan modern yang menurutnya telah:
- Melemahkan kedaulatan Allah
- Meninggikan kehendak manusia
- Menggambarkan Allah sebagai “lemah”
Ia berkata:
“The God of the twentieth century is a helpless being who commands respect from no one.”
Pink menyerukan kembali kepada Allah yang:
- Berdaulat penuh
- Mengatur segala sesuatu
- Tidak tunduk pada kehendak manusia
4. Herman Bavinck: Transendensi dan Imanensi Allah
Bavinck memberikan keseimbangan penting:
- Transendensi → Allah di atas segala sesuatu
- Imanensi → Allah hadir dalam ciptaan
Dalam konteks Godhood of God:
- Allah tidak dapat disamakan dengan ciptaan
- Namun Ia tetap dekat dengan umat-Nya
Bavinck menulis:
“God is both infinitely exalted above the world and intimately present within it.”
5. R.C. Sproul: Kekudusan sebagai Inti Ke-Allahan Allah
R.C. Sproul menekankan bahwa atribut utama Allah adalah:
Kekudusan
Dalam bukunya The Holiness of God, ia menunjukkan bahwa:
- Kekudusan berarti “dipisahkan”
- Allah sepenuhnya berbeda dari ciptaan
Pengalaman Yesaya (Yesaya 6):
- Melihat Allah → menyadari dosa
- Menyadari dosa → membutuhkan anugerah
6. J.I. Packer: Mengenal Allah Secara Pribadi
Packer menekankan bahwa:
Mengenal Allah bukan hanya pengetahuan intelektual, tetapi relasi pribadi.
Namun relasi ini harus didasarkan pada:
- Pengertian yang benar tentang siapa Allah
- Bukan versi Allah yang kita ciptakan sendiri
7. John Piper: Allah sebagai Pusat Sukacita
John Piper mengajarkan bahwa:
“God is most glorified in us when we are most satisfied in Him.”
Dalam konteks ini:
- Ke-Allahan Allah berarti Ia adalah harta tertinggi
- Tidak ada yang lebih memuaskan dari Dia
8. Atribut-Atribut Allah dalam Ke-Allahan-Nya
A. Kedaulatan (Sovereignty)
Allah memerintah atas segala sesuatu.
B. Aseity (Ketidakbergantungan)
Allah tidak membutuhkan apa pun.
C. Kemahatahuan
Allah mengetahui segala sesuatu.
D. Kemahakuasaan
Tidak ada yang mustahil bagi Allah.
E. Kekudusan
Allah sempurna dan tanpa dosa.
9. Bahaya Teologi yang Mengurangi Ke-Allahan Allah
Beberapa bentuk penyimpangan:
- Allah sebagai “teman” tanpa kekudusan
- Allah tunduk pada kehendak manusia
- Injil sebagai alat memenuhi kebutuhan manusia
Teologi Reformed menolak semua ini.
10. Implikasi bagi Kehidupan Kristen
A. Ibadah yang Benar
Berpusat pada Allah, bukan manusia.
B. Kerendahan Hati
Menyadari keterbatasan kita.
C. Kepercayaan
Allah berdaulat atas hidup kita.
D. Kekudusan Hidup
Dipanggil untuk mencerminkan karakter Allah.
11. Kristus sebagai Penyataan Ke-Allahan Allah
Yesus Kristus adalah:
- Gambar Allah yang tidak kelihatan
- Penyataan penuh dari Allah
Melalui Kristus:
- Kita mengenal Allah
- Kita diselamatkan
12. Relevansi di Dunia Modern
Dunia saat ini:
- Relativistik
- Antroposentris
- Individualistik
Konsep The Godhood of God menjadi koreksi penting.
13. Refleksi Akhir
Pertanyaan penting:
- Apakah Allah kita benar-benar Allah?
- Atau hanya proyeksi keinginan kita?
Kesimpulan
The Godhood of God mengingatkan kita bahwa:
- Allah adalah pusat segala sesuatu
- Ia berdaulat, kudus, dan mulia
- Kita dipanggil untuk hidup bagi-Nya
Seperti yang ditegaskan oleh teologi Reformed:
Segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia, dan kepada Dia.
Dan pada akhirnya:
Ketika Allah benar-benar dipahami sebagai Allah, hidup manusia akan berubah secara radikal.