Apa sebenarnya gereja menurut Alkitab?

Apa sebenarnya gereja menurut Alkitab?

Pendahuluan

Di zaman modern, kata gereja sering dipahami secara berbeda-beda. Sebagian orang memikirkan sebuah bangunan dengan menara dan lonceng. Yang lain memikirkan sebuah organisasi keagamaan, denominasi tertentu, atau tempat ibadah setiap hari Minggu. Bahkan ada yang menganggap gereja hanya sebagai komunitas sosial yang memiliki kegiatan kerohanian.

Namun pertanyaan yang lebih penting adalah: Apa sebenarnya gereja menurut Alkitab?

Jawaban atas pertanyaan ini sangat penting karena pemahaman yang salah tentang gereja akan menghasilkan kehidupan Kristen yang salah pula. Jika gereja hanya dianggap sebagai gedung, maka orang akan kehilangan makna persekutuan umat Allah. Jika gereja hanya dipandang sebagai organisasi manusia, maka orang akan melupakan bahwa gereja adalah ciptaan Allah sendiri. Sebaliknya, jika gereja dipahami sesuai dengan Kitab Suci, maka orang percaya akan melihat keindahan rencana Allah dalam mengumpulkan umat-Nya dari segala bangsa untuk memuliakan-Nya.

Dalam Teologi Reformed, doktrin gereja (ecclesiology) menempati posisi yang sangat penting karena gereja merupakan sarana yang Allah tetapkan untuk memberitakan Injil, memuridkan umat-Nya, melayankan sakramen, dan menjadi saksi Kristus di dunia. Para teolog Reformed seperti John Calvin, Herman Bavinck, Louis Berkhof, Geerhardus Vos, Abraham Kuyper, Edmund Clowney, Michael Horton, Sinclair Ferguson, dan R.C. Sproul telah memberikan kontribusi besar dalam menjelaskan hakikat gereja berdasarkan Alkitab.

Artikel ini akan membahas secara mendalam apa itu gereja menurut Alkitab, dasar-dasar teologisnya, karakteristiknya, misinya, dan relevansinya bagi orang percaya masa kini.

Arti Kata Gereja dalam Alkitab

Dalam Perjanjian Baru, kata yang diterjemahkan sebagai “gereja” berasal dari bahasa Yunani ekklesia.

Secara harfiah, ekklesia berarti:

“Mereka yang dipanggil keluar.”

Dalam dunia Yunani kuno, kata ini digunakan untuk menunjuk suatu pertemuan warga yang dipanggil untuk berkumpul.

Namun dalam Perjanjian Baru, istilah ini memperoleh makna yang jauh lebih dalam.

Gereja adalah umat yang dipanggil Allah keluar dari kegelapan dosa untuk menjadi milik-Nya.

Rasul Petrus menulis:

“Kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri...” (1 Petrus 2:9)

Dengan demikian, gereja bukan pertama-tama sebuah bangunan.

Gereja adalah umat Allah.

Gereja dalam Rencana Kekal Allah

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap gereja sebagai sesuatu yang muncul secara mendadak dalam Perjanjian Baru.

Teologi Reformed melihat gereja dalam konteks sejarah penebusan yang lebih luas.

Menurut Herman Bavinck, gereja bukanlah “rencana cadangan” Allah setelah Israel gagal.

Sebaliknya, gereja merupakan bagian dari rencana kekal Allah sejak semula.

Dalam Kejadian 3:15, Allah menjanjikan keselamatan melalui keturunan perempuan.

Sejak saat itu Allah mulai mengumpulkan umat-Nya.

Abraham, Ishak, Yakub, bangsa Israel, para nabi, para rasul, dan gereja Perjanjian Baru merupakan bagian dari satu umat perjanjian yang sama.

Geerhardus Vos menjelaskan bahwa terdapat kesinambungan antara umat Allah dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Meskipun bentuk administrasinya berbeda, tujuan Allah tetap sama:

Mengumpulkan umat yang ditebus untuk memuliakan-Nya.

Gereja adalah Tubuh Kristus

Salah satu gambaran terindah tentang gereja ditemukan dalam surat-surat Paulus.

Paulus menyebut gereja sebagai:

“Tubuh Kristus.”

(Efesus 1:22–23; 1 Korintus 12:27)

Gambaran ini menunjukkan beberapa kebenaran penting.

Pertama, Kristus adalah Kepala Gereja.

Gereja tidak dimiliki oleh pendeta.

Gereja tidak dimiliki oleh sinode.

Gereja tidak dimiliki oleh manusia mana pun.

Kristus sendiri adalah Kepala Gereja.

John Calvin menegaskan bahwa hanya Kristus yang memiliki otoritas mutlak atas gereja.

Karena itu seluruh kehidupan gereja harus tunduk kepada Firman-Nya.

Kedua, setiap anggota memiliki fungsi.

Dalam tubuh terdapat banyak anggota.

Demikian pula dalam gereja.

Tidak semua orang memiliki karunia yang sama.

Namun semua memiliki peran penting.

Ketiga, gereja hidup karena hubungan dengan Kristus.

Seperti tubuh tidak dapat hidup tanpa kepala, demikian pula gereja tidak dapat hidup tanpa Kristus.

Gereja sebagai Mempelai Kristus

Alkitab juga menggambarkan gereja sebagai mempelai Kristus.

Paulus menulis:

“Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.” (Efesus 5:25)

Gambaran ini menunjukkan hubungan kasih yang sangat mendalam.

Menurut Sinclair Ferguson, metafora mempelai mengingatkan bahwa gereja bukan sekadar organisasi.

Gereja adalah objek kasih Kristus.

Kristus membeli gereja dengan darah-Nya sendiri.

Ia memeliharanya.

Ia menyucikannya.

Dan suatu hari nanti Ia akan mempersembahkannya dalam kemuliaan yang sempurna.

John Calvin: Gereja sebagai Ibu Orang Percaya

Salah satu pernyataan Calvin yang terkenal adalah:

“Tidak seorang pun dapat memiliki Allah sebagai Bapa jika ia tidak memiliki gereja sebagai ibu.”

Pernyataan ini sering disalahpahami.

Calvin tidak mengajarkan bahwa gereja menyelamatkan manusia.

Keselamatan hanya melalui Kristus.

Namun Calvin ingin menegaskan pentingnya gereja dalam kehidupan Kristen.

Menurutnya, Allah biasanya bekerja melalui gereja untuk:

  • Memberitakan Injil.
  • Mengajar Firman.
  • Melayankan sakramen.
  • Membimbing pertumbuhan rohani.

Karena itu kehidupan Kristen yang sehat tidak dapat dipisahkan dari kehidupan gereja.

Tanda-Tanda Gereja yang Sejati

Salah satu kontribusi penting Reformasi adalah penjelasan mengenai tanda-tanda gereja sejati.

Menurut Calvin dan para Reformator, gereja yang sejati dikenali melalui:

1. Pemberitaan Firman yang Benar

Firman Allah harus menjadi pusat kehidupan gereja.

R.C. Sproul menegaskan bahwa gereja tidak dibangun di atas hiburan, tradisi manusia, atau popularitas.

Gereja dibangun di atas Firman Allah.

Ketika Firman diberitakan dengan setia, Kristus berbicara kepada umat-Nya.

2. Pelayanan Sakramen yang Benar

Dalam tradisi Reformed terdapat dua sakramen:

  • Baptisan.
  • Perjamuan Kudus.

Keduanya ditetapkan oleh Kristus.

Sakramen bukan sekadar simbol kosong.

Sakramen merupakan tanda dan meterai anugerah Allah bagi umat-Nya.

3. Disiplin Gereja yang Alkitabiah

Disiplin gereja bertujuan menjaga kekudusan jemaat.

Tujuannya bukan menghukum secara sewenang-wenang.

Tujuannya adalah pemulihan dan pertobatan.

Gereja yang Kelihatan dan Tidak Kelihatan

Louis Berkhof menjelaskan bahwa Teologi Reformed membedakan antara:

Gereja yang Kelihatan (Visible Church)

Ini adalah komunitas orang-orang yang mengaku percaya kepada Kristus dan berkumpul dalam jemaat lokal.

Di dalam gereja yang kelihatan terdapat:

  • Orang percaya sejati.
  • Orang yang hanya mengaku percaya.

Gereja yang Tidak Kelihatan (Invisible Church)

Ini adalah seluruh umat pilihan Allah yang sungguh-sungguh diselamatkan.

Hanya Allah yang mengetahui dengan sempurna siapa yang termasuk dalam kelompok ini.

Konsep ini membantu menjelaskan mengapa kadang-kadang terdapat kemunafikan dalam gereja tanpa berarti bahwa gereja Kristus telah gagal.

Herman Bavinck: Gereja sebagai Komunitas Perjanjian

Menurut Herman Bavinck, gereja harus dipahami dalam kerangka perjanjian Allah.

Allah mengikat diri-Nya kepada umat-Nya melalui perjanjian anugerah.

Karena itu gereja bukan sekadar kumpulan individu yang memiliki pengalaman rohani pribadi.

Gereja adalah komunitas perjanjian.

Di dalam gereja:

  • Firman diberitakan.
  • Janji Allah diumumkan.
  • Sakramen dilayankan.
  • Umat dibangun dalam iman.

Bavinck menekankan bahwa Kekristenan bersifat pribadi tetapi tidak individualistis.

Allah menyelamatkan individu, tetapi Ia juga menempatkan mereka dalam tubuh Kristus.

Gereja dan Misi Allah

Gereja tidak dipanggil untuk hidup bagi dirinya sendiri.

Yesus memberikan Amanat Agung:

“Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku...” (Matius 28:19)

Menurut Michael Horton, gereja adalah komunitas yang diutus.

Tujuan gereja bukan hanya berkumpul.

Tujuannya adalah menjadi saksi Kristus di dunia.

Misi gereja meliputi:

  • Pemberitaan Injil.
  • Pemuridan.
  • Penanaman gereja.
  • Pelayanan kasih.
  • Kesaksian tentang kerajaan Allah.

Namun gereja harus berhati-hati agar tidak kehilangan fokus.

Misi sosial penting, tetapi tidak boleh menggantikan pemberitaan Injil.

Abraham Kuyper: Gereja dan Transformasi Dunia

Abraham Kuyper memberikan kontribusi besar dalam memahami hubungan gereja dengan dunia.

Kuyper terkenal dengan pernyataannya:

“Tidak ada satu inci pun dalam seluruh wilayah kehidupan manusia yang tidak diklaim Kristus sebagai milik-Nya.”

Menurut Kuyper, gereja harus memengaruhi seluruh aspek kehidupan:

  • Pendidikan.
  • Politik.
  • Budaya.
  • Ekonomi.
  • Seni.
  • Ilmu pengetahuan.

Namun gereja tidak dipanggil untuk menguasai dunia secara politis.

Gereja dipanggil untuk menjadi terang dan garam.

Melalui kesaksian umat Allah, dunia dapat melihat kemuliaan Kristus.

Gereja sebagai Persekutuan Orang Kudus

Pengakuan Iman Rasuli menyebut gereja sebagai:

“Persekutuan orang kudus.”

Ini berarti bahwa gereja bukan sekadar tempat ibadah.

Gereja adalah keluarga rohani.

Menurut Sinclair Ferguson, salah satu kebutuhan terbesar orang Kristen modern adalah pemulihan kehidupan persekutuan yang sejati.

Di dalam gereja:

  • Kita saling menguatkan.
  • Kita saling menegur.
  • Kita saling mendoakan.
  • Kita saling melayani.

Kekristenan tidak dirancang untuk dijalani sendirian.

Bahaya Pandangan yang Salah tentang Gereja

Ada beberapa kesalahpahaman yang umum terjadi.

Gereja Hanya Bangunan

Bangunan gereja penting sebagai tempat berkumpul.

Namun bangunan bukanlah gereja itu sendiri.

Gereja adalah umat Allah.

Gereja Hanya Organisasi

Gereja memang memiliki struktur organisasi.

Namun hakikatnya lebih dari itu.

Gereja adalah tubuh Kristus.

Gereja Hanya Tempat Mendapat Berkat

Sebagian orang datang ke gereja hanya untuk menerima.

Padahal setiap anggota dipanggil untuk melayani.

Gereja Tidak Penting

Ada yang berkata:

“Saya percaya kepada Yesus, tetapi tidak perlu gereja.”

Pandangan ini bertentangan dengan pola Perjanjian Baru.

Kristus mengasihi gereja-Nya dan memanggil umat-Nya untuk hidup dalam persekutuan.

Tantangan Gereja Masa Kini

Gereja menghadapi berbagai tantangan:

Sekularisme

Dunia semakin mengabaikan Allah.

Individualisme

Orang lebih fokus pada diri sendiri daripada komunitas.

Konsumerisme

Gereja diperlakukan seperti produk yang harus memenuhi selera pribadi.

Relativisme

Kebenaran absolut ditolak.

Dalam situasi seperti ini, gereja harus kembali kepada identitas alkitabiahnya.

Gereja tidak boleh dibentuk oleh budaya.

Budaya harus direspons melalui kebenaran Firman.

Gereja dan Pengharapan Eskatologis

Geerhardus Vos mengingatkan bahwa gereja hidup dalam pengharapan akan kedatangan Kristus kembali.

Saat ini gereja masih berjuang melawan dosa.

Masih ada kelemahan.

Masih ada konflik.

Masih ada ketidaksempurnaan.

Namun suatu hari nanti Kristus akan menyempurnakan gereja-Nya.

Dalam Wahyu, gereja digambarkan sebagai mempelai yang telah dipersiapkan bagi Sang Mempelai Pria.

Inilah tujuan akhir sejarah.

Gereja akan hidup bersama Kristus dalam kemuliaan yang kekal.

Kesimpulan

Menurut Alkitab, gereja bukan pertama-tama sebuah bangunan, organisasi, atau institusi manusia. Gereja adalah umat Allah yang dipanggil keluar dari kegelapan untuk menjadi milik-Nya. Gereja adalah tubuh Kristus, mempelai Kristus, keluarga Allah, dan komunitas perjanjian yang ditebus oleh darah Sang Juruselamat.

John Calvin menekankan pentingnya gereja sebagai sarana anugerah Allah. Herman Bavinck melihat gereja sebagai komunitas perjanjian. Louis Berkhof menjelaskan perbedaan antara gereja yang kelihatan dan tidak kelihatan. Geerhardus Vos menunjukkan tempat gereja dalam sejarah penebusan. Abraham Kuyper menyoroti pengaruh gereja terhadap seluruh kehidupan. Michael Horton, Sinclair Ferguson, dan R.C. Sproul mengingatkan bahwa pusat kehidupan gereja harus selalu Kristus dan Firman-Nya.

Pada akhirnya, gereja bukan milik manusia. Gereja adalah milik Kristus. Ia membangunnya, memeliharanya, menyucikannya, dan akan menyempurnakannya pada hari kedatangan-Nya kembali. Karena itu setiap orang percaya dipanggil untuk mengasihi gereja sebagaimana Kristus mengasihi gereja-Nya.

Seperti yang dikatakan Yesus:

“Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” (Matius 16:18)

Inilah jaminan dan pengharapan gereja sepanjang zaman.

Soli Deo Gloria.

Next Post Previous Post