Doa yang Menghentikan Penghakiman

Doa yang Menghentikan Penghakiman

Pendahuluan

Alkitab memuat banyak kisah tentang doa. Ada doa syukur, doa ratapan, doa penyembahan, doa pengakuan dosa, dan doa syafaat. Namun di antara semua bentuk doa tersebut, terdapat beberapa peristiwa luar biasa ketika doa seorang hamba Tuhan tampaknya “menghentikan” atau menangguhkan penghakiman Allah yang sedang dinyatakan terhadap manusia. Peristiwa-peristiwa seperti doa Abraham bagi Sodom, doa Musa bagi Israel, doa Samuel bagi bangsa itu, dan doa Daud setelah penghukuman akibat sensus Israel menunjukkan betapa pentingnya syafaat dalam sejarah penebusan.

Ketika mendengar judul “The Prayer That Stopped Judgment” (Doa yang Menghentikan Penghakiman), sebagian orang mungkin bertanya: Apakah doa manusia dapat mengubah keputusan Allah? Apakah Allah berubah pikiran karena doa? Jika Allah berdaulat atas segala sesuatu, apa gunanya berdoa?

Pertanyaan-pertanyaan ini telah dibahas selama berabad-abad oleh para teolog Reformed. Yohanes Calvin, John Owen, Herman Bavinck, Louis Berkhof, Geerhardus Vos, Matthew Henry, R. C. Sproul, J. I. Packer, dan Sinclair Ferguson menegaskan bahwa doa tidak bertentangan dengan kedaulatan Allah. Sebaliknya, doa adalah salah satu sarana yang Allah tetapkan untuk menggenapi rencana-Nya.

Dalam perspektif Reformed, ketika Alkitab menggambarkan doa yang “menghentikan penghakiman,” hal itu tidak berarti Allah kehilangan kendali atau berubah secara hakiki. Sebaliknya, Allah yang berdaulat bekerja melalui doa umat-Nya untuk menyatakan belas kasihan-Nya, sekaligus mengarahkan perhatian kepada Pengantara Agung, yaitu Yesus Kristus.

Artikel ini akan membahas tema “Doa yang Menghentikan Penghakiman” melalui berbagai peristiwa Alkitab dan refleksi para pakar Teologi Reformed.

Bab 1

Penghakiman dan Belas Kasihan dalam Karakter Allah

Untuk memahami tema ini, kita harus terlebih dahulu memahami bahwa Alkitab memperlihatkan dua aspek penting dari karakter Allah: keadilan dan belas kasihan.

Allah adalah Hakim yang benar.

Mazmur 7:12 berkata:

“Allah adalah Hakim yang adil.”

Namun Allah juga penuh kasih dan belas kasihan.

Keluaran 34:6 menyatakan:

“TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya.”

Herman Bavinck menjelaskan bahwa dalam diri Allah tidak ada pertentangan antara keadilan dan kasih. Keduanya merupakan kesempurnaan ilahi yang berjalan bersama.

Karena Allah kudus, Ia harus menghukum dosa.

Karena Allah penuh kasih, Ia berkenan menunjukkan belas kasihan.

Sepanjang Alkitab kita melihat bahwa penghakiman Allah bukanlah ledakan kemarahan yang tidak terkendali, melainkan tindakan kudus yang sesuai dengan sifat-Nya. Namun kita juga melihat bahwa Allah sering memberikan kesempatan bagi pertobatan dan menunjukkan belas kasihan kepada umat-Nya.

Di titik inilah doa syafaat memainkan peran yang sangat penting.

Bab 2

Abraham dan Sodom: Doa bagi Orang Berdosa

Salah satu contoh paling terkenal terdapat dalam Kejadian 18.

Allah menyatakan kepada Abraham bahwa Sodom dan Gomora akan dihancurkan karena kejahatan mereka.

Abraham kemudian datang kepada Allah dan memohon:

“Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik?”

Abraham terus memohon agar kota itu diselamatkan jika terdapat lima puluh, empat puluh lima, empat puluh, tiga puluh, dua puluh, bahkan sepuluh orang benar di dalamnya.

Yohanes Calvin melihat peristiwa ini sebagai contoh luar biasa tentang keberanian iman dalam doa.

Abraham tidak memerintah Allah.

Ia tidak memaksa Allah.

Sebaliknya, ia bersandar pada karakter Allah yang adil dan penuh belas kasihan.

Doa Abraham menunjukkan bahwa umat Tuhan boleh datang dengan kerendahan hati tetapi juga dengan keyakinan kepada Allah.

Walaupun Sodom akhirnya dihukum, Allah menyelamatkan Lot dan keluarganya. Dengan demikian, bahkan di tengah penghakiman, belas kasihan Allah tetap dinyatakan.

Bab 3

Musa dan Anak Lembu Emas

Salah satu contoh paling jelas tentang doa yang menangguhkan penghakiman terdapat dalam Keluaran 32.

Ketika Musa berada di Gunung Sinai, bangsa Israel membuat anak lembu emas dan menyembahnya.

Allah berfirman kepada Musa:

“Biarkanlah Aku, supaya murka-Ku bangkit terhadap mereka dan Aku akan membinasakan mereka.”

Musa kemudian berdoa memohon belas kasihan bagi bangsa itu.

Ia mengingatkan perjanjian Allah dengan Abraham, Ishak, dan Yakub.

Ia memohon demi nama Allah di hadapan bangsa-bangsa.

Setelah itu Alkitab berkata:

“Maka menyesallah TUHAN karena malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat-Nya.”
(Keluaran 32:14)

Ayat ini sering menimbulkan pertanyaan teologis.

Apakah Allah berubah pikiran?

Louis Berkhof menjelaskan bahwa bahasa seperti ini disebut bahasa antropomorfis, yaitu cara Alkitab menggambarkan tindakan Allah dalam istilah yang dapat dipahami manusia.

Allah tidak berubah dalam hakikat atau rencana kekal-Nya.

Namun dalam sejarah, Allah berinteraksi dengan manusia melalui sarana yang telah Ia tetapkan, termasuk doa.

Musa menjadi alat yang dipakai Allah untuk menyatakan belas kasihan-Nya kepada Israel.

Bab 4

Wabah yang Berhenti karena Syafaat

Bilangan 16 mencatat pemberontakan Korah terhadap Musa.

Akibat pemberontakan itu, murka Allah dinyatakan melalui wabah yang mematikan ribuan orang.

Namun Musa berkata kepada Harun:

“Bawalah pedupaan dan adakan pendamaian bagi bangsa itu.”

Harun kemudian berdiri:

“Di antara orang mati dan orang hidup.”

Alkitab mencatat:

“Maka berhentilah tulah itu.”

John Owen melihat peristiwa ini sebagai gambaran yang sangat kuat tentang karya pengantaraan Kristus.

Harun berdiri di antara penghakiman dan umat.

Kristus berdiri di antara murka Allah dan orang berdosa.

Sebagaimana wabah berhenti ketika pendamaian dilakukan, demikian pula hukuman dosa dihentikan bagi mereka yang berada di dalam Kristus.

Dalam pandangan Reformed, semua doa syafaat Perjanjian Lama pada akhirnya menunjuk kepada syafaat Kristus yang sempurna.

Bab 5

Samuel: Nabi yang Berdoa bagi Bangsa

Samuel dikenal sebagai seorang nabi, hakim, dan pendoa syafaat.

Ketika bangsa Israel takut menghadapi orang Filistin, mereka berkata:

“Janganlah berhenti berseru kepada TUHAN, Allah kita, bagi kami.”

Samuel kemudian berdoa.

Allah menjawab dengan kuasa-Nya dan memberi kemenangan kepada Israel.

Geerhardus Vos menjelaskan bahwa dalam sejarah penebusan, para nabi sering berfungsi sebagai pengantara antara Allah dan umat.

Mereka membawa firman Allah kepada manusia.

Mereka juga membawa kebutuhan manusia kepada Allah.

Peran ini mencapai puncaknya dalam diri Yesus Kristus yang menjadi Nabi, Imam, dan Raja yang sempurna.

Bab 6

Doa Daud dan Penghentian Tulah

Dalam 2 Samuel 24, Daud melakukan sensus yang berdosa.

Akibatnya, Allah mengirimkan tulah ke Israel.

Ketika malaikat penghancur sedang menjalankan penghakiman, Daud berseru:

“Aku yang berdosa dan aku yang bersalah.”

Daud memohon agar hukuman tidak menimpa rakyat.

Kemudian Allah memerintahkan pembangunan mezbah.

Setelah korban dipersembahkan:

“Maka berhentilah tulah itu.”

Matthew Henry menjelaskan bahwa peristiwa ini menunjukkan hubungan erat antara doa, pertobatan, dan korban pendamaian.

Penghakiman tidak dihentikan karena manusia layak menerimanya.

Penghakiman dihentikan karena Allah menyediakan jalan pendamaian.

Sekali lagi, seluruh peristiwa ini menunjuk kepada Kristus.

Bab 7

Doa Tidak Mengubah Rencana Allah

Salah satu kesalahpahaman terbesar adalah menganggap bahwa doa membuat Allah mengubah rencana yang sebelumnya tidak sempurna.

Yohanes Calvin menolak pandangan tersebut.

Menurut Calvin, Allah tidak memerlukan informasi dari manusia.

Ia mengetahui segala sesuatu sejak kekekalan.

Namun Allah memerintahkan umat-Nya untuk berdoa karena doa merupakan bagian dari rencana-Nya.

Calvin menulis bahwa doa bukan bertujuan mengajar Allah tentang kebutuhan kita.

Doa bertujuan:

  • Menumbuhkan iman.
  • Menyatakan ketergantungan kita.
  • Membentuk hati kita.
  • Menjadi sarana yang dipakai Allah untuk bekerja.

Dalam kedaulatan-Nya, Allah menetapkan baik tujuan maupun sarana untuk mencapai tujuan tersebut.

Karena itu, doa memiliki arti yang nyata dan penting.

Bab 8

Kristus: Doa yang Menghentikan Penghakiman Secara Sempurna

Jika semua contoh syafaat dalam Perjanjian Lama diperhatikan dengan saksama, semuanya menunjuk kepada satu Pribadi.

Yesus Kristus.

Ibrani 7:25 berkata:

“Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka.”

John Owen menyebut syafaat Kristus sebagai pusat pengharapan orang percaya.

Musa berdoa bagi Israel.

Samuel berdoa bagi bangsa itu.

Daud berdoa bagi rakyatnya.

Namun semua pengantaraan mereka terbatas.

Kristus berbeda.

Ia bukan hanya berdoa.

Ia juga menyerahkan diri-Nya sebagai korban.

Di atas salib, Ia menanggung hukuman yang seharusnya dijatuhkan kepada umat-Nya.

Karena itu, penghakiman Allah terhadap dosa dihentikan secara sempurna bagi mereka yang percaya kepada Kristus.

Bab 9

Salib sebagai Pertemuan Penghakiman dan Belas Kasihan

J. I. Packer dalam karyanya Knowing God menjelaskan bahwa salib adalah tempat di mana keadilan dan kasih Allah bertemu secara sempurna.

Di salib:

  • Allah tidak mengabaikan dosa.
  • Allah tidak mengurangi standar kekudusan-Nya.
  • Allah tidak mengorbankan keadilan-Nya.

Sebaliknya, hukuman benar-benar dijalankan.

Namun hukuman itu ditanggung oleh Kristus.

Karena itu, salib menjadi “doa yang menghentikan penghakiman” dalam arti yang paling dalam.

Bukan karena manusia berhasil meyakinkan Allah untuk berbelas kasihan.

Melainkan karena Allah sendiri menyediakan Pengantara yang sempurna.

Bab 10

Implikasi bagi Kehidupan Orang Percaya

Apa arti tema ini bagi kehidupan Kristen saat ini?

1. Kita Dipanggil untuk Berdoa Syafaat

Allah memakai doa umat-Nya sebagai sarana berkat bagi orang lain.

2. Kita Percaya pada Belas Kasihan Allah

Tidak ada situasi yang terlalu gelap untuk dibawa kepada Allah.

3. Kita Mengakui Kedaulatan Allah

Doa bukan usaha memanipulasi Allah.

Doa adalah tindakan percaya kepada-Nya.

4. Kita Bersandar pada Kristus

Semua doa kita diterima karena pengantaraan Kristus.

5. Kita Memiliki Pengharapan

Karena Kristus hidup untuk menjadi Pengantara kita, kita dapat datang kepada Allah dengan keberanian.

Pandangan Beberapa Pakar Teologi Reformed

Yohanes Calvin

Calvin mengajarkan bahwa doa adalah sarana yang ditetapkan Allah untuk melaksanakan kehendak-Nya dalam sejarah.

Herman Bavinck

Bavinck menekankan bahwa belas kasihan dan keadilan Allah tidak pernah bertentangan satu sama lain.

Louis Berkhof

Berkhof menjelaskan bahwa Allah tidak berubah, tetapi bekerja melalui doa sesuai dengan rencana kekal-Nya.

John Owen

Owen melihat seluruh syafaat Perjanjian Lama sebagai bayangan dari pengantaraan Kristus yang sempurna.

Geerhardus Vos

Vos menempatkan doa syafaat dalam kerangka sejarah penebusan yang berpusat pada Kristus.

J. I. Packer

Packer menegaskan bahwa salib adalah titik pertemuan antara penghakiman Allah dan belas kasihan-Nya.

R. C. Sproul

Sproul mengingatkan bahwa doa tidak mengurangi kedaulatan Allah, melainkan menunjukkan bagaimana Allah bekerja melalui sarana yang Ia tetapkan.

Sinclair Ferguson

Ferguson menekankan bahwa doa syafaat merupakan cerminan hati Kristus yang mengasihi umat-Nya.

Kesimpulan

Judul “Doa yang Menghentikan Penghakiman” membawa kita kepada salah satu tema paling indah dalam Alkitab: hubungan antara keadilan Allah, belas kasihan-Nya, dan peran syafaat dalam sejarah penebusan. Dari Abraham yang memohon bagi Sodom, Musa yang berdoa bagi Israel, Harun yang berdiri di antara orang hidup dan orang mati, Samuel yang berseru bagi bangsanya, hingga Daud yang memohon penghentian tulah, kita melihat bahwa Allah berkenan bekerja melalui doa umat-Nya.

Namun Teologi Reformed menegaskan bahwa semua contoh tersebut hanyalah bayangan dari karya yang lebih besar. Pengantara sejati adalah Yesus Kristus. Ia tidak hanya berdoa bagi umat-Nya, tetapi juga menyerahkan diri-Nya sebagai korban pendamaian. Di salib, penghakiman yang seharusnya menimpa orang berdosa ditanggung oleh Kristus. Melalui kebangkitan dan syafaat-Nya yang terus berlangsung, umat Allah memperoleh akses yang penuh kepada takhta kasih karunia.

Calvin mengajarkan bahwa doa adalah sarana yang Allah tetapkan dalam rencana-Nya. Bavinck menunjukkan keselarasan antara keadilan dan kasih Allah. Berkhof menjelaskan bahwa Allah tetap tidak berubah. Owen melihat Kristus sebagai Pengantara Agung yang sempurna. Packer menyoroti salib sebagai titik temu penghakiman dan belas kasihan.

Karena itu, doa yang benar tidak pernah bertujuan mengubah Allah. Doa membawa kita semakin dekat kepada kehendak-Nya. Dan setiap kali orang percaya berdoa dalam nama Kristus, mereka melakukannya dengan keyakinan bahwa Pengantara mereka hidup dan terus bersyafaat bagi mereka.

“Sebab hanya ada satu Allah dan satu Pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus.” (1 Timotius 2:5)

Previous Post