Jadilah Terang, Maka Terang Itu Jadi

Jadilah Terang, Maka Terang Itu Jadi

Pendahuluan

Di antara semua kalimat dalam Alkitab, sedikit yang memiliki dampak teologis sedalam pernyataan Allah dalam Kejadian 1:3:

“Berfirmanlah Allah: ‘Jadilah terang.’ Lalu terang itu jadi.”

Kalimat ini sederhana, tetapi mengandung makna yang sangat luas. Dalam satu perintah ilahi, kita melihat kuasa Allah yang mutlak, otoritas firman-Nya yang tidak dapat gagal, dan awal dari sejarah alam semesta. Tidak ada perjuangan, tidak ada perlawanan, dan tidak ada proses negosiasi. Allah berbicara, dan ciptaan menaati-Nya.

Bagi Teologi Reformed, ayat ini bukan hanya berbicara tentang asal mula terang fisik. Ayat ini mengungkapkan sesuatu yang mendasar tentang siapa Allah itu sendiri. Allah adalah Pencipta yang berdaulat. Firman-Nya berkuasa. Kehendak-Nya tidak dapat digagalkan. Apa yang Ia tetapkan pasti terjadi.

Lebih dari itu, para teolog Reformed melihat hubungan yang mendalam antara terang dalam penciptaan dan terang dalam keselamatan. Allah yang menciptakan terang pada hari pertama adalah Allah yang menerangi hati orang berdosa melalui Injil Kristus. Penciptaan dan penebusan sama-sama merupakan karya kuasa firman Allah.

Yohanes Calvin, Herman Bavinck, Abraham Kuyper, Louis Berkhof, Geerhardus Vos, John Murray, R. C. Sproul, J. I. Packer, dan Sinclair Ferguson memberikan refleksi yang kaya mengenai tema ini. Mereka menunjukkan bahwa terang dalam Alkitab bukan sekadar fenomena fisika, melainkan simbol kehidupan, kebenaran, penyataan Allah, dan keselamatan.

Artikel ini akan membahas makna teologis dari pernyataan “Jadilah terang, maka terang itu jadi” dalam perspektif Reformed, mulai dari penciptaan dunia hingga karya Kristus sebagai Terang Dunia.

Bab 1

Awal dari Segala Sesuatu

Kitab Kejadian dimulai dengan pernyataan:

“Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.”
(Kejadian 1:1)

Sebelum ada alam semesta, hanya Allah yang ada.

Ini merupakan salah satu fondasi terpenting dalam Teologi Reformed.

Yohanes Calvin menegaskan bahwa Allah tidak bergantung pada ciptaan untuk keberadaan-Nya. Sebaliknya, seluruh ciptaan bergantung sepenuhnya kepada Allah.

Ketika Allah berkata:

“Jadilah terang,”

Ia tidak menggunakan bahan yang sudah ada sebelumnya.

Allah menciptakan melalui firman-Nya.

Calvin menjelaskan bahwa penciptaan menunjukkan kemahakuasaan Allah yang tidak terbatas. Tidak ada sesuatu pun yang terlalu sulit bagi-Nya.

Dalam dunia kuno, banyak bangsa percaya bahwa alam semesta muncul dari pertarungan para dewa atau dari materi yang kekal.

Namun Alkitab menyatakan bahwa segala sesuatu berasal dari firman Allah yang berdaulat.

Bab 2

Kuasa Firman Allah

Salah satu tema utama dalam Kejadian 1 adalah kuasa firman Allah.

Berulang kali kita membaca:

“Berfirmanlah Allah…”

Kemudian apa yang Allah katakan langsung terjadi.

Herman Bavinck menjelaskan bahwa firman Allah bukan sekadar suara atau informasi. Firman Allah adalah ekspresi kehendak-Nya yang penuh kuasa.

Ketika manusia berbicara, kata-kata mereka mungkin diabaikan atau gagal mencapai tujuan.

Ketika Allah berbicara, realitas itu sendiri berubah.

Firman Allah bersifat:

  • Kreatif.
  • Efektif.
  • Berotoritas.
  • Tidak dapat gagal.

Bavinck menegaskan bahwa penciptaan merupakan demonstrasi pertama dari kuasa firman Allah yang kemudian terlihat di seluruh Alkitab.

Allah berbicara kepada Abraham.

Allah berbicara melalui para nabi.

Allah berbicara melalui Kristus.

Dan Allah masih berbicara melalui Kitab Suci.

Bab 3

Mengapa Terang Diciptakan Pertama?

Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah: mengapa Allah menciptakan terang sebelum matahari, bulan, dan bintang?

Louis Berkhof menjelaskan bahwa urutan penciptaan menunjukkan bahwa Allah tidak bergantung pada alat-alat alamiah untuk menghasilkan terang.

Terang ada karena Allah menghendakinya.

Matahari bukan sumber utama terang.

Allah adalah sumber utama terang.

Ini memiliki makna teologis yang mendalam.

Sepanjang sejarah manusia, banyak budaya menyembah benda-benda langit.

Namun Kejadian menunjukkan bahwa matahari sendiri adalah ciptaan Allah.

Allah menciptakan terang sebelum menciptakan matahari untuk menunjukkan bahwa terang berasal dari-Nya.

Dengan demikian, seluruh ciptaan diarahkan untuk memuliakan Sang Pencipta, bukan ciptaan itu sendiri.

Bab 4

Terang sebagai Simbol Kehadiran Allah

Dalam Alkitab, terang sering menjadi simbol kehadiran Allah.

Mazmur 104:2 berkata:

“Engkau yang berselubungkan terang seperti kain.”

1 Yohanes 1:5 menyatakan:

“Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan.”

R. C. Sproul menjelaskan bahwa terang dalam Alkitab melambangkan:

  • Kekudusan.
  • Kebenaran.
  • Kemurnian.
  • Kehidupan.
  • Kemuliaan Allah.

Sebaliknya, kegelapan sering melambangkan:

  • Dosa.
  • Kebodohan rohani.
  • Pemberontakan.
  • Kematian.

Karena itu, penciptaan terang pada hari pertama memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar penciptaan energi fisik.

Allah sedang memperkenalkan pola yang akan muncul sepanjang sejarah penebusan: terang mengalahkan kegelapan.

Bab 5

Kristus sebagai Terang Dunia

Tema terang mencapai puncaknya dalam Perjanjian Baru.

Yesus berkata:

“Akulah terang dunia.”
(Yohanes 8:12)

Geerhardus Vos menjelaskan bahwa Kristus adalah penggenapan dari simbol terang dalam seluruh Alkitab.

Jika terang pertama mengusir kegelapan fisik, Kristus datang untuk mengusir kegelapan rohani.

Manusia yang jatuh ke dalam dosa hidup dalam kegelapan:

  • Tidak mengenal Allah.
  • Tidak memahami kebenaran.
  • Terpisah dari kehidupan kekal.

Namun Kristus datang sebagai terang yang sejati.

Yohanes 1:9 menyatakan:

“Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.”

Dalam diri Kristus, terang penciptaan dan terang keselamatan bertemu.

Bab 6

Penciptaan Baru dalam Hati Orang Berdosa

Salah satu hubungan terindah antara Kejadian 1 dan Injil ditemukan dalam 2 Korintus 4:6.

Paulus menulis:

“Sebab Allah yang telah berfirman: Dari dalam gelap akan terbit terang, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita.”

John Murray menjelaskan bahwa pertobatan adalah tindakan penciptaan baru.

Sama seperti dunia tidak dapat menciptakan terang bagi dirinya sendiri, orang berdosa tidak dapat menghasilkan kehidupan rohani dari dirinya sendiri.

Allah harus bertindak.

Allah harus berbicara.

Allah harus menerangi hati.

Dalam Teologi Reformed, kelahiran baru merupakan karya Roh Kudus yang berdaulat.

Manusia yang mati secara rohani tidak dapat membangkitkan dirinya sendiri.

Tetapi Allah yang berkata:

“Jadilah terang,”

masih bekerja melalui Injil untuk menciptakan terang dalam hati manusia.

Bab 7

Kedaulatan Allah dalam Penciptaan dan Keselamatan

Abraham Kuyper terkenal dengan pernyataannya:

“Tidak ada satu inci pun dalam seluruh wilayah kehidupan manusia yang tidak diklaim Kristus sebagai milik-Nya.”

Pernyataan itu berakar pada pemahaman bahwa Allah berdaulat atas segala sesuatu.

Kejadian 1 menunjukkan bahwa dunia ada karena firman Allah.

Keselamatan juga ada karena firman Allah.

Kuyper melihat hubungan erat antara penciptaan dan penebusan.

Allah yang mengatur galaksi-galaksi juga mengatur sejarah manusia.

Allah yang menciptakan terang fisik juga menciptakan terang rohani.

Tidak ada wilayah yang berada di luar pemerintahan-Nya.

Karena itu, orang percaya dapat hidup dengan keyakinan bahwa Allah memegang kendali atas seluruh realitas.

Bab 8

Terang dan Kebenaran

Dalam dunia yang dipenuhi relativisme, tema terang memiliki relevansi yang besar.

J. I. Packer menjelaskan bahwa terang dalam Alkitab selalu terkait dengan kebenaran.

Allah tidak hanya memberi kehidupan.

Ia juga menyatakan realitas sebagaimana adanya.

Kegelapan rohani membuat manusia:

  • Salah memahami Allah.
  • Salah memahami diri sendiri.
  • Salah memahami dunia.

Namun terang Allah membuka mata manusia.

Karena itu, membaca Kitab Suci sering digambarkan sebagai menerima terang.

Mazmur 119:105 berkata:

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”

Packer menegaskan bahwa tanpa firman Allah, manusia akan tersesat dalam kegelapan moral dan spiritual.

Bab 9

Panggilan untuk Hidup dalam Terang

Jika Allah telah menerangi hati orang percaya, maka mereka dipanggil untuk hidup dalam terang.

Efesus 5:8 berkata:

“Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan.”

Sinclair Ferguson menjelaskan bahwa kehidupan Kristen bukan sekadar menerima terang, tetapi juga memancarkan terang.

Ini berarti:

  • Hidup dalam kekudusan.
  • Mengasihi sesama.
  • Mengatakan kebenaran.
  • Menolak dosa.
  • Menjadi saksi Kristus.

Orang percaya dipanggil untuk mencerminkan karakter Allah di tengah dunia yang gelap.

Sebagaimana bulan memantulkan cahaya matahari, demikian pula gereja dipanggil memantulkan terang Kristus.

Bab 10

Pengharapan Akan Terang yang Sempurna

Alkitab berakhir dengan gambaran yang menakjubkan.

Dalam Wahyu 21:23 kita membaca:

“Kota itu tidak memerlukan matahari dan bulan untuk menyinarinya, sebab kemuliaan Allah meneranginya.”

Tema yang dimulai di Kejadian mencapai penggenapannya di Wahyu.

Pada awal penciptaan:

“Jadilah terang.”

Pada akhir sejarah:

Kemuliaan Allah menjadi terang yang kekal.

Bavinck menjelaskan bahwa tujuan akhir penebusan bukan sekadar mengembalikan keadaan sebelum kejatuhan.

Allah membawa ciptaan kepada kemuliaan yang lebih besar.

Tidak akan ada lagi:

  • Dosa.
  • Kegelapan.
  • Kematian.
  • Kesedihan.

Terang Allah akan memenuhi seluruh ciptaan.

Ini adalah pengharapan besar bagi semua orang percaya.

Pandangan Beberapa Pakar Teologi Reformed

Yohanes Calvin

Calvin melihat penciptaan terang sebagai bukti kemahakuasaan Allah yang menciptakan melalui firman-Nya tanpa membutuhkan bantuan apa pun.

Herman Bavinck

Bavinck menekankan bahwa firman Allah bersifat kreatif dan efektif. Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi.

Louis Berkhof

Berkhof menjelaskan bahwa penciptaan terang sebelum matahari menunjukkan bahwa Allah adalah sumber segala terang.

Abraham Kuyper

Kuyper menghubungkan kuasa penciptaan dengan kedaulatan Kristus atas seluruh kehidupan.

John Murray

Murray melihat hubungan erat antara penciptaan terang dalam Kejadian dan penciptaan baru dalam keselamatan.

R. C. Sproul

Sproul menyoroti terang sebagai simbol kekudusan dan kemuliaan Allah.

J. I. Packer

Packer mengaitkan terang dengan kebenaran Allah yang dinyatakan melalui firman-Nya.

Sinclair Ferguson

Ferguson menekankan panggilan orang percaya untuk hidup sebagai anak-anak terang di dunia.

Kesimpulan

Pernyataan “Jadilah terang, maka terang itu jadi” merupakan salah satu kalimat paling penting dalam seluruh Alkitab. Dalam satu perintah sederhana, kita melihat kuasa Allah yang mutlak, efektivitas firman-Nya, dan awal dari sejarah ciptaan.

Teologi Reformed memahami ayat ini bukan hanya sebagai catatan tentang asal-usul alam semesta, tetapi juga sebagai dasar bagi pemahaman tentang keselamatan. Allah yang menciptakan terang fisik adalah Allah yang menerangi hati orang berdosa melalui Kristus. Firman yang menciptakan dunia adalah firman yang melahirkan kehidupan baru.

Calvin menunjukkan kemahakuasaan Allah dalam penciptaan. Bavinck menyoroti kuasa firman-Nya yang efektif. Berkhof menegaskan bahwa Allah adalah sumber segala terang. Kuyper menghubungkannya dengan kedaulatan Kristus. Murray melihatnya sebagai gambaran kelahiran baru. Sproul menekankan kekudusan Allah. Packer mengaitkannya dengan kebenaran ilahi. Ferguson mengingatkan panggilan orang percaya untuk hidup sebagai terang dunia.

Pada akhirnya, tema terang mengarahkan kita kepada Yesus Kristus, Terang Dunia yang sejati. Dalam Dia, kegelapan dosa dikalahkan. Dalam Dia, manusia mengenal Allah. Dalam Dia, pengharapan akan ciptaan baru menjadi nyata.

Dan sebagaimana firman Allah pada hari pertama tidak pernah gagal, demikian pula janji keselamatan-Nya tidak akan pernah gagal. Terang yang Ia nyalakan dalam hati umat-Nya akan terus bersinar hingga hari ketika kemuliaan Allah memenuhi langit dan bumi yang baru untuk selama-lamanya.

“Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.” (Yohanes 1:5)

Next Post Previous Post