Tentang Pendamaian dan Syafaat Yesus Kristus

Tentang Pendamaian dan Syafaat Yesus Kristus

Pendahuluan

Di antara seluruh doktrin Kekristenan, tidak ada yang lebih penting daripada karya Yesus Kristus dalam mendamaikan orang berdosa dengan Allah. Inti Injil bukanlah nasihat moral, bukan pula sekadar ajaran etika atau filsafat hidup, melainkan kabar baik bahwa Allah telah bertindak dalam sejarah melalui Anak-Nya untuk menyelamatkan umat-Nya dari dosa. Karya tersebut mencapai puncaknya dalam kematian Kristus di kayu salib dan terus berlanjut melalui pelayanan-Nya sebagai Imam Besar yang hidup dan bersyafaat bagi umat-Nya.

Dua aspek ini—pendamaian (atonement) dan syafaat (intercession)—tidak dapat dipisahkan. Jika pendamaian menjelaskan bagaimana Kristus menyelesaikan masalah dosa melalui pengorbanan-Nya, maka syafaat menjelaskan bagaimana Kristus terus menerapkan manfaat keselamatan itu kepada umat-Nya. Kristus bukan hanya Juruselamat yang pernah mati; Ia adalah Juruselamat yang hidup dan terus bekerja bagi gereja-Nya.

Teologi Reformed secara historis memberikan perhatian yang sangat besar terhadap kedua doktrin ini. Para teolog seperti John Calvin, John Owen, Herman Bavinck, Louis Berkhof, Geerhardus Vos, R.C. Sproul, Sinclair Ferguson, J.I. Packer, Michael Horton, dan Joel Beeke telah menulis secara mendalam mengenai makna salib dan pelayanan Kristus di surga.

Artikel ini akan membahas secara sistematis dan alkitabiah mengenai pendamaian dan syafaat Kristus, sekaligus menunjukkan relevansinya bagi kehidupan orang percaya masa kini.

Arti Pendamaian dalam Alkitab

Kata pendamaian mengacu pada karya Kristus yang menghapus permusuhan antara Allah yang kudus dan manusia yang berdosa.

Dosa telah menciptakan jurang yang tidak dapat dijembatani oleh usaha manusia.

Alkitab mengajarkan bahwa:

  • Allah itu kudus.
  • Manusia telah berdosa.
  • Upah dosa adalah maut.
  • Tidak ada manusia yang mampu menyelamatkan dirinya sendiri.

Karena itu pendamaian harus berasal dari Allah.

Paulus menulis:

“Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus.” (2 Korintus 5:19)

Dalam Teologi Reformed, pendamaian dipahami sebagai tindakan objektif Allah melalui kematian Kristus yang sungguh-sungguh menyelesaikan persoalan dosa.

Salib bukan sekadar simbol kasih.

Salib adalah tempat di mana keadilan dan kasih Allah bertemu secara sempurna.

Mengapa Pendamaian Diperlukan?

Untuk memahami pendamaian, kita harus memahami keseriusan dosa.

Dalam budaya modern, dosa sering dianggap sebagai kelemahan manusia atau kesalahan kecil.

Namun Alkitab menggambarkan dosa sebagai pemberontakan terhadap Allah yang kudus.

R.C. Sproul sering menekankan bahwa banyak orang gagal memahami Injil karena mereka gagal memahami kekudusan Allah.

Menurut Sproul:

Masalah utama manusia bukan rendahnya harga diri, melainkan dosanya di hadapan Allah yang kudus.

Jika Allah benar-benar kudus, maka dosa tidak dapat diabaikan begitu saja.

Keadilan Allah menuntut hukuman.

Namun kasih Allah menyediakan jalan keselamatan.

Pendamaian Kristus menjawab kedua tuntutan tersebut.

John Calvin: Kristus Sebagai Pengganti Orang Berdosa

John Calvin mengajarkan bahwa inti pendamaian adalah substitusi atau penggantian.

Kristus mengambil tempat orang berdosa.

Ia memikul hukuman yang seharusnya ditanggung manusia.

Dalam Institutes of the Christian Religion, Calvin menjelaskan bahwa Kristus menjadi wakil umat-Nya di hadapan Allah.

Apa yang gagal dilakukan Adam pertama berhasil dilakukan oleh Kristus sebagai Adam terakhir.

Calvin menulis bahwa Kristus:

  • Menanggung kutuk hukum Taurat.
  • Memenuhi tuntutan kebenaran Allah.
  • Membayar hutang dosa umat-Nya.

Karena itu keselamatan bukan hasil usaha manusia, tetapi hasil karya Kristus yang sempurna.

Pendamaian sebagai Korban Pengganti

Dalam Perjanjian Lama, konsep korban sangat penting.

Hewan korban dipersembahkan sebagai lambang bahwa dosa layak menerima hukuman.

Namun korban-korban tersebut hanya bersifat sementara.

Penulis Ibrani berkata:

“Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa.” (Ibrani 10:4)

Korban-korban itu menunjuk kepada Kristus.

Ketika Yohanes Pembaptis melihat Yesus, ia berkata:

“Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.”

Herman Bavinck menjelaskan bahwa seluruh sistem korban dalam Perjanjian Lama menemukan penggenapannya dalam Kristus.

Kristus adalah korban yang sempurna.

Ia mempersembahkan diri-Nya sekali untuk selama-lamanya.

John Owen dan Doktrin Penebusan yang Efektif

John Owen merupakan salah satu teolog Reformed yang paling berpengaruh dalam pembahasan mengenai pendamaian.

Dalam karya monumentalnya The Death of Death in the Death of Christ, Owen menekankan bahwa kematian Kristus bukan hanya membuat keselamatan menjadi mungkin.

Kematian Kristus benar-benar menyelamatkan.

Menurut Owen:

  • Kristus mati bagi umat-Nya.
  • Kristus membayar dosa mereka secara nyata.
  • Penebusan-Nya mencapai tujuan yang ditetapkan Allah.

Dengan kata lain, salib bukan sekadar potensi keselamatan.

Salib adalah karya penebusan yang efektif dan berhasil.

Pendamaian dan Keadilan Allah

Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah:

Mengapa Allah tidak mengampuni saja tanpa salib?

Jawabannya terletak pada karakter Allah sendiri.

Allah adalah kasih.

Namun Allah juga adil.

Louis Berkhof menjelaskan bahwa pengampunan tanpa keadilan akan bertentangan dengan sifat Allah.

Karena itu dosa harus dihukum.

Di salib:

  • Kasih Allah dinyatakan.
  • Keadilan Allah dipuaskan.
  • Dosa dihukum.
  • Orang berdosa diselamatkan.

Paulus menjelaskan bahwa Allah tetap adil sekaligus membenarkan orang berdosa melalui Kristus (Roma 3:26).

Geerhardus Vos: Pendamaian dalam Sejarah Penebusan

Geerhardus Vos menempatkan pendamaian dalam konteks sejarah penebusan.

Menurut Vos, seluruh Perjanjian Lama bergerak menuju salib.

Perjanjian dengan Abraham, Musa, Daud, sistem korban, hari raya, dan pelayanan imam semuanya menunjuk kepada Kristus.

Salib bukan peristiwa yang terjadi secara kebetulan.

Salib merupakan pusat rencana Allah sejak kekekalan.

Karena itu kematian Kristus harus dipahami sebagai puncak karya penebusan yang telah dijanjikan sejak Kejadian 3:15.

Kebangkitan dan Pendamaian

Pendamaian tidak dapat dipisahkan dari kebangkitan.

Jika Kristus tetap berada di dalam kubur, maka tidak ada jaminan bahwa korban-Nya diterima.

Namun kebangkitan membuktikan bahwa:

  • Kematian telah dikalahkan.
  • Dosa telah dibayar.
  • Murka Allah telah dipuaskan.

Michael Horton menjelaskan bahwa kebangkitan adalah deklarasi publik Allah bahwa karya Kristus telah berhasil.

Salib dan kebangkitan merupakan dua sisi dari karya penebusan yang sama.

Kristus Sebagai Imam Besar

Setelah membahas pendamaian, kita beralih kepada tema syafaat.

Kitab Ibrani menggambarkan Kristus sebagai Imam Besar Agung.

Dalam Perjanjian Lama, imam memiliki dua tugas utama:

  • Mempersembahkan korban.
  • Mewakili umat di hadapan Allah.

Kristus melakukan keduanya secara sempurna.

Ia bukan hanya imam.

Ia juga korban.

Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri bagi dosa umat-Nya.

Kemudian Ia masuk ke hadirat Bapa sebagai Imam Besar yang kekal.

Apa Itu Syafaat Kristus?

Syafaat berarti Kristus mewakili umat-Nya di hadapan Allah.

Ibrani 7:25 berkata:

“Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka.”

Ini adalah salah satu ayat terpenting mengenai syafaat Kristus.

Kristus tidak berhenti bekerja setelah kenaikan-Nya ke surga.

Ia terus menjalankan pelayanan-Nya bagi gereja.

John Calvin tentang Syafaat Kristus

Calvin menjelaskan bahwa Kristus sekarang berdiri sebagai Pengantara umat-Nya.

Bukan berarti Bapa enggan mengasihi umat-Nya.

Sebaliknya, syafaat Kristus merupakan bagian dari rencana kasih Allah Tritunggal.

Menurut Calvin:

  • Kristus mempersembahkan jasa penebusan-Nya di hadapan Bapa.
  • Ia menjamin bahwa umat-Nya diterima.
  • Ia membela mereka terhadap setiap tuduhan.

Karena itu orang percaya dapat menghampiri Allah dengan keberanian.

J.I. Packer: Penghiburan dari Syafaat Kristus

J.I. Packer melihat doktrin syafaat sebagai sumber penghiburan yang besar.

Orang percaya sering jatuh dalam dosa.

Mereka sering merasa tidak layak.

Mereka sering bergumul dengan kelemahan.

Namun Kristus tidak berhenti menjadi Juruselamat mereka.

Packer menegaskan bahwa keselamatan orang percaya aman karena Kristus hidup.

Jika keselamatan bergantung pada kekuatan manusia, maka tidak ada harapan.

Namun karena Kristus terus bersyafaat, umat-Nya tetap dipelihara.

Syafaat dan Ketekunan Orang Kudus

Dalam Teologi Reformed terdapat doktrin Perseverance of the Saints atau ketekunan orang-orang kudus.

Doktrin ini berkaitan erat dengan syafaat Kristus.

Mengapa orang percaya dapat bertahan sampai akhir?

Karena Kristus terus bekerja bagi mereka.

Sinclair Ferguson menjelaskan bahwa ketekunan orang percaya bukan terutama karena mereka berpegang kepada Kristus.

Ketekunan terjadi karena Kristus terus memegang mereka.

Inilah dasar keamanan keselamatan.

Kristus Sebagai Pembela

1 Yohanes 2:1 berkata:

“Kita mempunyai seorang Pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus yang adil.”

Kata “Pengantara” di sini dapat dipahami sebagai pembela atau advokat.

Ketika orang percaya berdosa, Iblis menjadi pendakwa.

Namun Kristus menjadi Pembela.

Joel Beeke menjelaskan bahwa Kristus tidak membela umat-Nya dengan mengabaikan dosa mereka.

Ia membela mereka berdasarkan darah-Nya sendiri yang telah dicurahkan.

Karena itu tidak ada tuduhan yang dapat menggagalkan keselamatan orang percaya.

Herman Bavinck dan Karya Kristus yang Berkelanjutan

Bavinck menekankan bahwa karya Kristus tidak berakhir di Golgota.

Kristus yang bangkit:

  • Memerintah.
  • Bersyafaat.
  • Memelihara gereja.
  • Mengutus Roh Kudus.

Karena itu kehidupan Kristen saat ini tidak hanya bergantung pada peristiwa masa lalu.

Kehidupan Kristen bergantung pada Kristus yang hidup sekarang.

Inilah yang membedakan Kekristenan dari agama-agama lain.

Kita tidak mengikuti tokoh agama yang sudah mati.

Kita mengikuti Juruselamat yang hidup.

Implikasi Praktis bagi Orang Percaya

1. Kepastian Keselamatan

Karena Kristus telah mendamaikan kita dengan Allah dan terus bersyafaat bagi kita, kita dapat memiliki kepastian keselamatan.

2. Keberanian dalam Doa

Orang percaya dapat datang kepada Allah dengan penuh keyakinan karena Kristus adalah Pengantara mereka.

3. Penghiburan dalam Kegagalan

Ketika jatuh dalam dosa, kita tidak putus asa.

Kristus tetap menjadi Pembela kita.

4. Dorongan untuk Hidup Kudus

Pendamaian bukan alasan untuk hidup dalam dosa.

Sebaliknya, kasih Kristus mendorong kita untuk hidup bagi-Nya.

5. Pengharapan di Tengah Penderitaan

Kristus yang hidup terus memimpin umat-Nya sampai mereka mencapai kemuliaan kekal.

Pendamaian, Syafaat, dan Kemuliaan Allah

Salah satu ciri khas Teologi Reformed adalah penekanannya pada kemuliaan Allah.

Pendamaian dan syafaat Kristus pada akhirnya bertujuan memuliakan Allah.

Dalam salib:

  • Kasih Allah dimuliakan.
  • Keadilan Allah dimuliakan.
  • Hikmat Allah dimuliakan.
  • Anugerah Allah dimuliakan.

Dalam syafaat Kristus:

  • Kesetiaan Allah dimuliakan.
  • Pemeliharaan Allah dimuliakan.
  • Kuasa Allah dimuliakan.

Karena itu keselamatan bukan terutama tentang manusia.

Keselamatan adalah tentang kemuliaan Allah yang dinyatakan melalui Kristus.

Kesimpulan

Doktrin pendamaian dan syafaat Yesus Kristus merupakan inti dari Injil dan pusat dari seluruh pengharapan Kristen. Pendamaian menjelaskan bagaimana Kristus melalui kematian-Nya di kayu salib menghapus dosa umat-Nya, memuaskan keadilan Allah, dan mendamaikan orang berdosa dengan Sang Pencipta. Syafaat menjelaskan bagaimana Kristus yang telah bangkit dan naik ke surga terus bekerja sebagai Imam Besar Agung yang mewakili, membela, dan memelihara umat-Nya.

John Calvin menekankan Kristus sebagai Pengganti orang berdosa. John Owen menjelaskan efektivitas penebusan-Nya. Herman Bavinck melihat salib sebagai pusat sejarah penebusan. Louis Berkhof menunjukkan hubungan antara pendamaian dan keadilan Allah. Geerhardus Vos menempatkan karya Kristus dalam keseluruhan rencana Allah. J.I. Packer, Sinclair Ferguson, Michael Horton, Joel Beeke, dan R.C. Sproul mengingatkan bahwa penghiburan terbesar orang percaya terletak pada fakta bahwa Kristus bukan hanya pernah mati bagi mereka, tetapi juga hidup untuk mereka.

Karena itu orang percaya dapat menghadapi hidup dengan keyakinan. Dosa mereka telah dibayar. Mereka telah diperdamaikan dengan Allah. Mereka memiliki Imam Besar yang sempurna. Dan mereka memiliki Juruselamat yang tidak pernah berhenti mengasihi, memimpin, dan bersyafaat bagi mereka.

Seperti yang dinyatakan oleh penulis Ibrani:

“Ia sanggup menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah, sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka.” (Ibrani 7:25)

Inilah dasar pengharapan gereja sepanjang zaman.

Soli Deo Gloria.

Next Post Previous Post