Yesus Adalah Imam Besar

Yesus Adalah Imam Besar

Pendahuluan

Salah satu tema terpenting dalam Alkitab, namun sering kurang dipahami oleh banyak orang Kristen modern, adalah jabatan Yesus Kristus sebagai Imam Besar. Ketika mendengar kata "imam", sebagian orang langsung membayangkan seorang pemimpin agama yang memimpin ibadah atau mempersembahkan korban. Namun Alkitab menggambarkan jabatan imam jauh lebih dalam daripada sekadar fungsi keagamaan. Imam adalah perantara antara Allah yang kudus dan manusia yang berdosa.

Dalam Perjanjian Lama, para imam dari keturunan Harun menjalankan tugas mempersembahkan korban, memimpin ibadah, dan mewakili umat di hadapan Allah. Akan tetapi, seluruh sistem keimaman itu hanyalah bayangan yang menunjuk kepada satu Imam Besar yang sempurna, yaitu Yesus Kristus.

Teologi Reformed memberikan perhatian besar pada jabatan Kristus sebagai Imam Besar. Yohanes Calvin bahkan menganggap jabatan imam sebagai salah satu dari tiga jabatan utama Kristus: Nabi, Imam, dan Raja. Herman Bavinck, Louis Berkhof, John Owen, Geerhardus Vos, R. C. Sproul, Sinclair Ferguson, dan para teolog Reformed lainnya melihat bahwa tanpa memahami keimaman Kristus, seseorang tidak dapat memahami sepenuhnya karya keselamatan yang dikerjakan-Nya.

Artikel ini akan membahas secara mendalam doktrin Kristus sebagai Imam Besar berdasarkan Alkitab dan pemikiran para pakar Teologi Reformed, serta relevansinya bagi kehidupan orang percaya saat ini.

Bab 1

Mengapa Manusia Membutuhkan Imam?

Untuk memahami mengapa Yesus disebut Imam Besar, kita harus terlebih dahulu memahami masalah utama manusia.

Alkitab mengajarkan bahwa manusia diciptakan untuk hidup dalam persekutuan dengan Allah. Namun kejatuhan Adam ke dalam dosa menyebabkan hubungan itu rusak.

Yohanes Calvin menegaskan bahwa dosa bukan sekadar pelanggaran aturan, melainkan pemberontakan terhadap Allah yang kudus. Akibatnya, manusia tidak lagi dapat mendekati Allah dengan bebas.

Di sepanjang Alkitab, kekudusan Allah selalu menjadi tema sentral. Allah begitu kudus sehingga dosa tidak dapat berdiri di hadapan-Nya.

Karena itu muncul kebutuhan akan seorang perantara.

Ayub pernah berseru:

"Tidak ada wasit antara kami, yang dapat memegang kami berdua."
(Ayub 9:33)

Jeritan Ayub menggambarkan kebutuhan seluruh umat manusia. Kita membutuhkan seseorang yang dapat berdiri di antara Allah dan manusia.

Menurut Louis Berkhof, jabatan imam lahir dari kebutuhan manusia berdosa untuk diperdamaikan dengan Allah yang kudus.

Tanpa imam, manusia berada di bawah penghukuman dosa.

Tanpa perantara, manusia tidak memiliki jalan menuju hadirat Allah.

Bab 2

Sistem Keimaman dalam Perjanjian Lama

Allah memberikan sistem keimaman kepada Israel melalui Musa.

Imam-imam berasal dari suku Lewi dan khususnya dari keturunan Harun.

Tugas mereka meliputi:

  • Mempersembahkan korban.
  • Mengajarkan hukum Allah.
  • Mewakili umat di hadapan Allah.
  • Memelihara ibadah di Kemah Suci dan kemudian di Bait Allah.

Kitab Imamat menjelaskan secara rinci berbagai jenis korban:

  • Korban bakaran.
  • Korban penghapus dosa.
  • Korban keselamatan.
  • Korban penebus salah.

Namun sistem ini memiliki keterbatasan.

Herman Bavinck menjelaskan bahwa seluruh sistem korban Perjanjian Lama bersifat sementara dan simbolis.

Darah lembu dan kambing tidak dapat benar-benar menghapus dosa.

Korban harus terus diulang.

Imam-imam sendiri adalah orang berdosa yang membutuhkan korban bagi diri mereka sendiri.

Karena itu, seluruh sistem tersebut menunjuk ke depan kepada Imam Besar yang sempurna.

Bab 3

Kristus Sebagai Penggenapan Semua Bayangan

Kitab Ibrani menjadi dasar utama doktrin Kristus sebagai Imam Besar.

Penulis Ibrani menyatakan:

"Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah."
(Ibrani 4:14)

John Owen, yang menulis komentar terkenal tentang kitab Ibrani, menjelaskan bahwa seluruh keimaman Perjanjian Lama menemukan penggenapannya dalam diri Kristus.

Apa yang sebelumnya hanya berupa bayangan kini menjadi kenyataan.

Jika para imam Perjanjian Lama menunjuk kepada keselamatan, Kristus benar-benar mengerjakannya.

Jika korban-korban lama melambangkan pengampunan, Kristus sungguh memberikan pengampunan.

Jika imam-imam lama masuk ke Ruang Mahakudus setahun sekali, Kristus masuk ke hadirat Allah sekali untuk selama-lamanya.

Owen menyebut keimaman Kristus sebagai pusat Injil karena melalui jabatan inilah pendamaian dengan Allah terjadi.

Bab 4

Imam yang Tidak Berdosa

Salah satu keunikan terbesar Kristus adalah bahwa Ia tidak berdosa.

Ibrani 7:26 berkata:

"Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda."

Para imam Perjanjian Lama harus mempersembahkan korban bagi dosa mereka sendiri.

Namun Kristus tidak memiliki dosa yang harus ditebus.

R. C. Sproul menekankan bahwa ketidakberdosaan Kristus merupakan syarat mutlak bagi keselamatan.

Jika Kristus memiliki dosa, Ia membutuhkan penyelamat dan tidak dapat menjadi penyelamat bagi orang lain.

Karena Kristus sempurna, Ia dapat menjadi korban yang sempurna.

Karena Kristus kudus, Ia dapat mewakili manusia di hadapan Allah.

Karena Kristus adalah Allah dan manusia sejati, Ia menjadi perantara yang sempurna.

Bab 5

Kristus Sebagai Korban dan Imam

Dalam sistem Perjanjian Lama, imam dan korban adalah dua hal yang berbeda.

Imam mempersembahkan korban.

Korban dipersembahkan.

Namun dalam Kristus, keduanya bersatu.

Yohanes Calvin menjelaskan bahwa Kristus bukan hanya imam yang mempersembahkan korban, tetapi juga korban itu sendiri.

Di kayu salib, Kristus mempersembahkan diri-Nya kepada Allah.

Tidak ada korban lain yang dapat menyamai pengorbanan ini.

Korban Kristus memiliki nilai yang tak terbatas karena Ia adalah Anak Allah yang kekal.

Geerhardus Vos menyatakan bahwa salib merupakan puncak pelayanan keimaman Kristus.

Di sana dosa dihukum.

Di sana keadilan Allah dipuaskan.

Di sana kasih Allah dinyatakan.

Di sana pendamaian antara Allah dan manusia terjadi.

Bab 6

Korban Sekali untuk Selama-Lamanya

Salah satu penekanan utama kitab Ibrani adalah bahwa korban Kristus tidak perlu diulang.

Ibrani 10:12 menyatakan:

"Tetapi Ia, sesudah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah."

Menurut Louis Berkhof, keunikan korban Kristus terletak pada kesempurnaannya.

Korban lama harus dilakukan berulang-ulang karena tidak pernah benar-benar menyelesaikan masalah dosa.

Sebaliknya, korban Kristus:

  • Sempurna.
  • Final.
  • Lengkap.
  • Efektif.

Karena itu orang percaya tidak perlu mencari korban tambahan.

Tidak ada karya manusia yang dapat melengkapi apa yang telah diselesaikan Kristus.

Inilah salah satu penekanan penting dalam Reformasi: keselamatan hanya melalui karya Kristus saja (Solus Christus).

Bab 7

Imam Menurut Peraturan Melkisedek

Kitab Ibrani memberikan perhatian khusus pada Melkisedek.

Melkisedek muncul secara misterius dalam Kejadian 14 sebagai raja Salem dan imam Allah Yang Mahatinggi.

Mazmur 110 kemudian menubuatkan:

"Engkau adalah imam untuk selama-lamanya menurut peraturan Melkisedek."

John Owen menjelaskan bahwa Melkisedek menjadi gambaran tentang keimaman Kristus yang unik.

Keimaman Kristus berbeda dari keimaman Harun karena:

  • Bersifat kekal.
  • Tidak diwariskan secara turun-temurun.
  • Tidak berakhir karena kematian.
  • Berdasarkan penetapan Allah sendiri.

Karena Kristus hidup untuk selama-lamanya, pelayanan-Nya sebagai imam tidak pernah berakhir.

Bab 8

Kristus Terus Menjadi Pengantara

Banyak orang Kristen memahami bahwa Kristus mati bagi dosa mereka, tetapi kurang memahami pelayanan-Nya saat ini.

Kitab Ibrani mengajarkan bahwa Kristus sekarang melayani sebagai Imam Besar di surga.

Ibrani 7:25 berkata:

"Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka."

Sinclair Ferguson menjelaskan bahwa keimaman Kristus tidak berhenti di Golgota.

Setelah kebangkitan dan kenaikan-Nya, Kristus terus mewakili umat-Nya di hadapan Bapa.

Ini bukan berarti Kristus harus terus meyakinkan Bapa untuk mengasihi kita.

Sebaliknya, pelayanan pengantaraan Kristus merupakan penerapan terus-menerus dari karya penebusan yang telah selesai.

Karena itu orang percaya memiliki jaminan keselamatan yang kokoh.

Bab 9

Imam yang Memahami Kelemahan Kita

Salah satu bagian paling menghibur dalam kitab Ibrani adalah:

"Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita."
(Ibrani 4:15)

Kristus sungguh menjadi manusia.

Ia mengalami:

  • Kelelahan.
  • Kesedihan.
  • Penolakan.
  • Pencobaan.
  • Penderitaan.

Namun Ia tetap tanpa dosa.

Bavinck menegaskan bahwa inkarnasi memungkinkan Kristus menjadi imam yang penuh belas kasihan.

Ia tidak mengasihi umat-Nya dari kejauhan.

Ia mengenal penderitaan manusia melalui pengalaman nyata.

Karena itu ketika orang percaya datang kepada-Nya dalam pergumulan, mereka datang kepada Imam Besar yang memahami kondisi mereka.

Bab 10

Implikasi Praktis bagi Orang Percaya

Doktrin Kristus sebagai Imam Besar bukan sekadar teori teologis.

Ia memiliki dampak besar bagi kehidupan sehari-hari.

1. Kita Memiliki Jalan Masuk kepada Allah

Karena Kristus adalah Imam Besar, kita dapat menghampiri takhta kasih karunia dengan keberanian.

2. Kita Tidak Bergantung pada Perantara Manusia

Keselamatan kita tidak bergantung pada imam manusia mana pun.

Kristus adalah satu-satunya Pengantara yang sempurna.

3. Kita Memiliki Jaminan Pengampunan

Korban Kristus cukup untuk menghapus seluruh dosa umat-Nya.

4. Kita Memiliki Penghiburan dalam Penderitaan

Kristus memahami kelemahan kita.

5. Kita Memiliki Kepastian Keselamatan

Karena Kristus hidup untuk selama-lamanya, keselamatan umat-Nya tetap terjamin.

Pandangan Beberapa Pakar Teologi Reformed

Yohanes Calvin

Calvin melihat jabatan imam sebagai inti pendamaian antara Allah dan manusia. Menurutnya, tanpa pengorbanan Kristus, manusia tidak mungkin memperoleh damai dengan Allah.

Herman Bavinck

Bavinck menekankan bahwa Kristus adalah Imam Besar yang sempurna karena Ia menggabungkan natur ilahi dan manusiawi dalam satu pribadi.

Louis Berkhof

Berkhof mengajarkan bahwa pelayanan keimaman Kristus mencakup dua aspek: pengorbanan-Nya di salib dan pengantaraan-Nya di surga.

John Owen

Owen menempatkan kitab Ibrani sebagai penjelasan paling lengkap tentang jabatan imam Kristus dan menegaskan keunggulan-Nya atas seluruh sistem Perjanjian Lama.

R. C. Sproul

Sproul menyoroti hubungan antara kekudusan Allah dan kebutuhan akan Imam Besar yang sempurna.

Sinclair Ferguson

Ferguson menekankan aspek pastoral dari keimaman Kristus, yaitu bahwa Kristus memahami dan menolong umat-Nya dalam setiap pergumulan.

Kesimpulan

Doktrin “Yesus Adalah Imam Besar” merupakan salah satu kebenaran paling indah dalam Injil. Sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa, umat manusia membutuhkan seorang perantara yang dapat mendamaikan mereka dengan Allah. Sistem keimaman Perjanjian Lama hanya merupakan bayangan yang menunjuk kepada Kristus.

Dalam diri Yesus, seluruh harapan itu digenapi. Ia adalah Imam Besar yang sempurna, kudus, tanpa dosa, dan ditetapkan oleh Allah sendiri. Ia bukan hanya mempersembahkan korban, tetapi juga menjadi korban itu sendiri. Melalui kematian-Nya di kayu salib, Ia menyelesaikan penebusan sekali untuk selama-lamanya. Melalui kebangkitan dan kenaikan-Nya, Ia terus menjadi Pengantara bagi umat-Nya di hadapan Bapa.

Calvin, Bavinck, Berkhof, Owen, Sproul, dan Ferguson sepakat bahwa keimaman Kristus berada di pusat karya keselamatan. Tanpa Imam Besar yang sempurna, tidak ada pendamaian. Tanpa korban yang sempurna, tidak ada pengampunan. Tanpa pengantara yang kekal, tidak ada jaminan keselamatan.

Karena itu, orang percaya dapat hidup dengan keyakinan penuh bahwa mereka memiliki akses kepada Allah melalui Kristus. Mereka tidak datang berdasarkan jasa sendiri, tetapi berdasarkan karya Imam Besar yang telah membuka jalan menuju hadirat Allah.

Sebagaimana dinyatakan dalam Ibrani 4:16:

"Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya."

Kristus adalah Imam Besar Agung yang hidup untuk selama-lamanya. Di dalam Dia, orang berdosa memperoleh pengampunan, orang lemah memperoleh pertolongan, dan umat Allah memperoleh pengharapan yang tidak akan pernah gagal.

Next Post Previous Post