Allah Itu Baik
.jpg)
Pendahuluan
Ungkapan "God Is Good" atau "Allah itu baik" merupakan salah satu pengakuan iman yang paling sering diucapkan oleh orang Kristen. Dalam berbagai ibadah, renungan, maupun percakapan sehari-hari, kalimat ini menjadi pengingat bahwa karakter Allah tidak pernah berubah. Namun, di balik kesederhanaannya, pernyataan tersebut memiliki makna teologis yang sangat dalam.
Banyak orang menghubungkan kebaikan Allah hanya dengan berkat, kesehatan, atau keberhasilan hidup. Ketika doa dijawab atau keadaan berjalan sesuai harapan, mereka berkata, "Allah itu baik." Sebaliknya, saat menghadapi penderitaan, kehilangan, atau kegagalan, muncul pertanyaan, "Apakah Allah masih baik?"
Alkitab memberikan jawaban yang tegas: kebaikan Allah tidak bergantung pada keadaan manusia. Allah baik bukan karena hidup kita selalu nyaman, melainkan karena kebaikan merupakan bagian dari natur-Nya yang kekal. Ia tidak menjadi baik ketika memberkati, dan tidak berhenti baik ketika mengizinkan pencobaan. Kebaikan adalah salah satu atribut yang melekat pada diri-Nya.
Dalam artikel ini kita akan mempelajari arti "God Is Good" melalui eksposisi Alkitab, pandangan para teolog Reformed, serta uraian dari beberapa buku teologi yang berpengaruh.
Eksposisi Mazmur 100:5
Salah satu ayat yang paling jelas menyatakan kebaikan Allah adalah:
"Sebab, TUHAN itu baik. Kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya turun-temurun." (Mazmur 100:5)
Mazmur ini merupakan mazmur ucapan syukur yang mengajak seluruh bumi untuk menyembah Tuhan. Penyembahan tidak didasarkan pada keadaan, tetapi pada siapa Allah itu.
"TUHAN itu baik"
Kata Ibrani yang diterjemahkan "baik" adalah טוֹב (tov).
Kata ini memiliki arti:
- baik secara moral,
- sempurna,
- indah,
- membawa manfaat,
- penuh kemurahan.
Dengan kata lain, Allah bukan hanya melakukan hal-hal baik.
Allah sendiri adalah sumber segala kebaikan.
Segala sesuatu yang baik berasal dari-Nya karena Ia adalah standar kebaikan yang mutlak.
"Kasih setia-Nya untuk selama-lamanya"
Istilah Ibrani hesed menunjuk pada kasih perjanjian Allah.
Kasih ini:
- setia,
- tidak berubah,
- tidak bergantung pada kelayakan manusia,
- didasarkan pada karakter Allah sendiri.
Inilah alasan mengapa orang percaya tetap memiliki pengharapan sekalipun menghadapi penderitaan.
"Kesetiaan-Nya turun-temurun"
Allah tetap setia kepada janji-Nya.
Generasi boleh berganti.
Kerajaan boleh runtuh.
Keadaan dunia boleh berubah.
Namun karakter Allah tidak berubah.
Inilah dasar kepastian iman Kristen.
Allah Adalah Standar Kebaikan
Sering kali manusia mengukur kebaikan Allah berdasarkan pengalaman pribadi.
Padahal Alkitab justru mengajarkan kebalikannya.
Kebaikan manusia harus diukur berdasarkan karakter Allah.
Ketika Yesus berkata kepada orang muda yang kaya:
"Tidak ada yang baik selain Allah saja."
Yesus sedang menegaskan bahwa Allah adalah satu-satunya sumber kebaikan sejati.
Semua bentuk kebaikan manusia hanyalah pantulan dari kebaikan Sang Pencipta.
Kebaikan Allah dalam Seluruh Alkitab
Tema mengenai kebaikan Allah muncul sejak Kejadian hingga Wahyu.
Dalam Kejadian, Allah menciptakan dunia dan menyatakan bahwa ciptaan-Nya "sungguh amat baik."
Dalam Mazmur, Daud berkali-kali memuji kebaikan Allah.
Para nabi mengingatkan bahwa walaupun Allah menghukum umat-Nya, tujuan-Nya tetap membawa pertobatan.
Dalam Injil, puncak kebaikan Allah dinyatakan melalui Yesus Kristus.
Dalam kitab Wahyu, umat Allah memuji Dia yang setia sampai selama-lamanya.
Dengan demikian, seluruh Alkitab memperlihatkan bahwa kebaikan Allah menjadi benang merah sejarah penebusan.
Pandangan John Calvin
John Calvin menjelaskan bahwa semua berkat yang dinikmati manusia berasal dari kemurahan Allah.
Dalam Institutes of the Christian Religion, ia menulis bahwa manusia sering menikmati pemberian Allah tanpa mengakui Sang Pemberi.
Menurut Calvin, kebaikan Allah terlihat dalam dua aspek:
Pertama, pemeliharaan umum (common grace).
Allah memberi matahari, hujan, makanan, dan berbagai anugerah kepada semua manusia.
Kedua, kasih karunia penyelamatan (saving grace).
Kebaikan Allah mencapai puncaknya ketika Ia mengaruniakan Kristus bagi orang berdosa.
Calvin menegaskan bahwa jika seseorang hanya melihat kebaikan Allah dalam berkat jasmani, ia belum memahami Injil secara utuh.
Herman Bavinck tentang Kebaikan Allah
Dalam Reformed Dogmatics, Herman Bavinck menjelaskan bahwa kebaikan Allah merupakan salah satu atribut moral-Nya.
Allah adalah:
- kasih,
- kudus,
- benar,
- murah hati,
- penuh belas kasihan.
Semua sifat tersebut saling berkaitan.
Bavinck menolak pemikiran bahwa kasih Allah bertentangan dengan keadilan-Nya.
Justru karena Allah baik, Ia juga membenci dosa.
Kebaikan tidak berarti membiarkan kejahatan.
Kebaikan sejati selalu berjalan bersama kekudusan.
Louis Berkhof dan Atribut Kebaikan Allah
Louis Berkhof membahas kebaikan Allah sebagai bagian dari atribut komunikatif.
Ia menjelaskan bahwa:
"Kebaikan Allah adalah kesempurnaan yang mendorong-Nya memperlakukan ciptaan dengan kemurahan."
Berkhof membagi manifestasi kebaikan Allah menjadi beberapa bentuk.
1. Kasih
Allah mengasihi umat-Nya.
Kasih-Nya berpuncak pada pengorbanan Kristus.
2. Kasih Karunia
Allah memberikan keselamatan kepada orang berdosa yang tidak layak menerimanya.
3. Belas Kasihan
Allah memperhatikan penderitaan umat-Nya.
4. Kesabaran
Allah menahan hukuman agar manusia memiliki kesempatan bertobat.
Keempat aspek ini menunjukkan bahwa kebaikan Allah jauh lebih luas daripada sekadar pemberian materi.
Stephen Charnock: Allah Adalah Kebaikan Itu Sendiri
Dalam karya klasik The Existence and Attributes of God, Stephen Charnock menjelaskan bahwa Allah bukan hanya memiliki kebaikan.
Allah adalah kebaikan itu sendiri.
Semua bentuk kebaikan di dunia berasal dari-Nya.
Jika manusia melihat kasih seorang ibu, kesetiaan seorang sahabat, atau kemurahan seorang ayah, semuanya hanyalah pantulan kecil dari kebaikan Allah yang sempurna.
A. W. Pink tentang Kebaikan Allah
A. W. Pink dalam The Attributes of God menjelaskan bahwa banyak orang menikmati kebaikan Allah tetapi menolak Dia.
Matahari tetap bersinar.
Hujan tetap turun.
Makanan tetap tersedia.
Semua itu adalah bentuk kemurahan Allah kepada dunia.
Namun manusia sering menganggap semuanya sebagai sesuatu yang wajar.
Pink mengingatkan bahwa setiap napas manusia merupakan bukti kebaikan Allah.
Uraian Berdasarkan Buku-Buku Teologi
1. Institutes of the Christian Religion
Calvin menjelaskan bahwa tujuan utama manusia adalah memuliakan Allah.
Salah satu cara memuliakan Allah adalah mengakui setiap berkat sebagai pemberian-Nya.
Kesombongan muncul ketika manusia merasa berhasil karena kekuatannya sendiri.
Sebaliknya, hati yang mengenal kebaikan Allah akan dipenuhi ucapan syukur.
2. Reformed Dogmatics
Bavinck menegaskan bahwa seluruh karya penciptaan merupakan ekspresi kebaikan Allah.
Allah tidak menciptakan dunia karena membutuhkan manusia.
Ia menciptakan karena kemurahan-Nya.
Dengan demikian, keberadaan manusia sendiri merupakan anugerah.
3. Systematic Theology
Berkhof mengajarkan bahwa pemeliharaan Allah merupakan salah satu bukti terbesar dari kebaikan-Nya.
Allah:
- memelihara alam semesta,
- mengatur sejarah,
- menopang kehidupan,
- menggenapi rencana keselamatan.
Tidak ada satu pun bagian kehidupan yang berada di luar pemeliharaan-Nya.
4. The Attributes of God
Pink mengingatkan bahwa orang percaya harus belajar melihat kebaikan Allah bukan hanya ketika doa dijawab.
Sering kali Allah menunjukkan kebaikan-Nya melalui jawaban "tidak" atau "tunggu."
Karena Allah mengetahui apa yang terbaik bagi anak-anak-Nya.
Kebaikan Allah di Tengah Penderitaan
Pertanyaan terbesar manusia adalah:
"Jika Allah baik, mengapa ada penderitaan?"
Teologi Reformed tidak memberikan jawaban yang sederhana.
Namun Alkitab mengajarkan bahwa Allah yang baik tetap berdaulat bahkan ketika penderitaan terjadi.
Roma 8:28 mengingatkan bahwa Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi-Nya. Ayat ini tidak mengatakan bahwa semua peristiwa itu sendiri adalah baik, melainkan bahwa Allah sanggup memakai segala keadaan untuk menggenapi tujuan-Nya yang baik.
Kebaikan Allah terlihat bukan karena penderitaan itu menyenangkan.
Melainkan karena Allah tetap menyertai umat-Nya di dalam penderitaan.
Salib Kristus menjadi contoh terbesar.
Kematian Yesus merupakan peristiwa yang sangat jahat.
Namun Allah mengubahnya menjadi jalan keselamatan dunia.
Kristus: Bukti Tertinggi bahwa God Is Good
Puncak penyataan kebaikan Allah bukanlah berkat materi.
Bukan pula umur panjang.
Bukan kesehatan.
Melainkan salib Kristus.
Yohanes 3:16 menunjukkan bahwa Allah mengasihi dunia sehingga mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal.
Roma 5:8 menegaskan bahwa Kristus mati bagi kita ketika kita masih berdosa.
Di salib, kasih, keadilan, kekudusan, dan kebaikan Allah bertemu secara sempurna.
Allah tidak mengabaikan dosa.
Namun Ia sendiri menyediakan korban pendamaian melalui Anak-Nya.
Karena itu, orang percaya dapat berkata "God Is Good" bukan hanya ketika hidup berjalan lancar, tetapi terutama karena Allah telah menyelamatkan mereka melalui Kristus.
Penerapan bagi Kehidupan Orang Percaya
Bagaimana seharusnya kita merespons kebaikan Allah?
1. Hidup dalam Ucapan Syukur
Setiap berkat adalah pemberian Allah.
Ucapan syukur menjadi respons yang wajar dari hati yang mengenal-Nya.
2. Percaya Saat Menghadapi Kesulitan
Iman tidak bergantung pada keadaan.
Sekalipun jalan hidup sulit, karakter Allah tetap tidak berubah.
3. Meneladani Kebaikan Allah
Orang percaya dipanggil menunjukkan kemurahan, belas kasihan, dan kasih kepada sesama sebagai buah dari karya Roh Kudus.
4. Memberitakan Injil
Kebaikan Allah tidak berhenti pada diri kita. Injil adalah kabar baik tentang Allah yang menawarkan pengampunan dan hidup yang kekal melalui Yesus Kristus. Orang yang telah mengalami kebaikan-Nya dipanggil untuk membagikan kabar baik itu kepada dunia.
Kesimpulan
Pernyataan "God Is Good"/ Allah itu baik bukanlah slogan yang bergantung pada situasi hidup, melainkan pengakuan iman yang berakar pada karakter Allah sendiri. Mazmur 100:5 menyatakan bahwa Tuhan itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya turun-temurun. Kebaikan Allah tidak berubah oleh keberhasilan maupun penderitaan manusia, sebab kebaikan adalah bagian dari natur-Nya yang kekal.
Para teolog Reformed seperti John Calvin, Herman Bavinck, Louis Berkhof, Stephen Charnock, dan A. W. Pink menegaskan bahwa seluruh karya Allah—penciptaan, pemeliharaan, penebusan, dan pengudusan—mengalir dari kebaikan-Nya. Puncak penyataan kebaikan itu terlihat dalam pribadi dan karya Yesus Kristus. Di salib, Allah menunjukkan kasih yang sempurna tanpa mengorbankan keadilan-Nya.
Karena itu, ketika orang percaya berkata, "God Is Good," pengakuan tersebut bukan sekadar ungkapan syukur atas berkat jasmani, melainkan kesaksian bahwa Allah tetap baik dalam setiap musim kehidupan. Ia layak dipercaya, disembah, dan dimuliakan karena kebaikan-Nya tidak pernah berkesudahan.