God Is Worthy to Be Praised: Kemuliaan Allah sebagai Pusat Kehidupan Orang Percaya
Pendahuluan
Ada satu pertanyaan mendasar yang seharusnya mengarahkan seluruh kehidupan orang percaya: Mengapa Allah layak dipuji?
Kita sering memuji Allah karena sesuatu yang Ia lakukan bagi kita. Kita bersyukur karena mendapat pertolongan, kesembuhan, pekerjaan, keluarga, keberhasilan, atau jawaban doa. Semua itu benar dan baik. Namun, Alkitab membawa kita kepada dasar pujian yang jauh lebih dalam: Allah layak dipuji bukan pertama-tama karena apa yang Ia berikan kepada kita, melainkan karena siapa Dia.
Allah tetap layak dipuji ketika keadaan kita menyenangkan maupun ketika hidup sedang berada dalam lembah penderitaan.
Inilah yang membuat pujian Kristen berbeda dari sekadar ungkapan syukur manusia. Pujian sejati berakar pada karakter, kemuliaan, kekudusan, kebesaran, karya penciptaan, providensi, keadilan, belas kasihan, dan keselamatan Allah.
Wahyu 4:11 memberikan salah satu pernyataan paling kuat mengenai hal ini:
“Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima kemuliaan, hormat, dan kuasa karena Engkau telah menciptakan segala sesuatu dan karena kehendak-Mu semua itu ada dan diciptakan.”
— Wahyu 4:11, AYT
Perhatikan kata “layak.” Pujian kepada Allah bukan pemberian manusia yang membuat Allah menjadi lebih besar. Allah sudah sempurna dalam diri-Nya. Pujian adalah pengakuan bahwa kemuliaan yang memang menjadi milik-Nya harus dikembalikan kepada-Nya.
Dengan demikian, tema God is worthy to be praised bukan sekadar tema musik gereja. Ini adalah sebuah pandangan dunia teologis: seluruh realitas berpusat pada Allah dan pada kemuliaan-Nya.
1. Allah Layak Dipuji karena Dia adalah Pencipta
Wahyu 4:11 menghubungkan kelayakan Allah untuk menerima pujian dengan penciptaan:
“...karena Engkau telah menciptakan segala sesuatu dan karena kehendak-Mu semua itu ada dan diciptakan.”
Ini merupakan fondasi pertama.
Segala sesuatu yang kita miliki berasal dari Allah. Kehidupan, tubuh, waktu, alam semesta, kemampuan berpikir, keluarga, makanan, pekerjaan, dan bahkan keberadaan kita sendiri bukanlah sesuatu yang pada akhirnya dapat kita klaim sebagai milik absolut kita.
Kita ada karena Allah menghendaki kita ada.
Mazmur 96:4–5 menyatakan:
“Sebab, TUHAN Mahabesar dan sangat terpuji, Dia ditakuti di atas semua ilah. Sebab, semua ilah bangsa-bangsa adalah berhala-berhala, tetapi TUHAN menciptakan langit.”
Ada kontras yang sangat jelas.
Berhala adalah ciptaan manusia.
TUHAN adalah Pencipta.
Karena itu, manusia tidak boleh memberikan kemuliaan tertinggi kepada sesuatu yang diciptakan. Hanya Pencipta yang layak menerima penyembahan.
Perspektif ini sangat penting dalam teologi Reformed. Allah tidak membutuhkan ciptaan agar menjadi Allah. Sebaliknya, seluruh ciptaan bergantung kepada Allah untuk keberadaannya.
Herman Bavinck menekankan dalam Reformed Dogmatics bahwa Allah adalah dasar mutlak bagi segala sesuatu. Allah tidak menjadi Allah karena hubungan-Nya dengan dunia. Sebaliknya, dunia bergantung sepenuhnya kepada Allah.
Maka, pujian dimulai dengan kesadaran sederhana:
“Aku bukan pusat alam semesta. Allah adalah pusatnya.”
2. Allah Layak Dipuji karena Kebesaran-Nya Tidak Terbatas
Mazmur 145:3–4 berkata:
“TUHAN itu besar dan dipuji dengan berlimpah, kebesaran-Nya itu tidak terselidiki. Setiap generasi akan memuji pekerjaan-pekerjaan-Mu kepada yang lainnya, dan akan memberitakan keperkasaan-Mu.”
Ada hubungan antara kebesaran Allah dan pujian kepada Allah.
Semakin kita mengenal kebesaran Allah, semakin kita memahami mengapa Ia layak dipuji.
Masalah manusia sering kali bukan karena Allah terlalu kecil, tetapi karena pandangan kita tentang Allah terlalu kecil.
Kita dapat menghabiskan berjam-jam membicarakan masalah kita, tetapi hanya beberapa menit memikirkan kebesaran Allah.
Kita dapat mengetahui detail pekerjaan, keuangan, teknologi, olahraga, politik, dan berbagai hal lain, tetapi memiliki pengetahuan yang sangat dangkal mengenai karakter Allah.
Akibatnya, kehidupan rohani menjadi rapuh.
Ketika Allah hanya dipahami sebagai “pemberi berkat,” kita akan mudah kecewa ketika berkat yang kita harapkan tidak datang.
Tetapi ketika Allah dikenal sebagai Allah yang mahakudus, mahakuasa, mahabijaksana, berdaulat, dan penuh kasih, kita dapat tetap menyembah Dia bahkan ketika kita tidak memahami jalan-Nya.
John Calvin memberikan tekanan besar pada pengetahuan yang benar tentang Allah. Bagi Calvin, mengenal Allah dan mengenal diri sendiri merupakan dua hal yang sangat berkaitan. Ketika manusia melihat kebesaran Allah, ia juga melihat keterbatasan dirinya.
Pujian lahir ketika ego turun dan Allah menjadi besar di hadapan kita.
3. Allah Layak Dipuji karena Kekudusan-Nya
Pujian Kristen bukan sekadar ekspresi kegembiraan. Pujian juga merupakan respons terhadap kekudusan Allah.
Allah bukan hanya besar.
Ia kudus.
Ia bukan sekadar kuat.
Ia benar.
Ia bukan hanya berkuasa.
Ia sempurna secara moral.
Karena itu, penyembahan yang benar tidak dapat dipisahkan dari kekudusan.
Keluaran 20:4–6 memperlihatkan bahwa Allah menolak penyembahan berhala. Allah tidak menerima segala bentuk penyembahan yang manusia ciptakan sesuka hati.
Keluaran 20:5 menyatakan:
“Janganlah kamu menyembah atau beribadah kepadanya sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu...”
Allah layak dipuji justru karena Ia tidak seperti berhala.
Berhala dapat dibentuk oleh manusia.
Allah tidak dapat dibentuk oleh manusia.
Berhala dapat dimanipulasi.
Allah berdaulat.
Berhala tidak berbicara.
Allah menyatakan firman-Nya.
Berhala membutuhkan manusia.
Manusia bergantung kepada Allah.
John Calvin sangat menekankan kemurnian penyembahan. Manusia memiliki kecenderungan menciptakan gambaran Allah menurut imajinasinya sendiri. Karena itu, Allah memberikan firman-Nya supaya umat-Nya tidak menyembah Allah berdasarkan fantasi manusia.
Ini menjadi prinsip penting bagi gereja.
Kita tidak menentukan siapa Allah berdasarkan apa yang ingin kita percaya.
Allah menentukan siapa diri-Nya melalui wahyu-Nya.
4. Allah Layak Dipuji Bahkan ketika Kita Tidak Memahami-Nya
Salah satu bagian paling indah mengenai pujian terdapat dalam Roma 11:33–36.
Paulus menulis:
“Oh, alangkah dalamnya kekayaan dan kebijaksanaan dan pengetahuan Allah! Betapa tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan tidak terduga jalan-jalan-Nya!”
Kemudian ia mencapai klimaks:
“Sebab, segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin.”
Perhatikan struktur pemikiran Paulus.
Ia berbicara mengenai misteri keputusan Allah.
Ia mengakui keterbatasan pengetahuan manusia.
Ia tidak mampu menjelaskan segala sesuatu.
Tetapi ketidakmampuan memahami seluruh jalan Allah tidak membuat Paulus berhenti menyembah.
Sebaliknya, misteri membawa Paulus kepada doxologi.
Ini merupakan pelajaran besar bagi iman Kristen.
Ada saat-saat ketika kita tidak mengerti mengapa Allah mengizinkan sesuatu.
Kita tidak mengerti mengapa doa belum dijawab.
Kita tidak mengerti mengapa penderitaan datang.
Kita tidak mengerti mengapa seseorang yang kita kasihi pergi.
Tetapi kita dapat berkata:
“Aku tidak memahami semua jalan-Mu, tetapi aku percaya bahwa Engkau tetap layak dipuji.”
Teologi Reformed sangat menekankan kedaulatan Allah. Namun kedaulatan Allah tidak seharusnya menghasilkan sikap dingin atau fatalistik. Sebaliknya, ketika kedaulatan Allah dipahami secara alkitabiah, ia menghasilkan kerendahan hati dan penyembahan.
Kita tidak harus memahami seluruh rencana Allah untuk mempercayai Allah yang merencanakannya.
5. Allah Layak Dipuji karena Keselamatan adalah dari Dia
Jika penciptaan memberi dasar bagi pujian, maka penebusan memberikan alasan yang sangat mendalam bagi pujian orang percaya.
Manusia bukan hanya ciptaan.
Manusia adalah ciptaan yang telah jatuh ke dalam dosa.
Karena dosa, manusia tidak hanya membutuhkan pendidikan moral. Manusia membutuhkan keselamatan.
Teologi Reformed menempatkan keselamatan sepenuhnya dalam anugerah Allah.
Keselamatan bukan hasil prestasi manusia.
Bukan karena manusia cukup baik.
Bukan karena manusia cukup religius.
Bukan karena manusia mampu memperbaiki dirinya sendiri.
Keselamatan adalah karya Allah.
Paulus mencapai doxologi dalam Roma 11:36 setelah membicarakan karya Allah dalam keselamatan dan sejarah penebusan:
“Sebab, segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin.”
Kata-kata ini menghancurkan kesombongan manusia.
Dari Dia.
Oleh Dia.
Kepada Dia.
Awal keselamatan berasal dari Allah.
Pelaksanaan keselamatan adalah karya Allah.
Tujuan akhir keselamatan adalah kemuliaan Allah.
Inilah salah satu pusat pemikiran Reformed: soli Deo gloria — hanya bagi Allah kemuliaan.
John Calvin, kemudian tradisi Reformed secara luas, melihat bahwa keselamatan tidak boleh menjadi panggung bagi kebanggaan manusia. Anugerah Allah mengarahkan seluruh kemuliaan kembali kepada Allah.
Kita tidak berkata, “Aku diselamatkan karena aku lebih baik daripada orang lain.”
Kita berkata:
“Aku diselamatkan karena kasih karunia Allah.”
Dan semakin kita memahami anugerah, semakin dalam pula pujian kita.
6. Kristus adalah Pusat Pujian Gereja
Jika Allah layak dipuji, maka dalam Perjanjian Baru kita tidak dapat membicarakan pujian tanpa melihat kepada Kristus.
Kristus bukan sekadar guru moral.
Ia adalah Tuhan yang datang untuk menyelamatkan umat-Nya.
Di dalam Kristus, kita melihat kasih Allah yang sempurna sekaligus kekudusan Allah yang sempurna.
Salib menunjukkan betapa seriusnya dosa dan betapa besar kasih karunia.
Di salib, Allah tidak mengabaikan keadilan demi kasih.
Ia menyatakan kasih melalui jalan yang memenuhi tuntutan keadilan.
Karena itu, pujian Kristen pada akhirnya adalah pujian kepada Allah Tritunggal: Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
Bapa merencanakan keselamatan.
Anak melaksanakan penebusan.
Roh Kudus menerapkan karya keselamatan kepada umat-Nya.
Seluruh karya keselamatan membawa kita kembali kepada satu tujuan:
kemuliaan Allah.
Herman Bavinck sangat menekankan kesatuan karya Allah Tritunggal dalam keselamatan. Allah bukan Allah yang terpecah-pecah dalam karya-Nya. Seluruh karya keselamatan adalah karya Allah Tritunggal yang satu.
Karena itu, penyembahan Kristen bukanlah usaha manusia untuk “menghibur” Allah.
Penyembahan adalah respons terhadap karya Allah yang sudah lebih dahulu bertindak.
7. Pujian Bukan Sekadar Nyanyian
Salah satu kesalahpahaman yang perlu diperbaiki adalah menganggap pujian hanya sebagai bagian musik dalam ibadah.
Alkitab memiliki pengertian yang jauh lebih luas.
Pujian adalah respons seluruh kehidupan kepada kemuliaan Allah.
Kita memuji Allah melalui nyanyian.
Tetapi kita juga memuji Allah melalui ketaatan.
Kita memuji Allah melalui pekerjaan yang jujur.
Kita memuji Allah ketika mengasihi sesama.
Kita memuji Allah ketika mengampuni.
Kita memuji Allah ketika tetap setia dalam penderitaan.
Kita memuji Allah ketika menolak dosa meskipun tidak ada seorang pun yang melihat.
Dengan demikian, seseorang dapat menyanyikan lagu rohani dengan indah tetapi hidupnya tidak berpusat pada kemuliaan Allah.
Sebaliknya, seorang percaya yang menjalani kehidupan sederhana dalam kesetiaan kepada Allah sedang membawa pujian bagi-Nya.
Roma 11:36 memberikan prinsip yang sangat luas: segala sesuatu berasal dari Allah, melalui Allah, dan menuju kepada Allah.
Jika demikian, seluruh hidup harus menjadi doxologi.
8. Allah Layak Dipuji dalam Penderitaan
Di sinilah tema God is worthy to be praised diuji secara nyata.
Mudah memuji ketika semuanya berjalan baik.
Tetapi bagaimana ketika kita kehilangan?
Bagaimana ketika doa belum terjawab?
Bagaimana ketika diagnosis medis datang?
Bagaimana ketika pelayanan tidak dihargai?
Bagaimana ketika orang yang kita percaya mengecewakan kita?
Pujian yang paling mendalam sering kali muncul bukan ketika seseorang berkata, “Tuhan memberi saya semua yang saya inginkan,” melainkan:
“Sekalipun saya tidak mengerti, saya tetap percaya bahwa Tuhan baik dan layak menerima kemuliaan.”
Teologi Reformed mengenai providensi Allah memberikan kerangka untuk memahami hal ini. Allah tidak kehilangan kendali atas sejarah. Tidak ada penderitaan yang membuat-Nya terkejut.
Namun ini tidak berarti penderitaan itu sendiri baik secara moral. Dosa tetap dosa dan kejahatan tetap kejahatan.
Yang kita yakini adalah bahwa Allah berdaulat bahkan atas keadaan yang tidak kita mengerti dan sanggup mengarahkan segala sesuatu kepada tujuan-Nya.
Karena itu, pujian dalam penderitaan bukan penyangkalan terhadap rasa sakit.
Kita boleh menangis.
Kita boleh berduka.
Kita boleh bertanya.
Tetapi di tengah semua itu, kita tetap dapat berkata:
“Engkau adalah Allahku.”
9. Pujian yang Berpusat pada Allah, Bukan pada Manusia
Budaya modern sangat mudah menjadikan manusia pusat segala sesuatu.
Bahkan gereja dapat jatuh ke dalam pola tersebut.
Kita bertanya:
“Apakah saya merasa diberkati?”
“Apakah musiknya menyenangkan?”
“Apakah khotbahnya sesuai dengan kebutuhan saya?”
“Apakah saya mendapatkan pengalaman spiritual?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak selalu salah. Namun pusat penyembahan tidak boleh berhenti pada pengalaman manusia.
Pertanyaan utama ibadah adalah:
Apakah Allah dimuliakan?
Inilah salah satu konsekuensi dari soli Deo gloria.
Ibadah bukan terutama tentang betapa hebatnya kita menyanyi.
Ibadah adalah tentang betapa layaknya Allah menerima kemuliaan.
John Calvin dan tradisi Reformed menaruh perhatian besar pada firman dan sakramen sebagai sarana yang Allah tetapkan bagi gereja. Prinsipnya jelas: penyembahan harus diarahkan oleh Allah, bukan sekadar oleh selera manusia.
Gereja harus berhati-hati agar teknologi, musik, kreativitas, tokoh rohani, bahkan pengalaman emosional tidak mengambil tempat yang seharusnya hanya dimiliki Allah.
10. Pujian Harus Diteruskan kepada Generasi Berikutnya
Mazmur 145:4 berkata:
“Setiap generasi akan memuji pekerjaan-pekerjaan-Mu kepada yang lainnya, dan akan memberitakan keperkasaan-Mu.”
Pujian memiliki dimensi generasional.
Gereja tidak hanya dipanggil untuk menyembah Allah hari ini, tetapi juga memberitakan kebesaran-Nya kepada generasi berikutnya.
Orang tua memiliki tanggung jawab untuk mengajarkan anak-anak tentang Allah.
Gereja memiliki tanggung jawab untuk membentuk generasi yang mengenal karakter Allah, bukan sekadar mengenal budaya gereja.
Anak-anak kita perlu mengetahui bukan hanya bahwa “Tuhan memberkati kita,” tetapi siapa Tuhan itu.
Mereka perlu mengenal kekudusan-Nya.
Keadilan-Nya.
Kasih-Nya.
Kedaulatan-Nya.
Kesetiaan-Nya.
Anugerah-Nya.
Dan karya keselamatan-Nya dalam Kristus.
Pujian yang sejati menghasilkan kesaksian:
“Lihatlah apa yang telah Allah lakukan.”
11. Beberapa Perspektif Teolog Reformed
John Calvin: Pujian berakar pada pengenalan akan Allah
Calvin mengajarkan bahwa manusia harus mengenal Allah sebagaimana Ia menyatakan diri-Nya. Pengetahuan tentang Allah kemudian menghasilkan kekaguman, takut akan Allah, dan penyembahan.
Bagi Calvin, teologi tidak pernah boleh berhenti pada pengetahuan intelektual. Pengetahuan yang benar tentang Allah seharusnya menggerakkan hati untuk memuliakan-Nya.
Herman Bavinck: Allah adalah sumber dan tujuan segala sesuatu
Bavinck membantu kita memahami mengapa pujian harus bersifat teosentris. Allah tidak bergantung kepada dunia. Justru dunia bergantung kepada Allah.
Karena itu, semua realitas pada akhirnya menunjuk kepada-Nya.
Charles Hodge: Kemuliaan Allah dan karya-Nya
Dalam Systematic Theology, Hodge menekankan karakter objektif kebenaran Kristen. Pujian tidak didasarkan semata-mata pada perasaan subjektif, tetapi pada realitas mengenai siapa Allah dan apa yang telah Ia kerjakan.
Kita memuji Allah karena Ia memang layak dipuji.
John Murray: Hidup yang dikuduskan menjadi respons kepada Allah
Murray menekankan bahwa kehidupan Kristen merupakan kehidupan yang diserahkan kepada Allah. Kekudusan bukan tambahan bagi kehidupan Kristen; kekudusan merupakan respons terhadap karya penebusan dan panggilan Allah.
Dengan demikian, pujian tidak berhenti di bibir. Pujian harus memasuki kehidupan.
Kesimpulan: Hanya Allah yang Layak
Tema “God is worthy to be praised” pada akhirnya membawa kita kembali kepada satu pengakuan:
Allah layak.
Ia layak ketika kita menerima berkat.
Ia tetap layak ketika kita sedang menderita.
Ia layak ketika doa kita dijawab sesuai keinginan.
Ia tetap layak ketika jawaban-Nya berbeda dari harapan kita.
Ia layak karena Ia adalah Pencipta.
Ia layak karena Ia kudus.
Ia layak karena Ia berdaulat.
Ia layak karena Ia benar.
Ia layak karena Ia penuh kasih setia.
Ia layak karena Ia menyelamatkan orang berdosa.
Ia layak karena segala sesuatu berasal dari Dia, oleh Dia, dan kepada Dia.
Wahyu 4:11 tidak berkata bahwa Allah akan menjadi layak ketika manusia memberikan pujian.
Allah sudah layak.
Pujian kita tidak menambah kemuliaan Allah; pujian kita mengakui kemuliaan yang sudah menjadi milik-Nya.
Itulah sebabnya tujuan akhir teologi Reformed bukan manusia, melainkan kemuliaan Allah.
Post tenebras lux—setelah kegelapan, terang. Dan terang itu membawa kita bukan kepada kemuliaan manusia, melainkan kepada Allah.
Pada akhirnya, seluruh kehidupan Kristen dapat diringkas dalam satu gerakan:
dari Allah, oleh Allah, dan kepada Allah.
Maka gereja menyanyi.
Orang percaya berdoa.
Orang kudus melayani.
Orang berdosa bertobat.
Keluarga mengajar anak-anaknya.
Dan seluruh ciptaan pada akhirnya diarahkan kepada satu tujuan:
“Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin.”
— Roma 11:36
God is worthy to be praised—not merely for what He does, but supremely for who He is.
Dan ketika kita benar-benar melihat siapa Dia, respons yang paling wajar bukanlah meninggikan diri, melainkan tersungkur dalam penyembahan dan berkata:
“Engkau layak menerima kemuliaan, hormat, dan kuasa.”
.jpg)