Kisah Para Rasul 20:28-31: Menjaga Kawanan yang Telah Dibeli dengan Darah Kristus

Kisah Para Rasul 20:28-31: Menjaga Kawanan yang Telah Dibeli dengan Darah Kristus

Pendahuluan

Kisah Para Rasul 20:28-31 merupakan salah satu bagian yang sangat penting bagi pemahaman Alkitab tentang gereja, kepemimpinan rohani, pemeliharaan jemaat, doktrin, dan bahaya ajaran sesat. Bagian ini terdapat dalam pidato perpisahan Paulus kepada para penatua jemaat Efesus. Paulus sedang menuju Yerusalem dan mengetahui bahwa kemungkinan besar ia tidak akan bertemu lagi dengan mereka.

Yang membuat nasihat Paulus begitu serius adalah kesadarannya bahwa setelah kepergiannya, gereja tidak akan berada dalam keadaan aman secara otomatis. Akan muncul "serigala-serigala buas" yang tidak menyayangkan kawanan. Bahkan lebih mengkhawatirkan lagi, sebagian ancaman itu akan muncul dari dalam komunitas gereja sendiri.

Dengan demikian, Kisah Para Rasul 20:28-31 memperlihatkan sebuah prinsip penting: gereja adalah milik Allah, dibeli dengan darah Kristus, dipercayakan kepada para gembala oleh Roh Kudus, dan harus dijaga dari pengajaran yang menyesatkan.

Teks AYT menerjemahkan ayat 28:

"Jagalah dirimu sendiri dan semua kawanan, yang atasnya Roh Kudus telah menjadikanmu pengawas untuk menggembalakan jemaat Allah, yang telah Ia peroleh dengan darah-Nya sendiri."

Ayat ini kemudian dilanjutkan dengan peringatan tentang serigala-serigala buas dan orang-orang yang akan berbicara tentang hal-hal menyesatkan.

1. Konteks: Paulus Berbicara kepada Para Penatua

Kisah Para Rasul 20:17 memberitahukan bahwa Paulus memanggil para penatua jemaat Efesus untuk datang kepadanya di Miletus. Jadi, Kisah Para Rasul 20:28-31 bukanlah nasihat umum kepada masyarakat, melainkan secara khusus merupakan pengarahan kepada para pemimpin jemaat.

Paulus telah melayani di tengah mereka dengan sungguh-sungguh. Ia mengingatkan bahwa selama tiga tahun ia tidak berhenti memperingatkan mereka, bahkan "siang dan malam" dengan air mata (ayat 31).

Ini penting. Pelayanan Paulus tidak hanya terdiri dari pemberitaan yang positif dan menghibur. Ia juga memberikan peringatan.

Dalam pelayanan Kristen modern, kadang-kadang terdapat kecenderungan untuk menganggap bahwa pelayanan yang baik harus selalu menyenangkan, positif, dan memberikan motivasi. Namun Kisah Para Rasul 20 menunjukkan bahwa pelayanan yang setia juga harus berani berbicara tentang bahaya, kesesatan, dosa, penghakiman, dan kebutuhan untuk berjaga-jaga.

Thomas R. Schreiner, seorang teolog Baptis yang berada dalam tradisi Injili-Reformed, menekankan bahwa pidato Paulus dalam Kisah Para Rasul 20 merupakan pidato kepada para pemimpin gereja dan bahwa mempertahankan kebenaran Injil merupakan tantangan sejak gereja mula-mula. Ancaman terhadap Injil bukanlah fenomena baru pada zaman modern.

2. "Jagalah Dirimu Sendiri": Pelayanan Dimulai dari Diri Gembala

Perintah pertama Paulus sangat menarik:

"Jagalah dirimu sendiri."

Sebelum mengatakan, "Jagalah jemaat," Paulus mengatakan, "Jagalah dirimu sendiri."

Ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin rohani tidak dapat memisahkan kehidupan pribadinya dari pelayanannya.

Seorang gembala dapat memiliki kemampuan berkhotbah, pengetahuan teologi, pengalaman pelayanan, dan kemampuan memimpin organisasi. Namun semua itu tidak menggantikan kebutuhan akan kehidupan yang saleh.

John Calvin memberikan perhatian khusus terhadap urutan ini. Menurut Calvin, seseorang yang mengabaikan keselamatan dan kehidupan rohaninya sendiri tidak mungkin secara benar memperhatikan keselamatan orang lain. Karena itu Paulus terlebih dahulu memerintahkan para penatua untuk menjaga diri mereka sendiri.

Dalam perspektif Reformed, hal ini berhubungan dengan kesadaran bahwa manusia, termasuk pelayan Tuhan, tetap membutuhkan anugerah Allah. Jabatan gerejawi tidak membuat seseorang kebal terhadap dosa.

Seorang pendeta atau penatua tetap harus:

  • menjaga kehidupan doanya;
  • menjaga integritas moral;
  • menjaga keluarganya;
  • menjaga kemurnian motivasinya;
  • menjaga kesetiaan terhadap Injil;
  • menjaga dirinya dari kesombongan rohani;
  • dan terus-menerus tunduk kepada Firman Allah.

Dengan kata lain, gembala tidak pernah berhenti menjadi domba.

Ia menggembalakan orang lain, tetapi ia sendiri tetap berada di bawah penggembalaan Kristus, Sang Gembala Agung.

3. "Atasnya Roh Kudus Telah Menjadikanmu Pengawas"

Paulus kemudian berkata bahwa Roh Kudus telah menjadikan mereka pengawas.

Di sini terdapat dimensi teologis yang sangat penting: kepemimpinan gereja bukan sekadar hasil ambisi manusia.

Calvin melihat bahwa Paulus sengaja mengingatkan para penatua bahwa mereka menerima tanggung jawab tersebut dari Allah melalui Roh Kudus. Mereka tidak memiliki gereja itu sebagai milik pribadi. Mereka hanyalah pelayan yang dipercayakan tanggung jawab.

Istilah "pengawas" berkaitan dengan kata Yunani episkopos. Yang menarik, dalam konteks Kisah Para Rasul 20, orang-orang yang disebut "penatua" dalam ayat 17 disebut "pengawas" dalam ayat 28.

John Piper juga menggunakan hubungan ini sebagai salah satu dasar untuk menunjukkan bahwa istilah penatua, pengawas, dan gembala menggambarkan fungsi yang berhubungan erat dalam struktur kepemimpinan gereja Perjanjian Baru. Dalam pembahasannya tentang eldership, Piper menegaskan bahwa Kisah Para Rasul 20:28 menggambarkan para penatua Efesus sebagai orang yang menjalankan fungsi menggembalakan.

Ini mempunyai implikasi penting bagi gereja: jabatan gerejawi bukan tempat untuk mencari status, melainkan tempat untuk memikul tanggung jawab.

Seorang gembala bukan pemilik domba.

Ia adalah penatalayan kawanan milik Allah.

4. "Untuk Menggembalakan Jemaat Allah"

Perhatikan kata kerja yang digunakan Paulus: menggembalakan.

Gambaran gembala menunjukkan beberapa aspek pelayanan:

  1. memberi makan;
  2. memimpin;
  3. melindungi;
  4. mencari yang tersesat;
  5. memperhatikan kondisi kawanan;
  6. menghadapi ancaman;
  7. menjaga kesehatan kawanan.

Karena itu pelayanan pastoral tidak boleh direduksi menjadi berkhotbah pada hari Minggu.

Khotbah memang merupakan bagian yang sangat penting dari penggembalaan, tetapi penggembalaan juga mencakup perlindungan doktrinal, pemuridan, disiplin gereja, doa, perhatian pastoral, dan kehidupan bersama jemaat.

John Piper menghubungkan Kisah Para Rasul 20:28 dengan konsep eldership dalam Perjanjian Baru. Menurutnya, para penatua memiliki fungsi menggembalakan, mengawasi, memimpin, dan mengajar.

Dengan demikian, seorang gembala yang hanya ingin menghibur tetapi tidak mau melindungi belum menjalankan seluruh tugas penggembalaan.

Gembala yang baik bukan hanya membawa domba ke padang rumput. Ia juga berdiri di antara domba dan serigala.

5. Gereja Bukan Milik Pendeta, Melainkan Milik Allah

Bagian berikutnya merupakan pusat teologis yang sangat dalam:

"Jemaat Allah."

Paulus tidak berkata, "jemaat Paulus."

Tidak ada pendeta yang dapat berkata secara mutlak, "Ini gereja saya."

Gereja adalah milik Allah.

Seorang pendeta dapat mengatakan, "jemaat yang saya layani," tetapi bukan "jemaat yang saya miliki."

Perbedaan ini sangat penting.

Ketika seorang pemimpin mulai menganggap gereja sebagai miliknya, maka pelayanan dapat berubah menjadi pembangunan kerajaan pribadi. Jemaat dapat diperlakukan sebagai pengikut seorang tokoh, bukan sebagai umat Kristus.

Dalam perspektif Reformed, Kristus adalah Kepala Gereja. Karena itu setiap pelayan gereja harus memahami dirinya sebagai hamba dan penatalayan.

John Calvin bahkan menekankan bahwa karena Kristus telah menebus gereja, gereja harus tetap menjadi milik-Nya.

6. Gereja Dibeli dengan Darah Kristus

Inilah salah satu pernyataan paling kuat dalam perikop:

"yang telah Ia peroleh dengan darah-Nya sendiri."

Di sini kita sampai kepada pusat kristologi dan soteriologi perikop.

Gereja begitu berharga bukan karena:

  • jumlah anggotanya,
  • gedungnya,
  • kekayaannya,
  • reputasinya,
  • pengaruh sosialnya,
  • atau popularitas pemimpinnya.

Gereja berharga karena Kristus menyerahkan diri-Nya untuk menebus umat-Nya.

Calvin memberikan perhatian teologis khusus terhadap ungkapan bahwa Allah "membeli" gereja dengan darah-Nya. Calvin menjelaskan hal ini berdasarkan doktrin kesatuan pribadi Kristus: Kristus adalah satu pribadi dengan dua natur, sungguh Allah dan sungguh manusia. Darah secara fisik berhubungan dengan natur manusia Kristus, tetapi pribadi yang mencurahkan darah itu adalah Anak Allah.

Dengan demikian, ayat ini memiliki bobot kristologis yang luar biasa.

Kristus bukan sekadar manusia yang mati sebagai martir.

Pribadi yang menyerahkan diri di kayu salib adalah Anak Allah yang berinkarnasi.

Karena itu harga penebusan gereja tidak dapat dipandang murah.

R.C. Sproul juga menghubungkan Kisah Para Rasul 20:28 dengan realitas bahwa orang percaya telah dibeli dengan darah Kristus. Dalam pemikirannya, keselamatan berarti manusia yang sebelumnya berada dalam perbudakan dosa dibebaskan oleh Kristus dan sekarang menjadi milik-Nya.

7. Mengapa Para Gembala Harus Serius?

Sekarang hubungan ayat 28 dengan ayat 29 menjadi jelas.

Paulus tidak sekadar mengatakan:

"Jagalah gereja karena gereja adalah organisasi penting."

Ia berkata, pada dasarnya:

Jagalah gereja karena gereja adalah kawanan milik Allah yang telah dibeli dengan darah Kristus.

Harga gereja menentukan keseriusan pelayanan terhadap gereja.

John Piper menekankan bahwa dalam Kisah Para Rasul 20:28, nilai kawanan itu berkaitan langsung dengan harga yang dibayar oleh Allah melalui darah Anak-Nya. Karena itu para gembala tidak boleh memperlakukan pelayanan sebagai pekerjaan biasa.

Ini mengubah cara kita melihat jemaat.

Orang yang sulit dikasihi bukan sekadar "anggota yang merepotkan."

Ia adalah seseorang yang berada dalam lingkup perhatian Kristus.

Jemaat yang lemah bukan gangguan bagi pelayanan.

Jemaat yang lemah adalah kawanan yang harus digembalakan.

8. "Serigala-Serigala Buas Akan Datang"

Kisah Para Rasul 20:29 memperkenalkan gambaran yang sangat berbeda:

serigala.

Gembala berhadapan dengan ancaman.

Paulus bahkan berkata bahwa serigala-serigala tersebut tidak menyayangkan kawanan.

Ini merupakan gambaran tentang guru-guru palsu dan orang-orang yang membawa kerusakan rohani ke dalam gereja.

Gambaran serigala juga mengingatkan kita kepada perkataan Yesus tentang nabi-nabi palsu dalam Matius 7:15. Jadi bahaya ajaran sesat bukan sesuatu yang asing dalam pengajaran Perjanjian Baru.

Gereja yang sehat tidak hanya bertanya:

"Apakah pengajaran ini menarik?"

Tetapi:

"Apakah pengajaran ini benar?"

Tidak cukup bertanya apakah seseorang pandai berbicara. Gereja harus menguji apakah yang diajarkan sesuai dengan Injil dan keseluruhan kesaksian Kitab Suci.

9. Ancaman Terbesar Bisa Datang dari Dalam

Kisah Para Rasul 20:30 bahkan lebih mengejutkan:

"Dan, dari antara kamu sendiri akan bangkit orang-orang yang berbicara tentang hal-hal menyesatkan..."

Perhatikan: Paulus tidak hanya memperingatkan tentang orang yang datang dari luar.

Ia memperingatkan tentang orang "dari antara kamu sendiri."

Ini berarti ancaman terhadap gereja tidak selalu berasal dari dunia di luar gereja.

Kadang-kadang ancaman muncul dari dalam komunitas Kristen.

Bahkan seseorang dapat memiliki sejarah pelayanan bersama gereja, dikenal sebagai orang Kristen, berbicara dengan bahasa Kristen, tetapi pada akhirnya membawa ajaran yang menyimpangkan Injil.

Thomas Schreiner menekankan bahwa sejak gereja mula-mula, gereja menghadapi ancaman terhadap kemurnian Injil. Karena itu para pemimpin gereja harus berjaga-jaga terhadap penyimpangan doktrinal.

Inilah sebabnya gereja Reformed secara historis memberikan perhatian besar kepada:

  • pemberitaan Firman;
  • pengakuan iman;
  • doktrin yang sehat;
  • pendidikan teologi;
  • pengujian ajaran;
  • dan disiplin gereja.

10. Tujuan Ajaran Sesat: "Menarik Murid-Murid"

Motivasi guru palsu dalam ayat 30 juga penting:

"untuk menarik murid-murid dari mereka."

Tujuan akhirnya bukan sekadar kesalahan akademis.

Ajaran palsu dapat menghasilkan pergeseran kesetiaan.

Orang yang seharusnya menjadi murid Kristus akhirnya menjadi pengikut manusia.

Inilah bahaya kultus pribadi dalam gereja.

Seorang pemimpin dapat mulai membangun identitas:

"Orang-orang saya."

Padahal gereja bukan miliknya.

Para pelayan gereja dipanggil untuk membawa orang kepada Kristus, bukan menjadikan diri mereka pusat kesetiaan jemaat.

Pelayanan yang sehat pada akhirnya membuat seseorang semakin berkata:

"Kristuslah Tuhan."

Bukan:

"Ikutilah saya karena saya tokoh rohani."

11. "Berjaga-jagalah"

Kisah Para Rasul 20:31 mengulangi gagasan kewaspadaan:

"Berjaga-jagalah."

Ini merupakan panggilan kepada kewaspadaan rohani.

Kata-kata Paulus menunjukkan bahwa penggembalaan membutuhkan ketekunan jangka panjang.

Ia mengingatkan pengalaman pelayanannya:

tiga tahun, siang dan malam, dengan air mata.

Air mata Paulus memperlihatkan bahwa pelayanan pastoral bukan hanya pekerjaan intelektual. Ada kasih, beban, penderitaan, dan keterlibatan emosional.

Ia tidak memperingatkan jemaat karena ia menikmati mengkritik orang lain.

Ia memperingatkan karena ia mengasihi mereka.

Di sinilah keseimbangan penting dalam pelayanan doktrinal.

Kebenaran tanpa kasih dapat menjadi keras.

Kasih tanpa kebenaran dapat menjadi permisif.

Paulus memperlihatkan keduanya: kasih yang menangis dan kebenaran yang memperingatkan.

12. Beberapa Penekanan Teolog Reformed

John Calvin: Gembala adalah Penatalayan yang Bertanggung Jawab kepada Allah

Calvin melihat setidaknya empat alasan dalam ayat 28 mengapa para gembala harus bekerja dengan sungguh-sungguh: mereka bertanggung jawab atas kawanan, mereka menerima panggilan melalui Roh Kudus, mereka memegang jabatan yang mulia, dan gereja telah ditebus dengan darah Kristus.

Penekanannya sangat jelas: jabatan yang semakin tinggi menghasilkan tanggung jawab yang semakin besar.

John Piper: Penatua Dipanggil Menggembalakan Kawanan

Piper menekankan hubungan antara penatua, pengawas, dan gembala. Kisah Para Rasul 20:28 menunjukkan bahwa para penatua mempunyai tanggung jawab pastoral terhadap kawanan.

Karena itu struktur gereja tidak boleh hanya mengejar efisiensi organisasi. Struktur harus membantu gereja menjalankan fungsi alkitabiahnya: menggembalakan umat Allah.

R.C. Sproul: Gereja Telah Dibeli dengan Darah Kristus

Dalam perspektif Sproul, bahasa "dibeli dengan darah" mengarahkan perhatian kepada karya penebusan Kristus dan identitas orang percaya sebagai mereka yang telah dibeli oleh Kristus.

Karena itu gereja tidak boleh dipandang sebagai klub sosial atau organisasi keagamaan biasa.

Gereja adalah umat yang telah ditebus.

13. Aplikasi bagi Gereja Masa Kini

Kisah Para Rasul 20:28-31 sangat relevan bagi gereja masa kini.

Pertama, para pemimpin harus menjaga diri.

Sebelum menjaga jemaat dari kesesatan, pemimpin harus menjaga dirinya dari kesombongan, dosa, kompromi, dan penyimpangan doktrinal.

Kedua, gereja harus memiliki penggembalaan yang nyata.

Gereja bukan hanya membutuhkan pembicara yang hebat. Gereja membutuhkan gembala yang mengenal, mengajar, mendoakan, menegur, dan melindungi jemaat.

Ketiga, doktrin harus dianggap penting.

Jika gereja tidak serius terhadap kebenaran, gereja akan mudah menerima berbagai pengajaran hanya karena terdengar menarik atau populer.

Keempat, gereja harus waspada terhadap kultus pribadi.

Pelayan yang sehat tidak menarik jemaat kepada dirinya sendiri. Ia mengarahkan mereka kepada Kristus.

Kelima, pelayanan harus dilakukan dengan kasih.

Paulus tidak hanya menjaga doktrin; ia menjaga manusia dengan air mata.

Kebenaran yang benar harus disampaikan dengan hati seorang gembala.

Kesimpulan

Kisah Para Rasul 20:28-31 memberikan gambaran yang sangat serius tentang tanggung jawab kepemimpinan gereja.

Paulus memulai dengan:

"Jagalah dirimu sendiri."

Kemudian:

"Jagalah semua kawanan."

Alasannya sangat dalam:

Roh Kudus telah memberikan tanggung jawab itu.

Dan lebih dalam lagi:

kawanan tersebut adalah milik Allah dan telah dibeli dengan darah Kristus.

Karena itu gereja harus dijaga.

Bukan karena gereja milik pendeta.

Bukan karena gereja milik denominasi.

Bukan karena gereja merupakan institusi yang harus mempertahankan reputasinya.

Gereja harus dijaga karena gereja adalah milik Kristus.

Ancaman terhadap gereja juga nyata. Serigala dapat datang dari luar, tetapi orang-orang yang menyimpangkan kebenaran juga dapat muncul dari dalam. Karena itu gereja dipanggil untuk berjaga-jaga, memelihara Injil, menguji ajaran, dan menggembalakan umat Allah dengan setia.

Pada akhirnya, pusat perikop ini bukan sekadar kepemimpinan gereja, melainkan nilai gereja di hadapan Kristus.

Jika gereja telah dibeli dengan darah Kristus, maka tidak ada alasan bagi para gembala untuk memperlakukannya dengan sembarangan.

Dan jika Kristus telah membayar harga yang begitu mahal bagi umat-Nya, maka tugas menggembalakan gereja tidak boleh dilakukan dengan ambisi pribadi, kemalasan, atau pencarian popularitas.

Gembala dipanggil untuk berjaga.

Gembala dipanggil untuk mengajar.

Gembala dipanggil untuk melindungi.

Gembala dipanggil untuk mengasihi.

Dan seluruhnya dilakukan karena kawanan itu sangat berharga bagi Sang Gembala Agung, Yesus Kristus.

Inti teologisnya dapat diringkas demikian:

Karena gereja adalah milik Allah, dibeli dengan darah Kristus, dan dipercayakan kepada para gembala oleh Roh Kudus, maka para pemimpin gereja harus menjaga diri, menggembalakan jemaat dengan setia, serta berjaga-jaga terhadap setiap ajaran yang dapat menjauhkan umat dari Kristus.

Next Post Previous Post