Mazmur 44:17–22: Tetap Setia di Tengah Penderitaan

Pendahuluan
Penderitaan selalu menjadi salah satu pertanyaan terbesar dalam kehidupan orang percaya. Mengapa orang yang berusaha hidup benar tetap mengalami kesulitan? Mengapa Allah seolah-olah diam ketika umat-Nya ditindas? Apakah penderitaan selalu merupakan akibat langsung dari dosa pribadi?
Mazmur 44 memberikan jawaban yang jujur dan mendalam terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut. Berbeda dengan banyak mazmur ratapan yang mengakui dosa sebagai penyebab penderitaan, Mazmur 44 justru menampilkan sebuah situasi yang unik. Pemazmur menyatakan bahwa umat Allah tetap setia kepada-Nya, tetapi tetap mengalami kekalahan, penghinaan, dan penganiayaan.
Bagian Mazmur 44:17–22 merupakan inti dari ratapan itu. Di sini umat Allah mengingat kesetiaan mereka, mengakui bahwa mereka tidak meninggalkan Tuhan, namun tetap mengalami penderitaan demi nama-Nya. Tidak mengherankan apabila Rasul Paulus mengutip ayat 22 dalam Roma 8:36 untuk menjelaskan bahwa penderitaan adalah bagian dari kehidupan orang percaya, tetapi tidak pernah dapat memisahkan mereka dari kasih Kristus.
Dalam perspektif teologi Reformed, perikop ini mengajarkan bahwa kedaulatan Allah tetap berlaku bahkan ketika alasan penderitaan tidak sepenuhnya dipahami. Allah tidak kehilangan kendali atas sejarah, dan penderitaan umat-Nya selalu berada dalam bingkai rencana penebusan-Nya yang lebih besar.
Latar Belakang Mazmur 44
Mazmur 44 termasuk dalam kumpulan Mazmur bani Korah. Mazmur ini kemungkinan ditulis dalam konteks kekalahan nasional Israel, ketika bangsa itu mengalami tekanan dari musuh-musuhnya.
Struktur mazmur ini dapat dibagi menjadi empat bagian:
- Pengakuan akan karya Allah di masa lalu (ay. 1–8).
- Ratapan atas penderitaan masa kini (ay. 9–16).
- Pengakuan bahwa umat tetap setia (ay. 17–22).
- Permohonan agar Allah bertindak (ay. 23–26).
Perikop ayat 17–22 menjadi titik balik yang sangat penting karena menunjukkan bahwa penderitaan tidak selalu identik dengan hukuman atas dosa tertentu.
Eksposisi Mazmur 44:17
"Semuanya ini telah menimpa kami, sekalipun kami tidak melupakan Engkau dan tidak mengkhianati perjanjian-Mu."
Pemazmur mengawali bagian ini dengan sebuah pengakuan yang mengejutkan.
Ia tidak menyangkal penderitaan.
Namun ia juga menyatakan bahwa penderitaan tersebut bukan karena mereka meninggalkan Allah.
Kalimat ini tidak berarti bangsa Israel sama sekali tanpa dosa. Sebaliknya, pemazmur menegaskan bahwa penderitaan yang mereka alami tidak dapat dijelaskan hanya dengan prinsip sederhana bahwa setiap penderitaan adalah hukuman langsung atas pelanggaran tertentu.
John Calvin
Dalam tafsir Mazmur, Calvin menjelaskan bahwa Allah terkadang mengizinkan umat-Nya mengalami penderitaan untuk menguji iman mereka, bukan semata-mata sebagai hukuman. Hal ini mengajarkan bahwa jalan orang benar tidak selalu bebas dari kesulitan.
Eksposisi Mazmur 44:18
"Hati kami tidak berbalik dan langkah kami tidak menyimpang dari jalan-Mu."
Ayat ini menekankan kesetiaan hati.
Kesetiaan kepada Allah tidak hanya terlihat melalui tindakan lahiriah, tetapi juga melalui arah hati.
Pemazmur menggunakan dua gambaran:
- hati yang tetap setia,
- langkah yang tetap berada di jalan Tuhan.
Ini menunjukkan integritas rohani.
Herman Bavinck
Bavinck menjelaskan bahwa iman sejati tidak diukur dari bebasnya seseorang dari penderitaan, tetapi dari ketekunannya tetap percaya kepada Allah di tengah penderitaan.
Eksposisi Mazmur 44:19
"Namun Engkau telah meremukkan kami di tempat serigala dan menyelimuti kami dengan kekelaman."
Bahasa yang digunakan sangat puitis.
"Tempat serigala" menggambarkan wilayah yang sunyi, berbahaya, dan penuh ancaman.
"Kegelapan" melambangkan penderitaan, kebingungan, dan perasaan ditinggalkan.
Pemazmur tidak menyembunyikan emosinya.
Ia berbicara dengan jujur kepada Allah.
Mazmur mengajarkan bahwa doa yang jujur bukanlah tanda kurang iman, tetapi justru wujud hubungan yang dekat dengan Tuhan.
Eksposisi Mazmur 44:20–21
"Jika kami melupakan nama Allah kami atau menadahkan tangan kepada allah asing, bukankah Allah akan menyelidikinya?"
Pemazmur mengajukan argumen yang logis.
Allah Mahatahu.
Jika mereka benar-benar telah menyembah berhala, tentu Allah mengetahuinya.
Artinya, mereka tidak sedang menyembunyikan dosa.
Mereka menyerahkan penilaian kepada Allah sendiri.
R.C. Sproul
Sproul sering menekankan bahwa kemahatahuan Allah memberikan penghiburan sekaligus peringatan. Allah mengetahui dosa yang tersembunyi, tetapi Ia juga mengetahui ketulusan iman umat-Nya ketika mereka tetap setia dalam penderitaan.
Eksposisi Mazmur 44:22
"Karena Engkaulah kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari; kami dianggap sebagai domba-domba sembelihan."
Inilah puncak perikop.
Penderitaan mereka terjadi:
"Karena Engkau."
Artinya, mereka menderita justru karena mereka tetap menjadi umat Allah.
Ayat ini kemudian dikutip oleh Rasul Paulus dalam Roma 8:36.
Paulus menggunakannya untuk menjelaskan bahwa penganiayaan terhadap orang percaya bukanlah tanda bahwa Allah meninggalkan mereka. Sebaliknya, di tengah semua penderitaan itu, orang percaya tetap "lebih dari orang-orang yang menang" melalui Kristus (Roma 8:37).
Geerhardus Vos
Vos melihat hubungan antara Mazmur 44 dan Roma 8 sebagai bukti kesinambungan sejarah penebusan. Umat Allah dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sama-sama dipanggil untuk setia di tengah penderitaan sambil menantikan penggenapan akhir karya keselamatan.
Penderitaan Orang Benar dalam Alkitab
Mazmur 44 bukan satu-satunya bagian Alkitab yang menunjukkan bahwa orang benar dapat menderita.
Contohnya:
- Ayub kehilangan segala sesuatu meskipun disebut saleh.
- Yusuf dipenjara karena fitnah.
- Yeremia dianiaya karena menyampaikan firman Tuhan.
- Daniel dilempar ke gua singa.
- Paulus berkali-kali dipenjara.
- Para rasul mengalami penganiayaan.
- Yesus sendiri menderita tanpa dosa.
Semua ini menunjukkan bahwa penderitaan tidak selalu menjadi indikator murka Allah.
Tema-Tema Teologis Utama
1. Kedaulatan Allah dalam Penderitaan
Mazmur ini tidak pernah menggambarkan penderitaan sebagai sesuatu yang berada di luar kendali Allah.
Justru pemazmur berbicara langsung kepada Allah.
Ia mengakui bahwa Allah tetap berdaulat meskipun alasan penderitaan belum dipahami.
John Murray
Murray menjelaskan bahwa providensia Allah mencakup seluruh pengalaman hidup orang percaya, termasuk penderitaan. Tidak ada satu pun penderitaan yang terjadi di luar rencana Allah.
2. Kesetiaan Perjanjian
Mazmur ini memakai bahasa perjanjian.
Umat tetap memegang perjanjian Allah.
Ini menunjukkan bahwa hubungan dengan Allah menjadi dasar pengharapan mereka.
O. Palmer Robertson
Dalam The Christ of the Covenants, Robertson menjelaskan bahwa perjanjian Allah memberikan kepastian bahwa kasih setia-Nya tidak berubah meskipun umat sedang mengalami masa-masa sulit.
3. Penderitaan Demi Nama Allah
Ayat 22 menunjukkan bahwa penderitaan dapat terjadi justru karena kesetiaan kepada Allah.
Hal ini kemudian menjadi pola kehidupan gereja mula-mula.
D.A. Carson
Carson mengingatkan bahwa Injil selalu membawa konflik dengan dunia yang menolak Kristus. Karena itu, penderitaan demi Injil merupakan bagian dari panggilan orang percaya.
4. Harapan di Tengah Ratapan
Walaupun penuh pertanyaan, Mazmur ini tetap merupakan doa.
Pemazmur tidak meninggalkan Allah.
Sebaliknya, ia membawa pergumulannya kepada Allah.
Inilah bentuk iman yang dewasa.
Pandangan Para Teolog Reformed
John Calvin
Calvin melihat Mazmur 44 sebagai penghiburan bagi gereja yang mengalami aniaya. Menurutnya, Allah sering menguji umat-Nya agar iman mereka dimurnikan dan ketergantungan kepada-Nya semakin nyata.
Herman Bavinck
Bavinck menegaskan bahwa penderitaan tidak membatalkan kasih Allah. Justru dalam penderitaan, orang percaya belajar mengenal pemeliharaan Allah secara lebih dalam.
Louis Berkhof
Berkhof menghubungkan penderitaan dengan doktrin providensia. Allah memerintah seluruh sejarah dan menggunakan penderitaan untuk membentuk umat-Nya sesuai dengan tujuan-Nya.
Geerhardus Vos
Vos melihat Mazmur 44 sebagai bagian dari perjalanan sejarah penebusan yang akhirnya berpuncak pada penderitaan Kristus. Ratapan umat Allah menemukan jawabannya di dalam salib dan kebangkitan Yesus.
Sinclair Ferguson
Dalam berbagai tulisannya mengenai kehidupan Kristen, Ferguson menekankan bahwa penderitaan bukanlah tanda kegagalan iman. Sebaliknya, penderitaan sering menjadi sarana pertumbuhan rohani dan pengenalan yang lebih dalam akan Kristus.
Uraian dari Buku-Buku Teologi
Derek Kidner
Dalam komentarnya atas Mazmur, Kidner menyatakan bahwa kejujuran pemazmur menjadi teladan bagi kehidupan doa. Orang percaya tidak perlu menyembunyikan pergumulan mereka di hadapan Allah, sebab Dia mengundang umat-Nya datang dengan hati yang terbuka.
Tremper Longman III
Longman menjelaskan bahwa Mazmur 44 memperlihatkan ketegangan antara pengalaman hidup dan keyakinan iman. Ketegangan ini tidak diselesaikan dengan jawaban yang sederhana, tetapi dengan tetap berpegang pada karakter Allah.
Bruce K. Waltke
Waltke menekankan bahwa ratapan dalam Mazmur bukanlah ungkapan keputusasaan, melainkan bentuk iman yang terus mencari wajah Allah ketika keadaan tampak bertentangan dengan janji-Nya.
Kristus sebagai Penggenapan Mazmur 44
Mazmur 44 mencapai makna yang lebih dalam ketika dibaca dalam terang Perjanjian Baru.
Yesus adalah Pribadi yang paling benar.
Namun Dia juga menjadi Pribadi yang paling menderita.
Ia:
- dihina,
- ditolak,
- disiksa,
- disalibkan.
Semua itu bukan karena dosa-Nya sendiri.
Melalui penderitaan Kristus, Allah menunjukkan bahwa penderitaan dapat menjadi jalan menuju kemuliaan.
Karena Kristus telah bangkit, penderitaan orang percaya tidak lagi menjadi akhir cerita.
Roma 8, yang mengutip Mazmur 44:22, berakhir dengan kemenangan yang luar biasa:
"Tidak ada sesuatu pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah yang ada dalam Kristus Yesus."
Relevansi bagi Gereja Masa Kini
Mazmur 44:17–22 sangat relevan bagi gereja modern.
Pertama, bagian ini mengoreksi pandangan bahwa setiap penderitaan pasti merupakan akibat langsung dari kurangnya iman atau dosa pribadi. Alkitab menunjukkan bahwa orang yang setia kepada Allah pun dapat mengalami kesulitan.
Kedua, gereja dipanggil untuk tetap setia sekalipun menghadapi tekanan budaya, diskriminasi, atau penganiayaan. Kesetiaan kepada Kristus kadang membawa konsekuensi yang berat, tetapi Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya.
Ketiga, perikop ini mengajarkan pentingnya doa yang jujur. Orang percaya tidak perlu berpura-pura kuat di hadapan Allah. Ratapan yang lahir dari iman merupakan bagian dari kehidupan rohani yang sehat.
Keempat, pengharapan orang percaya tidak bergantung pada keadaan yang selalu membaik, melainkan pada janji Allah yang tidak pernah gagal. Karena Kristus telah menang atas dosa dan maut, setiap penderitaan memiliki batas dan tujuan dalam rencana Allah.
Kesimpulan
Mazmur 44:17–22 merupakan salah satu bagian Alkitab yang paling jujur mengenai penderitaan umat Allah. Pemazmur mengakui bahwa mereka tetap setia kepada Tuhan, namun tetap mengalami kesukaran, penghinaan, dan ancaman maut. Ratapan ini memperlihatkan bahwa penderitaan tidak selalu dapat dijelaskan sebagai hukuman langsung atas dosa tertentu.
Eksposisi ayat demi ayat menunjukkan bahwa Allah tetap menjadi tempat umat-Nya berseru, bahkan ketika mereka tidak memahami alasan di balik penderitaan. Kesetiaan kepada perjanjian, pengakuan akan kedaulatan Allah, dan harapan akan pertolongan-Nya menjadi benang merah dalam seluruh perikop.
Pandangan para teolog Reformed seperti John Calvin, Herman Bavinck, Louis Berkhof, Geerhardus Vos, John Murray, O. Palmer Robertson, Sinclair Ferguson, serta para penafsir seperti Derek Kidner, Tremper Longman III, dan Bruce K. Waltke menegaskan bahwa penderitaan orang percaya tidak pernah berada di luar providensia Allah. Justru melalui penderitaan itu, Allah memurnikan iman, membentuk karakter, dan mengarahkan umat-Nya kepada pengharapan yang lebih besar di dalam Kristus.
Bagi setiap orang percaya, Mazmur 44:17–22 menjadi penghiburan bahwa kesetiaan kepada Allah tidak menjamin hidup tanpa kesulitan, tetapi menjamin penyertaan-Nya yang tidak pernah gagal. Di dalam Yesus Kristus, yang telah menderita, mati, dan bangkit bagi umat-Nya, kita memiliki kepastian bahwa tidak ada penderitaan, penganiayaan, atau kematian yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah yang kekal.