Yesus Kristus Memerintah atas Segala Sesuatu

Yesus Kristus Memerintah atas Segala Sesuatu

Pendahuluan

Yesus Kristus memerintah atas segala sesuatu. Pernyataan ini merupakan salah satu pengakuan iman yang paling penting dalam kekristenan. Yesus Kristus bukan hanya Juruselamat yang mengampuni dosa manusia, tetapi juga Tuhan dan Raja yang memiliki otoritas atas seluruh ciptaan.

Setelah kebangkitan-Nya, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya:

“Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.”
— Matius 28:18

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pemerintahan Kristus bersifat universal. Ia memiliki kuasa di sorga dan di bumi. Tidak ada wilayah kehidupan yang berada di luar otoritas-Nya.

Dalam teologi Reformed, kebenaran ini berkaitan erat dengan doktrin kedaulatan Allah, providensi, kristologi, dan kerajaan Allah. Kristus bukan sekadar tokoh yang pernah hidup dalam sejarah. Ia adalah Anak Allah yang berinkarnasi, mati untuk menebus umat-Nya, bangkit dari kematian, naik ke surga, dan sekarang memerintah sebagai Tuhan yang hidup.

Yesus Kristus Adalah Raja atas Segala Raja

Alkitab memberikan gelar yang sangat tinggi kepada Yesus Kristus. Wahyu 19:16 berkata:

“Dan pada jubah-Nya dan paha-Nya tertulis suatu nama, yaitu: ‘Raja segala raja dan Tuan di atas segala tuan.’”

Gelar ini menunjukkan supremasi Kristus atas seluruh penguasa.

Manusia dapat memiliki jabatan, kekuasaan politik, kekayaan, pengaruh, dan otoritas. Namun tidak ada pemerintahan manusia yang bersifat mutlak. Semua penguasa berada di bawah pemerintahan Allah.

Daniel 2:21 berkata:

“Dia mengubah saat dan waktu, Dia memecat raja dan mengangkat raja.”

Ayat tersebut menunjukkan bahwa sejarah bukan berada di tangan manusia secara mutlak. Allah tetap bekerja dalam perjalanan sejarah.

John Calvin memberikan perhatian besar terhadap doktrin providensi Allah. Dalam pemahamannya, Allah bukan hanya menciptakan dunia kemudian meninggalkannya berjalan sendiri. Allah terus memelihara dan memerintah ciptaan-Nya.

Dalam terang Perjanjian Baru, pemerintahan Allah tersebut juga berkaitan dengan pemerintahan Kristus. Kristus yang telah bangkit menerima segala kuasa dan menjalankan pemerintahan-Nya sebagai Raja.

Karena itu, tidak ada keadaan yang membuat Kristus kehilangan kendali.

Segala Sesuatu Diciptakan Melalui Kristus

Kolose 1:16 memberikan dasar penting mengenai supremasi Kristus:

“Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan.”

Kristus bukan bagian dari ciptaan. Ia adalah Pencipta.

Segala sesuatu berasal dari kehendak Allah dan diciptakan melalui Kristus. Karena itu, Kristus mempunyai hak atas seluruh ciptaan.

Paulus melanjutkan:

“Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.”
— Kolose 1:17

Ini berarti keberadaan seluruh ciptaan bergantung kepada Kristus.

Udara yang kita hirup, kehidupan manusia, alam semesta, sejarah, waktu, dan segala sesuatu yang ada tidak berdiri secara independen dari Allah.

Herman Bavinck dalam teologi dogmatik Reformed menekankan bahwa Kristus harus dipahami dalam hubungan-Nya dengan keseluruhan karya Allah dalam penciptaan dan penebusan. Kristus bukan hanya berkaitan dengan keselamatan jiwa manusia, tetapi merupakan pusat rencana Allah bagi ciptaan.

Karena itu, iman Kristen tidak boleh dipersempit menjadi persoalan “bagaimana saya masuk surga.” Injil juga menyatakan bahwa Kristus adalah Tuhan atas seluruh kehidupan.

Yesus Memerintah atas Gereja

Kristus juga memiliki pemerintahan khusus atas gereja.

Efesus 1:22 berkata:

“Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada.”

Kristus adalah Kepala gereja.

Ini berarti gereja bukan milik pendeta, majelis, organisasi, atau kelompok tertentu. Gereja adalah milik Kristus.

Karena Kristus adalah Kepala gereja, maka gereja harus tunduk kepada Firman-Nya.

Di sinilah prinsip Sola Scriptura memiliki arti penting. Firman Allah menjadi norma tertinggi bagi iman dan kehidupan gereja. Tradisi, keputusan manusia, budaya, dan pendapat pemimpin semuanya harus diuji berdasarkan Kitab Suci.

Louis Berkhof menempatkan Kristus sebagai Kepala gereja dalam pembahasannya mengenai pemerintahan gereja. Kristus memberikan otoritas kepada gereja untuk menjalankan pelayanan, tetapi gereja tidak pernah menjadi pemilik otoritas absolut.

Pemimpin gereja hanyalah pelayan.

Kristus adalah Tuhan.

Kebenaran ini seharusnya menghasilkan kerendahan hati dalam pelayanan. Seorang pendeta tidak sedang membangun kerajaan pribadinya. Ia sedang melayani kerajaan Kristus.

Pemerintahan Kristus dan Karya Keselamatan

Pemerintahan Kristus tidak dapat dipisahkan dari karya keselamatan-Nya.

Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa.

Matius 1:21 berkata:

“Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.”

Kristus menyelamatkan melalui kehidupan-Nya yang sempurna, kematian-Nya di kayu salib, dan kebangkitan-Nya.

Di kayu salib, Kristus menanggung hukuman dosa.

1 Petrus 2:24 berkata:

“Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib.”

Kematian Kristus bukan sekadar teladan pengorbanan. Ia mati sebagai pengganti orang berdosa.

Dalam teologi Reformed, hal ini sering dibahas dalam kerangka substitutionary atonement, yaitu Kristus menggantikan orang berdosa dalam menanggung hukuman dosa.

John Calvin menempatkan karya Kristus sebagai pusat keselamatan. Kristus adalah Pengantara yang melalui-Nya orang berdosa diperdamaikan dengan Allah.

Namun Kristus tidak tetap berada di dalam kubur.

Ia bangkit.

Kebangkitan menyatakan kemenangan-Nya atas maut dan menjadi dasar pemerintahan-Nya yang dimuliakan.

Roma 14:9 berkata:

“Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup.”

Kristus adalah Tuhan atas orang hidup dan orang mati.

Kebangkitan Menegaskan Pemerintahan Kristus

Kebangkitan Yesus adalah pusat iman Kristen.

Paulus berkata dalam Roma 1:4 bahwa Yesus:

“dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa.”

Kebangkitan bukan hanya mukjizat yang membuktikan identitas Yesus. Kebangkitan merupakan deklarasi kemenangan.

Dosa tidak menang.

Maut tidak menang.

Kubur tidak menang.

Musuh-musuh Kristus tidak memiliki kata terakhir.

Kristus menang.

R.C. Sproul berulang kali menekankan bahwa Kristus adalah Tuhan yang berdaulat. Kekristenan bukan hanya mempercayai keberadaan Yesus, tetapi mengakui otoritas-Nya sebagai Tuhan.

Karena itu, iman Kristen memiliki konsekuensi praktis: jika Yesus adalah Tuhan, maka hidup orang percaya harus berada di bawah pemerintahan-Nya.

Yesus Kristus Memerintah atas Sejarah

Manusia sering memandang sejarah sebagai rangkaian kejadian yang tidak teratur. Ada perang, krisis ekonomi, pergantian pemerintahan, bencana, penderitaan, dan berbagai perubahan sosial.

Namun Alkitab mengajarkan bahwa Allah tetap bekerja dalam sejarah.

Amsal 16:9 berkata:

“Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.”

Manusia membuat rencana, tetapi Allah tetap berdaulat.

Dalam perspektif providensi, Allah bekerja melalui berbagai peristiwa untuk menggenapi tujuan-Nya.

Kita tidak selalu mengetahui alasan Allah mengizinkan suatu peristiwa. Bahkan kadang-kadang kita tidak mampu memahami mengapa penderitaan tertentu terjadi.

Namun ketidaktahuan manusia tidak berarti ketiadaan pemerintahan Allah.

Kita mungkin tidak memahami seluruh rencana Allah, tetapi kita dapat percaya kepada Allah yang memegang seluruh rencana itu.

Inilah penghiburan besar bagi orang percaya.

Yesus Tetap Memerintah dalam Penderitaan

Ada saat ketika kehidupan terasa tidak terkendali.

Doa belum dijawab.

Masalah keluarga belum selesai.

Kebutuhan ekonomi semakin berat.

Pelayanan mengalami kesulitan.

Masa depan tampak tidak jelas.

Dalam keadaan seperti itu, orang percaya perlu kembali kepada kebenaran bahwa Kristus tetap memerintah.

Mazmur 46:2 berkata:

“Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.”

Keamanan orang percaya tidak bergantung pada keadaan yang selalu baik.

Pengharapan kita terletak pada karakter Allah.

John Murray dalam pembahasannya mengenai keselamatan dan pemeliharaan Allah menekankan bahwa karya Allah bagi umat-Nya tidak terpisahkan dari tujuan penebusan-Nya. Allah yang memulai keselamatan juga memelihara umat-Nya menuju penggenapan keselamatan.

Karena itu, penderitaan tidak berarti Kristus meninggalkan umat-Nya.

Justru dalam penderitaan, orang percaya dipanggil untuk semakin bergantung kepada-Nya.

Kristus Memerintah atas Hidup Kita

Jika Yesus adalah Raja, maka tidak ada bagian hidup kita yang boleh diklaim sebagai wilayah yang sepenuhnya independen dari-Nya.

Roma 12:1 berkata:

“Persembahkanlah tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah.”

Pekerjaan kita harus dilakukan untuk Tuhan.

Keluarga kita harus dijalankan menurut prinsip Firman Tuhan.

Keuangan kita harus digunakan dengan tanggung jawab di hadapan Tuhan.

Pendidikan harus diarahkan kepada kebenaran.

Pelayanan harus dilakukan untuk kemuliaan Kristus.

Bahkan waktu dan kemampuan kita merupakan pemberian Tuhan.

Abraham Kuyper sangat dikenal karena pandangannya mengenai pemerintahan Kristus atas seluruh kehidupan. Pemikirannya menekankan bahwa iman Kristen tidak hanya berkaitan dengan kehidupan ibadah formal, tetapi memiliki implikasi terhadap seluruh bidang kehidupan.

Prinsipnya sederhana:

Kristus bukan hanya Tuhan di dalam gereja; Kristus adalah Tuhan atas seluruh kehidupan.

Kristus Memerintah atas Masa Depan

Pemerintahan Kristus tidak hanya berbicara mengenai masa kini.

Kristus juga akan datang kembali.

Wahyu 11:15 berkata:

“Pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapi-Nya, dan Ia akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya.”

Kedatangan Kristus kembali merupakan pengharapan gereja.

Pada akhirnya, pemerintahan Kristus akan dinyatakan secara sempurna.

1 Korintus 15:25 berkata:

“Karena Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya.”

Saat ini orang percaya hidup dalam periode antara kemenangan Kristus yang sudah dinyatakan dan penggenapan akhir kerajaan-Nya.

Kristus sudah menang, tetapi kita masih menantikan penyempurnaan segala sesuatu.

Karena itu, gereja tidak boleh kehilangan pengharapan.

Apa Arti Pemerintahan Kristus bagi Orang Percaya?

Pertama, kita memiliki penghiburan.

Jika Kristus memerintah, maka hidup kita tidak berada di tangan kebetulan.

Kedua, kita memiliki keberanian.

Gereja dapat memberitakan Injil karena Kristus memiliki segala kuasa di sorga dan di bumi.

Ketiga, kita dipanggil untuk taat.

Mengakui Yesus sebagai Tuhan berarti tunduk kepada Firman-Nya.

Keempat, kita harus rendah hati.

Semua yang kita miliki berasal dari Allah.

Kelima, kita mempunyai pengharapan kekal.

Pemerintahan Kristus tidak akan berakhir.

Kesimpulan

Yesus Kristus memerintah atas segala sesuatu.

Ia adalah Pencipta segala sesuatu.

Ia adalah Juruselamat orang berdosa.

Ia adalah Kepala gereja.

Ia adalah Raja atas sejarah.

Ia berkuasa atas hidup dan mati.

Ia memerintah atas masa kini.

Dan Ia akan menyatakan pemerintahan-Nya secara sempurna pada akhir zaman.

Karena itu, orang Kristen tidak perlu hidup seolah-olah dunia berada di luar kendali Allah.

Ketika keadaan berubah, Kristus tetap Raja.

Ketika manusia gagal, Kristus tetap Raja.

Ketika gereja mengalami penderitaan, Kristus tetap Raja.

Ketika masa depan belum terlihat, Kristus tetap Raja.

Kolose 1:17 berkata:

“Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.”

Maka pusat iman kita bukanlah kemampuan manusia mengendalikan hidup, melainkan Kristus yang berdaulat.

Kita boleh merencanakan, bekerja, belajar, melayani, dan berusaha dengan sungguh-sungguh. Namun akhirnya kita menyerahkan seluruh hidup kepada Tuhan yang memerintah atas segala sesuatu.

Yesus adalah Raja. Yesus adalah Tuhan. Yesus memerintah atas segala sesuatu.

Karena itu, marilah kita hidup dalam iman, berjalan dalam ketaatan, bertahan dalam penderitaan, melayani dengan setia, dan menyerahkan seluruh kemuliaan kepada Kristus.

“Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.” — Matius 28:18

Soli Deo Gloria — hanya bagi kemuliaan Allah.

Previous Post