DISIPLIN ROHANI SEBAGAI IBADAH PRIBADI

DISIPLIN ROHANI SEBAGAI IBADAH PRIBADI R. Kent Hughes berkata bahwa seseorang tidak akan pernah mendapatkan apa apa tanpa disiplin, khususnya dalam hal disiplin rohani. Oleh sebab itu untuk mencapai kehidupan spiritual yang bertumbuh pada tingkatan tertentu di perlukan disiplin rohani.

APA ITU DISIPLIN ROHANI

Disiplin secara sederhana dapat diartikan sebagai latihan yang diharapkan dapat menghasilkan sifat atau karakter khusus dari sebuah pola perilaku. Kelli Mahoney dalam tulisannya tentang Spiritual Discipline melihat bahwa disiplin rohani itu sebagai sebuah latihan pikiran dan emosi untuk mendekatkan diri kepada Allah.

DISIPLIN ROHANI SEBAGAI IBADAH PRIBADI

Karena itu disiplin rohani dipahami sebagai upaya atau sarana untuk menumbuh kembangkan sifat karakter serta pola perilaku yang berkaitan dengan kerohanian yang menolong seseorang bertumbuh menuju kepada kedewasaan rohani.

Dengan kata lain disiplin rohani adalah sarana untuk mengembangkan kerohanian seseorang yang telah mengalami perubahan oleh Kristus pada saat ia diselamatkan, yang lewat anugerah-Nya membebaskan orang percaya, yang telah mengalami pembaharuan secara holistik, yang diwujud-nyatakan lewat perubahan dalam pikiran, perasaan, dan karakter yang secara bertahap menjadi nyata di dalam perilaku nyata.

Ada banyak pendapat yang berkembang terkait dengan kapan disiplin rohani dimulai dan bagaimana proses pertumbuhan serta perkembangan rohani terjadi. Secara umum dipercaya bahwa disiplin rohani dimulai pada saat seseorang mengalami perjumpaan dengan Kristus, menerima Dia sebagai Tuhan dan juru selamatnya.

Lalu apa dan mengapa disiplin rohani itu diperlukan dalam hidup orang percaya? Donald Whitney mengatakan bahwa disiplin rohani itu adalah sebagai cara atau sarana untuk memperoleh anugerah, agar bertumbuh dalam kesalehan hidup.

Lebih lanjut Whitney mengatakan bahwa disiplin rohani juga sebagai saluran transformasi Allah dalam hidup yang mengubahkan.

Dallas Willard juga melihat bahwa disiplin rohani adalah sarana bagi anugerah, sedangkan latihan-latihan bagi kesalehan itu hanyalah aktivitas yang memampukan kita menerima hidup dan kuasa-Nya lebih banyak lagi

Donald Whitney pada bagian lain menyatakan bahwa disiplin rohani adalah upaya yang dilakukan dalam rangka menumbuh kembangkan kehidupan rohani.

Lebih lanjut Whitney memberikan beberapa bentuk disiplin rohani sebagai berikut: merenungkan Firman, berdoa, ibadah, penginjilan, pelayanan, penatalayanan, puasa, keheningan, jurnal dan belajar. Karena itu disiplin rohani adalah cara atau sarana dalam rangka menumbuhkembangkan kesalehan hidup

DASAR ALKITAB

Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang. (1 Timotius 4:7c–8) Untuk memahami betapa pentingnya disiplin rohani dalam pertumbuhan iman dan kesalehan hidup, dapat dilihat dari elaborasi terhadap frasa penting di bawah ini.

Alkitab terjemahan bahasa Indonesia (LAI) menuliskan: Latihlah dirimu beribadah… sedangkan the New Internasional Version (NIV) menerjemahkannya dengan kata-kata Train yourself to be godly‖ dan The New American Standard Bible (NASB) dengan frasa Discipline yourself for the purpose of godliness.

Dari ketiga versi Alkitab di atas dijumpai paling tidak ada tiga kata yang berbeda tetapi memiliki arti yang sama. Yaitu kata Latihlah. Berbentuk imperative/perintah agar berlatih. NIV di sini menggunakan kata Train. Yang berarti latihan, atau latihlah‖ juga dalam bentuk imperative, yang memiliki arti yang sama dengan terjemahan bahasa Indonesia latihlah… sedangkan NASB menggunakan kata discipline. Pada dasar ketiga kata di atas yaitu latihan, train, dan discipline adalah kata yang memilik makna yang sama.

Kata disiplin dalam teks asli kitab suci Perjanjian Baru menggunakan kata gumnasia‖ dari mana kata dalam bahasa Inggris gymnasium dan gymnastic berasal. Kata gumnasium‖ berarti melatih atau mendisiplinkan. Alkitab versi King James menerjemahkan kata ini dengan exercise‖ (latihan/melatih) yang mengacu pada latihan fisik/ disiplin yang baik dalam rangka memupuk atau membangun kekuatan dan kesegaran baru.

Sadar atau tidak fakta menunjukkan bahwa tidak ada yang sesuatu yang bisa dicapai tanpa kedisiplinan. Tidak sedikit olahragawan terkenal yang kariernya berakhir tragis karena tidak mampu mendisiplinkan diri dengan baik. Dalam konteks arak-arakan iman, latihan rohani adalah dalam upaya untuk mengembangkan kesalehan. Kepada anak rohaninya Timotius, Paulus mengingatkan bahwa sebagai pemimpin rohani ia harus membangun hidup rohani yang lebih baik dengan terus melatih diri dengan kedisiplinan rohani yang tinggi.

Menarik untuk diperhatikan bahwa Rasul Paulus berbicara tentang pentingnya latihan/disiplin rohani ini berkaitan dengan ibadah. Hal ini dapat dilihat dari frasa berikutnya berbunyi: Latihlah dirimu beribadah. (1Timotius 4:7).

Alkitab bahasa Inggris The New Internasional Version (NIV) menerjemahkan dengan frasa: Train yourself to be godly (Latihlah dirimu untuk menjadi saleh). Ada dua kata yang kelihatannya berbeda di sini yaitu kata beribadah‖ dan kata saleh. Beribadah pada satu sisi adalah berkaitan dengan upaya yang dilakukan dalam rangka membangun relasi dengan Allah dalam bentuk penyembahan.

Sedangkan saleh adalah mengacu pada hidup yang benar dan kudus, yang terkait dengan sumbernya. Pada ha kekatnya kedua kata itu merupakan satu kesatuan yang mengacu pada pemahaman yang utuh tentang tujuan dari sebuah latihan rohani yaitu menuju kepada kesalehan hidup. Karena pada dasarnya disiplin rohani adalah dalam rangka membangun hidup yang saleh.

Hal ini bersesuaian dengan ungkapan lanjutan yang ada dalam ayat 8 dengan mengatakan bahwa ibadah itu bermanfaat besar.…ibadah itu berguna dalam segala hal … karena mengandung janji baik untuk masa kini maupun untuk hidup yang akan datang (1 Timotius 4:8). Ingat Paulus katakan bahwa latihan atau disiplin rohani itu bermanfaat besar, artinya latihan rohani itu berdaya guna dalam membangun relasi dengan Tuhan menuju kepada pertumbuhan rohani.

Yang lebih menarik lagi ialah bahwa ternyata melatih/mendisiplinkan diri dalam ibadah itu mengandung janji, dan itu dapat dirasakan dan dialami saat ini, dan nanti di masa yang akan datang. Apakah janji itu? Janji menikmati indahnya berelasi dan bersekutu dengan Tuhan setiap saat, serta jaminan untuk menikmati bersama Tuhan dan kedekatan, kesukacitaan dan keindahan bersama dengan Tuhan selama-lamanya.

Ada banyak jenis dan praktik disiplin rohani yang dikembangkan oleh pakar. J. Wilhoit umpamanya, meyakini bahwa Tuhan Yesus memberikan tiga disiplin rohani yang dapat menolong pertumbuhan percaya

Tulisan ini membahas empat disiplin rohani yang terkait dengan ibadah pribadi, yaitu disiplin bermeditasi, disiplin berdoa, disiplin berpuasa dan disiplin keheningan.

EMPAT DISIPLIN ROHANI

1. Disiplin Bermeditasi

Dalam perspektif iman Kristen, meditasi telah dipraktikkan dan bahkan dikembangkan sejak lama. Meditasi adalah sebuah praktik yang dilakukan oleh anak-anak Tuhan dalam Perjanjian Lama untuk mendengarkan Allah, serta upaya untuk berkomunikasi dengan Allah sang pencipta langit dan bumi, serta mengalami kasih dari Dia yang mengasihi Dunia ini.

Hal ini dapat dilihat dari orang orang yang hidupnya dekat dengan Allah seperti Musa dalam Mazmur 63:7 berkata: Apabila aku ingat kepada-Mu di tempat tidurku, merenungkan Engkau sepanjang kawal malam.‖ Dalam Mazmur ini Musa menyatakan bahwa ia merenungkan Tuhan sepanjang malam, ia yang selalu mengingat-ingat serta menenangkan diri di tempat tidurnya memikirkan dan merenungkan Tuhan. Itu adalah bentuk dari meditasinya di hadapan Allah Tuhannya.

Pemazmur menyatakan bahwa meditasi yang ia lakukan pada waktu malam sebelum para penjaga terbangun, ia sudah bangun dan merenungkan janji-janji Tuhan. Aku bangun mendahului waktu jaga malam untuk merenungkan janji-Mu. (Mazmur 119:148). Menghadap hadirat Tuhan melalui perenungannya terhadap firman dan janji-janji Tuhan.

Karena itu tepat sekali apa yang dikatakan oleh Richard Foster tentang meditasi Kristen sebagai berikut: Meditasi Kristen membawa kita kepada keutuhan batin yang perlu agar kita dapat memberi diri dengan leluasa kepada Tuhan, dan juga kepada persepsi rohani. Karena dengan bermeditasi mengarahkan seseorang untuk memasuki hadirat Allah yang hidup, dan menjadi momen di mana ia mendengar Allah berbicara dan terus menerus berbicara kepadanya. Teladan bermeditasi ditunjukkan oleh Tuhan Yesus

2. Disiplin Berdoa

Doa menjadi bagian yang esensial dalam kehidupan manusia yang percaya. Berdasarkan Kamus Bahasa Indonesia, doa adalah permohonan, permintaan, pujian kepada Tuhan. Sedangkan berdoa artinya adalah menaikkan doa kepada Tuhan, sehingga doa dapat di artikan sebagai suatu permohonan yang ditujukan kepada Allah. Selain sebagai permohonan, doa juga adalah bagian dari persekutuan antara orang percaya dengan Tuhan dan Allahnya. 

Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa doa adalah sebuah relasi antara manusia dengan Allah yang di dalamnya manusia berkomunikasi, memohon, meminta, memuji dan mengakui keberadaan Allah yang transendental.

Dalam perspektif kitab suci paling tidak ada empat unsur utama dari doa yang harus dipahami dengan baik. Keempat unsur itu adalah:

a) Di dalam doa terkandung unsur pujian kepada Allah - Mazmur 95:6.

b) Di dalam doa ada unsur pengakuan dosa - Mazmur 32:5.

c) Di dalam doa ada unsur pengucapan syukur kepada Allah atas berkat-berkat dan pertolongan-Nya - Filipi 4:6.

d) Di dalam doa ada unsur permintaan permohonan 1 Timotius 2:1. Doa adalah membangun relasi dan komunikasi antara diri orang percaya yang/dengan membuka dirinya di hadapan Allahnya. Melalui doa orang percaya bergaul, berelasi dengan kerendahan hati, bersyukur, dan meminta atau memohon kepada Tuhan Allah yang Mahakuasa.

Pemazmur adalah salah satu tokoh dari Perjanjian Lama yang mengekspresikan kerinduan yang mendalam serta kehausannya untuk berkomunikasi, berelasi, dan bergaul dengan Tuhan lewat doa yang ia ekspresikan dalam upaya mencari Tuhan dan hadirat-Nya. Dengan berkata: Ya Allah, engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair. (Mazmur 63:2).

Hal yang sama yang dituliskan oleh penginjil Markus menyangkut tentang kebiasaan Yesus yang menyediakan waktu di awal hari untuk berada di suatu tempat untuk berkomunikasi, dan bergaul dengan Bapa-Nya dalam doa, Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi keluar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.‖ (Markus 1:35).

Semua orang yang telah bergaul dengan Allah telah menganggap doa sebagai urusan yang utama dalam kehidupan mereka. Hal itu dapat dilihat di dalam sejarah kekristenan, di sana dijumpai manusia Allah yang Tuhan pakai dengan luar biasa dalam pelayanan mereka telah memberikan teladan yang luar biasa tentang pentingnya doa dalam kehidupan pribadi maupun pelayanan mereka.

Martin Luther reformator yang dipakai Tuhan di zamannya, di tengah-tengah kesibukannya yang luar biasa ia menyadari pentingnya berdoa. Dalam tulisannya sebagaimana yang dikutip oleh R. Foster ia mengatakan: ―Urusan saya begitu banyak sehingga setiap hari saya harus berdoa selama 3 jam.

John Wesley berkata: ―Allah tidak melakukan apa-apa kecuali sebagai jawaban atas doa‖. Pernyataannya dijawab dengan berdoa 2 jam setiap hari. Mengapa doa itu menjadi penting karena doa membawa kita ke garis depan kehidupan rohani. William Carey sebagaimana dikutip R. Foster mengatakan, Doa- doa yang rahasia, yang sungguh-sungguh, dan penuh percaya adalah sumber semua kesalehan pribadi.

Oleh karena itu di sini terlihat jelas betapa pentingnya disiplin berdoa dalam kehidupan orang percaya, karena dengan semakin disiplin doa dikembangkan maka, ―Semakin dekat kita dengan hati Allah, semakin kita melihat kebutuhan kita dan dan semakin kita menginginkan untuk menjadi seperti Kristus.‖

3. Disiplin Berpuasa

Berpuasa berarti menahan diri dari makan, serta memfokuskan diri pada Tuhan, atau dengan kata lain puasa adalah upaya menahan diri atau ber pantangan makan dengan maksud yang rohani, karena menurut R. Foster berpuasa di dalam Alkitab selalu berpusat pada tujuan-tujuan rohani. Walaupun di dalam Alkitab, berpuasa yang normal ialah berpantang dari semua makanan padat maupun cair, tetapi bukan berpantang air.

Dari sana dikenal ada dua macam puasa yang dikenal dalam Alkitab yaitu ―puasa penuh‖ dan ―puasa sebagian.‖ Puasa penuh ialah puasa tanpa makan dan minum. Ini terlihat dari puasa yang diperintahkan Ester kepada Mordekhai (Ester 4:16). Dan puasa sebagian ialah puasa yang tidak berpantang sepenuhnya. Ini nyata dalam kasus Yesus , yang oleh beberapa ahli disebutkan bahwa menjelang akhir puasa Ia (Yesus) lapar‖. Menurut beberapa ahli hal ini menunjukkan bahwa dalam berpuasa Yesus berpantang makanan dan bukan air (Lukas 4:2).

Sebagaimana ibadah, puasa juga terdiri dari dua macam yaitu puasa umum (corporate fasting) dan puasa individu/perorangan (personal fasting). Yang dapat dilihat dari puasa yang diperintahkan Ester kepada Mordekhai adalah puasa umum yang melibatkan seluruh bangsa Yahudi pada saat itu, sedangkan puasa individu/ personal adalah puasa yang dilakukan oleh Yesus.

Harus diingat bahwa tujuan berpuasa bukan hanya sekedar menahan diri atau berpantang terhadap makan maupun minuman. Tetapi yang perlu selalu di ingat ialah bahwa berpuasa itu harus selalu berpusat pada Allah. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh John Wesley sebagaimana dikutip oleh R Foster : Pertama, biarlah puasa dilakukan bagi Allah dengan mata kita tertuju kepada Dia saja. Biarlah tujuan kita berpuasa itu hanya satu, dan satu ini saja yaitu memuliakan Bapa kita yang ada di sorga.

Sebagai sebuah disiplin rohani, disiplin puasa akan menolong bukan hanya sekedar belajar untuk menguasai atau mengontrol nafsu dan keinginan makan dan minum, tetapi disiplin puasa menolong untuk belajar menahan diri dari hal-hal yang bersifat keinginan diri manusia, dalam kaitannya dengan hawa nafsu yang tanpa kendali. Serta bagaimana dapat menahan dan menolak semua keinginan itu dan berfokus pada Tuhan Allah.

4. Disiplin Keheningan

Disiplin keheningan secara sederhana dapat diartikan sebagai menahan diri dari berbicara untuk sementara waktu guna mencapai tujuan rohani. Hal senada diungkapkan Whitney dengan mengatakan: The discipline of silence is the voluntary and temporarily abstention from speaking so that certain spirititual goals might be sought. Keheningan di sini mengacu pada situasi di mana seseorang berhenti berbicara sejenak, untuk menenangkan diri dan mendengar dari hati yang terdalam baik suara dirinya sendiri maupun suara Tuhan, lewat dialog internal yang terjadi dalam diri seseorang dan dialog dengan Tuhan.

Dengan kata lain keheningan itu mengarah pada saat seseorang berada dalam keadaan tenang tanpa gangguan apa pun untuk bersama dengan Tuhan mendengar Tuhan berbicara secara pribadi, yang oleh Whitney disebut  just to be alone with God. Tuhan Yesus telah memberikan contoh tentang pentingnya momen bersama Bapa yang Ia lakukan masa hidup dan pelayanan-Nya di dunia ini.

Di dalam Matius 14:23 dikatakan  Setelah Yesus mendengar berita itu, menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi.‖ Walaupun dalam konteks perikop ini Yesus pada akhirnya harus mengajar dan memberi makan lima ribu orang. 

Frasa  Yesus menyingkir dari dan hendak mengasingkan diri …ke tempat sunyi. Mengindikasikan bahwa di tengah-tengah kesibukan-Nya yang tinggi Yesus masih menyempatkan diri untuk mengasingkan diri ke tempat sunyi untuk bersama dengan Bapa. Dalam bagian Injil yang lain mencatat bahwa Yesus juga melakukan hal yang sama Ia pergi tempat yang sunyi .

Dalam Injil Lukas 4:42 dikatakan  Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi… Dari catatan Injil di atas dapat disimpulkan bahwa pergi mengasingkan diri ke tempat yang sunyi adalah merupakan kebiasaan yang dilakukan Yesus setelah melayani dan mengajar banyak orang tentang kerajaan Allah, Tuhan Yesus selalu menyediakan waktu bersama dengan Bapa.

Baca Juga: Makna Dan Tujuan Disiplin Rohani Orang Kristen

Keteladanan Yesus yang menyediakan waktu dengan mengasingkan diri untuk berdamai dengan Bapa dalam keheningan harusnya menjadi teladan dalam membangun disiplin keheningan. Karena itu terkait dengan kepentingan menyediakan waktu dan tempat yang sunyi dalam keadaan sendiri dan dalam keheningan untuk mendengar suara Tuhan, whitney menyatakan: Wherever it is, we need to find a place to be alone to hear the voice of Him whose presence is unseen yet more real than any other.

IBADAH

Secara etimologis kata ibadah berasal dari kata dasar bahasa Ibrani abad‖ (avad), yang berarti mengabdi‘. Dari sudut makna/ isinya, maksud kata ABODAH‘ dalam Perjanjian Lama selalu mengacu pada penyembahan di dalam bait Allah yang merupakan titik pusat ibadah dalam arti umum, yaitu ketaatan pada perintah-perintah Tuhan dan pengabdian kepada-Nya.

Dalam bahasa Yunani digunakan kata letherea yang berarti 'pengabdian', yang selalu dipakai dalam hubungan dengan "ibadah' (penyembahan). A. W. Tozer, seperti yang dikutip dalam D. J. Fant, A.W. Tozer dalam Christian Publications, mengartikan ibadah itu sebagai upaya merasakan, serta ekspresi rasa hormat dan kekaguman kita di hadapan Allah Bapa kita yang ada di surga.

Dallas Willard dengan jelas mengatakan bahwa ibadah itu bukan hanya sekedar memuji dan membesarkan nama Tuhan, tetapi jauh lebih dari itu ibadah adalah sebuah perayaan kebesaran dan kasih setia Tuhan.

Ibadah pada dasarnya adalah perjumpaan dengan Allah baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Pengalaman Yesaya memberikan gambaran tentang perjumpaan dengan Allah dalam sebuah penglihatan (Yesaya 6:1-3). Steward sebagaimana yang dikutip oleh Laura Jonker mengatakan bahwa ibadah bertujuan untuk mengalami Tuhan yang hadir dalam ibadah.

Elass Mateen pada bagian lain mengatakan bahwa ibadah itu sebagai disiplin rohani dapat dilakukan di mana saja sebagai ibadah umum maupun ibadah pribadi

IBADAH PRIBADI

A.W. Tozer membagi ibadah dalam dua bagian, yaitu apa yang disebut sebagai ibadah umum (corporate worship) dan ibadah pribadi (personal worship).

Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Phil Coleman yang mengatakan bahwa ibadah pribadi seharusnya mendahului ibadah umum. Coleman melihat bahwa ibadah pribadi itu bermuara dari ibadah umum

Tim Challies mengatakan bahwa ibadah pribadi ialah ibadah yang dilakukan secara individu. Karena itu Challies mengusulkan agar ibadah pribadi itu dilakukan dengan menjauhkan diri dari keramaian, anak-anak, sahabat maupun pasangan. Carilah tempat yang sunyi/tenang, dengan posisi yang tepat dan nyaman seperti berlutut, duduk, berbaring bahkan berjalan. Dengan susunan ibadah sebagai berikut,

1. Menghampiri Bapa, melalui Yesus. Mulailah ibadah pribadi dengan mengakui bahwa hanya melalui Yesus Kristus Anda dapat menghampiri Allah Bapa. Lewat karya Kristus di atas kayu salib yang telah menebus Anda, seraya menyadari ketidakberdayaan Anda di hadapan-Nya (Efesus 2:18).

2. Pengagungan dan Pujian. Kekaguman terhadap kebesaran Tuhan seharusnya menghasilkan sukacita yang besar bagi anak Tuhan. Datanglah di hadapan-Nya dengan memuji dan memuliakan Allah, karena Dia lah Allah yang Agung dan maha mengasihi, kekal selama-lamanya. (Mazmur 37:4).

3. Pengakuan dosa (Memeriksa Diri dan Mengakui Dosa-dosa). Dalam ibadah pribadi ada pertobatan pribadi, dengan mengakui segala kelemahan, dosa, dan cacat cela. Minta Allah mengampuni dosa-dosa itu, dengan meyakini bahwa Ia adalah setia yang akan mengampuni segala kesalahan dan dosa (1 Yohanes 1:9).

4. Masuk dalam Persekutuan (Mengungkapkan kerinduan untuk bersekutu dengan Dia). Datang ke hadapan-Nya dengan dengan segala kerendahan hati, serta ketidakberlayaan Anda. Untuk memohon dari hati dan mengekspresikan kerinduan hati yang Anda yang terdalam untuk bersekutu dengan Dia dalam keintiman.(Mazmur 42:1-2).

5. Pembacaan Mazmur. Bacalah bagian dari kitab Mazmur, sedapatnya bacalah dengan bersuara, atau pembacaan dalam hati tanpa menggunakan suara.

6. Merenungkan Firman Tuhan. Pusatkan hati dan pikiran untuk membaca dan merenungkan Firman. Mulailah dengan memohon Roh Allah memberikan pencerahan agar Allah berbicara melalui Firman-Nya. Baca bagian dari Firman dengan meyakini bahwa Tuhan berbicara kepada Anda melalui Firman-Nya dan Anda sedang mendengar suara-Nya. Dalam suasana perenungan bacalah bagian atau ayat-ayat tertentu, mintalah hikmat dari Tuhan untuk mengerti dan merefleksikannya dalam kehidupan anda.

7. Bersyafaat. Bawalah dalam di hadapan Allah apa yang menjadi kebutuhan dan beban orang lain. Teman, keluarga, pemimpin gereja, pemerintah, yang mengalami musibah, fakir miskin, dan yang menderita sebagai korban perang.

8. Doa permohonan pribadi. Membawa permohonan pribadi di hadapan Tuhan, terkait dengan kerinduan dan beban hati Anda, memohon pimpinan, pemeliharaan, pembebasan, hikmat dan ketabahan dalam menghadapi berbagai tantang dan kesulitan yang Anda dan keluarga hadapi. Bawa semua permohonan Anda di hadapan-Nya dengan iman dan penuh kerendahan hati dengan keyakinan bahwa akan mendengar kerinduan hati Anda.

9. Mengucap Syukur. Doa ucapan syukur berisikan ungkapan hati yang mensyukuri anugerah keselamatan yang telah Anda terima, kasih setia Tuhan, pimpinan dan pemeliharaan-Nya yang begitu sempurna, dan bersyukurlah atas kesempatan Anda boleh bersama dengan Dia.

10. Menyerahkan hari ini kepada Tuhan. Serahkan kegiatan sepanjang hari ke dalam tangan Tuhan. Meminta pertolongan, kesabaran, bimbingan, hikmat, iman dan yang lainnya secara spesifik, agar Anda dapat melewati hari ini dengan penyertaan-Nya.

Tim Challis meyakini bahwa apabila urut-urutan ibadah pribadi ini dilakukan dengan baik akan sangat bermanfaat untuk membangun hubungan yang indah bersama Tuhan

DISIPLIN ROHANI SEBAGAI IBADAH PRIBADI

Ibadah Dan Disiplin Doa

Menurut J.G.S. Thomson berdoa merupakan ibadah yang mencakup sikap seseorang ketika ia mendekatkan dirinya kepada Tuhan. Orang Kristen dikatakan beribadah kepada Tuhan jika ia mengakui dan mengagungkan Allah, memuji serta memuliakan Nama-Nya serta menaikkan doa dan permohonan kepada-Nya. Dengan kata lain, doa adalah bagian penting dalam ibadah pribadi, karena di dalam doa orang percaya berinteraksi dengan Tuhan, serta kesempatan untuk merasakan anugerah dan pemeliharaan Tuhan dalam hidupnya

BACA JUGA: TANDA KEDEWASAAN ROHANI DAN PEMURIDAN

Hudgest menekankan pentingnya doa dalam ibadah bersama dalam gereja, ia juga menekankan bahwa doa adalah juga merupakan bagian penting dalam ibadah pribadi. Oleh karena itu membangun disiplin doa itu menjadi suatu keharusan.

Ibadah Dan Disiplin Meditasi

Disiplin meditasi adalah saat-saat di mana seseorang dibawa ke dalam sebuah perenungan di hadapan Tuhan, merenung dan merefleksikan Tuhan dalam segala kebesaran dan keagungan-Nya. Hal itu lebih nyata lagi terlihat dalam konteks ibadah pribadi di hadapan Tuhan. Richard Foster mengatakan bahwa, ―Meditasi selalu merupakan bagian utama dari ibadah Kristen. Karena dengan bermeditasi dalam ibadah pribadi itu mengarahkan seseorang untuk memasuki hadirat Allah yang hidup, karena pada saat bermeditasi dalam ibadah pribadi seseorang memasuki suatu momen di mana ia mendengar Allah berbicara dan terus menerus berbicara kepadanya.

Ibadah Dan Disiplin Keheningan

Ibadah kepada Tuhan tidak selalu harus mengeluarkan kata-kata, bunyi atau gerakan serta tindakan-tindakan peragaan, namun ibadah juga diungkapkan dalam bentuk ketenangan dan keheningan.

Hal ini diungkapkan secara jelas dalam kitab suci; Nabi Habakuk umpamanya menyerukan agar seluruh dunia berdiam diri dan hening ketika menghadap Allah dalam bait-Nya, Tetapi TUHAN ada di dalam bait-Nya yang kudus. Berdiam dirilah di hadapan-Nya, ya segenap bumi. (Habakuk 2:20).

Nabi Zefanya juga menyatakan hal yang sama tentang pentingnya berdiam diri di hadapan Allah, yang ia ungkapkan sebagai berikut: ―Berdiam dirilah di hadapan Tuhan ALLAH… (Zefanya 1:7). Walaupun perikop ini berbicara tentang hari penghakiman pada akhir zaman, Nabi Zefanya mengingatkan pentingnya berdiam diri ketika menghadap Allah, bahkan pada hari penghakiman sekalipun.

Berdiam diri/hening di hadapan Tuhan menjadi bagian yang sangat penting dalam menghadap Tuhan, baik itu dalam konteks ibadah umum maupun dalam konteks ibadah pribadi. Di mana seseorang dituntut untuk berdiam diri dengan tenang di hadapan Tuhan

Sedangkan tujuan dari menenangkan diri dalam keheningan di hadapan Tuhan adalah dalam rangka mendengar Tuhan berbicara dalam keheningan

Kesimpulan

Untuk mengakhiri pembahasan tentang disiplin rohani sebagai ibadah pribadi, tulisan Kelli Mahoney akan menolong untuk lebih memahami disiplin rohani dan ibadah pribadi dengan mengatakan demikian, As we practice the spiritual discipline of worship, we learn to experience God in His Glory. We easily identify His works in our lives. We seek out our time with God in prayer or conversation. We never feel alone, because we always know God is right there with us. Worship is an ongoing experience and connection with God.Alfius Areng Mutak, DISIPLIN ROHANI SEBAGAI IBADAH PRIBADI
Next Post Previous Post