Allah Masih Menyembuhkan

Allah Masih Menyembuhkan

Pendahuluan

God Still Heals atau "Allah Masih Menyembuhkan" merupakan keyakinan yang dipegang oleh banyak orang Kristen berdasarkan kesaksian Alkitab tentang kuasa Allah yang tidak berubah. Dari Kejadian hingga Wahyu, Allah dinyatakan sebagai Pribadi yang sanggup menyembuhkan penyakit, memulihkan kehidupan yang hancur, dan mengangkat umat-Nya dari penderitaan. Namun, muncul pertanyaan penting di kalangan gereja masa kini: Apakah Allah masih menyembuhkan pada zaman sekarang? Jika ya, bagaimana kita memahami mukjizat kesembuhan dalam terang Alkitab dan teologi Reformed?

Sebagian orang menganggap bahwa mukjizat kesembuhan hanya terjadi pada zaman para rasul, sedangkan yang lain percaya bahwa setiap orang percaya dapat menuntut kesembuhan secara mutlak. Di antara kedua pandangan tersebut, teologi Reformed menawarkan pendekatan yang lebih seimbang: Allah tetap berkuasa menyembuhkan kapan pun Ia berkenan, tetapi tidak pernah mengikat diri-Nya pada kehendak manusia. Kesembuhan adalah tindakan kasih karunia Allah yang berada di bawah kedaulatan-Nya.

Artikel ini akan menguraikan tema God Still Heals melalui eksposisi ayat-ayat Alkitab, pandangan para teolog Reformed seperti John Calvin, Herman Bavinck, Louis Berkhof, R. C. Sproul, John Piper, Sinclair Ferguson, serta pemikiran para ahli teologi dan penafsir Alkitab lainnya.

Allah Adalah Tabib yang Menyembuhkan

Salah satu penyataan paling awal mengenai karakter Allah ditemukan dalam kitab Keluaran.

Keluaran 15:26 (AYT)
"... sebab Aku adalah TUHAN yang menyembuhkan engkau."

Nama Allah di sini sering dikenal sebagai YHWH Rapha, yaitu Tuhan Sang Penyembuh.

Dalam konteksnya, Allah baru saja membebaskan Israel dari Mesir. Penyembuhan yang dimaksud bukan hanya fisik, tetapi juga mencakup pemulihan kehidupan umat yang taat kepada-Nya. Sejak awal Alkitab, penyembuhan dipahami sebagai bagian dari relasi perjanjian antara Allah dan umat-Nya.

Allah tidak hanya menciptakan tubuh manusia, tetapi juga memelihara dan memulihkannya sesuai dengan hikmat dan kehendak-Nya.

Yesus Kristus Menyatakan Kuasa Kesembuhan Allah

Pelayanan Yesus dipenuhi oleh mukjizat kesembuhan.

Matius menulis:

Matius 4:23 (AYT)
"Yesus berkeliling ke seluruh Galilea ... memberitakan Injil Kerajaan dan menyembuhkan segala penyakit serta segala kelemahan di antara bangsa itu."

Mukjizat-mukjizat tersebut memiliki beberapa tujuan.

Pertama, menunjukkan identitas Yesus sebagai Mesias yang dijanjikan.

Kedua, menyatakan datangnya Kerajaan Allah.

Ketiga, memperlihatkan belas kasihan Allah kepada manusia yang menderita.

Keempat, menjadi tanda bahwa Kristus datang untuk memulihkan seluruh ciptaan yang telah dirusak oleh dosa.

Kesembuhan fisik selalu menunjuk kepada pemulihan yang lebih besar, yaitu keselamatan.

Eksposisi Yakobus 5:14–16

Salah satu bagian Perjanjian Baru yang paling sering dibahas mengenai kesembuhan adalah Yakobus 5.

Yakobus 5:14-15 (AYT)
"Apakah ada di antara kamu yang sakit? Baiklah ia memanggil para penatua jemaat supaya mereka mendoakannya dan mengolesinya dengan minyak dalam nama Tuhan. Doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu, dan Tuhan akan membangunkannya..."

Ayat ini menunjukkan beberapa prinsip penting.

1. Orang sakit didorong mencari Tuhan

Yakobus tidak mengajarkan keputusasaan.

Sebaliknya, orang percaya diminta datang kepada Allah melalui doa gereja.

2. Penatua memiliki peran pastoral

Kesembuhan bukan sekadar pengalaman pribadi.

Gereja dipanggil mendampingi orang sakit melalui doa dan penghiburan.

3. Minyak bukan benda ajaib

Dalam banyak penafsiran Reformed, minyak melambangkan pengudusan atau merupakan sarana praktis yang dikenal pada zaman itu. Kuasa penyembuhan tetap berasal dari Tuhan, bukan dari minyak itu sendiri.

4. Kesembuhan berada di tangan Allah

Yakobus menegaskan bahwa "Tuhan akan membangunkannya."

Subjek utama tetap Allah.

Apakah Allah Masih Menyembuhkan Saat Ini?

Jawaban Alkitab adalah ya.

Allah tidak berubah.

Ibrani 13:8 berkata:

"Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya."

Namun ayat ini berbicara tentang ketetapan pribadi Kristus, bukan janji bahwa setiap bentuk mukjizat akan selalu terjadi dengan frekuensi yang sama. Teologi Reformed menegaskan bahwa Allah tetap dapat melakukan mukjizat kapan pun Ia menghendakinya.

Mukjizat tidak pernah berhenti karena Allah kehilangan kuasa.

Mukjizat selalu bergantung pada kehendak-Nya yang berdaulat.

Pandangan John Calvin

John Calvin sering disalahpahami seolah-olah menolak semua mukjizat setelah zaman rasul.

Padahal Calvin menegaskan bahwa Allah tetap bebas melakukan mukjizat kapan pun.

Dalam Institutes of the Christian Religion, Calvin menulis bahwa Allah tidak pernah kehilangan kuasa-Nya.

Namun Calvin membedakan antara karunia mukjizat sebagai tanda kerasulan dengan kuasa Allah yang terus bekerja sepanjang sejarah.

Menurut Calvin:

  • Allah masih menjawab doa.
  • Allah masih menyembuhkan.
  • Allah tetap bekerja secara luar biasa apabila berkenan.

Tetapi tidak seorang pun dapat mengklaim memiliki kuasa mukjizat sebagai hak pribadi.

Herman Bavinck

Dalam Reformed Dogmatics, Herman Bavinck menjelaskan bahwa mukjizat bukan pelanggaran terhadap hukum alam.

Mukjizat adalah tindakan Allah sebagai Pencipta yang memerintah seluruh ciptaan.

Karena itu, tidak ada alasan teologis untuk mengatakan bahwa Allah berhenti melakukan mukjizat.

Namun Bavinck mengingatkan bahwa tujuan utama mukjizat bukan menghibur rasa ingin tahu manusia, melainkan menyatakan kemuliaan Allah.

Louis Berkhof

Louis Berkhof menekankan bahwa providensia Allah mencakup pemeliharaan tubuh manusia.

Allah dapat memakai:

  • dokter,
  • obat,
  • operasi,
  • proses alami,
  • maupun mukjizat langsung.

Semuanya tetap berada di bawah kedaulatan Allah.

Karena itu, mencari pengobatan medis bukanlah tanda kurang iman.

Justru ilmu kedokteran merupakan salah satu sarana pemeliharaan Allah.

R. C. Sproul

Sproul berulang kali mengingatkan bahwa Allah selalu menjawab doa.

Namun jawaban Allah bisa berupa:

  • ya,
  • tidak,
  • atau tunggu.

Menurut Sproul, doa kesembuhan bukan usaha memaksa Allah.

Doa adalah penyerahan diri kepada kehendak-Nya.

Sproul juga menolak ajaran bahwa iman yang cukup pasti menghasilkan kesembuhan fisik.

John Piper

John Piper percaya bahwa Allah masih menyembuhkan secara supranatural.

Namun ia juga mengajarkan bahwa penderitaan dapat dipakai Allah untuk menghasilkan kekudusan.

Ia sering mengutip pengalaman Paulus yang memiliki "duri dalam daging."

Allah tidak mengangkat penderitaan Paulus, tetapi memberikan kasih karunia yang cukup.

Dengan demikian, mukjizat terbesar bukan selalu kesembuhan tubuh, melainkan kesetiaan Allah menopang umat-Nya.

Sinclair Ferguson

Ferguson menjelaskan bahwa pelayanan penyembuhan Yesus merupakan gambaran awal dari pemulihan sempurna yang akan datang dalam ciptaan baru.

Setiap kesembuhan di dunia sekarang hanyalah pendahuluan.

Kesembuhan yang sempurna baru akan dialami ketika Kristus datang kembali.

Richard B. Gaffin Jr.

Dalam pembahasannya mengenai karunia Roh Kudus, Gaffin menekankan bahwa mukjizat pada zaman rasul memiliki fungsi penting sebagai tanda yang meneguhkan pewahyuan rasuli. Meskipun demikian, ia tidak menyimpulkan bahwa Allah tidak lagi dapat menyembuhkan. Yang dibedakannya adalah antara karunia tanda yang terkait dengan fondasi gereja mula-mula dan kebebasan Allah untuk bertindak secara ajaib kapan pun sesuai kehendak-Nya.

Kesembuhan dalam Rencana Penebusan

Yesaya 53:5 berkata:

"Oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh."

Dalam Perjanjian Baru, ayat ini dikutip dalam konteks karya Kristus.

Sebagian mengartikannya sebagai jaminan kesembuhan fisik sekarang.

Namun mayoritas penafsir Reformed memahami bahwa konteks utama ayat tersebut adalah penyembuhan dari dosa.

Keselamatan mencakup tubuh dan jiwa.

Namun pemulihan tubuh secara sempurna akan terjadi pada kebangkitan orang percaya.

Mengapa Allah Tidak Selalu Menyembuhkan?

Ini merupakan pertanyaan yang sulit.

Alkitab sendiri memberikan beberapa contoh.

  • Paulus tidak disembuhkan dari duri dalam dagingnya (2 Korintus 12).
  • Timotius sering sakit (1 Timotius 5:23).
  • Trofimus ditinggalkan Paulus dalam keadaan sakit (2 Timotius 4:20).

Semua ini menunjukkan bahwa bahkan pada zaman para rasul tidak setiap orang mengalami kesembuhan secara ajaib.

Allah mempunyai tujuan yang lebih besar daripada kenyamanan manusia.

Kadang melalui penyakit, Allah membentuk karakter, memperdalam iman, dan menyatakan kemuliaan-Nya.

Hubungan Doa dan Kesembuhan

Alkitab memerintahkan orang percaya untuk berdoa bagi yang sakit.

Namun doa Kristen berbeda dari tuntutan.

Doa adalah permohonan penuh iman sekaligus penyerahan kepada kehendak Allah.

Yesus sendiri berdoa di Getsemani:

"Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang jadi."

Inilah teladan tertinggi dalam doa.

Relevansi Bagi Gereja Masa Kini

Gereja perlu menghindari dua ekstrem.

Ekstrem pertama adalah skeptisisme yang menganggap Allah tidak lagi bekerja secara ajaib.

Ekstrem kedua adalah sensasionalisme yang menjadikan mukjizat sebagai ukuran utama iman.

Alkitab mengajarkan jalan yang lebih seimbang.

Kita percaya Allah mampu menyembuhkan.

Kita berdoa dengan iman.

Kita menggunakan sarana medis dengan syukur.

Kita menerima kehendak Allah dengan kerendahan hati.

Dan kita tetap berharap pada pemulihan sempurna di dalam Kristus.

Aplikasi Praktis

Pertama, bawalah setiap penyakit kepada Tuhan dalam doa, sambil percaya bahwa Dia sanggup menyembuhkan.

Kedua, jangan menganggap penggunaan dokter atau obat sebagai lawan dari iman. Allah sering memakai profesi medis sebagai alat pemeliharaan-Nya.

Ketiga, hindari menghakimi orang sakit seolah-olah mereka kurang beriman. Alkitab tidak mengajarkan bahwa semua penyakit adalah akibat kurangnya iman.

Keempat, tetaplah berharap sekalipun kesembuhan belum terjadi. Allah dapat memuliakan diri-Nya melalui kesembuhan maupun melalui ketekunan dalam penderitaan.

Kelima, arahkan pandangan kepada pengharapan eskatologis. Di dalam Kristus, setiap orang percaya memiliki janji bahwa pada akhirnya tidak akan ada lagi penyakit, dukacita, atau maut (Wahyu 21:4).

Kesimpulan

Tema God Still Heals: Allah Masih Menyembuhkan menegaskan bahwa Allah yang menyatakan diri sebagai YHWH Rapha tetap berkuasa menyembuhkan pada masa kini. Kesaksian Alkitab, mulai dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru, menunjukkan bahwa penyembuhan merupakan salah satu cara Allah menyatakan belas kasihan dan kemuliaan-Nya. Namun, Alkitab juga mengajarkan bahwa kesembuhan selalu berada di bawah kedaulatan Allah, bukan di bawah kendali atau tuntutan manusia.

Pandangan para teolog Reformed seperti John Calvin, Herman Bavinck, Louis Berkhof, R. C. Sproul, John Piper, Sinclair Ferguson, dan Richard B. Gaffin Jr. memperlihatkan keseimbangan yang penting: Allah tetap mampu dan bebas melakukan mukjizat, tetapi Ia juga bekerja melalui sarana-sarana biasa seperti doa, gereja, tenaga medis, dan proses alamiah. Mukjizat bukanlah tujuan akhir, melainkan tanda yang menunjuk kepada karya penebusan Kristus.

Karena itu, orang percaya dipanggil untuk berdoa dengan iman, menerima pertolongan medis dengan syukur, serta mempercayakan hasil akhirnya kepada kehendak Allah yang sempurna. Pengharapan terbesar bukan hanya kesembuhan sementara di dunia ini, melainkan pemulihan sempurna ketika Kristus datang kembali dan menghapus segala penyakit, penderitaan, dan maut. Di dalam pengharapan itulah gereja dapat dengan yakin berkata: God Still Heals—Allah Masih Menyembuhkan, menurut hikmat, kasih, dan kedaulatan-Nya.

Next Post Previous Post