UNCONDITIONAL ELECTION (PEMILIHAN TANPA SYARAT) PDT. BUDI ASALI, M.DIV.

PDT. BUDI ASALI, M.DIV.
PEMILIHAN TANPA SYARAT. 

Doktrin pemilihan yang tidak bersyarat ini lebih lazim dikenal dengan sebutan Predestinasi.

A) Definisi Predestinasi.

1) Sejak semula (sebelum penciptaan segala sesuatu) Allah sudah menetapkan orang-orang tertentu untuk diselamatkan / masuk ke surga. Sisanya ditetapkan untuk binasa / masuk ke neraka.

2) Allah menentukan semua ini semata-mata berdasarkan kehendakNya sendiri, dan sama sekali bukan karena apapun yang ada atau yang akan ada dalam diri orang-orang itu.

3) Penetapan Allah ini pasti terjadi / tidak mungkin gagal.

Kalau saudara menginginkan definisi Predestinasi yang lebih terperinci, yang betul-betul disusun dengan kata-kata ilmu hukum, saudara bisa melihat ‘Westminster Confession of Faith’, Chapter III, no 3,4,5,6,7 di bawah ini:

a) “By the decree of God, for the manifestation of His glory, some men and angels are predestinated unto everlasting life; and others foreordained to everlasting death” (= Oleh ketetapan Allah, bagi perwujudan kemuliaanNya, sebagian manusia dan malaikat telah dipredestinasikan untuk hidup yang kekal; sedangkan yang lain ditetapkan untuk kebinasaan yang kekal).

Penekanan bagian ini: baik manusia maupun malaikat, sebagian ditetapkan untuk selamat, sebagian lainnya ditetapkan untuk binasa.

b) “These angels and men, thus predestinated, and foreordained, are particularly and unchangeably designed, and their number so certain and definite, that it cannot be either increased or diminished” (= Para malaikat dan manusia yang sudah dipredestinasikan dan ditetapkan lebih dahulu ini, direncanakan secara khusus dan tak bisa berubah, dan jumlah mereka adalah begitu pasti dan tertentu, sehingga tidak dapat bertambah atau berkurang).

Penekanan bagian ini: Predestinasi itu tidak bisa berubah / gagal.

c) “Those of mankind that are predestinated unto life, God, before the foundation of the world was laid, according to His eternal and immutable purpose, and the secret counsel and good pleasure of His will, hath chosen, in Christ, unto everlasting glory, out of His mere free grace and love, without any foresight of faith, or good works, or perseverance in either of them, or any other thing in the creature, as conditions, or causes moving Him thereunto: and all to the praise of His glorious grace” (= Sebagian dari umat manusia yang telah dipredestinasikan untuk memperoleh hidup kekal, sebelum dunia dijadikan, sesuai rencanaNya yang kekal dan tidak bisa berubah, serta rencana rahasia dan kerelaan kehendakNya, oleh Allah telah dipilih di dalam Kristus untuk mendapatkan kemuliaan kekal, semata-mata karena kasih karunia dan cintaNya yang cuma-cuma, tanpa lebih dulu melihat akan adanya iman, perbuatan baik, atau ketekunan di dalam diri mereka, atau hal-hal lain apapun dalam ciptaan tersebut, sebagai syarat atau penyebab yang dapat menggerakkanNya ke sana, dan semuanya ini bagi pujian kasih karuniaNya yang mulia).

Penekanan bagian ini: pemilihan Allah itu sama sekali tidak didasarkan pada adanya iman, perbuatan baik ataupun ketekunan yang akan ada dalam diri orang pilihan, tetapi semata-mata didasarkan pada kehendak Allah yang berdaulat.

d) “As God hath appointed the elect unto glory, so hath He, by the eternal and most free purpose of His will, foreordained all the means thereunto. Wherefore, they who are elected, being fallen in Adam, are redeemed by Christ, are effectually called unto faith in Christ by His Spirit working in due season, are justified, adopted, sanctified, and kept by His power, through faith, unto salvation. Neither are any other redeemed by Christ, effectually called, justi­fied, adopted, sanctified, and saved, but the elect only” (= Sebagaimana Allah telah menetapkan orang-orang pilihanNya kepada kemuliaan, Dia juga, oleh kehendakNya yang kekal dan bebas, telah menentukan caranya / jalannya untuk mencapai hal itu. Karena itu, mereka yang dipilih, yang telah jatuh di dalam Adam, ditebus oleh Kristus, dipanggil secara efektif ke dalam iman di dalam Kristus oleh RohNya yang bekerja pada saatnya, dibenarkan, diangkat menjadi anak, dikuduskan, dan dipelihara oleh kuasaNya, melalui iman, kepada keselamatan. Tidak ada yang lain yang ditebus oleh Kristus, dipanggil secara efektif, dibenarkan, diangkat menjadi anak, dikuduskan, dan diselamatkan, kecuali orang-orang pilihan saja).

Penekanan bagian ini: bagi orang pilihanNya, Allah tidak hanya menentukan tujuan akhirnya, tetapi juga saat dan cara / jalan untuk mencapai tujuan akhir itu, yaitu melalui Kristus, pekerjaan Roh Kudus, iman dsb.

e) “The rest of mankind God was pleased, according to the unsearchable counsel of His own will, whereby He extendeth or withholdeth mercy, as He pleaseth, for the glory of His sovereign power over His crea­tures, to pass by; and to ordain them to dishonour and wrath for their sin, to the praise of His glorious justice” (= Sisa dari umat manusia lainnya, Allah berkenan, sesuai dengan rencana yang tak terselami dari kehendakNya sendiri, dengan mana Dia memberikan atau menahan belas kasihanNya, sesuai kerelaanNya, untuk kemuliaan dari kuasaNya yang berdaulat atas makhluk ciptaanNya, untuk melewati; dan menentukan mereka kepada kehinaan dan murka untuk dosa-dosa mereka, bagi pujian terhadap keadilanNya yang mulia).

Penekanan bagian ini: selain dari orang pilihan, maka Allah melewati (tidak menyelamatkan) umat manusia yang lain, dan menetapkan mereka untuk dihukum karena dosa-dosa mereka. Dengan demikian terlihat keadilan Allah.

II) Dasar Kitab Suci Predestinasi.

A) Ayat-ayat Kitab Suci tanpa penjelasan / tafsiran / komentar.

Ayat-ayat Kitab Suci tanpa penjelasan / tafsiran / komentar di bawah ini saya berikan untuk menunjukkan:

1. Bahwa di sini tidak ada pemutar-balikan, penafsiran salah, ataupun penafsiran menurut akal sendiri. Ini betul-betul hanyalah ayat Kitab Suci tanpa penjelasan / penafsiran / komentar, sehingga jelas tidak ada pemutar-balikan, penafsiran menurut akal sendiri, dsb!

2. Bahwa Predestinasi bukanlah sekedar merupakan ajaran saya / golongan Reformed / Calvinist / John Calvin, ataupun merupakan penafsiran saya / golongan Reformed / Calvinist / John Calvin tentang Kitab Suci, tetapi betul-betul merupakan ajaran Kitab Suci sendiri!

Dan saya memberikan berpuluh-puluh ayat untuk menunjukkan bahwa ayat dasar untuk Predestinasi bukanlah hanya satu atau dua ayat saja, tetapi sangat banyak!

Janganlah meloncati ayat-ayat Kitab Suci ini, karena tanpa itu saudara tidak akan bisa mengetahui apakah memang Kitab Suci mengajarkan Predestinasi atau tidak! Karena itu, hendaklah saudara, lebih-lebih kalau saudara adalah orang Arminian atau orang yang terpengaruh oleh ajaran Arminian, membaca dan merenungkan ayat-ayat di bawah ini!

1) Ayat-ayat yang menunjukkan / menyebutkan adanya orang pilihan (elect).

Matius 22:14 - “Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih”.

Matius 24:22,24 - “(22) Dan sekiranya waktunya tidak dipersingkat, maka dari segala yang hidup tidak akan ada yang selamat; akan tetapi oleh karena orang-orang pilihan waktu itu akan dipersingkat. ... (24) Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga”.

Matius 24:31 - “Dan Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikatNya dengan meniup sangkakala yang dahsyat bunyinya dan mereka akan mengumpulkan orang-orang pilihanNya dari keempat penjuru bumi, dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain”.

Lukas 18:7a - “Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihanNya yang siang malam berseru kepadaNya?”.

Roma 8:33 - “Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka?”.

Roma 11:5-8 - “(5) Demikian juga pada waktu ini ada tinggal suatu sisa, menurut pilihan kasih karunia. (6) Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia. (7) Jadi bagaimana? Israel tidak memperoleh apa yang dikejarnya, tetapi orang-orang yang terpilih telah memperolehnya. Dan orang-orang yang lain telah tegar hatinya, (8) seperti ada tertulis: ‘Allah membuat mereka tidur nyenyak, memberikan mata untuk tidak melihat dan telinga untuk tidak mendengar, sampai kepada hari sekarang ini.’”.

Roma 16:13 - “Salam kepada Rufus, orang pilihan dalam Tuhan, dan salam kepada ibunya, yang bagiku adalah juga ibu”.

Kolose 3:12 - “Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihiNya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran”.

1Tesalonika 1:4-5 - “(4) Dan kami tahu, hai saudara-saudara yang dikasihi Allah, bahwa Ia telah memilih kamu. (5) Sebab Injil yang kami beritakan bukan disampaikan kepada kamu dengan kata-kata saja, tetapi juga dengan kekuatan oleh Roh Kudus dan dengan suatu kepastian yang kokoh. Memang kamu tahu, bagaimana kami bekerja di antara kamu oleh karena kamu”.

2Timotius 2:10 - “Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal”.

Titus 1:1 - “Dari Paulus, hamba Allah dan rasul Yesus Kristus untuk memelihara iman orang-orang pilihan Allah dan pengetahuan akan kebenaran seperti yang nampak dalam ibadah kita”.

1Petrus 1:1-2 - “(1) Dari Petrus, rasul Yesus Kristus, kepada orang-orang pendatang, yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia, (2) yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darahNya. Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu”.

1Petrus 2:8-9 - “(8) Mereka tersandung padanya, karena mereka tidak taat kepada Firman Allah; dan untuk itu mereka juga telah disediakan. (9) Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib”.

1Petrus 5:13 - “Salam kepada kamu sekalian dari kawanmu yang terpilih yang di Babilon, dan juga dari Markus, anakku”.

2Yohanes 1 - “Dari penatua kepada Ibu yang terpilih dan anak-anaknya yang benar-benar aku kasihi. Bukan aku saja yang mengasihi kamu, tetapi juga semua orang yang telah mengenal kebenaran”.

2Yohanes 13 - “Salam kepada kamu dari anak-anak saudaramu yang terpilih”.

2) Ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Allah memilih / menetapkan / menentukan orang-orang tertentu untuk diselamatkan.

Kis 13:48 - “Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya”.

Kis 22:14 - “Lalu katanya: Allah nenek moyang kita telah menetapkan engkau untuk mengetahui kehendakNya, untuk melihat Yang Benar dan untuk mendengar suara yang keluar dari mulutNya”.

Roma 8:29-30 - “(29) Sebab semua orang yang dipilihNya dari semula, mereka juga ditentukanNya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran AnakNya, supaya Ia, AnakNya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. (30) Dan mereka yang ditentukanNya dari semula, mereka itu juga dipanggilNya. Dan mereka yang dipanggilNya, mereka itu juga dibenarkanNya. Dan mereka yang dibenarkanNya, mereka itu juga dimuliakanNya”.

Efesus 1:4-5 - “(4) Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapanNya. (5) Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anakNya, sesuai dengan kerelaan kehendakNya”.

Efesus 1:11 - “Aku katakan ‘di dalam Kristus’, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan - kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendakNya”.

1Tesalonika 5:9 - “Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita”.

2Tes 2:12-13 - “(12) supaya dihukum semua orang yang tidak percaya akan kebenaran dan yang suka kejahatan. (13) Akan tetapi kami harus selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudara, yang dikasihi Tuhan, sebab Allah dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu dan dalam kebenaran yang kamu percayai”.

Yakobus 2:5 - “Dengarkanlah, hai saudara-saudara yang kukasihi! Bukankah Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia iniuntuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikanNya kepada barangsiapa yang mengasihi Dia?”.

3) Ayat-ayat yang menunjukkan bahwa kehendak / rencana Allahlah yang menentukan / menyebabkan keselamatan seseorang.

Matius 11:25-27 - “(25) Pada waktu itu berkatalah Yesus: ‘Aku bersyukur kepadaMu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. (26) Ya Bapa, itulah yang berkenan kepadaMu. (27) Semua telah diserahkan kepadaKu oleh BapaKu dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya”.

Yohanes 5:21 - “Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendakiNya”.

Roma 10:20 - “Dan dengan berani Yesaya mengatakan: ‘Aku telah berkenan ditemukan mereka yang tidak mencari Aku, Aku telah menampakkan diri kepada mereka yang tidak menanyakan Aku’”.

2Timotius 1:9 - “Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karuniaNya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman”.

Yakobus 1:18 - “Atas kehendakNya sendiri Ia telah menjadikan kita oleh firman kebenaran, supaya kita pada tingkat yang tertentu menjadi anak sulung di antara semua ciptaanNya”.

NIV: “He chose to give us birth through the word of truth, that we might be a kind of firstfruits of all he created” (= Ia memilih untuk melahirkan kita melalui firman kebenaran, supaya kita bisa menjadi buah sulung dari semua ciptaanNya).

4) Ayat-ayat yang menunjukkan bahwa orang-orang tertentu diselamatkan karena karunia Tuhan, sedangkan orang-orang lain binasa, karena Tuhan tidak menghendaki keselamatan mereka.

Matius 13:10-15 - “(10) Maka datanglah murid-muridNya dan bertanya kepadaNya: ‘Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?’ (11) Jawab Yesus: ‘Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak. (12) Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. (13) Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti. (14) Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap. (15) Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka”.

Yoh 12:39-40 - “(39) Karena itu mereka tidak dapat percaya, sebab Yesaya telah berkata juga: (40) ‘Ia telah membutakan mata dan mendegilkan hati mereka, supaya mereka jangan melihat dengan mata, dan menanggap dengan hati, lalu berbalik, sehingga Aku menyembuhkan mereka’”.

5) Ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Allah menyediakan Kerajaan surga / tempat di surga untuk orang-orang tertentu.

Matius 20:23 - “Yesus berkata kepada mereka: ‘CawanKu memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kananKu atau di sebelah kiriKu, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa BapaKu telah menyediakannya’”.

Matius 25:34 - “Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kananNya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh BapaKu, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan”.

6) Ayat-ayat yang menunjukkan bahwa ada orang-orang yang ditentukan untuk dihukum.

Yohanes 17:12 - “Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam namaMu, yaitu namaMu yang telah Engkau berikan kepadaKu; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorangpun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci”.

Amsal 16:4 - “TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing, bahkan orang fasik dibuatNya untuk hari malapetaka”.

Yudas 4 - “Sebab ternyata ada orang tertentu yang telah masuk menyelusup di tengah-tengah kamu, yaitu orang-orang yang telah lama ditentukan untuk dihukum. Mereka adalah orang-orang yang fasik, yang menyalahgunakan kasih karunia Allah kita untuk melampiaskan hawa nafsu mereka, dan yang menyangkal satu-satunya Penguasa dan Tuhan kita, Yesus Kristus”.


8) Ayat-ayat lain yang mendukung adanya Predestinasi.

Yohanes 15:16 - “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam namaKu, diberikanNya kepadamu”.

Yohanes 15:19 - “Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu”.

Kisah Para Rasul  9:15 - “Tetapi firman Tuhan kepadanya: ‘Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagiKu untuk memberitakan namaKu kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel”.

Kisah Para Rasul 18:10 - “Sebab Aku menyertai engkau dan tidak ada seorangpun yang akan menjamah dan menganiaya engkau, sebab banyak umatKu di kota ini”.

Roma 11:25 - “Sebab, saudara-saudara, supaya kamu jangan menganggap dirimu pandai, aku mau agar kamu mengetahui rahasia ini: Sebagian dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk”.

1Kor 1:27-30 - “(27) Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, (28) dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, (29) supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah. (30) Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita”

B) Dasar-dasar lain dari Predestinasi.

1) Pada waktu Allah menciptakan segala sesuatu, maka ada yang diciptakan sebagai benda, sebagai tumbuh-tumbuhan, sebagai binatang, sebagai manusia dan sebagai malaikat. Ini semua dilakukan berdasarkan kehendak dan kemurahan hati Allah, bukan karena Ia melihat akan adanya sesuatu yang baik dalam ciptaanNya itu.

Calvin: “Let them answer why they are men rather than oxen or asses. Although it was in God’s power to make them dogs, he formed them to his own image” [= Biarlah mereka (orang-orang yang menolak Predestinasi) menjawab mengapa mereka adalah manusia dan bukannya sapi atau keledai. Sekalipun Allah berkuasa membuat mereka jadi anjing, Ia membentuk mereka sesuai gambarNya] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XXII, no 1.

Kalau Allah yang berdaulat itu mempunyai hak untuk menciptakan sebagai benda, binatang, tumbuh-tumbuhan, manusia, ataupun malaikat, mengapa Ia tidak mempunyai hak untuk melakukan Predestinasi?

2) Persoalan bayi yang mati.

Ada pandangan-pandangan yang bertentangan tentang seseorang yang mati pada waktu masih bayi. Tetapi ini tidak jadi soal di sini. Kalau bayi mati itu masuk surga berarti bayi itu ditentukan / dipredestinasikan untuk selamat, karena bayi itu masuk surga tanpa ia beriman kepada Kristus ataupun melakukan perbuatan baik apapun juga. Sedangkan kalau bayi mati itu masuk neraka, maka itu berarti bayi itu ditentukan untuk binasa, karena ia tidak diberi kesempatan apapun untuk bertobat / percaya kepada Yesus ataupun berbuat baik. Jadi, apakah kita percaya bahwa bayi mati itu masuk surga atau neraka, tetap menunjukkan bahwa ada predestinasi terhadap bayi-bayi itu. Juga terlihat bahwa predestinasi terhadap bayi-bayi ini tidak tergantung pada iman maupun perbuatannya, karena ia sudah mati tanpa bisa beriman ataupun berbuat apapun.

Catatan: Arminianisme percaya bahwa bayi mati akan masuk surga.

3) Binasanya orang kafir yang mati tanpa Taurat / Injil / kesempatan untuk bertobat.

Ada orang-orang yang dibiarkan oleh Allah untuk mati tanpa kesempatan untuk bertobat:

a) Dalam Perjanjian Lama, di luar orang Yahudi hampir semuanya binasa tanpa kesempatan.

Roma 2:12a - “Sebab semua orang yang berdosa tanpa hukum Taurat akan binasa tanpa hukum Taurat”.

Orang-orang non Yahudi yang selamat hanyalah orang seperti Rahab, Rut, Naaman, dsb, yang masuk ke dalam agama Yahudi.

b) Dalam Perjanjian Baru, ada orang-orang yang mati tanpa pernah mendengar Injil, dan ini juga binasa tanpa ada kesempatan untuk percaya kepada Yesus.

Ro 10:13-14 - “(13) Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. (14) Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepadaNya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakanNya?”.

Text ini membentuk suatu rantai. Orang yang berseru kepada nama Tuhan akan selamat, tetapi ia tidak akan bisa berseru kepada nama Tuhan kalau ia tidak percaya kepada Tuhan. Dan ia tidak akan bisa percaya kepada Tuhan kalau ia tidak pernah mendengar tentang Dia. Dan ia tidak akan bisa mendengar tentang Dia, kalau tidak ada yang memberitakan Injil kepadaNya.

Jadi, kalau tidak ada orang yang memberitakan Injil kepadanya, ia tidak bisa mendengar tentang Dia, sehingga tidak percaya kepadaNya, sehingga tidak bisa berseru kepadaNya, sehingga tidak bisa diselamatkan.

Dengan demikian jelaslah bahwa orang yang tidak diinjili / tidak pernah mendengar tentang Yesus, pasti tidak selamat. Fakta Kitab Suci inilah yang mendasari pengutusan misionaris ke tempat-tempat yang belum pernah dijangkau Injil.

Loraine Boettner: “In fact the belief that the heathens without the Gospel are lost has been one of the strongest arguments in favour of foreign missions” (= Kenyataannya kepercayaan bahwa orang kafir tanpa Injil akan terhilang merupakan salah satu argumentasi terkuat yang mendukung misi asing) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 119.

Bandingkan juga dengan Yeh 33:8 yang berbunyi:

“Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Hai orang jahat, engkau pasti mati! - dan engkau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu supaya bertobat dari hidupnya, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu”.

Loraine Boettner: “When the watchman sees danger coming but does not give the people warning they perish in their iniquity, Ezek. 33:8, - true, the watchman will be held responsible, yet that does not change the fate of the people” (= Pada waktu penjaga melihat bahaya datang tetapi tidak memperingatkan orang-orang, mereka binasa dalam kesalahan mereka, Yeh 33:8, - memang benar bahwa penjaga itu dianggap bertanggung jawab, tetapi itu tidak mengubah nasib orang-orang itu) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 119.

Jelas bahwa orang-orang yang tidak diberi kesempatan untuk bertobat ini, adalah orang-orang yang memang ditetapkan untuk binasa.

Loraine Boettner:

· “The problem of the heathens, who live and die without the Gospel, has always been a thorny one for the Arminians who insist that all men have sufficient grace if they will but make use of it” (= Problem orang kafir, yang hidup dan mati tanpa Injil, selalu menjadi duri bagi orang Arminian, yang berkeras bahwa semua manusia mempunyai kasih karunia yang cukup kalau saja mereka mau menggunakannya) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 118.

· “Only in Calvinism, ... and its doctrine of grace through which some are sovereignly rescued and brought to salvation while others are passed by, do we find an adequate explanation of the phenomenon of the heathen world” (= Hanya dalam Calvinisme, ... dan doktrin kasih karunianya melalui mana beberapa orang secara berdaulat ditolong dan dibawa pada keselamatan sementara yang lain dilewati, bisa kita dapatkan penjelasan yang memadai tentang phenomena dunia kafir) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 121.

4) Pemilihan terhadap Israel dalam Perjanjian Lama.

Ulangan 7:6 & Ul 32:8-9 menunjukkan pemilihan Tuhan atas Israel.

· Ulangan 7:6 - “Sebab engkaulah umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu; engkaulah yang dipilih oleh TUHAN, Allahmu, dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayanganNya”.

· Ul 32:8-9 - “(8) Ketika Sang Mahatinggi membagi-bagikan milik pusaka kepada bangsa-bangsa, ketika Ia memisah-misah anak-anak manusia, maka Ia menetapkan wilayah bangsa-bangsa menurut bilangan anak-anak Israel. (9) Tetapi bagian TUHAN ialah umatNya, Yakub ialah milik yang ditetapkan bagiNya”.

Alasan pemilihan Israel:

¨ Ulangan 4:37 - “Karena Ia mengasihi nenek moyangmu dan memilih keturunan mereka, maka Ia sendiri telah membawa engkau keluar dari Mesir dengan kekuatanNya yang besar”.

¨ Ul 10:14-15 - “(14) Sesungguhnya, TUHAN, Allahmulah yang empunya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit, dan bumi dengan segala isinya; (15) tetapi hanya oleh nenek moyangmulah hati TUHAN terpikat sehingga Ia mengasihi mereka, dan keturunan merekalah, yakni kamu, yang dipilihNya dari segala bangsa, seperti sekarang ini”.

¨ Ul 7:7-8 - “(7) Bukan karena lebih banyak jumlahmu dari bangsa manapun juga, maka hati TUHAN terpikat olehmu dan memilih kamu - bukankah kamu ini yang paling kecil dari segala bangsa? - (8) tetapi karena TUHAN mengasihi kamu dan memegang sumpahNya yang telah diikrarkanNya kepada nenek moyangmu, maka TUHAN telah membawa kamu keluar dengan tangan yang kuat dan menebus engkau dari rumah perbudakan, dari tangan Firaun, raja Mesir”.

¨ Ul 9:4-6 - “(4) Janganlah engkau berkata dalam hatimu, apabila TUHAN, Allahmu, telah mengusir mereka dari hadapanmu: Karena jasa-jasakulah TUHAN membawa aku masuk menduduki negeri ini; padahal karena kefasikan bangsa-bangsa itulah TUHAN menghalau mereka dari hadapanmu. (5) Bukan karena jasa-jasamu atau karena kebenaran hatimu engkau masuk menduduki negeri mereka, tetapi karena kefasikan bangsa-bangsa itulah, TUHAN, Allahmu, menghalau mereka dari hadapanmu, dan supaya TUHAN menepati janji yang diikrarkanNya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni Abraham, Ishak dan Yakub. (6) Jadi ketahuilah, bahwa bukan karena jasa-jasamu TUHAN, Allahmu, memberikan kepadamu negeri yang baik itu untuk diduduki. Sesungguhnya engkau bangsa yang tegar tengkuk!”.

Israel diberi tanah Kanaan (ini jelas berhubungan dengan pemilihan terhadap mereka), bukan karena jasa mereka. Bahkan dikatakan secara explicit bahwa mereka adalah ‘bangsa yang tegar tengkuk’ (Ul 9:6b bdk. Keluaran 32:9).

¨ Bandingkan juga dengan Yeh 16:1-14 di bawah ini, yang jelas menunjukkan ketidak-layakan Israel waktu dipilih / diambil oleh Tuhan.

Yeh 16:1-14 - “(1) Lalu datanglah firman TUHAN kepadaku: (2) ‘Hai anak manusia, beritahukanlah kepada Yerusalem perbuatan-perbuatannya yang keji (3) dan katakanlah: Beginilah firman Tuhan ALLAH kepada Yerusalem: Asalmu dan kelahiranmu ialah dari tanah Kanaan; ayahmu ialah orang Amori dan ibumu orang Heti. (4) Kelahiranmu begini: Waktu engkau dilahirkan, pusatmu tidak dipotong dan engkau tidak dibasuh dengan air supaya bersih; juga dengan garampun engkau tidak digosok atau dibedungi dengan lampin. (5) Tidak seorangpun merasa sayang kepadamu sehingga diperbuatnya hal-hal itu kepadamu dari rasa belas kasihan; malahan engkau dibuang ke ladang, oleh karena orang pandang enteng kepadamu pada hari lahirmu. (6) Maka Aku lalu dari situ dan Kulihat engkau menendang-nendang dengan kakimu sambil berlumuran darah dan Aku berkata kepadamu dalam keadaan berlumuran darah itu: Engkau harus hidup (7) dan jadilah besar seperti tumbuh-tumbuhan di ladang! Engkau menjadi besar dan sudah cukup umur, bahkan sudah sampai pada masa mudamu. Maka buah dadamu sudah montok, rambutmu sudah tumbuh, tetapi engkau dalam keadaan telanjang bugil. (8) Maka Aku lalu dari situ dan Aku melihat engkau, sungguh, engkau sudah sampai pada masa cinta berahi. Aku menghamparkan kainKu kepadamu dan menutupi auratmu. Dengan sumpah Aku mengadakan perjanjian dengan engkau, demikianlah firman Tuhan ALLAH, dan dengan itu engkau Aku punya. (9) Aku membasuh engkau dengan air untuk membersihkan darahmu dari padamu dan Aku mengurapi engkau dengan minyak. (10) Aku mengenakan pakaian berwarna-warna kepadamu dan memberikan engkau sandal-sandal dari kulit lumba-lumba dan tutup kepala dari lenan halus dan selendang dari sutera. (11) Dan Aku menghiasi engkau dengan perhiasan-perhiasan dan mengenakan gelang pada tanganmu dan kalung pada lehermu. (12) Dan Aku mengenakan anting-anting pada hidungmu dan anting-anting pada telingamu dan mahkota kemuliaan di atas kepalamu. (13) Dengan demikian engkau menghias dirimu dengan emas dan perak, pakaianmu lenan halus dan sutera dan kain berwarna-warna; makananmu ialah tepung yang terbaik, madu dan minyak dan engkau menjadi sangat cantik, sehingga layak menjadi ratu. (14) Dan namamu termasyhur di antara bangsa-bangsa karena kecantikanmu, sebab sangat sempurna adanya, oleh karena semarak perhiasanKu yang Kuberikan kepadamu, demikianlah firman Tuhan ALLAH.’”.

Dari semua alasan ini terlihat bahwa Israel dipilih sama sekali bukan karena mereka baik, tetapi karena itulah kehendak Allah. Kalau kita bisa mempercayai bahwa Israel dipilih semata-mata berdasarkan kehendak Allah yang berdaulat, lalu mengapa kita tidak bisa percaya bahwa kitapun dipilih semata-mata berdasarkan kehendak Allah yang berdaulat?

Catatan: Memang pemilihan Israel berbeda dengan Predestinasi, karena tidak semua Israel selamat. Tetapi B. B. Warfield menganggap bahwa Israel ini adalah simbol dari orang pilihan yang sejati.

B. B. Warfield: “... though Israel as a nation constituted the chosen people of God ..., yet we must not lose from sight the fact that the nation as such was rather the symbolical than the real people of God, and was His people at all, indeed, only so far as it was, ideally or actually, identified with the inner body of the really ‘chosen’” (= ... sekalipun Israel sebagai bangsa membentuk umat pilihan Allah ..., tetapi kita tidak boleh mengabaikan fakta bahwa bangsa itu lebih merupakan simbol dari pada umat Allah yang sungguh-sungguh, dan mereka hanya menjadi umatNya kalau mereka secara ideal dan sungguh-sungguh bergabung dengan tubuh dalam dari orang-orang pilihan yang sungguh-sungguh) - ‘Biblical and Theological Studies’, hal 290.

5) Adanya malaikat pilihan.

1Tim 5:21 - “Di hadapan Allah dan Kristus Yesus dan malaikat-malaikat pilihanNya kupesankan dengan sungguh kepadamu: camkanlah petunjuk ini tanpa prasangka dan bertindaklah dalam segala sesuatu tanpa memihak”.

Perhatikan juga Mat 25:41 yang menunjukkan bahwa Tuhan menyiapkan / menyediakan neraka untuk ‘reprobate angels’ (= malaikat-malaikat yang ditetapkan untuk binasa).

Matius 25:41 - “Enyahlah dari hadapanKu, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya”.

Kalau predestinasi bisa terjadi dalam dunia malaikat, mengapa tidak bisa terjadi dalam dunia manusia?

Sebagai tambahan dalam persoalan ini, perlu diketahui bahwa ada perbedaan antara pemilihan pada malaikat dan pada manusia (R. L. Dabney, ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 231-232):

a) Pada manusia: semua manusia berdosa, lalu dari antara mereka dipilih orang-orang tertentu untuk diselamatkan melalui iman.

Pada malaikat: semua malaikat suci, dan dari antara mereka lalu dipilih malaikat-malaikat tertentu. Yang dipilih dijaga supaya tidak jatuh; yang tidak dipilih akan jatuh.

b) Manusia dipilih melalui / di dalam Yesus Kristus.

Malaikat tidak dipilih dalam seorang Pengantara, karena mereka suci dan karena itu tidak memerlukan penebusan.

6) Kitab Kehidupan.

Kitab Kehidupan mencatat nama dari orang-orang yang selamat, atau dengan kata lain, orang yang namanya tercatat dalam Kitab Kehidupan itulah yang akan masuk surga.

Wahyu 21:27 - “Tetapi tidak akan masuk ke dalamnya sesuatu yang najis, atau orang yang melakukan kekejian atau dusta, tetapi hanya mereka yang namanya tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba itu”.

Sebaliknya, orang yang namanya tidak tercatat dalam kitab kehidupan itu akan masuk ke neraka.

Wahyu 20:15 - “Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, dilemparkan ke dalam lautan api itu”.

Sesuatu yang menarik dan harus diperhatikan tentang kitab kehidupan ini ialah bahwa Tuhan bukannya baru menuliskan nama seseorang di dalam kitab itu pada waktu orang itu bertobat / percaya kepada Yesus! Nama seseorang sudah tertulis atau tidak tertulis dalam kitab kehidupan sejak dunia belum dijadikan.

Ini bisa terlihat dalam Wah 13:8 yang berbunyi: “Dan semua orang yang diam di atas bumi akan menyembahnya, yaitu setiap orang yang namanya tidak tertulis SEJAK DUNIA DIJADIKAN di dalam kitab kehidupan dari Anak Domba, yang telah disembelih”.

Bandingkan juga dengan Wah 17:8 yang berbunyi: “Dan mereka yang diam di bumi, yaitu mereka yang tidak tertulis di dalam kitab kehidupan SEJAK DUNIA DIJADIKAN, akan heran, apabila ....”.

Memang kalau kita melihat Wah 13:8 dan Wah 17:8 di atas, kita melihat bahwa kedua ayat itu berbicara tentang orang yang namanya tidak tertulis dalam kitab kehidupan sejak dunia dijadikan. Tetapi bahwa orang-orang tertentu namanya tidak tertulis dalam kitab kehidupan, secara implicit / tidak langsung menunjukkan sebaliknya, yaitu bahwa orang yang namanya ada dalam kitab kehidupan, juga sudah tercatat sebelum dunia dijadikan.

Hal yang perlu kita ketahui tentang Wahyu 13:8 ini adalah bahwa dalam bahasa Yunaninya, kata-kata ‘sejak dunia dijadikan’mempunyai 2 kemungkinan:

a) Dihubungkan dengan ‘penulisan dalam kitab kehidupan’.

Ini sesuai dengan terjemahan Kitab Suci Indonesia, dan juga RSV, NASB, dan ASV.

Wah 13:8 - “Dan semua orang yang diam di atas bumi akan menyembahnya, yaitu setiap orang yang namanya tidak tertulis sejak dunia dijadikan di dalam kitab kehidupan dari Anak Domba, yang telah disembelih”.

Kalau dipilih arti ini, maka Wah 13:8 ini menjadi seperti Wah 17:8.

b) Dihubungkan dengan ‘penyembelihan Anak Domba’.

Ini sesuai dengan KJV yang menterjemahkan:

“... whose names are not written in the book of life of the Lamb slain from the foundation of the world” (= ... yang namanya tidak tertulis dalam kitab kehidupan dari Anak Domba yang disembelih sejak dunia dijadikan).

NIV dan NKJV menterjemahkan seperti KJV.

William Barclay memilih pandangan yang pertama, dengan berkata: “We have in these two translations two equally precious truths. But, if we must choose, we must choose the first, because there is no doubt that is the way in which John uses the phrase when he repeats it in Revelation 17:8” (= Dalam kedua terjemahan ini kita mempunyai dua kebenaran yang sama berharga. Tetapi, jika kita harus memilih, kita harus memilih yang pertama, karena tidak ada keraguan bahwa demikianlah Yohanes menggunakan ungkapan itu ketika ia mengulanginya dalam Wahyu 17:8).

Catatan: perlu diingat bahwa andaikatapun yang benar dari dua kemungkinan ini adalah yang kemungkinan yang kedua, tetap ada Wah 17:8 yang jelas-jelas berbicara bahwa tertulisnya / tidak tertulisnya nama dalam kitab kehidupan itu sudah dilakukan sejak dunia dijadikan!

William Barclay, yang bukanlah seorang Calvinist, menafsirkan arti ungkapan itu dengan berkata:

“The meaning would then be that God has chosen his own from before the beginning of time, and nothing in life or in death, nothing in time or eternity, nothing that the Devil or the Roman Empire can ever do can pluck them from his hand” (= Artinya adalah bahwa Allah telah memilih milikNya sejak sebelum permulaan waktu, dan tidak ada sesuatupun dalam kehidupan atau kematian, tidak ada sesuatupun dalam waktu atau kekekalan, tidak ada sesuatupun yang bisa dilakukan oleh Setan atau Kekaisaran Romawi yang bisa mengambil mereka dari tanganNya).

George Eldon Ladd, yang juga bukan seorang Calvinist, dalam tafsirannya tentang Wah 13:8 berkata:

“For the book of life, see 3:5. Here and in 21:27, it is called the Lamb’s book of life. It is the register of those who have been saved by faith in the crucified Lamb of God. That their names were written before the foundation of the world carries the assurance that even though they seem to be powerless before the attacks of the beast, they are really in the keeping providence of God and have been since the foundation of the world. ‘Before the foundation of the world’ grammatically can modify either ‘written’ (as in RSV) or ‘slain’ (as in AV), but the parallel thought in 17:8 decides in favour of the former construction” [= Untuk kitab kehidupan, lihat 3:5. Di sini dan dalam 21:27, itu disebut kitab kehidupan Anak Domba. Itu adalah catatan tentang mereka yang telah diselamatkan oleh iman dalam Anak Domba Allah yang tersalib. Bahwa nama mereka telah tertulis sebelum dunia dijadikan memberikan kepastian bahwa sekalipun mereka kelihatannya tidak berdaya di hadapan serangan binatang itu, sebetulnya mereka ada dalam pemeliharaan Providensia Allah dan telah ada sejak dunia dijadikan. ‘Sebelum dunia dijadikan’ secara tatabahasa bisa menjelaskan baik ‘tertulis’ (seperti dalam RSV) ataupun ‘disembelih’ (seperti dalam AV/KJV), tetapi pemikiran yang paralel dalam 17:8 mendukung konstruksi yang pertama] - ‘A Commentary on the Revelation of John’, hal 181.

William Hendriksen, dalam tafsirannya tentang Wah 13:8 berkata:

“But even in these most dreadful days that shall precede Christ’s second coming there will be believers on earth, those whose names have been written from eternity in the Lamb’s book of life (cf. 17:8). Because of the fact that God has elected them from eternity to salvation in sanctification of the Spirit and belief of the truth (2Thes. 2:13), these individuals cannot perish. The government of antichrist may destroy their bodies, but it cannot destroy their souls” [= Tetapi bahkan pada hari-hari yang paling mengerikan yang akan mendahului kedatangan Kristus yang keduakalinya, tetap akan ada orang-orang percaya di bumi, mereka yang namanya telah tertulis dari kekekalan dalam kitab kehidupan Anak Domba (bdk. 17:8). Disebabkan oleh fakta bahwa Allah telah memilih mereka sejak kekekalan untuk diselamatkandalam pengudusan Roh dan kepercayaan pada kebenaran (2Tes 2:13), individu-individu ini tidak bisa binasa. Pemerintahan antikristus bisa menghancurkan tubuh mereka, tetapi tidak bisa menghancurkan jiwa mereka] - ‘More than Conquerors’, hal 147.

Leon Morris (Tyndale), dalam tafsirannya tentang Wah 13:8 berkata:

“But the significant thing is that their names are not written in the book of life. John wants his little handful of persecuted Christians to see that the thing that matters is the sovereignty of God, not the power of evil. When a man’s name is written in the book of life he will not be forgotten. His place is secure” (= Tetapi hal yang penting adalah bahwa nama-nama mereka tidak tertulis dalam kitab kehidupan. Yohanes ingin sedikit orang-orang kristen yang dianiaya itu melihat bahwa hal yang berarti adalah kedaulatan Allah, bukan kuasa jahat. Kalau nama seseorang tertulis dalam kitab kehidupan, ia tidak akan dilupakan. Tempat / kedudukannya adalah aman / pasti).

Dan tentang Wah 17:8 Leon Morris berkata:

“The reminder that this goes back to the foundation of the world is a reminder of God’s eternal purpose” (= Mengingatkan bahwa hal ini sudah ada pada penjadian dunia adalah mengingatkan tentang Rencana Allah yang kekal).

Bahwa nama seseorang sudah tertulis atau tidak tertulis dalam kitab kehidupan sebelum dunia dijadikan, jelas menunjukkan bahwa selamat atau tidaknya seseorang sudah ditentukan sejak dunia belum dijadikan. Inilah Predestinasi!

7) Kelahiran baru (Regeneration), yang merupakan pekerjaan Roh Kudus, dan yang dilakukan sesuai kehendak Roh Kudus, menunjukkan adanya Predestinasi.

Untuk mengerti ini kita perlu mengerti dahulu apakah regeneration / kelahiran baru itu.

a) Apakah regeneration itu?


1. Regeneration tidak sama dengan iman / pertobatan!

Banyak orang bersaksi bahwa ia dilahirbarukan tanggal sekian tahun sekian, dsb. Yang ia maksudkan adalah pada saat itu ia bertobat / percaya kepada Kristus, tetapi ia mencampuradukkan hal itu dengan regeneration. Ini jelas merupakan pengertian yang salah, karena regeneration harus mendahului iman, dan tanpa regeneration seseorang tidak mungkin bisa beriman kepada Kristus.

2. Regeneration juga tidak sama dengan perubahan hidup / pengudusan.

Kalau seseorang sudah bisa meninggalkan dosa-dosanya dan mengubah hidupnya ke arah yang positif, maka sering dikatakan bahwa ia sudah mengalami regeneration / kelahiran baru. Ini lagi-lagi merupakan pandangan yang salah, karena perubahan hidup / pengudusan terjadi sesudah seseorang beriman, sehingga jelas bahwa regeneration harus mendahului pengudusan.

3. Regeneration adalah pekerjaan penciptaan yang dilakukan Allah dalam diri manusia yang mengubah manusia itu dari keadaan mati secara rohani menjadi hidup secara rohani. Karena itu ada yang menyebut regeneration sebagai spiritual resurrection (= kebangkitan rohani).

b) Regeneration dalam arti sempit dan luas (Louis Berkhof).

1. ‘Regeneration dalam arti sempit’.

Ini menunjuk pada saat pertama penanaman hidup yang baru dalam roh / jiwa manusia, dan kalau mau dianalogikan dalam dunia jasmani, maka ini menunjuk pada pembuahan (saat sperma bertemu dengan sel telur).

Di dalam theologia, kalau dibicarakan tentang regeneration, biasanya arti sempit inilah yang dimaksudkan.

2. ‘Regeneration dalam arti yang luas’.

Di sini, hidup yang baru yang tadinya ada di dalam, mulai muncul ke permukaan, sehingga bisa disadari oleh orangnya sendiri, bahkan mungkin terlihat oleh orang lain.

Ini bisa dianalogikan dengan kelahiran (saat bayi keluar dari kandungan).

Pembedaan ini sangat penting, karena dalam Kitab Suci, ayat-ayat yang berhubungan dengan regeneration, kadang-kadang menunjuk pada regeneration dalam arti pertama, dan kadang-kadang menunjuk pada regeneration dalam arti kedua, sehingga kalau kita tidak membedakan kedua arti itu, kita akan menjumpai hal-hal kontradiksi dalam Kitab Suci.

c) Sifat-sifat / ciri-ciri regeneration:

1. Regeneration terjadi dalam sub-conscious life (= alam bawah sadar) dari manusia.

Dasar:

a. Analogi: bayi tidak menyadari saat ia dilahirkan, apalagi pada saat pembuahan yang menjadikan dia!

b. Yoh 3:8 - “Angin bertiup kemana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau kemana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh”.

2. Regeneration bersifat monergistic.

Istilah monergistic adalah suatu istilah theologia yang berasal dari 2 kata Yunani yaitu MONO (= satu) dan ERGA (= work / pekerjaan), dan ini menunjukkan bahwa ‘hanya satu pihak yang bekerja’.

Jadi berbeda dengan pengudusan dimana dua pihak, yaitu Allah dan kita, sama-sama bekerja untuk melakukan hal itu (Synergistic), maka dalam terjadinya regeneration, hanya satu pihak yang bekerja, yaitu Allah! Bagaimana dengan manusianya? Manusianya pasif secara total, dan sama sekali tidak ikut mengerjakan regeneration itu!

Dasar Kitab Suci:

a. Bahwa regeneration terjadi dalam alam bawah sadar, sudah menunjukkan secara jelas bahwa orang yang dilahirbarukan itu pasif total. Bagaimana ia bisa berbuat sesuatu tentang apa yang terjadi di alam bawah sadarnya?

b. Kata ‘dilahirkan’ (bdk. Yohanes 3:3,5) adalah suatu kata kerja pasif.

c. Analogi dengan kelahiran jasmani: Sama seperti kita tidak melakukan apapun pada saat kita dilahirkan secara jasmani, demikian juga kitapun tidak melakukan apapun pada saat kita dilahirkan kembali oleh Roh Kudus!

Memang dalam kelahiran jasmani, bayi yang dilahirkan itu juga pasif total, dalam arti ia sama sekali tidak membantu terjadinya kelahiran itu. Apalagi kalau kita berbicara tentang pembuahan / pertemuan sperma dan sel telur (regeneration dalam arti sempit), maka bayi itu lebih-lebih pasif total!

d. Yoh 1:13 yang berbunyi “Orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan laki-laki, melainkan dari Allah”, menunjukkan bahwa dalam terjadinya regeneration, manusianya sama sekali tidak ikut campur.

Yohanes 1:13 ini menjelaskan tentang ‘anak-anak Allah’ dalam Yoh 1:12. Kata-kata ‘bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan laki-laki’ menunjukkan bahwa dalam persoalan regeneration manusia sama sekali tidak punya peranan, sedangkan kata-kata ‘melainkan dari Allah’ menunjukkan bahwa regeneration merupakan pekerjaan Allah saja!

e. Yohanes 3:6 yang berbunyi “Apa yang dilahirkan dari daging adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh”, juga menunjukkan bahwa dalam terjadinya regeneration, manusianya sama sekali tidak ikut campur.

Ayat ini jelas menunjukkan bahwa ‘daging’ / ‘manusia’ hanya bisa melahirkan ‘daging’ (= manusia yang dikuasai dosa). Hanya Roh (Roh Kudus) yang bisa melahirkan ‘roh’ (manusia yang dikuasai Roh Kudus).

f. Mengingat bahwa regeneration adalah spiritual resurrection (= kebangkitan rohani), maka adalah sesuatu yang tidak masuk akal untuk berkata: ‘saya ikut bekerja sama dengan Allah untuk membangkitkan diri saya sendiri yang mati’! Jadi jelas bahwa dalam pembangkitan rohani itu hanya Allah / Roh Kudus yang bekerja, sedangkan manusianya pasif total.

Keberatan terhadap pandangan ini:

Yoh 3:7b yang berbunyi: “Kamu harus dilahirkan kembali”, memerintahkan kita untuk dilahirbarukan!

Jawaban terhadap keberatan ini:

Yohanes 3:7 bukanlah suatu perintah, tetapi menunjukkan bahwa kelahiran baru adalah syarat mutlak untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

William Hendriksen: “It does not refer to the realm of moral duty, but to that of the divine decree” (= Itu tidak menunjuk pada kewajiban moral, tetapi pada ketetapan ilahi).

Illustrasi: Orang yang mau jadi ABRI, tinggi badan harus 170 cm, usia harus 21 tahun ke atas, berat badan harus diatas 60 kg. Kata ‘harus’ di sini tidak berarti bahwa itu adalah perintah, tetapi menunjukkan bahwa itu adalah syarat!

Karena regeneration / kelahiran baru adalah pekerjaan Roh Kudus secara mutlak, maka tidak ada hal apapun yang bisa dilakukan oleh manusia supaya hal itu bisa terjadi.

Bandingkan dengan buku tulisan Billy Graham, yang adalah seorang Arminian, yang berjudul ‘How to be born again’ (= Bagaimana caranya supaya dilahirkan kemba­li). Dari judulnya saja sudah jelas menunjukkan pengertiannya yang salah tentang kelahiran baru!

3. Regeneration dilakukan sesuai kehendak dan kedaulatan Roh Kudus.

Yoh 3:8 - “Angin bertiup kemana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau kemana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh”.

Kata-kata ‘angin bertiup kemana ia mau’ menunjukkan bahwa Roh Kudus bekerja / melahirbarukan sesukaNya.

Ini menunjukkan bahwa Ia memilih orang-orang tertentu sesuai kehendakNya untuk dilahirbarukan, dan Ia tidak melahirbarukan yang lain. Ini jelas menunjuk pada Predestinasi!

8) Doktrin Total Depravity, dan doktrin bahwa iman adalah pemberian Allah, menunjukkan adanya Predestinasi.

Loraine Boettner: “If the doctrine of Total Inability or Original Sin be admitted, the doctrine of unconditional Election follows by the most inescapable logic” (= Jika doktrin tentang Ketidak-mampuan Total atau Dosa Asal diterima, maka doktrin pemilihan yang tidak bersyarat akan mengikuti oleh suatu logika yang tidak terhindarkan) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 95.

Keadaan Total Depravity dari manusia, tidak memungkinkan manusia untuk percaya kepada Yesus dengan kekuatan dan kemauannya sendiri. Ini sudah saya bahas dalam pelajaran tentang Total Depravity, dan tidak akan saya ulangi di sini.

Tetapi Kitab Suci maupun fakta menunjukkan bahwa ada orang-orang tertentu yang ternyata beriman / percaya kepada Yesus. Mengapa bisa demikian? Karena adanya:

a) Pekerjaan Allah di dalam diri mereka.

Ini terlihat dari ayat-ayat di bawah ini:

Yoh 6:37a - “Semua yang diberikan Bapa kepadaKu akan datang kepadaKu”.

Yoh 17:2b - “Ia akan memberikan hidup kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepadaNya”.

Yohanes 17:6 - “Aku telah menyatakan namaMu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepadaKu dari dunia. Mereka itu milikMu dan Engkau telah memberikan mereka kepadaKu dan mereka telah menuruti firmanMu”.

Yohanes 17:9 - “Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepadaKu, sebab mereka adalah milikMu”.

Yohanes 6:44 - “Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepadaKu, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir jaman”.

1Kor 1:30a - “Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus”.

b) Pemberian iman / pertobatan dari Allah kepada mereka.

Kis 11:18b - “Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup”.

Filipi 1:29 - “Sebab kepada kamu dikaru­niakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia”.

Jadi, kalau ada orang yang percaya kepada Yesus, itu karena Allah bekerja dalam dirinya dan memberikan iman kepadanya. Sebaliknya kalau ada orang yang terus menolak Kristus sampai ia mati, itu disebabkan karena Allah tidak bekerja dalam dirinya dan / atau tidak memberikan iman kepadanya. Jadi, adanya orang yang percaya dan yang tidak percaya, menunjukkan bahwa ada orang yang diberi iman dan tidak diberi iman oleh Bapa. Jadi di sini ada pemilihan / penetapan dari Bapa, tentang siapa yang diberi iman (Elect - orang yang dipilih / ditentukan untuk selamat) dan siapa yang tidak diberi iman (Reprobate - orang yang dipilih / ditentukan untuk binasa). Semua ini mendukung doktrin Reformed / Calvinisme tentang Unconditional Election / Predestinasi.

Arthur W. Pink menguraikan hal ini dengan cara yang menarik. Ia berkata: “‘Salvation is of the Lord’ (Jonah 2:9); but the Lord does not save all. Why not? He does save some; then if He saves some, why not others? Is it because they are too sinful and depraved? No; for the apostle wrote, ‘This is a faithful saying, and worthy of all acceptation, that Christ Jesus came into the world to save sinners; of whom I am chief’ (1Tim. 1:15). Therefore, if God saved the ‘chief’ of sinners, none are excluded because of their depravity. Why then does not God save all? Is it because some are too stony-hearted to be won? No; because of the most stony-hearted people of all it is written, that God will yet ‘take the stony heart out of their flesh, and will give them a heart of flesh (Ezek. 11:19)” [= ‘Keselamatan adalah dari TUHAN’ (Yunus 2:9); tetapi Tuhan tidak menyelamatkan semua orang. Mengapa tidak? Ia memang menyelamatkan sebagian orang; lalu jika Ia menyelamatkan sebagian orang, mengapa Ia tidak menyelamatkan yang lain? Apakah karena mereka terlalu berdosa dan bejat? Tidak; karena rasul menulis, ‘Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa, dan di antara mereka akulah yang paling berdosa’ (1Tim 1:15). Karena itu, jika Allah menyelamatkan orang yang paling berdosa, tidak ada yang tidak bisa diselamatkan karena kebejatan mereka. Lalu mengapa Allah tidak menyelamatkan semua? Apakah karena sebagian orang terlalu keras hatinya untuk dimenangkan? Tidak; karena tentang bangsa yang paling keras hatinya dituliskan, bahwa Allah akan ‘mengambil hati yang keras itu dari daging mereka, dan akan memberikan hati dari daging’ (Yeh 11:19)] - ‘The Sovereignty of God’, hal 45.

Penekanan dari kutipan di atas ini adalah: manusia tidak selamat bukan karena mereka terlalu jahat / keras hati.

Arthur W. Pink lalu melanjutkan: “Why is it that all are not saved, particularly all who hear the Gospel? Do you still answer, Because the majority refuse to believe? Well, that is true, but it is only a part of the truth. It is the truth from the human side. But there is a Divine side too, and this side of the truth needs to be stressed or God will be robbed of His glory” (= Mengapa tidak semua diselamatkan, khususnya semua yang mendengar Injil? Apakah kamu tetap menjawab, Karena mayoritas menolak untuk percaya? Itu memang benar, tetapi itu hanyalah sebagian dari kebenaran. Itu adalah kebenaran dari sudut manusia. Tetapi ada sudut Allah juga, dan sudut kebenaran ini perlu ditekankan, atau Allah akan dirampok kemuliaanNya) - ‘The Sovereignty of God’, hal 46.

Penekanan dari kutipan di atas ini adalah: sekalipun memang benar bahwa manusia tidak selamat karena mereka menolak untuk percaya, tetapi itu adalah dari sudut pandang manusia. Ada sudut pandang Allah yang juga harus diperhatikan.

Arthur W. Pink melanjutkan lagi: “The unsaved are lost because they refuse to believe; the others are saved because they believe. But why do these others believe? What is it that causes them to put their trust in Christ? Is it because they are more intelligent than their fellows, and quicker to discern their need of salvation? Perish the thought, ‘Who maketh thee to differ from another? And what hast thou that thou didst not receive? Now if thou didst receive it, why dost thou glory, as if thou hadst not received it?’ (1Cor. 4:7)” [= Orang yang tidak selamat terhilang karena mereka menolak untuk percaya; yang lain diselamatkan karena mereka percaya. Tetapi mengapa yang lain ini percaya? Apa yang menyebabkan mereka percaya kepada Kristus? Apakah karena mereka lebih pandai dari pada sesama mereka, dan lebih cepat melihat kebutuhan keselamatan mereka? Buanglah pikiran itu, ‘Karena siapa yang membuat engkau berbeda dari orang lain? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?’ (1Kor 4:7)] - ‘The Sovereignty of God’, hal 46.

Catatan: 1Korintus 4:7 versi Kitab Suci Indonesia berbunyi: “Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?”.

Bagian yang saya garisbawahi itu salah terjemahan.

NIV: “For who makes you different from anyone else? What do you have that you did not receive? And if you did receive it, why do you boast as though you did not?” (= Karena siapa yang membuat engkau berbeda dari orang lain? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?).

Penekanan dari kutipan di atas ini adalah: seseorang bisa percaya, bukan karena ia lebih baik dari orang-orang yang tidak percaya.

Akhirnya Arthur W. Pink menyimpulkan dan sekaligus memberikan dasar Kitab Suci untuk kesimpulannya itu:

¨ “It is God himself who makes the difference between the elect and the non-elect, for of His own it is written, ‘And we know that the Son of God is come, and hath given us an understanding, that we may know Him that is true’ (1John 5:20)” [= Adalah Allah sendiri yang membuat perbedaan antara orang pilihan dan orang yang bukan pilihan, karena tentang milikNya dituliskan, ‘Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar’ (1Yoh 5:20)] - ‘The Sovereignty of God’, hal 46.

¨ “Faith is God’s gift, and ‘all men have not faith’ (2Thess. 3:2); therefore, we see that God does not bestow this gift upon all. Upon whom then does He bestow this saving favour? And we answer, upon His own elect - ‘As many as were ordained to eternal life believed’ (Acts 13:48)” [= Iman adalah pemberian / karunia Allah, dan ‘bukan semua orang beroleh iman’ (2Tes 3:2); karena itu, kita melihat bahwa Allah tidak memberikan pemberian / karunia ini kepada semua orang. Lalu kepada siapa Ia memberikan hadiah / kemurahan yang menyelamatkan ini? Dan kami menjawab, kepada orang pilihanNya - ‘Semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya’ (Kis 13:48)] - ‘The Sovereignty of God’, hal 47.

Penekanan dari kesimpulan ini adalah: perbedaan yang menyebabkan satu orang percaya sedangkan yang lain tidak, terletak dalam diri Allah. Ia memberikan iman hanya kepada orang-orang pilihan!

9) Bahwa manusia diselamatkan semata-mata karena kasih karunia Allah, bukan karena perbuatan baik manusia, tidak bisa tidak akan menunjuk pada adanya Predestinasi.

Kitab Suci memang secara jelas mengajar bahwa manusia diselamatkan semata-mata oleh kasih karunia Allah, dan sama sekali bukan karena perbuatan baik manusia.

Ef 2:8-9 - “(8) Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, (9) itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri”.

Kalau keselamatan memang bukan terjadi karena perbuatan baik manusia, tetapi karena pemberian kasih karunia, maka jelaslah bahwa siapa yang diselamatkan dan siapa yang tidak diselamatkan tergantung kepada Allah. Kalau Allah memberikan kasih karuniaNya kepada seseorang maka orang itu akan percaya kepada Yesus dan selamat. Sebaliknya kalau Allah menahan kasih karuniaNya dari diri seseorang (dan Ia berhak melakukan hal ini - bdk. Ro 9:15,18), maka orang itu tidak akan percaya kepada Yesus dan tidak akan selamat. Lalu siapa yang diberi kasih karunia dan siapa yang tidak? Berdasarkan apa Allah memilih? Jelas berdasarkan Predestinasi / pemilihan Allah. Memang Predestinasi berhubungan sangat erat dengan kasih karunia.

Hal ini terlihat dari Ef 1:4-8a yang berbunyi: “(4) Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapanNya. (5) Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anakNya, sesuai dengan kerelaan kehendakNya, (6) supaya terpujilah kasih karuniaNya yang mulia, yang dikaruniakanNya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihiNya. (7) Sebab di dalam Dia dan oleh darahNya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karuniaNya (8a) yang dilimpahkanNya kepada kita”.

Perhatikan bahwa kalau dalam Ef 1:4-5 Paulus berbicara tentang Predestinasi / pemilihan, maka dalam Ef 1:6-8a ia berbicara tentang kasih karuniaNya. Bahkan dalam Ef 1:6 itu ada kata-kata “supaya terpujilah kasih karuniaNya yang mulia”, yang jelas menunjukkan bahwa tujuan Predestinasi / pemilihan itu adalah untuk meninggikan kasih karunia Allah.

Hubungan erat antara Predestinasi dan kasih karunia Allah ini juga terlihat dari Ro 11:5-6 yang berbunyi: “(5) Demikian juga pada waktu ini ada tinggal suatu sisa, menurut PILIHAN kasih karunia. (6) Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia”.

Sekarang kita melihat hal ini dari sudut Reformed / Calvin sendiri.

Loraine Boettner: “Through the election of individuals the truly gracious character of salvation is most clearly shown. Those who declare that salvation is entirely by the grace of God, and yet deny the doctrine of election, hold an inconsistent position” (= Melalui pemilihan individu-individu sifat keselamatan yang betul-betul karena kasih karunia ditunjukkan secara paling jelas. Mereka yang menyatakan bahwa keselamatan itu sepenuhnya oleh kasih karunia Allah, tetapi menyangkal doktrin pemilihan, memegang posisi yang tidak konsisten) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 95.

Calvin: “We shall never be clearly persuaded, as we ought to be, that our salvation flows from the wellspring of God’s free mercy until we come to know his eternal election, which illumines God’s grace by this contrast: that he does not indiscriminately adopt all into the hope of salvation but gives to some what he denies to others” (= Kita tidak akan pernah diyakinkan secara jelas, seperti yang seharusnya, bahwa keselamatan kita mengalir dari mata air belas kasihan cuma-cuma dari Allah sampai kita mengenal pemilihanNya yang kekal, yang menerangi kasih karunia Allah oleh kontras ini: bahwa Ia tidak secara sama rata mengadopsi semua orang ke dalam pengharapan keselamatan tetapi memberikan kepada sebagian orang apa yang tidak Ia berikan kepada yang lain) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XXI, no 1.

Dalam buku tafsirannya tentang surat Roma, Calvin mengomentari Ro 11:6 dengan berkata: “But if no regard to works can be admitted in election, without obscuring the gratuitous goodness of God, which he designed thereby to be so much commended to us, what answer can be given to Paul by those infatuated persons, (phrenetici - insane,) who make the cause of election to be that worthiness in us which God has foreseen? For whether you introduce works future or past, this declaration of Paul opposes you; for he says, that grace leaves nothing to works. ... why God, before the foundation of the world, chose only some and passes by others: and he declares, that God was led to make this difference by nothing else, but by his own good pleasure; for if any place is given to works, so much, he maintains, is taken away from grace. It hence follows, that it is absurd to blend foreknowledge of works with election. For if God chooses some and rejects others, as he has foreseen them to be worthy or unworthy of salvation, then the grace of God, the reward of works being established, cannot reign alone, but must be only in part the cause of our election” (= Tetapi jika perbuatan baik tidak bisa diterima dalam pemilihan, tanpa mengaburkan kebaikan yang bersifat kasih karunia dari Allah, yang Ia rencanakan dengan cara itu supaya sangat kita hargai, jawaban apa yang bisa diberikan kepada Paulus oleh orang-orang gila itu, yang mengatakan bahwa penyebab dari pemilihan adalah kelayakan dalam diri kita yang telah dilihat lebih dulu oleh Allah? Karena apakah kamu mengajukan perbuatan baik yang akan datang ataupun yang lalu, pernyataan Paulus ini menentangmu; karena ia mengatakan, bahwa kasih karunia tidak menyisakan apapun untuk perbuatan baik. ... mengapa Allah, sebelum dunia dijadikan, hanya memilih sebagian dan melewati yang lain: dan ia menyatakan bahwa Allah dipimpin untuk membuat perbedaan ini bukan oleh apapun yang lain, tetapi oleh kerelaan kehendakNya; karena jika ada tempat yang diberikan kepada perbuatan baik, ia berpendapat bahwa begitu banyak yang diambil dari kasih karunia. Karena itu, adalah sesuatu yang menggelikan untuk memadukan / mencampur ‘pengetahuan lebih dulu tentang perbuatan baik’ dengan ‘pemilihan’. Karena jika Allah memilih sebagian orang dan menolak yang lain, karena Ia telah melihat lebih dulu apakah mereka layak atau tidak layak untuk keselamatan, maka kasih karunia Allah, dengan ditegakkannya / adanya upah perbuatan baik, tidak bisa bertahta sendirian, tetapi harus merupakan hanya sebagian dari penyebab pemilihan).

Calvin lalu melanjutkan dengan membicarakan tentang Abraham (bacalah Ro 4:1-5 dan Ro 3:24!) dan berkata: “... if works come to the account, when God adopts a certain number of men unto salvation, reward is a matter of debt, and that therefore it is not a free gift” (= ... jika perbuatan baik diperhitungkan pada waktu Allah mengadopsi sejumlah orang tertentu untuk keselamatan, pahala / upah adalah persoalan hutang, dan karena itu bukan lagi merupakan pemberian cuma-cuma).

Ro 4:1-5 - “(1) Jadi apakah akan kita katakan tentang Abraham, bapa leluhur jasmani kita? (2) Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah. (3) Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? ‘Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.’ (4) Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya. (5) Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran”.

Roma 3:24 - “dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus”.

10) Ayat-ayat yang menunjukkan bahwa orang-orang yang belum percaya kepada Kristus, yang sudah disebut dengan istilah ‘umat Tuhan’, ‘domba’, dan bahkan ‘anak Allah’. Ini jelas menunjukkan bahwa mereka adalah orang pilihan Allah

a) Kis 18:9b-10 - “(9b) ‘Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! (10) Sebab Aku menyertai engkau dan tidak ada seorangpun yang akan menjamah dan menganiaya engkau, sebab banyak umatKu di kota ini’”.

Kata-kata ini diucapkan oleh Tuhan kepada Paulus, yang pada saat itu sedang menghadapi kemarahan orang-orang Yahudi di Korintus. Tuhan tidak menghendaki Paulus meninggalkan tempat itu, sebaliknya Tuhan menyuruh Paulus untuk terus memberitakan Injil di situ. Mengapa? Karena ada banyak ‘umat Tuhan’ di sana. Orang-orang itu masih kafir, tetapi Tuhan menyebut mereka sebagai ‘umatNya’ karena mereka adalah orang-orang pilihanNya, yang pasti akan bertobat. Supaya mereka bisa bertobat, maka Paulus harus memberitakan Injil di sana.

b) Yohanes 10:16 - “Ada lagi padaKu domba-domba lain, yang BUKAN DARI KANDANG INI; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka AKAN MENDENGARKAN SUARAKU”.

Kata-kata ‘bukan dari kandang ini’ menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang non Yahudi yang pada saat itu belum percaya. Kata-kata ‘akan mendengarkan suaraKu’ lebih-lebih menunjukkan bahwa mereka belum percaya kepada Yesus. Tetapi mereka sudah disebut sebagai ‘domba’! Ini menunjukkan bahwa mereka adalah orang pilihan!

Calvin (tentang Yoh 10:8): “Thus, according to the secret election of God, we are already sheep in his heart, before we are born; but we begin to be sheep in ourselves by the calling, by which he gathers us into his fold” (= Jadi, menurut pemilihan yang rahasia dari Allah, kita sudah adalah domba dalam hatiNya, sebelum kita dilahirkan, tetapi kita mulai menjadi domba dalam diri kita oleh panggilan, dengan mana Ia mengumpulkan kita ke dalam kandangNya).

Calvin: “Therefore, according to God’s secret predestination (as Augustine says), ‘many sheep are without, and many wolves are within.’” [= Karena itu, menurut predestinasi rahasia dari Allah (seperti dikatakan Agustinus), ‘banyak domba ada di luar, dan banyak serigala ada di dalam’] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book IV, Ch. 1, no 8.

c) Yoh 11:51-52 - “(51) Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia bernubuat, bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu, (52) dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai”.

Kata-kata ‘bangsa itu’ jelas menunjuk kepada bangsa Yahudi, sedangkan kata-kata ‘anak-anak Allah yang tercerai-berai’ jelas menunjuk kepada orang-orang non Yahudi yang saat itu belum percaya kepada Yesus. Mengapa orang-orang non Yahudi yang belum percaya ini sudah disebut ‘anak-anak Allah’? Jelas karena mereka adalah orang pilihan Tuhan, yang pasti akan bertobat, dan pasti akan dikumpulkan dan dipersatukan oleh kematian Yesus!

Calvin (tentang Yohanes 11:52): “But how comes it that they who, in consequence of being wretchedly scattered and wandering, became the enemies of God, are here called the children of God? I answer, as has been already said, God had in his breast children, who in themselves were wandering and lost sheep, or rather who were the farthest possible from being sheep, but, on the contrary, were wolves and wild beasts. It is therefore by election that he reckons as the children of God, even before they are called, those who at length begin to be manifested by faith both to themselves and to others” (= Tetapi bagaimana mungkin bahwa mereka yang, sebagai konsekwensi dari keberadaan mereka yang tersebar dan mengembara secara buruk, menjadi musuh-musuh Allah, di sini disebut anak-anak Allah? Saya menjawab, seperti telah dikatakan, Allah mempunyai di dadaNya anak-anak, yang dalam diri mereka sendiri adalah domba-domba yang mengembara dan terhilang, atau lebih tepat, ada dalam kemungkinan yang terjauh dari keberadaan sebagai domba, tetapi sebaliknya, adalah serigala-serigala dan binatang-binatang liar. Karena itu, adalah oleh pemilihan maka Ia menganggap / memperhitungkan sebagai anak-anak Allah, bahkan sebelum mereka dipanggil, mereka yang akhirnya mulai dinyatakan oleh iman, baik kepada diri mereka sendiri dan kepada orang-orang lain).

Bdk. Yoh 17:20-21 - “(20) Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepadaKu oleh pemberitaan mereka; (21) supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku”.

Saya menantang orang Arminian, khususnya Pdt. Jusuf B. S., untuk menjelaskan dari sudut pandang Arminian, mengapa dalam ketiga text di atas ini orang-orang yang tidak percaya bisa disebut dengan istilah ‘umat Tuhan’, ‘domba’ dan bahkan ‘anak Allah’!

11) Adanya pertanyaan ‘Apakah Allah tidak adil?’ dalam Roma 9:14.

Roma 9:6-15 - “(6) Akan tetapi firman Allah tidak mungkin gagal. Sebab tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel, (7) dan juga tidak semua yang terhitung keturunan Abraham adalah anak Abraham, tetapi: ‘Yang berasal dari Ishak yang akan disebut keturunanmu.’ (8) Artinya: bukan anak-anak menurut daging adalah anak-anak Allah, tetapi anak-anak perjanjian yang disebut keturunan yang benar. (9) Sebab firman ini mengandung janji: ‘Pada waktu seperti inilah Aku akan datang dan Sara akan mempunyai seorang anak laki-laki.’ (10) Tetapi bukan hanya itu saja. Lebih terang lagi ialah Ribka yang mengandung dari satu orang, yaitu dari Ishak, bapa leluhur kita. (11) Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, - supaya rencana Allah tentang pemilihanNya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilanNya - (12) dikatakan kepada Ribka: ‘Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda,’ (13) seperti ada tertulis: ‘Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.’ (14) Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah Allah tidak adil? Mustahil! (15) Sebab Ia berfirman kepada Musa: ‘Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati.’”.

Memang kalau seseorang untuk pertama kalinya mendengar doktrin Predestinasi, biasanya reaksi yang pertama muncul adalah ‘Allah itu tidak adil’. Tentang apakah adanya Predestinasi itu memang menunjukkan bahwa Allah itu tidak adil atau tidak, akan saya bahas belakangan. Di sini saya hanya ingin menunjukkan bahwa adanya pertanyaan ‘Apakah Allah tidak adil?’ dalam Ro 9:14 itu jelas menunjukkan bahwa doktrin Predestinasi ini memang adalah ajaran Kitab Suci / Paulus.

Dalam Roma 9:6-9 Paulus mengajarkan tentang pemilihan terhadap Ishak, bukan terhadap Ismael. Lalu dalam Roma 9:10-13 Paulus mengajarkan tentang pemilihan terhadap Yakub dan penolakan terhadap Esau, yang ia katakan sama sekali tidak didasarkan pada perbuatan mereka (karena mereka sudah dipilih sebelum mereka dilahirkan), tetapi pada panggilan / kehendak Allah. Lalu dalam Ro 9:14, Paulus menanyakan suatu pertanyaan yang ia tahu pasti akan timbul dalam diri orang yang mendengar tentang doktrin Predestinasi yang baru ia ajarkan: ‘Apakah Allah tidak adil?’.

Kalau doktrin Predestinasi ini tidak ada, atau kalau Tuhan melakukan Predestinasi / pemilihan dengan melihat pada perbuatan baik manusia yang akan terjadi, maka pertanyaan ‘Apakah Allah tidak adil?’ itu tidak akan muncul dalam Ro 9:14! Tetapi ternyata pertanyaan itu muncul, dan ini membuktikan bahwa doktrin Predestinasi itu memang adalah ajaran Paulus / Kitab Suci!

12) Segala sesuatu tergantung Tuhan, dan ini bisa terlihat dari:

1Sam 2:6-8 - “(6) TUHAN mematikan dan menghidupkan, Ia menurunkan ke dalam dunia orang mati dan mengangkat dari sana. (7) TUHAN membuat miskin dan membuat kaya; Ia merendahkan, dan meninggikan juga. (8) Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu, dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur, untuk mendudukkan dia bersama-sama dengan para bangsawan, dan membuat dia memiliki kursi kehormatan”.

Ayub 1:21 - “katanya: ‘Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!’”.

Maz 75:7-8 - “(7) Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu, (8) tetapi Allah adalah Hakim: direndahkanNya yang satu dan ditinggikanNya yang lain”.

Maz 135:6-7 - “(6) TUHAN melakukan apa yang dikehendakiNya, di langit dan di bumi, di laut dan di segenap samudera raya; (7) Ia menaikkan kabut dari ujung bumi, Ia membuat kilat mengikuti hujan, Ia mengeluarkan angin dari dalam perbendaharaanNya”.

Amsal 16:1 - “Manusia dapat menimbang-nimbang dalam hati, tetapi jawaban lidah berasal dari pada TUHAN”.

Amsal 16:4 - “TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing, bahkan orang fasik dibuatNya untuk hari malapetaka”.

Amsal 16:9 - “Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya”.

Amsal 16:33 - “Undi dibuang di pangkuan, tetapi setiap keputusannya berasal dari pada TUHAN”.

Amsal 19:21 - “Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan TUHANlah yang terlaksana”.

Amsal 21:1 - “Hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN, dialirkanNya ke mana Ia ingini”.

Amsal 21:31 - “Kuda diperlengkapi untuk hari peperangan, tetapi kemenangan ada di tangan TUHAN”.

Mat 10:29-30 - “(29) Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak BapaMu. (30) Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya”.

Kalau segala sesuatu terjadi karena kehendak Tuhan, maka selamat atau tidaknya manusia pasti juga tergantung Tuhan / kehendak Tuhan, dan ini menunjuk pada Predestinasi.

Catatan: Bagian ini saya bahas singkat saja, karena ini saya bahas secara mendetail / panjang lebar dalam buku ‘Providence of God’.

III) Penjabaran / penguraian Predestinasi.

1) Predestinasi bersifat kekal.

Mengapa kita mempercayai bahwa Predestinasi itu bersifat kekal?

a) Allah adalah ‘intelligent being’ (= makhluk berakal / makhluk cerdas).

Bahwa Allah adalah ‘intelligent being’, terlihat dari manusia yang juga adalah ‘intelligent being’, padahal manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.

Keberadaan Allah sebagai ‘intelligent being’ ini tidak memungkinkan ada saat dimana Ia tidak mempunyai rencana sama sekali.

Bahkan ada ahli theologia yang berani mengatakan bahwa Allah tidak lebih dulu ada dibanding dengan rencanaNya. Sepintas lalu ini kelihatan extrim dan merupakan suatu pendewaan terhadap rencana Allah. Tetapi coba renungkan: bisakah saudara membayangkan adanya saat dimana Allah, yang adalah ‘intelligent being’ itu, ada dalam keadaan bermalas-malasan tanpa mempunyai rencana apapun? Saya sendiri tidak bisa membayangkan hal itu, dan karena itu saya berpendapat bahwa Rencana Allah sudah ada sejak kekekalan.

Herman Bavinck: “Scaliger correctly observed that God’s decree was not preceded by a long period of reflection and deliberation, so that for a long time God would have been without purpose and without a will ... It is impossi­ble to conceive of God as a being without a purpose and without an active and operative will” (= Scaliger secara benar mengamati bahwa ketetapan Allah tidak didahului oleh waktu pemikiran dan pertimbangan yang lama, sehingga untuk waktu yang lama Allah tidak mempunyai tujuan / rencana dan tidak mempunyai kehendak ... Adalah tidak mungkin untuk membayangkan Allah sebagai makhluk tanpa tujuan / rencana dan tanpa kehendak yang aktif dan operatif) - ‘The Doctrine of God’, hal 370.

Herman Hoeksema: “God is en eternally active God. ... We must, therefore, not imagine, ... that God the Lord began to be active when in the beginning He created the heavens and the earth, while before the creation He was completely idle and inactive” (= Allah adalah Allah yang aktif secara kekal. ... Karena itu, kita tidak boleh membayangkan bahwa Allah Tuhan mulai aktif ketika pada mulanya Ia menciptakan langit dan bumi, sementara sebelum penciptaan Ia sepenuhnya bermalas-malasan / menganggur dan tidak aktif) - ‘Reformed Dogmatics’, hal 153.

b) Kemahatahuan dan kemahabijaksanaan Allah menyebabkan Ia bisa merencanakan seluruh rencanaNya dari sejak kekekalan.

Kalau manusia membuat rencana, maka manusia membuatnya secara bertahap. Misalnya pada waktu kita ada di SMP kita merencanakan untuk masuk SMA tertentu, dan pada waktu di SMA baru kita meren­canakan untuk masuk perguruan tinggi tertentu. Setelah lulus dari perguruan tinggi, baru kita merencanakan untuk bekerja di tempat tertentu, dsb. Tidak ada manusia yang dari lahir lalu bisa meren­canakan segala sesuatu dalam seluruh hidupnya! Mengapa? Karena manusia tidak maha tahu sehingga ia tidak mampu melakukan hal itu. Manusia membutuhkan penambahan pengetahuan untuk bisa membuat rencana lanjutan.

Tetapi Allah yang maha tahu dan maha bijaksana, merencanakan seluruh RencanaNya sejak semula!

c) Kitab Suci menyatakan bahwa Rencana Allah (secara umum) memang bersifat kekal / sudah ada sejak kekekalan.

2Raja 19:25 - “Bukankah telah kaudengar, bahwa Aku telah menentukannya dari jauh hari, dan telah merancangnya pada zaman purbakala? Sekarang Aku mewujudkannya, bahwa engkau membuat sunyi senyap kota-kota yang berkubu menjadi timbunan batu”.

Mazmur 139:16 - “mataMu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitabMu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya”.

Yesaya 37:26 - “Bukankah telah kaudengar, bahwa Aku telah menentukannya dari jauh hari dan telah merancangnya dari zaman purbakala? Sekarang Aku mewujudkannya, bahwa engkau membuat sunyi senyap kota-kota yang berkubu menjadi timbunan batu”.

Yes 46:10-11 - “(10) yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: KeputusanKu akan sampai, dan segala kehendakKu akan Kulaksanakan, (11) yang memanggil burung buas dari timur, dan orang yang melaksanakan putusanKu dari negeri yang jauh. Aku telah mengatakannya, maka Aku hendak melangsungkannya, Aku telah merencanakannya, maka Aku hendak melaksanakannya”.

d) Dalam persoalan Predestinasipun, Kitab Suci menyatakan bahwa Allah telah merencanakannya sejak kekekalan.

2Tim 1:9 - “Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karuniaNya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman”.

Ef 1:4-5,11 - “(4) Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapanNya. (5) Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anakNya, sesuai dengan kerelaan kehendakNya, ... (11) Aku katakan ‘di dalam Kristus’, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan - kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendakNya”.

2Tes 2:13 - “Akan tetapi kami harus selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudara, yang dikasihi Tuhan, sebab Allah dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu dan dalam kebenaran yang kamu percayai”.

Ro 9:11-13 - “(11) Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, - supaya rencana Allah tentang pemilihanNya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilanNya - (12) dikatakan kepada Ribka: ‘Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda,’ (13) seperti ada tertulis: ‘Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.’”.

Ro 8:29-30 - “(29) Sebab semua orang yang dipilihNya dari semula, mereka juga ditentukanNya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran AnakNya, supaya Ia, AnakNya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. (30) Dan mereka yang ditentukanNya dari semula, mereka itu juga dipanggilNya. Dan mereka yang dipanggilNya, mereka itu juga dibenarkanNya. Dan mereka yang dibenarkanNya, mereka itu juga dimuliakanNya”.

Wah 13:8 - “Dan semua orang yang diam di atas bumi akan menyembahnya, yaitu setiap orang yang namanya tidak tertulis sejak dunia dijadikan di dalam kitab kehidupan dari Anak Domba, yang telah disembelih”.

Wahyu 17:8 - “Dan mereka yang diam di bumi, yaitu mereka yang tidak tertulis di dalam kitab kehidupan sejak dunia dijadikan, akan heran, apabila ....”.

2) Predestinasi bersifat ‘unconditional’ / tak bersyarat.

Kebanyakan gereja percaya Predestinasi, tetapi apa dasarnya Allah memilih? Jawaban terhadap pertanyaan ini menentukan apakah orang itu Reformed atau tidak.

Kalau jawabannya menunjukkan suatu ‘conditional election’ (= pemilihan yang bersyarat), dimana Predestinasi / pemilihan itu tergantung pada kehidupan manusianya (Allah memilih orang karena Ia tahu bahwa orang itu baik / akan menjadi baik / akan beriman), maka orang itu bukan Reformed / Calvinist.

Sebaliknya kalau jawabannya menunjukkan suatu ‘unconditional election’ (= pemilihan yang tidak bersyarat), dimana Predestinasi / pemilihan itu sama sekali tidak tergantung pada kehidupan manusia yang dipilih, tetapi semata-mata tergantung kepada Allah, maka orang itu Reformed / Calvinist (Catatan: tetapi tentu ada hal-hal lain yang harus ia percayai untuk betul-betul disebut Reformed / Calvinist)

a) Dasar Kitab Suci dari Predestinasi / pemilihan yang tidak bersyarat.

1. Di atas sudah kita pelajari bahwa Predestinasi bersifat kekal. Jadi, kita sudah dipilih sebelum kita lahir, dan ini menunjukkan bahwa pemilihan ini tidak tergantung perbuatan / hidup kita (unconditional).

Ro 9:11 - “Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, - supaya rencana Allah tentang pemilihanNya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilanNya”.

2. Kita sudah melihat bahwa pemilihan terhadap Israel dilakukan bukan karena mereka baik, tetapi semata-mata karena kehendak Allah. Calvin menjadikan ini sebagai salah satu dasar dari Unconditional Election (= pemilihan yang tidak bersyarat).

Calvin: “... let those now come forward who would bind God’s election either to the worthiness of men or to the merit of works. Since they see one nation preferred above all others, and hear that God was not for any reason moved to be more favorably inclined to a few, ignoble - indeed, even wicked and stubborn - men, will they quarrel with him because he chose to give such evidence of his mercy?” (= ... biarlah maju ke depan mereka yang mengikat pemilihan Allah pada kelayakan manusia atau pada jasa pekerjaan / perbuatan baik mereka. Karena mereka melihat satu bangsa dipilih di atas yang lain, dan mendengar bahwa Allah bukan karena alasan apapun digerakkan untuk bersikap lebih baik kepada segelintir orang-orang hina / rendah / tercela, bahkan jahat dan tegar tengkuk, akankah mereka bertengkar dengan Dia karena Ia memilih untuk memberikan bukti dari belas kasihanNya?) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XXI, no 5.

3. Yoh 15:16a - “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu”.

Calvin: “We therefore find Christ’s statement to his disciples, ‘You did not choose me, but I chose you’ (John 15:16), generally valid among all believers. There he not only rules out past merits but also indicates his disciples had nothing in themselves for which to be chosen if he had not first turned to them in his mercy” [= Karena itu kita menemukan pernyataan Kristus kepada murid-muridNya: ‘Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu’ (Yoh 15:16), yang merupakan suatu hal yang benar / sah secara umum di antara semua orang percaya. Di sana Ia bukan hanya menyingkirkan jasa-jasa pada waktu lampau tetapi juga menyatakan bahwa murid-muridNya tidak mempunyai apapun dalam diri mereka sendiri yang menyebabkan mereka dipilih, kalau Ia tidak lebih dulu berbalik kepada mereka dalam belas kasihanNya] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XXII, no 3.

4. Ro 11:35 - “Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepadaNya, sehingga Ia harus menggantikannya?”.

Calvin: “And how is Paul’s statement to be understood, ‘Who has first given to him, and he shall receive recompense’ (Rom. 11:35)? He means to show that God’s goodness so anticipates men that among them he finds nothing either past or future to win them his favor” [= Dan bagaimana pernyataan Paulus dimengerti: ‘Siapakah yang lebih dulu memberikan sesuatu kepadaNya, dan ia akan menerima balas jasa’ (Ro 11:35)? Ia bermaksud menunjukkan bahwa kebaikan Allah begitu mendahului manusia sehingga di antara mereka Ia tidak menemukan apapun, baik di waktu lampau maupun di waktu yang akan datang, yang menyebabkan Ia bersikap baik kepada mereka] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XXII, no 3.

Catatan: terjemahan Kitab Suci Indonesia berbeda dengan KJV dalam Ro 11:35 ini, tetapi kalau kita menggunakan terjemahan Indonesia ataupun NIV / NASB maka tetap akan cocok dengan argumentasi Calvin.

5. 2Tim 1:9 - “Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karuniaNya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman”.

Ayat ini jelas menunjukkan bahwa Predestinasi tidak tergantung perbuatan baik / kehidupan kita, tetapi tergantung pada Rencana Allah dan kasih karunia Allah.

6. Ro 9:11-13 - “(11) Tetapi bukan hanya itu saja. Lebih terang lagi ialah Ribka yang mengandung dari satu orang, yaitu dari Ishak, bapa leluhur kita. Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, - supaya rencana Allah tentang pemilihanNya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilanNya - (12) dikatakan kepada Ribka: ‘Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda,’ (13) seperti ada tertulis: ‘Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau’”.

Ini adalah dasar yang sangat kuat / menyolok bahwa Predestinasi tidak dilakukan karena Allah melihat / tahu lebih dulu bahwa orang itu bakal baik / beriman.

Calvin:

· “Suppose we admit that Jacob was chosen because he had worth arising out of virtues to come; why should Paul say that he had not yet been born? ... But the apostle proceeds to resolve this difficulty, and teaches that the adoption of Jacob comes not from works but from God’s call” (= Kalau kita mengakui bahwa Yakub dipilih karena ia mempunyai kelayakan yang ditimbulkan oleh kebaikannya di masa yang akan datang; mengapa Paulus harus mengatakan bahwa ia belum dilahirkan? ... Tetapi sang rasul meneruskan untuk memecahkan kesukaran ini, dan mengajar bahwa pengangkatan Yakub sebagai anak tidak datang dari perbuatan tetapi dari panggilan Allah) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XXII, no 4.

· “But because he well knew that God could foresee nothing good in man except what he had already determined to bestow by the benefit of his election, he does not resort to that absurd disorder of putting good works before their cause” [= Tetapi karena ia (Paulus) tahu benar bahwa Allah tidak melihat lebih dulu apapun yang baik dalam diri manusia kecuali apa yang Ia telah tetapkan untuk berikan sebagai manfaat pemilihanNya, ia tidak mengambil jalan menuju urutan kacau yang menggelikan yang menempatkan perbuatan baik sebelum penyebabnya] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XXII, no 5.

· “Esau and Jacob are brothers, born of the same parents, as yet enclosed in the same womb, not yet come forth into the light. In them all things are equal, yet God’s judgment of each is different. For he receives one and rejects the other. It was only by right of primogeniture that one excelled the other. Yet even that is disregarded, and what is denied to the elder is given to the younger” (= Esau dan Yakub adalah saudara, dilahirkan dari orang tua yang sama, dan masih terbungkus dalam kandungan yang sama, belum dilahirkan. Dalam diri mereka semua hal adalah sama, tetapi penghakiman Allah terhadap mereka masing-masing berbeda. Karena Ia menerima yang satu dan menolak yang lain. Hanya karena hak kesulungan maka seseorang melebihi yang lain. Tetapi bahkan hal itu diabaikan, dan apa yang tidak diberikan kepada yang lebih tua diberikan kepada yang lebih muda) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XXII, no 5.

The Biblical Illustrator: Old Testament (tentang 2Sam 1:26): “THE LOVE OF CHRIST WAS WONDERFUL WHEN WE CONSIDER THOSE HE LOVED. ... There was nothing lovely in us. It is as natural for anything lovely to draw forth our admiration as for the magnet to attract the iron or the flower to attract the bee. There was great reason why Jonathan should love David. But when we come to consider our Lord’s love for us, we have to say - What was there in me that could merit esteem, Or give the Creator delight? It is recorded that a minister once announced his intention of being in the vestry of his Church, for a certain time on a certain day, to meet any one who might have scriptural difficulties, that he might try to solve them. Only one came. ‘What is your difficulty,’ said the minister. The man answered, ‘My difficulty is in the ninth chapter of Romans, where it says, ‘Jacob have I loved, but Esau have I hated.’ ‘Yes,’ said the minister, ‘there is great difficulty in that verse; but which part of the verse forms your difficulty?’ ‘The latter part, of course,’ said the man. ‘I cannot understand why God should hate Esau.’ The minister’s reply was this: ‘The verse has often been a difficulty to me, but my difficulty has always been in the first part of the verse; I never could understand how God could love that wily, deceitful, supplanting scoundrel, Jacob.’” (= KASIH KRISTUS ITU SANGAT INDAH PADA WAKTU KITA MEMPERTIMBANGKAN MEREKA YANG IA KASIHI. ... Tidak ada yang bagus dalam diri kita. Merupakan sesuatu yang alamiah / wajar untuk apapun yang bagus untuk menarik kekaguman kita seperti magnet menarik besi, atau bunga menarik lebah. Ada alasan yang besar / agung mengapa Yonatan mengasihi Daud. Tetapi pada waktu kita mempertimbangkan kasih Tuhan kita bagi kita, kita harus mengatakan - Ada apa di dalam diriku yang bisa layak mendapatkan penghargaan, Atau memberikan sang Pencipta kesenangan? Ada tercatat bahwa seorang pendeta suatu kali mengumumkan tujuan / maksudnya untuk berada di suatu tempat di Gerejanya, untuk waktu tertentu pada hari tertentu, untuk menemui siapapun yang mungkin mempunyai kesukaran berkenaan dengan Kitab Suci, supaya ia bisa mencoba untuk membereskannya. Hanya satu orang yang datang. ‘Apa kesukaranmu’, kata sang pendeta. Orang itu menjawab, ‘Kesukaranku ada dalam pasal ke 9 dari Roma, dimana dikatakan, ‘Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau’. ‘Ya’, kata sang pendeta, ‘ada kesukaran yang besar dalam ayat itu; tetapi bagian yang mana dari ayat itu yang membentuk kesukaranmu?’ ‘Bagian yang terakhir, tentu saja’, kata orang itu. ‘Saya tidak bisa mengerti mengapa Allah harus membenci Esau’. Jawaban sang pendeta adalah ini: ‘Ayat ini telah sering merupakan suatu kesukaran bagiku, tetapi kesukaranku selalu ada dalam bagian pertama dari ayat itu; aku tidak pernah bisa mengerti bagaimana Allah bisa mengasihi Yakub yang cerdik / licik, penuh tipu daya / dusta, bajingan pengganti itu’.).

7. Ro 9:14-16 - “(14) Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah Allah tidak adil? Mustahil! (15) Sebab Ia berfirman kepada Musa: ‘Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati’. (16) Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah”.

Bandingkan bagian yang digaris-bawahi dengan Ro 9:16 versi KJV yang menterjemahkan ayat ini secara hurufiah: “So then it is not of him that willeth, nor of him that runneth, but of God that sheweth mercy” [= Jadi hal itu bukanlah dari dia yang mau, bukan juga dari dia yang berlari (maksudnya ‘berusaha’), tetapi dari Allah yang menunjukkan belas kasihan].

Calvin berkata bahwa Ambrose, Origen, Jerome mengatakan bahwa Allah membagikan kasih karuniaNya di antara manusia seperti yang Ia lihat lebih dulu (foresaw) bahwa mereka akan menggunakannya dengan baik. Calvin juga mengatakan bahwa mula-mula Agustinus juga mempunyai pandangan seperti ini, tetapi lalu berubah. Agustinus menggunakan Ro 9:14 sebagai dasar. Ia berkata bahwa kalau memang Allah membagikan kasih karuniaNya kepada orang-orang yang Ia lihat lebih dulu akan menggunakannya dengan baik, maka Ro 9:14 ini adalah tempat yang tepat untuk menyatakan hal itu. Tetapi Paulus justru mengatakan Ro 9:15-16, yang sama sekali bertentangan dengan pandangan itu.

8. Pemilihan Efraim atas Manasye.

Kej 48:13-14,17-20 - “(13) Setelah itu Yusuf memegang mereka keduanya, dengan tangan kanan dipegangnya Efraim, yaitu di sebelah kiri Israel, dan dengan tangan kiri Manasye, yaitu di sebelah kanan Israel, lalu didekatkannyalah mereka kepadanya. (14) Tetapi Israel mengulurkan tangan kanannya dan meletakkannya di atas kepala Efraim, walaupun ia yang bungsu, dan tangan kirinya di atas kepala Manasye - jadi tangannya bersilang, walaupun Manasye yang sulung. ... (17) Ketika Yusuf melihat bahwa ayahnya meletakkan tangan kanannya di atas kepala Efraim, hal itu dipandangnya tidak baik; lalu dipegangnya tangan ayahnya untuk memindahkannya dari atas kepala Efraim ke atas kepala Manasye. (18) Katanya kepada ayahnya: ‘Janganlah demikian, ayahku, sebab inilah yang sulung, letakkanlah tangan kananmu ke atas kepalanya.’ (19) Tetapi ayahnya menolak, katanya: ‘Aku tahu, anakku, aku tahu; ia juga akan menjadi suatu bangsa dan ia juga akan menjadi besar kuasanya; walaupun begitu, adiknya akan lebih besar kuasanya dari padanya, dan keturunan adiknya itu akan menjadi sejumlah besar bangsa-bangsa.’ (20) Lalu diberkatinyalah mereka pada waktu itu, katanya: ‘Dengan menyebutkan namamulah orang Israel akan memberkati, demikian: Allah kiranya membuat engkau seperti Efraim dan seperti Manasye.’ Demikianlah didahulukannya Efraim dari pada Manasye”.

b) Jangan mencampuradukkan ‘pemilihan yang tidak bersyarat’ dengan ‘keselamatan yang tidak bersyarat’. Ini adalah 2 hal yang berbeda seperti langit dengan bumi!

Calvinisme memang mengajarkan ‘pemilihan yang tidak bersyarat’ (unconditional election), dimana Allah memilih seseorang tanpa tergantung pada kehidupan orang itu. Tetapi Calvinisme tidak pernah mengajarkan ‘keselamatan tanpa syarat’! Keselamatan tentu ada syaratnya, yaitu orangnya harus mendengar Injil, lalu percaya kepada Yesus, dan bertekun ikut Yesus sampai mati (sebetulnya yang terakhir ini merupakan bukti keselamatan).

Pdt. Jusuf B. S. secara memfitnah menyatakan pandangan Calvinisme dengan cara sebagai berikut: “Dilayani atau tidak dilayani, kalau mereka sudah ditentukan selamat, akhirnya toh tetap selamat, sebab Tuhan berdaulat penuh” - ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 35.

Guy Duty, dalam seluruh bukunya ‘Keselamatan bersyarat atau tanpa syarat?’, menekankan dari awal sampai akhir bahwa keselamatan itu bukan tanpa syarat (unconditional), tetapi dengan syarat (conditional), dan syaratnya adalah ‘percaya’. Dan ini dijadikannya sebagai suatu serangan terhadap ‘Calvinisme’ seakan-akan Calvinisme mengajar bahwa ‘Unconditional Election’ berarti bahwa orang yang dipilih tetap akan selamat sekalipun orangnya tidak percaya, atau tidak percaya sampai akhir.

Bahwa Guy Duty memang mempunyai anggapan salah tentang Calvinisme seperti itu, atau memfitnah Calvinisme seperti itu, saya buktikan dengan memberikan beberapa kutipan dari bukunya itu.

1. Pada bagian Pendahuluan dari bukunya itu, Guy Duty menuliskan surat dari seorang pendeta kepada Guy Duty yang menanggapi buku Guy Duty ini. Dan saya mengutip sebagian surat itu yang berbunyi sebagai berikut: “Anda telah mengadakan pendekatan tentang pokok ini dari sudut yang sangat menyegarkan. Karya akademik ini tidak hanya menghadapi argumen-argumen dari guru-guru Kepastian Keselamatan Kekal dengan telak, tetapi juga membuktikan dari Alkitab, bahwa keselamatan itu bersyarat, dan hanya didasarkan pada fakta bahwa orang beriman harus terus percaya” - hal 10.

Jadi setelah pendeta itu membaca buku Guy Duty, ia diyakinkan bahwa ‘Calvinisme’ itu salah, karena ‘Calvinisme’ mengajarkan keselamatantanpa syarat, dimana orang yang sudah dipilih tetap akan selamat sekalipun tidak terus menerus percaya. Sayang sekali pendeta ini sama tidak mengertinya dengan Guy Duty bahwa Calvinisme tidak pernah mengajar seperti itu!

2. Guy Duty mengutip kata-kata Strombeck, yang ia katakan adalah seorang Calvinist, dalam bukunya yang berjudul ‘Shall Never Perished’ (= Takkan pernah binasa), yang berbunyi: “Diajarkan dalam Ef 1:13-14, bahwa setelah seseorang percaya (suatu tindakan yang telah selesai dikerjakan), ia dimeteraikan dengan Roh Kudus sampai pada penebusan milik yang sudah dibeli. Bagian Alkitab ini sekaligus mengesampingkan argumentasi bahwa seseorang harus terus percaya. Tidak perlu iman yang terus menerus di pihak orang yang diselamatkan ...(hal 130-131)” - hal 27.

Terhadap hal ini perlu saya tegaskan bahwa:

a. Saya tidak pernah mendengar tentang adanya seorang ahli theologia Reformed / Calvinist yang bernama Strombeck.

b. Kalau Strombeck memang menulis seperti yang dikutip oleh Guy Duty itu, saya bisa pastikan bahwa ia bukanlah seorang Calvinist / Reformed, bahkan ia bukan seorang kristen. Ia adalah orang sesat / nabi palsu.

c. Calvinisme yang sejati tidak pernah mengajar seperti kutipan Guy Duty dari kata-kata Strombeck tersebut di atas.

3. Dalam bagian yang lain Guy Duty juga mengatakan sebagai berikut: “Dengan fakta-fakta ini di hadapan kita dapatkah para pembaca setuju dengan para penulis Calvinis yang dikutip di bawah ini? ‘Mereka yang diselamatkan bukan diselamatkan karena iman mereka atau pertobatan mereka atau alasan-alasan lain yang ada pada mereka.’ ‘Jadi panggilan Allah dilakukan, adalah dalam rangka untuk menggenapi maksud Allah sendiri, terlepas dari segala perbuatan yang dilakukan oleh orang yang diselamatkan’” - hal 32.

4. Dalam bagian lain lagi Guy Duty berkata: “Biarlah pembaca mempertimbangkan pernyataan sederhana dari Kristus tentang keselamatan yang bersyarat ini, dan kemudian membaca apa yang dikatakan oleh para guru Kepastian Keselamatan Kekal: ‘Tidak perlu iman yang terus menerus di pihak orang yang diselamatkan’ -- ‘Orang yang sudah dipredestinasikan, diselamatkan tanpa memandang apa yang boleh atau yang tidak boleh ia perbuat’” - hal 83.

Perlu saudara ketahui bahwa saya adalah seorang Calvinist yang sangat keras dan saya mempunyai dan membaca banyak sekali buku-buku yang ditulis oleh Calvin sendiri maupun ahli-ahli theologia Calvinist / Reformed (seperti Louis Berkhof, R. L. Dabney, Charles Hodge, John Murray, William G. T. Shedd, Herman Bavinck, John Owen, G. C. Berkouwer, B. B. Warfield, Loraine Boettner, R. C. Sproul, dsb), tetapi saya belum pernah menjumpai satupun dari mereka mengatakan / mengajarkan hal sesat semacam itu. Lucunya Guy Duty tidak menyebutkan siapa penulis Calvinist / para guru Kepastian Keselamatan Kekal yang ia maksudkan (dalam 2 kutipan yang terakhir di atas), dan dari buku apa ia mengutip kata-kata itu. Atau ini juga merupakan fitnahan Guy Duty terhadap Calvinisme?

Yang saya pertanyakan adalah: apakah Pdt. Jusuf B. S. dan Guy Duty memang salah mengerti tentang Calvinisme, atau mereka memang memfitnah Calvinisme? Kalau kemungkinan pertama yang benar, maka adalah sesuatu yang menggelikan dan menyedihkan bahwa seseorang bisa menyerang sesuatu yang tidak ia mengerti. Kalau kemungkinan kedua yang benar, maka ini lebih menyedihkan lagi, karena bagaimana mungkin seseorang yang mengaku sebagai hamba Tuhan bisa memfitnah seperti itu. Tetapi kemungkinan kedua ini bukannya merupakan sesuatu yang mustahil. Perhatikan kata-kata Charles Hodge dan Charles Haddon Spurgeon di bawah ini.

¨ Charles Hodge: “That there are formidable objections to the Augustinian doctrine of divine sovereignty cannot be denied. They address themselves even more powerfully to the feelings and to the imagination than they do to understanding. They are therefore often arrayed in such distorted and exaggerated forms as to produce the strongest revulsion and abhorrence. This, however, is due partly to the distortion of the truth and partly to the opposition of our imperfectly or utterly unsanctified nature, to the things of the Spirit, of which the Apostle speaks in 1Cor. 2:14” (= Bahwa ada keberatan-keberatan yang berat / hebat terhadap doktrin Agustinus tentang kedaulatan ilahi tidak dapat disangkal. Mereka lebih tertuju pada perasaan dan imajinasi dari pada pada pengertian. Karena itu mereka sering diatur / disusun dalam bentuk yang menyimpang dan dilebih-lebihkan supaya menghasilkan reaksi mendadak dan kejijikan yang paling kuat. Bagaimanapun, hal ini sebagian disebabkan oleh penyimpangan kebenaran dan sebagian lagi oleh oposisi dari diri manusia yang pengudusannya belum sempurna atau belum ada sama sekali, terhadap hal-hal dari Roh, tentang mana sang Rasul berbicara dalam 1Kor 2:14) - ‘Systematic Theology’, vol II, hal 349.

Catatan: 1Kor 2:14 - “Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani”.

¨ Charles Haddon Spurgeon: “The doctrine of election has been made into a great bugbear by its unscrupulous opponents and its injudicious friends. I have read some very wonderful sermons against this doctrine, in which the first thing that was evident was that the person speaking was totally ignorant of his subject. ... The usual way of composing a sermon against the doctrine of grace is this, - first exaggerate and belie the doctrine, and then argue against it. ... Nobody ever believed the doctrine of election as I have heard it stated by Arminian controversialists. ... Is it remarkable that we are as eager to denounce the dogmas imputed to us as ever our opponents can be? Why do they earnestly set themselves to confute what no one defends? They might as well spare themselves the trouble” (= Doktrin pemilihan telah dibuat menjadi momok yang besar oleh penentang-penentangnya yang tidak teliti dan teman-temannya yang tidak bijaksana. Saya telah membaca beberapa khotbah yang luar biasa yang menentang doktrin ini, dimana hal pertama yang nyata adalah bahwa orang yang berbicara sama sekali tidak mempunyai pengertian tentang pokok yang dibicarakannya. ... Jalan / cara yang umum untuk menyusun khotbah untuk menentang doktrin kasih karunia adalah ini, - mula-mula lebih-lebihkan dan nyatakanlah doktrin ini secara salah, dan setelah itu berargumentasilah menentangnya. ... Tidak seorangpun pernah mempercayai doktrin pemilihan seperti yang saya dengar pendebat-pendebat Arminian menyatakannya. ... Bukankah merupakan sesuatu yang luar biasa / hebat bahwa kita sama bersemangatnya dengan penentang-penentang kita untuk mencela dogma yang mereka hubungkan dengan kita? Mengapa mereka begitu bersungguh-sungguh menyiapkan diri mereka untuk menyangkal / membantah apa yang tidak dipertahankan oleh seorangpun? Mereka lebih baik menghemat / menyimpan jerih payah mereka) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 7, hal 36-37.

Kata-kata Hodge dan Spurgeon ini penting untuk saudara perhatikan dalam menghadapi setiap serangan orang Arminian (termasuk Pdt. Jusuf B. S. dan Guy Duty) yang mengextrimkan dan memfitnah Calvinisme sehingga tidak mirip Calvinisme, dan baru setelah itu menyerangnya.

Catatan: belakangan ini muncul Suhento Liauw dan Steven Liauw (mereka ini bapak dan anak, yang sama-sama punya gelar doktor theologia), yang juga menyerang Calvinisme dengan cara yang sama seperti Pdt. Jusuf B. S. dan Guy Duty.

Dan Guy Duty juga memberikan tuduhan sebagai berikut:

“Dalam tulisan-tulisan para guru Kepastian Keselamatan Kekal, anda tidak akan dapat menemukan kata predestinasi yang dipakai dalam hubungannya dengan pokok-pokok tentang keselamatan yang bersyarat seperti yang telah anda baca di atas” - ‘Keselamatan, bersyarat atau tanpa syarat?’, hal 37.

Ini jelas-jelas merupakan suatu fitnahan dari Guy Duty, dan juga menunjukkan betapa sembrononya / sembarangannya Guy Duty menyatakan Calvinisme!

Bahwa Calvinisme memang menghubungkan ‘Predestinasi’ dengan ‘keselamatan bersyarat’ terlihat dengan jelas dari acrostic TULIP (5 points Calvinisme), yang:

a. Pada point ke 2 menyatakan Predestinasi.

b. Pada point ke 4 menyatakan bahwa kasih karunia Allah tidak bisa ditolak. Ini jelas menunjukkan bahwa orang yang dipilih dan diberi kasih karunia itu tidak bisa tidak pasti akan beriman kepada Yesus.

c. Pada point ke 5 menyatakan bahwa orang percaya itu karena pekerjaan Allah dalam dirinya pasti akan bertekun ikut Yesus sampai mati!

Saya juga akan membuktikan bahwa orang Calvinist menghubungkan predestinasi dengan keselamatan bersyarat dengan memberikan kutipan-kutipan kata-kata Calvin, R. L. Dabney, R. C. Sproul, B. B. Warfield, dan juga dari Westminster Confession of Faith di bawah ini, yang semuanya percaya bahwa sekalipun kita dipilih untuk diselamatkan, tetapi kita juga harus percaya. Allah yang sudah menetapkan keselamatan seseorang juga akan bekerja untuk membuat orang itu menjadi percaya sampai akhir hidupnya.

Calvin: “Election is to be understood and recognized in Christ alone. ... Accordingly, those whom God has adopted as his sons are said to have been chosen not in themselves but in his Christ (Eph. 1:4)” [= Pemilihan hanya dimengerti dan dikenali dalam Kristus saja. ... Karena itu, mereka yang Allah adopsi sebagai anak-anakNya dikatakan telah dipilih bukan dalam diri mereka sendiri tetapi dalam KristusNya (Ef 1:4)] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XXIV, no 5.

Robert L. Dabney: “God’s act in forming His decree is unconditioned on anything to be done by His creatures. In another sense, a multitude of the things decreed are conditional; God’s whole plan is a wise unit, linking means with ends, and causes with effects. In regard to each of these effects, the occurrence of it is conditional on the presence of its cause, and is made so dependent by God’s decree itself. But while the events decreed are conditional, God’s act in forming the decree is not conditional, on anything which is to occur in time; because in the case of each dependent event, His decree as much determined the occurrence of the cause, as of its effect. And this is true equally of those events in His plan dependent on the free acts of free agents” (= Tindakan Allah dalam membentuk ketetapanNya tidak disyaratkan pada apapun yang akan dilakukan oleh makhluk ciptaanNya. Dalam pengertian yang lain, banyak hal-hal yang ditetapkan yang bersyarat; seluruh rencana Allah merupakan kesatuan yang bijaksana, menghubungkan cara / jalannya dengan tujuannya, dan menghubungkan sebab dengan akibatnya. Memperhatikan pada setiap akibat, terjadinya hal itu disyaratkan pada adanya penyebab, dan dibuat begitu tergantung oleh ketetapan Allah sendiri. Tetapi sementara kejadian yang ditetapkan itu bersyarat, tindakan Allah dalam membentuk ketetapan itu tidak bersyarat, pada apapun yang akan terjadi dalam waktu; karena dalam kasus dari setiap kejadian, ketetapanNya menetapkan terjadinya penyebabnya maupun akibatnya. Dan ini sama benarnya tentang kejadian-kejadian dalam rencanaNya yang tergantung pada tindakan bebas dari agen yang bebas) - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 218-219.

Karena kata-kata ini cukup sukar, maka saya jelaskan sebagai berikut: Pada waktu Allah menetapkan bahwa si A akan selamat, maka itu bersifat tidak bersyarat, artinya itu bukan karena Allah melihat si A bakal percaya, bakal menjadi baik dsb. Tetapi keselamatan si A bersyarat, yaitu kalau ia percaya kepada Yesus. Tetapi Allah, yang menetapkan keselamatan si A, pasti juga menetapkan caranya / jalannya supaya si A selamat (misalnya si B menginjilinya sehingga si A percaya kepada Yesus).

Allah


B menginjili A ® A percaya Kristus ® A selamat

Robert L. Dabney: “His decree includes means and conditions” (= KetetapanNya mencakup cara-cara / jalan-jalan dan syarat-syarat) - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 220.

Dabney lalu memberikan 2Tes 2:13 dan 1Pet 1:2 sebagai pendukung pandangannya.

2Tesalonika 2:13 - “Akan tetapi kami harus selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudara, yang dikasihi Tuhan, sebab Allah dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu dan dalam kebenaran yang kamu percayai”.

Kata-kata ‘Allah dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan’ jelas menunjuk pada Predestinasi, sedangkan kata-kata ‘dalam Roh yang menguduskan kamu dan dalam kebenaran yang kamu percayai’ menunjukkan cara / jalan untuk mencapai ketetapan Tuhan itu.

1Petrus 1:1-2 - “(1) Dari Petrus, rasul Yesus Kristus, kepada orang-orang pendatang, yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia, (2) yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darahNya. Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu”.

Kata-kata ‘orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita’ jelas menunjuk pada Predestinasi, sedangkan kata-kata ‘yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darahNya’ menunjukkan cara / jalan untuk mencapai ketetapan Tuhan itu.

Dabney menambahkan lagi: “The sophism of the Arminian is just that, in this case, already pointed out; confounding conditionality of events decreed, with conditionality of God’s decree” (= Kesalahan dari orang Arminian dalam hal ini adalah seperti telah ditunjukkan; mencampuradukkan persyaratan dari hal-hal yang ditetapkan dengan persyaratan dari ketetapan ilahi) - ‘Lecturein Systematic Theology’, hal 222.

R. C. Sproul: “We must be careful to distinguish between conditions that are necessary for salvation and conditions that are necessary for election. ... There are all sorts of conditions that must be met for someone to be saved. Chief among them is that we must have faith in Christ.Justification is by faith. Faith is a necessary requirement. To be sure, the Reformed doctrine of predestination teaches that all the elect are indeed brought to faith. God insures that the conditions necessary for salvation are met” (= Kita harus hati-hati membedakan antara syarat-syarat yang diperlukan untuk keselamatan dan syarat-syarat yang diperlukan untuk pemilihan. ... Ada segala macam persyaratan yang harus dipenuhi supaya seseorang diselamatkan. Yang terutama dari mereka adalah bahwa kita harus mempunyai iman kepada Kristus. Pembenaran adalah oleh iman. Iman adalah persyaratan yang diperlukan. Jelasnya, doktrin Reformed tentang Predestinasi mengajarkan bahwa semua orang pilihan memang dibawa kepada iman. Allah memastikan bahwa persyaratan yang perlu untuk keselamatan dipenuhi) - ‘Chosen By God’, hal 155.

Arthur W. Pink: “It is not true that, because God has chosen a certain one to salvation, he will be saved willy-nilly, whether he believes or not: nowhere do the Scriptures so represent it. The same God who predestined the end, also appointed the means; the same God who ‘chose unto salvation,’ decreed that His purpose should be realized through the work of the Spirit and belief of the truth” (= Adalah tidak benar bahwa karena Allah telah memilih orang tertentu untuk keselamatan, bagaimanapun juga ia akan diselamatkan, apakah ia percaya atau tidak: Kitab Suci tidak pernah menggambarkannya seperti itu. Allah yang sama yang mempredestinasikan akhir / tujuannya, juga menetapkan cara / jalannya; Allah yang sama yang ‘memilih kepada keselamatan’, menetapkan bahwa RencanaNya harus diwujudkan melalui pekerjaan Roh dan kepercayaan pada kebenaran) - ‘The Sovereignty of God’, hal 52.

B. B. Warfield: “Of course this election is to privileges and means of grace; and without these the great end of the election would not be attained: for the ‘election’ is given effect only by the ‘call,’ and manifests itself only in faith and the holy life” (= Tentu saja pemilihan ini adalah bagi hak dan cara / jalan kasih karunia; dan tanpa hal-hal ini tujuan besar dari pemilihan tidak akan tercapai: karena ‘pemilihan’ hanya terjadi / terlaksana oleh ‘panggilan’, dan mewujudkan dirinya sendiri hanya dalam iman dan kehidupan yang kudus) - ‘Biblical and Theological Studies’, hal 301.

B. B. Warfield: “In the case of neither class, that of the elect as little as that of those that are without, are the purpose of God wrought out without the co-operation of the activities of the subjects” (= Tidak ada golongan yang manapun, baik golongan pilihan maupun yang diluar pilihan, dalam mana rencana / tujuan Allah dilaksanakan tanpa kerja sama dari aktivitas orangnya) - ‘Biblical and Theological Studies’, hal 302.

‘Westminster Confession of Faith’, Chapter III, no 6:

“As God hath appointed the elect unto glory, so hath He, by the eternal and most free purpose of His will, foreordained all the means thereunto. Wherefore, they who are elected, being fallen in Adam, are redeemed by Christ, are effectually called unto faith in Christ by His Spirit working in due season, are justified, adopted, sanctified, and kept by His power, through faith, unto salvation. Neither are any other redeemed by Christ, effectually called, justi­fied, adopted, sanctified, and saved, but the elect only” (= Sebagaimana Allah telah menetapkan orang-orang pilihanNya kepada kemuliaan, Dia juga, oleh kehendakNya yang kekal dan bebas, telah menentukan caranya / jalannya untuk mencapai hal itu. Karena itu, mereka yang dipilih, yang telah jatuh di dalam Adam, ditebus oleh Kristus, dipanggil secara efektif ke dalam iman di dalam Kristus oleh RohNya yang bekerja pada saatnya, dibenarkan, diangkat menjadi anak, dikuduskan, dan dipelihara oleh kuasaNya, melalui iman, kepada keselamatan. Tidak ada yang lain yang ditebus oleh Kristus, dipanggil secara efektif, dibenarkan, diangkat menjadi anak, dikuduskan, dan diselamatkan, kecuali orang-orang pilihan saja).

Saya kira saya sudah lebih dari cukup menunjukkan bukti-bukti bahwa ahli-ahli theologia Calvinist tidak mengajar seperti apa yang dikatakan oleh Guy Duty! Jadi di sini terbukti hitam di atas putih bahwa Guy Duty memang memfitnah. Dan saya berpendapat bahwa Gereja Bukit Zaitun dan tim penterjemah buku Guy Duty bukannya tanpa salah pada waktu mereka menterjemahkan dan menyebarkan buku yang berisikan fitnahan ini! Saya berharap mereka bisa bertobat!

3) Predestinasi pasti terjadi / tidak mungkin gagal.

a) Rencana Allah secara umum tidak bisa berubah ataupun gagal.

Orang Arminian / non Reformed percaya bahwa Allah bisa mengubah RencanaNya, dan percaya bahwa Rencana Allah bisa gagal.

Pdt. Jusuf B. S. dalam bukunya ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’ berkata sebagai berikut:

· “(Memang, setiap dosa yang diperbuat itu merusak banyak hal-hal yang baik (Pkh 9:18), bahkan rencana-rencana indah kelas I bisa hilang seperti Musa, Harun, Israel yang batal tidak jadi masuk Kanaan). Jangan sampai berulang-ulang jatuh, rencana Tuhan bagi kita rusak dan tidak ada pahalanya” (hal 79).

· “Takdir Allah dapat berubah oleh manusia” (hal 116).

Ia lalu memberi contoh: Niniwe, Ahab, Hizkia.

· “Tetapi rencana Allah bagi anak-anaknya itu sebagian bantut, sebagian jadi, tergantung dari orang itu sendiri. Meskipun Allah sudah tahu akan batal, pada beberapa orang Allah toh memberikan semua ini” (hal 119).

Sebetul­nya pandangan Arminian yang mengatakan bahwa Rencana Allah bisa gagal atau bahwa Allah bisa mengubah RencanaNya merupakan:

1. Suatu penghinaan bagi Allah karena ini menyamakan Allah dengan manusia, yang sering harus mengubah rencanaNya dan gagal dalam mencapai rencanaNya!

2. Pandangan yang bertentangan dengan logika.

Mengapa bisa demikian? Karena Allah itu mahatahu dan karena itu pada waktu Ia merencanakan, tentu Ia sudah tahu apakah RencanaNya itu akan berhasil atau akan gagal. Kalau Ia sudah tahu bahwa RencanaNya akan gagal / akan diubah, mengapa Ia tetap merencanakannya?

3. Pandangan yang jelas bertentangan dengan ayat-ayat Kitab Suci di bawah ini:

· Bil 23:19 - “Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?”

· 1Sam 15:29 - “Lagi Sang Mulia dari Israel tidak berdusta dan Ia tidak tahu menyesal; sebab Ia bukan manusia yang harus menyesal”.

· Maz 110:4 - “TUHAN telah bersumpah, dan Ia tidak akan menyesal: ‘Engkau adalah imam untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek’”.

Catatan: dalam Kitab Suci memang ada ayat-ayat yang mengatakan bahwa Allah menyesal (Kej 6:5-6 Kel 32:10-14 1Sam 15:1 Yes 38:1,5 Yer 18:8 Yunus 3:10 Amos 7:3,6), atau seolah-olah mengubah rencanaNya, seperti dalam kasus raja Hizkia (2Raja 20:1-6). Ini akan saya jelaskan belakangan pada waktu menjelaskan tentang doktrin ‘Providence of God’. Untuk sementara ini cukup saudara renungkan ini: kalau ayat-ayat itu memang menunjukkan bahwa Allah itu menyesal sehingga mengubah rencanaNya, lalu mengapa dalam Kitab Suci juga ada ayat-ayat di atas yang jelas-jelas menunjukkan bahwa Allah tidak mungkin menyesal?

· Maz 33:10-11 - “(10) TUHAN menggagalkan rencana bangsa-bangsa; Ia meniadakan rancangan suku-suku bangsa; (11) tetapi rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hatiNya turun-temurun”.

· Yes 14:24-27 - “(24) TUHAN semesta alam telah bersumpah, firmanNya: ‘Sesungguhnya seperti yang Kumaksud, demikianlah akan terjadi, dan seperti yang Kurancang, demikianlah akan terlaksana: (25) Aku akan membinasakan orang Asyur dalam negeriKu dan menginjak-injak mereka di atas gunungKu; kuk yang diletakkan mereka atas umatKu akan terbuang dan demikian juga beban yang ditimpakan mereka atas bahunya.’ (26) Itulah rancangan yang telah dibuat mengenai seluruh bumi, dan itulah tangan yang teracung terhadap segala bangsa. (27) TUHAN semesta alam telah merancang, siapakah yang dapat menggagalkannya? TanganNya telah teracung, siapakah yang dapat membuatnya ditarik kembali?”.

· Yes 46:10-11 - “(10) yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: KeputusanKu akan sampai, dan segala kehendakKu akan Kulaksanakan, (11) yang memanggil burung buas dari timur, dan orang yang melaksanakan putusanKu dari negeri yang jauh. Aku telah mengatakannya, maka Aku hendak melangsungkannya, Aku telah merencanakannya, maka Aku hendak melaksanakannya”.

· Ayub 23:13 - “Tetapi Ia tidak pernah berubah - siapa dapat menghalangi Dia? Apa yang dikehendakiNya, dilaksanakanNya juga”.

· Ayub 42:1-2 - “(1) Maka jawab Ayub kepada TUHAN: (2) ‘Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencanaMu yang gagal’”.

· Ibr 6:17 - “Karena itu, untuk lebih meyakinkan mereka yang berhak menerima janji itu akan kepastian putusanNya, Allah telah mengikat diriNya dengan sumpah”.

b) Kalau Rencana Allah secara umum tidak bisa berubah / gagal, maka jelas bahwa Predestinasi, yang merupakan sebagian dari Rencana Allah, juga tidak bisa berubah / gagal.

Dan tidak bisa gagalnya Predestinasi juga didukung secara khusus oleh ayat-ayat Kitab Suci di bawah ini:

1. Kis 13:48 - “Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan SEMUA ORANG yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya”.

Perhatikan bahwa di sini tidak dikatakan bahwa ‘sebagian orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal menjadi percaya’, tetapi ‘semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya’.

2. Yoh 17:12 - “Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam namaMu, yaitu namaMu yang telah Engkau berikan kepadaKu; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorangpun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci”.

Bagian yang saya garisbawahi itu menunjukkan secara jelas bahwa tidak ada orang pilihan yang bisa binasa / masuk neraka! Hanya orang yang bukan pilihan yang akan binasa.

3. Ro 11:25 - “Sebab, saudara-saudara, supaya kamu jangan menganggap dirimu pandai, aku mau agar kamu mengetahui rahasia ini: Sebagian dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk”.

Tujuan Allah menegarkan Israel / Yahudi adalah supaya Injil bisa diberitakan kepada orang-orang non Yahudi, sehingga menyelamatkan orang pilihan Allah di kalangan bangsa-bangsa non Yahudi itu. Dan Roma 11:25 ini menunjukkan bahwa Israel akan tetap tegar, sampai ‘jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk’! Selama ada satu saja orang pilihan di antara bangsa-bangsa non Yahudi yang belum diselamatkan, Allah tetap menegarkan Israel, dan Allah bekerja untuk mencari dan mempertobatkan satu orang itu. Setelah itu baru Tuhan bekerja untuk mempertobatkan Israel / Yahudi (itupun tentu hanya orang Israel / Yahudi yang termasuk orang pilihan).

Bandingkan ini dengan Luk 21:24b - “dan Yerusalem akan diinjak-injak oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, sampai genaplah zaman bangsa-bangsa itu”.

Tentang kata-kata ‘zaman bangsa-bangsa’ itu ‘New Geneva Study Bible’ memberi komentar sebagai berikut: “This may mean the time when the Gentiles will have their triumph over Israel, or the time when the gospel is preached to the Gentiles, or both” (= Ini bisa berarti waktu dimana bangsa-bangsa non Yahudi akan mendapatkan kemenangan atas Israel, atau waktu dimana Injil diberitakan kepada bangsa-bangsa non Yahudi, atau kedua-duanya).

‘Zaman bangsa-bangsa’ ini tidak akan genap sebelum setiap orang non Yahudi yang adalah orang pilihan Allah, diselamatkan!

4. Ro 8:29-30 - “(29) Sebab semua orang yang dipilihNya dari semula, mereka juga ditentukanNya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran AnakNya, supaya Ia, AnakNya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. (30) Dan mereka yang ditentukanNya dari semula, mereka itu juga dipanggilNya. Dan mereka yang dipanggilNya, mereka itu juga dibenarkanNya. Dan mereka yang dibenarkanNya, mereka itu juga dimuliakanNya”.

Sebetulnya tanpa dijelaskanpun ayat ini sudah jelas menunjukkan bahwa orang yang dipilih / ditentukan oleh Allah itu pada akhirnya pasti akan dimuliakan.

Tetapi ada satu hal lain yang menarik yang bisa didapatkan dari ayat ini, yaitu bahwa Ro 8:29-30 ini menggunakan kata-kata kerja dalam bentuk lampau (past tense).

NIV: “For those God foreknew he also predestined to be conformed to the likeness of his Son, that he might be the firstborn among many brothers. And those he predestined, he also called; those he called, he also justified; those he justified, he also glorified” (= Karena mereka yang diketahuiNya lebih dulu, juga dipredestinasikanNya untuk menjadi serupa dengan gambaran AnakNya, supaya Ia menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang dipredestinasikanNya, juga dipanggilNya; mereka yang dipanggilNya, juga dibenarkanNya; mereka yang dibenarkanNya, juga dimuliakanNya).

Memang tidak aneh kalau ‘foreknew’ (= diketahui lebih dulu) dan ‘predestined’ (= dipredestinasikan) ada dalam bentuk lampau, karena itu memang terjadi pada masa yang lampau, tetapi mengapa ‘called’ (= dipanggil), ‘justified’ (= dibenarkan), dan ‘glorified’ (= dimuliakan), juga ada dalam bentuk lampau? Loraine Boettner memberikan penafsiran yang menarik tentang hal ini dimana ia berkata: “Paul has cast the verse in the past tense because with God the purpose is in principle executed when formed, so certain is it of fulfillment” (= Paulus telah melemparkan ayat itu ke dalam past tense karena dengan Allah, maksud / tujuan / rencana itu pada dasarnya dilaksanakan pada saat dibentuk, begitu pastinya penggenapan tujuan itu) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 85-86.

c) Konsekwensi dari pasti terjadinya Predestinasi.

1. Keselamatan kita tidak terletak dalam tangan kita, tetapi dalam kehendak / keputusan Allah.

Memang dari sudut manusia, seseorang selamat karena ia percaya kepada Yesus. Tetapi dari sudut Allah, seseorang bisa percaya dan selamat, karena ia sudah dipilih oleh Allah.

Loraine Boettner mengutip kata-kata Martin Luther:

“God’s decree of predestination is firm and certain; and the necessary resulting from it is, in like manner, immovable, and cannot but take place. For we ourselves are so feeble, that if the matter were left in our hands, very few, or rather none, would be saved; but Satan would overcome us all” (= Ketetapan Allah tentang Predestinasi adalah teguh dan pasti; dan karena itu tidak berubah, dan tidak bisa tidak terjadi. Karena kita sendiri adalah begitu lemah, sehingga kalau persoalannya diletakkan dalam tangan kita, sangat sedikit, bahkan tidak ada, yang akan selamat; tetapi Setan akan mengalahkan kita semua) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 187.

Bandingkan kata-kata ini, khususnya pada bagian yang saya garisbawahi, dengan ajaran Pdt. Jusuf B. S. dalam bukunya ‘Keselamatan tidak bisa hilang?’ (hal 11-13,15-20), dimana secara berulangkali dan secara bertele-tele menyatakan bahwa Allah selalu menghendaki keselamatan manusia, setan selalu menghendaki kebinasaan manusia, dan karena itu keselamatan manusia tergantung pada manusia itu sendiri, apakah ia mau percaya kepada Yesus atau tidak.

2. Kalau seseorang belum percaya kepada Yesus, memang tidak bisa diketahui apakah ia orang pilihan atau bukan. Sekalipun ia sudah lama menolak Kristus, tetap belum tentu bahwa ia adalah orang yang tidak dipilih (reprobate). Karena siapa tahu ia akan bertobat? Hanya kalau seseorang menolak Kristus sampai mati, barulah jelas bahwa ia termasuk orang yang tidak dipilih.

Tetapi, kalau seseorang bisa menjadi orang kristen yang sejati (betul-betul percaya kepada Yesus), ia bisa yakin bahwa ia adalah orang pilihan.

Pdt. Jusuf B. S. berulang-ulang berkata bahwa orang tidak bisa tahu apakah ia adalah orang pilihan atau bukan.

· “sebab siapa yang tahu dengan pasti keputusan Allah tentang dirinya?” (hal 37).

· “Mereka tidak akan tahu kalau mereka sudah dipilih akan selamat atau tidak. Saul mula-mula begitu berapi-api dan penuh dengan Roh, akhirnya bunuh diri dan mati dalam dosanya, terhilang. Siapa dapat mengira kalau Saul yang begitu berapi-api, penuh dengan Roh Allah akhirnya binasa? Juga aktif, berapi-api seperti Yudas Iskariot, Iskandar, Ananias, Safira, dan lain-lain, tetapi akhirnya binasa. Begitu pula dengan mereka. Mana mungkin mereka tahu kalau mereka termasuk pilihan Tuhan yang akan selamat sebelum mereka mati” (hal 35-36).

Catatan: Nama ‘Iskandar’ berasal dari 1Tim 1:20 dalam Kitab Suci Indonesia Terjemahan Lama. Dalam Terjemahan Baru orang itu disebut ‘Alexander’.

Cara pengajaran Pdt. Jusuf B. S. ini betul-betul menggelikan karena ia memasukkan ajaran Arminian (tentang kemungkinan untuk murtad) ke dalam pemikiran orang Calvinist pada waktu memperkirakan apakah dirinya termasuk orang pilihan atau tidak. Dalam Calvinisme tidak dipercaya adanya orang kristen sejati yang bisa murtad! Karena itu, orang kristen yang sejati bisa yakin bahwa ia pasti selamat dan bahwa ia adalah orang pilihan.

Tetapi dalam persoalan meyakini diri sendiri sebagai orang pilihan, ada suatu peringatan yang sangat penting untuk diperhatikan.

Charles Haddon Spurgeon:

“We have known more than once in our day of some men who pretended to know their election by their impudence. They had got into their head the presumption that they were elected, and though they lived on in sin, and still did as they liked, they imagined they were God’s chosen. This is what I call presuming upon election by sheer impudence. We know of others, alas! who have imagined themselves to be elect, because of the visions that they have seen when they have been asleep or when they have been awake - for men have walking dreams - and they have brought these as evidence of their election” (= Kita sering tahu akan adanya orang-orang yang menganggap dirinya tahu pemilihan mereka oleh kelancangan mereka. Mereka memasukkan kesombongan ke dalam kepala mereka bahwa mereka telah dipilih, dan sekalipun mereka terus hidup dalam dosa, dan tetap melakukan seperti yang mereka senangi, mereka mengira / mengkhayalkan bahwa mereka adalah orang-orang pilihan Allah. Ini adalah apa yang saya sebut mengira / menduga tentang pemilihan dengan kelancangan / kekurangajaran. Kita tahu tentang orang-orang lain yang mengira / mengkhayalkan bahwa diri mereka adalah orang pilihan, karena penglihatan yang telah mereka lihat pada saat mereka tidur atau pada waktu mereka sedang sadar / bangun - karena manusia bisa mimpi sambil berjalan - dan mereka menggunakan hal-hal ini sebagai bukti pemilihan mereka) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 7, hal 13

Camkan kata-kata Spurgeon ini! Hanya kalau saudara betul-betul adalah orang yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat dan Tuhan, dan iman itu memang terbukti dengan adanya perbuatan baik / ketaatan, maka saudara boleh yakin / percaya bahwa saudara adalah orang pilihan.

Tetapi:

· kalau saudara sekedar adalah orang yang mengaku percaya kepada Kristus, tetapi terus hidup dalam dosa, dan bahkan mencintai dosa,

· atau kalau saudara sekedar adalah orang yang rajin pergi ke gereja, dibaptis, melayani / mempunyai jabatan tinggi dalam gereja,

· atau kalau saudara sekedar adalah orang yang ada dalam keluarga kristen selama puluhan atau bahkan ratusan tahun,

· atau kalau saudara sekedar adalah orang yang berbahasa Roh, yang sukar dipastikan asli tidaknya,

· atau kalau saudara sekedar adalah orang yang mengalami pertolongan Tuhan / kesembuhan secara mujijat / kesembuhan ilahi,

· atau kalau saudara sekedar adalah orang yang pernah mendapat penglihatan,

· atau kalau saudara sekedar adalah orang yang percaya pada doktrin tentang Predestinasi,

maka jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan bahwa saudara adalah orang pilihan.


5) Predestinasi, kehendak bebas dan tanggung jawab manusia.

a) Banyak orang Reformed yang tidak setuju dengan istilah free will ( = kehendak bebas).

Charles Haddon Spurgeon: “Any man who should deny that man is a free agent might well be thought unreasonable, but free-will is a different thing from free-agency. Luther denounces free-will when he said that ‘free-will is the name for nothing’; and President Edwards demolished the idea in his mastery treatise” (= Orang yang menyangkal bahwa manusia adalah agen bebas akan dianggap tidak masuk akal / tidak rasionil, tetapi kebebasan kehendak berbeda dengan tindakan bebas. Luther mencela kehendak bebas ketika ia berkata bahwa ‘kehendak bebas adalah nama untuk sesuatu yang tidak ada’; dan Presiden Edwards menghancurkan gagasan / idee ini dalam bukunya yang luar biasa) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 7, hal 10.

Robert L. Dabney: “... I have not used the phrase ‘freedom of the will’. I exclude it, because persuaded that it is inaccurate, and that it has occasioned much confusion and error. Freedom is properly predicated of a person, not of a faculty. ... I have preferred therefore to use the phrase, at once popular and exact: ‘free agency’ and ‘free agent’” (= Saya tidak memakai ungkapan ‘kebebasan kehendak’. Saya meniadakannya karena diyakinkan bahwa itu adalah tidak tepat, dan bahwa itu menimbulkan banyak kebingungan dan kesalahan. Kebebasan secara tepat ditujukan kepada seseorang, bukan pada bagian dari jiwa / pikiran. ... Karena itu saya lebih menyukai untuk menggunakan ungkapan yang sekaligus populer dan tepat: ‘tindakan bebas’ dan ‘agen bebas’) - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 129.

Catatan:

· Istilah ‘agent’ berarti ‘a person that performs actions or is able to do so’ (= seseorang yang melakukan tindakan-tindakan atau yang mampu melakukannya).

· Istilah ‘agency’ berarti ‘action’ (= tindakan) atau ‘the business of a person’ (= kegiatan / kesibukan seseorang).

Ini diambil dari Webster’s New World Dictionary.

Tetapi karena istilah ‘free will’ sudah begitu populer, dan lebih-lebih dalam kalangan orang awam di Indonesia istilah kehendak bebas sangat populer sedangkan istilah ‘agen bebas’ dan ‘tindakan bebas’ tidak pernah terdengar, maka saya tetap menggunakan istilah free will / kehendak bebas. Tetapi tentu saja kita harus berhati-hati terhadap penyalahgunaan dari istilah free will / kehendak bebas ini.

b) Arti yang salah dan benar dari free will ( = kehendak bebas).

1. Adanya free will / kehendak bebas tidak berarti bahwa manusia itu bebas secara mutlak.

Kalau kita meninjau doktrin Allah (theology), maka kita bisa melihat bahwa satu-satunya makhluk yang bebas mutlak adalah Allah, dan Allah menciptakan segala sesuatu dan membuat segala sesuatu tergantung kepada diriNya (Neh 9:6 Maz 94:17-19 Maz 104:27-30 Kis 17:28 1Tim 6:13 Ibr 1:3). Jadi jelas bahwa manusia tidak bebas secara mutlak, tetapi sebaliknya tergantung kepada Allah.

2. Adanya free will / kehendak bebas tidak berarti bahwa manusia selalu bisa / mampu melakukan apa yang ia kehendaki.

Ini berlaku dalam hal:

a. Biasa / jasmani. Misalnya manusia boleh saja ingin terbang, tetapi ia tidak bisa terbang.

b. Rohani. Orang berdosa di luar Kristus tidak bisa berbuat baik atau datang kepada Kristus dengan kekuatannya sendiri. Bahkan orang kristenpun sering menginginkan hal yang baik tetapi tidak mampu melakukannya (Ro 7:18-23 Mat 26:41).

Jadi, free will / kehendak bebas tidak berhubungan dengan kemampuan untuk melakukan apa yang ia kehendaki.

3. Adanya free will / kehendak bebas tidak berarti pada saat manapun dalam kehidupannya, manusia itu betul-betul bisa memilih beberapa tindakan sesuai dengan kehendaknya sendiri.

Orang Reformed mempercayai bahwa segala sesuatu ditentukan oleh Allah, dan pasti akan terjadi sesuai kehendak Allah. Karena itu adalah omong kosong kalau kita dalam hal ini beranggapan bahwa manusia betul-betul bisa memilih tindakan sesuai dengan kemauannya. Sebaliknya, ia pasti akan melakukan tindakan yang telah ditentukan oleh Allah.

Catatan: kalau mau mengetahui tentang penentuan mutlak dari Allah atas segala sesuatu, bacalah buku saya yang berjudul ‘Providence of God’.

4. Free will / kehendak bebas berarti: semua yang manusia lakukan, ia lakukan sesuai dengan ketetapan Tuhan, tetapi pada saat yang sama, ia tetap melakukan itu karena itu memang adalah kehendaknya / keputusannya. Ia tidak dipaksa oleh Allah untuk melakukan kehendak / ketetapan Allah tersebut. Ia akan secara sukarela melakukan ketetapan Allah tersebut.

Bahkan pada saat manusia itu dipaksa untuk melakukan sesuatu, ia tetap melakukan sesuai keputusan / kehendaknya sendiri. Misalnya: seseorang ditodong dan dipaksa untuk menyerahkan uangnya. Ia bisa saja memutuskan untuk melawan, apapun resikonya. Tetapi setelah ia mempertimbangkan resiko kehilangan nyawa / terluka, maka ia mengambil keputusan untuk menyerahkan uangnya. Ini tetap adalah keputusan / kehendak bebasnya. Karena itu sebetulnya ungkapan bahasa Inggris ‘I did it against my will’ (= aku melakukan itu bertentangan kehendakku) adalah sesuatu yang salah.

Yang bisa terjadi adalah: sesuatu dilakukan terhadap kita bertentangan dengan kehendak kita. Misalnya kita diikat lalu dibawa ke tempat yang tidak kita ingini. Tetapi ini bukan kita yang melakukan.

Jadi, kalau kita melakukan sesuatu, itu karena kita mau / menghendaki untuk melakukan hal itu.

c) Predestinasi tidak menghancurkan kebebasan manusia.

Pdt. Jusuf B. S. secara memfitnah menggambarkan Calvinisme sebagai berikut: “Tidak ada kemauan bebas dari manusia” - ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 22.

Saya katakan bahwa Pdt. Jusuf B. S. memfitnah Calvinisme, bukan sekedar menyerang Calvinisme, karena ia menuliskan kalimat itu di bawah point ke 2 dari lima pokok Calvinisme, yang ia sebut dengan istilah ‘Ikatan Takdir’. Jadi pada waktu orang membaca bukunya, maka orang jelas akan mengambil kesimpulan bahwa itu adalah ajaran Calvinisme. Padahal Calvinisme tidak pernah mengajarkan seperti itu.

Sekalipun Calvinisme mempercayai kedaulatan Allah yang menentukan keselamatan seseorang dan bahkan juga menentukan segala sesuatu yang lain, tetapi Calvinisme tetap mempercayai kebebasan manusia. Mengapa? Karena dalam Kitab Suci kita melihat bahwa sekalipun segala sesuatu terjadi sesuai kehendak / rencana Allah, tetapi pada waktu manusianya melakukan hal itu, ia tidak dipaksa, tetapi melakukannya dengan sukarela.

Misalnya:

1. Pada waktu mengutus Musa kepada Firaun, Tuhan berkata bahwa Ia akan mengeraskan hati Firaun (Kel 4:21 7:3). Ini menunjukkan bahwa Tuhan sudah menentukan bahwa Firaun tidak akan melepaskan Israel. Tetapi pada waktu Musa sampai kepada Firaun, dikatakan bahwa ‘Firaun mengeraskan hatinya sendiri’ (Kel 7:22 8:15,19,32 9:34-35 14:5).

2. Yudas mengkhianati / menyerahkan Yesus sesuai dengan ketetapan Allah (Luk 22:22), tetapi pada waktu Yudas melakukan hal itu, ia betul-betul melakukannya dengan kehendaknya sendiri. Kita tidak melihat bahwa Allah memaksa dia untuk mengkhianati Yesus.

3. Orang-orang yang membunuh Yesus melakukan hal itu sesuai dengan apa yang sudah Allah tentukan dari semula (Kis 4:27-28), tetapi pada waktu mereka melakukannya, mereka betul-betul bebas, dan melakukannya atas kehendak mereka sendiri.

Sekarang perhatikan beberapa kutipan atau penjelasan dari beberapa ahli theologia Reformed yang jelas mempercayai baik ‘kedaulatan Allah’ maupun ‘kebebasan manusia’.

Robert L. Dabney: “... God executes this purpose as to man’s acts, not against but through and with man’s own free will. In producing spiritually good acts, He ‘worketh in man to will and to do’ and determines that he ‘shall be willing in the day of His power’. And in bringing about bad acts, He simply leaves the sinner in circumstances such that he does, of himself only, yet certainly, choose the wrong” (= ... Allah melaksanakan rencanaNya yang berkenaan dengan tindakan manusia, bukan menentang tetapi melalui dan dengan kehendak bebas manusia. Dalam menghasilkan tindakan-tindakan yang baik secara rohani, Ia ‘bekerja dalam manusia untuk menghendaki dan melakukan’ dan menentukan bahwa ia ‘akan mau pada hari kuasaNya’. Dan untuk menghasilkan tindakan-tindakan yang jahat, Ia hanya membiarkan orang berdosa itu dalam keadaan sedemikian rupa sehingga ia melakukan, hanya dari dirinya sendiri, tetapi dengan pasti, memilih yang jahat / salah) - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 223.

Catatan: kata-kata yang diletakkan di antara tanda petik itu diambil dari Fil 2:13 dan Maz 110:3 (versi KJV).

R. C. Sproul, dalam bukunya ‘Chosen by God’, menjelaskan beberapa point sehubungan dengan hubungan antara kedaulatan Allah dan kebebasan manusia ini:

a. Ia berkata bahwa kita tidak menerima kontradiksi, sehingga kalau kedaulatan Allah memang bertentangan dengan kebebasan manusia, maka salah satu harus dibuang.

“If human freedom and divine sovereignty are real contradictions, then one of them, at least, has to go” (= Jika kebebasan manusia dan kedaulatan ilahi sungguh-sungguh bertentangan, maka sedikitnya salah satu dari mereka harus dibuang) - ‘Chosen by God’, hal 41.

b. Tetapi ia lalu berkata bahwa yang bertentangan / kontradiksi dengan kedaulatan Allah bukanlah kebebasan manusia, tetapi kebebasan mutlakdari manusia, yang ia sebut dengan istilah AUTONOMOS (self-law). Tetapi perlu diingat bahwa Calvinisme memang tidak mempercayai kebebasan mutlak dari manusia (lihat arti yang salah dan benar dari free will dalam point b di atas).

c. Sedangkan kedaulatan Allah dan kebebasan manusia bukanlah merupakan suatu kontradiksi tetapi merupakan suatu paradox, yaitu hal-hal yang kelihatannya saja merupakan kontradiksi.

Charles Hodge: “God can control the free acts of rational creatures without destroying either their liberty or their responsibility” (= Allah bisamengontrol tindakan-tindakan bebas dari makhluk-makhluk rasionil tanpa menghancurkan kebebasan ataupun tanggung jawab mereka)- ‘Systematic Theology’, vol II, hal 332.

Saya berpendapat bahwa bagian yang harus diperhatikan dalam kata-kata Charles Hodge ini adalah ‘God can’ (= Allah bisa).

Kalau saya membuat film, maka saya akan menyusun naskah, dimana setiap pemain sudah ditentukan harus bertindak apa atau berkata apa. Tetapi selalu ada sedikit kebebasan bagi para pemain. Kalau saya tidak memberikan kebebasan sama sekali, maka para pemain itu akan menjadi robot, yang tidak lagi mempunyai kebebasan apapun.

Tetapi Allah berbeda dengan saya atau dengan manusia lain. Allah bisa menentukan dan mengontrol segala sesuatu sampai detail-detailyang sekecil-kecilnya, tanpa menghancurkan kebebasan manusia! Bagaimana Ia bisa melakukan hal itu, merupakan suatu mystery bagi kita, tetapi yang jelas Kitab Suci menunjukkan bahwa Allah memang menentukan dan menguasai segala sesuatu, tetapi manusia tetap mempunyai kebebasan.

d) Karena Predestinasi tidak membuang kebebasan manusia, maka Predestinasi juga tidak membuang tanggung jawab manusia.

Ada 2 hal yang dimaksud dengan ‘tanggung jawab’ di sini

1. Manusia bertanggung jawab / wajib berusaha mentaati Tuhan / Firman Tuhan.

Jadi kita tidak boleh hidup apatis / acuh tak acuh dengan alasan bahwa Allah toh sudah menentukan segala sesuatu. Bandingkan dengan Ulangan 29:29 yang berbunyi: “Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini”.

‘Hal-hal yang tersembunyi’ menunjuk pada Rencana Allah yang tidak kita ketahui. Ul 29:29 mengatakan bahwa ‘hal-hal yang tersembunyi’ini ialah bagi Allah, bukan bagi kita! Jadi kita tidak boleh menjadikannya sebagai dasar hidup kita.

‘Hal-hal yang dinyatakan’ menunjuk pada hukum Taurat / Firman Tuhan, dan inilah yang harus kita gunakan sebagai dasar hidup kita.

Contoh: Tuhan sudah memilih orang-orang tertentu untuk sela­mat dan orang-orang tertentu untuk binasa, tetapi kita tidak tahu siapa yang dipilih untuk selamat dan siapa yang ditentukan untuk binasa. Jadi itu adalah kehendak Allah yang tersembunyi dan tidak boleh kita jadikan dasar / pedoman hidup kita, misalnya dengan berpikir / bersikap seperti ini:

a. Sekarang ini saya tidak perlu percaya kepada Yesus. Kalau saya memang ditentukan selamat, nanti pasti akan percaya dengan sendirinya.

b. Mungkin orang itu bukan orang pilihan, sehingga hanya membuang-buang waktu dan tenaga untuk menginjili dia. Biarkan saja dia, kalau ternyata dia orang pilihan, toh nanti akan percaya dengan sendirinya.

Kita harus hidup berda­sarkan Firman Tuhan (kehendak Allah yang dinyatakan bagi kita), misalnya:

· Kis 16:31 - perintah untuk percaya kepada Yesus.

· Matius 28:19-20 - perintah untuk memberitakan Injil kepada semua orang.

2. Manusia harus bertanggung jawab / dihukum karena ketidak-taatannya.

Kalau manusia tidak bebas (seperti robot / wayang), maka ia tidak bertanggung jawab atas tindakannya. Tetapi karena ia bebas, maka ia bertanggung jawab.

J. I. Packer: “God’s sovereignty and man’s responsibility are taught us side by side in the same Bible; sometimes indeed, in the same text” (= Kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia diajarkan berdampingan dalam Alkitab yang sama; bahkan kadang-kadang dalam text yang sama) - ‘Evangelism and the Sovereignty of God’, hal 22.

Dan ia lalu memberikan contoh Lukas 22:22 yang berbunyi sebagai berikut: “Sebab Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan, akan tetapi, celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan”.

Kata-kata ‘Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan’ menunjukkan kedaulatan Allah, sedangkan kata-kata ‘celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan’ menunjukkan adanya tanggung jawab manusia pada waktu ia melakukan apa yang Tuhan tetapkan itu.

Memang sepintas lalu, kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia kelihatan sebagai suatu kontradiksi. Ini terlihat dari Ro 9:19 dimana Paulus, setelah mengajarkan Predestinasi dan kedaulatan Allah dalam Roma 9:6-18, lalu menanyakan pertanyaan yang ia perkirakan bakal muncul dalam diri orang yang mendengar ajaran Predestinasi dan kedaulatan Allah.

Roma 9:19 - “Sekarang kamu akan berkata kepadaku: ‘Jika demikian, apa lagi yang masih disalahkanNya? Sebab siapa yang menentang kehendakNya?’”.

NASB: “You will say to me then, ‘Why does He still find fault? For who resists His will?’” (= Lalu kamu akan berkata kepadaku: ‘Mengapa Ia masih menyalahkan / mencari kesalahan? Karena siapa yang menahan / menolak kehendakNya?’).

KJV / RSV » NASB.

NIV: “One of you will say to me: Then why does God still blame us? For who resists his will?” (= Salah satu dari kamu akan berkata kepadaku: Lalu mengapa Allah masih menyalahkan kita? Karena siapa yang menahan / menolak kehendakNya?).

Jadi, karena Allah dalam kedaulatanNya sudah menetapkan / mempredestinasikan, dan kehendak Allah pasti terjadi sehingga tidak bisa ditolak, maka orang lalu merasa aneh bahwa manusia masih harus bertanggung jawab / disalahkan oleh Allah.

Andaikata Paulus menganggap bahwa karena adanya kedaulatan Allah / Predestinasi maka manusia tidak lagi perlu bertanggung jawab, maka ia akan menjawab dengan berkata: ‘Siapa bilang bahwa Allah menyalahkan kamu? Karena Ia yang menetapkan segala sesuatu dan karena kehendakNya pasti terjadi, maka Ia tidak akan menyalahkan kamu kalau kamu berbuat dosa atau tidak percaya’.

Andaikata Paulus memang tidak setuju dengan kedaulatan Allah yang menetapkan segala sesuatu, maka ia akan menjawab pertanyaan itu dengan kata-kata: ‘Allah tidak menetapkan apa-apa, karena itu kamu bertanggung jawab’.

Tetapi Paulus tidak menjawab seperti itu. Perhatikan jawaban Paulus dalam Ro 9:20-21: “(20) Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: ‘Mengapakah engkau membentuk aku demikian?’ (21) Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?”.

J. I. Packer mengomentari ayat ini dengan berkata:

“What the objector has to learn is that he, a creature and a sinner, has no right whatsoever to find fault with the revealed ways of God. Creatures are not entitled to register complaints about their Creator” (= Apa yang harus dipelajari oleh orang yang mengajukan keberatan itu adalah bahwa ia, seorang makhluk ciptaan dan seorang berdosa, tidak mempunyai hak apapun untuk tidak puas / berkeberatan dengan jalan Allah yang dinyatakan. Makhluk-makhluk ciptaan tidak berhak menyatakan keluhan / ucapan yang menyatakan ketidakpuasan tentang Pencipta mereka) - ‘Evangelism and the Sovereignty of God’, hal 23.

Banyak orang kristen yang tidak senang dengan 2 hal yang kelihatan kontradiksi ini, sehingga lalu bersikap salah:

a. Menekankan kedaulatan Allah dan mengabaikan tanggung jawab manusia. Ini Hyper-Calvinisme / fatalisme! Orang yang belum percaya tidak perlu berusaha untuk percaya, karena kalau mereka sudah dipilih untuk selamat toh nanti akan percaya dengan sendirinya, dan kalau mereka memang ditentukan untuk binasa, maka mereka toh tidak akan bisa percaya. Juga kalau kita sebagai orang kristen bertemu dengan orang yang belum percaya, kita tidak perlu memberitakan Injil kepadanya, karena kalau ia memang orang pilihan nanti ia toh akan percaya dengan sendirinya, dan kalau ia adalah orang yang ditentukan untuk binasa, maka penginjilan kita toh akan sia-sia.

Dan orang Arminian sering menuduh / memfitnah bahwa Calvinisme adalah seperti ini. Bandingkan dengan fitnahan Pdt. Jusuf B. S. yang berbunyi sebagai berikut: “Dilayani atau tidak dilayani, kalau mereka sudah ditentukan selamat, akhirnya toh tetap selamat, sebab Tuhan berdaulat penuh” - ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 35.

Tetapi fitnahan ini salah dan bodoh, karena Hyper-Calvinisme bukanlah Calvinisme!

b. Menekankan tanggung jawab manusia dan mengabaikan kedaulatan Allah. Ini Arminianisme.

Calvinisme yang benar memperhatikan baik kedaulatan Allah maupun tanggung jawab manusia.

Arthur W. Pink: “Two things are beyond dispute: God is sovereign, man is responsible. ... To emphasize the sovereignty of God, without also maintaining the accountability of the creature, tends to fatalism; to be so concerned in maintaining the responsibility of man, as to lose sight of the sovereignty of God, is to exalt the creature and dishonour the Creator” (= Dua hal tidak perlu diperdebatkan: Allah itu berdaulat, manusia itu bertanggung jawab. ... Menekankan kedaulatan Allah, tanpa juga memelihara pertanggungan jawab dari makhluk ciptaan, cenderung kepada fatalisme; terlalu memperhatikan pemeliharaan tanggung jawab manusia, sehingga tidak mengindahkan kedaulatan Allah, sama dengan meninggikan makhluk ciptaan dan merendahkan sang Pencipta) - ‘The Sovereignty of God’, hal 9.

Arthur W. Pink: “We are enjoined to take ‘no thought for the morrow’ (Matt 6:34), yet ‘if any provide not for his own, and specially for those of his own house, he hath denied the faith, and is worse than an infidel’ (1Tim 5:8). No sheep of Christ’s flock can perish (John 10:28,29), yet the Christian is bidden to make his ‘calling and election sure’ (2Peter 1:10). ... These things are not contradictions, but complementaries: the one balances the other. Thus, the Scriptures set forth both the sovereignty of God and the responsibility of man” [= Kita dilarang untuk ‘menguatirkan hari esok’ (Mat 6:34), tetapi ‘jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman’ (1Tim 5:8). Tidak ada domba Kristus yang bisa binasa (Yohanes 10:28-29), tetapi orang kristen diperintahkan untuk membuat ‘panggilan dan pilihannya teguh’ (2Petrus 1:10). ... Hal-hal ini tidaklah bertentangan tetapi saling melengkapi: yang satu menyeimbangkan yang lain. Demikian Kitab Suci menyatakan kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia] - ‘The Sovereignty of God’, hal 11.

Charles Haddon Spurgeon: “man, acting according to the device of his own heart, is nevertheless overruled by that sovereign and wise legislation ... How these two things are true I cannot tell. ... I am not sure that in heaven we shall be able to know where the free agency of man and the sovereignty of God meet, but both are great truths. God has predestinated everything yet man is responsible” (= manusia, bertindak sesuka hatinya, bagaimanapun dikalahkan / dikuasai oleh pemerintahan yang berdaulat dan bijaksana ... Bagaimana dua hal ini bisa benar saya tidak bisa mengatakan. ... Saya tidak yakin bahwa di surga kita akan bisa mengetahui dimana tindakan bebas manusia dan kedaulatan Allah bertemu, tetapi keduanya adalah kebenaran yang besar. Allah telah mempredestinasikan segala sesuatu, tetapi manusia bertanggungjawab) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 7, hal 10.

J. I. Packer, dalam bukunya yang berjudul ‘Evangelism and the Sovereignty of God’ menghubungkan kedaulatan Allah dengan tanggung jawab tertentu dari orang kristen, yaitu pemberitaan Injil. Ia berkata:

· “the sovereignty of God in grace is the one thing that prevents evangelism from being pointless. For it creates the possibility - indeed, the certainty - that evangelism will be fruitful” (= kedaulatan Allah dalam kasih karunia adalah satu hal yang mencegah supaya penginjilan tidak menjadi tanpa arti. Karena itu menciptakan kemungkinan - bahkan kepastian - bahwa penginjilan itu akan berbuah) - hal 106.

· “What, then, are we to say about the suggestion that a hearty faith in the absolute sovereignty of God is inimical to evangelism? We are bound to say that anyone who makes this suggestion thereby shows that he has simply failed to understand what the doctrine of divine sovereignty means” (= Lalu apa yang akan kita katakan tentang usul / saran bahwa iman yang sungguh-sungguh kepada kedaulatan mutlak dari Allah bertentangan dengan penginjilan? Kita harus mengatakan bahwa siapapun yang membuat usul / saran itu dengan itu menunjukkan bahwa ia tidak mengerti apa arti dari doktrin kedaulatan ilahi) - hal 125.



Serangan terhadap Predestinasi.

1) Doktrin Conditional Election (= Pemilihan bersyarat).

Yang dimaksud dengan Conditional Election adalah kebalikan dari Unconditional Election (= Pemilihan tanpa syarat).

Dalam Unconditional Election, alasan Allah untuk memilih seseorang bukanlah karena adanya atau akan adanya kebaikan ataupun iman dari orang itu, tetapi hanya karena Allah menghendaki untuk memilih dia.

Dalam Conditional Election, Allah memilih seseorang karena Allah melihat bahwa orang itu bakal beriman atau menjadi baik.

Guy Duty, dalam bukunya ‘Keselamatan bersyarat atau tanpa syarat?’, berkata:

· “Lalu mengapa Allah lebih menyukai Yakub dan mengabaikan Esau? Ingat definisi-definisi Leksikon-leksikon terkemuka tentang pemilihan yang menyiratkan arti ‘pilihan (choice), memilih (select), yaitu, yang terbaik dari antara jenisnya atau kelasnya’ -- ‘dipilih (selected), yaitu dari antara yang berkualitas lebih baik dari lainnya’. Alasan-alasan Allah bagi pemilihannya atas Yakub dengan melampaui Esau adalah alasan-alasan yang ditemukan dalam kepribadian kedua orang ini, ... Marilah kita melihat sekilas kepribadian dari kedua orang itu, dan melihat jika hal ini benar” - hal 103.

Guy Duty lalu menguraikan panjang lebar segala ‘kebaikan Yakub’ dan ‘kejelekan Esau’ (hal 103-104).

· “Kata-kata ‘predestinasi’ dan ‘pemilihan’, bagaimanapun tidak dapat mengubah fakta bahwa Allah membuat rencana kekal-Nya bagi manusia menurut apa yang Ia ketahui terlebih dahulu, yaitu apa yang akan manusia perbuat dengan kuasa mereka untuk memutuskan secara bebas” - hal 126.

Dasar Kitab Suci yang sering dipakai sebagai dasar dari Conditional Election adalah Ro 8:29-30 yang berbunyi:

“(29) Sebab semua orang yang dipilihNya dari semula, mereka juga ditentukanNya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran AnakNya, supaya Ia, AnakNya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. (30) Dan mereka yang ditentukanNya dari semula, mereka itu juga dipanggilNya. Dan mereka yang dipanggilNya, mereka itu juga dibenarkanNya. Dan mereka yang dibenarkanNya, mereka itu juga dimuliakanNya”.

Catatan: Kitab Suci Indonesia menterjemahkan ‘dipilihNya’, tetapi terjemahan hurufiahnya seharusnya adalah ‘foreknew’ (= diketahui lebih dulu), seperti dalam terjemahan NIV di bawah ini.

NIV: “For those God foreknew he also predestined to be conformed to the likeness of his Son, that he might be the firstborn among many brothers. And those he predestined, he also called; those he called, he also justified; those he justified, he also glorified” (= Karena mereka yang diketahuiNya lebih dulu, juga dipredestinasikanNya untuk menjadi serupa dengan gambaran AnakNya, supaya Ia menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang dipredestinasikanNya, juga dipanggilNya; mereka yang dipanggilNya, juga dibenarkanNya; mereka yang dibenarkanNya, juga dimuliakanNya).

Tentang Roma 8:29 ini Pdt. Jusuf B. S. berkata:

“Di sini disebutkan bahwa Allah mengenal lebih dahulu dan baru sesudah itu, mereka yang sudah dikenalNya terdahulu, mereka itu juga yang ditetapkan lebih dahulu (ditentukan atau dipilih untuk ini dan itu), dengan sangat adil. Di dalamnya sudah termasuk segala kehendak dan perbuatan orang itu, semua ini diperhitungkan dengan teliti (1Pet 1:2a)” - ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 39.

Catatan: kata-kata ‘dipilih, sesuai dengan rencana Allah’ dalam 1Pet 1:2a juga salah terjemahan. Seharusnya adalah ‘have been chosen according to the foreknowledge of God’ (= telah dipilih menurut pengetahuan lebih dulu dari Allah).

1Petrus 1:2 - “yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darahNya. Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu”.

NIV: ‘who have been chosen according to the foreknowledge of God the Father’ (= yang telah dipilih sesuai dengan pengetahuan lebih dulu dari Allah Bapa).

Jadi, jelas terlihat bahwa baik Pdt. Jusuf B. S. maupun Guy Duty mempercayai doktrin conditional election (= pemilihan bersyarat).

Jawaban / tanggapan:

a) Conditional Election merupakan pandangan bodoh dari orang yang tidak punya logika!

Pikirkan baik-baik! Kalau Allah sudah tahu lebih dulu bahwa orang itu akan beriman / menjadi baik, bukankah hal itu sudah pasti akan terjadi? Lalu untuk apa Allah lalu menentukan / memilih? Penentuan / pemilihan yang Allah lakukan sama sekali tidak ada gunanya / tidak mempunyai fungsi, karena tanpa hal itupun apa yang Ia ketahui lebih dulu itu toh akan terjadi.

b) Untuk bisa memilih seseorang, maka dalam arti tertentu Allah memang harus tahu tentang orang itu.

R. C. Sproul: “All the text declares is that God predestines those whom he foreknows. No one in this debate disputes that God has foreknowledge. Even God could not choose people he didn’t know anything about. Before he could choose Jacob he had to have some idea in his mind of Jacob. But the text does not teach that God chose Jacob on the basis of Jacob’s choice” [= Semua yang dinyatakan oleh text itu (Ro 8:29) adalah bahwa Allah mempredestinasikan mereka yang Ia ketahui lebih dulu. Tidak seorangpun dalam perdebatan ini memperdebatkan bahwa Allah mempunyai pengetahuan lebih dulu. Bahkan Allah tidak bisa memilih orang yang sama sekali tidak diketahuiNya. Sebelum Ia memilih Yakub Ia harus mempunyai beberapa gagasan dalam pikiranNya tentang Yakub. Tetapi text itu (Ro 8:29) tidak mengajar bahwa Allah memilih Yakub berdasarkan pilihan Yakub] - ‘Chosen By God’, hal 131.

c) Ro 8:29 itu tidak mengatakan bahwa ‘Allah tahu lebih dulu tentang iman / perbuatan baik mereka’.

Ro 8:29 - “Sebab semua orang yang diketahuiNya lebih dulu, mereka juga ditentukanNya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran AnakNya, supaya Ia, AnakNya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara”.

A. H. Strong: “The Arminian interpretation of ‘whom he foreknew’ (Rom 8:29) would require the phrase ‘as conformed to the image of His Son’ to be conjoined with it. Paul, however, makes conformity to Christ to be the result, not the foreseen condition, of God’s foreordination”[= Penafsiran Arminian tentang ‘siapa yang diketahuiNya lebih dulu’ (Ro 8:29) mengharuskan kata-kata ‘untuk menjadi serupa dengan gambaran AnakNya’ dihubungkan dengannya. Tetapi Paulus membuat keserupaan dengan Kristus sebagai hasil, dan bukan sebagai syarat yang dilihat lebih dulu, dari penetapan Allah] - ‘Systematic Theology’, hal 781.

Saya sangat setuju dengan kata-kata A. H. Strong ini! Orang-orang Arminian, termasuk Pdt. Jusuf B. S. dan Guy Duty membaca / menafsirkan Roma 8:29 ini seakan-akan ayat itu berbunyi sebagai berikut:

“Karena mereka yang diketahuiNya lebih dulu akan menjadi serupa dengan gambaran AnakNya, lalu dipredestinasikanNya, supaya Ia menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang dipredestinasikanNya, juga dipanggilNya; mereka yang dipanggilNya, juga dibenarkanNya; mereka yang dibenarkanNya, juga dimuliakanNya”.

Bandingkan dengan bunyi Roma 8:29 yang seharusnya berbunyi:

“Karena mereka yang diketahuiNya lebih dulu, juga dipredestinasikanNya untuk menjadi serupa dengan gambaran AnakNya, supaya Ia menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang dipredestinasikanNya, juga dipanggilNya; mereka yang dipanggilNya, juga dibenarkanNya; mereka yang dibenarkanNya, juga dimuliakanNya”.

Loraine Boettner: “Notice especially that Rom. 8:29 does not say that they were foreknown as doers of good works, but that they were foreknown as individuals to whom God would extend the grace of election” (= Perhatikan khususnya bahwa Ro 8:29 tidak berkata bahwa mereka diketahui lebih dulu sebagai pembuat kebaikan, tetapi bahwa mereka diketahui lebih dulu sebagai individu-individu kepada siapa Allah memberikan kasih karunia pemilihan) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 100.

Charles Haddon Spurgeon: “it is further asserted that the Lord foreknew who would exercise repentance, who would believe in Jesus, and who would persevere in a consistent life to the end. This is readily granted, but a reader must wear very powerful magnifying spectacles before he will be able to discover that sense in the text. Upon looking carefully at my Bible again I do not perceive such statement. Where are those words which you have added, ‘Whom he did foreknew to repent, to believe, and to persevere in grace’? I do not find them either in the English version or in the Greek original. If I could so read them the passage would certainly be very easy, and would very greatly alter my doctrinal views; but, as I do not find those words there, begging your pardon, I do not believe in them. However wise and advisable a human interpolation may be, it has no authority with us; we bow to holy Scripture, but not to glosses which theologians may choose to put upon it. No hint is given in the text of foreseen virtue any more than of foreseen sin, and, therefore, we are driven to find another meaning for the word” (= Selanjutnya ditegaskan / dinyatakan bahwa Tuhan mengetahui lebih dulu siapa yang akan bertobat, siapa yang akan percaya kepada Yesus, dan siapa yang akan bertekun dalam hidup yang konsisten sampai akhir. Ini dengan mudah diterima, tetapi seorang pembaca harus memakai kacamata pembesar yang sangat kuat sebelum ia bisa menemukan arti itu dalam text itu. Melihat dalam Alkitab saya dengan teliti sekali lagi, saya tidak mendapatkan arti seperti itu. Dimana kata-kata yang kamu tambahkan itu ‘Yang diketahuiNya lebih dulu akan bertobat, percaya, dan bertekun dalam kasih karunia’? Saya tidak menemukan kata-kata itu baik dalam versi Inggris atau dalam bahasa Yunani orisinilnya. Jika saya bisa membaca seperti itu, text itu pasti akan menjadi sangat mudah, dan akan sangat mengubah pandangan doktrinal saya; tetapi, karena saya tidak menemukan kata-kata itu di sana, maaf, saya tidak percaya padanya. Bagaimanapun bijaksana dan baiknya penyisipan / penambahan manusia, itu tidak mempunyai otoritas bagi kami; kami membungkuk / menghormat pada Kitab Suci, tetapi tidak pada komentar / keterangan yang dipilih oleh ahli-ahli theologia untuk diletakkan padanya. Tidak ada petunjuk yang diberikan dalam text itu tentang kebaikan atau dosa yang dilihat lebih dulu, dan karena itu, kami didorong untuk mencari / mendapatkan arti yang lain untuk kata itu) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 7, hal 22.

d) Pembahasan kata ‘know’ (= tahu) dalam Kitab Suci.

1. Dalam Perjanjian Lama.

Kata ‘know’ (= tahu) dalam bahasa Ibrani adalah YADA.

a. Kata YADA ini digunakan dalam Kej 4:1 (KJV/Lit): “Adam knew Eve his wife, and she conceived” (= Adam tahu / kenal Hawa istrinya, dan ia mengandung).

Dari sini bisa kita lihat bahwa ‘to know’ tidak selalu sekedar berarti ‘tahu’, tetapi ada kasih / hubungan intim di dalamnya.

Karena itu kalau Roma 8:29 mengatakan Allah tahu / kenal, lalu menentukan, maksudnya adalah Allah mengasihi, lalu menentukan. Jadi penekanannya adalah: penentuan itu didasarkan atas kasih. Bdk. Efesus 1:5 - ‘Dalam kasih Allah telah memilih kita ...’.

b. Kata YADA ini digunakan dalam Kej 18:19 dan diterjemahkan ‘memilih’ oleh Kitab Suci Indonesia.

“Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikanNya kepadanya”.

RSV/NIV/NASB menterjemahkan seperti Kitab Suci Indonesia!

ASV/KJV/NKJV tetap menterjemahkan ‘know’, tetapi kalimatnya jadi aneh.

Kejadian 18:19 (KJV): “For I know him, that he will command his children and his household after him, and they shall keep the way of the LORD, to do justice and judgment; that the LORD may bring upon Abraham that which he hath spoken of him” (= Karena Aku mengetahui / mengenalnya, bahwa ia akan memerintahkan anak-anaknya dan seisi rumahnya / keturunannya, dan mereka akan hidup menurut jalan TUHAN, melakukan keadilan dan penghakiman; supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dikatakanNya kepadanya).

c. Dalam Amos 3:2, kata YADA diterjemahkan ‘kenal’ oleh Kitab Suci Indonesia.

“Hanya kamu yang Kukenal dari segala kaum di muka bumi, sebab itu Aku akan menghukum kamu karena segala kesalahanmu”.

KJV/ASV/RSV tetap menterjemahkan ‘know’, tetapi NIV/NASB menterjemahkan ‘choose’ (= memilih).

Tentang kata YADA dalam Amos 3:2 ini B. B. Warfield berkata: “what is thrown prominently forward is clearly the elective love which has singled Israel out for special care” (= apa yang ditonjolkan ke depan secara menyolok jelas adalah kasih yang memilih yang telah memilih / mengkhususkan Israel untuk perhatian istimewa) - ‘Biblical and Theological Studies’, hal 288.

Loraine Boettner: “The word ‘know’ is sometimes used in a sense other than that of having merely an intellectual perception of the thing mentioned. It occasionally means that the persons so ‘known’ are the special and peculiar objects of God’s favor, as when it was said of the Jews, ‘You only have I known of all the families of the earth,’ Amos 3:2.” [= Kata ‘tahu’ kadang-kadang digunakan bukan dalam arti sekedar pengetahuan intelektual tentang hal yang disebutkan. Kadang-kadang kata ini berarti bahwa orang yang ‘diketahui’ merupakan obyek istimewa dan khusus dari kemurahan / kebaikan hati Allah, seperti pada waktu dikatakan tentang orang-orang Yahudi: ‘Hanya kamu yang Kukenal / Kuketahui dari segala kaum di muka bumi’ (Amos 3:2)] - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 100.

d. Penggunaan kata YADA yang lain:

· Keluaran 2:25 - “Maka Allah melihat orang Israel itu, dan Allah memperhatikan (YADA) mereka”.

· Mazmur 1:6 - “sebab TUHAN mengenal (YADA) jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan”.

· Mazmur 101:4 - “Hati yang bengkok akan menjauh dari padaku, kejahatan aku tidak mau tahu (YADA)”.

· Nahum 1:7 - “TUHAN itu baik; Ia adalah tempat pengungsian pada waktu kesusahan; Ia mengenal (YADA) orang-orang yang berlindung kepadaNya”.

Dalam semua ayat-ayat di atas ini kata YADA tidak memungkinkan untuk diartikan sebagai sekedar suatu pengetahuan intelektual.

2. Dalam Perjanjian Baru.

Kata ‘know’ (= tahu) dalam bahasa Yunani adalah GINOSKO, dan digunakan dalam ayat-ayat di bawah ini:

a. Matius 7:23 - “Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari padaKu, kamu sekalian pembuat kejahatan!”.

b. Yoh 10:14,27 - “(14) Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-dombaKu dan domba-dombaKu mengenal Aku. ... (27) Domba-dombaKu mendengarkan suaraKu dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku”.

c. 1Korintus 8:3 - “Tetapi orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah”.

d. Galatia 4:9 - “Tetapi sekarang sesudah kamu mengenal Allah, atau lebih baik, sesudah kamu dikenal Allah, bagaimanakah kamu berbalik lagi kepada roh-roh dunia yang lemah dan miskin dan mau mulai memperhambakan diri lagi kepadanya?”.

e. 2Tim 2:19a - “Tetapi dasar yang diletakkan Allah itu teguh dan meterainya ialah: ‘Tuhan mengenal siapa kepunyaanNya’”.

Dalam semua ayat-ayat ini kata GINOSKO itu tidak mungkin diartikan sekedar ‘mengetahui secara intelektual’.

e) Pembahasan kata ‘foreknow’ (= mengetahui lebih dulu) / ‘foreknowledge’ (= pengetahuan lebih dulu).

Ayat-ayat yang mengandung kata-kata foreknowledge, foreknew, dsb:

1. Kis 2:23a - “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencanaNya”.

NASB: “this Man, delivered up by the predetermined plan and foreknowledge of God” (= Orang ini, diserahkan oleh rencana yang ditentukan lebih dulu dan pengetahuan lebih dulu dari Allah).

Jelas bahwa ‘foreknowledge’ (= pengetahuan lebih dulu) di sini tidak sekedar berarti pengetahuan intelektual, karena Allah menyerahkan Anak Manusia untuk mewujudkan ‘foreknowledge’ itu. Karena itu tidak heran Kitab Suci Indonesia menterjemahkan seperti itu.

2. Rom 11:2a - “Allah tidak menolak umatNya yang dipilihNya”.

NASB: “God has not rejected His people whom He foreknew” (= Allah tidak menolak umatNya yang diketahuiNya lebih dulu).

Ini lagi-lagi menunjukkan secara jelas bahwa ‘foreknew’ tidak bisa diartikan ‘mengetahui lebih dulu secara intelektual’.

Loraine Boettner menghubungkan Ro 8:29 dengan Ro 11:2a ini dengan berkata: “Those in Romans 8:29 are foreknown in the sense that they are fore-appointed to be the special objects of His favor. This is shown more plainly in Rom. 11:2-5, where we read, ‘God did not cast off His people whom He foreknew’” (= Mereka dalam Ro 8:29 diketahui lebih dulu dalam arti bahwa mereka ditetapkan lebih dulu untuk menjadi obyek khusus kemurahan hatiNya. Ini ditunjukkan lebih jelas dalam Ro 11:2-5, dimana kita membaca: ‘Allah tidak menolak / membuang umatNya yang dipilihNya / diketahuiNya lebih dulu’) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 100.

3. 1Pet 1:2a - “yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita”.

NASB: “who are chosen according to the foreknowledge of God the Father” (= yang dipilih sesuai dengan pengetahuan lebih dulu dari Allah Bapa).

4. 1Petrus 1:20 - “Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kamu baru menyatakan diriNya pada zaman akhir”.

NASB: “For He was foreknown before the foundation of the world, but has appeared in these last times for the sake of you” (= Karena Ia diketahui lebih dulu sebelum penciptaan dunia, tetapi menampakkan diri pada jaman akhir karena kamu).

Melihat ayat-ayat di atas ini, saya berpendapat bahwa bukan tanpa alasan Kitab Suci Indonesia tidak pernah mau menterjemahkan ‘tahu lebih dulu’ atau ‘pengetahuan lebih dulu’, tetapi menterjemahkan dengan kata ‘pilih’ atau ‘rencana’.

Barnes’ Notes (tentang Kis 2:23): “‘Foreknowledge.’ This word denotes ‘the seeing beforehand of an event yet to take place.’ It implies: 1. Omniscience; and, 2. That the event is fixed and certain. To foresee a contingent event, that is, to foresee that an event will take place when it may or may not take place, is an absurdity. Foreknowledge, therefore, implies that for some reason the event will certainly take place. What that reason is, the word itself does not determine. As, however, God is represented in the Scriptures as purposing or determining future events; as they could not be foreseen by him unless he had so determined, so the word sometimes is used in the sense of determining beforehand, or as synonymous with decreeing, Rom. 8:29; 11:2. In this place the word is used to denote that the delivering up of Jesus was something more than a bare or naked decree. It implies that God did it according to his foresight of what would be the best time, place, and manner of its being done. It was not the result merely of will; it was will directed by a wise foreknowledge of what would be best. And this is the case with all the decrees of God” (= ‘Pengetahuan lebih dulu’. Kata ini menunjukkan ‘melihat suatu peristiwa sebelum peristiwa itu terjadi’. Ini secara implicit menunjukkan: 1. Kemahatahuan; dan, 2. Bahwa peristiwa itu tertentu dan pasti. Melihat lebih dulu suatu peristiwa yang bisa terjadi bisa tidak, berarti melihat lebih dulu bahwa suatu peristiwa akan terjadi, pada saat itu bisa terjadi atau bisa tidak terjadi, merupakan sesuatu yang menggelikan. Karena itu, pengetahuan lebih dulu, menunjukkan secara implicit untuk alasan tertentu peristiwa itu pasti akan terjadi. Tetapi karena Allah digambarkan dalam Kitab Suci sebagai merencanakan atau menentukan peristiwa-peristiwa yang akan datang; karena hal-hal itu tidak bisa dilihat lebih dulu olehNya kecuali Ia lebih dulu menentukannya demikian, maka kata itu kadang-kadang digunakan dalam arti ‘menentukan lebih dulu’, atau sinonim dengan ‘menetapkan’, Ro 8:29; 11:2. Di tempat ini kata itu digunakan untuk menunjukkan bahwa penyerahan Yesus merupakan sesuatu yang lebih dari pada sekedar suatu ketetapan semata-mata atau biasa. Ini secara implicit menunjukkan bahwa Allah melakukannya sesuai dengan penglihatan lebih duluNya tentang apa yang akan merupakan saat, tempat dan cara yang terbaik, tentang pelaksanaan hal itu. Itu bukan semata-mata akibat / hasil dari kehendak; itu merupakan kehendak yang diarahkan oleh suatu pengetahuan lebih dulu yang bijaksana tentang apa yang terbaik. Dan ini adalah kasus dari semua ketetapan-ketetapan Allah).

f) Dengan ajaran Conditional Election (= pemilihan bersyarat) ini, Arminianisme menjadikan tujuan pemilihan sebagai alasan pemilihan.

Seharusnya iman maupun perbuatan baik adalah hasil / buah / akibat / tujuan dari pemilihan. Tetapi Arminianisme mengajarkan bahwa iman dan perbuatan baik (yang dilihat lebih dulu oleh Allah) merupakan alasan dari pemilihan.

Yang seharusnya / yang alkitabiah:

Pemilihan ® Iman dan perbuatan baik.

Ajaran Arminian:

Iman dan perbuatan baik ® pemilihan.

Bahwa iman / perbuatan baik seharusnya merupakan hasil / buah / akibat / tujuan dari pemilihan, terlihat dari banyak ayat Kitab Suci seperti:

1. Kisah Para Rasul 13:48 - “Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya”.

Mengomentari Kis 13:48 ini, Arthur W. Pink berkata:

“believing is the consequence and not the cause of God’s decree” (= percaya adalah konsekwensi / akibat dan bukannya penyebab dari ketetapan Allah) - ‘The Sovereignty of God’, hal 46.

2. Yoh 15:16b - “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam namaKu, diberikanNya kepadamu”.

Jadi ‘buah’ adalah hasil / tujuan dari pemilihan, bukan alasan dari pemilihan seperti yang dikatakan oleh Arminian.

3. Efesus 1:4 - “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapanNya”.

Ayat ini mengatakan bahwa kita dipilih supaya menjadi kudus / tak bercacat. Jadi, pemilihan itulah yang menyebabkan kita menjadi kudus / tak bercacat. Dalam pemikiran Allah, pemilihan itu yang ada lebih dulu, dan tujuannya adalah supaya kita menjadi kudus dan tak bercacat. Sedangkan kalau diambil penafsiran Arminian, maka ‘kudus / tak bercacat’ inilah yang ada lebih dulu dalam pemikiran Allah, dan sebagai akibatnya maka kita dipilih. Ini jelas terbalik!

4. 1Petrus 1:2 - “yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darahNya. Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu”.

Ayat ini juga menunjukkan bahwa seseorang dipilih supaya taat, bukannya karena bakal taat lalu dipilih.

Calvin: “Say: ‘Since he foresaw that we would be holy, he chose us,’ and you will invert Paul’s order” (= Katakan: ‘Karena Ia melihat lebih dulu bahwa kita akan menjadi kudus, Ia memilih kita’, dan engkau akan membalik urut-urutan Paulus) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XXII, no 3.

Loraine Boettner: “Foreseen faith and good works, then, are never to be looked upon as the cause of the Divine election. They are rather its fruits and proof. They show that the person has been chosen and regenerated. To make them the basis of election involves us again in a covenant of works, and places God’s purposes in time rather than in eternity. This would not be pre-destination but post-destination, an inversion of the Scripture account which makes faith and holiness to be the consequents, and not the antecedents, of election (Eph. 1:4; John 15:16; Titus 3:5)” [= Maka, iman dan perbuatan baik yang dilihat lebih dulu, tidak pernah boleh dilihat sebagai penyebab dari pemilihan ilahi. Sebaliknya iman dan perbuatan baik adalah buah dan bukti dari pemilihan ilahi. Iman dan perbuatan baik membuktikan bahwa orang itu telah dipilih dan dilahirbarukan. Membuat iman dan perbuatan baik sebagai dasar dari pemilihan melibatkan kita kembali pada perjanjian berdasarkan perbuatan baik, dan menempatkan Rencana Allah dalam waktu dan bukannya dalam kekekalan. Ini bukanlah pre-destinasi tetapi post-destinasi, suatu pembalikan terhadap penjelasan / penggambaran Kitab Suci yang membuat iman dan kekudusan sebagai konsekwensi / akibat, dan bukannya sebagai sesuatu yang mendahului, pemilihan (Ef 1:4; Yoh 15:16; Tit 3:5)] - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 98.

John Owen: “We choose Christ by faith; God chooseth us by his decree of election. The question is, Whether we choose him because he hath chosen us, or he chooseth us because we have chosen him, and so indeed choose ourselves? We affirm the former, and that because our choice of him is a gift he himself bestoweth only on them whom he hath chosen” (= Kita memilih Kristus oleh iman; Allah memilih kita oleh ketetapan pemilihanNya. Pertanyaannya adalah, Apakah kita memilih Dia karena Ia telah memilih kita, atau Ia memilih kita karena kita telah memilih Dia, dan dengan demikian sebenarnya memilih diri kita sendiri? Kami menegaskan yang pertama / terdahulu, dan itu karena pemilihan kita tentang Dia adalah suatu karunia yang Ia sendiri berikan hanya kepada mereka yang telah Ia pilih) - ‘The Works of John Owen’, vol 10, hal 65.

g) Ajaran Arminian yang mengatakan bahwa Allah tahu lebih dulu iman dan kesalehan seseorang baru memilih orang itu, bertentangan dengan Ro 9:21 yang mengatakan bahwa baik orang pilihan / elect maupun orang non pilihan / reprobate dipilih / diambil ‘dari gumpal yang sama’.

Ro 9:21 - “Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?”.

Ajaran Arminian ini menunjukkan bahwa orang pilihan / elect dipilih karena mereka lebih baik dari pada yang tidak dipilih / reprobate. Ini sejalan dengan doktrin sesat ‘salvation by works’ (= keselamatan karena perbuatan baik).

h) Kalau Conditional Election itu benar, bagaimana kita harus menafsirkan ayat-ayat di bawah ini, yang secara explicit menyingkirkan perbuatan baik manusia sebagai alasan pemilihan?

Roma 9:11 - “Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, - supaya rencana Allah tentang pemilihanNya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilanNya”.

2 Timotius 1:9 - “Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karuniaNya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman”.

i) Loraine Boettner: “Foreordination in general cannot rest on foreknowledge; for only that which is certain can be foreknown, and only that which is predetermined can be certain” (= Secara umum, penentuan lebih dulu tidak bisa didasarkan pada pengetahuan lebih dulu; karena hanya apa yang tertentu yang bisa diketahui lebih dulu, dan hanya apa yang ditentukan lebih dulu yang bisa tertentu) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 99.

j) John Owen: “Is it not because such propositions as these, ‘Believe, Peter, and continue in the faith unto the end, and I will choose thee before the foundation of the world,’ are fitter for the writings of the Arminians than the word of God?” (= Bukankah karena pernyataan seperti ini ‘Percayalah Petrus, dan bertekunlah dalam iman sampai akhir, dan Aku akan memilih engkau sebelum dunia dijadikan’, lebih cocok untuk tulisan-tulisan Arminian dari pada Firman Allah?) - ‘The Works of John Owen’, vol 10, hal 55.

Kata-kata John Owen ini menunjukkan betapa menggelikan dan tidak masuk akalnya ajaran Arminian yang mengatakan bahwa seseorang dipilih dari semula karena Ia bakal baik!

2) Dalam memilih, Tuhan memilih semua orang.

Jawab:

a) Kata ‘memilih’ tidak memungkinkan untuk diartikan ‘memilih semua’.

‘Memilih semua’ sama dengan tidak memilih, dan juga sama menggelikannya seperti anak saya yang berusia 3 1/2 tahun, yang kalau ditanya: ‘Mau es krim atau permen?’, lalu berkata ‘Mau es krim dan permen’.

b) Kitab Suci secara jelas mengatakan bahwa Tuhan hanya memilih sebagian dari umat manusia untuk diselamatkan.

1. Matius 22:14 - “Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih”.

2. Kis 13:48 - “Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya”.

Pada waktu Paulus memberitakan Injil di sini, ada orang-orang yang menjadi iri hati, menghujat, membantah dsb (Kis 13:45), tetapi orang-orang pilihan bergembira dan menjadi percaya (Kis 13:48). Jelas bahwa orang-orang pilihan ini hanya sebagian dari para pendengar saat itu.

3. Ro 11:25 - “Sebab, saudara-saudara, supaya kamu jangan menganggap dirimu pandai, aku mau agar kamu mengetahui rahasia ini: Sebagian dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk”.

Tentang Ro 11:25 ini, perlu diingat bahwa sebagian Israel ditegarkan selama ribuan tahun (sampai saat ini sudah hampir 2000 tahun), sementara Tuhan bekerja sampai orang-orang pilihan dari kalangan non Israel bertobat. Jelas bahwa selama ribuan tahun ini sudah banyak orang Israel yang binasa dalam dosa mereka, dan ini jelas menunjukkan bahwa mereka tidak dipilih. Sebagian yang lain (sebagian kecil) tidak ditegarkan, dan sebaliknya diberi kasih karunia, sehingga mereka percaya kepada Kristus. Ini orang Israel yang termasuk orang pilihan. Jadi lagi-lagi terlihat bahwa tidak semua manusia dipilih oleh Tuhan.

c) Kalau Tuhan memilih semua, maka hanya ada 2 kemungkinan:

1. Semua orang akan selamat.

Ini tidak mungkin karena Kitab Suci jelas menunjukkan adanya orang yang masuk neraka.

2. Pemilihan itu gagal (sebagian), karena dari semua yang dipilih itu ada yang tidak selamat.

Ini juga tidak mungkin karena di atas telah kita bahas bahwa Rencana Allah / predestinasi tidak bisa gagal.

Kedua kemungkinan ini sama-sama tidak mungkin, dan karena itu tidak mungkin Tuhan memilih semua orang.

3) Predestinasi menunjukkan bahwa Allah tidak adil.

Pdt. Jusuf B. S. berkata bahwa Allah tidak membeda-bedakan. Ia lalu memberikan beberapa ayat sebagai dasar yaitu Ro 2:11 Kis 10:34-35 Kol 3:25 dan 1Pet 1:17 (‘Keselamatan tidak bisa hilang?’, hal 18).

Jawab:

a) ‘Adil’ tidak selalu berarti ‘memperlakukan secara sama rata’.

Perlu diingat bahwa dalam banyak hal Allah bersikap membedakan (tidak memperlakukan secara sama rata), misalnya:

1. Pada waktu menciptakan sebagai binatang, manusia atau malaikat.

2. Pada waktu Ia memilih Israel dan bukannya bangsa-bangsa lain.

3. Pada saat Ia memberikan penebusan kepada manusia yang jatuh ke dalam dosa, tetapi tidak kepada malaikat yang jatuh ke dalam dosa (Ibr 2:16).

4. Pada saat ia memberikan talenta kepada manusia (Mat 25:14-30).

5. Pada saat ia memberikan karunia-karunia kepada orang kristen (1Kor 12:7-11).

Karena itu, kalau yang dimaksud dengan ‘adil’ adalah bahwa Allah harus memperlakukan semua orang dengan sama rata, maka jelas bahwa Allah memang tidak adil.

R. C. Sproul: “The hue and cry the Calvinist usually hears at this point is ‘That’s not fair!’ But what is meant by fairness here? If by fair we mean equal, then of course the protest is accurate. God does not treat all men equally. Nothing could be clearer from the Bible than that. God appeared to Moses in a way that he did not appear to Hammurabi. God gave blessings to Israel that he did not give to Persia. Christ appeared to Paul on the road to Damascus in a way he did not manifest himself to Pilate” (= Teriakan-teriakan yang biasanya didengar oleh orang Calvinist pada titik ini adalah ‘Itu tidak adil!’ Tetapi apa yang dimaksud dengan keadilan di sini? Kalau yang dimaksud dengan ‘adil’ adalah ‘sama’, maka tentu protes itu benar. Allah tidak memperlakukan semua orang secara sama. Tidak ada hal yang bisa lebih jelas dari Alkitab dari pada hal itu. Allah menampakkan diri kepada Musa dalam suatu cara yang tidak Ia lakukan kepada Hammurabi. Allah memberi berkat kepada Israel yang tidak Ia berikan kepada Persia. Kristus menampakkan diri kepada Paulus di jalan ke Damaskus dalam suatu cara yang Ia tidak nyatakan kepada Pilatus) - ‘Chosen By God’, hal 155.

Catatan: Hammurabi adalah raja Babilonia yang memerintah pada tahun 2285-2242 S.M. (Barclay, ‘The Gospel of Matthew’, vol 1, hal 163).

Tetapi siapa yang mengatakan bahwa ‘adil’ harus berarti memperlakukan semua orang dengan sama rata? Dari perumpamaan dalam Mat 20:1-15 terlihat dengan jelas bahwa ‘adil’ tidak selalu harus berarti ‘memperlakukan secara sama rata’.

Mat 20:1-15 - “(1) Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. (2) Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. (3) Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. (4) Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan merekapun pergi. (5) Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi. (6) Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? (7) Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku. (8) Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu. (9) Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. (10) Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi merekapun menerima masing-masing satu dinar juga. (11) Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu, katanya: (12) Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. (13) Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? (14) Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. (15) Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?”.

Jelas bahwa tuan itu tidak memperlakukan para pekerja itu secara sama rata, karena ia lebih bermurah hati kepada pekerja yang masuk lebih belakangan. Tetapi pada waktu pekerja golongan pertama memprotesnya, ia berkata: “aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau” (Mat 20:13).

Juga perlu diperhatikan bahwa dalam persoalan Predestinasi ini orang yang tidak dipilih mendapatkan keadilan Allah sedangkan orang pilihan mendapatkan belas kasihan / kemurahan hati Allah. Tidak ada yang menerima ketidakadilan Allah!

b) Paulus menjawab pertanyaan ‘Apakah Allah tidak adil?’ dengan berkata ‘Mustahil!’, dan ia lalu berkata bahwa Allah berhak untuk melakukan pemilihan itu (Ro 9:14-18).

c) Jawaban terhadap Pdt. Jusuf B. S.

Keempat ayat yang dipakai oleh Pdt. Jusuf B. S. itu digunakannya secara out of context (= keluar dari kontextnya)!

1. Kis 10:34-35 - “(34) Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: ‘Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. (35) Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepadaNya’”.

Kita harus menafsirkan ayat ini sesuai dengan kontexnya. Kalau saudara membaca Kis 10:1 sampai Kis 11:18 (cerita pertobatan Kornelius yang bukan orang Yahudi) maka saudara akan melihat dengan jelas bahwa yang dimaksud dengan ‘Allah tidak membedakan orang’ dalam Kis 10:34 itu adalah bahwa Allah berkenan kepada baik Yahudi maupun non Yahudi yang takut akan Dia dan mengamalkan kebenaran. Jadi melalui seluruh bagian ini Allah ingin mengajarkan bahwa bukan orang Yahudi saja yang bisa diselamatkan, tetapi juga orang-orang non Yahudi.

2. Ro 2:11 - “Sebab Allah tidak memandang bulu” (TL: “Sebab Allah tiada menilik atas rupa orang”).

Kalau kita melihat kontex, yaitu Ro 2:9-12, maka terlihat dengan jelas bahwa yang dimaksud oleh Ro 2:11 adalah bahwa dalam menghakimi Allah tidak membedakan Yahudi dan Yunani / non Yahudi. Kalau jahat akan dihukum, kalau baik akan diberi pahala, tak peduli mereka Yahudi atau Yunani / non Yahudi.

3. Kol 3:25 dan 1Pet 1:17 berbunyi sebagai berikut:

Kolose 3:25 - “Barangsiapa berbuat kesalahan, ia akan menanggung kesalahannya itu, karena Tuhan tidak memandang orang”.

1 Petrus 1:17 - “Dan jika kamu menyebutNya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini”.

Jelas bahwa kedua ayat ini sama-sama berbicara tentang penghakiman Allah, dan menunjukkan bahwa dalam melakukan penghakiman, Allah tidak membedakan orang. Jelas bahwa ayat-ayat ini tidak berhubungan dengan Predestinasi, sehingga tidak bisa dipakai untuk menentang Predestinasi.

Memang dalam melakukan penghakiman, Allah tidak pandang bulu. Siapapun yang berdosa akan dihukum. Tetapi pada waktu Allah memberikan belas kasihan atau kasih karuniaNya, ia hanya memberikannya kepada orang-orang pilihanNya.

4) Allah selalu menghendaki manusia selamat.

Pdt. Jusuf B. S. mengatakan bahwa Allah menghendaki semua orang selamat, dan karena itu tidak mungkin Ia menetapkan sebagian manusia untuk binasa.

Ia berpendapat bahwa Predestinasi “bertentangan dengan rencana dan kehendak Allah sendiri yang ingin semua orang selamat (2Pet 3:9 / 1Tim 2:4)” - ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 41.

2Pet 3:9 - “Tuhan tidak lalai menepati janjiNya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat”.

1Tim 2:3-4 - “(3) Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, (4) yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran”.

Pdt. Jusuf B. S. juga berkata:

“Ia tidak ingin seorangpun binasa, termasuk juga orang fasik yang jahat. Tuhan masih mengharapkannya untuk bertobat kembali dan diselamatkan” - ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 15.

Dan ia lalu mengutip Yeh 18:23 dan Yeh 33:11.

Yeh 18:23 - “Apakah Aku berkenan kepada kematian orang fasik? demikianlah firman Tuhan ALLAH. Bukankah kepada pertobatannya supaya ia hidup?”.

Yeh 33:11 - “Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel?”.

Jawab:

a) Kalau membahas tentang ‘kehendak Allah’ maka perlu diingat bahwa ada beberapa ‘kehendak Allah’, yaitu:

1. Kehendak Allah yang menunjuk pada prinsip-prinsip kehidupan yang Ia berikan kepada manusia, dan ini mencakup baik perintah-perintah maupun larangan-larangan dari Allah untuk manusia.

Kehendak Allah yang ini sering tidak terjadi, karena manusianya tidak taat pada Firman Tuhan.

2. Kehendak Allah yang menunjuk pada hal yang menyenangkan Allah kalau hal itu terjadi.

Kehendak Allah yang ini juga sering tidak terjadi.

3. Kehendak Allah yang menunjuk pada RencanaNya / KetetapanNya yang telah Ia tetapkan dalam kekekalan.

Kehendak yang ini pasti terlaksana dan tidak mungkin digagalkan oleh apapun / siapapun juga. Ini terlihat dari banyak ayat seperti ayat-ayat di bawah ini:

a. Ayub 23:13-14 - “(13) Tetapi Ia tidak pernah berubah - siapa dapat menghalangi Dia? Apa yang dikehendakiNya, dilaksanakanNya juga. (14) Karena Ia akan menyelesaikan apa yang ditetapkan atasku, dan banyak lagi hal yang serupa itu dimaksudkanNya”.

b. Ayub 42:1-2 - “(1) Maka jawab Ayub kepada TUHAN: (2) ‘Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencanaMu yang gagal’”.

c. Maz 33:10-11 - “(10) TUHAN menggagalkan rencana bangsa-bangsa; Ia meniadakan rancangan suku-suku bangsa; (11) tetapi rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hatiNya turun-temurun”.

d. Yes 14:24-27 - “(24) TUHAN semesta alam telah bersumpah, firmanNya: ‘Sesungguhnya seperti yang Kumaksud, demikianlah akan terjadi, dan seperti yang Kurancang, demikianlah akan terlaksana: (25) Aku akan membinasakan orang Asyur dalam negeriKu dan menginjak-injak mereka di atas gunungKu; kuk yang diletakkan mereka atas umatKu akan terbuang dan demikian juga beban yang ditimpakan mereka atas bahunya.’ (26) Itulah rancangan yang telah dibuat mengenai seluruh bumi, dan itulah tangan yang teracung terhadap segala bangsa. (27) TUHAN semesta alam telah merancang, siapakah yang dapat menggagalkannya? TanganNya telah teracung, siapakah yang dapat membuatnya ditarik kembali?”.

e. Yes 46:10-11 - “(10) yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: KeputusanKu akan sampai, dan segala kehendakKu akan Kulaksanakan, (11) yang memanggil burung buas dari timur, dan orang yang melaksanakan putusanKu dari negeri yang jauh. Aku telah mengatakannya, maka Aku hendak melangsungkannya, Aku telah merencanakannya, maka Aku hendak melaksanakannya”.

Pembedaan ‘kehendak Allah’ seperti ini memang harus ada karena kalau tidak, akan terjadi kontradiksi dalam Kitab Suci. Dalam 5 text Kitab Suci yang baru saya sebutkan, terlihat dengan sangat jelas bahwa kehendak Allah pasti terjadi / tidak mungkin gagal. Kalau ini dianggap membicarakan ‘kehendak Allah‘ yang sama dengan yang dibicarakan dalam 2Pet 3:9 1Tim 2:3-4 Yeh 33:11 Yeh 18:23, maka kita harus menyimpulkan bahwa semua manusia pasti akan selamat (Universalisme), dan ini jelas adalah ajaran sesat!

Ayat-ayat yang dipakai oleh Pdt. Jusuf B. S. di atas, yaitu 2Pet 3:9 1Tim 2:3-4 Yeh 33:11 Yeh 18:23, menunjuk pada kehendak Allah yang nomor 2, yaitu sesuatu yang kalau terjadi akan menyenangkan Allah, tetapi bukan menunjuk pada Rencana / Ketetapan kekal dari Allah. Sebaliknya Predestinasi / pemilihan memang menunjuk pada Rencana / Ketetapan Allah, dan karenanya pasti terjadi.

b) Arthur W. Pink: “To say that God the Father has purposed the salvation of all mankind, that God the Son died with the express intention of saving the whole human race, and that God the Holy Spirit is now seeking to win the world to Christ; when, as a matter of common observation, it is apparent that the great majority of our fellow-men are dying in sin, and passing into a hopeless eternity: is to say that God the Father is disappointed, that God the Son is dissatisfied, and that God the Holy Spirit is defeated” (= Mengatakan bahwa Allah Bapa telah merencanakan keselamatan untuk semua orang, bahwa Allah Anak mati dengan maksud yang jelas / tegas untuk menyelamatkan seluruh umat manusia, dan bahwa Allah Roh Kudus sekarang berusaha memenangkan dunia bagi Kristus; padahal, sesuai dengan pengamatan umum, adalah jelas bahwa sebagian besar sesama kita mati dalam dosa, dan masuk ke dalam kekekalan tanpa harapan: sama dengan mengatakan bahwa Allah Bapa dikecewakan, Allah Anak tidak dipuaskan, dan Allah Roh Kudus dikalahkan) - ‘The Sovereignty of God’, hal 21.

c) Serangan terhadap Pdt. Jusuf B. S.

Saya ingin menambahkan satu hal tentang Pdt. Jusuf B. S. yang mengatakan bahwa Allah selalu menghendaki manusia untuk selamat.

Dalam bukunya ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 20, Pdt. Jusuf B. S. berkata:

“Allah dapat mencegah Saul, Balhum, Yerobeam, Yudas dan lain-lain untuk berhenti berdosa, tetapi Ia tidak melakukan hal itu, sebab itu bukan rencana / tujuan Allah”.

Apakah ini bukan suatu kontradiksi dengan pernyataan bahwa Allah selalu menghendaki manusia untuk selamat?

d) Mat 11:20-24 jelas menunjukkan bahwa Allah tidak selalu menghendaki keselamatan seseorang.

Mat 11:20-24 - “(20) Lalu Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat, sekalipun di situ Ia paling banyak melakukan mujizat-mujizatNya: (21) ‘Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. (22) Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan dari pada tanggunganmu. (23) Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Karena jika di Sodom terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini. (24) Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan dari pada tanggunganmu.’”.

Yesus berkata bahwa kalau di Tirus, Sidon, dan Sodom ada mujijat-mujijat terjadi, seperti yang terjadi di Khorazim, Betsaida dan Kapernaum, maka Tirus, Sidon, dan Sodom pasti sudah bertobat. Tetapi mengapa Tuhan dalam kenyataannya tidak memberi mujijat-mujijat itu kepada mereka? Jelas karena mereka termasuk orang bukan pilihan dan karena itu Allah memang tidak menghendaki keselamatan mereka!

Sekarang silahkan Pdt. Jusuf B. S. menjawab mengapa Allah tidak memberikan mujijat kepada kota-kota Tirus, Sidon, dan Sodom, padahal Allah tahu bahwa kota-kota itu akan bertobat kalau terjadi mujijat!

Contoh lain:

1. Mat 11:25-27 - “(25) Pada waktu itu berkatalah Yesus: ‘Aku bersyukur kepadaMu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. (26) Ya Bapa, itulah yang berkenan kepadaMu. (27) Semua telah diserahkan kepadaKu oleh BapaKu dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya”.

2. Mat 13:13-15 - “(13) Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti. (14) Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap. (15) Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya janganmereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka”.

3. Adanya orang-orang yang sampai mati tak pernah mendengar Injil

5) Kalau ada Predestinasi setan tidak akan menyerang mati-matian.

Kalau ada Predestinasi / penentuan selamat, maka Iblis tidak akan menyerang mati-matian, karena toh akan gagal. Tetapi kenyataannya setan menyerang mati-matian, dan ini menunjukkan bahwa Predestinasi itu tidak ada (‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 26-27).

Jawab:

a) Iblis tidak mahatahu sehingga ia tidak tahu siapa yang ditentukan selamat dan siapa yang ditentukan binasa. Karena itu ia menyerang semua orang. Ini ada miripnya dengan kita pada waktu memberitakan Injil. Karena kita tidak tahu siapa yang dipilih dan siapa yang tidak, maka kita harus memberitakan Injil kepada semua orang.

b) Kalaupun setan tidak bisa membatalkan keselamatan tetapi setidaknya dengan serangannya ia bisa mempersulit hidup kita, merusak pelayanan kita, membuat hati kita sumpek, dsb.

c) Iblis memang adalah seseorang yang luar biasa tekun. Pada waktu Yesus hidup sebagai manusia di muka bumi ini, keilahianNya tidak memungkinkan Ia untuk jatuh ke dalam dosa. Tetapi sekalipun demikian, setan terus menyerang Yesus! Mungkin memang sudah menjadi nature (= sifat dasar) dari setan untuk terus menyerang, tak perduli bisa berhasil atau tidak.

Catatan: kalau saudara mau tahu secara mendetail tentang ketidak-mungkinan Kristus untuk jatuh ke dalam dosa, baca buku saya yang berjudul ‘CHRISTOLOGY’

6) Ajaran Predestinasi menimbulkan reaksi yang salah.

a) Untuk orang kristen.

1. Menyebabkan orang mudah lalai dan berani bermain-main dengan dosa (Pdt. Jusuf B. S., ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 27,29).

2. Menyebabkan orang menganggap tidak perlu pikul salib (Pdt. Jusuf B. S., ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 32).

3. Hilang semangat pelayanan (Pdt. Jusuf B. S., ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 35).

4. Menyebabkan orang menjadi apatis / acuh tak acuh.

b) Untuk orang non kristen.

Doktrin ini menyebabkan orang non kristen menjadi kecil hati dalam mencari Yesus / datang kepada Yesus.

Jawab:

a) Tidak perlu disangkal bahwa doktrin Predestinasi memang bisa menimbulkan reaksi negatif dari orang kristen. Ini diakui oleh Calvin sendiri yang berkata:

“Obviously they are not completely lying, for there are many swine that pollute the doctrine of predestination with their foul blasphemy, and by this pretext evade all admonitions and reproofs” (= Jelas bahwa mereka tidak sepenuhnya berdusta, karena ada banyak babi yang mengotori doktrin predestinasi dengan hujatan mereka yang kotor, dan dengan dalih ini menghindari semua nasehat dan teguran) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XXIII, no 12.

Tetapi perhatikan komentar-komentar dari Spurgeon dan Calvin di bawah ini:

· Charles Haddon Spurgeon:

“But do not men abuse the doctrine of grace? I grant you that they do; but if we destroyed everything that men misuse, we should have nothing left. Are there to be no ropes because some fools will hang themselves?” (= Tetapi bukankah manusia menyalahgunakan doktrin kasih karunia? Saya mengakui bahwa mereka memang menyalahgunakannya; tetapi kalau kita menghancurkan segala sesuatu yang disalahgunakan manusia, kita tidak akan mempunyai apapun yang tersisa. Apakah tidak boleh ada tali karena beberapa orang tolol akan menggantung diri mereka sendiri?) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 7, hal 9.

Saya sangat setuju dengan kata-kata Spurgeon ini. Memang kalau kita mau membuang semua ajaran yang disalahgunakan / ditanggapi secara salah, maka tidak ada ajaran apapun yang akan tersisa pada kita. Mengapa? Karena manusia begitu berdosa / condong kepada dosa sehingga ajaran yang bagaimanapun baiknya selalu bisa saja ditanggapi secara salah! Bahkan Injil, yang mengatakan bahwa semua dosa kita sudah dibayar oleh Kristus, bisa ditanggapi secara salah dengan terus menerus berbuat dosa. Apakah karena itu kita harus berhenti memberitakan Injil?

Dalam kutipan di atas Spurgeon juga menganalogikan dengan dunia jasmani. Apakah kita harus membuang semua tali yang ada hanya karena ada orang tolol yang menggantung dirinya sendiri? Tali, pisau, bahkan morfin sebetulnya mempunyai manfaat yang sangat besar, dan hanya karena ada orang-orang yang menyalahgunakannya, tidak berarti bahwa kita harus membuang semua hal itu. Kalau ini berlaku dalam hal jasmani, maka ini berlaku juga dalam hal rohani / ajaran.

· Charles Haddon Spurgeon:

“I know that some men who have embraced the doctrine of election have become Antinomians; such men would probably have found other excuses for their misdeeds if they had not sheltered themselves under the shadow of this doctrine” [= Saya tahu bahwa beberapa orang yang mempercayai doktrin pemilihan telah menjadi Antinomian (= orang yang anti hukum, sehingga lalu hidup seenaknya); orang-orang seperti itu mungkin akan menemukan alasan-alasan yang lain untuk kelakuan buruk mereka jika mereka tidak berlindung di bawah bayang-bayang doktrin ini] - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 7, hal 9.

Saya berpendapat bahwa kata-kata Spurgeon ini sangat tepat. Orang yang menggunakan doktrin Predestinasi sebagai alasan untuk hidup dalam dosa, jelas adalah orang yang kurang ajar, sehingga andaikatapun doktrin Predestinasi ini tidak ada, kekurang-ajaran mereka pasti akan menemukan hal lain yang bisa dijadikan alasan untuk hidup dalam dosa!

· Charles Haddon Spurgeon:

“in Scotland you will scarcely find a congregation of Hyper-Calvinists, the simple reason being that the Church in Scotland holds entire the whole doctrine upon this matter, and her ministers as a rule, are not ashamed to preach it fearlessly and boldly, and in connection with the rest of the faith” (= di Skotlandia engkau hampir tidak akan menemukan sebuah jemaat Hyper-Calvinist, alasannya adalah karena Gereja di Skotlandia memegang seluruh doktrin ini dalam persoalan ini, dan pelayan / pendetanya biasanya tidak malu mengkhotbahkannya tanpa rasa takut dan dengan berani, dan dalam hubungan dengan pelajaran iman yang lain) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 7, hal 10.

Saya percaya bahwa kata-kata ini benar. Kalau kita mengajarkan seluruh doktrin Predestinasi dengan benar, dan juga mengajarkan doktrin-doktrin penting lainnya secara seimbang, maka tidak akan muncul reaksi negatif, kecuali dari ‘kambing-kambing’ (orang kristen KTP) yang kurang ajar. Yang menimbulkan problem adalah kalau doktrin Predestinasi ini diajarkan sedikit-sedikit dan tidak diimbangi oleh doktrin-doktrin penting lainnya.

· Calvin mengatakan bahwa sebetulnya Kitab Suci mengajarkan doktrin Predestinasi dengan suatu tujuan yang baik, yaitu supaya kita menjadi rendah hati dan lebih menghargai belas kasihan Allah. Paulus sendiri mengatakan bahwa kita dipilih supaya menjadi kudus dan tak bercacat(Ef 1:4) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XXIII, no 12.

b) Juga tidak bisa disangkal bahwa doktrin Predestinasi bisa menimbulkan reaksi negatif dari orang non kristen.

Charles Haddon Spurgeon:

“It must be sorrowfully admitted that the doctrine of election has discouraged many who were seeking the Saviour, but the truth is that it ought not to do so” (= Dengan sedih harus diakui bahwa doktrin pemilihan telah mengecilkan hati banyak orang yang mencari Juruselamat, tetapi kebenarannya adalah bahwa doktrin itu tidak seharusnya berbuat demikian) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 7, hal 37.

Charles Haddon Spurgeon:

“Some are ordained unto eternal life, and therefore believe in the Lord Jesus Christ. Does this fact discourage you? I do not see why it should. Why should not you be among that number? ‘But suppose that I am not?’ says one. Why do you not suppose that you are? You do not know anything about it: therefore why suppose at all? To give up supposing would be a far more sensible thing than to brew for yourself a deadly potion of despair out of the worthless husks of mere supposition” (= Sebagian orang ditentukan untuk hidup yang kekal, dan karena itu percaya kepada Yesus Kristus. Apakah fakta ini mengecilkan hatimu? Saya tidak melihat mengapa harus begitu. Mengapa engkau harus tidak berada di antara orang-orang yang dipilih itu? ‘Tetapi bagaimana jika aku bukan termasuk orang pilihan?’ kata seseorang. Mengapa engkau tidak menduga bahwa engkau adalah orang pilihan? Engkau tidak tahu apa-apa tentang hal itu: karena itu mengapa menduga-duga? Membuang segala dugaan adalah hal yang jauh lebih masuk akal dari pada membuat untuk dirimu sendiri suatu minuman keputusasaan yang mematikan dari sekam dugaan semata-mata yang tak berharga) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 7, hal 38.

c) Calvin:

“Even though discussion about predestination is likened to a dangerous sea, still, in traversing it, one finds safe and calm - I also add pleasant - sailing unless he willfully desire to endanger himself” (= Sekalipun diskusi tentang Predestinasi digambarkan seperti laut yang berbahaya, tetap, dalam melintasinya seseorang mendapatkan pelayaran yang aman dan tenang bahkan menyenangkan, kecuali mereka secara sengaja ingin membahayakan diri mereka sendiri) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, chapter XXIV, no 4.

d) Adanya tanggapan negatif terhadap doktrin Predestinasi, baik dari orang kristen maupun non kristen, adalah kesalahan si penanggap, dan tidak menunjukkan bahwa doktrin Predestinasi itu yang salah.

Saya akan mengutip ulang kata-kata John Murray, yang sudah saya pernah kutip dalam pelajaran tentang Total Depravity, yang berbunyi: “But perversion does not refute the truth of the doctrine perverted” (= Tetapi penyimpangan tidak menyangkal / membuktikan salah kebenaran dari doktrin yang disimpangkan itu) - ‘Collected Writings of John Murray’, vol II, hal 87.

e) Kebenaran harus tetap diberitakan sekalipun menimbulkan reaksi yang salah.

Kebijaksanaan mengijinkan kita untuk menunda pemberitaan doktrin Predestinasi, dengan alasan bahwa orang yang diajar itu belum cukup matang / dewasa dalam iman untuk menerima ‘makanan keras’ itu, tetapi kita tidak boleh membuang doktrin ini atau memutuskan untuk tidak akan pernah mengajarkannya.

Memang ada banyak orang yang menyatukan kebenaran dengan keuntungan. Jadi kalau menguntungkan maka kebenaran diberitakan, sedangkan kalau merugikan kebenaran tidak diberitakan atau bahkan diubah. Ini jelas merupakan politik / strategi yang tidak alkitabiah. Dalam Kitab Suci kebenaran tetap diberitakan sekalipun diketahui bahwa pemberitaannya akan menimbulkan reaksi yang negatif. Misalnya Yesaya tetap memberitakan kebenaran sekalipun Tuhan sudah mengatakan bahwa tidak ada orang Israel yang akan bertobat (Yes 6:9-10).

f) Juga mesti kita pikirkan bahwa sekalipun doktrin Predestinasi bisa menimbulkan reaksi negatif, tetapi juga bisa menimbulkan reaksi positif,karena menyebabkan seseorang menjadi lebih rendah hati, dan lebih menghargai kasih karunia / belas kasihan Allah, juga menyebabkannya lebih mengasihi Allah yang sudah memilihnya sekalipun ia tidak berlayak untuk dipilih.

Mengapa kita harus kehilangan hasil positif ini hanya karena ada beberapa orang kurang ajar yang menanggapi doktrin Predestinasi ini secara salah?

g) Jangan mengira bahwa hanya Calvinisme saja yang bisa ditanggapi secara salah.

Ajaran Arminian juga bisa menimbulkan tanggapan yang salah. Melihat penekanan perbuatan baik yang berlebihan dari ajaran Arminian yang diajarkan oleh Pdt. Jusuf B. S. dan Guy Duty, saya yakin ada banyak jemaat mereka yang mempercayai doktrin ‘salvation by works’ (= keselamatan karena perbuatan baik) yang adalah ajaran sesat!

7) Penentuan binasa menunjukkan Allah itu kejam / tidak kasih.

Pdt. Jusuf B. S.:

“Itu bertentangan dengan sifat Allah sendiri yang kasih adanya (1Yoh 4:8). Menentukan sepihak itu sangat kejam sebab resikonya masuk Neraka kekal. Dan pasti Allah sudah tahu tentang akibat yang dahsyat ini” - ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 41.

Jawab:

a) Calvin dan beberapa orang Reformed kelihatannya beranggapan bahwa ‘penetapan binasa’ dan ‘kasih Allah’ memang tidak bisa diharmoniskan, karena Kitab Suci memang hanya menyatakan kedua ajaran itu tanpa mengharmoniskannya.

Calvin:

“For God’s will is so much the highest rule of righteousness that whatever he wills, by the very fact that he wills it, it must be considered righteous. When, therefore, one asks why God has so done, we must reply: because he has willed it. But if you proceed further to ask why he so willed, you are seeking something greater and higher than God’s will, which cannot be found” (= Karena kehendak Allah adalah peraturan tertinggi dari kebenaran sehingga apapun yang Ia kehendaki, karena / oleh fakta bahwa Ia menghendakinya, harus dianggap sebagai benar. Karena itu, pada waktu seseorang bertanya mengapa Allah telah bertindak begitu, kita harus menjawab: karena Ia menghendakinya. Tetapi jika engkau meneruskan lebih jauh dan menanyakan mengapa Ia menghendakinya, engkau sedang mencari sesuatu yang lebih besar dan lebih tinggi dari kehendak Allah, yang tidak bisa ditemukan) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XXIII, no 2.

Loraine Boettner:

“Let it be remembered that we are under no obligation to explain all the mysteries connected with these doctrines. We are only under obligation to set forth what the Scriptures teach concerning them, and to vindicate this teaching so far as possible from the objections which are alleged against it” (= Biarlah diingat bahwa kita tidak berkewajiban untuk menjelaskan semua misteri yang berkenaan dengan doktrin-doktrin ini. Kita hanya berkewajiban untuk menyatakan apa yang Kitab Suci ajarkan mengenai mereka, dan mempertahankan ajaran ini sejauh dimungkinkan dari keberatan-keberatan yang dinyatakan tanpa bukti terhadapnya) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 124.

William G. T. Shedd:

“Since both classes of passages come from God, he must perceive that they are consistent with each other whether man can or not. Both, then, must be accepted as eternal truth by an act of faith, by every one who believes in the inspiration of the Bible. They must be presumed to be self-consistent, whether it can be shown or not” (= Karena kedua golongan text Kitab Suci itu datang dari Allah, Ia pasti mengerti bahwa mereka konsisten satu dengan lainnya tak peduli manusia bisa mengertinya atau tidak. Jadi, keduanya harus diterima sebagai kebenaran yang kekal oleh suatu tindakan iman oleh setiap orang yang percaya pada pengilhaman Alkitab. Mereka harus dianggap sebagai konsisten, tak peduli apakah itu bisa ditunjukkan atau tidak) - ‘Calvinism: Pure and Mixed’, hal 43.

Catatan: yang ia maksudkan dengan ‘both’ (= keduanya), adalah ayat-ayat / bagian-bagian Kitab Suci yang kelihatannya bertentangan, seperti ayat yang menunjukkan penetapan binasa dan ayat yang menunjukkan Allah itu kasih, ayat yang menunjukkan penetapan Allah dan ayat yang menunjukkan tanggung jawab manusia.

b) Pertentangan tentang ‘Allah yang adalah kasih’ dan ‘masuknya orang-orang tertentu ke dalam neraka’, merupakan problem yang tidak terpecahkan bukan untuk orang Reformed / Calvinist saja, tetapi juga untuk orang Arminian. Mengapa? Karena sekalipun orang Arminian tidak percaya pada ‘penentuan binasa’, tetapi mereka percaya bahwa Allah maha tahu, sehingga pada waktu mencipta Ia tahu ada orang-orang yang akan masuk neraka. Kalau Ia memang maha kasih, lalu mengapa tetap menciptakan orang-orang itu? Jadi persoalan ini sebetulnya menyerang dan membingungkan Calvinisme dan Arminianisme secara sama kuat.

Loraine Boettner:

“As a matter of fact the Arminians do not escape any real difficulty here. For since they admit that God has foreknowledge of all things they must explain why He creates those who He foresees will lead sinful lives, reject the Gospel, die impenitent, and suffer eternally in hell” (= Faktanya, orang Arminian tidak lepas dari kesukaran di sini. Karena mereka mengakui bahwa Allah mempunyai pengetahuan lebih dulu dari segala sesuatu, mereka harus menjelaskan mengapa Ia menciptakan mereka yang dilihatNya lebih dulu akan menempuh kehidupan yang berdosa, menolak Injil, mati tanpa bertobat, dan menderita selama-lamanya dalam neraka) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 125.

Karena itu, mungkin di tempat ini kita harus mentaati kata-kata Calvin, yang dalam komentarnya tentang Ro 9:14, berkata sebagai berikut:

“Let this then be our sacred rule, to seek to know nothing concerning it, except what Scripture teaches us: when the Lord closes his holy mouth, let us also stop this way, that we may not go farther” [= Biarlah ini menjadi peraturan kudus kita, berusaha mengetahui hal itu (doktrin Predestinasi) hanya sejauh yang diajarkan oleh Kitab Suci: pada waktu Tuhan menutup mulutNya yang kudus, biarlah kita juga berhenti dan tidak pergi lebih jauh].

c) Sekalipun Allah menentukan kebinasaan seseorang, pada akhirnya orang itu binasa karena kesalahan orangnya sendiri. Jadi pada waktu ia dihukum / dibinasakan, itu bukan menunjukkan kekejaman Allah tetapi keadilan Allah.

8) Itu bertentangan dengan tawaran Injil kepada semua orang.

Pdt. Jusuf B. S.:

· “Ini adalah kabar baik, sebab siapa saja, tidak ada yang terkecuali kalau mau percaya kepada Tuhan Yesus, akan beroleh selamat yang kekal, ini betul-betul kabar baik. Kalau Allah menentukan lebih dahulu menurut kuasa dan kedaulatan-Nya sendiri, siapa yang akan selamat dan siapa yang akan binasa, itulah berita yang dahsyat, istimewa untuk orang-orang yang ditentukan akan binasa dan keluarganya ini berita celaka. Lagipula semua ayat-ayat yang menawarkan keselamatan harus diganti bukan untuk semua orang, tetapi kabar baik itu hanya untuk orang-orang tertentu saja, yang ditentukan lebih dahulu akan selamat oleh Allah. Maka ayat-ayat dalam Alkitab harus diubah dan itu akan berbunyi kira-kira seperti ini: Yohanes 3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan anakNya yang tunggal. Supaya barang siapa yang sudah ditentukan lebih dahulu oleh Allah (bukan supaya setiap orang) percaya kepadaNya dan tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. 2Petrus 3:9b Karena Ia menghendaki supaya orang-orang yang sudah ditentukanNya lebih dahulu akan selamat jangan binasa (bukan: supaya jangan ada yang binasa), melainkan supaya semua orang tersebut berbalik dan bertobat (Juga Yoh 1:12, 1Tim 2:4 dll)” - ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 17-18.

· “Jelas sekali Allah ingin semua manusia selamat. Kalau Allah menentukan sebagian orang selamat dan sebagian orang binasa, maka ayat-ayat Firman Tuhan seperti Yoh 1:12 / 3:16 / 2Pet 3:9 / Yeh 18:23 / 33:11 dan lain-lain adalah bohong. Ini tidak betul” - ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 25.

· “Itu bertentangan dengan tawaran yang sudah diberikan-Nya kepada manusia misalnya Yoh 1:12 / Yoh 3:16 dan sebagainya. Ia selalu berkata: ‘Barangsiapa yang mau percaya ...’, ‘Siapa yang mau ...’ Kalau ternyata sudah ditentukan lebih dahulu, itu berarti Allah bohong, ini tidak mungkin. Allah itu tidak kusut (1Kor 14:33), dan tidak mungkin Allah berdusta (Titus 1:2 / Ibrani 6:18 / Bil 23:19)” - ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 42.

Jawab:

a) Adanya penentuan selamat / binasa sama sekali tidak bertentangan dengan tawaran keselamatan kepada semua orang.

Tawaran keselamatan bagi siapapun yang mau percaya kepada Yesus tetap berlaku untuk semua orang. Tetapi nanti akan terbukti bahwa hanya orang pilihan Allah yang mau percaya kepada Kristus.

Kis 13:48 - “Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya”.

Andaikata orang yang bukan pilihan juga mau percaya, maka pasti mereka juga akan diselamatkan. Tetapi mereka tidak akan bisa dan tidak akan mau percaya! Ini kesalahan mereka, bukan kesalahan dari penawaran Injil ataupun kesalahan Allah!

Karena itu, Allah memang tidak bohong, dan ayat-ayat yang berisikan penawaran Injil kepada semua orang seperti Yoh 3:16 Yohanes 1:12 dsb, tidak perlu diubah seperti yang dikatakan oleh Pdt. Jusuf B. S.

Ada orang yang menggambarkan keharmonisan antara Predestinasi dan tawaran Injil kepada semua orang dengan illustrasi sebagai berikut: semua manusia dihadapkan pada sebuah pintu yang di atasnya bertuliskan: ‘Barangsiapa yang percaya kepada Kristus akan selamat’. Kalau seseorang percaya dan masuk melalui pintu itu, maka pada waktu ia menoleh ke belakang, ternyata di ambang pintu bagian dalam tertulis kata-kata ‘Kamu telah dipilih sejak dunia belum dijadikan’.

b) Saya akan menunjukkan kasus yang lain, dimana kalau kasus ini benar, maka Allah memang pendusta dan semua tawaran keselamatan dalam ayat-ayat seperti Yoh 3:16 Yoh 1:12 dsb harus diubah seperti kata-kata Pdt. Jusuf B. S.

Kasusnya adalah: kalau Injil ditawarkan kepada semua orang dengan janji bahwa barangsiapa yang percaya akan selamat, dan lalu ada:

1. Orang non pilihan yang percaya, tetapi tetap tidak diselamatkan.

2. Orang pilihan yang tidak percaya tetapi tetap diselamatkan.

Kalau kasus ini terjadi, maka Allah memang pendusta, dan ayat-ayat seperti Yoh 3:16 dan Yoh 1:12 itu memang harus diubah. Tetapi kenyataannya, seperti dinyatakan oleh Kis 13:48 di atas, kasus-kasus seperti ini tidak mungkin bisa terjadi. Orang pilihan pasti akan bertobat / percaya kepada Yesus dan karena itu lalu diselamatkan, sedangkan orang non pilihan pasti tidak akan mau bertobat / percaya kepada Yesus sehingga pasti tidak akan selamat. Ingat bahwa Predestinasi tidak mungkin gagal.

c) Kita harus membedakan berita Injil dan doktrin / ajaran tentang Predestinasi!

Injil memang adalah kabar baik, karena manusia yang seharusnya semuanya dibuang ke dalam neraka, ternyata mempunyai jalan untuk bisa masuk surga, yaitu dengan percaya kepada Yesus.

Tetapi Predestinasi bukanlah Injil. Ini memang bukan kabar baik, khususnya untuk orang yang tidak dipilih. Tetapi juga mesti diperhatikan bahwa berita penetapan binasa ini tidak bisa disampaikan kepada orang yang tidak dipilih itu, karena tidak seorangpun bisa tahu bahwa seseorang itu tidak dipilih, kecuali orang itu mati tanpa percaya kepada Yesus!

9) Doktrin Predestinasi ini menimbulkan kebimbangan.

Pdt. Jusuf B. S.:

“Bagi orang-orang yang cinta Tuhan akan menimbulkan keragu-raguan dan kebimbangan yang sangat sewaktu jatuh dalam dosa. Mereka akan bertanya: ‘Mengapa saya berdosa lagi? Apakah saya sudah ditentukan untuk binasa, sebab ternyata gagal lagi dan berbuat dosa? ... Lebih-lebih bila pengertian rohani orang-orang ini belum cukup, ia mudah ditipu setan, jadi bimbang dan binasa! Keyakinan selamat dan gembira karena tetap selamat yang dijanjikan teori ini adalah bohong belaka, sebagian yang lain menjadi sangat bimbang dan hilang sejahtera. Justru dengan pengajaran ini orang-orang jadi ragu-ragu dan bingung sebab tidak ada orang bisa tahu apakah ia dipilih untuk selamat atau binasa. ... Justru pengajaran ini membuat orang jadi kacau tanpa pengharapan yang pasti” - ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 34-35.

Jawab:

a) Saya berpendapat bahwa serangan ini betul-betul menggelikan.

Karena kalau kita membandingkan ajaran Calvinisme dengan Arminianisme, dan kita harus memilih ajaran mana yang menimbulkan kebimbangan, atau ajaran yang mana yang tidak mempunyai pengharapan yang pasti, maka orang yang mempunyai logika pasti akan memilih ajaran Arminian. Mengapa? Karena Arminianisme mempercayai bahwa keselamatan bisa hilang, orang bisa murtad, dsb. Kalau saudara adalah orang kristen yang mengerti betapa mengerikannya neraka itu, dan saudara sebagai seorang Arminian percaya bahwa sekalipun saat ini saudara adalah orang kristen yang sudah diselamatkan, tetapi bisa saja besok saudara murtad dan lalu masuk neraka, saya betul-betul tidak mengerti bagaimana saudara bisa tidak bingung, gelisah, takut, dsb!

b) Seorang Calvinist yang sejati tidak akan bingung kalau ia jatuh ke dalam dosa. Mengapa?

1. Seorang Calvinist yang sejati tidak percaya bahwa orang kristen bisa hidup suci.

1Yoh 1:8,10 - “(8) Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. ... (10) Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firmanNya tidak ada di dalam kita”.

Ini memang berbeda sekali dengan Pdt. Jusuf B. S. yang dengan Hermeneuticsnya yang kacau balau menafsirkan bahwa ada orang kristen ‘tingkat ruang maha suci’, yang tidak bisa lagi berbuat dosa! - ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 52-53,67-70. Tentang ini nanti akan saya bahas lebih mendetail pada waktu membahas point ke 5 Calvinisme, yaitu Perseverance of the Saints (= ketekunan orang-orang kudus).

2. Seorang Calvinist yang sejati percaya pada doktrin Total Depravity sehingga ia tahu bahwa dirinya memang brengsek, dan tanpa pertolongan Tuhan ia hanya bisa melakukan dosa, dosa dan dosa! Jadi, kejatuhannya ke dalam dosa hanya akan membuat ia lebih bersandar kepada Tuhan dalam pengudusannya.

3. Seorang Calvinist yang sejati percaya bahwa betapapun seringnya ia jatuh ke dalam dosa, darah Kristus cukup untuk menghapus semua dosa itu!

Yes 1:18 - “Marilah, baiklah kita berperkara! - firman TUHAN - Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba”.

1Yoh 1:9 - “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan”.

1Yoh 2:1-2 - “(1) Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil. (2) Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia”.

4. Seorang Calvinist yang sejati percaya bahwa sekalipun ia tidak setia, Tuhan itu tetap setia.

2Tim 2:12-13 - “(12) jika kita bertekun, kitapun akan ikut memerintah dengan Dia; jika kita menyangkal Dia, Diapun akan menyangkal kita; (13) jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diriNya.’”.

5. Seorang Calvinist yang sejati percaya bahwa ia diselamatkan karena iman kepada Kristus, bukan karena perbuatan baiknya / ketaatannya.

Ef 2:8-9 - “(8) Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, (9) itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri”.

Gal 2:16 - “Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: ‘tidak ada seorangpun yang dibenarkan’ oleh karena melakukan hukum Taurat”.

6. Seorang Calvinist yang sejati percaya bahwa keselamatan tidak bisa hilang.

Yohanes 10:27-29 - “(27) Domba-dombaKu mendengarkan suaraKu dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, (28) dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tanganKu. (29) BapaKu, yang memberikan mereka kepadaKu, lebih besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa”.

Semua kepercayaan ini memang tidak berarti bahwa ia lalu meremehkan dosa atau sengaja berbuat dosa. Semua orang kristen yang sejati, pasti mempunyai Roh Kudus yang mendorongnya kepada kekudusan, dan karenanya tidak akan senang berbuat dosa.

c) Satu hal yang perlu saya tegaskan adalah bahwa saya adalah seorang Calvinist, dan saya juga adalah manusia berdosa yang berulangkali jatuh ke dalam dosa. Tetapi semua apa yang dikatakan Pdt. Jusuf B. S. di atas tentang bimbang dan ragu-ragu akan keselamatan, atau mengira diri saya tidak dipilih, tidak pernah terlintas dalam pikiran saya. Saya lalu bertanya-tanya: ‘Bagaimana mungkin Pdt. Jusuf B. S. yang adalah seorang Arminian bisa menebak-nebak pikiran orang Calvinist? Apakah mungkin apa yang dikatakan oleh Pdt. Jusuf B. S. di atas tentang bimbang dan hilang sejahtera, sebetulnya adalah gambaran dari pikirannya sendiri?’.

Bahwa Pdt. Yusuf B. S. mungkin sekali sering ragu-ragu akan keselamatannya sendiri, bisa terlihat dengan lebih jelas dari pasal 13 dari buku ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, yang diberi judul ‘Perasaan ragu-ragu akan keselamatan’, dimana ia berkata bahwa perasaan ragu-ragu akan keselamatan adalah sesuatu yang normal!

Pdt. Jusuf B. S.:

“Ada beberapa orang yang senang dengan teori Calvin sebab memberikan keyakinan keselamatan yang kuat. Orang-orang ini tidak suka diganggu oleh perasaan ragu-ragu akan keselamatannya. Betulkah pengertian dan pendirian seperti ini? Ini tidak normal, ini keliru. Yang betul: Orang-orang beriman kadang-kadang diganggu oleh perasaan ragu-ragu akan keselamatannya, bahkan ada yang sering dan sangat terganggu. Mengapa? Sebab orang-orang beriman belum sempurna, kadang-kadang masih berbuat dosa, bahkan ada yang sering dan ada yang tidak atau belum lepas dari ikatan-ikatan dosa” - ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 81.

Dari kata-kata ini terlihat 2 hal:

1. Di sini Pdt. Jusuf B. S. berkata bahwa Calvinisme justru mempunyai keyakinan keselamatan yang kuat. Ini kontradiksi dengan tuduhan kebimbangan yang ia tuduhkan pada Calvinisme tadi!

2. Jelas bahwa kebimbangan memang lebih cocok untuk dituduhkan pada ajaran Arminian, bahkan kepada Pdt. Jusuf B. S. sendiri, dan bukannya pada Calvinisme!

10)Allah hanya tahu dan memberi tahu, tidak menetapkan / memilih.

Pdt. Jusuf B. S.:

“Biasanya sekalipun Allah mengetahui lebih dahulu, tetapi Allah tidak mengatakan hal itu supaya tidak mempengaruhi orang tersebut. Pada hanya beberapa kasus (tidak rutin), Allah memberi tahu lebih dahulu, itu namanya Allah bernubuat (ini juga tindakan yang pasif, menceritakan apa yang akan terjadi), tetapi Allah tidak menentukan lebih dahulu. Apa yang dikatakan Allah itu sekedar karena Allah tahu lebih dahulu, bukan karena Allah menentukan lebih dahulu, misalnya: Ribkah, ia bertanya-tanya pada Tuhan dan Tuhan memberitahukanapa yang akan dibuat oleh kedua anak di dalam kandungan Ribkah (Kej 25:22-23). Allah tidak menentukan atau menetapkan nasib anak-anaknya, hanya memberitahukan apa yang memang sudah diketahui-Nya” - ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 41.

Ia bahkan melanjutkan dengan menunjukkan mengapa Allah tidak mungkin menentukan lebih dahulu nasib seseorang (hal 41-43).

Jawab:

a) Khusus untuk menanggapi kata-kata Pdt. Jusuf B. S. ini ada 3 hal yang ingin saya kemukakan:

1. Kalau di sini Pdt. Jusuf B. S. mengatakan bahwa Allah tidak menentukan / memilih, maka saya ingin ingatkan dia apa yang ia katakan dalam bukunya hal 39, yang akan saya kutip ulang di sini:

“Di sini disebutkan bahwa Allah mengenal lebih dahulu dan baru sesudah itu, mereka yang sudah dikenalNya terdahulu, mereka itu juga yang ditetapkan lebih dahulu (ditentukan atau dipilih untuk ini dan itu), dengan sangat adil. Di dalamnya sudah termasuk segala kehendak dan perbuatan orang itu, semua ini diperhitungkan dengan teliti (1Pet 1:2a)” - ‘Keselamatan Tidak Bisa Hilang?’, hal 39.

Bukankah terlihat bahwa kata-kata Pdt. Jusuf B. S. bertentangan satu sama lain? Dia percaya ‘Allah menentukan / memilih (berdasarkan pengetahuan lebih dulu)’ atau ‘Allah sama sekali tidak menentukan / memilih’?

2. Mengapa Pdt. Jusuf B. S. hanya melihat Kej 25:22-23 atau Ro 9:12-13? Ini memang bisa menunjukkan seakan-akan Allah hanya memberi tahu. Tetapi kalau Ro 9:12-13 itu dibaca mulai Ro 9:11 pasti tidak akan terlihat demikian, tetapi sebaliknya akan terlihat bahwa Allah betul-betul melakukan pemilihan.

Ro 9:11-13 - “(11) Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, - supaya rencana Allah tentang pemilihanNya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilanNya - (12) dikatakan kepada Ribka: ‘Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda,’ (13) seperti ada tertulis: ‘Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau’”.

3. Kalau pandangan Pdt. Jusuf B. S. ini benar, mengapa lalu keluar pertanyaan ‘Apakah Allah tidak adil?’ dalam Roma 9:14? Penjelasan Pdt. Jusuf B. S. bahwa Allah bukannya menentukan tetapi hanya memberitahukan, sama sekali tidak memungkinkan seseorang mempertanyakan keadilan Allah!

b) Pengetahuan lebih dahulu menunjuk pada kepastian terjadinya hal itu, dan ini menunjuk pada penentuan Allah.

Loraine Boettner:

“Foreknowledge implies certainty and certainty implies foreordination” (= Pengetahuan lebih dulu secara tidak langsung menunjuk pada kepastian, dan kepastian secara tidak langsung menunjuk pada penetapan lebih dulu) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 44.

Robert L. Dabney:

“If they were certainly foreseen, their occurrence was certain; if this was certain, then there must have been something to determine that certainty; and that something was either God’s wise foreordination, or a blind physical fate. Let the Arminian choose” (= Jika hal-hal itu memang dilihat lebih dulu, maka hal-hal itu pasti terjadi; dan jika ini pasti, maka harus ada sesuatu yang menentukan kepastian itu; dan sesuatu itu adalah Penentuan lebih dulu yang bijaksana dari Allah atau takdir fisik yang buta. Biarlah orang Arminian memilih) - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 219.

c) Ada banyak ayat yang menggunakan kata ‘memilih’, ‘dipilih’, ‘pilihan’, ‘ditentukan’, ‘ditetapkan’, dsb (bacalah ulang ayat-ayat yang saya tuliskan dalam point II,A,2 di depan). Kalau saudara percaya bahwa Allah tidak memilih / menetapkan, tetapi hanya tahu / memberi tahu, lalu bagaimana saudara akan menafsirkan ayat-ayat itu?

Kis 13:48 - “Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya”.

Kis 22:14 - “Lalu katanya: Allah nenek moyang kita telah menetapkan engkau untuk mengetahui kehendakNya, untuk melihat Yang Benar dan untuk mendengar suara yang keluar dari mulutNya”.

Ro 8:29-30 - “(29) Sebab semua orang yang dipilihNya dari semula, mereka juga ditentukanNya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran AnakNya, supaya Ia, AnakNya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. (30) Dan mereka yang ditentukanNya dari semula, mereka itu juga dipanggilNya. Dan mereka yang dipanggilNya, mereka itu juga dibenarkanNya. Dan mereka yang dibenarkanNya, mereka itu juga dimuliakanNya”.

Ef 1:4-5 - “(4) Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapanNya. (5) Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anakNya, sesuai dengan kerelaan kehendakNya”.

Ef 1:11 - “Aku katakan ‘di dalam Kristus’, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan - kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendakNya”.

1Tes 5:9 - “Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita”.

2Tes 2:12-13 - “(12) supaya dihukum semua orang yang tidak percaya akan kebenaran dan yang suka kejahatan. (13) Akan tetapi kami harus selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudara, yang dikasihi Tuhan, sebab Allah dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu dan dalam kebenaran yang kamu percayai”.

Yak 2:5 - “Dengarkanlah, hai saudara-saudara yang kukasihi! Bukankah Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikanNya kepada barangsiapa yang mengasihi Dia?”.

d) Kalau Allah menubuatkan sesuatu / menyatakan akan terjadinya sesuatu, maka sebetulnya Ia memberitahukan apa yang dari semula sudah Ia tetapkan.

Ini terlihat kalau kita membandingkan Mat 26:24 dengan ayat paralelnya yaitu Luk 22:22.

Mat 26:24 - “Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan”.

Jadi Matius 26:24 ini mengatakan bahwa Yesus harus pergi / mati ‘sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia’. Ini jelas menunjuk pada nubuat dalam Kitab Suci / Perjanjian Lama tentang pengkhianatan Yudas, seperti Maz 41:10 (bdk. Yoh 13:18) dan Zakh 11:12-13 (bdk. Mat 26:15 Mat 27:9-10).

Tetapi sekarang perhatikan bagaimana Lukas menuliskan hal itu. Lukas 22:22 - “Sebab Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan, akan tetapi, celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan”.

Jadi, apa yang oleh Matius dikatakan sebagai nubuat, oleh Lukas dikatakan sebagai ketentuan / ketetapan Allah! Jelas bahwa nubuat / pernyataan Allah tentang akan terjadinya suatu hal tertentu merupakan pemberitahuan tentang apa yang dari semula sudah ditetapkan oleh Allah.

Contoh-contoh lain (dari buku ‘providence of God’):

1. Perbandingan Kis 2:23 Kis 3:18 dan Kis 4:27-28.

Kis 2:23 - “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencanaNya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka”.

Kis 3:18 - “Tetapi dengan jalan demikian Allah telah menggenapi apa yang telah difirmankanNya dahulu dengan perantaraan nabi-nabiNya, yaitu bahwa Mesias yang diutusNya harus menderita”.

Kis 4:27-28 - “(27) Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, HambaMu yang kudus, yang Engkau urapi, (28) untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendakMu”.

Semua ayat di atas ini berbicara tentang penderitaan / penyaliban yang dialami oleh Kristus. Tetapi kalau Kis 3:18 mengatakan bahwa hal itu terjadi ‘menggenapi apa yang telah difirmankannya dahulu dengan perantaraan nabi-nabiNya’, yang hanya menunjuk-kan bahwa hal itu terjadi karena sudah dinubuatkan, maka Kis 2:23 mengatakan bahwa hal itu terjadi ‘menurut maksud dan rencana-Nya’ dan Kis 4:28 mengatakan bahwa hal itu terjadi ‘untuk melak-sanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendakMu’, yang jelas menunjukkan bahwa hal itu terjadi karena sudah ditentukan oleh Allah dalam kekekalan.

2. Yesaya 44:26a - “Akulah yang menguatkan perkataan hamba-hambaKu dan melaksanakan keputusan-keputusan yang diberitakan utusan-utusanKu”.

Perhatikan bahwa apa yang diberitakan (dinubuatkan) oleh utusan-utusan Tuhan itu adalah keputusan dari Tuhan.

3. Yes 46:10-11 - “(10) yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: KeputusanKu akan sampai, dan segala kehendakKu akan Kulaksanakan, (11) yang memanggil burung buas dari timur, dan orang yang melaksanakan putusanKu dari negeri yang jauh. Aku telah mengatakannya, maka Aku hendak melangsungkannya, Aku telah merencanakannya, maka Aku hendak melaksanakannya”.

Perhatikan bahwa dalam Yes 46:10a dikatakan bahwa Tuhan ‘memberitahukan’, tetapi dalam Yes 46:10b-11a dikatakan bahwa itu adalah ‘keputusanKu’, ‘kehendakKu’, dan ‘putusanKu’. Selan-jutnya Yes 46:11b terdiri dari 2 kalimat paralel yang sebetulnya memaksudkan hal yang sama, tetapi kalimat pertama meng-gunakan istilah ‘mengatakannya’, yang hanya menunjukkan nubuat Allah, sedangkan kalimat kedua menggunakan istilah ‘merencana-kannya’, yang jelas menunjuk pada rencana / ketetapan Allah.

4. Yer 4:28 - “Karena hal ini bumi akan berkabung, dan langit di atas akan menjadi gelap, sebab Aku telah mengatakannya, Aku telah merancangnya, Aku tidak akan menyesalinya dan tidak akan mundur dari pada itu”.

Ayat ini baru mengatakan ‘Aku telah mengatakannya’ dan lalu langsung menyambungnya dengan ‘Aku telah merancangnya’. Ini jelas menunjukkan bahwa Tuhan mengatakan sesuatu kepada nabi-nabi (yang lalu dinubuatkan oleh para nabi itu), karena Tuhan telah merancang / merencanakannya.

5. Amos 3:7 - “Sungguh, Tuhan ALLAH tidak berbuat sesuatu tanpa menyatakan keputusanNya kepada hamba-hambaNya, para nabi”.

Ayat ini menunjukkan secara jelas bahwa apa yang dinyatakan oleh Tuhan kepada pada nabi (dan lalu dinubuatkan oleh nabi-nabi itu) adalah keputusanNya [NIV: ‘his plan’ (= rencanaNya)].

6. Rat 2:17a - “TUHAN telah menjalankan yang dirancangkanNya, Ia melaksanakan yang difirmankanNya”.

Bagian akhir dari ayat ini mengatakan bahwa Tuhan melaksanakan yang difirmankanNya / dinubuatkanNya; tetapi bagian awal dari ayat ini mengatakan bahwa Tuhan menjalankan yang dirancangkanNya. Jelas bahwa apa yang dinubuatkan adalah apa yang dahulu telah dirancangkanNya.

7. Rat 3:37 - “Siapa berfirman, maka semuanya jadi? Bukankah Tuhan yang memerintahkannya?”.

NIV: ‘Who can speak and have it happen if the Lord has not decreed it’ (= Siapa yang bisa berbicara dan membuatnya terjadi jika Tuhan tidak menetapkannya?).

Ini jelas menunjukkan bahwa tidak ada nabi atau siapapun juga yang bisa menubuatkan apapun kecuali Tuhan lebih dulu menetapkan hal itu.

8. Yesaya 28:22b - “sebab kudengar tentang kebinasaan yang sudah pasti yang datang dari Tuhan ALLAH semesta alam atas seluruh negeri itu”.

NIV: ‘The Lord, the LORD Almighty, has told me of the destruction decreed against the whole land’ (= Tuhan, TUHAN yang mahakuasa, telah memberitahu aku tentang kehancuran yang telah ditetapkan terhadap seluruh negeri itu).

Ini jelas menunjukkan bahwa kehancuran yang oleh Tuhan diberitahukan kepada Yesaya, dan lalu dinubuatkan oleh Yesaya, merupakan ketetapan Allah (decree of God).

Jadi, kalau dalam Kitab Suci dinubuatkan sesuatu, itu tidak sekedar berarti bahwa Allah hanya tahu lebih dulu bahwa hal itu akan terjadi (foreknowledge) dan lalu memberitahukan hal itu kepada manusia, tetapi itu berarti bahwa Allah sudah menetapkan lebih dulu akan hal itu (foreordination) dan lalu memberitahukan ketentuan / rencanaNya itu kepada manusia! Dengan demikian jelas bahwa ayat-ayat diatas yang seakan-akan hanya memberitahukan akan adanya dosa-dosa tertentu, sebetulnya menunjukkan bahwa dosa-dosa tertentu itu sudah ditetapkan dan karenanya harus terjadi!

Kesimpulan:

1. Penyerang-penyerang doktrin Predestinasi tidak mempunyai dasar Kitab Suci yang kuat.

Kalau saudara memperhatikan 10 serangan terhadap Predestinasi yang sudah kita bahas di atas dengan seksama, maka bisa terlihat bahwa sebetulnya serangan-serangan ini tidak mempunyai dasar Kitab Suci yang kuat. Berbeda dengan serangan terhadap Limited Atonement (= Penebusan Terbatas) dan Perseverance of the Saints (= Ketekunan orang-orang kudus), yang memang mempunyai banyak ayat Kitab Suci sebagai dasar (sekalipun tetap saja penafsirannya salah), maka serangan terhadap Predestinasi, tidak mempunyai dasar Kitab Suci yang kuat. Sebaliknya doktrin Predestinasi itu sendiri mempunyai dasar Kitab Suci yang luar biasa banyaknya dan kuatnya. Karena itu tepatlah komentar Loraine Boettner di bawah ini:

“Although this doctrine is harsh, it is, nevertheless, Scriptural. And since it is so plainly taught in Scripture, we can assign no reason for the opposition which it has met other than the pure ignorance and unreasoned prejudice with which men’s mind have been filled when they come to study it” (= Sekalipun doktrin ini keras, tetapi doktrin ini alkitabiah. Dan karena doktrin ini diajarkan dengan begitu jelas dalam Kitab Suci, kami tidak bisa memberikan alasan untuk oposisi yang ditemui oleh doktrin ini kecuali ketidaktahuan / kebodohan yang murni dan prasangka yang tak beralasan dengan mana pikiran manusia telah diisi pada waktu mereka mempelajari doktrin ini) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 112.

Saya sangat setuju dengan kata-kata Loraine Boettner ini. Saya berpendapat bahwa kebanyakan orang yang menentang Predestinasi mempelajari Predestinasi dengan pikiran yang sudah mempunyai prasangka buruk terhadap Predestinasi. Dengan kata lain, mereka mempelajari doktrin Predestinasi dengan suatu keyakinan bahwa Predestinasi itu salah / sesat, padahal keyakinan itu tidak berdasar pada Kitab Suci, tetapi hanya pada perasaan / pikiran mereka saja!

Loraine Boettner lalu mengutip kata-kata Rice sebagai berikut:

“In their presumption they have sought to comprehend ‘the deep things of God,’ and have interpreted the Scriptures, not according to their obvious meaning, but according to the decisions of their finite mind” (= Dalam kesombongan / kelancangan mereka mereka berusaha mengerti ‘hal-hal yang dalam dari Allah’ dan telah menafsirkan Kitab Suci, bukan menurut artinya yang jelas, tetapi menurut keputusan dari pikiran mereka yang terbatas) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 112-113.

2. Sekalipun doktrin Predestinasi memang mempunyai problem / kesukaran yang tidak bisa dijelaskan secara tuntas, tetapi orang yang menolak doktrin ini mempunyai problem / kesukaran yang jauh lebih besar.

Jerom Zanchius:

“I grant that the twin doctrines of predestination and providence are not without their difficulties, but the denial of them is attended with ten thousand times more and greater. The difficulties on one side are but as dust upon the balance, those on the other as mountains in the scale” (= Saya mengakui bahwa doktrin kembar tentang Predestinasi dan Providence bukan tanpa kesukaran, tetapi penyangkalan terhadap mereka diikuti oleh problem yang 10.000 x lebih banyak dan lebih besar. Pada timbangan, kesukaran-kesukaran pada pihak yang satu hanyalah seperti debu, sedangkan kesukaran-kesukaran pada pihak yang lain seperti gunung) - Jerom Zanchius, ‘The Doctrine of Absolute Predestination’, hal 25.

Sebagai contoh, orang yang menolak Predestinasi pasti akan mendapat problem yang luar biasa dengan puluhan ayat Kitab Suci dan dasar-dasar lain tentang Predestinasi yang sudah saya berikan dalam point II, A, B di depan. Saya menantang siapapun, termasuk Pdt. Jusuf B. S., untuk menjelaskan ayat-ayat dan dasar-dasar itu dari sudut Arminianisme!

Tetapi ada satu hal yang perlu diingat, yaitu bahwa ada orang-orang Arminian, bisa melihat debu atau selumbar di mata orang-orang Calvinist, tetapi tidak melihat gunung atau balok di pelupuk matanya sendiri. Bandingkan dengan Matius 7:3-5 yang berbunyi:

“(3) Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? (4) Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. (5) Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu”.

Ini yang menyebabkan mereka bisa mempunyai pandangan yang begitu merendahkan terhadap Calvin / Calvinisme.

VI) Serangan balik.

1) Menolak Predestinasi menunjukkan kesombongan manusia.

Penolakan terhadap doktrin Predestinasi, sama dengan penolakan terhadap doktrin Total Depravity, merupakan wujud kesombongan manusia. Mengapa demikian? Karena pandangan yang mengatakan bahwa segala sesuatu tergantung ketetapan Allah, sangat merendahkan manusia, karena manusia menjadi seperti tidak ada apa-apanya. Orang yang sombong akan merasa sangat terpukul harga dirinya oleh doktrin ini, dan karena itu manusia mempunyai kecenderungan menolak doktrin ini.

Loraine Boettner:

“In the Calvinistic system it is God alone who chooses those who are to be the heirs of heaven, those with whom He will share His riches in glory; while in the Arminian system it is, in the ultimate analysis, man who determines this, - a principle somewhat lacking in humility to say the least”(= Dalam sistim Calvinis, hanya Allah sendiri yang memilih mereka yang akan menjadi ahli waris surga, mereka dengan siapa Ia akan membagikan kekayaanNya dalam kemuliaan; sedangkan dalam sistim Arminian, dalam analisa yang terakhir, manusialah yang menetapkan hal ini, - suatu prinsip yang sedikitnya kekurangan kerendahan hati) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 96.

2) Orang yang menolak Predestinasi harus menjadi atheis.

R. C. Sproul menceritakan dalam bukunya bahwa suatu kali ia mengajar dengan menggunakan Westminster Confession of Faith, pasal III, no 1a yang menyatakan bahwa Allah menetapkan semua yang akan terjadi. Lalu ia bertanya: ‘Siapa yang tidak percaya kata-kata itu?’ Banyak mahasiswa yang mengangkat tangannya. Ia bertanya lagi: ‘Apakah ada atheis di ruangan ini?’ Tidak ada tangan yang diangkat. Lalu R. C. Sproul berkata: ‘Orang yang mengangkat tangannya pada pertanyaan pertama seharusnya juga mengangkat tangannya pada pertanyaan kedua’. Mengapa demikian?

R. C. Sproul:

“That God in some sense foreordains whatever comes to pass is a necessary result of his sovereignty. ... everything that happens must at least happen by his permission. If he permits something, then he must decide to allow it. If He decides to allow something, then is a sense he is foreordaining it. ... To say that God foreordains all that comes to pass is simply to say that God is sovereign over his entire creation. If something could come to pass apart from his sovereign permission, then that which came to pass would frustrate his sovereignty. If God refused to permit something to happen and it happened anyway, then whatever caused it to happen would have more authority and power than God himself. If there is any part of creation outside of God’s sovereignty, then God is simply not sovereign. If God is not sovereign, then God is not God. ... Without sovereignty God cannot be God. If we reject divine sovereignty then we must embrace atheism” (= Bahwa Allah dalam arti tertentu menentukan apapun yang akan terjadi merupakan akibat yang harus ada dari kedaulatanNya. ... segala sesuatu yang terjadi setidaknya harus terjadi karena ijinNya. Jika Ia mengijinkan sesuatu, maka Ia pasti memutuskan untuk mengijinkannya. Jika Ia memutuskan untuk mengijinkan sesuatu, maka dalam arti tertentu Ia menentukannya. ... Mengatakan bahwa Allah menentukan segala sesuatu yang akan terjadi adalah sama dengan mengatakan bahwa Allah itu berdaulat atas segala ciptaanNya. Jika ada sesuatu yang bisa terjadi di luar ijinNya yang berdaulat, maka apa yang terjadi itu menghalangi kedaulatanNya. Jika Allah menolak untuk mengijinkan sesuatu dan hal itu tetap terjadi, maka apapun yang menyebabkan hal itu terjadi mempunyai otoritas dan kuasa yang lebih besar dari Allah sendiri. Jika ada bagian dari ciptaan berada di luar kedaulatan Allah, maka Allah itu tidak berdaulat. Jika Allah tidak berdaulat, maka Allah itu bukanlah Allah. ...Tanpa kedaulatan Allah tidak bisa menjadi / adalah Allah. Jika kita menolak kedaulatan ilahi, maka kita harus mempercayai atheisme) - ‘Chosen By God’, hal 26-27

Jerom Zanchius juga memberikan kesimpulan yang sama dengan mengatakan bahwa:

“Arminianism, therefore is atheism” (= Karena itu, Arminianisme adalah atheisme) - ‘The Doctrine of Absolute Predestination’, hal 24.

VII) Sikap salah terhadap Predestinasi.

1) Rasa ingin tahu siapa yang adalah orang pilihan, dan siapa yang adalah orang yang bukan pilihan.

Calvin:

“Human curiosity renders the discussion of predestination, already somewhat difficult of itself, very confusing and even dangerous” (= Keingintahuan manusia membuat diskusi tentang predestinasi, yang sudah merupakan sesuatu yang sukar, menjadi sangat membingungkan, dan bahkan berbahaya) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XXI, no1.

2) Menebak-nebak.

Ini bisa terjadi kalau kita melihat orang yang sangat jahat atau yang anti kristen, dimana kita lalu menganggap bahwa orang itu pasti ditetapkan untuk binasa, sehingga kita tidak mendoakannya ataupun berusaha untuk memberitakan Injil kepadanya.

Atau kalau kita memberitakan Injil kepada seseorang, tetapi mendapatkan reaksi yang negatif, maka kita lalu menganggap bahwa orang itu adalah orang yang ditetapkan untuk binasa, dan kita lalu berhenti memberitakan Injil ataupun mendoakan orang itu. Ini jelas adalah sikap yang salah, karena kalaupun seseorang sudah didoakan selama 10 tahun dan diinjili 1000 x dan ia selalu menolak Yesus, belum tentu ia adalah orang yang ditetapkan untuk binasa. Siapa tahu ia akan bertobat kalau saja saudara bertekun sebentar lagi dalam mendoakan maupun menginjilinya? Sebelum seseorang mati tanpa percaya kepada Kristus, kita tidak mempunyai hak untuk berkata bahwa ia adalah orang yang ditetapkan untuk binasa!

3) Sikap diam / tidak berani mengajarkan doktrin ini.

Karena doktrin ini memang bersifat kontroversial / menimbulkan pertanyaan / serangan / perdebatan, maka banyak orang Reformed / Calvinist memilih untuk tidak mengajarkan doktrin ini. Mungkin mereka takut tidak bisa menjawab pertanyaan / serangan yang diajukan. Tetapi ini jelas adalah sikap yang salah. Orang Reformed / Calvinist yang tidak bisa menjawab pertanyaan tentang doktrin ini, harus belajar lebih banyak dan lebih mendalam, sehingga lebih menguasai doktrin ini dan bisa menjawab pertanyaan / serangan.

Tentang orang Reformed / Calvinist yang tidak berani mengajarkan doktrin ini, Calvin berkata:

“They who shut the gates that no one may dare seek a taste of this doctrine wrong men no less than God” (= Mereka yang menutup pintu sehingga tak ada yang berani mencicipi doktrin ini, menyalahi baik manusia maupun Allah) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XXI, no 1.

Calvin:

“Profane men, I admit, in the matter of predestination abruptly seize upon something to carp, rail, bark, or scoff at. But if their shamelessness deters us, we shall have to keep secret the chief doctrines of the faith, almost none of which they or their like leave untouched by blasphemy. ... God’s truth is so powerful, both in this respect and in every other, that it has nothing to fear from the evilspeaking of wicked men” (= Saya mengakui bahwa dalam persoalan predestinasi, orang dunia / yang tidak kudus dengan kasar mencari kesalahan, menista / mencemooh, menyalak / menggonggong, atau mengejek. Tetapi jika ketidak-tahu-maluan mereka menghalangi kita, kita akan harus merahasiakan doktrin-doktrin utama tentang iman, karena hampir tidak ada dari doktrin-doktrin itu yang tidak disentuh oleh hujatan. ... kebenaran Allah begitu berkuasa, baik dalam persoalan ini maupun yang lain, sehingga tidak ada yang perlu ditakutkan menghadapi omongan jahat dari orang jahat) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XXI, no 4.

VIII) Mengapa doktrin Predestinasi ini diajarkan

1) Doktrin Predestinasi harus diajarkan karena ini adalah kebenaran.

Charles Haddon Spurgeon:

“Why preach upon so profound a doctrine as election? I answer, because it is in God’s word, and whatever is in the Word of God is to be preached” (= Mengapa berkhotbah tentang doktrin yang begitu mendalam seperti pemilihan? Saya menjawab, karena itu ada dalam Firman Allah, dan apapun yang ada dalam Firman Allah harus dikhotbahkan) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 7, hal 9.

Spurgeon juga berkata bahwa banyak orang pada waktu membaca Kitab Suci bertemu dengan doktrin ini, tetapi tidak mengerti dan bingung tentang doktrin ini dan bahkan membuat kesalahan dengan doktrin ini. Kalau kita tidak mengajarkannya dan membetulkan mereka, lalu siapa yang membetulkannya?

2) Doktrin Predestinasi membuat orang menjadi rendah hati, merasa berhutang kepada Allah, dan makin mengasihi Allah.

Berbeda dengan orang Arminian, yang dalam kesombongannya beranggapan bahwa mereka bisa percaya karena jasa mereka sendiri (yaitu karena mereka mau percaya), kita sebagai orang Calvinist percaya bahwa kita bisa percaya kepada Kristus semata-mata karena anugerah Allah melalui pemilihan. Kepercayaan dan kesadaran ini menghancurkan semua kesombongan, dan membuat kita makin mengasihi Allah, yang sudah memilih kita, sekalipun kita tidak lebih baik dari orang lain, yang tidak dipilih.

Calvin:

“And yet let not the knowledge of predestination be hindered, in order that those who obey may not be proud as of something of their own but may glory in the Lord” (= Dan biarlah pengetahuan tentang Predestinasi tidak dihalangi, supaya mereka yang taat tidak menjadi sombong seakan-akan ketaatan itu adalah sesuatu dari diri mereka sendiri tetapi bisa bermegah dalam Tuhan) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XXIII, no 13.


Loraine Boettner:

“We shall never be clearly convinced as we ought to be that our salvation flows from the fountain of God’s free mercy, till we are acquainted with this eternal election ... Ignorance of this principle evidently detracts from the divine glory, and diminishes real humility” (= Kita tidak akan pernah diyakinkan secara jelas, seperti yang seharusnya, bahwa keselamatan mengalir dari mata air belas kasihan Allah yang cuma-cuma, sampai kita mempelajari / mengenal pemilihan kekal ini ... Ketidaktahuan tentang prinsip ini jelas mengurangi kemuliaan ilahi dan mengurangi kerendahan hati yang sejati) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 85.

PEMILIHAN TANPA SYARAT - PDT. BUDI ASALI, M.DIV
Next Post Previous Post